Menetapkan : PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN TENTANG PENETAPAN BATAS SUNGAI DAN BATAS LAUT. Garis batas sungai adalah garis maya di sebelah kiri dan kanan dasar sungai yang ditetapkan sebagai batas perlindungan sungai. Bidang pengaturan yang ditetapkan dalam peraturan menteri ini terdiri atas: penetapan garis batas sungai, garis batas laut, termasuk mata air;
Kriteria Penetapan Garis Batas Pasal 4. 1) Batas sungai meliputi ruang di kiri dan kanan dasar sungai antara garis batas dan tepi dasar sungai untuk sungai yang tidak memiliki tanggul, atau antara garis batas dan tepi luar sungai. kaki tanggul untuk sungai yang mempunyai tanggul. Garis batas tanggul sungai di kawasan perkotaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat 2 huruf c ditentukan paling sedikit 3 (tiga) meter dari tepi luar kaki tanggul sepanjang alur sungai. Untuk tanggul sungai di luar kawasan terbangun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat 2 huruf d, garis tanggul ditentukan paling sedikit 5 (lima) meter dari tepi luar kaki tanggul sepanjang sungai. saluran.
Penetapan garis batas sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat 2 huruf e dilakukan dengan cara yang sama seperti penetapan garis batas sungai sesuai dengan Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7 dan Pasal 8, dimana rata-rata yang diukur dari tepi permukaan air adalah pasang surut. Garis batas mata air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat 2 huruf f ditetapkan mengelilingi mata air paling sedikit 200 (dua ratus) meter dari pusat mata air. Menteri, gubernur, bupati/walikota wajib menetapkan garis batas sungai dan garis batas danau di wilayah hukumnya dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun sejak tanggal berlakunya Peraturan Menteri ini.
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 63/PRT/M/1993 tentang Garis Batas Sungai, Daerah Tepian Sungai, Daerah Penguasaan Sungai, dan Bekas Sungai dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
BASUKI HADIMULJONO Diundangkan di Jakarta
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
PENDAHULUAN
Umum
Tepian sungai melindungi sungai dari gerusan, erosi dan polusi, serta memiliki keanekaragaman hayati dan nilai properti/keindahan lanskap yang tinggi. Batas sungai meliputi ruang di kiri dan kanan dasar sungai antara garis batas dan tepi dasar sungai untuk sungai yang tidak memiliki tanggul, atau antara garis batas dan tepi luar dasar tanggul untuk sungai yang memiliki tanggul. Garis batas sungai harus menerus (streamline), tidak terputus-putus dan mengikuti alur sungai, pada jarak yang aman dari tepi dasar sungai.
Batas sungai pada kawasan pemukiman atau perkotaan dapat diperluas secara fungsional menjadi ruang terbuka hijau perkotaan yang bertransisi menjadi ruang publik. Dalam penentuan garis batas sungai, selain memperhatikan ciri geomorfologi sungai, juga perlu memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat setempat serta kelancaran kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan sungai. Khusus pada lokasi yang terdapat pembangunan/infrastruktur sungai, harus tersedia jalan akses dan ruang untuk pengoperasian dan pemeliharaan infrastruktur tersebut.
Untuk melindungi batas fungsi sungai dari penggunaan lain, pengaturan pemanfaatan sempadan sungai dilakukan dengan menetapkan batas sempadan sungai dengan rambu dan/atau pin sempadan sungai.
Tahapan Penyusunan Kajian Penetapan Garis Sempadan Sungai Penyusunan kajian penetapan sempadan sungai dilakukan melalui
Untuk mencapai tujuan ini, batas-batas sungai harus diberi prioritas yang lebih besar dalam penentuannya, dengan jarak batas yang lebih jauh, disesuaikan dengan kebutuhan ruang untuk perlindungan keanekaragaman hayati. Batas sungai pada bagian ini harus segera mendapat prioritas karena terdapat rencana perubahan ukuran dasar sungai, terutama untuk mengantisipasi debit banjir tertentu yang direncanakan. Bentangan sungai yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi harus dilestarikan dan dilindungi agar jumlahnya tidak berkurang atau punah.
Pemetaan topografi, antara lain, aktiviti pemetaan keratan rentas sungai, keratan longitudinal sungai, dan gambar terperinci keadaan di sekitar bahagian sungai yang akan ditetapkan sempadannya. Perincian data yang diperlukan pada peringkat ini termasuk bilangan bangunan dalam sempadan sungai, jenis bangunan dalam sempadan sungai yang telah digunakan untuk kemudahan bandar, bangunan, jalan raya atau kemudahan awam lain. Bagi sesetengah jenis sungai dan/atau bahagian sungai tertentu, pinggir dasar sungai mesti ditentukan dengan tepat.
Pada bentangan sungai tertentu seringkali tidak mudah untuk menentukan tepi dasar sungai karena penampangnya sangat landai atau membentuk lengkungan yang cembung. Untuk menentukan tepi dasar sungai pada bagian sungai ini, perlu dibuat bidang mendatar yang menyentuh atau memotong bidang lengkung tepi sungai. Pada beberapa bagian hilir sungai aluvial dengan kemiringan memanjang yang sangat landai, sering ditemukan dasar sungai yang sangat lebar dengan banyak palung kecil di dalamnya tanpa saluran utama.
Mengenai kondisi ruas sungai ini, penentuan tepi dasar sungai dilakukan dengan membuat perkiraan tinggi muka air pada debit dominan (Q2 – Q5) dan tinggi muka air pada banjir yang terjadi. Dalam menentukan batas perlu dipertimbangkan kemungkinan penambahan bendungan dengan cara memperlebar lebarnya, sehingga tepi luar kaki bendungan juga ikut bergeser ke luar, sehingga batas sungai disesuaikan dengan rencana debit bendungan di atasnya. , seperti dapat dilihat pada gambar 3 dibawah ini. Mengingat fungsi lahan basah mirip dengan fungsi sempadan, sebenarnya lebih lengkap lagi, mempunyai fungsi memurnikan/menetralkan zat-zat pencemar, dan sempadan sungai di negara bagian ini tidak perlu lagi ditentukan.
Namun jika diperkirakan lahan basah ini akan menyusut atau hilang dalam waktu yang tidak terlalu lama, maka harus ditetapkan batas sungai yaitu di pinggir lahan basah yang dimaksud, seperti terlihat pada Gambar 8 di bawah ini. . Setelah batas sungai ditentukan, kemungkinan untuk memperoleh lahan di batas sungai juga harus dijajaki, beserta perkiraan biayanya. Tanda batas sungai merupakan indikasi batas batas sungai dan Tim Kajian Penetapan Garis Batas Sungai telah menerjemahkannya ke dalam gambar atau peta topografi dengan skala yang jelas.
Tiang-tiang tersebut terbuat dari kayu atau beton dan/atau bahan lain sebagai pembatas terluar setiap 50 (lima puluh) meter pada bagian sungai yang lurus atau disesuaikan dengan kondisi kelok-kelok sungai dan lingkungan setempat bagian sungai tersebut. Mengusulkan garis batas sungai kepada Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya untuk menetapkan.
Tahapan Penyusunan Kajian Penetapan Garis Sempadan
Untuk itu, batas danau harus mendapat prioritas dalam penetapan batas dengan jarak batas yang lebih luas, disesuaikan dengan kebutuhan tata ruang untuk melindungi keanekaragaman hayati ekosistem danau. Danau yang mempunyai keanekaragaman hayati yang tinggi harus dijaga dan dilindungi agar jumlahnya tidak berkurang atau hilang. Tim kajian demarkasi danau terdiri dari tim pengelolaan, tim sumber daya, dan tim teknis/implementasi.
Pemetaan topografi, termasuk potongan melintang dan membujur tepi danau, serta gambaran detail situasi di sekitar tepi danau, dimana batas-batasnya akan ditentukan. Informasi rinci yang diperlukan pada tahap ini meliputi, namun tidak terbatas pada, jumlah bangunan yang berada di dalam batas danau, jenis bangunan yang berada di dalam batas danau yang telah digunakan untuk fasilitas perkotaan, gedung, jalan atau fasilitas umum lainnya. . Dengan ketinggian tersebut, keberadaan telaga tersebut tidak mungkin hilang asalkan ada catatan ketinggian air dan/atau pengamatan masyarakat mengenai ketinggian tersebut, meskipun telaga yang bersangkutan telah mati.
Dalam hal pulau di tengah danau, maka seluruh luas pulau tersebut merupakan cekungan danau termasuk batas danau. Yang dimaksud dengan litoral adalah perairan dangkal di sekitar bibir pantai danau yang secara alami ditumbuhi tumbuhan dan berfungsi sebagai tempat bertelur, menetas, dan tumbuhnya biota air (flora dan fauna) danau. Garis batas danau ditetapkan di sekeliling danau dengan jarak minimal 50 (lima puluh) meter dari tepi muka air tertinggi yang pernah terjadi.
Setelah garis batas danau telah ditentukan, perlu juga dijajaki kemungkinan pengadaan tanah di batas danau tersebut, beserta perkiraan biaya yang diperlukan untuk hal tersebut. Penyelesaian pengurusan pengadaan tanah dan penetapan marka batas danau dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengamanan dan penguatan hak atas tanah. Marka batas danau merupakan tanda garis batas danau dan Tim Kajian Penetapan Garis Batas Danau telah menerjemahkannya ke dalam gambar atau peta topografi dengan skala yang jelas.
Jarak antar penampang tepi danau adalah 50 (lima puluh) meter atau sesuai dengan kondisi kelok tepi danau dan lingkungan setempat; Tiang-tiangnya terbuat dari kayu atau beton dan/atau bahan lain sebagai pembatas luar pembatas setiap 50 (lima puluh) meter pada tepi lurus danau atau sesuai dengan kondisi lengkung tepi danau dan lingkungan setempat di tepinya. dari lebih banyak lagi. Apabila belum memungkinkan untuk memasang pos, dapat dipasang terlebih dahulu papan pengumuman/peringatan yang memuat pemberitahuan mengenai batas danau.