• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN MINAT TAHFÎZH AL-QUR’AN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PERKEMBANGAN MINAT TAHFÎZH AL-QUR’AN "

Copied!
48
0
0

Teks penuh

“Pengembangan Minat Tahfizh Al-Qur'an di Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta” adalah karya asli saya, kecuali kutipan yang mencantumkan sumbernya. Apabila terdapat kekeliruan dan kesalahan di dalamnya, maka saya bersedia menerima sanksi berupa pencabutan gelar akademik. Tesis berjudul “Perkembangan Minat Tahfizh Al-Qur’an di Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta” yang disusun oleh Faza Karimatul Akhlak dengan nomor identifikasi telah melalui proses pembimbingan yang baik dan dinilai oleh dosen pembimbing telah memenuhi syarat. persyaratan keilmuan yang akan diujikan pada sidang Munaqasyah. Ahmad Munif Suratmaputra selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta bersama seluruh Wakil Direktur.

Kesimpulan utama dari skripsi yang berjudul PERKEMBANGAN MINAT TAHFÎZH AL-QUR'AN DI INSTITUT ILMU AL-QUR'AN (IIQ) JAKARTA adalah masih kurangnya minat menghafal 30 juz Al-QUR'AN 'SEBUAH. -Quran di kalangan pelajar.

Latar Belakang Masalah

Umat ​​Islam mengakui bahawa Al-Quran adalah kitab suci yang diturunkan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw melalui malaikat Jibril. Jadi, mereka yang menghafal al-Quran sebenarnya adalah orang-orang pilihan Allah swt. Sehubungan dengan itu, Allah swt memberi peneguhan dan jaminan bahawa al-Quran mudah diingat10.

Hafalan Al-Qur'an yang paling populer dalam bahasa aslinya yaitu tahfîzh al-Qur'an adalah hafalannya atau hafalannya. Di Indonesia, tradisi menghafal (tahfîzh) Al-Qur'an telah lama dikenal di kalangan masyarakat Indonesia yang beragama Islam. Asrama Islam Al-Qur'an yang ada di nusantara cukup banyak, berdasarkan data yang ada hingga awal tahun 2015, jumlahnya mencapai 135.

Menurut kepakarannya, rumah musim panas ini bercirikan Al-Quran karena pengajarannya fokus dan mengedepankan Al-Quran. Selain itu, siswa yang fokus mengikuti program tahfizh Al-Qur'an tidak diperbolehkan bersekolah di sekolah formal. Bahkan tidak dilarang untuk belajar atau bersekolah di sekolah formal dan mengambil program tahfizh Al-Qur'an.

Akhirnya IIQ tetap menjadi perguruan tinggi swasta di bawah naungan Institut Ilmu Al-Qur'an (YIIQ) yang diketuai oleh Ibu Hj. Dengan latar belakang permasalahan diatas, penulis tertarik untuk meneliti perkembangan Tahfizh Al-Qur'an di IIQ Jakarta.

Identifikasi Masalah

Apabila aturan tersebut berlaku pada semester pertama Juz 1, semester kedua Juz 2, semester ketiga ada waktu istirahat untuk penguatan Juz 1 dan 2, dan seterusnya, maka alokasi waktu yang diperlukan untuk tahfizh dihitung : Jika ada 20 halaman untuk setiap 1 Juz, maka 20 halaman Mushâf Al-Qur'an dibagi 4 bulan. Jika dalam satu hari bisa hafal 1 halaman, maka hanya perlu 20 kali pertemuan tatap muka, dan jika hanya bisa menghafal setengah halaman dalam satu hari, maka perlu 40 kali pertemuan tatap muka dengan instruktur. Namun, apakah kurang ketatnya seleksi masuk menjadi faktor mahasiswa tidak mencapai target hafalan setiap semesternya?

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi kontribusi bagi Institute for Quranic Sciences (IIQ), khususnya Institut Tahfîzh IIQ Jakarta yang menangani langsung permasalahan tersebut, demi kemajuan IIQ.

Pembatasan dan Perumusan Masalah

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Kajian Pustaka Terdahulu yang Relevan

Teknik pengumpulan datanya adalah random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 40 orang, yaitu 20 orang siswa yang mengikuti pelatihan metode Maisura dan 20 orang siswa lainnya yang tidak mengikuti pelatihan metode Maisura. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa siswa yang mengikuti pelatihan metode maisura mempunyai kemampuan mengaji lebih baik dibandingkan siswa yang tidak mengikuti pelatihan metode maisura. Selain itu, skripsi yang berjudul “Pengaruh kedisiplinan pengajar Tahfizh terhadap prestasi hafalan Al-Qur’an (studi kasus mahasiswa Tarbiyah Semester 2, 3 dan 4 di Institut Al-Qur’an) an Sciences Jakarta 2014)" ditulis pada tahun 2014 oleh Suster Romiza.

Pada akhir penelitian peneliti menyimpulkan terdapat pengaruh yang signifikan antara kedisiplinan guru tahfizh dengan prestasi hafalan siswa, karena semakin rajin kehadiran pengajar tahfizh maka semakin termotivasi pula siswa dalam menghafal. al - Alquran. Penelitian yang penulis pelajari adalah penulis ingin mengetahui minat santri IIQ untuk mengambil program tahfizh, selain itu penulis ingin melihat apakah dengan bertambahnya jumlah santri yang masuk IIQ maka akan semakin banyak santri yang mengambil program tersebut 30 juz.

Metodologi Penelitian

Melalui penelitian ini peneliti mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan tahfîzh al-Qur'an khususnya bagi lulusan tahun 2012 dan 2014, baik daftar program hafalan maupun derajat tahfîzh yang diperoleh, setelah itu peneliti akan mengevaluasi dan menganalisis data yang diperoleh. Dalam hal ini peneliti akan melakukan wawancara kepada pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan sumber data. Wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan secara langsung kepada responden oleh pewawancara, dan jawaban responden dicatat atau dicatat. 28 Dalam hal ini peneliti akan melakukan wawancara dengan pimpinan lembaga tahfizh serta wawancara dengan para alumni. pada tahun 2012 dan 2014.

Selain itu peneliti akan mewawancarai para alumni mengenai kendala atau kendala yang mereka alami dalam menghafal IIQ. Selain itu peneliti ingin mengetahui kendala atau kendala dalam menghafal yang mereka alami. Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah observasi.Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengamati langsung objek penelitian. Menurut Hasan, observasi adalah pemilihan, modifikasi, pencatatan, dan pengkodean terhadap sekumpulan perilaku dan suasana yang berkaitan dengan suatu organisasi sesuai dengan tujuan empirisnya.29 Dalam hal ini, peneliti yang akan mengamati adalah siswa yang masih aktif.

Peneliti juga akan mengamati siswa yang masih aktif dengan melihat hafalan dan bacaan siswa dari segi hafalannya. Observasi yang peneliti lakukan adalah observasi non partisipan, dimana pengamat hanya mengamati kegiatan yang sedang berlangsung khususnya pada saat kelas tahfizh dan pelatihan terkait tahfizh al-Qur'an di IIQ Jakarta. Selain itu, pengamat mengamati aktivitas siswa yang masih aktif dan mengamati kedekatan atau hubungan antara pengajar dan siswa.

Sistematika Penulisan

Kemudian penulis masuk ke kaedah tahfij al-Qur'an, yang pertama kali diajarkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi ketika Nabi menerima wahyu pertama, iaitu kaedah perceraian. Kaedah tasmi ialah kaedah yang digunakan oleh Rasulullah untuk mengajar al-Quran kepada para sahabat. Selain kaedah talakki, terdapat kaedah kitabah di mana menghafaz al-Quran menggunakan tulisan tangan sebagai alat bantu hafazan.

Ada juga metode tafhim dimana Anda menghafal Al-Quran sambil memahami makna atau isi ayat yang akan dihafal. Pada Bab III mengenai pelaksanaan tahfîzh Al-Qur'an di IIQ, penulis ingin memaparkan sejarah singkat IIQ, visi dan misi serta lembaga IIQ Jakarta. Dilanjutkan dengan program tahfîzh Al-Qur'an di IIQ meliputi kelas tahfîzh wajib dan kelas tahfîzh intensif.

Kurikulum tahfîzh Al-Qur'an di IIQ meliputi program tahfîzh 5 juz, 10 juz, 20 juz dan 30 juz, serta hafalan yang ingin dicapai pada setiap semesternya. Data prestasi Al-Qur'an siswa lulusan tahun 2012 dan 2014 khususnya pada MTQ tingkat kabupaten, daerah, dan nasional. Pada bab penutup V, penulis memuat kesimpulan dari seluruh bab yang telah penulis pelajari dan saran untuk pengembangan tahfizh Al-Qur'an di IIQ Jakarta.

Kesimpulan

Penelitian ini juga menemukan bahwa rata-rata alumni yang mengambil program 5 juz berdomisili di luar ma'had atau tinggal di luar, akibatnya waktu yang mereka habiskan hanya pada jam-jam penyetoran saja. Selain itu, mereka tidak dapat mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh universitas yang bekerja sama dengan Ma'had Tahassus. Setiap tahunnya IIQ Jakarta mempersiapkan kader-kader yang akan terjun langsung ke masyarakat untuk mengabdi dan menyebarkan ilmu agama serta mewujudkan masyarakat yang gemar berinteraksi dengan Al-Qur'an, khususnya dengan mengikuti acara MTQ atau STQ yang diadakan setiap tahunnya.

Siswa yang biasa mengikuti kegiatan acara seperti MTQ atau STQ tidak mengalami kendala dalam hafalannya karena dengan mengikuti kegiatan seperti itu mereka dapat meningkatkan hafalannya dan dapat memperoleh pengalaman yang mungkin tidak dimiliki orang lain.

Saran-Saran

Perlunya beasiswa yang diberikan oleh perguruan tinggi bagi mahasiswa yang mempunyai kemampuan hafalan yang tinggi. Selain memberikan motivasi, beasiswa yang diberikan juga dapat membantu mahasiswa menekan biaya pendidikan. Sanksi yang diberikan kepada mahasiswa yang tidak memenuhi target prestasi adalah tidak diperkenankan masuk perguruan tinggi, namun apakah kebijakan ini tidak terlalu enteng/mudah, apalagi jika sedang menempuh program lebih dari 5 juz. Jika melihat hasil penampilan selama ini, memang banyak sekali mahasiswa yang keluar dari program.

Namun pada dasarnya sanksi pelarangan UAS bagi mahasiswa yang mengikuti program tersebut adalah 5 juz. Kalau santrinya tinggal diluar, tidak ada yang mengatur waktu hafalannya, lagipula tidak ada suasana untuk hafalannya, ada kasus seorang santri sudah belajar 30 juz, apalagi dia tinggal di luar, ternyata hafalannya hilang dan dia tidak dapat mencapai target hafalannya. Karena soal yang diajukan kepada setiap siswa pada saat ujian berbeda-beda, apakah ada manual yang mengatur hal tersebut?

Namun ketika seorang siswa mengikuti ujian, hafalannya kurang lancar, kemampuan makronya kurang baik, dan mendapat nilai di bawah 70. Ia kemudian harus mengulang ujian akhir sebelum memulai semester berikutnya, namun ia tetap bisa mengikuti. UAS tersebut. Mungkin ada hubungannya dengan MTQ karena soal MTQ diberikan dari juz berikutnya, selain itu untuk memudahkan siswa dalam mengingatnya. Ya, ketika saya menjumpai siswa yang bacaannya kurang baik sehingga mempengaruhi hafalan, saya biasanya menyuruh anak tersebut membacakan ayat tersebut untuk saya hafal.

Metode tahfîdz yang digunakan pada IIQ adalah metode tasmi'. Jika metode ini diterapkan pada siswa yang kesulitan membaca maka akan menyulitkan siswa yang bersangkutan, namun bagi guru metode ini merupakan metode yang dirasa baik. karena pengajar hanya mendengarkan hafalan siswa. Program tahfidz yang diikuti santri bervariasi sehingga memudahkan pengajarnya. Dahulu, santri yang mengalami permasalahan seperti ini biasanya jarang datang pada waktu Tahfidz dan baru muncul ketika mendekati waktu UAS.

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait