Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 213
PERILAKU ALTRUISTIK TOKOH UTAMA DALAM NOVEL PERILAKU ALTRUISTIK TOKOH UTAMA DALAM NOVEL
BEKISAR MERAH KARYA AHMAD TOHARI
(ALTRUISTIC BEHAVIOR OF MAIN CHARACTERS IN NOVEL BEKISAR RED KARYA AHMAD TOHARI)
Berbahana Pandu Mau
SMA Negeri 1 Pandih Batu. Jl. Patih Rumbih No. 70 Pangkoh Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau. Kode Pos 735671 [email protected]
Abstract
Altruistic Behavior of the Main Figure in the Novel Bekisar Merah by Ahmad Tohari.
The purpose of this study is to obtain a description of the altruistic behavior of the main character in Ahmad Tohari's Bekisar Merah novel. Specifically, the purpose of this study is to describe the altruistic behavior of the main character in the context of social and kinship norms. The analysis used as the basis for this research is literary psychology. This theory focuses on the textual approach, namely the literary psychology approach that addresses the psychological aspects of characters in literary works. This theory is used to analyze and describe the altruistic behavior of the main character in the novel Bekisar Merah. The results of this study indicate that altruistic behavior in the novel Bekisar Merah is represented in the figure of Lasi as the axis of storytelling. This altruistic behavior is evidenced by the actions of the Lasi character in helping other characters in a pure, sincere manner, without expecting anything in return (benefit) for himself. This behavior is manifested in the form of altruistic behavior in the context of social norms and in the context of kinship norms. Altruistic behavior of the main character in the context of social norms found only four aspects of motivation to help, namely: (1) the presence of a model, (2) the presence of other people, (3) helping people they like, and (4) the presence of a mood. The altruistic behavior of the main character in the context of kinship norms is found in three motivations to help, namely (1) aspects of relative protection (kin altruism), (2) biological altruism, and (3) aspects of sexual orientation.
Key Words: behavior, altruistic, character, bekisar merah
Abstrak
Perilaku Altruistik Tokoh Utama dalam Novel Bekisar Merah Karya Ahmad Tohari.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perilaku altruistik tokoh utama dalam konteks norma sosial dan kekerabatan. Analisis yang digunakan sebagai dasar dalam penelitian ini adalah psikologi sastra. Teori ini menitikberatkan pada pendekatan tekstual, yaitu pendekatan psikologi sastra yang membahas aspek psikologi tokoh dalam karya sastra. Teori ini digunakan untuk menganalisis dan mendeskripsikan perilaku altruistik tokoh utama novel Bekisar Merah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku altruistik dalam novel Bekisar Merah terwakilkan dalam sosok Lasi sebagai poros penceritaan. Perilaku altruistik ini dibuktikan melalui tindakan tokoh Lasi dalam menolong tokoh lain secara murni, tulus, tanpa mengharapkan balasan (manfaat) apa pun untuk dirinya. Perilaku tersebut terwujud dalam bentuk perilaku altruistik dalam konteks
Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya Vol 11, No 2, Oktober 2021 ISSN 2089-0117 (Print) Page 213 - 223
ISSN 2580-5932 (Online)
214 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya
norma sosial dan dalam konteks norma kekerabatan. Perilaku altruistik tokoh utama dalam konteks norma sosial hanya ditemukan empat aspek motivasi untuk menolong, yaitu: (1) adanya model, (2) adanya kehadiran orang lain, (3) menolong orang yang disukai, dan (4) adanya suasana hati. Perilaku altruistik tokoh utama dalam konteks norma kekerabatan ditemukan dalam tiga motivasi untuk menolong, yaitu (1) aspek perlindungan kerabat (kin altruism), (2) aspek biologik (biological altruism), dan (3) aspek orientasi seksual.
Kata-kata kunci: perilaku, altruistik, tokoh, bekisar merah
PENDAHULUAN
Manusia dikenal sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk sosial. Perpaduan kedua sifat inilah yang mejadi manusia sebagai makhluk yang unik. Hakekat manusia sebagai makhluk individu dan sosial ini yang mengharuskan adanya interaksi dengan individu lainnya dalam masyarakat. Perilaku manusia dalam kegiatan interaksi itu dapat saling mempengaruhi individu masing-masing sehingga memunculkan perilaku sosial tertentu Perbedaan perilaku antarindividu ditampilkan pada saat melakukan interaksi sosial. Perilaku altruistik dalam sebuah karya sastra fiksi, seperti novel karya Ahmad Tohari yang berjudul Bekisar Merah ditunjukkan oleh tokoh-tokoh yang dihadirkan pengarang. Perilaku altruistik menurut Mar’at (2006, hlm.31) merupakan lawan dari sifat egois yang mementingkan diri sendiri. Perilaku altruistik dapat ditunjukkan pada perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Menurut Conte (dalam Sarwono, 2005, hlm. 68) perilaku altruistik dimiliki oleh seseorang yang memiliki tanggung jawab moral untuk melayani umat manusia sepenuhnya. Seseorang yang memiliki perilaku altruistik tidak mementingkan diri sendiri.
Baston (dalam Walgito, 2004, hlm. 104) mendefinisikan altruistik sebagai respon yang menimbulkan positif feeling, misalnya sikap empati. Alasan internal dalam diri individu memunculkan tindakan untuk menolong orang lain bukan memunculkan motivasi egoistis.
Myer (dalam Walgito, 2004, hlm. 106) menjelaskan karakteristik perilaku altruistik antara lain mencakup sikap empati, percaya pada keadilan dunia, memiliki respon sosial dan kontrol internal, keegoisan rendah. Ada tiga cara meningkatkan perilaku altruistik, yakni empati, afiliasi moral, dan prinsip moral. Hal ini dikemukakan Carr (dalam Walgito, 2004, hlm. 104).
ehubungan dengan pendapat tersebut, Wortman (dalam Sarwono, 2005, hlm. 68) bahwa ada beberapa faktor yang memengaruhi seseorang dalam memberikan pertolongan kepada orang lain, yaitu suasana hati, empati, meyakini keadilan dunia, faktor sosiobiologis, dan faktor situasional. Faktor situasional yakni perilaku yang memengaruhi perilaku altruistik konteks norma sosial pada individu meliputi adanya model, kehadiran orang lain, kondisi lingkungan, adanya tekanan waktu, menolong orang yang disukai, dan suasana hati.
Penelitian mengenai perilaku altruistik menjadi penting dilakukan berdasarkan uraian di atas. Perilaku altruistik dapat dilihat pada tokoh yang dihadirkan pengarang dalam karya sastra fiksi sebagai gambaran realitas kehidupan manusia di alam nyata. Penelitian perilaku altruistik tokoh pada novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari dilakukan karena banyak memberikan manfaat terutama dalam mengenal sisi kehidupan manusia dengan segala gejolak kejiwaan dan perilakunya. Penelitian ini juga dapat bermanfaat bagi pemerhati sastra karena hasilnya dapat memperluas wawasan masyarakat bahwa karya sastra seperti novel dapat dijadikan bahan pembelajaran mengenai kepribadian kematangan sosial berkaitan dengan perilaku altruistik tokoh cerita. Novel Bekisar Merah merupakan novel yang memiliki banyak kelebihan dan keunikan yang dapat diteliti. Novel ini merupakan sketsa sosial sekaligus aspek psikologis tokoh cerita yang kuat. Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan perilaku altruistik tokoh novel sudah pernah dilakukan Winiastuti (2013). Penelitian ini berjudul
“Altruistik dalam Novel Di Atas Pena Engkau Melamarku karya E. Sabila El. Raihany”.
Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 215 Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sikap altruistik yang dilakukan tokoh serta kepribadian tokoh dalam novel Di Atas Pena Engkau Melamarku karya E. Sabila El Raihany.
Perbedaannya dengan penelitian mengenai perilaku altruistik ini adalah dari fokus tokoh yang diteliti. Penelitian di atas tidak memfokuskan kepada salah seorang tokoh untuk diteliti perilaku altruistiknya tetapi kepada tokoh-tokoh cerita yang dianggap melakukan perilaku tersebut sedangkan penelitian ini terfokus kepada tokoh utama novel.
Penelitian tentang novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari sudah banyak dilakukan para peneliti sebelumnya. Namun, penelitian yang dilakukan belum ada yang terfokus pada aspek perilaku altruistik tokoh utama. Penelitian tersebut antara lain dilakukan oleh Widodo dan Dermawan (2018) yang tercantum dalam Jurnal Caraka Volume 4 Nomor2 Tahun 2018 dengan judul “Perihal Sufistik dalam Novel Bekisar Merah Karya Ahmad Tohari: Sebuah Pendekatan Semiotika”. Penelitian ini hanya terfokus pada sufisme dalam cerita novel yang diungkapkan dengan pendekatan semiotik dan tidak membahas aspek altruistik seperti yang dilakukan dalam penelitian ini. Penelitian lain dilakukan oleh Yusup (2017) dengan judul
“Hegemoni dalam Novel Bekisar Merah Karya Ahmad Tohari (Suatu Kajian Hegemoni Antonio Gramsci)”. Penelitian ini membahas aspek hegemoni tokoh cerita novel dengan menggunakan teori hegimoni Antonio Gramsci dan tidak menyinggung perilaku altuirtik tokoh cerita seperti halnya dilakukan dalam penelitian ini. Namun demikian, kedua penelitian tersebut memiliki persamaan dengan penelitian yang dilakukan ini, yaitu terfokus pada novel Bekisar Merah Karya Ahmad Tohari sebagai objek penelitian.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis, yakni metode yang menggunakan cara mendeskripsikan fakta-fakta (data dari novel) yang dilajutkan dengan analisis. Dalam penelitian ini, metode deskriptif analisis dilakukan dengan cara mendeskripsikan masalah-masalah yang ada dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari, yang akan difokuskan pada perilaku altruistik tokoh utama dalam novel. Secara konkret, langkah pengumpulan data mengacu kepada pendapat Rafiek (2013, hlm. 68)
Agar penelitian ini lebih jelas, maka masalah penelitian yang dilakukan dirumuskan sebagai berikut.
1. Bagaimana perilaku altruistik dalam konteks norma sosial tokoh utama dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari?
2. Bagaimana perilaku altruistik dalam konteks kekerabatan tokoh utama dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari?
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian yang dilakukan sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan perilaku altruistik dalam konteks norma sosial tokoh utama dalam novel Bekisar Merah karya AhmadTohari.
2. Mendeskripsikan perilaku altruistik dalam konteks kekerabatan tokoh utama dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari.
METODE
Penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan pendekatan psikologi sastra.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Sesuai dengan namanya ‘deskriptif’, maka data yang dikumpulkan berupa kata-kata dan gambar yang dapat ditampilkan sebagai kutipan. Menurut (Ratna, 2004, hlm. 33), metode deskriptif analisis yaitu metode yang menggunakan cara mendeskripsikan fakta-fakta (data dari novel) yang dilajutkan dengan analisis. Metode analisis isi digunakan untuk mempermudah dalam menganalisis data dari permasalahan yang muncul.
216 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya
Data yang dipergunakan peneliti adalah data yang berhubungan dengan objek penelitian, yaitu data tentang perilaku altruistik tokoh utama dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari. Data tersebut berupa kata, frasa, kalimat, dan paragraf yang terdapat dalam novel yang mengandung perilaku altruistik sesuai dengan rumusan masalah dalam penelitian ini. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari. Novel ini diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta dan diterbitkan tahun 2005, terdiri atas 312 halaman.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pustaka, baca, dan catat. Teknik pustaka adalah teknik yang menggunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data (Imron, 2003, hlm. 43). Data diperoleh dalam bentuk tulisan yang berupa frase, kalimat, paragraf dan kata-kata yang harus dibaca dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari. Hal-hal yang penting dicatat kemudian menyimpulkan dan mempelajari sumber tulisan yang dapat dijadikan sebagai landasan teori dan acuan dalam hubungan dengan objek yang akan diteliti.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Perilaku altruistik ini merupakan salah satu tindakan prososial dengan alasan kesejahteraan orang lain tanpa ada kesadaran akan timbal-balik (imbalan). Dua aspek yang dapat menjelaskan tentang motivasi seseorang melakukan perilaku altruistik adalah (1) perilaku altruistik dalam konteks norma sosial (social norms) dan (2) perilaku altruistik dalam konteks kekerabatan (evolutionary psychology). Dengan demikian, pembahasan yang dilakukan ini berkaitan perilaku altruistik tokoh utama dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari ini terfokus pada kedua aspek tersebut.
Pembahasan yang diuraikan dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi dua bagian.
Kedua bagian tersebut adalah (1) gambaran perilaku altruistik dalam konteks norma sosial tokoh utama novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari, dan (2) gambaran perilaku altruistik dalam konteks kekerabatan tokoh utama novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari.
1. Gambaran Perilaku Altruistik dalam Konteks Norma Sosial Tokoh Utama Novel Bekisar Merah Karya Ahmad Tohari
Perilaku altruistik dalam konteks norma sosial adalah perilaku dengan alasan menolong orang yang didasari oleh ”sesuatu” yang mengatakan pada seseorang untuk ”harus” menolong.
”Sesuatu” tersebut adalah norma sosial yang dapat dijelaskan dengan adanya respon sosial (social responsibility). Adanya tanggungjawab sosial yang dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan menolong karena dibutuhkan dan tanpa mengharap-kan imbalan di masa yang akan datang. Faktor yang memengaruhi perilaku altruistik konteks norma sosial pada individu meliputi, faktor situasional yaitu: (1) adanya model, (2) adanya kehadiran orang lain, (3) menunjukkan kondisi lingkungan, (4) adanya tekanan waktu, (5) menunjukkan menolong orang yang di sukai, dan (6) menunjukkan suasana hati.
a. Aspek Adanya Model
Perilaku altruistik dalam konteks norma sosial berkaitan dengan gejala psikologis seseorang yang juga dapat terjadi pada tokoh cerita di dalam karya fiksi, seperti tersirat pada kutipan novel Bekisar Merah berikut ini.
Lasi bertambah ragu. Dia percaya apa yang Emak bilang. Tetapi di tangannya kini ada baju pemberian Bu Lanting yang baru dikenalnya.
Untuk kebaikan Bu Koneng yang telah memberinya tempat berteduh, Lasi sudah memberikan tenaga membantu memasak dan cuci piring.
Tetapi untuk orang yang telah memberinya baju yang kini ada di tangan, apa yang akan diserahkannya? (Tohari, 2005, hlm. 145-146)
Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 217 Kutipan di atas mengungkapkan tentang keraguan tokoh Lasi terhadap permasalahan yang dihadapinya. Dalam kutipan tersebut diungkapkan bahwa Lasi menerima baju pemberian Bu Lanting orang yang baru dikenalnya. Ia bingung harus berbuat apa untuk membalas kebaikan orang yang telah memberinya hadiah tersebut. Lain halnya dengan Bu Koneng yang telah memberinya tempat berteduh, Lasi telah memberikan tenaganya untuk membalas kebaikan orang tersebut yang sebenarnya tidak memiliki hubungan kekerabatan apa pun dengannya. Ia telah menolong Bu Koneng dengan cara membantu memasak dan mencuci piring.
Wujud perilaku altruistik dalam konteks norma sosial tersirat pada kutipan di atas.
Perilaku tersebut ditunjukkan oleh kalimat: Untuk kebaikan Bu Koneng yang telah memberinya tempat berteduh, Lasi sudah memberikan tenaga membantu memasak dan cuci piring. Kalimat ini menunjukkan bahwa Lasi telah berperilaku altruistik dalam konteks norma sosial terhadap orang lain yang baru dikenalnya. Hal ini ditandai dengan perbuatan Lasi membantu Bu Koneng memasak dan mencuci piring tanpa berharap mendapatkan imbalan. dalam kaitan ini,
Ditinjau dari aspek psikologis, kalimat di atas menyiratkan bahwa pertolongan yang dilakukan Lasi tidak didasari atas pamrih atau mengharapkan imbalan. Pertolongan yang dilakukannya didasari atas kerelaan karena ingin berbuat baik dan menyenangkan hati orang lain. Penyebabnya, orang lain yang ditolong adalah orang yang telah berbuat baik kepadanya.
Perilaku altruistik dalam konteks norma sosial yang dilakukan tokoh Lasi terhadap Bu Koneng pada kutipan di atas didasarkan motivasi yang dimiliki untuk bertingkah laku prososial karena orang lain (Bu Koneng) telah terlebih dahulu berperilaku baik kepadanya. Dalam kaitan ini, Bu Koneng berperan sebagai model bagi Lasi. Secara psikologis, perbuatan Bu Koneng berpengaruh positif untuk menghadirkan perilaku altruistik pada Lasi.
b. Aspek Adanya Kehadiran Orang Lain
Kutipan novel Bekisar Merah berikut ini juga menghadirkan perilaku altruistik tokoh utama dalam konteks norma sosial.
“Aku bisa mengira-ngira, Mukri meminta membiayai pemugaran surau kita itu. Iya,kan?"
"Ya."
"Kamu mau?" "Ya, mau."
"Kamu ada cukup uang?"
"Cukup, Yang."
"Ah, tetapi tak perlu. Kukira surau kita masih baik. Artinya, masih bisa mendatangkan ketenteraman jiwa bagi siapa saja yang bersujud kepada Tuhan di sana. Surau kita masih membawa suasana yang akrab bagi orang- orang Karangsoga, masih lebih cocok dengan alam lingkungan dan kebiasaan mereka."
"Eyang Mus tidak ingin surau kita berlantai tegel dan berdinding tembok? Surau berdinding bambu sudah ketinggalan zaman," kata Lasi setelah agak lama terdiam.
Eyang Mus tersenyum. (Tohari, 2005, hlm. 278-279)
Kutipan di atas mengungkapkan tentang percakapan tokoh Lasi dengan Eyang Mus yang juga dihadiri tokoh Mukri. Mereka membicarakan tentang keadaan surau yang ada di kampung kelahirannya. Dari percakapan itu, tersirat bahwa Eyang Mus merasa bahwa kedatangan Lasi untuk memugar surau di kampung mereka tersebut tidak murni atas keingnan Lasi sendiri, tetapi disebabkan oleh permintaan Mukri. Hal ini tersirat pada perkataan Eyang Mus: “Aku bisa mengira-ngira, Mukri memintamu membiayai pemugaran surau kita itu. Iya, kan?”.
Wujud perilaku altruistik dalam konteks norma sosial tersirat pada kutipan di atas.
Perilaku tersebut ditunjukkan melalui kalimat: "Eyang Mus tidak ingin surau kita berlantai
218 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya
tegel dan berdinding tembok? Surau berdinding bambu sudah ketinggalan zaman," kata Lasi setelah agak lama terdiam.Kalimat ini menunjukkan perilaku altruistik dalam konteks norma sosial yang dilakukan oleh Lasi, Ia telah berprilaku altruistik dalam konteks norma sosial terhadap orang lain (Eyang Mus). Hal ini ditandai dengan perilaku Lasi menawarkan kepada eyang Mus untuk memugar surau di kampungnya.
Ditinjau dari aspek psikologis, hal yang dilakukan Lasi terhadap Eyang Mus tidak didasari atas pamrih atau mengharapkan imbalan dari yang ditolong karena Lasi melakukannya didasarkan atas keikhlasan karena ia merasa bahwa menolong orang lain yang kurang mampu adalah kewajiban bagi orang yang memiliki kemampuan. Namun, motivasi untuk menolong ini disebabkan oleh Mukri. Motivasi untuk menolong ini muncul karena Lasi tergugah mendengar penjelasan Mukri tentang keadaan Eyang Mus dan suraunya.
Perilaku altruistik dalam konteks norma sosial yang dilakukan tokoh Lasi pada kutipan di atas didasarkan motivasi menolong karena kehadiran orang lain. Rasa tanggung jawab timbul karena kehadiran orang lain yang mengetahui ia mempunyai kemampuan untuk menolong. Di samping itu, apabila ia menghindar dari tanggung jawab, maka kondisi ini akan menimbulkan rasa salah dan sesal bila tidak bertindak.
c. Aspek Menolong Orang Yang Di Sukai
Kutipan novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari berikut ini juga menghadirkan perilaku altruistik tokoh utama dalam konteks norma sosial.
"Tidak, Las. Aku malah khawatir surau yang terlalu bagus akan membuat suasana terasa asing bagi orang-orang yang biasa tinggal di rumah berdinding bambu dan tidur di atas pelupuh. Surau yang bagus mungkin bisa membuat orang-orang di sini merasa berada dalam ruangan yang tak akrab."
“Kalau begitu, bagaimana bila saya membeli pengeras suara untuk surau kita? Eyang Mus, di mana-mana orang memasang pengeras suara untuk mesjid dan surau mereka." (Tohari, 2005, hlm 279)
Kutipan di atas mengungkapkan tentang percakapan tokoh Lasi dengan Eyang Mus.
Mereka membicarakan tentang keadaan surau yang ada di kampung tempat kelahiran tokoh Lasi tersebut. Dari percakapan itu, tersirat bahwa Lasi merasa prihatin dengan bangunan surau yang dipandangnya sudah tidak layak. Ia berkeinginan untuk merehabilitasi bangunan tersebut.
Namun, Eyang Mus menolaknya dengan alasan tertentu. Mendengar hal demikian, Lasi tetap berusaha untuk memberi bantuan dalam bentuk lain, Ia menawarkan diri untuk membeli pengeras suara untuk surau tersebut.
Wujud perilaku altruistik dalam konteks norma sosial tersirat pada kutipan di atas.
Perilaku tersebut ditunjukkan melalui kalimat: “Kalau begitu, bagaimana bila saya membeli pengeras suara untuk surau kita? Eyang Mus, di mana-mana orang memasang pengeras suara untuk mesjid dan surau mereka." Kalimat ini menunjukkan bahwa Lasi berperilaku altruistik dalam konteks norma sosial terhadap orang lain. Hal ini ditandai dengan perbuatannya membantu membelikan pengeras suara untuk surau yang dikelola Eyang Mus.
Secara psikologis, pertolongan yang dilakukan Lasi tidak didasari atas pamrih atau mengharap imbalan dari yang ditolong karena Lasi melakukannya didasarkan atas keikhlasan merasa bahwa menolong orang lain yang kurang mampu adalah kewajiban bagi orang yang memiliki kemampuan. Apalagi orang yang ia tolong tersebut orang yang ia kenal dan ia sukai.
Perilaku altruistik dalam konteks norma sosial yang dilakukan tokoh Lasi pada kutipan di atas didasarkan motivasi karena orang yang ditolong adalah orang disukai karena Eyang Mus adalah satu desa dan orang yang ditokohkan di desanya. Kesediaan untuk membantu akan lebih besar terhadap orang yang berasal dari daerah yang sama daripada terhadap orang lain. Perilaku
Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 219 membantu dipengaruhi oleh jenis hubungan antar orang lain, seperti terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari.
d. Aspek Suasana Hati
Kutipan novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari berikut ini juga menghadirkan perilaku altruistik tokoh utama dalam konteks norma sosial.
Sepi. Mata Lasi menatap datar tapi ia tak melihat sesuatu. Hanya ada Kanjat. Ya. Sesungguhnya nama itu selalu lekat di hatinya sejak Lasi berada kembali di Karangsoga. Tetapi bersembunyi di mana dia? Sudah bencikah dia? Entahlah, yang jelas sosoknya selalu tampak dalam angan- angan Lasi. Alisnya yang tebal dan sorot matanya yang tajam.
Kesederhanaannya. Tak banyak omongnya. Sikapnya yang sejak dulu selalu ingin melindunginya. Dada Lasi berdebar. Ada pikiran nakal;
membandingkan Handarbeni yang tua dengan Kanjat yang masih sangatmuda.
....
Wajah Lasi mendadak terasa hangat. Dia pun tidak sepenuhnya berhasil menyembunyikan keterkejutannya. Namun Lasi segera bisa mengatasikeadaan.
"Aku dengar dari Eyang Mus, Kanjat punya rencana ini-itu tetapi tak cukup biaya. Eyang Mus meminta aku membantunya. Jadi, aku ingin bertemu dia untuk membantunya." (Tohari, 2005, hm 281-282).
Kutipan di atas menceritakan tentang keterkejutan tokoh Lasi setelah mendengar kegagalan Kanjat dalam menjalankan rencananya membantu meningkatkan penghasilan para penyadap nira kelapa di desanya. Kanjat gagal karena kekurangan dana. Keterkejutan Lasi tersebut bukan semata-mata karena kegagalan Kanjat. Namun, penyebutan nama Kanjat mengingatkan Lasi akan masa lalu mereka berdua yang pernah menjalin hubungan cinta meskipun putus di tengah jalan karena keadaan Lasi yang tidak mungkin menerima pinagan Kanjat. Karena merasa pernah bersalah, Lasi pun berusaha menolong Kanjat untuk mengatasi persoalan yang sedang dihadapi.
Wujud perilaku altruistik dalam konteks norma sosial tersirat pada kutipan di atas.
Perilaku tersebut ditunjukkan melalui kalimat: "Aku dengar dari Eyang Mus, Kanjat punya rencana ini-itu tetapi tak cukup biaya. Eyang Mus meminta aku membantunya. Jadi, aku ingin bertemu dia untuk membantunya." Kalimat ini menunjukkan bahwa Lasi berperilaku altruistik dalam konteks norma sosial terhadap orang lain. Hal ini ditandai dengan perbuatannya untuk membantu Kanjat merealisasikan rencananya.
Secara psikologis, pertolongan yang dilakukan Lasi terhadap Kanjat disebabkan ada dorongan perasaan bersalah terhadap Kanjat. Ia ingin menebus kesalahan masa lalunya yang pernah menolak cinta Kanjat.Dengan menolong mantan kekasihnya itu, ia berharap dapat menebus kesalahannya di masa lalu.
Ada empat dari enam aspek perilaku altruistik tokoh utama dalam konteks norma sosial yang ditemukan dalam novel Bekisar Merah ini. Keempat aspek tersebut adalah: (1) adanya model, (2) adanya kehadiran orang lain, (3) menolong orang yang di sukai, dan (4) suasana hati. Selanjutnya, kedua aspek yang tidak ditemukan adalah: (1) adanya kondisi lingkungan, dan (4) adanya tekanan.
2. Gambaran Perilaku Altruistik dalam Konteks Kekerabatan Tokoh Utama Novel Bekisar Merah Karya Ahmad Tohari
Perilaku altruistik konteks kekerabatan disebabkan oleh beberapa aspek, yaitu: (1) aspek perlindungan kerabat (kin altruism), (2), aspek timbal balik biologik (biological altruism), dan (3) aspek orientasi seksual.
220 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya
Kutipan berikut ini mengungkapkan tentang perilaku altruistik dalam konteks kekerabatan yang ditunjukkan tokoh utama Lasi dalam novel Bekisar Merah.
a. Aspek Perlindungan Kerabat (Kin Altruism)
Kutipan berikut ini mengungkapkan tentang perilaku altruistik dalam konteks kekerabatan yang ditunjukkan tokoh utama Lasi.
Sudah seminggu Darsa dirawat di sana dan luka-luka di kulitnya berangsur pulih. Tubuh seorang penyadap muda selalu punya daya sembuh yang kuat. Darsa juga sudah doyan makan. Dan Lasi sudah bertanya kepada perawat tentang jumlah biaya yang harus dibayarnya.
Dari jawaban perawat Lasi dapat menghitung uang yang dipinjamnya dari Pak Tir hanya cukup untuk merawat Darsa selama sepuluh hari.
Tetapi Lasi mendengar bisik-bisik di antara para perawat bahwa mungkin Darsa perlu perawatan di rumah sakit besar karena sampai demikian jauh masih ada yang tak beres pada tubuhnya; kencingnya terus menetes tak terkendali. Para perawat itu berbicara juga tentang kemungkinan bedah syaraf atas diri Darsa. (Tohari, 2005, hlm. 46)
Kutipan di atas menceritakan tentang usaha Lasi untuk membiayai perawatan Darsa suaminya di rumah sakit. Keberadaan Darsa di rumah sakit disebabkan peristiwa yang dialaminya saat berjuang memenuhi kebutuhan rumah tangganya dengan berusaha menyadap nira kelapa. Pada saat itu, Darsa terjatuh dari pohon kelapa yang licin akibat guyuran hujan.
Akibat dari peristiwa itu, Darsa mengalami luka-luka dan tidak sadarkan diri. Darsa dibawa oleh Lasi ke rumah sakit yang ada di sekitar Desa Karangsonga.
Lasi nekad membawa suaminya ke rumah sakit walaupun dalam ketiadaan biaya. Demi cintanya kepada suaminya, ia rela berusaha dengan susah payah meminjam uang kepada Pak Tir, saudagar pengepul nira kelapa di desanya. Namun demikian, uang pinjamannya itu tidak cukup untuk membiayai kesembuhan Darsa. Darsa masih memerlukan biaya besar untuk perawatan penyakit yang dialaminya.
Wujud perilaku altruistik dalam konteks kekerabatan pada kutipan di atas ditunjukkan melalui perilaku tokoh utama Lasi yang berusaha membatu suaminya dengan jalan meminjam uang kepada orang lain untuk biaya perawatan suaminya. Lasi berusaha dengan segala kemampuan yang ada pada dirinya demi kesembuhan Darsa yang merupakan tulang punggung keluarganya. Hal ini tersirat pada kutipan: Dan Lasi sudah bertanya kepada perawat tentang jumlah biaya yang harus dibayarnya. Dari jawaban perawat Lasi dapat menghitung uang yang dipinjamnya dari Pak Tir hanya cukup untuk merawat Darsa selama sepuluh hari.
Ditinjau dari aspek psikologis, perilaku tokoh Lasi di atas menunjukkan bahwa ia rela mengorbankan harga diri untuk meminjam uang kepada orang lain demi kesembuhan suaminya. Hal ini dilakukan Lasi karena perasaan cinta dan tanggung jawabnya terhadap suaminya. Ia merasa berkewajiban untuk membantu kesulitan orang yang merupakan pelindung sekaligus kepala rumah tangganya.
b. Aspek Timbal Balik Biologik (Biological Altruism)
Kutipan novel Bekisar Merah berikut ini juga menghadirkan perilaku altruistik dalam konteks kekerabatan.
"Kang, soal membeli dengan cepat Pak Tir bisa melakukannya,"
ujar Mbok Wiryaji. "Masalahnya, tanpa pekarangan dan rumah anakku mau tinggal di mana? Beruntung bila Darsa sembuh, bila tidak? Apakah ini bukan taruhan yang terlalu mahal dan sia-sia?"
"Mak, tapi kasihan Kang Darsa," sela Lasi. "Saya ingin dia dirawat sampai sembuh. Untuk Kang Darsa, apakah kebun kelapa saya tidak bias dijual?" (Tohari, 2005, hlm. 50)
Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 221 Kutipan di atas menceritakan tentang perundingan antara tokoh Lasi dengan Mbok Wiryaji ibunya. Mereka merundingkan solusi yang harus ditempuh untuk membantu pembiayaan pengobatan Darsa di rumah sakit. Lasi mengajukan kepada ibunya agar rumah dan pekarangannya dijual saja kepada Pak Tir. Namun, ibunya tidak menyetujuinya karena tidak ada lagi tempat tinggal untuk anaknya. Lasi pun berniat menjual kebun kelapanya demi kesembuhan suaminya. Ia tidak peduli dengan kehilangan mata pencaharian dari kebun tersebut, baginya Darsa adalah orang yang harus hidup dan sehat agar selalu dapat mendampingi selama umur dikandung badan.
Wujud perilaku altruistik dalam konteks kekerabatan pada kutipan di atas ditunjukkan melalui perilaku tokoh Lasi yang berusaha dengan membantu pembiayaan pengobatan Darsa.
Ia berusaha membuat Darsa sehat dan bahagia dalam pelukannya walaupun harus mengorbankan semua yang ia miliki. Hal ini tersirat pada kutipan: "Mak, tapi kasihan Kang Darsa," sela Lasi. "Saya ingin dia dirawat sampai sembuh. Untuk Kang Darsa, apakah kebun kelapa saya tidak bisa dijual?".
Perilaku tokoh Lasi yang dengan ikhlas membantu dengan segala daya upaya untuk kesembuhan Darsa secara psikologis disebabkan dorongan rasa cinta dan sayangnya terhadap suaminya. Dorongan perasaan ini semakin kuat muncul karena ia memiliki harapan hidup berumah tangga bersama Darsa tetap berlanjut. Lasi berharap Darsa akan selalu dapat mengisi perjalanan hidupnya dan menjadi pelindungnya sampai di hari tua.
Perilaku altruistik dalam konteks kekerabatan yang dilakukan Lasi disebabkan oleh faktor adanya timbal balik biologik (reciprocal altruism). Dalam kaitan ini, Lasi membuktikan adanya naluri perlindungan kerabat dalam perilaku menolong. Prinsip yang digunakan ini adalah menolong untuk memperoleh pertolongan kembali.
c. Aspek Orientasi Seksual
Kutipan novel Bekisar Merah berikut ini juga menghadirkan perilaku altruistik tokoh utama dalam konteks kekerabatan.
Lasi mendengar tawa Darsa sebagai rintihan paling memilukan yang tak mungkin keluar kecuali lewat tangis, tawa yang membungkus tangis. Maka Lasi pun sibuk menghapus air mata. Lalu tiba-tiba Lasi merasa ada kekuatan yang mendorong kedua kakinya tegak dan melangkah. Lasi masuk ke dalam rumah kecil yang kusam itu dan menemukan Sipah sedang duduk dan terisak. Sekejap Lasi merasa kembali berada pada masa lalunya sendiri. Lasi merasakan sepenuhnya kepedihan hati istri seorang penyadap yang remuk ketika tungku tak lagi berapi karena tak ada lagi pohon kelapa yang disadap.
Lasi duduk di samping Sipah, madunya, yang terus menangis. Tak ada sepatah kata segera bisa diucapkannya. Namun tangan Lasi bergerak membuka dompet, mengeluarkan beberapa lembar uang yang masih baru.
"Berikan uang ini kepada Kang Darsa. Uang itu cukup untuk makan kalian selama setahun bila kalian gunakan untuk menyewa pohon kelapa. Sudah, jangan terus menangis." (Tohari, 2005, hlm. 306)
Kutipan di atas mengungkapkan tentang peristiwa pertemuan Lasi dengan Darsa mantan suaminya beserta Sipah madunya. Darsa hidup menderita bersama Sipah isterinya.
Mereka hidup hanya bergantung pada hasil nira yang tidak seberapa dari beberapa batang kelapa yang masih dimilikinya. Ia dapat membayangkan bagaimana perasaan Sipah, madunya.
Mereka berdua sama- sama mencintai orang yang sama. Sama-sama isteri Darsa, walaupun hal itu masa lalunya. Hal ini membuat Lasi merasa berkewajiban untuk menolong. Ia tidak
222 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya
menaruh dendam atas penghiatan Darsa di masa lalu. Ia ikhlas memberikan sejumlah uang demi mengurangi penderitaan mantan suaminya dan Sipah, madunya.
Wujud perilaku altruistik dalam konteks kekerabatan tersirat pada kutipan di atas. Hal ini ditandai dengan pemberian sejumlah uang kepada Sipah yang merupakan isteri mantan suaminya. Perilaku tersebut ditunjukkan oleh kalimat: Lasi duduk di samping Sipah, madunya, yang terus menangis. Tak ada sepatah kata segera bisa diucapkannya. Namun, tangan Lasi bergerak membuka dompet, mengeluarkan beberapa lembar uang yang masih baru. "Berikan uang ini kepada Kang Darsa. Uang itu cukup untuk makan kalian selama setahun bila kalian gunakan untuk menyewa pohon kelapa. Sudah, jangan terus menangis."
Dilihat dari aspek psikologos. kutipan di atas menyiratkan bahwa pertolongan yang dilakukan Lasi karena adanya dorongan rasa kasihan dengan orang yang senasib dengannya, yaitu Sipah yang merupakan isteri Darsa. Ia merasa Iba melihat kesedihan isteri mantan suaminya itu. Pertolongan yang dilakukannya didasari atas empati melihat kesulitan orang lain.
Berdasarkan paparan di atas, ketiga aspek perilaku altruistik konteks kekerabatan ditemukan melalui perilaku tokoh utama novel Bekisar Merah ini. Ketiga aspek yang dimaksudkan adalah: (1) aspek perlindungan kerabat (kin altruism), (2) aspek timbal balik biologik (biological altruism), dan (3) aspek orientasi seksual.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Hasil analisis di atas diperoleh kesimpulan bahwa perilaku altruistik tokoh utama dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari dalam konteks norma sosial hanya ditemukan empat aspek motivasi untuk menolong, yaitu: (1) adanya model, (2) adanya kehadiran orang lain, (3) menolong orang yang disukai, dan (4) adanya suasana hati dan ada aspek motivasi yang tidak ditemukan, yaitu: adanya kondisi lingkungan, dan adanya tekanan. Perilaku altruistik tokoh utama dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari dalam konteks norma kekerabatan ditemukan dalam tiga motivasi untuk menolong, yaitu (1) aspek perlindungan kerabat (kin altruism), (2) aspek timbal balik biologik (biological altruism), dan (3) aspek orientasi seksual.
Saran
Penelitian ini difokuskan pada analisis perilaku altruistik yang terdapat dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari melalui gambaran perilaku tokoh utama dalam cerita.
Analisis terhadap perilaku altruistik ini masih belum sepenuhnya dapat dideskripsikan mengingat keterbatasan pengetahuan yang dimiliki oleh peneliti. Penelitian ini yang lebih mendalam mengenai kajian ini masih dapat dilakukan. Oleh sebab itu, peneliti menyarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut, baik dalam kajian yang sama atau kajian yang berbeda.
Selain itu, hasil penelitian yang telah dilakukan ini juga disarankan agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan acuan dalam pembelajaran sastra di sekolah, khususnya pembelajaran apresiasi fiksi. Dalam hal ini, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai contoh analisis perilaku altruistik tokoh utama dalam novel. Dengan memanfaatkan hasil penelitian ini diharapkan tujuan pembelajaran apresiasi sastra yang tersirat dalam kompetensi dasar mata pelajaran bahasa Indonesia untuk siswa SMA dapat tercapai.
Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 223
DAFTAR RUJUKAN
Imron, Ali. 2003. Metode Pengkajian Sastra: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.
Mar’at, S. dan Kartono, L.I. (2006). Perilaku Manusia Pengantar Singkat Tentang Psikologi.
Bandung: PT Refika Aditama.
Rafiek, M. (2013). Pengkajian Sastra: Kajian Praktik. Bandung: Refika Aditama.
Ratna, Nyoman Kutha. 2004.Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Sarwono, S. W. (2005). Psikologi Lingkungan. Jakarta: PT Grasindo.
Tohari. A. (2005). Bekisar Merah. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Walgito, B. (2004). Pengantar Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.
Winiastuti, R. (2017). “Altruistik dalam Novel Di Atas Pena Engkau Melamarku karya E. Sabila El. Raihany”. Palangkaraya: FKIP Unpar.
Widodo dan Dermawan, (2018). “Perihal Sufistik dalam Novel Bekisar Merah Karya Ahmad Tohari: Sebuah Pendekatan Semiotika”. Jurnal Caraka Volume 4 Nomor2. Edisi Juni 2018: 89 – 114.
Yusuf, M. (2017). “Hegemoni dalam Novel Bekisar Merah Karya Ahmad Tohari (Suatu Kajian Hegemoni Antonio Gramsci)”. Makasar: Universitas Negeri Makasar.