1 1.1. Latar Belakang
Dalam era globalisasi seperti saat ini, perusahaan dituntut agar untuk bisa menciptakan produk inovatif dan berinovasi yang mampu bersaing dengan produk yang lain apabila ingin tetap bertahan dalam arus persaingan bisnis. Banyaknya pesaing baru yang bermunculan dengan strategi pemasaran yang baru pula akan membuat persaingan semakin ketat dan memanas. Suatu perusahaan dapat menjadi pemenang dalam persaingan bisnisnya apabila perusahaan mampu menjaring pelanggan sebanyak-banyaknya (dwiwahjono sigit ahmad, 2017). Salah satunya dalam persaingan bisnis sepatu. Perkembangan industri sepatu di Indonesia semakin pesat. Indonesia kini masuk sebagai produsen terbesar kelima dunia untuk produk sepatu. Tahun 2016 saja, tingkat pertumbuhan industri ini mencapai 8,15% sesuai konfirmasi dari Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil dan Aneka, Kementerian Perindustrian (dwiwahjono sigit ahmad, 2017).
Indonesia kini dikenal sebagai produsen alas kaki dan sepatu berkelas dunia. Berada di urutan kelima dengan urutan China, India, Vietnam, Brasil, baru Indonesia. Perkembangan industri sepatu di Indonesia bahkan melebihi pertumbuhan industri non migas yang berjumlah 4,42% pada tahun 2016.
Kementrian Perindustrian menyatakan bahwa: “sebanyak 82 persen dari industri alas kaki nasional skala kecil dan mikro berada di Provinsi Jawa Barat, seperti di Bogor, Bandung, dan Tasikmalaya, serta Jawa Timur yang meliputi Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, dan Magetan”(Nababan, 2017).
Sepatu merupakan salah satu produk fashion yang menunjang penampilan baik untuk kaum wanita maupun pria, saat ini sepatu adalah produk dengan jumlah permintaan yang cukup tinggi di dalam negeri. Tidak hanya di dalam negeri, produk ini juga banyak diekspor ke negara lain. Maka dari itu sepatu merupakan salah satu produk yang menyumbang devisa terbesar bagi Indonesia.
Menurut Kepala Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) Kementerian Perindustrian menyatakan bahwa “masih banyak kendala yang dihadapi oleh industri sepatu di dalam negeri, salah satunya adalah masalah merek (Nurhayat, 2016).
Merek (brand) adalah sesuatu yang dapat memberi nilai tambah bagi perusahaan, merek sebagai aset non harga menjadi komponen yang sangat penting sebab dengan merek konsumen dapat mengidentifikasikan dan membedakan produk yang dihasilkan perusahaan dengan produk kompetitor. (Suprapti, 2010)
Sebetulnya secara teknis industri sepatu di Indonesia memiliki beberapa keunggulan baik dalam kualitasnya. Namun dalam membangun merek sangatlah tidak mudah. Apabila dibandingkan dengan negara lain, industri sepatu di Indonesia belum banyak memahami arti pentingnya sebuah merek. Produk yang menggunakan merek ditambah kualitas yang baik akan dapat menarik minat beli konsumen dan memiliki kelebihan tersendiri dalam menghadapi persaingan industri sepatu. Sementara itu, industri sepatu luar negeri mereka lebih mengemas merek terlebih dahulu sedangkan industri sepatu di Indonesia dari awalnya hanya memikirkan produksinya saja yang dikuatkan tanpa memikirkan mereknya terlebih dahulu (Nurhayat, 2016).
Tabel I.1
Merek Sepatu Kulit Lokal Yang Sudah Terkenal
Sumber : Kementrian Perindustrian dan Perdagangan
Sikap positif terhadap merek akan mempengaruhi seseorang untuk melakukan pembelian, sedangkan sikap yang negatif terhadap suatu merek dapat menghambat konsumen dalam melakukan pembelian (Sutisna, 2008). Sikap positif terhadap merek dibangun pemasar melalui berbagai bauran promosi, salah satunya dengan menggunakan iklan (Sawant, 2012). Kurniawati (2009) menyatakan bahwa sikap terhadap merek dapat terbentuk ketika konsumen telah mengetahui suatu merek atau telah menerima pesan iklan yang disampaikan oleh pemasar (Maulana, 2018).
Untuk mengenal suatu produk selain dengan merek, dan untuk memberikan atau bahkan meningkatkan fungsi merek maka diperlukan menanamkan brand awareness atau keberadaan merek dalam ingatan konsumen, dengan tujuan membedakan produk satu dengan produk yang lain atau produk- produk pesaing. Dengan adanya keberadaan merek dalam ingatan konsumen, maka yang diharapkan konsumen lebih mengerti akan merek, tetapi dengan berjalannya waktu konsumen juga akan ingin lebih mengerti mengenai hal mengenai merek, karena merek hanya suatu identitas, yang lebih penting adalah
NO MEREK
1 Brodo Footwear
2 Blackmaster
3 Country Boots
4 Dr Faris
5 Moofeat
6 Rionarn
mengenai nilai produk dan kualitas yang ada produk tersebut untuk pemenuhan kebutuhan konsumen yang diharapkan.(Suprapti, 2010). Minat beli sepatu D- Island khususnya di Kota Bandung masih rendah, karena konsumen masih belum mengetahui dengan merek sepatu D-Island. Hal ini mempengaruhi penjualan sepatu D-Island yang mengalami fluktuatif. Berdasarkan hal tersebut dapat dilihat dari Gambar I.1 penjualan dibawah ini :
Gambar I.1
Data Penjualan Sepatu D-Island Januari – Mei 2018
Sumber: CV. Putra Permata Kreatif
Pada Gambar I.1 dapat dilihat mengalami penurunan yang cukup signifikan dari bulan Ferburai s.d bulan Mei yang disebabkan banykanya faktor seperti persaingan industri sepatu dengan berbagai jenis merek yang sudah dikenal di kalangan masyarakat.
Kesadaran konsumen akan merek merupakan hal penting yang harus diketahui oleh produsen. Kesadaran merek yang kuat dapat membuat konsumen sulit untuk berpindah mengingat merek lain. Perusahaan dapat menggunakan merek untuk melakukan perluasan produk, sehingga merek tersebut akan semakin
di ingat oleh konsumen. (Inayati & Wahyuni, 2017). Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Brand Awareness Sebagai Dampak Dari Minat Beli Konsumen Sepatu D-Island Bandung”.
1.2. Identifikasi dan Rumusan Masalah 1.2.1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Kurangnya kesadaran merek terhadap produk sepatu D-Island karena banyaknya pesaing industri sepatu.
2. Dengan adanya kesadaran merek terhadap kosumen dapat mempengaruhi minat beli produk sepatu D-Island.
1.2.2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis mencoba mengidentifikasi rumusan masalah sebagai bahan untuk penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana brand awareness konsumen sepatu D-Island di CV. Putra Permata Kreatif?
2. Bagaimana minat beli konsumen sepatu D-Island di CV. Putra Permata Kreatif?
3. Seberapa besar brand awareness sebagai dampak dari minat beli konsumen sepatu D-Island di CV. Putra Permata Kreatif di Kota Bandung?
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1 Maksud Penelitian
Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data-data dan informasi secara empiris mengenai Brand Awareness (Kesadaran Merek) dan untuk mengetahui sejauh mana perannya terhadap minat beli konsumen sepatu D- Island.
1.3.2. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui dampak brand awareness konsumen sepatu D-Island di CV. Putra Permata Kreatif.
2. Untuk mengetahui minat beli konsumen sepatu D-Island di CV. Putra Permata Kreatif.
3. Untuk mengetahui seberapa besar brand awareness sebagai dampak dari minat beli konsumen D-Island di CV. Putra Permata Kreatif Bandung.
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat sebagai sarana dalam menambah wawasan keilmuan dan sebagai masukan atau referensi bagi pihak yang melakukan penelitian serupa.
1.4.2. Manfaat Praktis a. Bagi Penulis
Sebagai sarana aplikasi ilmu yang diperoleh selama masa perkuliahan dan dapat membandingkan ilmu yang ada dalam perkuliahan atau teori dengan hal yang terjadi dalam dunia nyata. Serta memberikan pengalaman nyata dalam
rangka mengimplementasikan pengetahuan penulis di bidang pemasaran khususnya penelitian mengenai brand awareness (kesadaran merek) terhadap minal beli produk.
b. Bagi Perusahaan
Sebagai bahan acuan, masukan dan pertimbangan bagi perusahaan dalam pengambilan keputusan, dan menjadi bahan evaluasi, khususnya mengenai penting brand awareness (kesadaran merek) untuk meningkatkan minat beli konsumen yang dapat bermanfaat dalam peningkatan penjualan perusahaan.
c. Bagi Pembaca
Diharapkan penelitian ini bermanfaat dan bisa dijadikan penambah pengetahuan dan wawasan serta untuk bahan referensi dalam penelitian atau hal lainnya yang berhubungan dengan pemasaran, khususnya untuk Mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat mendorong pengembangan konsep teori Brand Awareness (Kesadaran Merek) dan Minat Beli.