Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan mendeskripsikan persepsi civitas akademika terhadap implementasi kebijakan kampus yaitu kawasan tanpa rokok. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, subjek penelitiannya adalah orang-orang yang dapat memberikan informasi terkait dengan hal yang diteliti, objek penelitiannya adalah civitas akademika di lingkungan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Latar Belakang
Bagi sebagian orang yang bukan perokok, dan dalam hal ini perokok pasif, tentunya ada manfaat dari larangan merokok. Perbedaan persepsi masyarakat terhadap adanya larangan merokok menarik perhatian peneliti untuk mengetahui lebih jauh persepsi yang muncul antara dosen dan dosen.
Rumusan Masalah
Untuk mengetahui penyebab civitas akademika masih belum menaati kebijakan kampus bebas rokok (KBR) Universitas Muhammadiyah Makassar. Dapat dikatakan kesinambungan teori dengan permasalahan adalah permasalahan yang diangkat yaitu bagaimana persepsi civitas akademika dalam melaksanakan kebijakan pimpinan Universitas Muhammadiyah Makassar. Larangan merokok dalam proses belajar mengajar dalam hal ini di lingkungan kampus sudah banyak diterapkan oleh perguruan tinggi lain di Indonesia, namun di Universitas Muhammadiyah Makassar yang baru saja memberlakukan larangan merokok di lingkungan kampus sudah banyak diterapkan. pendapat dari guru dan siswa.
Penelitian ini berkaitan dengan persepsi dosen dan mahasiswa mengenai larangan merokok di kampus Universitas Muhammadiyah Makassar. Penelitian ini fokus pada Universitas Muhammadiyah Makassar, untuk mengetahui bagaimana persepsi dosen dan mahasiswa terhadap larangan merokok di lingkungan kampus, dengan studi kasus kebijakan pimpinan Universitas Muhammadiyah Makassar. fakta tersebut, lokasi ini dianggap penting untuk tujuan penelitian. Universitas Muhammadiyah Makassar atau biasa dikenal dengan Unismuh Makassar merupakan salah satu perguruan tinggi muhammadiyah yang merupakan ikhtiar amal muhammadiyah dalam pengembangan pendidikan khususnya pada jenjang pendidikan tinggi.
Universitas Muhammadiyah Makassar kini telah menjadi kampus yang memiliki daya tarik tersendiri di masyarakat.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Penelitian ini akan memberikan sumbangsih ilmu pengetahuan bagi Universitas Muhammadiyah Makassar dan perkembangan ilmu-ilmu sosial pada umumnya dan sosiologi pada khususnya serta sebagai bahan referensi bagi peneliti yang tertarik untuk membahas persepsi dosen dan mahasiswa mengenai larangan merokok di lingkungan kampus.
Defenisi Operasiona
Dari berbagai persepsi yang diberikan, civitas akademika rata-rata menyimpulkan bahwa kebijakan ini bisa memberikan dampak yang baik. JUDUL : “PERSEPSI WARGA AKADEMIK TERHADAP KAMPUS PA DYSHAN (KBR) (STUDI KEBIJAKAN PARA PEMIMPIN UNIVERSITAS MAKASSAR MUHAMMADIYAH)”.
TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA KONSEP
Kajian Pustaka
- Definisi Persepsi
- Civitas Akademika
- Pengertian Kebijakan
- Pengertian Rokok
- Teori Sebagai Unit Analisis
Terdapat kontroversi yang beredar, seperti yang kita lihat, rata-rata civitas akademika yang tidak setuju dengan kebijakan ini adalah masyarakat yang kurang beruntung atau bukan perokok aktif, dan sebaliknya masyarakat yang menolak kebijakan ini adalah masyarakat yang tidak merokok. tidak bisa menghentikan diri mereka sendiri. dari merokok di tempat yang telah disarankan untuk tidak merokok. Menelaah kembali apa yang disampaikan oleh saudara YF dengan menyediakan ruangan bebas rokok, hal ini akan meminimalisir civitas akademika yang merokok di lingkungan kampus, dengan kata lain tidak ada lagi alasan untuk merokok di sembarang tempat karena memang disediakan tempat khusus untuk merokok. Persepsi tersebut tidak hanya bergulir begitu saja, namun ada beberapa alasan mengapa civitas akademika menentang kebijakan tersebut, yaitu dari aspek kebiasaan yang tidak bisa dihentikan atau langsung dipaksa untuk tidak merokok.
Pembentukan lembaga pengawas, untuk mengefektifkan peraturan yang ditetapkan suatu tempat, dengan kata lain gugus tugas yang telah dibentuk, harus benar-benar bekerja ekstra keras untuk meminimalisir civitas akademika yang terus mengabaikan hal tersebut. Yang pertama : civitas akademika yang mengetahui tentang aturan tersebut, kemudian tidak mengikuti apa yang telah dibuat, merupakan masyarakat yang tidak mau menaati aturan tersebut, dengan kata lain aturan yang dibuat dimaknai bahwa aturan tersebut tidak benar. atau mereka tidak setuju dengan peraturan yang dibuat oleh pimpinan. Dalam mengkaji suatu permasalahan, jika kita kaitkan dengan persepsi mengapa para akademisi tetap merokok padahal mereka sudah melihat kebijakan atau aturan larangan merokok di kampus, yang sejalan dengan apa yang peneliti bahas, maka kita bisa mengatakan bagaimana seharusnya seseorang mengungkapkannya. berpendapat dan terbuka satu sama lain apabila mempunyai persepsi yang sesuai dengan apa yang mereka rasakan.
Saling menghargai perbedaan antar civitas akademika di kampus.
Penelitian Relevan
Kerangka Konsep
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Cara kerjanya adalah pengetahuan tentang langkah-langkah yang sistematis dan logis dalam upaya mencari data yang berkaitan dengan masalah penelitian untuk keperluan pengolahan, analisis, mempertimbangkan masalah penelitian untuk keperluan pengolahan, analisis, inferensi dan kemudian mencari solusi. Menurut Prof. dr. Sugiyona (2012:9) metode penelitian dengan pendekatan kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan filsafat postpositivisme dan digunakan untuk menyelidiki keadaan benda-benda alam (sebagai lawan eksperimen), dimana peneliti sebagai instrumen kuncinya, teknik pengumpulan data dilakukan keluar triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan temuan penelitian lebih menekankan makna daripada generalisasi. Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data tidak berpedoman pada teori, melainkan berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan.
Oleh karena itu, analisis data yang dilakukan bersifat induktif berdasarkan fakta yang ditemukan kemudian dapat dikonstruksikan menjadi hipotesis dan teori. Penelitian kualitatif mensyaratkan adanya batasan-batasan yang ditetapkan dalam penelitian berdasarkan fokus yang muncul sebagai permasalahan dalam penelitian.
Lokus Penelitian
Informan Penelitian
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuannya agar peneliti memperoleh informasi yang akurat dan benar-benar memenuhi syarat karena informan mengetahui secara lengkap tentang bidang atau daerah penelitian. Informan kunci, yaitu mereka yang mengetahui dan mempunyai informasi utama yang diperlukan dalam penelitian. Informan tambahan yaitu mereka yang dapat memberikan informasi meskipun tidak terlibat langsung dalam interaksi sosial yang diteliti (Hendarso dalam Suyanto.
Purposive sampling adalah pemilihan informan bukan berdasarkan strata, jabatan, arahan atau wilayah, melainkan berdasarkan tujuan dan pertimbangan tertentu yang masih berkaitan dengan masalah penelitian. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuannya adalah agar peneliti mendapatkan informasi yang akurat dan benar-benar memenuhi syarat, karena informan mengetahui sepenuhnya bidang atau bidang penelitian.
Fokus Penelitian
Instrumen Penelitian
Jenis dan sumber data penelitian
Untuk melengkapi data, dilakukan wawancara langsung dan mendalam dengan berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebagai alat pengumpulan data. Data diperoleh dari hasil penelitian yang relevan dan data tidak diperoleh langsung dari responden, melainkan diperoleh dengan menggunakan dokumen-dokumen yang erat kaitannya dengan pembahasan.
Teknik Pengumpulan Data
Carilah data beberapa hal, baik berupa catatan tentang judul penulis dan masukan dari responden atau catatan lain yang berkaitan dengan masalah yang ingin diteliti oleh peneliti. Metode ini digunakan sebagai pelengkap dalam perolehan data, tidak lebih dari sekedar memperkuat keandalan data yang diperoleh. Observasi yang dimaksud adalah pengumpulan data yang melibatkan interaksi sosial antara peneliti dengan subjek penelitian dan informan dalam suatu lingkungan, dalam pengumpulan data hendaknya dilakukan secara sistematis tanpa memposisikan diri sebagai peneliti.
Analisis data
- Teknik Keabsahan Data
Selain itu, para pedagang atau kantin juga harus berhati-hati untuk tidak menjual rokok di tempat yang dilarang merokok, dengan kata lain civitas akademika yang ingin merokok di lingkungan kampus dan tidak mendapatkan pedagang yang menjual rokok akan diminimalkan. Informan di atas menjelaskan kepada kami bahwa selain civitas akademika yang harus mengikuti kebijakan yang diambil kampus, para pedagang yang menjualnya juga harus ikut serta dalam optimalisasi kebijakan tersebut. Konsumen dan pengedar harus saling bekerjasama untuk mengoptimalkan kebijakan ini, namun civitas akademika dan pedagang dalam hal ini harus saling menjaga agar tidak saling terbuka dalam menjual atau membeli rokok di kampus.
Dari penelitian yang dilakukan mengenai adanya kebijakan kampus mengenai larangan merokok di kawasan kampus atau kampus bebas asap rokok “KBR”, yang mengarah pada persepsi civitas akademika terhadap kawasan bebas rokok dan mengapa civitas akademika tetap merokok walaupun sudah tidak merokok. telah melihat dan mengetahui jika ini dan masih merokok, mereka mendapatkan titik tengahnya yaitu. Para civitas akademika yang mendukung dan menentang kebijakan ini memiliki pandangan yang berbeda-beda, baik dari sisi kesehatan, hingga budaya merokok yang tidak boleh mereka tinggalkan.
GAMBARAN DAN HISTORIS LOKASI PENELITIAN
Deskripsi Umum Objek Penelitian
- Letak Geografis Universitas Muhammadiyah Makassar
- Merokok Yang Tidak Dapat di Hilangkan
- Aturan yang tidak berpihak kepada semua pihak
- Kesesuaian Masalah Dengan Teori Sebagai Unit Analisis
- Interpretasi Hasil Penelitian
Cukup banyak reaksi atau persepsi dari civitas akademika yang menyetujui atau pro terhadap aturan ini, namun civitas akademika yang menentang kebijakan ini sebenarnya adalah civitas akademika yang tidak merokok, walaupun pada dasarnya ada beberapa civitas akademika. yang merokok dan menentang kebijakan ini. Dari berbagai pernyataan responden bahwa pengawasan yang kurang ketat terhadap aturan tersebut, padahal civitas akademika yang merokok di lingkungan kampus sebenarnya enggan untuk merokok di kampus atau masih enggan untuk merokok, karena sudah mengetahuinya. secara teoritis, aturan KBR kampus bebas asap rokok telah dilaksanakan. Namun pengawasan terhadap peraturan tersebut kurang, sehingga civitas akademika hanya merasa was-was dengan berlakunya peraturan tersebut.Dengan kata lain civitas akademika menengok ke belakang, pada pembentukan kebijakan ini, hingga saat ini belum ada yang mendapat sanksi yang tegas, yang pada dasarnya para akademisi yang hanya paham secara teori saja merasa patah semangat ketika ingin merokok di kampus.
Para pedagang kaki lima di kantin Universitas Muhammadiyah Makassar menjadi salah satu faktor mengapa civitas akademika masih merokok, karena mereka berjualan rokok di kawasan tanpa rokok, padahal dalam tahap sosialisasi kebijakan tersebut sudah diimbau kepada seluruh pedagang di kawasan tersebut. Kampus tidak boleh mempromosikan rokok karena akan mengganggu stabilitas kebijakan. Dalam hal ini, para sivitas akademika yang masih merokok di kampus pada umumnya menyatakan dari wawancaranya bahwa mereka tidak mampu menghilangkan budaya yang mereka bawa dari luar kampus tersebut sehingga dimanapun mereka berada mereka akan mengikuti kebiasaan yang mereka lakukan. Civitas akademika secara teoritis mengetahui adanya kebijakan ini dan jika mereka melaksanakannya berarti mereka sadar akan kebijakan tersebut dan terutama kesehatan pribadinya.
Kebijakan ini dapat sinergis sepenuhnya jika kedua unsur yaitu civitas akademika dan pihak kebijakan saling bersinergi untuk melaksanakan hal tersebut tanpa hambatan sehingga terwujud ruang tanpa rokok yang sesuai dengan penerapan yang diinginkan oleh kampus.
PENUTUP
Simpulan
Namun di sisi lain, masyarakat yang masih merokok di kampus merupakan masyarakat yang tidak mau menaati peraturan dan merasa peraturan yang dikeluarkan pihak kampus tidak layak untuk ditegakkan dengan anggapan bahwa peraturan tersebut tidak menguntungkan mereka. . Banyak sivitas akademika yang masih enggan untuk menaati kebijakan ini karena kurangnya pengawasan pihak kampus untuk lebih menaati kebijakan ini.
Saran