ANALISIS TOTAL ECONOMIC VALUE
PERKEMBANGAN PARIWISATA DI KOTA BATU (STUDI KASUS DI DESA WISATA BUMIAJI)
JURNAL ILMIAH
Disusun oleh:
Amien Hanifah Amini 165020107111033
JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2020
LEMBAR PENGESAHAN PENULISAN ARTIKEL JURNAL
Artikel Jurnal dengan judul :
ANALISIS TOTAL ECONOMIC VALUE
PERKEMBANGAN PARIWISATA DI KOTA BATU (STUDI KASUS DI DESA WISATA BUMIAJI)
Yang disusun oleh :
Nama : Amien Hanifah Amini
NIM : 165020107111033
Fakultas : Ekonomi dan Bisnis Jurusan : S1 Ilmu Ekonomi
Bahwa artikel jurnal tersebut dibuat sebagai persyaratan ujian skripsi yang dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 22 Juli 2020.
Malang, 17 Agustus 2020 Dosen Pembimbing,
Prof.Dr. Maryunani, SE,. MS.
NIP. 195503221981031002
0 1000000 2000000 3000000 4000000 5000000 6000000
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018
Jumlah Pengunjung
Tahun
Jumlah Pengunjung Linear (Jumlah Pengunjung)
ANALISIS TOTAL ECONOMIC VALUE PERKEMBANGAN PARIWISATA DI KOTA BATU
(STUDI KASUS DI DESA WISATA BUMIAJI) Amien Hanifah Amini
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Email: [email protected]
ABSTRAK
Pariwisata merupakan salah satu sektor yang memberikan kontribusi besar bagi perekonomian negara. Kekayaan sumber daya alam dan nilai-nilai suatu daerah menjadi faktor yang melatarbelakangi menjamurnya objek wisata di Indonesia. Kota Batu merupakan salah satu kawasan wisata yang menjadi destinasi wisatawan dari berbagai penjuru wilayah yang ada di Provinsi Jawa Timur. Salah satu objek wisata di Kota Batu yang didominasi oleh penawaran sumber daya alam adalah Desa Wisata Bumiaji karena mengingat kondisi geografisnya yang mendukung. Meskipun demikian, Kota Batu terindikasi memiliki potensi degradasi lingkungan.
Oleh karena itu, diperlukan analisis nilai ekonomi total (Total economic value) untuk mengetahui besarnya manfaat barang dan jasa dari sumber daya alam dan lingkungan ekonomi Desa Bumiaji sebagai upaya pelestarian lingkungan kawasan wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Batu dan Desa Bumiaji secara umum mengalami penurunan kualitas lingkungan, antara lain maraknya konversi lahan pertanian/perkebunan menjadi lahan pemukiman atau industri, fluktuatifnya temperatur udara, dan penurunan jumlah titik sumber mata air. Nilai ekonomi total desa Bumiaji adalah sebesar Rp 70.434.686.462. Sementara itu, faktor sosial ekonomi yang memengaruhi manfaat dan biaya pariwisata Desa Bumiaji adalah usia, jumlah rombongan, dan persepsi terhadap objek wisata. Sedangkan faktor-faktor yang memengaruhi manfaat dan biaya konservasi ekosistem pertanian adalah tingkat pendapatan dan jenis kelamin.
Kata kunci: Kota Batu, Desa Bumiaji, sumber daya alam, Total Economic Value
A. PENDAHULUAN
Pariwisata merupakan salah satu sektor yang memberikan kontribusi besar bagi perekonomian suatu negara. Dalam skala nasional kontribusi perkembangan sektor pariwisata dapat dinilai melalui peningkatan devisa negara yang berasal dari sektor tersebut. Jika dilihat dari ranking devisa pariwisata terhadap 11 ekspor barang terbesar, sektor pariwisata selalu masuk dalam lima terbesar (BPS, 2018).
Salah satu kawasan wisata yang turut menyumbang pertumbuhan industri pariwisata nasional sekaligus menjadi destinasi wisatawan dari berbagai penjuru wilayah yang ada di Jawa Timur adalah Kota Batu. Selain wisata buatannya yang terkenal, Kota Batu juga terkenal dengan wisata alam, wisata budaya, wisata pertanian, dan lain sebagainya. Merujuk dari data BPS Kota Batu, minat wisatawan yang berkunjung ke objek-objek wisata di Kota Batu memiliki tren meningkat dari tahun 2010-2018, seperti ditunjukkan pada Gambar 1 berikut.
Gambar 1: Grafik Jumlah Pengunjung Objek Wisata Kota Batu Tahun 2010-2018
Sumber: BPS Kota Batu (Diolah), 2020
Keberhasilan pengembangan sektor pariwisata di Kota Batu juga dapat dilihat dari meningkatnya jumlah objek wisata. Pada tahun 2016 terdapat 26 objek wisata, meningkat menjadi 30 pada tahun 2018, dan 33 objek di tahun 2019 (BPS Kota Batu).
Objek wisata di Kota Batu didominasi oleh penawaran sumber daya alam karena mengingat kondisi geografisnya yang mendukung. Berada di kawasan pegunungan dan memiliki lahan yang subur menjadikan pariwisata berbasis jasa lingkungan hidup menjamur di Kota Batu. Akibatnya, pemanfaatan lingkungan hidup menjadi objek wisata juga berpengaruh terhadap perubahan kondisi lingkungan hidup itu sendiri, seperti hasil penelitian Limbong dan Soetomo (2014) yang menyatakan bahwa adanya pembukaan industri pariwisata mengakibatkan lahan terbuka untuk resapan air berkurang dan rusaknya sebagian ekosistem kawasan wisata. Dilansir dari RPJMD Kota Batu tahun 2017-2022 menunjukkan bahwa permasalahan utama lingkungan hidup Kota Batu adalah tingginya tingkat pencemaran dan perusakan lingkungan, terutama pada air sungai utama Kota Batu. Selain itu, konversi lahan pertanian, perkebunan, dan hutan menjadi lahan pemukiman, kawasan perdagangan dan pusat produksi barang atau jasa juga tinggi.
Salah satu kawasan wisata yang menawarkan manfaat sumber daya alam sekaligus memiliki potensi degradasi lingkungan adalah Desa Bumiaji. Desa wisata yang terletak di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu ini memiliki banyak objek wisata, antara lain wisata petik buah, wisata perbukitan, dan wisata edukasi. Meskipun demikian, Kecamatan Bumiaji mengalami potensi degradasi lingkungan, yaitu dilihat dari penurunan jumlah titik sumber mata air. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (2014) menyebutkan bahwa Kecamatan Bumiaji telah terjadi penurunan jumlah titik sumber air yang awalnya memiliki 57 titik pada tahun awal tahun 2000-an namun berdasarkan pemetaan terbaru antara tahun 2012 dan 2014 menjadi 28 titik.
Salah satu misi RPJMD Kota Batu tahun 2017-2022, yaitu “meningkatkan pembangunan infrastruktur dan kawasan pedesaan yang berkualitas dan berwawasan lingkungan”. Satu dari sekian banyak cara untuk mempertahankan kelestarian dan mencegah kerusakan lingkungan hidup kawasan pariwisata adalah dengan mengkaji nilai ekonomi total (Total economic value) desa wisata secara komprehensif, yakni tidak hanya dinilai berdasarkan unsur-unsur nilai guna (Use value) ekosistemnya, melainkan juga mempertimbangkan unsur-unsur nilai non-guna (Non-use value). Sebab berdasarkan visi Pemerintah Kota Batu dalam RPJMD tahun 2017-2022, yakni
“Desa Berdaya Kota Berjaya Terwujudnya Kota Batu sebagai Sentra Agrowisata Internasional yang Berkarakter, Berdaya Saing, dan Sejahtera” sehingga desa yang menguatkan ekonominya melalui pariwisata tetap harus memperhatikan pembangunan berwawasan lingkungan.
Sebagai langkah untuk menindaklanjuti visi misi pemerintah kota dalam upaya menentukan kebijakan pengelolaan lingkungan kawasan wisata merupakan hal yang melatarbelakangi penelitian ini. Dengan demikian, ditariklah judul penelitian “Analisis Total Economic Value Perkembangan Pariwisata di Kota Batu (Studi Kasus di Desa Wisata Bumiaji)”. Penelitian ini memiliki tiga tujuan utama. Pertama, mengetahui kondisi ekonomi lingkungan kawasan pariwisata melalui nilai ekonomi total (Total economic value) yang dihasilkan ekosistem di Desa Bumiaji.
Kedua, mengetahui besarnya unsur-unsur yang dinilai secara ekonomi dalam Desa Bumiaji.
Ketiga, mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi manfaat dan biaya SDA dan lingkungan yang diperoleh dari Desa Bumiaji.
B. TINJAUAN PUSTAKA Pariwisata dan Desa Wisata
Pariwisata menurut UU No. 10 Tahun 2009 didefinisikan sebagai “Berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah”. Sementara itu, desa wisata diartikan sebagai suatu bentuk lingkungan pemukiman yang memiliki kekhasan baik alam maupun budaya yang sesuai dengan permintaan wisatawan yang mengenal, mengetahui, menghayati, mempelajari, dan menikmati kekhasan tersebut beserta daya tariknya (Susyanti dan Latianingsih, 2014).
Suatu desa yang menawarkan daya tarik dari sisi sosial budaya maupun lingkungan dapat dikatakan sebagai ekowisata atau pariwisata yang sifatnya berkelanjutan (Purwanto, 2018). Tujuan pembangunan desa wisata tidak hanya untuk mewujudkan pembangunan yang bersifat ekonomi saja, melainkan juga bersifat sosial budaya dan lingkungan. Hal ini sejalan dengan konsep pembangunan berkelanjutan (Sustainable development) yang mengintegrasikan antara aspek lingkungan alam, lingkungan sosial budaya, dan lingkungan ekonomi.
Sustaibale Tourism
Sustainalbe tourism atau pariwisata berkelanjutan adalah bentuk kegiatan, manajemen, dan pengembangan pariwisata yang menjaga kesatuan anatara alam, ekonomi, dan sosial serta memberikan jaminan pemeliharaan sumber daya alam dan budaya (Niedziółka, 2012). Definisi tersebut juga didukung oleh pernyataan Saarinen (2001) yang mengartikan pariwisata berkelanjutan sebagai pengembangan pariwisata yang mampu mempertahankan kualitas lingkungan, kualitas pengalaman wisata, dan sistem sosial budaya masyarakat setempat.
Ekonomi Lingkungan
Ilmu ekonomi adalah sebuah ilmu yang menelaah tentang pengalokasian sumber daya yang mempunyai alternatif-alternatif utilitas dalam wujud pemenuhan kebutuhan maupun keinginan manusia yang tidak terbatas (Parmawati, 2019). Dalam definisi lain yang disampaikan oleh Suparmoko dan Maria (2000), ekonomi lingkungan merupakan ilmu yang mengeksplorasi kegiatan individu dalam memanfaatkan sumber daya lingkungan sehingga dalam jangka panjang, peran dan fungsi lingkungan dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan penggunaannya. Dari definisi tersebut maka diketahui bahwa ilmu ekonomi hubungan erat dengan adanya sumber daya.
Nilai Ekonomi Total (Total Economic Value)
Perhitungan manfaat atas jasa ekosistem yang diperoleh dari lingkungan hidup serig diartikan sebagai valuasi (Parmawati, 2019). Sementara itu, total economic value atau nilai ekonomi total diartikan sebagai konsep untuk memperhitungkan manfaat keseluruhan dari peningkatan kualitas barang publik, misalnya peningkatan kualitas udara suatu wilayah dari upaya perlindungan. Selain itu, TEV juga dapat digunakan untuk mengukur manfaat sebagai nilai total dari sisa aset pada sumberdaya alam dan lingkungan suatu wilayah. Dalam pembagian manfaat ekonomi, terdapat dua kategori nilai yang biasa digunakan dalam perhitungan nilai ekonomi total, yakni nilai langsung (Direct value) dan nilai tidak langsung (Indirect value).
Suparmoko (2009) dalam bukunya yang berjudul Panduan dan Analisis Valuasi Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan memaparkan beberapa metode valuasi terhadap dampak lingkungan. Metode tersebut adalah 1) Pendekatan harga pasar (Market price), terdiri dari pendekatan harga pasar yang sebenarnya dan pendekatan modal manusia atau pendekatan penghasilan, 2) Pendekatan nilai barang pengganti atau barang pelengkap yang terdiri dari pendekatan nilai kekayaan, pendekatan tingkat upah, dan pendekatan biaya perjalanan, 3) Teknik survei, terdiri dari lelang dan survei langsung dan pendekatan delphi.
C. METODOLOGI PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Penelitian deskriptif kuantitatif bertujuan untuk menjelaskan suatu kondisi yang terjadi pada objek penelitian atas dasar hasil estimasi nilai ekonomi total (Morissan, 2016). Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu dengan pertimbangan lokasi tersebut merupakan salah satu desa wisata yang menawarkan sumber daya alam dengan tingkat kunjungan wisatawan cukup tinggi di antara desa-desa wisata lain di Kota Batu.
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik wawancara dengan bantuan kuesioner serta dokumentasi. Sangadji dan Sopiah (2010) menerangkan bahwa kuesioner atau angket merupakan teknik pengumpulan data dengan cara membagi daftar pertanyaan kepada responden. Selain itu, pengumpulan data juga dilakukan dengan dokumentasi yang bertujuan untuk mendapatkan data sebagai bukti penulis telah melakukan penelitian di desa wisata.
Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan jenis data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara menggunakan kuisioner dengan wisatawan yang berkunjung ke Desa Bumiaji dan petani Desa Bumiaji. Sedangkan data sekunder diperoleh dari antara lain dari pengelola Desa Bumiaji, BPS Kota Batu, dan literatur yang mendukung penelitian ini.
Metode Pengambilan Sampel
Metode yang digunakan untuk menetapkan jumlah sampel dalam penelitian ini adalah dengan purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel secara sengaja serta berdasarkan pertimbangan tertentu (Helaluddin dan Wijaya, 2019). Total responden dalam penelitian ini adalah sebanyak 160 orang, yakni terdiri dari 100 orang wisatawan Desa Bumiaji, 10 orang petani yang
menanam komoditas utama Desa Bumiaji, dan 50 orang petani yang memanfaatkan sumber daya alam dan lingkungan pertanian/perkebunan Desa Bumiaji secara langsung.
Metode Analisis Data 1. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif merupakan teknik analisis yang digunakan untuk menggambarkan objek penelitian secara apa adanya (Irawan, 2004).
2. Productivity Method
Productivity method atau pendekatan produktivitas mengukur perubahan output jasa sumber daya alam dengan menggunakan harga pasar untuk barang atau jasa yang ada di pasar dan mengukur bukan nilai pasar (Non market value) untuk jasa yang tidak memiliki harga pasar (Bidayani, 2014). Berikut ini rumus yang umum digunakan pada metode produktivitas.
Nilai Produktivitas SDA = (Ʃ Produksi/Ha × P) - (Biaya Input) Keterangan:
Nilai produktivitas SDA = Nilai produktivitas dari sumber daya alam Ʃ Produksi = Jumlah produksi komoditas (Hektar)
P = Harga komoditas (Rp/satuan ukur)
Biaya Input = Biaya non sumber daya alam
3. Analisis Kesediaan Membayar (Willingness To Pay) dengan TCM dan CVM
Nilai ekonomi dari sektor pariwisata Desa Bumiaji diketahui dengan pendekatan biaya perjalanan (Travel cost method) yang yang mengacu pada rumus Grandstaff dan Dixon (1991) berikut ini.
∑ ( )
Keterangan:
TTC = Total Travel Cost (Rupiah)
ATCi= Average Travel Cost 1 sampai 100 wisatawan (Rupiah) ni = Jumlah responden yang mengeluarkan biaya perjalanan (Orang) N = Jumlah responden yang mengisi kuisioner (Orang)
T = Total kunjungan wisatawan ke desa bumiaji selama satu tahun (Orang)
Sementara itu, nilai kesediaan membayar masyarakat atas jasa lingkungan pertanian diperoleh dengan contingent valuation method (CVM). Dalam tahap operasional metode contingent valuation, nilai WTP yang diperoleh melalui beberapa tahapan berikut (Fauzi, 2010).
a. Membuat hipotesis pasar
b. Memperoleh nilai lelang WTP (Bids) c. Menghitung nilai rata-rata WTP
∑ Keterangan:
EWTP = Rata-rata nilai kesediaan membayar responden Wi = Besar nilai kesediaan membayar
i = Responden yang bersedia membayar n = Jumlah responden
d. Memperkirakan kurva lelang (Bid curve) e. Menentukan nilai WTP agregrat atau WTP total
∑
( )
Keterangan:
TWTP = Total kesediaan responden untuk membayar WTP = WTP responden sampel ke-i
Ni = Jumlah sampel ke-i yang bersedia membayar sebesar WTP P = Jumlah populasi
i = Responden ke-i yang bersedia membayar
4. Analisis Regresi Linier Berganda
Menurut Morissan (2016), analisis regresi linier berganda merupakan salah satu teknik parametrik yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara dua variabel independen atau lebih dengan satu variabel dependen tunggal. Berikut ini merupakan persamaan regresi linier berganda yang digunakan untuk menganalisis faktor-faktor sosial ekonomi yang memengaruhi biaya perjalanan dan nilai kesediaan membayar (Willingness to pay) ekosistem pertanian.
BP (Y) = β0 + β1Usia + β2Pendapatan + β3Jarak + β4Jumlah Rombongan + β5Persepsi Objek + β6Jenis Kelamin + εi
Keterangan:
BP (Y) = Nilai Biaya Perjalanan (Rp/orang) β0 = Intersep/Konstanta
β1,… β6 = Koefisien Regresi
ε = Error
i = Responden ke-i
WTP (Y) = β0 + β1Usia + β2Pendidikan + β3Pendapatan + β4Jumlah Tanggungan + β5Jenis Kelamin + εi
Keterangan:
WTP (Y) = Nilai Willingness to Pay (Rp/orang) β0 = Intersep/Konstanta
β1,… β5 = Koefisien Regresi
ε = Error
i = Responden ke-i
5. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik yang digunakan pada penelitian ini adalah uji normalitas, uji multikolinearitas, dan uji heteroskedastisitas. Selain itu, uji statistik lain yang diperlukan adalah koefisien determinasi (R2), uji T, dan uji F.
6. Water Valuation
Menyadur dari Dahlan et al. (2014), nilai pemanfaatan air untuk kebutuhan rumah tangga dapat dihitung menggunakan formula sebagai berikut.
Nilai air rumah tangga = Tarif dasar air HIPPAM Kota Batu × Konsumsi air rata-rata KK/bulan × Jumlah penduduk
7. Economic Rent
Pendekatan economic rent digunakan untuk menentukan manfaat keberadaan homestay.
Rumus yang digunakan untuk mengetahui nilai sewa homestay menurut Wahyuni et al. (2013) adalah sebagai berikut.
Nilai sewa homestay = Jumlah homestay × 12 bulan × Tarif sewa 8. Total Economic Value (TEV)
Berikut formula nilai ekonomi total (Total economic value) (Parmawati, 2019).
TEV = Use value + Non use value Keterangan:
TEV = Nilai ekonomi total (Rp) Use Value = Nilai guna total (Rp) Non use value = Nilai non guna total (Rp)
D. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Secara geografis, Kota Batu terletak diantara 112o 35’22.31152” Bujur Timur (BT) dan 7o 45’51.61362” Lintang Selatan (LS) dengan luas wilayah 199,09 Km2 atau 19.908,72 Ha. Wilayah tersebut terbagi menjadi tiga kecamatan, yakni Kecamatan Batu, Kecamatan Bumiaji, dan Kecamatan Junrejo. Sebagai kota yang memiliki banyak objek wisata, Kota Batu saat ini menawarkan berbagai jenis wisata, mulai dari wisata buatan hingga wisata alam. Wisata alam sendiri umumnya berada di desa wisata. Dari 33 objek wisata yang ada di Kota Batu, 12 di antara merupakan wisata alam di desa wisata (BPS Kota Batu, 2019).
Data menunjukkan bahwa pertumbuhan industri pendukung wisata Kota Batu bertumbuh dari tahun ke tahun. Jumlah industri perhotan dan penginapan yang ada di Kota Batu berdasarkan data BPS setempat mengalami kenaikan, pada tahun 2015 terdapat 550 hotel, kemudian di tahun 2018 tercatat ada 967 hotel yang berdiri. Sedangkan untuk rumah makan, pada tahun 2016, terdapat setidaknya 46 rumah makan, kemudian di tahun 2019 bertambah menjadi 50 rumah makan. Data tersebut sejalan dengan pertumbuhan jumlah objek wisata di Kota Batu.
Bertolak dari industri wisata, salah satu wisata yang terkenal di Kota Batu adalah Desa Bumiaji. Desa wisata yang ada di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Provinsi Jawa Timur ini secara geografis terletak di sebelah utara Kota Batu dengan dan ketinggian 950 mdpl. Suhu rata-rata harian berkisar antara 20-30 oC. Curah hujan rata-rata sebesar 220 mm/tahun. Selanjutnya, bentang wilayah Desa Bumiaji berupa perbukitan, warna tanah hitam bertekstur lempungan, berpasir, dan kondisinya subur sehingga bermanfaat untuk area pertanian. Apabila dilihat dari tata guna lahan, desa yang memiliki luas wilayah 439,88 Ha.
Secara umum, masyarakat Desa Bumiaji yang terdiri dari empat dusun (Dusun Binangun, Dusun Banaran, Dusun Tlogorejo, dan Dusun Beru) berkerja sebagai petani sebab potensi tersebar di desa tersebut adalah pertanian/perkebunan. Komoditas utama yang dihasilkan Desa Bumiaji antara lain adalah jeruk, apel, jambu biji, beberapa jenis sayuran, dan tanaman hias. Potensi inilah yang menjadi daya tarik tersendiri pembukaan desa wisata di desa Bumiaji. Pada tahun 2019, tercatat ada 12 atraksi wisata dan 1 produk olahan kuliner di Desa Bumiaji. Objek wisata tersebut antara lain adalah wisata petik buah, Bukit Telletubies, Sumber Air Cinde, wisata edukasi di home industry, dan Perah Susu Kambing Etawa.
Meskipun pertumbuhan objek wisata Kota Batu maupun lebih spesifiknya Desa Bumiaji berangsur meningkat, terdapat gejala lingkungan yang cukup menarik perhatian. Secara umum, Kota Batu memiliki potensi degradasi lingkungan, yaitu dibuktikan dengan adanya konversi lahan pertanian ke non pertanian dan perubahan temperatur yang fluktuatif. Sedangkan untuk skala Desa Bumiaji, potensi degradasi lingkungan tersebut adalah penurunan jumlah sumber mata air dan penurunan produksi apel secara luas, padahal notabene apel dahulunya merupakan komoditas utama Desa Bumiaji. Hal ini diduga karena faktor iklim dan non-iklim, seperti naiknya temperatur, konversi lahan perkebunan apel, dan tanaman apel yang usianya sudah terlalu tua Ruminta dan Handoko (2011).
Karakteristik Responden
Pada penelitian ini, jumlah responden yang diwawancarai adalah sebanyak 150 orang yang terdiri dari 100 wisatawan dan 50 petani Desa Bumiaji.
1. Karakteristik Wisatawan
Dilihat dari aspek usia, wisatwan Desa Bumiaji mayoritas berusia antara 18-23 tahun, yaitu berjumlah 40 orang dari 100 orang. Kemudian dari berdasarkan daerah asal pengunjung, wisatawan Desa Bumiaji didominasi berasal dari Prov. Jawa Timur (46 orang), disusul sebanyak 38 orang dari luar Pulau Jawa, dan sisanya berasal dari luar Provinsi Jawa Timur (Pulau Jawa).
Karakteristik lain dari jenis pekerjaan wisatwan Desa Bumiaji cukup beragam. Sebanyak 41 wisatawan adalah mahasiswa, 20 wisatawan adalah pegawai swasta, 8 orang adalah wirausahawan, dan 20 wisatawan lainnya bekerja di bidang lain-lain. Kemudian berdasarkan tingkat pendapatan per bulan, wisatawan Desa Bumiaji mayoritas memiliki tingkat pendapatan
>Rp 5.000.000 (33 orang) dan wisatawan yang berpendapatan di bawah Rp 500.000/bulan sebesar 3 orang.
2. Karakteristik Petani
Sebanyak 50 petani Desa Bumiaji yang diwawancari, jumlah responden terbanyak berada pada tingkat usia 40-49 tahun, yakni sebanyak 20 orang, sedangkan jumlah terendah responden berada pada tingkat usia 50-59 tahun, yakni sebanyak 19 orang dan sisanya berusia antara 30- 39 tahun. Jika dilihat dari jenis kelamin, sebanyak 52 orang adalah bergender laki-laki, sisanya sebanyak 8 orang adalah bergender perempuan.
Adapaun berdasarkan tingkat pendidikan petani, mayoritas petani berada pada tingkat pendidikan SD dan SMA, masing-masing berjumlah 19 orang, sisanya adalah tingkat SMP sebanyak 8 orang dan D1 sebanyak 4 orang. Sementara itu, dari aspek tingkat pendapatan, sebanyak 25 petani berpendapatan lebih dari Rp 5.000.000, sebanyak 9 orang berpendapatan antara Rp 1.000.000-Rp 2.500.000, 14 orang berpendapatan pada rentang Rp 2.500.000-Rp 5.000.000.
Unsur-unsur Nilai Ekonomi di Desa Bumiaji
Unsur-unsur sumber daya alam dan lingkungan yang dinilai secara ekonomi di Desa Bumiaji terdiri dari pariwisata, pertanian, air rumah tangga, dan usaha penginapan (Homestay). Setiap unsur tersebut berkaitan erat dengan Desa Bumiaji yang memiliki branding sebagai desa wisata berbasis sumber daya alam dan lingkungan. Dari unsur tersebut selanjutnya dihitung nilai ekonominya dengan beberapa metode valuasi ekonomi untuk mengetahui nilai ekonomi total (Total economic value).
Berdasarkan klasifikasinya, unsur-unsur sumber daya alam dan lingkungan yang dinilai secara ekonomi dalam Desa Bumiaji dapat dikategorikan menjadi nilai guna (Use value) dan nilai non guna (Non use value). Berikut ini perhitungan unsur-unsur Desa Bumiaji untuk selanjutnya mengetahui nilai ekonomi total (Total economic value) Desa Bumiaji.
1. Nilai Guna (Use Value)
Nilai guna (Use value) adalah satu dari beberapa variabel dari nilai ekonomi total. Nilai guna terdiri dari nilai guna langsung (Direct use value) dan nilai guna tidak langsung (Indirect use value). Nilai guna langsung merupakan nilai sumber daya di Desa Bumiaji yang manfaatnya langsung dirasakan, yaitu terdiri dari nilai pariwisata, dan nilai pertanian. Sedangkan nilai guna tidak langsung Desa Bumiaji adalah dari nilai air rumah tangga.
a. Nilai Pariwisata
Nilai pariwisata Desa Bumiaji dapat diketahui melalui biaya perjalanan (Travel cost) yang dikeluarkan pengunjung. Berdasarkan hasil perhitungan di bawah dengan metode biaya perjalanan diketahui bahwa nilai ekonomi wisata Desa Bumiaji adalah sebesar Rp 2.544.768.765/tahun. Rata-rata biaya perjalanan keseluruhan pengunjung Desa Bumiaji adalah sebesar Rp 517.545/kali kunjungan.
Selanjutnya, faktor-faktor yang memengaruhi besarnya nilai biaya perjalana wisatawan diukur dengan metode analisis regresi linier berganda. Setelah dilakukan uji asumsi klasik, model penelitiannya lolos pada tahap uji normalitas, uji multikoliniearitas, dan uji heteroskedastisitas. Berikut adalah hasil analisis regresi linier berganda biaya perjalanan wisatawan Desa Bumiaji menggunakan perangkat lunak IBM SPSS Statistics 25.
Tabel 1: Hasil Analisis Regresi Biaya Perjalanan Wisatawan Desa Bumiaji Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized
Coefficients t Sig.
Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) -
1297446,097 494759,171 -2,622 ,010
Jenis Kelamin 98034,492 116652,545 ,065 ,840 ,403 ,955 1,047 Pendapatan -18166,520 89996,510 -,022 -,202 ,840 ,481 2,080
Jarak 208087,060 129099,401 ,143 1,612 ,110 ,733 1,364
Jumlah
Rombongan -305111,666 82158,650 -,333 -3,714 ,000 ,721 1,387 Persepsi Objek 71695,690 30597,213 ,179 2,343 ,021 ,994 1,006
Usia 32402,613 5696,845 ,605 5,688 ,000 ,512 1,954
a. Dependent Variable: Biaya Perjalanan
R Square (R2) 46,1%
F-Statistic 13,243 (Sig 0,000) Sumber: Data Primer (Diolah), 2020
Penelitian ini menghasilkan nilai R2 sebesar 0,461. Artinya, seluruh variabel bebas yang terdapat dalam model analisis di atas mampu menjelaskan variasi variabel biaya perjalanan sebesar 46,1%, sedangkan sisanya sebesar 53,9% dijelaskan oleh variabel lain di luar model yang digunakan. Model yang dihasilkan dalam regresi nilai biaya perjalanan wisatawan di Desa Bumiaji adalah sebagai berikut.
BP = - 1297446,097 + 32402,613 Usia - 18166,520 Pendapatan + 208087,060 Jarak - 305111,666 Jumlah Rombongan + 71695,690 Persepsi Objek + 98034,492 Jenis Kelamin
Pada model di atas, variabel indipenden yang berpengaruh nyata terhadap biaya perjalanan adalah variabel jumlah rombongan, persepsi objek, dan usia karena nilai Sig
kurang dari taraf α (<0,05) pada taraf kepercayaan 95%. Nilai koefisien variabel rombongan bertanda negatif yang berarti bahwa semakin tinggi jumlah rombongan responden maka tendensi responden untuk mengeluarkan biaya perjalanan semakin rendah.
Variabel persepsi objek bertanda positif, artinya semakin tinggi nilai persepsi objek oleh wisatawan maka semakin tinggi pula biaya perjalanan yang mereka keluarkan. Sedangkan koefisien dari variabel usia bertanda positif yang artinya semakin tinggi tingkat usia wisatawan maka semakin tinggi biaya perjalanannya.
Sementara itu, terdapat beberapa variabel indipenden lain yang tidak berpengaruh nyata terhadap variabel biaya perjalanan, yaitu jarak, pendapatan, dan jenis kelamin. Ketiga variabel tersebut tidak berpengaruh nyata disebabkan nilai Sig yang lebih besar dari taraf α (>0,05).
b. Nilai Pertanian
Nilai pertanian diperoleh melalui productivity method, yaitu dengan menjumlahkan nilai produktivitas dari beberapa komoditas pertanian unggulan desa. Total nilai produktivitas sumber daya alam sektor pertanian Desa Bumiaji per tahun diperoleh dari penjumlahan seluruh nilai produktivitas, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2: Total Nilai Produktivitas Sumber Daya Alam Sektor Pertanian Desa Bumiaji (Maret 2020)
Jenis Komoditas
Nilai Produktivitas
(Rp/Panen)
Jumlah Panen/
Tahun
Luas Lahan (Ha)
Nilai Produktivitas SDA (Rp/Tahun)
Jeruk Keprok 95.147.000 2 128,25 24.405.205.500
Jeruk Manis 135.147.000 2 2,4 648.705.600
Jambu Biji 2.238.240 51 2,85 325.328.184
Apel 50.000.000 2 72 7.200.000.000
Bunga Kol 2.744.288 6 9,4 154.777.843
Selada Air 11.700.000 6 13,6 954.720.000
Wortel 48.034.000 3 5,8 835.791.600
Bunga Mawar 1.853.223 180 4,3 1.434.394.602
Bunga Krisan 1.689.900.000 4 4 27.038.400.000
Bunga Pikock 92.540.000 4 3,2 1.184.512.000
Total 64.181.835.329
Sumber: Data Primer (Diolah), 2020
Nilai produktivitas sumber daya alam sektor pertanian di per tahun yang terbesar dari hasil perhitungan di atas adalah komoditas bunga krisan, yakni sebesar Rp 27.038.400.000, sedangkan komoditas yang nilainya produktivitasnya terkecil adalah bunga kol, yakni sebesar Rp 154.777.843. Jumlah total nilai produktivitas sumber daya alam sektor pertanian Desa Bumiaji dalam satu tahun adalah sebesar Rp 64.181.835.329.
c. Nilai Air Rumah Tangga
Nilai air secara keseluruhan di Desa Bumiaji untuk keperluan rumah tangga yang diperoleh dengan metode water valuation dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3: Nilai Air untuk Rumah Tangga di Desa Bumiaji (Januari 2020) Nilai Air Seluruh Tarif
(Rp/KK/Bulan) Jumlah Pelanggan (KK) Nilai Air (Rp)
17.400 1.840 32.016.000/Bulan
Total 384.192.000/Tahun
Sumber: Data Primer (Diolah), 2020
Nilai air rumah tangga diperoleh dari hasil perkalian antara harga air yang dijual oleh lembaga Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) per meter kubik untuk setiap kelompok tarif, penggunan rata-rata kepala keluarga untuk setiap kelompok tarif dalam satu bulan, dan jumlah pelanggan air HIPPAM. Hasil perhitungan nilai air rumah tangga Desa Bumiaji diperoleh sebesar Rp 384.192.000/tahun.
2. Nilai Non Guna (Non Use Value)
Nilai non guna (Non use value) merupakan salah satu variabel dari nilai ekonomi total.
Nilai non guna terdiri dari nilai keberadaan, nilai pilihan, dan nilai warisan. Hasil perhitungan mengenai nilai non guna adalah sebagai berikut.
a. Nilai Konservasi Ekosistem Pertanian
Nilai konservasi ekosistem pertanian merupakan nilai pilihan (Option value) yang tidak memiliki nilai pasar sehingga untuk mengetahui angkanya diperlukan contingent valuation method untuk mengetahui nilai WTP petani terhadap jasa lingkungan pertanian. Nilai WTP agregat per tahun merupakan hasil penjumlahan nilai rataan sampel WTP per tahun, yaitu sebesar Rp 2.432.832 dengan jumlah populasi petani di Desa Bumiaji (1.349 jiwa) sehingga diperoleh nilai sebesar Rp 3.281.890.368.
Selanjutnya, untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi nilai WTP konservasi ekosistem pertanian dalam penelitian ini maka digunakan alat berupa analisis regresi linier berganda. Setelah dilakukan uji asumsi klasik, model penelitian diketahui tidak mengalami pelanggaran pada uji normalitas, uji multikoliniearitas, dan uji heteroskedastisitas. Berikut adalah hasil analisis regresi linier berganda nilai WTP konservasi ekosistem pertanian Desa Bumiaji menggunakan perangkat lunak IBM SPSS Statistics 25.
Tabel 4: Hasil Analisis Regresi Nilai WTP Konservasi Ekosistem Pertanian Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized
Coefficients t Sig.
Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) ,339 1,942 ,175 ,862
Usia ,027 ,037 ,106 ,738 ,464 ,812 1,231
Pendidikan ,161 ,236 ,091 ,683 ,498 ,950 1,053
Pendapatan ,639 ,293 ,310 2,181 ,035 ,832 1,202
Tanggungan ,339 ,217 ,205 1,559 ,126 ,968 1,033
Jenis Kelamin -1,849 ,665 -,372 -2,783 ,008 ,942 1,061
a. Dependent Variable: WTP
R Square (R2) 26%
F-Statistic 3,095 (Sig 0,018)
Sumber: Data Primer (Diolah), 2020
Nilai R2 pada model ini dihasilkan sebesar 0,260 yang berarti 26% keragaman WTP responden dapat diterangkan oleh variasi variabel-variabel bebas yang terdapat dalam model analisis, sedangkan sisanya sebesar 74,8% diterangkan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam model. Mitchell dan Carson (1989) yang diacu dalam Hanley dan Spash (1993) menerangkan bahwa penelitian yang berhubungan dengan objek-objek lingkungan dapat mentolelir nilai R2 hingga 15% sebab penelitian tentang lingkungan ini berkaitan dengan perilaku manusia sehingga nilai R2 tidak harus besar.
Selanjutnya, nilai F-Statistik yang dihasilkan adalah sebesar 3,095 dengan Sig sebesar 0,018, nilai ini menunjukkan bahwa variabel-variabel indipenden di dalam model secara simultan berpengaruh nyata terhadap nilai WTP ekosistem pertanian yang dilakukan pada taraf α = 5%. Model yang dihasilkan dalam regresi nilai WTP ekosistem pertanian Desa Bumiaji adalah sebagai berikut.
WTP = 3,339 + 0,27 Usia + 0,161 Pendidikan + 0,639 Pendapatan + 0,339 Jumlah Tanggungan - 1,849 Jenis Kelamin
Pada model di atas, variabel indipenden yang memberi pengaruh nyata adalah variabel pendapatan dan jenis kelamin. Koefisien variabel pendapatan memiliki tanda positif yang berarti bahwa semakin tinggi tingkat pendapatan responden maka tren responden untuk memberikan nilai WTP terhadap konservasi ekosistem pertanian semakin tinggi pula.
Sedangkan variabel jenis kelamin berpengaruh secara nyata pada derajat kepercayaan 95%
terhadap nilai WTP dikarenakan nilai Sig kurang dari derajat α (0,008<0,05). Variabel jenis kelamin dalam penelitian ini menggunakan variabel dummy, dimana laki-laki bernilai 1 dan perempuan bernilai 0. Nilai koefisien variabel jenis kelamin bertanda negatif, artinya
responden laki-laki memiliki nilai WTP lebih rendah sebesar 1,849 rupiah dibandingkan dengan responden perempuan.
Di samping itu, ada beberapa variabel indipenden lain yang tidak berpengaruh nyata terhadap nilai WTP ekosistem pertanian Desa Bumiaji, yaitu usia, pendidikan, dan jumlah tanggungan keluarga. Variabel usia, pendidikan, dan jumlah tanggungan keluarga tidak berpengaruh nyata terhadap nilai WTP sebab nilai Sig lebih besar dari derajat α (>0,05).
berarti bahwa pengaruh dari variabel usia terhadap tendensi responden menawarkan nilai WTP konservasi ekosistem pertanian tidak cukup signifikan.
b. Nilai Sewa Homestay
Nilai non guna (Use value) yang dihasilkan dari keberadaan objek wisata di Desa Bumiaji adalah sewa homestay. Keberadaan homestay dinilai sebagai akibat adanya kepuasan atas objek wisata maupun sumber daya alam yang sudah ada terlebih dahulu di Desa Bumiaji. Dengan demikan, nilai sewa homestay termasuk dalam kategori nilai non guna (Non use value).
Berdasarkan hasil penelitian, jumlah kamar homestay yang ada di Desa Bumiaji adalah sebanyak 24 unit. Perhitungan nilai sewa homestay menggunakan economic rent menghasilkan nilai ekonomi seperti pada Tabel 5 berikut.
Tabel 5: Nilai Keberadaan Sewa Homestay Desa Bumiaji Tahun 2020 Nilai
Keberadaan
Nilai Ekonomi (Rp/unit/tahun)
Jumlah
homestay (unit) Total (Rp)
Sewa Homestay 1.750.000 24 42.000.000
*= Jumlah sewa homestay pada tahun 2019 Sumber: Data Primer (Diolah), 2020
Nilai ekonomi yang dihasilkan per unit homestay dalam satu tahun adalah sebesar Rp 1.750.000. Berdasarkan perhitungan nilai sewa homestay dengan economic rent pada Tabel 4.14 maka diketahui bahwa total nilai keberadaan Desa Bumiaji dalam kurun waktu satu tahun adalah sebesar Rp 42.000.000.
Nilai Ekonomi Total (Total Economic Value) Desa Bumiaji
Nilai ekonomi total (Total Economic Value) Desa Bumiaji merupakan enumerasi dari unsur- unsur yang termasuk dalam nilai guna (Use value) dan nilai non guna (Non use value). Nilai ekonomi total Desa Bumiaji dapat dilihat pada Gambar 2 berikut.
Gambar 2: Nilai Ekonomi Total (Total Economic Value) Desa Bumiaji Sumber: Data Primer (Diolah), 2020
Nilai ekonomi total Desa Bumiaji sebagai salah satu desa wisata di Kota Batu dalam satu tahun diketahui sebesar Rp 70.434.686.462. Unsur sumber daya alam dan lingkungan yang memiliki nilai paling tinggi berdasarkan hasil penelitian adalah unsur pertanian, yakni dengan nilai ekonomi
sebesar Rp 64.181.835.329/tahun, kemudian disusul oleh unsur pariwisata dengan nilai ekonomi sebesar Rp 2.544.768.765/tahun. Dalam penelitian ini, unsur yang menyumbang nilai ekonomi terkecil adalah keberadaan homestay, yaitu dengan nilai ekonomi per tahun sebesar Rp 42.000.000. Sedangkan nilai lainnya dalam perhitungan unsur-unsur sumber daya alam Desa Bumiaji adalah nilai air rumah tangga sebesar Rp 384.192.000/tahun dan nilai konservasi ekosistem pertanian sebesar Rp 3.281.890.368/tahun.
Nilai pariwisata yang kalah tinggi dibandingkan nilai pertanian menunjukkan bahwa sektor penyumbang utama di Desa Bumiaji bukanlah dari wisata, melainkan dari pertanian. Hal ini disebabkan oleh masa berdirinya objek-objek wisata di Desa Bumiaji yang terhitung belum lama jika dibandingkan produksi hasil pertanian. Selain itu, data ini juga mengimplikasikan bahwa pemanfaatan sektor pariwisata desa belum optimal sehingga masyarakat Desa Bumiaji jauh lebih fokus untuk memproduksi hasil pertanian sebagai mata pencaharian mereka, seperti citra Kota Batu pada umumnya sebagai sentra penghasil produk pertanian maupun perkebunan.
Perhitungan nilai ekonomi total Desa Bumiaji pada tahun 2020 ini merefleksikan nilai manfaat sumber daya alam yang ada di Desa Bumiaji. Besar kecilnya nilai ekonomi setiap unsur tersebut dipengaruhi oleh keadaan dan fungsi ekosistem di Desa Bumiaji. Jika dibandingkan seluruh nilai yang dihasilkan Desa Bumiaji maka nilai guna memiliki angka paling besar daripada nilai non guna. Hal ini disebabkan karena masyarakat jauh lebih memperhatikan nilai-nilai ekonomi yang menghasilkan manfaat secara langsung. Oleh karena itu, penting untuk memberikan perhatian secara komprehensif terhadap keberadaan nilai-nilai ekonomi non guna agar manfaat yang diperoleh dari sumber daya alam di Desa Bumiaji bisa dirasakan dalam jangka panjang dan berkelanjutan.
E. PENUTUP Kesimpulan
Sesuai dengan analisis dan pembahasan hasil penelitian mengenai total economic value perkembangan pariwisata di Kota Batu (studi kasus di Desa Wisata Bumiaji) sehingga dapat diperoleh beberapa kesimpulan berikut ini.
1. Kondisi aktual sumber daya alam di Desa Bumiaji, khususnya ekosistem pertanian saat ini sudah mengalami penurunan kualitas. Potensi degradasi tersebut antara lain berupa penurunan jumlah sumber mata air, matinya beberapa sumber mata air kecil, dan peralihan komoditas apel menjadi komoditas pertanian lain karena kondisi tanaman sudah tidak cocok dengan kondisi ekosistem pertanian maupun suhu lingkungannya. Selain itu, kondisi secara lebih luas dari Kota batu juga menunjukkan potensi degradasi lingkungan, yaitu besarnya alih fungsi lahan pertanian dan fluktuatifnya suhu udara.
2. Nilai ekonomi total (Total economic value) Desa Bumiaji sebagai salah satu desa wisata di Kota Batu adalah sebesar Rp 70.434.686.462 per tahun. Diukur dengan beberapa metode maka dihasilkan nilai guna (Use value) Desa Bumiaji adalah sebesar Rp 67.110.796.094 dan nilai non guna (Non use value) sebesar Rp 3.323.890.368, terdiri dari nilai konservasi ekosistem pertanian sebesar Rp 3.281.890.368, dan nilai sewa homestay sebesar Rp 42.000.000.
3. Faktor-faktor yang memengaruhi manfaat dan biaya pariwisata Desa Bumiaji berdasarkan hasil penelitian adalah usia, jumlah rombongan, dan persepsi responden terhadap objek wisata.
Sedangkan faktor-faktor yang memengaruhi manfaat dan biaya konservasi ekosistem pertanian adalah tingkat pendapatan dan jenis kelamin.
4. Manfaat nilai pariwisata Desa Bumiaji masih lebih rendah daripada nilai pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan Desa Bumiaji sebagai desa wisata masih belum optimal sehingga perlu ditingkatkan lagi agar manfaatnya bisa semakin besar dirasakan wisatawan, masyarakat, maupun pemerintah.
Saran
Sesuai hasil analisis dan pembahasan penelitian ini maka menyarankan beberapa hal sebagai berikut.
1. Pemerintah
Memperbaiki kualitas lingkungan kawasan pariwisata serta dapat meningkatkan pembangunan desa wisata yang berwawasan lingkungan dengan menggalakkan kampanye pembangunan yang memadukan pelestarian alam, ekonomi, dan sosial budaya melalui program-program tertentu agar meningkatkan nilai pariwisata dan sumber daya alam lainnya tanpa mengorbankan kualitas lingkungan. Selain itu, berdasarkan hasil uji statistik nilai pariwisata menunjukkan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi besarnya biaya perjalanan adalah persepsi objek sehingga pemerintah bisa bekerjasama dengan pengelola wisata untuk mengupayakan perbaikan kualitas objek wisata agar menciptakan persepsi objek wisata yang positif bagi wisatawan dan permintaan wisata pun bisa meningkat.
2. Pengelola Wisata Desa Bumiaji
Meningkatkan peran kelompok sadar wisata dalam upaya branding desa wisata yang berwawasan lingkungan karena mengingat salah satu faktor yang memengaruhi kedatangan wisatawan adalah persepsi terhadap objek. Selain itu, pengelola Desa Bumiaji bersama masyarakat mampu bekerja sama untuk memperbaiki kualitas lingkungan desa supaya nilai ekonomi dari unsur-unsur sumber daya alam dan lingkungan bisa meningkat.
3. Pengelola Pertanian Desa Bumiaji
Berdasarkan hasil temuan kesediaan membayar petani terhadap upaya konservasi ekosistem pertanian menunjukkan bahwa tingkat pendapatan petani sangat memengaruhi besarnya WTP konservasi ekosistem pertanian. jika dilihat dari karakteristik petani, rata-rata tingkat pendapatan petani Desa Bumiaji cukup tinggi sehingga langkah yang bisa dilakukan selain meningkatkan penghasilan petani adalah dengan mengoptimalkan program-program pelestarian ekosistem desa agar kualitasnya tetap terjaga.
4. Akademisi
Penilaian total ekonomi Desa Bumiaji merupakan nilai pada tahun berjalan, yaitu tahun 2020 sehingga perlu dilakukan penelitian lanjutan secara berjangka mengenai potensi degradasi lingkungan yang lebih kompleks serta identifikasi unsur-unsur nilai ekonomi yang lebih komprehensif. Hal ini bertujuan untuk memperoleh gambaran keterkaitan antara kualitas lingkungan dan nilai ekonomi total sumber daya alam, serta unsur-unsur apa saja yang menyumbang perekonomian desa wisata di masa mendatang. Selain itu, diharapakan penelitian selanjutnya bisa menjangkau faktor-faktor sosial ekonomi lainnya yang memengaruhi nilai pariwisata maupun nilai ekosistem pertanian.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik Kota Batu. https://batukota.bps.go.id/statictable/2019/10/03/459/jumlah- penduduk-menurut-kelompok-umur-dan-jenis-kelamin-di-di-kota-batu-2018.html. Diakses pada 21 Oktober 2019.
Badan Pusat Statistik Pusat, https://www.bps.go.id/indicator/16/1160/1/jumlah-devisa-sektor- pariwisata.html. Diakses pada 10 Oktober 2019.
Bidayani, Endang. 2014. Ekonomi Sumberdaya Pesisir yang Tercemar. Malang: UB Press.
Dahlan, E.N. et al.. 2014. Pemanfaatan Sumber Daya Air Di Sub Das Lubuk Paraku Sumatera Barat. Media Konservasi. Vol. 19 (1): 30-40.
Fauzi, Akhmad. 2010. Ekonomi sumber daya alam dan lingkungan: Teori dan aplikasi. Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama.
Grandstaff, S dan Dixon, J.A.. 1991. Economic Valuation Techniques For The Environment : A Case Study Workbook. The John Hopkins University Press.
Hanley, Nick., dan Spash, Clive. L. 1993. Cost-Beneft Analysis. USA: Edward Elgar Publishers.
Helaluddin dan Wijaya, Hengki. 2019. Analisis Data Kualitatif: Sebuah Tinjauan Teori & Praktik.
Makassar: Sekolah Tinggi Theologia Jaffray.
Irawan, H, 2004. Indonesian Customer Satisfaction: Membedah Stategi Kepuasan Pelanggan Merek Pemenang ICSA. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Kota Batu dalam Angka 2010-2019
Limbong, Ferncius & Soetomo, Sugiono. 2014. Dampak Perkembangan Pariwisata terhadap Lingkungan Taman Nasional Karimunjawa. Jurnal Ruang. Vol. 2 (1): 351-360.
Morissan. 2016. Metode penelitian Survei. Jakarta: Penerbit Kencana.
NiedzIółka, Iwona. 2012. Sustainable Tourism Development. Regional Formation and Development Studies. Vol. 8 (3): 157-166.
Parmawati, Rita. 2019. Valuasi Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan Menuju Ekonomi Hijau. Malang: UB Press.
Purwanto, Sulis. 2018. Ekowisata sebagai Upaya Pengelolaan Pariwisata Berkelanjutan (Studi Kasus Desa Wisata Pancoh, Girikerto, Turi, Sleman). Prosiding Peran Geografi Dalam Pengelolaan Sumberdaya Wilayah NKRI Di Era Teknologi. Yogyakarta: Badan Penerbit Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada.
Ruminta dan Handoko. 2011. Kajian Risiko dan Adaptasi Perubahan Iklim pada Sektor Pertanian di Malang Raya. Laporan Penelitian. KLH Jakarta.
RPJMD Kota Batu 2017-2022
Saarinen, Jarkko. 2001. The transformation of a tourist destination – theory and case studies on the production of local geographies in tourism in Finnish Lapland. Nordia Geographical Publications. Vol. 30 (1).
Sangadji, Etta dan Sopiah. 2010. Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Penerbit ANDI.
Simanungkalit, Br Br. Victoria, et al. 2017. Buku Panduan Pengembangan Desa Wisata Hijau.
Asisten Deputi Urusan Ketenagalistrikan dan Aneka Usaha. Jakarta.
Suparmoko. 2009. Panduan dan Analisis Valuasi Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan.
Yogyakarta: BPFE UGM.
Suparmoko dan Maria. 2000. Ekonomika Lingkungan. Yogyakarta: BPFE.
Susyanti, D.W. dan Latianingsih, N.. 2014. Potensi Desa melalui Pariwisata Pedesaan. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Humaniora EPIGRAM. Vol. 11 (1): 65-69.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.
Wahyuni, Yuyun et al.. 2013. Valuasi Total Ekonomi Hutan Mangrove di Kawasan Delta Mahakam Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea. Vol. 3 (1): 1-12.
WALHI JATIM. 2014. http://walhijatim.or.id/2014/05/krisis-air-picu-konflik-ekologi-dan-sosial- masyarakat/. Diakses pada 7 Desember 2019.
World Travel and Tourism Council. 2019. https://www.wttc.org/-/media/files/reports/economic- impact-research/regions-2019/world2019.pdf. Diakses pada 10 Oktober 2019.