BAB II
KERANGKA TEORI
Penelitian Terdahulu
Penelitian ini didasari oleh beberapa penelitian terdahulu yang memiliki relevansi topik. Penelitian terdahulu menjadi referensi untuk membantu peneliti dalam merumuskan masalah. Dalam hal ini, penelitian terdahulu berperan sebagai acuan karena terdapat kesamaan dengan topik yang ingin diteliti. Selain itu, dari penelitian-penelitian terdahulu juga dapat ditemukan research gap yang menjadi dasar peneliti dalam membangun penelitian baru.
Penelitian yang mengangkat topik pola konsumsi kaum muda dalam menggunakan media tidak sedikit jumlahnya. Ada banyak konsep yang menjelaskan perilaku dalam menggunakan media. Salah satu topik yang sering diteliti dalam kajian jurnalistik adalah news avoidance. Penelitian Ruth Palmer dan Benjamin Toff (2022) yang berjudul “Neither Absent nor Ambient:
Incidental News Exposure from the Perspective of News Avoiders in the UK, US, and Spain” mengeksplor cara news avoiders melihat atau mengartikan incidental encounters dengan berita. Hal yang menjadi tujuan utama dari penelitian ini adalah mencari tahu apakah news avoiders merasa berita selalu aksesibel dan tersedia di sekelilingnya (ambient news). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap 108 responden di Inggris, Spanyol, dan Amerika Serikat.
Palmer dan Toff (2022) menemukan research gap di antara konsep incidental news exposure dan news avoidance. Incidental news exposure mengonsepkan bahwa paparan terhadap berita tidak dapat dihindari dan dapat menjadi cara bagi masyarakat untuk mengetahui peristiwa terkini dan mengurangi kesenjangan pengetahuan politik. Namun, penelitian news avoidance (Elvestad et al., 2014; Gorski & Thomas, 2022; Ksiazek et al., 2010;
Villi et al., 2022) menemukan bahwa terdapat khalayak yang sangat minim dalam mengonsumsi berita. Berangkat dari dua perspektif tersebut, Palmer dan
Toff (2022) mencari tahu cara news avoiders agar tetap mengetahui informasi tentang peristiwa terkini serta keadaan para news avoiders ketika mengalami incidental news exposure.
Palmer dan Toff (2022) menemukan bahwa partisipan tidak membedakan first-hand news (diproduksi oleh jurnalis profesional) dan second-hand news (perbincangan mengenai suatu berita). News avoiders juga mempunyai repertoire incidental news exposure, yaitu mendapatkan informasi terkini dari orang lain yang dipercaya, baik secara offline maupun online. Repertoire ini muncul karena rutinitas mereka: saat dalam perjalanan, berbincang dengan orang lain, di restoran, dan menggunakan media sosial. News avoiders percaya bahwa berita yang besar atau penting akan sampai ke telinga mereka dari repertoire INE. Mereka juga puas dengan sistem (repertoire INE) yang mereka miliki agar tetap mengetahui informasi walaupun minim. Penelitian Palmer dan Toff (2022) mempunyai relevansi dengan penelitian ini dari konsep incidental news exposure dan news avoidance. Kedua konsep ini akan digunakan sebagai kacamata untuk mencari tahu bagaimana perilaku kaum muda di Indonesia dalam mengonsumsi berita, khususnya topik politik.
Selain news avoidance, konsep incidental news exposure telah menjadi fokus kajian media sejak era media konvensional. Dengan perkembangan teknologi, incidental news exposure pun relevan kembali untuk dikaji dalam latar penggunaan media online. Jörg Matthes, Andreas Nanz, Marlis Stubenvoll, dan Raffael Heiss (2020) menulis sebuah artikel jurnal dengan judul “Processing News on Social Media. The Political Incidental News Exposure Model (PINE)” yang merupakan sebuah model baru dari incidental news exposure, yaitu political incidental news exposure. Matthes et al. (2020) menganggap PINE sebagai proses yang dinamis, terdapat dua level pemrosesan, dan ada dua dimensi.
Menurut Matthes et al. (2020) PINE pada level pertama merupakan passive scanning atau hanya membaca sepintas informasi yang dianggap tidak penting.
Level kedua PINE adalah intentional processing yang berarti berita politik yang ditemukan khalayak secara tidak sengaja diproses lebih dalam. Dimensi
yang pertama adalah intention-based, yaitu incidental news exposure yang terjadi ketika khalayak menggunakan media untuk tujuan lain atau nonpolitik.
Untuk dimensi yang kedua adalah topic-based, yaitu khalayak menggunakan media secara intentional untuk mencari topik politik yang spesifik, tetapi bertemu dengan topik politik lain yang menarik. Penelitian Matthes et al.
(2020) relevan karena konsep political incidental news exposure (PINE) yang sejalan dengan penelitian ini.
Perilaku news avoidance dan fenomena incidental news exposure sering dikaitkan dengan perilaku bermedia kaum muda. Edgerly (2017) dalam artikel yang berjudul “Seeking Out and Avoiding the News Media: Young Adults’
Proposed Strategies for Obtaining Current Events Information” mencari strategi yang dipakai oleh kaum muda untuk mendapatkan informasi. Ia berasumsi bahwa kaum muda mempunyai cara tersendiri untuk dapat menemukan atau bahkan menghindar dari berita. Dengan meneliti 21 kaum muda di Amerika Serikat dengan metode wawancara mendalam, Edgerly (2017) menemukan news repertoire yang dimiliki oleh kaum muda.
Edgerly (2017) menemukan dua kebiasaan kaum muda dalam menggunakan media: menggunakan strategi untuk menemukan berita dan memiliki strategi untuk menghindar dari atau secara tidak langsung menggunakan berita. Kaum muda memiliki sumber berita tertentu untuk setiap topik informasi. Mereka juga menggunakan Wikipedia sebagai pelengkap dari berita, untuk meningkatkan pemahaman. Selain itu, mereka juga menggunakan media sosial sebagai sumber berita. Menariknya, kaum muda skeptis terhadap pers, mereka berpendapat tidak ada sumber berita yang kredibel.
Bahkan, ketidakpercayaan terhadap media berujung kepada penghindaran berita. Jadi, kaum yang menghindar dari berita biasanya menggunakan Google atau mengetahui informasi dari orang-orang terdekat yang dipercaya.
Fenomena mengetahui berita bukan dari media disebut oleh Palmer dan Toff (2022) sebagai second-hand news. Hal ini menunjukkan penelitian Palmer &
Toff (2022) selaras dengan penelitian Edgerly (2017). Fenomena terakhir yang penting disorot dari temuan Edgerly adalah, kaum muda percaya bahwa berita
yang mengandung informasi yang penting akan menemukannya, terutama di media sosial. Kepercayaan ini ini diketahui sebagai news-finds-me perception, yang mana berhubungan dengan incidental news exposure (Gil de Zúñiga &
Diehl, 2019, p. 5). Relevansi penelitian Edgerly (2017) dengan penelitian ini terletak di populasi penelitian, yaitu kaum muda. Penelitian Gil de Zúñiga dan Diehl (2019) relevan sebab penelitian mereka mencari efek news-finds-me perception terhadap pemilihan umum yang juga digunakan dalam penelitian ini.
Berangkat dari riset-riset tersebut, peneliti ingin mencari perilaku kaum muda dalam mengonsumsi berita politik, dilihat dari framework incidental news exposure, news avoidance, dan news-finds-me perception. Seperti yang telah dipaparkan di latar belakang, Indonesia akan melaksanakan pemilu eksekutif dan legislatif pada 2024 sehigga frekuensi berita politik pun akan semakin banyak. Sedangkan, kaum muda tidak tertarik terhadap politik yang dapat memengaruhi pola konsumsi berita. Maka, penelitian ini bermaksud untuk melengkapi penelitian Palmer dan Toff (2022), Matthes et al. 92020), Edgerly (2017), dan Gil de Zúñiga dan Diehl (2019) dengan mencari tahu bagaimana kaum muda mengonsumsi berita dari perspektif incidental news exposure untuk mengetahui informasi terkini atau dinamika politik. Penelitian ini juga berfokus kepada alasan kaum muda menghindar dari berita, khususnya politik. Selain itu, penelitian ini juga ingin mencari tahu apakah kaum muda di Indonesia memiliki news-finds-me perception?
Teori dan Konsep
2.2.1 Uses & Gratifications
Dalam teori uses & gratifications, audiens dianggap sebagai individu yang sadar dan paham akan kebutuhannya sehingga mengetahui alasan di balik penggunaan media (McQuail, 2010, p. 549).
Audiens memiliki tujuan tertentu dan kepuasan tersendiri dalam mengonsumsi konten sehingga keputusan mereka rasional, dapat
dijelaskan secara logis, dan bisa diukur. Pendekatan ini dapat mengukur motif, kepuasan, pilihan media, dan variabel lainnya. McQuail (2010, p. 550) mengutip Katz et al. menjelaskan bahwa pemilihan atau penggunaan media (atau konten) berkaitan dengan kebutuhan sosial dan psikologis sehingga membentuk ekspektasi terhadap media yang mengarah pada paparan diferensial. Hal ini mendorong media untuk memuaskan kebutuhan audiens.
Teori uses & gratifications berawal dari Elihu Katz yang menyarankan peneliti untuk mengalihkan fokusnya dari “apa yang media lakukan pada khalayak?” ke “apa yang khalayak lakukan pada media?” (Griffin et al., 2019, p. 347). Terdapat lima asumsi utama yang mendasari teori uses & gratifications yang Griffin et al. (Griffin et al., 2019, pp. 347–350) sorot di bukunya. Pertama, khalayak menggunakan media untuk tujuan khusus tersendiri. Asumsi ini mengubah perspektif bahwa audiens bukan sasaran pasif media, melainkan audiens secara aktif memilih media (atau konten) yang digunakan dan menentukan efek apa yang ditimbulkan oleh media. Kedua, khalayak berusaha untuk memenuhi atau memuaskan kebutuhannya dengan menggunakan media. Keputusan yang khalayak buat dalam menggunakan media didasarkan pada kepuasan yang dipenuhi media tersebut. Ketiga, media bersaing untuk mendapatkan perhatian dan waktu khalayak. Mengapa seseorang memilih media A, tetapi orang lain lebih menyukai media B?
Menurut uses & gratifications, khalayak akan mengerti alasan memilih media tersebut karena telah mengetahui kebutuhan yang memotivasi perilakunya. Keempat, pengaruh media berbeda-beda untuk setiap orang. Pesan yang disampaikan oleh media tidak memengaruhi semua orang dengan cara yang sama. Terakhir, khalayak dapat mengidentifikasi alasan penggunaan medianya dengan akurat. Namun, asumsi ini masih diperdebatkan validitasnya oleh para peneliti.
Dengan pendekatan ini, Griffin et al. (2019, pp. 350–351) menggunakan tipologi milik Alan Rubin yang mengklasifikasikan
delapan alasan atau tujuan menggunakan media: menghabiskan waktu, companionship (contoh: berkumpul bersama untuk menonton pertandingan sepakbola di TV), melarikan diri (melepaskan diri dari masalah), menyenangkan diri, interaksi sosial (agar mempunyai dan mengerti bahan percakapan), relaksasi, sumber informasi, dan merangsang kegembiraan. Selain Rubin, McQuail (2010, p. 550) juga memaparkan tipologi yang lebih sederhana: diversi (melepaskan diri dari rutinitas atau masalah), hubungan personal, identitas personal (mengeksplor realitas), dan pengawasan (mencari informasi).
Perkembangan teknologi, Griffin et al. (2019, p. 353) mengutip S.
Shyam Sundar, justru dapat menciptakan peluang gratifikasi yang dapat dicari oleh khalayak. Berangkat dari penjelasan di atas, teori uses &
gratification dapat diterapkan dalam penelitian ini sebab berfokus kepada keputusan dan pilihan khalayak dalam mengonsumsi berita. Hal tersebut sejalan dengan penelitian ini: bagaimana perilaku kaum muda dalam mengonsumsi berita politik dari perspektif incidental news exposure, news avoidance, dan news-finds-me perception.
2.2.2 Media/News Repertoire
Pendekatan repertoire terhadap media exposure pertama kali digunakan oleh Heeter pada 1983 untuk mencari rutinitas para penonton televisi terhadap saluran tertentu (Yuan, 2011, p. 1002). Seiring dengan berjalannya waktu, pendekatan repertoire menjadi sebuah konsep:
media repertoire. Media repertoire menjelaskan bagaimana pengguna media menggabungkan berbagai kontak dengan media menjadi sebuah pola (Hasebrink & Popp, 2006, p. 369). Singkatnya, media repertoire adalah pola dari penggunaan media (Hasebrink & Popp, 2006, p. 374).
Jika menggunakan kacamata uses & gratifications, pendekatan media repertoire mencoba untuk menganalisis pola dari gratifikasi yang dicari oleh pengguna media (user atau khalayak) sehingga menemukan pola penggunaan media (Hasebrink & Popp, 2006, p. 371).
Hasebrink dan Domeyer (2012) menuliskan tiga basis dari media repertoire. Pertama, konsep media repertoire berfokus terhadap perspektif user, seperti media apa yang digunakan oleh seseorang.
Kedua, media repertoire meninjau secara keseluruhan penggunaan media: tipe media (seperti internet, TV, atau radio), topik (seperti politik, ekonomi, atau teknologi), genre (drama, berita, atau komedi), atau brand. Ketiga, media repertoire menekankan hubungan dan fungsi spesifik dari setiap komponennya. Hasebrink & Donmeyer (2012, p.
761) juga memetakan framework untuk media repertoire: komponen media repertoire, indikator empiris media repertoire, hubungan antara komponen-komponen, prinsip umum dari komposisi media repertoire, dan pengertian subjektif media repertoire.
Dalam ranah jurnalistik, media repertoire dikenal juga sebagai news repertoire: news diet atau pola khalayak mengakses dan menggunakan berita yang kemudian dikelompokkan dalam beberapa kategori (Strömbäck et al., 2018, p. 3). Fletcher dan Nielsen (2018) mendefinisikan news repertoire sebagai “the set of news sources an individual uses on a regular basis” (p. 978). Dari hasil penelitiannya, setiap peneliti mempunyai kategori news repertoire yang berbeda.
Edgerly (2015) mengelompokkan khalayak dalam enam kategori news repertoire: news avoiders, television & newspaper, online only, liberal
& online news, conservative only, dan news omnivores. Mosca dan Quaranta (2016) mengelompokkan news repertoire yang dimiliki khalayak berdasarkan tipe media yang digunakan:
occasional/intermittent, traditional univores, digital univores, dan omnivores. Berdasarkan skala political exposure, Wolfsfeld et al.
(2016) membagi khalayak dalam empat kategori news repertoire:
avoiders, traditionalists, socials, dan eclectics.
2.2.3 Incidental News Exposure
Mayoritas penelitian tentang incidental news exposure menggunakan definisi yang ditulis oleh Tewksbury et al. (2001) di
artikel jurnal berjudul “Accidentally Informed: Incidental News Exposure on the World Wide Web”. Tewksbury et al. (2001, p. 534) mendefinisikan incidental news exposure sebagai menemukan informasi mengenai peristiwa terkini secara kebetulan ketika sedang melakukan aktivitas lain. Mengutip Tewksbury et al. (2001, p. 533),
“when you go on-line, are you ever exposed to news and information on current events, public issues, or politics when you may have been going on-line for a purpose other than to get the news?” Pertanyaan tersebut menjelaskan situasi seseorang yang mengalami INE.
Namun, sebelum internet booming, incidental news exposure terjadi saat khalayak sedang offline. Artinya, khalayak mendapatkan, mendengar, membaca, atau mengetahui berita dari orang-orang di sekitarnya atau media konvensional (televisi, radio, atau koran). Dalam penelitian Palmer dan Toff (2022) pun membagi sumber berita yang ditemukan secara tidak sengaja menjadi dua, yaitu berita first-hand dan second-hand. Berita first-hand merupakan berita yang diproduksi secara profesional oleh jurnalis sementara berita second-hand adalah perbincangan tentang berita baik secara online maupun offline.
Matthes et al. (2020, p. 1035) membagi tingkatan incidental news exposure menjadi dua: passive scanning dan intentional processing.
Level passive scanning terjadi saat khalayak hanya membaca sepintas informasi yang dianggap tidak penting. Level intentional processing merupakan pemrosesan lebih dalam terhadap informasi yang ditemukan secara tidak sengaja. Selain itu, Matthes et al. (2020, pp.
1036–1037) mengidentifikasi dua skenario terjadinya incidental news exposure, yaitu intention-based dan topic-based. INE intention-based terjadi ketika khalayak menggunakan media untuk tujuan lain (non- politik). Untuk INE topic-based terjadi ketika khalayak menggunakan media secara intentional untuk mencari topik politik yang spesifik, tetapi bertemu dengan topik lain yang menarik. Dari sini, terdapat dua
bentuk INE: incidental exposure terhadap berita politik dan non-politik (Matthes et al., 2020, p. 1038).
2.2.4 News Avoidance
Skovsgaard dan Andersen (2020, p. 5) mendefinisikan news avoidance sebagai “low news consumption over a continuous period of time caused either by a dislike for news (intentional) or a higher preference for other content (unintentional)”. Intentional news avoidance terjadi ketika khalayak secara sadar menghindar dari berita sebab merasa berita terlalu pesimistis sehingga memengaruhi suasana hatinya, skeptis atau tidak memercayai media, dan news overload.
Unintentional news avoidance merupakan hasil akhir dari perubahan karakteristik di lingkungan media. Akibat konten semakin banyak, khalayak yang lebih menyukai konten hiburan akan lebih memilih konten yang menghibur. Khalayak yang seperti ini tidak merasakan ketidaksukaan terhadap berita secara gamblang dan tidak secara aktif membatasi konsumsi beritanya. Tipe kedua ini dapat terjadi karena sifat eksternal seperti algoritma yang memengaruhi kurasi konten yang muncul di media sosial seseorang.
Skovsgaard dan Andersen (2020, pp. 8–10) memberikan solusi untuk menghadapi dua jenis news avoidance yang dipaparkan di atas.
Intentional news avoidance dapat dilawan dengan jurnalisme konstruktif, yaitu dengan mengimbangi berita negatif dengan berita positif, menambahkan beberapa paragraf yang memuat solusi dari masalah yang diangkat dalam berita, dan memberikan gambaran masa depan. Selain itu, pemberitaan opini dapat dihindari, jurnalis dan media dapat lebih transparan dalam pemilihan topik liputan, dan menerapkan slow journalism. Solusi untuk unintentional news avoidance membutuhkan perubahan struktural di dalam sebuah media. Sebagai contoh, dalam konteks televisi, program berita dapat diselipkan di antara program lain yang lebih diminati oleh khalayak. Dalam konteks
media online atau media sosial, media dapat mencampur konten berita dengan konten entertainment.
2.2.5 News-Finds-Me Perception
Persepsi news-finds-me muncul karena sifat berita yang selalu tersedia di sekitar masyarakat (ambient news) dapat menyebabkan sekelompok orang percaya bahwa mereka tidak perlu mengikuti berita secara teratur lagi untuk tetap mengetahui current events, terlebih dengan adanya media sosial (Gil de Zúñiga et al., 2017, p. 106). Gil de Zúñiga et al. (2017) mendefinisikan fenomena persepsi news-finds-me sebagai “the extent to which individuals believe they can indirectly stay informed about public affairs––despite not actively following the news–
–through general internet use, information received from peers, and connections within online social networks” (p. 107). Kepercayaan ini membentuk persepsi khalayak bahwa berita akan menemukan mereka tanpa harus dicari.
Khalayak yang memiliki persepsi ini belum tentu tidak tertarik dengan apa yang sedang terjadi di dunia, tetapi percaya bahwa mereka tidak perlu secara aktif mencari berita karena perilaku bermedia dan social network-nya dapat menyediakan berita yang diperlukan untuk tetap mengetahui informasi penting (Gil de Zúñiga et al., 2017, p. 107).
Selain itu, Gil de Zúñiga et al. juga menulis bahwa persepsi news-finds- me bukan bagian dari news avoidance. Sebab, persepsi ini tidak secara aktif menghindar dari berita, tetapi merasa tidak perlu untuk mencari berita. Justru, khalayak yang memiliki persepsi ini akan terus terekspos dengan berita karena menggunakan sosial media––dikenal dengan incidental news exposure. Maka, persepsi news-finds-me dan incidental news exposure berjalan beriringan dan saling memengaruhi satu sama lain.
Namun, kondisi high-choice media environment dapat memperbesar kesenjangan pengetahuan politik di antara khalayak yang tidak aktif dan yang giat mencari berita (Gil de Zúñiga et al., 2017, p. 108). Pilihan
media dan konten nonberita yang sangat beragam serta perkembangan media sosial dapat menambah kemungkinan untuk mempelajari politik (seperti melalui incidental news exposure), tetapi apakah pembelajaran tentang politik dapat terjadi di kalangan khalayak yang pasif? Gil de Zúñiga et al. (2017, p. 109) menulis bahwa mempelajari politik tidak sekadar perkara keinginan untuk belajar, tetapi kesempatan dan ketersediaan dari informasi. Berdasarkan pemikiran tersebut, konsep incidental news exposure dan persepsi news-finds-me dapat mendorong pembelajaran pasif karena gagasannya berangkat dari banyaknya dan tersedianya informasi bagi khalayak.
Alur Penelitian
Gambar 2.1 Alur Penelitian
Sumber: olahan peneliti