PERISTIWA GEMPA TAHUN 2009 DI PARIAMAN: STUDI TENTANG REKONSTRUKSI DAN REHABILITASI
JURNAL
RIKI AZMI NPM. 12020088
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2017
THE EXISTENCE OF MINANG SAKAPUA SIRIAH ART STUDIO IN JORONG KOTO ALAM SUBDISTRICT OF PALEMBAYAN
AGAM REGENCY TO PRESERVE THE RANDAI TRADITION OF ART IN 2007-2012
Abdul Aziz1 Nopriyasman2
Refni Yulia3
Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRAK
Sanggar Kesenian Minang Sakapua Siriah merupakan sebuah sanggar pelestari kesenian randai tradisi yang berada di Jorong Koto Alam, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam.
Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah Latar Belakang Berdirinya Sanggar Kesenian Minang Sakapua Siriah; Bentuk Struktur Kepengurusan; dan Peran sanggar dalam melestarikan Kesenian Randai. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode penelitian sejarah melalui empat tahap. Pertama heuristik yaitu pengumpulan data. Tahap kedua, kritik sumber yaitu teknik pengolahan data, dan tahap ketiga interpretasi yaitu menafsirkan atau memberikan makna, dan tahap terakhir historiografi yaitu tahap penulisan. Hasil penelitian menunjukan, bahwa Sanggar Kesenian Minang Sakapua Siriah memiliki prestasi yang menonjol, dimana pernah menjadi juara Pekan Budaya Sumatera Barat tahun 2008 dan 2010 sebagai penampil terbaik randai tradisi. Selain itu sanggar ini juga pernah tampil di Istana Negara, Jakarta dalam memeriahkan HUT RI yang ke 63, dan juga pernah menjadi juara Pesta Budaya Seni Pameran Dagang Dan Industri (PEDATI) Nusantara VIII tahun 2008 di Bukittinggi. Keberhasilan Sanggar Kesenian Minang Sakapua Siriah dalam melestarikan kesenian randai tradisi terlihat dengan bergabungnya masyarakat, terutama generasi muda untuk bermain kesenian randai tradisi. Keberhasilan sanggar tidak diiringi pengelolaan sanggar dengan baik sehingga terjadi perpecahan di dalam sanggar yang mengakibatkan kegiatan sanggar berhenti dan akhirnya bubar pada tahun 2012. Kesimpulan penelitian ini adalah Sanggar Kesenian Minang Sakapua Siriah merupakan salah satu sanggar yang ikut melestarikan kesenian randai di Sumatera Barat sampai tahun 2012. Sanggar ini juga merekrut generasi muda terutama pemuda yang tinggal disekitar sanggar untuk menjadi anggota dan juga mengenalkan kesenian randai melalui acara pesta perkawinan dan peresmian yang diadakan oleh masyarakat serta di perlombaan atau festival kesenian randai.
Keyword: Existence, Studio, Preserve
1Mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat
2Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat
3Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat
KEBERADAAN SANGGAR KESENIAN MINANG SAKAPUA SIRIAH DI JORONG KOTO ALAM KECAMATAN PALEMBAYAN
KABUPATEN AGAM DALAM MELESTARIKAN KESENIAN RANDAI TRADISI
2007-2012 Abdul Aziz1 Nopriyasman2
Refni Yulia3
Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRACT
Minang Sakapua Siriah Studio Art is a preservation studio of Randai tradition which placed in Jorong Koto Alam, Subdistrict of Palembayan, Agam Regency. The problem which will be investigated in this research are The Background Establishment of The Sakapua Siriah Studio Art; The Form of The Management Structure; and The Role of The Studio in Preserving The Art of Randai. This research was conducted using the methods of Historical reseach through the four stages. First stage, Heuristic, is collecting data. Second stage, Critical of source, is data processing techniques. Third stage, Interpretation, is interpret or give meaning. The last stage, Histografi, is the process of writing stage. The result of this research showed that The Studio Art of Minang Sakapua Siriah had a prominent achievement, where it ever became a champion in Pekan Buadaya West Sumatera in 2008 and 2010 as The Best Performance of Randai Tradition. Besides of that this studio also appeared at the State Palace, Jakarta to enliven HUT RI 63rd, and it also ever became a champion in Pesta Budaya Seni Pameran Dagang dan Industri (PEDATI) Nusantara VIII 2008 in Bukittinggi. The success of Studio Art of Minang Sakapua Siriah in preserving The Traditional Art of Randai which could be seen with the merger of society, especially the young generation to play Randai as the Traditional Art. The successfull of the Studio did not accompanied by management of the Studio in well, with the result there is schism in the Studio as the effect the activities of Studio stoped and finally broke up in 2012. The conclusion of this research, is The Studio Art of Minang Sakapua Siriah include as the one Studio Art which participate to preserving Art of Randai Traditional in West Sumatera until 2012. This Studio also Recruits the young generations which lived around of the Studio to be the member and also to acquaint The Randai as an Traditional Art through the events, wedding event and official appoinment which be held by society as well as in the competition or Art Festival of Randai.
Kata Kunci: Keberadaan, Sanggar, Melestarikan
1Mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat
2Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat
3Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sumatera Barat
PENDAHULUAN
Gempa yang terjadi di Pariaman tahun 2009, menimbulkan luka yang mendalam bagi masyarakat di Pariaman, sebab gempa yang terjadi ini merupakan gempa yang besar sehingga berdampak terhadap timbulnya korban jiwa serta banyaknya bangunan yang rata dengan tanah.
Gempa yang terjadi pada tahun 2009 termasuk kedalam jenis gempa tektonik karena adanya gerakan lempeng Indo-Australia yang menyusup dibawah Lempeng Erasia, sehingga menimbulkan kerusakan yang cukup parah terhadap sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana ibadah, rumah penduduk, kerusakan lahan serta sarana transportasi dan lain-lain.1Tidak hanya itu secara ekonomi menimbulkan kesulitan bagi masyarakat yang mengalami bencana, Walikota yang saat itu dipimpin oleh H.Muklis hanya bisa meminta terhadap masyarakat untuk tetap tabah dalam menghadapi cobaan yang di berikan Allah.2
Bangunan rumah di Pariaman berdasarkan data yang dimiliki dinas PU Pariaman yaitu sekitar 15.893 buah rumah. Sedangkan yang mengalami kerusakan berat mencapai 6.685 buah, rusak sedang 4.115, sedangkan rusak ringan yaitu 2.605 buah, jadi total keseluruhan baik itu yang rusak berat, sedang ataupun ringan yaitu mencapai 13.405.
Disamping kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa terhadap fasilitas yang ada, bencana ini juga banyak merenggut nyawa yang mencapai 43 orang, serta korban luka-luka tercatat sebanyak 36 orang.
Banyaknya korban yang meninggal pada saat gempa terjadi dikarenakan tertimpa bangunan yang runtuh akibat tidak kuatnya bangunan menahan goncangan gempa yang melanda Pariaman. Setelah bencana gempa terjadi pemerintah mengevakuasi para korban dan mendirikan barak penampungan sementara untuk tempat tinggal masyarakat yang terkena bencana. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi awal terjadinya gempa susulan. Selain mengevakuasi korban bencana gempa, tim pencari korban, SAR, TNI, POLRI dan juga para relawan, yang terlibat dalam pencarian korban yang tertimbun oleh material bangunan. Setelah dua hari gempa terjadi TIM SAR, TNI dan POLRI juga dibantu oleh relawan yang datang dari negara- negara sahabat seperti Jepang, Australia, Singapura dan Malaysia dan masih banyak negara sahabat lainnya yang berpartisipasi dalam pencarian korban bencana gempa.3
Sejak peristiwa gempa melanda Pariaman tahun 2009, aktifitas masyarakat lumpuh, kehidupan ekonomi masyarakat menjadi tidak
1Haluan. Distribusi Logistik untuk Korban Gempa Lancar. Tahun 2009. Hal.7
2 Haluan. masyarakat agar tabah hadapi cobaan. tahun 2009. hal 7
3Haluan. Korban Gempa di RSUD Kota Pariaman mayoritas Lansia, tahun 2009. Hal. 7
menentu dan Penyebabnya adalah sebagian dari masyarakat harus memulai dari awal membangun usaha mereka, dan tidak sedikit dari masyarakat yang terkena bencana gempa tersebut tidak lagi memiliki modal untuk bangkit membangun perekonomian keluarganya. Mata pencaharian sebagian besar penduduk Pariaman adalah nelayan, bertani dan berdagang.4
Pasca gempa terjadi Pemerintah Pariaman mulai melakukan perbaikan di berbagai sektor di Pariaman yang di sebut Proses rekonstruksi dan rehabilitasi. Kerja keras yang dilakukan pemerintah Pariaman pada tahun 2015 aktivitas perekonomian masyarakat di Pariaman sudah kembali normal, seluruh bangunan yang rusak akibat gempa, seperti:
jalan, rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, perkantoran dan rumah masyarakat sudah 98%
diperbaiki oleh pemerintah setempat dengan bekerja sama dengan masyarakat serta dinas terkait lainnya.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, penulis tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang proses rekonstruksi dan rehabilitasi yang dilakukan oleh pemerintah Pariaman pasca gempa bumi pada tahun 2009. Maka dari itu penulis mengangkat permasalahan ini menjadi sebuah karya Ilmiah dengan judul“Peristiwa Gempa Tahun 2009 Di Pariaman: Studi Tentang Rekonstruksi Dan Rehabilitasi”.
Penelitian ini membahas secara kusus perihal tentang upaya pemerintah dalam melakukan proses rekonstruksi dan rehabilitasi pasca gempa pada tahun 2009 di Pariaman. Oleh karena itu, agar penelitian ini mengarah kepada inti permasalahan yang akan diteliti, maka diperlukan batasan Spatial dan Batasan Temporal penelitian.
a. Batasan spatialnya adalah Kota Pariaman, sementara
b. Batasan temporal yaitu dari tahun 2009-2015.
Dimana pada tahun 2009 merupakan awal terjadinya gempa besar di wilayah Pariaman yang banyak menimbulkan korban jiwa serta mengakibatkan banyak bangunan yang rata dengan tanah. Sedangkan tahun 2015, dijadikan batasan akhir karena pada tahun ini kehidupan masyarakat sudah mulai membaik, hal ini tidak terlepas dari usaha pemerintah dalam menjalankan program yang dikenal dengan kebijakan rekonstruksi dan rehabilitasi (RR) rumah di Pariaman sejak awal tahun 2010 sampai 2015 dengan mengemplementasikan model berbasis komunitas.
Agar penelitian lebih mengarah maka dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana Proses Rekonstruksi dan Rehabilitasi yang dilakukan oleh Pemerintah di Pariaman pasca gempa tahun 2009- 2015?
Tujuan penelitian ini adalah: menjelaskan sejauh mana perkembangan proses Rekonstruksi
4BPS: Pariaman dalam Angka 2015. hal.
dan Rehabilitasi yang dilakukan Pemerintah Pariaman pasca gempa tahun 2009-2015.
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat berupa :
a. Menambah serta memperkaya pengetahuan penulis tentang proses rekonstruksi dan rehabilitasi.
b. Memberi sumbangan pada khasanah ilmu sosial terutama mengenai sejarah bencana dan sebagai bahan bacaan dalam bentuk sumbangan historis pengetahuan dan informasi yang diperlukan dalam penelitian selanjutnya
c. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah daerah, berkaitan dengan peristiwa gempa bumi Kota Pariaman dalam penanggulangan bencana lainnya, dan menarik pelajaran darin kejadian tersebut agar kita lebih waspada terhadap musibah bencana alam yang mungkin terjadi pula di sekitar kita.
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode Sejarah. Metode Sejarah adalah proses dalam pengumpulan data yang berupa data sekunder dan data primer. Data sekunder yaitu bersumber dari buku, arsip koran, dokumentasi dan lain-lain. Sedangkan data primer yaitu berupa data wawancara dengan pihak terkait seperti masyarakat yang terdampak bencana, BPBD, SAR serta Pemerintah setempat. menguji dan menganalisis secara kritis rekaman peninggalan masa Lampau. Menurut Louis Gottschalk ada empat tahap penulisan Sejarah yaitu: Heuristik,Kritik sumber, Interpretasi, Histiografi.5
1. Heuristik merupakan pengumpulan sumber- sumber sejarah baik sumber primer maupun sumber sekunder. Sejarah lisan ini dilakukan dalam rangka mengisi kekurangan yang terdapat pada catatan atau sumber tertulis dan sebagai sumber pembanding bagi sumber primer. Sumberyang didapat seperti dari Kantor Badan Pusat Statistik Kota Pariaman, Laporan gempa bumi Kota Pariaman pada tahun 2009 dan Badan Meteorologi dan Geofisika, dan dari koran Harian singgalang dan Haluan.
2. Kritik sumber pengumpulan data, merupakan tahap dimana penulis melakukan penyaringan terhadap data-data ataupun sumber yang ditemukan dilapangan, guna untuk melakukan penyeleksian data yang lebih relevan dengan tulisan yang penulis buat. Hal tersebut dilakukan bilamana sumber yang ditemukan
5 Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah.
Terjemahan Nogroho Notosusanto (Jakarta:
Universitas Indonesia Press, 1985), Hal. 39.
dilapangan memiliki data yang akurat atau tidak, sehingga penulisan ini dapat dipertanggung jawabkan. Selain itu, penelitian krisis sumber juga menempuh dua cara yang berbeda yaitu kritik eksternal dan internal.
Kritik eksternal yaitu pengujian otensitas atau kesulitan data. Kritik internal bertujuan untuk menguji validasi isi informasi yang terdapat dalam data. Kritik sumber dilakukan dengan cara mengamati sumber tertulis serta berusaha memahami sumber yang telah ditemukan dan membandingkan antara satu sumber tertulis dengan sumber tertulis lainnya. Kedua tingkat pengolahan ini bertujuan untuk menyeleksi dan menyingkirkan bagian-bagian data otentik.
3. Interpretasi yang bertujuan untuk membuat hubungan kausalitas dan merangkaikan fakta sejarah yang sejenis dan kronologis untuk memperoleh alur cerita yang sistematis melalui penafsiran fakta yang telah diuji kebenarannya, agar dapat diceritakan kembali.
Fakta yang telah diperoleh melalui telaah terhadap sumber kemudian disusun, dan ditempatkan pada urutan-urutan logis yang disebut sintesis. Setelah itu dilakukan interpretasi, yaitu pemahaman terhadap fakta sehingga bisa menunjukan secara kronologis mengenai peristiwa masa lampau yang saling terkait. Pada tahap ini imajinasi sangat diperlukan untuk menggabungkan fakta yang telah disintesiskan dan kemudian diinterpretasikan dalam bentuk kata-kata atau kalimat agar mudah untuk dipahami.
4. Historiografi atau penulisan yang tujuannya adalah merekonstruksikan kembali keseluruhan peristiwa masa lampau berdasarkan fakta yang telah didapat dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar agar komunikatif dan mudah dipahami pembaca. Hasilnya ialah tulisan sejarah yang bersifat deskriptif analitis. Sedangkan bagian kesimpulan, adalah mengemukakan generelisasi dari yang telah diuraikan dalam bab-bab sebelumnya. Kesimpulan merupakan jawaban atas permasalahan yang dirumuskan sebagai pengantar.
HASIL PENELITIAN
Sekilas Tentang Daerah Pariaman
Pariaman merupakan satu dari kota yang ada di Provinsi Sumatera Barat. Kota Pariaman diresmikan sebagai kota Otonom dengan diberlakukan nya UU No 12 tahun 2002. Secara geografis Kota Pariaman terletak pada 0° 33’00’’- 0° 40’ 43’ Lintang Selatan dan 100° 10’55’’ Bujur Timur. Luas wilayah Kota Pariaman tercatat 73,36 km², dan bila dibanding kan dengan luas wilayah Provinsi Sumatera Barat yang mencapai 42.297,30 km², maka luas Kota Pariaman setara dengan 0,17
persen dari luas keseluruhan wilayah Provinsi Sumatera Barat. Jarak Kota Pariaman kira-kira 56 kilo meter dari Kota Padang yang merupakan Ibu Kota Provinsi Sumbar.6
Kota Pariaman merupakan hamparan dataran rendah yang terletak di Pantai Barat Provinsi Sumatera Barat. Kota ini memiliki ketinggian antara 2 sampai dengan 15 meter di atas permukaan laut dengan luas daratan 73,36 km², temasuk empat buah pulau-pulau kecil: Pulau ujung, pulau tengah, pulau angso dan pulau kasiak.
Panjang garis pantai lebih kurang 12,69 Km2.
Kondisi topografi Kota Pariaman dapat dikelompokkan pada jenis morfologi dataran dengan ketinggian antara 0-15 meter di atas permukaan laut dan memiliki sedikit daerah perbukitan. Karena terletak di tepi pantai, sebagian besar lahannya merupakan hamparan dataran rendah yang landai.7
Penduduk Pariaman
Pada tahun 2014 jumlah penduduk Pariaman telah berkisar sebanyak 83.160 jiwa. Pertumbuhan jumlah penduduk suatu wilayah akan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: kelahiran, kematian, migrasi atau perpindahan penduduk.
Apabila pertumbuhan penduduk tidak terkendali dan tidak diimbangi dengan persebaran penduduk yang merata, maka akan menimbulkan berbagai masalah sosial. Selanjutnya laju pertumbuhan penduduk di Kota Pariaman pada tahun 2012-2014 berkisar antara 1,28% per Tahun.
Pertumbuhan penduduk Pariaman cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2012 kepadatan penduduk di Pariaman terhitung sebesar 1.111 jiwa /km. Sedangkan pada tahun 2014 terhitung meningkat sekitar 1,140 jiwa/km, atau setiap 1 km ditempati sebanyak 1.140 jiwa penduduk.8
Peristiwa Gempa Bumi di Pariaman Tahun 2009
Peristiwa gempa yang terjadi pada tahun 2009 di Pariaman meninggalkan kisah pilu yang amat mendalam bagi masyarakat Indonesia terutama masyarakat Pariaman. Bagaimana tidak, gempa yang berkekuatan 7,6 SR tersebut meluluh lantakan sebagian bumi Minangkabau dan tak terhitung lagi kerugian materil dan nyawa yang hilang akibat gempa besar tersebut, hingga saat ini masyarakat tidak bisa melupakan kisah pilu yang melanda wilayah minang tersebut.
Akibat gempa yang terjadi tahun 2009, menimbulkan kerugian yang sangat besar, terutama
6BPS: Pariaman Dalam Angka 2014. Hal. 7
7 BPS: Pariaman Dalam Angka 2015. Hal 21
8BPS: Pariaman Dalam Angka 2015. Hal. 9
dibidang infrastruktur baik itu rumah warga, perkantoran maupun fasilitas umum lainnya.9
Berdasarkan data tersebut, kerugian paling banyak yaitu ditempati oleh kerugian perumahan warga. Sedangkan kerusakan terparah kedua yaitu ditempati oleh Infrastruktur Transfortasi darat dan laut, kemudian di susul oleh akses air bersih (PDAM).
Kondisi Masyarakat Pasca Gempa
Pasca gempa terjadi tahun 2009, kondisi masyarakat di Pariaman sangat memperhatinkan.
Sebab pasca gempa sebagian masyarakat mengalami trauma dan masalah kejiwaan. Ketidak seimbangan kejiwaan itu terlihat dalam terganggunya pemikiran, perasaan bahasa tubuh dan perilaku.
Peristiwa gempa besar yang terjadi di Pariaman memang menyisakan trauma yang mendalam. Biasanya gejala trauma akan terlihat pasca terjadinya bencana. Timbulnya rasa trauma ini karena sebagian masyarakat tidak tahu harus berbuat apa setelah terjadinya gempa, karena mereka telah kehilangan masa depan mereka seperti harta, keluarga serta sanak saudara yang mereka cintai. Sehingga dalam kondisi yang seperti ini sebagian masyarakat banyak yang stres, dan bukan tidak mungkin banyak masyarakat yang mengalami kejiwaan dalam jangka waktu yang cukup lama jika tidak ditangani secara cepat dan tepat. Selain masyarakat yang mengalami stres dan gangguan kejiwaan pasca terjadinya gempa, korban yang mengalami cedera dan meninggal dunia juga tidak kalah banyaknya di Pariaman pasca gempa terjadi.10
Selain dari beberapa masalah diatas yang di hadapi masyarakat pasca gempa, masih ada beberapa masalah lainnya yang dihadapi masyarakat diantaranya:
1. Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) Gempa bumi yang melanda wilayah Pariaman dan sekitarnya, tidak hanya kerusakan pada fasilitas infrastruktur dan korban jiwa. Gempa besar ini juga mengakibatkan kelangkaan BBM diberbagai daerah di Sumatera Barat terutama di Pariaman. Sekitar beberapa menit setelah gempa bumi berhenti masyarakat bergegas untuk menyelamatkan diri kedaerah yang dianggap lebih aman. Sebagian masyarakat menggunakan kendaraan bermotor dalam mencari area yang lebih aman dan jauh dari laut karena adanya isu terjadinya tsunami. Banyaknya masyarakat yang membutuhkan BBM, menyebabkan antrian panjang
9Wawancara, dengan lrsal, umur 40 tahun, Kasih Rekonstruksi dan Rehabilitasi BPBD Kota Pariaman, tanggal 14 Desember 2016.
10 Wawancara, dengan Marni, umur 47 tahun, warga Kota Pariaman, pada tanggal 14 Desember tahun 2016.
diberbagai tempat pengisian BBM/ Pertamina di daerah Pariaman.
Kondisi yang seperti ini memperburuk keadaan diwilayah Pariaman, karena masyarakat sangat membutuhkan BBM tersebut untuk kenderaan mereka yang di pergunakan untuk mengungsi. Sebagian masyarakat memilih membeli BBM eceran dengan harga yang cukup mahal jika dibandingkan dengan harga normal di SPBU, yaitu dengan harga 20.000 sampai dengan harga 30.000/
Liter. Namun sebagian masyarakat yang membutuhkan bahan bakar tersebut mau tidak mau terpaksa membeli dengan harga yang sangat mahal tersebut.11
2. Kelangkaan Sembako
Selain kelangkaan BBM, kelangkaan sembako juga terjadi di daerah Pariaman paca gempa. Kelangkaan sembako yang terjadi di Pasar membuat masyarakat kesulitan untuk mendapatkan bahan makan untuk kebutuhan konsumsi seharai- hari. Bahan pokok yang mengalami kelangkaan seperti beras, minyak goreng, cabe, gula pasir dan masih banyak kebutuhan lainnya. Kesulitan yang dialami masyarakat untuk mendapatkan bahan makanan, beruntung bisa diatasi oleh Pemerintah setelah beberapa hari pasca gempa terjadi. Bantuan yang datang tersebut berupa bahan makanan seperti beras, roti, indomie, gula dan masih banyak kebutuhan lainnya seperti obat-obatan dan pakain.
Bantuan yang disalurkan oleh pemerintah saat itu menggunakan berbagai jenis alat transportasi seperti Helikopter milik TNI, POLRI dan BASARNAS sehingga bantuan lebih cepat tersalurkan terhadap masyarakat di Pariaman terutama ditempat-tempat yang sedikit terpencil.12
3. Kelangkaan Air Bersih
Selain kesulitan mendapatkan BBM dan kesulitan sembako, untuk mendapatkan pasokan air bersih juga tidak kalah sulitnya di pariaman pasca terjadinya gempa. Akibat dari kelangkaan air bersih tersebut, sebagian besar masyarakat memilih untuk mengkonsumsi air sungai tampa memikirkan tentang terancamnya kesehatan mereka. Guna untuk menghadapi kelangkaan air bersih tersebut PDAM yang bekerja sama dengan bekerja sama dengan Dinas Pekerjaan Umum dengan mendatangkan air bersih dari luar Pariaman dan juga membuat instalasi pengelolaan air bersih sementara untuk mencukupi kebutuhan air bersih di Pariaman.
Selain krisis bahan bakar minyak, sambako dan air bersih, sebagian besar masayarakat Pariaman juga banyak yang terserang penyakit
11Wawancara dengan sapri, umur 39 tahun, warga Pariaman, pada tanggal 14 Desember 2016 di Gondariah.
12Wawancara, dengan Ema, umur 50 tahun, Ibu rumah tangga, warga Pariaman tanggal 15 Desember 2016 di Gondariah
terutama pada anak-anak. Bagaimana tidak anak- anak yang biasanya tidur ti tempat yang nyaman dirumah mereka, sekarang pasca gempa tahun 2009 terjadi mereka harus tinggal di pengungsian selama berbulan-bulan.Kondisi pengungsian yang seadanya menjadi faktor utama yang menyebabkan korban anak-anak terserang penyakit. Penyakit yang dialami oleh anak-anak pasca gempa diantaranya, diare, demam serta penyakit kulit seperti gatal-gatal.
Kondisi Daerah Pariaman Pasca Gempa
Gempa bumi yang terjadi pada tahun 2009 di Pariaman, banyak menimbulkan korban jiwa dan kerugian materil juga tidak. Korban jiwa yang meninggal di Pariaman pada saat gempa terjadi berjumlah sekitar 32, dan masih banyak yang belum ditemukan.13 Pariaman yang merupakan pusat dari gempa yang terjadi pada tahun 2009 tersebut, juga menimbulkan dampak terhadap proses berjalannya aktivitas pemerintahan sebab banyak pasilitas bangunan yang di gunakan oleh pemerintah untuk membahas mengenai pelayanan terhadap masyarakat juga tidak dapat digunakan lagi, sebab banyak bangunan yang hancur dan rata dengan tanah.14 Untuk memberikan layanan yang maksimal terhadap masyarakat di Pariaman, yang ditimbulkan akibat gempa yang telah banyak menelan korban jiwa dan menghancurkan bangunan masyarakat, wali kota Pariaman membentuk tim tanggap darurat bencana gempa bumi Pariaman.15
Tim ini bertujuan untuk membantu para korban baik itu korban yang tertimpa reruntuhan bangunan ataupun korban yang selamat. Selain itu, Tim Tanggap Darurat ini juga berperan sebagai penyalur bantuan sementara yang berupa, mie instan, beras, gula, pakaian dan lain-lain. Tim yang dibentuk oleh Pemerintah Pariaman ini merupakan tim yang terjun kelapangan sebelum bantuan dari pusat dan negara sahabat tiba di Pariaman.
Kuatnya gempa bumi yang terjadi di Pariaman dan sekitarnya dapat dilihat dari jumlah bangunan yang runtuh dan korban jiwa yang ditimbulkannya, salah satunya adalah arsip atau gambar diatas. Daerah Pariaman dampak yang ditimbulkan oleh gempa pada tahun 2009, yaitu banyaknya gedung dan bangunan rumah masyarakat yang runtuh. Sedangkan dari korban jiwa yang telah teridentifikasi yaitu berjumlah 32 orang dan mayoritas adalah lansia. Jika di bandingkan dengan Kota Padang yang mengalami korban jiwa hampir ribuan orang, hal ini tidak
13 Haluan, Pasien Gempa di Pariaman Mayoritas Lansia, tgl 7 Oktober 2009. Hal 7
14 Haluan, Pariaman Mulai Pulih, tgl 8 Oktober 2009. hal 7
15 Haluan, Tim Tanggap Darurat Bencana Gempa di Pariaman. 8 Oktober 2009. Hal 7
terlepas banyaknya bangunan yang tua dan bertingkat di kota Padang.16
REKONSTRUKSI DAN REHABILITASI PASCA GEMPA
Kebijakan Pemerintah Pasca Gempa di Pariaman
Pada tahap rekonstruksi dan rehabilitasi dititik beratkan pada proses pembangunan kembali dan penguatan bangunan, dengan mempertimbangkan upaya mitigasi dalam pelaksanaannya.17
Pasca gempa pada tahun 2009 yang melanda wilayah Pariaman, mengakibatkan banyaknya bangunan yang runtuh, rusak sedang dan rusak ringan di wilayah tersebut. Atas hal tersebut, pemerintah Pariaman berupaya untuk melakukan perbaikan di beberapa sektor yang di anggap penting. Perbaikan ini di mulai pada tanggal 31 Oktober tahun 2009 yang di fokuskan pada sektor-sektor fital yang ada di Pariaman, pertama: 1), Memperlancar Jalur transportasi untuk semua kawasan terkena gempa bumi.2), Aliran listrik (PLN) harus dipulihkan 100%. 3).
Ketersediaan BBM dan distribusi di perlancar. 4), Ketersediaan Air Bersih harus mencapai 85%. 5), Pembersihan puing-puing reruntuhan bangunan.6).
Aktifitas pendidikan harus berjalan seperti biasa, oleh karena itu pembangunan lokal-lokal/kelas darurat sudah dimulai pekerjaannya oleh pemerintah Pariaman.18
Pelaksanaan Kegiatan Rehab-Rekon berikutnya dimulai Maret 2010 (Pilot project tahap I) dengan penanganan rusak berat 6.685 rumah, rusak sedang 4.115, dan rusak ringan 2.605.
Sedangkan total angaran yang diperkirakan habis sekitar Rp 115.188.200.000 (termasuk pendampingan).
Pelaksanaan tahap II dimulai Juli 2010 dengan data rumah rusak berat 71.681, rumah rusak sedang 72.108 jumlah 143.789, dengan jumlah dana sebesar Rp 2.000.000.000.000 (termasuk pendampingan). Sedangkan untuk tahap selanjutnya masih tersisa sebanyak rumah rusak berat 27.015, rusak ringan 8.842, jumlah 35.857 dan masih membutuhkan dana sebanyak Rp 876.988.827.030 termasuk dana pendampingan.
Untuk tahap III DIPA dalam proses dengan jumlah dana Rp 300.000.000.000 (termasuk
16 Haluan, Pasien Gempa di Pariaman Mayoritas Lansia. 7 Oktober 2009. Hal 7
17 Muslim Kasim. Getar Episentrum Di Ranah Minang, (Jakarta: Indo Global, 2010). Hal.
179
18 Data BPBD Kota Pariaman Tahun 2009
pendampingan) sehingga masih membutuhkan lagi Rp 576.998.827.030 termasuk pendampingan).19
Terakhir, kelanjutan aktivitas rekonstruksi dan rehabilitasi di Pariaman berlanjut pada tahun 2009. Namun proses ini tidak berjalan begitu mulus, sebab terlambatnya proses rekonstruksi dan rehabilitasi pada tahun 2011 ini terkendala oleh Penebitan Peraturan Mentri Keuangan APBN-P 2009. Sehingga dana yang akan di terima oleh Pemerintah Pariaman sebesar 478 miliar yang dipergunakan untuk rekonstruksi dan rehabilitasi pada tahun 2009 sedikit terkendala.
Namun setelah pencairan dana yang di sahkan oleh Menteri Keuangan pada tahun 2011 Pemerintah Pariaman mulai mealokasikan dana tersebut untuk perbaikan rumah-rumah masyarakat yang masih mengalami kerusakan. Selain rumah warga fasilitas pemerintah dan sekolah-sekolah di Pariaman juga di perbaiki atau di rekonstruksi dan di rehabilitasi.
Berdasarkan Undang-Undang No. 24 Tahun 2007, tentang penanggulangan bencana maka kegiatan rekonstruksi dan rehabilitas Kota Pariaman mengutamakan prisip-prinsip dasar sebagai berikut: (1), Menggunakan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi sebagai sarana membangun komunitas, membuka lapangan pekerjaan dan menstimulasi ekonomi masyarakat dalam rangka mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan jangka menegah dan jangka panjang dengan pendekatan kesiap siagaan, mitigasi dan pengurangan resiko bencana. (2), Dilaksanakan dengan pendekatan pengendalian korupsi dan tata pemerintahan yang baik melalui koordinasi yang efektif antar pelaksanaan kegiatanserta mendapatkan aspirasi masyarakat korban bencana gempa bumi. (3), Dilaksanakan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan sehingga kegiatan pembangunan perlu mempertimbangkan dampak jangka panjang. (4), Dilaksanakan dalam upaya pengelolaan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak bencana tampa mengurangi kemampuan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhannya. (5), Dilaksanakan dengan memperhatikan aspek kehidupan sosial ekonomi masayarakat korban bencana dengan pendekatan kesetaraan gender dengan memperhatikan rentan, seperti: Penyandang cacat, miskin, keluarga orang tua tunggal perempuan, usia lanjut dan anak yatim piatu. (6), Dilaksanakan dengan memanfaatkan sumber daya alam lokal dengan mengedepankan prinsip alokasi ruang yang efisien, mengurangi pencemaran melaksanakan pola efisiensi dalam pengguaan kembali dan daur ulang sumber daya yang tersedia serta memanfaatkan energi yang terbaru sebagai alternatif sumber energi. (7), Khusus untuk
19 Arsip Dinas PU Kota Pariaman.
Penanganan Bencana Pasca Gempa Sumatera Barat 30 September 2009.
kegiatan pemulihan komponen perumahan dan kehidupan masyarakat, keduanya akan dilaksanakan dengan pendekatan partisipasi masyarakat sesuai dengan karakteristik budaya lokal. (8), Dilaksanakan dengan memperhatikan standar teknis perbaikan lingkungan pemukiman didaerah yang rawan bencana termasuk gempa bumi sesuai dengan peraturan yang berlaku. (9), Dilaksanakan dengan mengedepankan keterbukaan dengan semua pihak melalui penyediaan informasi yang akurat dan pelayanan teknis yang akurat serta pelayanan teknis yang tepat. (10), Dilaksanakan dengan mekanisme penyaluran dana yang berpedoman kepada peraturan Perundang- Undangan yang berlaku. (11), Dilaksanakan oleh pemerintahan daerah sesuai kewenangannya, melalui koordinasi yang efektif dan kerja sama antar pihak lintas sektoral,sesuai dengan mekanisme pemantauan dan pengendalian yang diatur oleh Perundang-Undangan yang berlaku.
(12), Dengan pertimbangan skala dan dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh kegiatan pemulihan yang dilaksanakan pada 2 tahun anggaran,yang dimulai dengan kegiatan persiapan pada triwulan IV tahun anggaran 2009, selama tahun anggaran 2010 dan berakhir pada tahun anggaran 2015.20
Penentuan jangka waktu rekonstruksi dan rehabilitasi dilakukan dengan mempertimbangkan besarnya kerusakan dan kerugian yang diakibatkan oleh bencana gempa.
Pendanaan rehabilitasi dan rekonstruksi bersumber dari dana APBN dan APBD serta dana yang dikumpulkan oleh masyarakat dan bantuan lembaga internasional. Pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi dilaksanakan sesuai dengan peraturan Perundang-Undangan yang berlaku, dengan menerapkan aspek manajemen akuntabilitas dan transparan.
Tindakan Tanggap Darurat Bencana Gempa Pada masa ini pembangunan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pemerintah, masyarakat dan komunitas lainnya. Pasca bencana gempa sampai dengan dimulainnya kembali aktifitas masyarakat dengan bantuan badan Nasional Penanggulangan bencana (BNPB), BABPENAS, Depertemen Pekerjaan Umum, Kementrian Negara Perumahan Rakyat, Work Bank, UNDP, serta pihak Perguruan Tinggi.
Kebijakan pemerintah dalam memprioritaskan penanganan pada saat tanggap darurat diarahkan pada: (1) Penyelamatan dan penempatan masyarakat ketempat aman (SAR dan evakuasi), dengan priorias aksi : Evakuasi korban bencana, pemasangan tanda/bangunan darurat, untuk temporary settlement dan sekolah / kantor,
20Haluan, Pariaman. Korban Gempa Harus Bangakit, 30 September 2009. Hal. 7
perbaikan bangunan sekolah, penyediaan tanda darurat untuk keperluan perawatan, mobilisasi bantuan, terutama yang berhubungan dengan kesehatan. (2) Pemenuhan kebutuhan dasar, dengan prioritas aksi : Perbaikan jaringan listrik, perbaikan jaringan bersih. (3) Perlindungan kelompok rentan, dengan prioritas aksi: pengumpulan data, pendistribusian bantuan lauk pauk, mobilitas bantuan masyarakat. (4) Pemulihan fasilitas kritis, dengan prioritas aksi: Inventarisasi kerusakan sarana/prasarana, penyiapan sarana perdagangan.
Akibat dari gempa 2009 banyak mengalami kerusakan, berdasarkan banyaknya fasilitas yang rusak, pemerintah Kota Pariaman melakukan upaya penanganan berupa tanggap darurat (emergency responce) sehari setelah gempa terjadi pada tanggal 01-31 Oktober 2009.21 Salah satu tanggap darurat adalah menyiapkan tenda-tenda pengungsi anpsikologi korban dan mengevakuasi korban bencana yang meninggal dunia maupun yang mengalami luka-luka.
Tindakan tanggap darurat lainya melakukan penilaian terhadap semua fasilitas yang rusak.
Berdasarkan periode rehabilisasi dan rekonstruksi (recovery process) tanggal 1 Oktober 2011, pelaksananya ada tiga tahap yaitu: Pertama, pemulihan dini (early recovery) tanggal 1 november 2009-30 April 2010. Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan adalah cara pemulihan seperti ini salah satu program rekonstruksi non fisik. Kedua, rehabilisasi dan rekonstruksi (rehabilitation and reconstruction), Tanggal 1 November 2009-31 Oktober 2011. Kegiatan ini meliputi sarana dan prasarana yang rusak seperti bangunan perkantoran, sekolah, jalan, alat transportasi, dan rumah masyarakat korban gempa.
Ketiga, penyaluran bantuan dana relokasi rumah korban gempa yang mengalami kerusakan.
Berdasarkan penanganan tanggap darurat yang dilakukan oleh pemerintah. Pembangunan kembali dan penguatan infranstruktur Kota Pariaman hingga pulihnya aktifitas pemerintahan upaya”mitigasi gempa”. Selanjutnya yang dilakukan oleh pemerintah adalah melakukan rekonstruksi dan rehabilitasi pasca bencana, berupa perbaikan sarana dan prasarana seperti, dibangun kembali sarana pendidikan disertai dengan penguatan bangunan sekolah telah rubuh. Sarana kesehatan, membangun kembali rumah sakit serta fasilitas medis yang dimiliki swasta dengan menerapkan sistem mitigasi, pemberian bantuan pembangunan dan perbaikan rumah masyarakat yang menjadi korban gempa.
21 Wawancara dengan Asnil, Umur 47 tahun, kabit pencegahan dan kesiapsiagaan, tanggal 29 Desember 2016
Proses Rekonstruksi
Gempa bumi berkekuatan 7,9 Rikter yang terjadi pada tanggal 30 September 2009 di Sumatera Barat, yang menimbulkan banyak kehilangan nyawa, kerusakannya yang parah terhadap sarana dan prasarana pemerintahan, perumahan, pemukiman masyarakat, dan terganggunya kenormalan aktifitas kehidupan.
Untuk itu diperlukan upaya pemulihan melalui kegiatan rehabilisasi dan rekonstruksi yang dapat segera dilakukan secara sistematis.
Upaya mempercepat pembangunan kembali sarana dan prasarana yang hancur akibat gempa bumi, Pemerintah Kota Pariaman telah membentuk Badan Pelaksanaan Rekonstruksi (DPRR), melalui keputusan Walikota Pariaman No.979, tanggal 10 November 2009. Badan pendukung rekonstruksi Kota Pariaman pasca gempa 4 November 2009, bertujuan mendukung tugas BPBD Dalam menanggulangi akibat gempa tersebut dimana seluruh output yang di hasilkan oleh BPRR disampaikan kepada BPBD, BAPEDA dan intansi terkait lainnya sebagai bahan dalam mempercepat proses rekonstruksi kota Pariaman pasca gempa 2009.
Kebutuhan rekonstruksi di perkirakan berdasarkan penilaian kerusakan dan kerugian (damagesand losses analysis) disingkat dengan DALA yang di laksanakan oleh badan nasional penanggulangan bencana (BNBP), Bappenas dan Bank Dunia untuk memperoleh gambaran kebutuhan pemulihan pasca bencana (Post Disaster Needs Assesment). Keterkaitan antara Damages and Losses Analysis dengan Human Recovery Needs Assesment memberikan umpan balik bagi kebutuhan pemulihan dengan menempatkan masyarakat korban bencana dengan lingkungan budidaya dan non budidaya sebagai sasaran pemulihan pasca bencana.
Ruang lingkup kebijakan umum rekonstruksi: (1) pemberian bantuan dari pemerintah untuk komponen pangan, air bersih, hunian dan mata pencarian. (2) penyelenggaraan pelayanan pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. (3) penghancuran sisa bangunan yang tidak layak huni dan pembersihan puing-puing untuk dibangun sesuai yang direncanakan. (4) pembangunan ulang atau perbaikan fisik berbagai insfraktur publik dengan memenuhi kaidah keselamatan bangunan publik untuk memulihkan fungsi pelayanan kepada masyarakat. (5) Dukungan kebijakan bagi percepatan pemulihan dan upaya lainnya yang dapat mendorong pemulihan ekonomi masyarakat dan daerah.22
Pemerintah Pariaman dalam bersosialisasi tentang proses rekonstruksi yang akan dilakukan pasca gempa bumi di Pariaman. Tahapan yang
22Haluan, Kota Pariaman Mulai Pulih, 06 Oktober 2010. Hal. 7
dilakukan oleh pemerintah adalah melakukan proses rekonstruksi atau membangun kembali sarana dan prasarana yang rusak akibat bencana gempa bumi di Pariaman.23
a. Pemulihan Dini ( Early Recovery)
Dalam tahap ini target pemerintah Pariaman adalah menormalisasi kehidupan masyarakat Kota Pariaman diantaranya: 1. Merelokasi perkantoran yang rusak, sarana pendidikan, sarana kesehatan, infrastruktur kota dengan prioritas aksi membangun sistim pendukung sementara untuk menanggulangi keterbatasan infrastruktur (aksesibilitas, energi dan tranportasi sanitasi).
b. Tahap Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Pada tahap ini pemerintah Pariaman menitik beratkan pada proses pembangunan kembali dan penguatan bangunan/ infrastruktur yang ada di Kota Pariaman supaya aktivitas pemerintah dan masyarakat kembali berjalan dengan baik. Pada tahap pertama, Pemerintah Pariaman lebih memfokuskan pada pemberian bantuan pembangunan dan perbaikan rumah masyarakat yang menjadi korban bencana. Tahap kedua, yaitu pemerintah merehabilitasi dan merekonstruksi sarana pendidikan. Yaitu pembangunan kembali sarana pendidikan, disertai dengan penguatan bangunan sekolah yang telah rubuh, relokasi bagi sekolah yang membutuhkan. Tahap ketiga yaitu, merekonstrusi dan merehabilitasi sarana dan parasarana kesehatan. Dalam hal ini pemerintah membangun kembali rumah sakit/ puskesmas yang rubuh serta penguatan bangunan. Kemudian mengawasi dan memberikan konsultasi teknis yang ketat terhadap pembangunan rumah sakit serta fasilitas medis lainnya yang dimiliki oleh swasta dengan menerapkan sistim mitigasi. Ke empat, memperbaiki infrastruktur kota, yaitu membangun kembali dan penguatan prasarana transfortasi dengan menerapkan aspek mitigasi bencana, serta membangun kembali dan penguatan infrastruktur kota. Ke lima, yaitu dengan membangun kembali sarana sosial dan ekonomi masyarakat yang menjamin normalisasi kehidupan sosial masyarakat. Ke enam, menyusun kembali perubahan perencanaan dokumen tata ruang, dengan priritas penyediaan dokumen perencanaan tata ruang kota pasca gempa.24
Perhatian Nasional dan Internasional terhadap Wilayah Sumatara Barat terjadi setelah pasca gempa bumi yang melanda wilayah Sumataera barat pada tahun 2009, yang sangat banyak menimbulkan kerusakan dan menimbulkan korban jiwa. Perhatian terhadap wilayah Sumatera Barat terutama datang dari wilayah Provinsi
23 Muslim Kasim. Getar Episentrum Di Ranah Minang, (Jakarta: Indo Global, 2010). Hal.
179
24Haluan, Kota Pariaman Mulai Pulih, 06 Oktober 2010. Hal. 7
tetangga, Pemerintah Pusat, Asosiasi profesi, Unsur Pribadi, IOM, Kelompok komunitas, Pemerintah negara sahabat, UNICEF, WHO, UNDP, serta lembaga dunia lainnya. Simpati tersebut ditunjukkan dalam bentuk pemberian bantuan logistik dan uang, dengan tujuan meringankan beban yang sedang di derita oleh masyarakat Sumatera Barat serta memulihkan kondisi mental masyarakat dan perekonomian dalam jangka pendek.
Berdasarkan data yang ada, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sampai dengan akhir tahun 2009, total jumlah bantuan yang disalurkan ke Pemerintah Kota Pariaman berjumlah Rp. 7,5 Miliar. Bantuan tersebut berguna untuk merekonstrusi dan merehabilitasi daerah Pariaman pasca gempa bumi tahun 2009. Jumlah Rp. 7,5 Miliar tersebut merupakan total dari keseluruhan bantuan yang di terima oleh pemerintah Sumatera Barat yang berjumlah Rp. 37.345.082.500,- (Tiga Puluh Tujuh Miliar Tiga Ratus Empat Puluh Lima Juta Delapan Puluh Dua Ribu Lima Ratus Rupiah).25Yang terdiri dari:
1. Bantuan Pemerintah Pusat: Rp.
22.972.500.000,_
2. Pemerintah Provinsi Sumbar Rp.
100.000.000_
3. Pemerintah lannya Rp.
6.680.108.344,_
4. Lembaga Masyarakat Rp.
7.592.474.166,_
Selain membangun infrastruktur kota dan fasilitas umum yang ada di Pariaman, Pemerintah daerah Pariaman juga merekon rumah warga yang hancur akibat gempa yang terjadi pada tahun 2009 lalu
Penyaluran Bantuan
Besarnya nilai kerusakan yang terjadi pada sektor di Kota Pariaman, di perkirakan sebesar Rp.
3.694.785.171.670.000 (Tiga triliun enam ratus sembilan puluh empat miliar seratus tujuh puluh satu juta enam ratus tujuh puluh ribu).26
Pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstrusi rumah masyarakat akibat bencana gempa bumi yang terjadi di Provinsi Sumatera Barat pada tanggal 30 September 2009 bantuannya di laksanakan dengan 4 tahap, yang pembiayaannya di alokasikan dalam bentuk dana bantuan sosial berpola hibah DIPA/Revisi DIPA Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Kegiatan rekonstruksi dan rehabilitasi sektor perumahan pasca bencana gempa bumi pada tanggal 30 September 2009, di Provinsi Sumatera Barat beroreantasi pada perencanaan yang
25 Arsip BPBD Kota Pariaman, Anggaran bantuan bencana gempa Pariaman, Tahun 2009
26 Wawancara dengan Adit, Umur 35 Tahun, Staf Dinas PU, Tanggal 27 Desember 2016
konfrehensip dimulai dari proses penetapan kebijakan, strategi pencapaian tujuan, penyiapan program kegiatan, penyiapan pendamping dan pengorganisasian masyarakat melalui pembentukan kelompok swadaya masyarakat (POKMAS) perumahan yang akan dibantu dengan skema dana bantuan langsung masyarakat (BLM) perumahan dengan sasaran untuk memperbaiki rumah dengan kategori rusak berat, sedang dan rusak ringan.
Kegiatan rekonstruksi dan Rehabilitasi sektor perumahan pasca gempa bumi diberikan dalam bentuk pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat dengan ketentuan sebagai berikut: (1), Pemberian bantuan ini merupakan stimulasi untuk perbaikan rumah masyarakat yang rusak akibat bencana gempa bumi, bukan penggantian biaya kerusakan akibat gempa. (2), Permerintah memberikan dana BLM Perumahan melalui alokasi dana bantuan sosial berpola hibah dalam DIPA/Revisi DIPA BNPB, dengan ketentuan rusak berat mendapat bantuan sebesar Rp. 15.000.000, dan rusak sedang mendapatkan bantuan Rp.
10.000.000. (3), Kepada masyarakat yang sedang membangun, maka sebagai pengganti aktivitas mencarai nafkah diberikan kompensasi berupa uang lauk pauk sebesar Rp. 3.000.000,- jiwa untuk satu kaka maksimal mendapat 3 juta selama 2 bulan.27
Berdasarkan ketentuan dalam peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan PER- 63/Pb/2011, dana bantuan langsung BLM merupakan pembayaran dana rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana gempa bumi diberikan/
dibayarkan kepada masyarakat/ atau kelompok masyarakat penerima bantuan. BLM disalurkan dengan mekanisme: (1), Dana BLM dapat diterima melalui rekening POKMAS. Dalam keadaan dimana masyarakat penerima telah Rehabilitasi/
Rekonstruksi rumah dengan dana sendiri, yang nilai kegiatannya telah mencapai atau lebih besar dari pada nilai bantuan BLM maka PPK menetapkan pemberian bantuan pencairan dana secara bertahap dengan ketentuan sebagai berikut:
(a), Pencairan dana tahap pertama di cairkan sebesar 50% dari jumlah BLM dengan menunjukkan rencana kerja perbaikan rumah dan RAB nya serta di lengkapi dengan dokumen pendukung yang dipersaratkan. (b), Tahap kedua dicairkan, apabila 30% dana BLM Perumahan pencairan 1 telah di manfaatkan berdasarkan berita acara penarikan/ penggunaan dana BLM Perumahan (BAPPD).28
27Arsip Sumber Data BPBD Kota Pariaman Tahun 2009
28Arsip Data BPBD Kota Pariaman Tahun 2009
Proses Rehabilitasi
Sebagai akibat dari bencana gempa tentu saja banyak masyarakat yang mengalami trauma, stres, panik dan bahkan ada yang sampai pada kondisi kejiwaan yang terganggu. Oleh karenanya perlu adanya pemulihan mental masyarakat sebagai upaya untuk mengurangi stres, panik dan trauma yang di alami oleh masyarakat. Proses ini dinamakan juga dengan Traumatik Healing yang bertujuan untuk mengembalikan kondisi masyarakat khususnya pada individu yang mengalami trauma akibat bencana.
Serangan panik, trauma dan stres sering kali muncul berulang-ulang dan tidak terduga, yang melibatkan reaksi kecemasan yang intens disertai dengan simton fisik, seperti jantung berdebar, nafas sesak, rasa lemas dan lain-lain. Orang-orang yang mengalami stres dan trauma ada kecenderungan untuk mendekat atau bergantung dengan orang lain untuk mendapatkan pertolongn. Orang yang mengalami trauma akan mengalami perubahan tingkah laku yang siknifikan, misalnya menjadi orang yang pendiam, suka merenung dan menagis serta menyendiri.
Masyarakat yang mengalami stres, panik dan trauma pada saat terjadinya gempa akan menjalani terapi mental yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Pariaman, PMI, PKBI, dan WALHI. Pemerintah Pariaman memberikan simulasi penaggulangan bencana kepada masyarakat yang dikoordinir oleh BPDB Kota Pariaman dengan tujuan agara masyarakat lebih siap apabila bencana serupa kembali terjadi di Kota Pariaman.29
Kegiatan Trauma Healing atau Terapi Mental yang dijalankan PKBI dengan cara melakukan dukungan kejiwaan sejak awal, dan memiliki beberapa prinsip yaitu: (1), Memenuhi kebutuhan dasar dan pokok korban, dengan cara menyediakan makanan dan minuman, memberikan perawatan medis serta menyediakan pakaian dan tempat istirahat. (2), Memberikan rasa nyaman dan tenang terhadap korban dengan cara memberikan perasaan nyaman lewat sentuhan atau senyuman dan intonasi suara yang baik kepada korban yang tertimpa bencana dan beduka karena kehilangan anggota keluarga dan harta benda lainnya.
Memberikan bimbingan informasi kepada mengenai apa yang terjadi, serta mnyampaikan informasi agar korban tidak bingung dan mengajarkan cara untuk mengasi masalah kepda orang yang menjalani terapi mental. Mendorong korban untuk ikut secara aktif dalam proses pemulihan supaya korban melakukan kegiatannya sehari-hari.
Program terapi mental yang diselenggarakan oleh WALHI tidak jauh berbeda dengan program
29 Singgalang, Pulihkan Trauma Korban Gempa, 30 September 2009. Hal 7
yang diselenggarakan oleh PKBI, diantaranya adalah: (1), Kelompok anak-anak yang ada di Posyandu, SD, SMP, SLB, Pada penanganan terapi mental relawan harus memberikan arahan terhadap anak-anak yang sedang mengalami trauma pasca gempa 2009. Metode yang dilakukan dalah bermain ular tannga bencana, bermain sambil belajar, bernyanyi dan masih banyak kegiatan lainnya.
Inti dari kegiatan yang di selenggarakan WALHI adalah untuk membuat anak-anak yang mengalami trauma agar mereka nyaman kemudian baru dimulai untuk memancing mereka untuk dapat bercerita tentang kejadian yang telah dialami pada saat gempa terjadi, supaya anak-anak bisa melupakan kejadian yang telah menimpa mereka.
Sedangkan kegiatan yang diselenggarakan oleh PMI diantaranya adalah bagaimana mengembalikan trauma masyarakat pasca gempa pada pisikologi sosial. PMI meminta kepada warga setempat untuk mengarahkan masyarakat yang mengalami trauma melakukan program terapi mental tehadap warga masyarakat yang Lansia, anak-anak yang mengalami trauma akibat bencana gempa. Program dari PMI memiliki sedikit perbedaan dengan program WALHI dan PKBI.
PMI lebih Fokus terhadap pembangunan sarana dan prasarana dalam melakukan terapi mental.30 KESIMPULAN
Gempa yang terjadi pada tanggal 30 Oktober 2009, sangat mengejutkan masyarakat Pariaman, sebab gempa yang berkekuatan 7,6 SK tersebut mengakibatkan banyak bangunan yang rubuh dan rusak. Tercatat kerusakan fasilitas umum yang di akibatkan gempa di Pariaman pada tahun 2009 sebanyak 6.685 unit, rusak sedang 4.115 unit dan rusak ringan 2.605 unit, total kerusakan seluruhnya yaitu sebanyak 13. 405 unit
Pasca gempa TAHUN 2009, Pemerintah Kota Pariaman mengeluarkan beberapa kebijakan.
Adapun kebijakan yang diprioritaskan adalah proses rekonstruksi dan rehabilitasi terhadap bangunan dan psikologis masyarakat, yaitu dengan bekerja sama dengan WALHI, PKBI serta PMI.
DAFTAR PUSTAKA Arsip
Badan Pusat Statistik: Kota Pariaman Dalam Angka Tahun 2012
Badan Pusat Statistik: Kota Pariaman Dalam Angka 2015
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pariaman. Dokumentasi Bencana Gempa Bumi Tahun 2009 Di Kota Pariaman
30 Haluan, Tim Tanggap Darurat Bencana Gempa Telah Dibuat. 30 September 2009
Dinas Pekerjaan Umum Kota Pariaman. Data Rekontruksi Bangunan Di Wilayah Kota Pariaman
Koran Haluan. Bencana Gempa Bumi Sumatera Barat Dan Kota Pariaman. Terbitan Tahun 2009
Harian Umum Singgalang. Gempa Bumi Di Kota Pariaman. Terbitan Tahun 2009
Buku
A.Winardi (2006). Gempa Jogja Indonesia dan Dunia. Jakarta: PT Mediarona Dirgantara Mestika Zed (1999). Metodologi Sejarah, Padang:
UNP Press
Louis Gottschalk (1985). Mengerti Sejarah.
Terjemahan Nogroho Notosusanto Jakarta:
Universitas Indonesia-Press
O. Langeb dkk (1991). Geologi Umum, Jakarta:
Gaya Media Pratama
Lambang Trijono (2007). Pembangunan sebagai perdamaian. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Mairita Ramdhani dkk (2008). Antispasi dan Adaptasi Bencana Gempa Bumi. Bandung:
Ganeca Exact
Hamamy Saaman dkk, (1990). Gempa Bumi.
Jakarta: P.T. Duta Bina Pustaka
Winardi. A (2006). Gempa Jogja Indonesia dan Dunia. Jakarta: PT. Mediarona Dirgantara Sukandarumidi (2006). Bencana Alam Bencana
Anturopogene. Yogyakarta: KANISIUS IKAPI