• Tidak ada hasil yang ditemukan

perlindungan hukum terhadap konsumen dalam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "perlindungan hukum terhadap konsumen dalam"

Copied!
118
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Identifikasi Masalah

Kurangnya pemahaman terhadap UU No. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan untuk perlindungan konsumen terkait pemadaman listrik. Kurangnya informasi yang diperoleh masyarakat sebagai konsumen listrik terkait dengan perencanaan pelaksanaan pemadaman listrik di kabupaten Ketahun.

Batasan Masalah

Rumusan Masalah

Tujuan Dan Kegunaan Penelitian

Sistematika Pembahasan

KERANGKA TEORI

Pengertian Konsumen dan Hukum Perlindungan Konsumen

Dalam Rancangan Akademik UU Perlindungan Konsumen yang disusun oleh Fakultas Hukum Universitas Indonesia, hak-hak konsumen terdiri dari:32. Kesepuluh hak konsumen yang merupakan kumpulan dari berbagai pendapat di atas hampir semuanya sama dengan hak konsumen yang dirumuskan dalam Pasal 4 Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Untuk menyeimbangkan hak dan kewajiban, Undang-Undang Perlindungan Konsumen juga memuat kewajiban konsumen yang tercantum dalam Pasal 5, yaitu:

Sedangkan penelitian yang saya bahas berkaitan dengan bentuk perlindungan hukum terhadap konsumen terkait pemadaman listrik di kabupaten Ketahun, bagaimana implementasi undang-undang no. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan untuk Perlindungan Konsumen. Selain itu konsumen berhak menerima ganti rugi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya, hal ini diatur dalam pasal 4 huruf h 8 tahun 1999. mengenai Perlindungan Konsumen. Selain melanggar beberapa pasal Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, ia juga melanggar Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

PLN dapat menyelesaikan perselisihan melalui pengadilan atau di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Dilihat dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Pasal 19 ayat. ... Perlindungan hukum terhadap konsumen di Kecamatan Ketahun sejalan dengan Undang-Undang Perlindungan Konsumen No. 8 Tahun 1999 dimana masyarakat mendapatkan haknya yaitu berupa informasi yang jelas mengenai jadwal pemadaman listrik yang disebabkan oleh gangguan kerusakan trafo. atau gardu induk yang dikomunikasikan melalui Media Sosial.

Asas, Tujuan dan Manfaat dan Prinsip Perlindungan Hukum Konsumen

Hak dan Kewajiban Konsumen

Sedangkan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia mengusulkan hak-hak konsumen menjadi lima hak konsumen yang terdiri dari:31. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa, serta memperoleh barang dan/atau jasa sesuai dengan nilai tukar dan kondisi, serta jaminan yang dijanjikan. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur ​​mengenai kondisi dan jaminan suatu barang dan/atau jasa.

Hak untuk menerima ganti rugi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. Terlepas dari berbagai rumusan hak-hak konsumen yang dikemukakan, secara umum dapat dibedakan menjadi tiga hak yang menjadi asas dasar, yaitu: 36. Membaca atau mengikuti informasi petunjuk dan tata cara penggunaan atau pemanfaatan barang dan/atau jasa. demi alasan keselamatan dan keamanan.

Penting bagi konsumen untuk membaca atau mengikuti petunjuk dan tata cara penggunaan atau penggunaan barang dan/atau jasa demi keselamatan dan keamanan. , namun konsumen tidak membaca peringatan yang dikirimkan kepadanya.

Penyelesaian Sengketa

Menurut Rachmadi Usman, pasal 6 undang-undang nomor 30 tahun 1999 mengatur pilihan penyelesaian sengketa melalui musyawarah para pihak yang bersengketa. Tugas pengadilan adalah menyelesaikan perselisihan yang timbul dan pada akhirnya mengambil keputusan yang seadil-adilnya (konstitutif).42 Menurut Pasal 48 UU Perlindungan Konsumen, penyelesaian mengacu pada perselisihan konsumen melalui pengadilan dan ketentuan-ketentuan terkait dengan peradilan umum. . Pasal 45 ayat (1) UUPK berbunyi “Setiap konsumen yang dirugikan dapat menyelesaikan perselisihan antara konsumen dan pelaku usaha atau melalui pengadilan yang berada dalam lingkungan peradilan umum.” Penyelesaian perselisihan konsumen dapat dilakukan melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan keputusan sukarela, pilihan para pihak yang bersengketa”.

Sesuai dengan ketentuan tersebut, maka penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan dapat dilakukan masing-masing dengan dua cara. Jadi, mengikuti ketentuan undang-undang no. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, sehubungan dengan penyelesaian sengketa konsumen ini, cara penyelesaian sengketa di luar pengadilan dapat berupa konsultasi, perundingan, mediasi, konsiliasi atau ahli. pertimbangan. Dengan adanya konsultasi atau perundingan maka terjadilah proses perundingan untuk mencapai kesepakatan dalam menyelesaikan sengketa konsumen yang terjadi antara pelaku usaha dengan konsumen.

Penyelesaian sengketa melalui BPSK diawali dengan permohonan atau pengaduan korban, baik tertulis maupun tidak tertulis, atas kejadian yang menimbulkan kerugian bagi konsumen.

Hak dan Kewajiban Masyarakat, Pelanggan/Konsumen Listrik Menurut

- Tindakan merugikan ini dapat dihindari jika masing-masing pihak memahami dengan tepat apa hak dan kewajibannya. Untuk itu alangkah baiknya jika setiap konsumen listrik benar-benar mengetahui dan memahami hak dan kewajiban konsumen listrik. Undang-Undang Ketenagalistrikan secara jelas mengatur hak dan kewajiban masyarakat dan konsumen tenaga listrik.

Hak dan kewajiban serta tanggung jawab para pihak diatur dalam peraturan pemerintah yang berlaku yaitu Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2012 tentang Kegiatan Ekonomi Penyediaan Tenaga Listrik. Selain itu, hal ini juga ditegaskan dalam Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 02.P/451/M.PE/1991 tentang hubungan antara pemegang izin untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan tenaga listrik untuk kepentingan umum dan kepentingan masyarakat. juga apa saja hak dan kewajiban masyarakat dan pihak yang diatur dalam Pasal 4 dan 5 yang berbunyi. Tenaga listrik yang disediakan oleh penyelenggara usaha ketenagalistrikan dan pemegang izin ketenagalistrikan untuk kepentingan umum harus disediakan menurut baku mutu dan keandalan yang ditetapkan oleh menteri yang bertanggung jawab di bidang pertambangan dan energi, berdasarkan persetujuan Dewan Nasional Ketenagalistrikan. Standardisasi.

Selain itu, untuk menjamin perlindungan bagi pelanggan, instalasi listrik harus memenuhi Standar Ketenagalistrikan Indonesia, karena listrik mempunyai resiko bahaya yang cukup tinggi.

Landasan Teori

Kesetaraan di hadapan hukum berarti setiap warga negara harus diperlakukan secara adil oleh penegak hukum dan pemerintah. Jika tidak ada unsur kepastian dalam hukum, maka hukum tidak akan ditaati karena setiap orang tidak mempunyai kendali atas perilakunya sendiri. Ubi jus incertum, ibi jus nullum (tidak ada kepastian hukum, maka tidak ada hukum).56 Menurut Hakim Mertokusumo, kepastian hukum merupakan salah satu bentuk perlindungan yang diperlukan.

Dengan adanya kepastian hukum tersebut dapat menjaga ketertiban dan menjamin keselamatan masyarakat.57 Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kepastian hukum itu sendiri merupakan suatu jaminan yang menyatakan bahwa hukum harus diterapkan secara tepat dan aman. Tanpa adanya kepastian hukum, masyarakat tidak mengetahui apa yang harus dilakukan dan akan sulit mencapai keputusan akhir dan pada akhirnya akan timbul kegelisahan akibat ketidakpastian hukum. Dengan adanya kepastian hukum maka akan ada harapan bagi semua pihak yang ingin bertindak adil terhadap tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh aparat penegak hukum dimana aparat penegak hukum tidak menjalankan hak dan kewajiban serta tugasnya dengan baik.

Apalagi dengan adanya kepastian hukum ini maka masyarakat akan mengetahui kejelasan hak dan kewajibannya masing-masing menurut hukum dan masyarakat akan mengetahui benar atau salahnya suatu perbuatan, akan mempunyai akibat hukum yang pasti, apapun subjek atau objeknya.

Penelitian Yang Relevan

PLN (Persero) Rayon Kudus Kota (Studi Pada Jenis Konsumen Uninformed) 59 Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah pelaksanaan perencanaan pemadaman listrik untuk keperluan pemeliharaan jaringan sudah sesuai dengan standar operasional yang berlaku, bagaimana hukumnya? perlindungan hak konsumen tenaga listrik apabila terjadi pemadaman listrik akibat pemeliharaan jaringan. Perlindungan Hukum Konsumen Terhadap Padamnya Listrik di Kota Palembang 60 Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana perlindungan hukum yang diberikan kepada konsumen PLN apabila terjadi pemadaman listrik di Kota Palembang dan upaya hukum bagi pelanggan atau konsumen PLN terhadap padamnya listrik di Kota Palembang. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perlindungan hukum terhadap konsumen tenaga listrik di kota palembang telah merugikan konsumen, oleh karena itu pengurangan yang diberikan PLN kepada konsumen belum memenuhi ketentuan ganti rugi sebagaimana diatur dalam UU No.

Upaya hukum yang dapat dilakukan sehubungan dengan penyelesaian sengketa konsumen tenaga listrik dilakukan di pengadilan dan di luar pengadilan.

Kerangka Pikir

PLN (Persero) untuk pelayanan ketenagalistrikan bagi masyarakat yang meliputi ketersediaan tenaga listrik bagi masyarakat, pelayanan ketenagalistrikan bagi masyarakat, serta penetapan tarif dasar tenaga listrik.

METODE PENELITIAN

  • Populasi Dan Sampel Penelitian
  • Lokasi Penelitian
  • Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Teknik Analisis Data

PLN (Persero) Rayon Arga Makmur Ketahun Keamanan kantor dan tempat usaha mengalami kerugian akibat pemadaman listrik. Undang-undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan § 29 ayat Pasal 1 huruf e menyatakan hak konsumen tenaga listrik untuk menerima ganti rugi atas pemadaman tenaga listrik yang terjadi karena kesalahan dan/atau kelalaian dalam pengoperasiannya oleh pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik sesuai dengan syarat-syarat yang tercantum dalam perjanjian jual beli tenaga listrik. aku. Terkait ganti rugi, sebagian besar pelanggan listrik belum mengetahui bahwa dirinya berhak menerima ganti rugi jika terjadi pemadaman listrik yang melanggar TMP.

Mengenai bentuk pertanggungjawaban jika terjadi pemadaman listrik, ada yaitu berupa ganti rugi berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan. Perlu adanya perlindungan hukum terhadap konsumen listrik, terutama apabila terjadi pemadaman listrik yang dapat merugikan konsumen. Apabila terjadi pemadaman listrik yang menimbulkan kerugian bagi konsumen, maka konsumen tentunya berhak mendapatkan ganti rugi apabila terjadi pemadaman listrik yang disebabkan oleh kesalahan dan/atau kelalaian dalam pengoperasian pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. .30, ayat Tahun 2009 tentang ketenagalistrikan Pasal 29 par. 1, huruf e.

Cara PLN mengatasi pemadaman listrik di Kabupaten Ketahun.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pembahasan

  • Perlindungan hukum terhadap konsumen terkait pemadaman listrik di
  • Faktor-faktor penyebab terjadinya pemadaman listrik di Kecamatan
  • Upaya-upaya apa saja yang di lakukan pihak PLN dalam mengatasi

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, perlindungan hukum terhadap konsumen pengguna tenaga listrik dapat dilihat pada penerapan Pasal 4, Pasal 6, dan Pasal 7. Jelas tindakan tersebut tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 4 huruf d Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1, yang menyatakan bahwa “konsumen mempunyai hak untuk didengar pendapat dan pengaduannya mengenai barang dan/atau jasa yang digunakan. 78. Berdasarkan Pasal 6 huruf a Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Dalam hal perlindungan konsumen, pelaku usaha wajib menerima pembayaran sesuai kesepakatan mengenai syarat dan nilai tukar barang dan jasa, namun hak ini tidak diketahui oleh sebagian besar pelanggan.

PLN cenderung menentang kebijakan yang tertuang dalam Pasal 4 huruf h Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999. Menurut Pasal 6 huruf a Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, pelaku usaha wajib menerima pembayaran sesuai dengan perjanjian mengenai syarat dan nilai tukar barang dan jasa yang diperdagangkan. Bagi konsumen pengguna tenaga listrik, kewajiban dan haknya diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, Pasal 29 ayat (1) dan (2).

PLN (Persero) harus menjamin pasokan listrik secara maksimal yang dapat memenuhi hak dan kewajiban konsumen agar tidak ada lagi keluhan pemadaman listrik dari pengguna listrik khususnya di Kecamatan Ketahun.

PENUTUP

Saran

Konsumen harus berperan aktif untuk memperoleh hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur ​​serta hak untuk menerima kompensasi atau kompensasi dari perjanjian yang disepakati antara pelaku usaha dan konsumen. Program Studi Hukum Universitas Islam Indonesia, Perlindungan Hukum Bagi Pelanggan Listrik/Konsumen Pelayanan Ketenagalistrikan (Studi Kasus Syafruddin, dkk v. PT.PLN Cabang Palembang).

Referensi

Dokumen terkait

The result of the study revealed two findings, namely: (1) the process and activities during the teaching and learning process during the pandemic in Aura Sukma Insani