• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM "

Copied!
126
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Islam mengajarkan dari sudut pandang ekonomi berbagai hal tentang jual beli, sewa atau dalam istilah masyarakat umum disebut juga dengan sistem hipotek. Hipotek adalah suatu hak yang diperoleh seseorang yang berhutang atas suatu barang bergerak atau tidak bergerak yang dijadikan jaminan suatu barang. pinjaman yang diberikan oleh penerima hipotek. Dalam masyarakat, pergadaian berkembang sangat pesat, karena menggadaikan benda (barang) baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak merupakan jalan keluar bagi masyarakat yang membutuhkan pertolongan.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Pergeseran nilai budaya masyarakat setempat mengenai pembagian hasil panen sangat menarik untuk diteliti dan dijadikan sebuah karya ilmiah dengan judul “Analisis Implementasi Ikrar Peddy di Desa Maritengngae Kabupaten Pinrang Dalam Perspektif Ekonomi Islam”. Untuk mengetahui kajian Ekonomi Islam tentang sistem perjanjian akad, bentuk perjanjian bagi hasil dari sawah gadai dan faktor apa saja yang mempengaruhinya di desa Maritengngae.

Kegunaan Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Penelitian Relevan

Gadai tanpa batas waktu yang dilakukan oleh masyarakat tidak sesuai dengan syariat Islam sebagaimana yang dikemukakan oleh para ulama. Keempat, disertasi berjudul “Perspektif Hukum Islam Terhadap Penyelenggaraan Gadai Sawah Pada Masyarakat Desa Dadapayam Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang” yang diteliti oleh Imamil Muttaqin.

Tinjauan Teori

Dan menurut sebahagian ulama Hanafiyah, barang gadaian boleh dimanfaatkan oleh penggadai apabila telah mendapat izin daripada orang yang menggadaikan barang tersebut. Berkenaan barang yang dicagarkan selain daripada haiwan, ia tidak boleh digunakan kecuali dengan persetujuan orang yang mencagarkan barang tersebut 19 6.

Kerangka Konseptual

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu makan Riba dua kali dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” 36. Sebagaimana telah dijelaskan pada ayat di atas, pelaksanaan gadai pada dasarnya terjadi karena adanya upaya saling membantu, namun dalam memperoleh pinjaman harus disertai dengan agunan berupa tanah atau benda lain, biasanya kedua belah pihak memerlukan penyelesaian. dan diakhiri dengan pemberi hak tanggungan memberikan wewenang kepada makelar penyitaan untuk mengelola tanahnya, tetapi juga harus memberikan manfaat kepada orang yang diberi hak atas jaminan tersebut. Meski terdapat sistem bunga berupa hasil panen padi yang tidak sesuai dengan prinsip ekonomi Islam yang dianut para murtahin, namun masyarakat menganggap hal tersebut sebagai kebijakan yang dapat meringankan beban mereka.

Petunjuk penerapan asas kehati-hatian apabila seseorang ingin melakukan transaksi utang dengan orang lain dalam jangka waktu tertentu, dengan menjaminkan suatu harta kepada orang yang berhutang. Mekanisme janji dalam pelaksanaan janji merupakan mekanisme yang harus ditaati atau dipenuhi. Apabila mekanisme tersebut terpenuhi maka tindakan tersebut dapat dikatakan sah. Mekanisme pelaksanaan janji melalui Sigat Akad, Aqid (subjek janji), Marhun (objek janji), dan Marhun bih (tagihan).

Mencermati kondisi di atas, maka ilmu ekonomi Islam secara relatif dapat menjelaskan dan mencakup kriteria definisi yang komprehensif, yaitu pengetahuan dan penerapan perintah dan kaidah syariah, yaitu penghindaran ketidakadilan. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi Islam merupakan salah satu cabang ilmu yang membantu masyarakat mewujudkan kesejahteraannya melalui perolehan dan distribusi sumber daya material untuk memberikan kepuasan bagi manusia, diri sendiri, dan masyarakat.

Kerangka Pikir

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian, Waktu dan Lokasi Penelitian

Pendekatan Penelitian

Fokus Penelitian

Sumber Data

Berdasarkan pengertian di atas, maka topik penelitian merupakan sumber utama data penelitian, yang memuat data tentang objek yang diteliti. Subjek diolah datanya kemudian ditarik kesimpulan atau sejumlah subjek dipelajari dalam suatu penelitian. Dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa sumber data, baik sumber data primer maupun sumber data sekunder. Sumber data primer dan sekunder maksudnya:

Data primer adalah data yang biasanya diperoleh melalui survei lapangan dan wawancara langsung dengan menggunakan metode pengumpulan data asli. Data diperoleh dari wawancara langsung dengan pihak-pihak yang terlibat dalam praktik gadai sawah di Desa Maritennggae Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang. Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen (tabel, catatan, dll), foto dan lain-lain yang dapat memperkaya data primer.

Data yang diperoleh dari pemapar dari pihak pertama kemudian diolah menjadi referensi tertulis, seperti data yang diperoleh dari perpustakaan dan 39 sumber lain seperti buku, dokumen, jurnal penelitian atau artikel yang berkaitan dengan bahan penelitian, yang tentunya sangat bermanfaat bagi mengumpulkan data yang berguna untuk penelitian ini.

Teknik Pengumpulan Data

  • Faktor yang mempengaruhi sistem penetapan perjanjian dan
  • Tinjauan Ekonomi Islam terhadap kesepakatan pembagian hasil

Sistem pembuatan perjanjian dan bentuk kesepakatan pembagian hasil panen sawah gadai di Desa Maritennggae Panen sawah gadai di Desa Maritennggae. Berdasarkan penjelasan salah satu murtahin dapat dipahami bahwa sistem pertanian padi sawah yang terjadi di Desa Maritengngae mengandung unsur membantu masyarakat yang sedang kesulitan. Berdasarkan wawancara tersebut terlihat bahwa kedua sistem bagi hasil gadai sawah tersebut dilakukan oleh masyarakat Desa Maritengngae.

Seperti yang terjadi di Desa Maritengngae, yang melakukan transaksi memang merupakan orang yang memenuhi kriteria tersebut. Maklum, barang gadai yang dijadikan jaminan di Desa Maritengngae adalah sawah. Berdasarkan uraian di atas maka pelaksanaan gadai sawah di Desa Maritengngae memenuhi syarat dan serasi dalam pelaksanaan gadai.

Hal ini bertolak belakang dengan praktik gadai yang terjadi di Desa Maritengngae karena gadai yang mereka lakukan tidak mempunyai batas waktu, yang satu ini tidak. Terkait dengan yang terjadi di Desa Maritengngae, dalam prakteknya barang yang digadaikan kembali dikelola oleh Rahin, namun dalam pelaksanaannya akan ada sistem bagi hasil. Dari penjelasan hasil wawancara dapat dipahami bahwa prinsip kejujuran telah diterapkan dalam pelaksanaan hipotek sawah di Desa Maritengngae, sehingga tetap mempertahankan sistem yang mereka gunakan selama ini.

Penyelenggaraan sawah bendera Desa Maritengngae menggunakan sistem bagi hasil dua banding satu dan satu lawan satu atau dua bagi hasil.

Tabel 1.1: Data Pemberi dan Penerima Gadai Sawah
Tabel 1.1: Data Pemberi dan Penerima Gadai Sawah

Pembahasan Hasil Penelitian

  • Sistem penetapan perjanjian dan bentuk kesepakatan pembagian

Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti, beberapa masyarakat melakukan transaksi rypion di Desa Maritengngae karena adanya kebutuhan ekonomi masyarakat yang mendesak. Pelaksanaan gadai sawah di Desa Maritengngae didasarkan pada asas gotong royong, asas ini dilakukan tanpa batasan waktu dan memberikan kesempatan kepada rahin untuk mengelola sawah yang dibebani. Dalam pelaksanaan gadai sawah di Desa Maritengngae terdapat sistem bagi hasil yang ditentukan apakah pemilik sawah adalah penggarap atau pihak lain menggarap sawah yang dijadikan jaminan.

Berdasarkan pengamatan, sistem bagi hasil gadai sawah antara penerima gadai dan penggarap lahan pertanian yang terjadi di Desa Maritengngae merupakan sistem bagi hasil yang sudah dikenal dan dilaksanakan sejak lama. Terdapat perbedaan sisi untung dan rugi dalam sistem pembagian keuntungan gadai sawah yang dilakukan masyarakat. Dalam sistem bagi hasil yang dilakukan oleh sebagian masyarakat, tidak ditemukan adanya penyimpangan terhadap sistem bagi hasil dalam gadai sawah yang terjadi antara pemberi gadai dengan penggarap sawah karena mereka membuat perjanjian secara rinci berdasarkan musyawarah mufakat, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi sistem pembuatan perjanjian dan bentuk perjanjian bagi hasil sawah gadai di desa Perjanjian bagi hasil sawah gadai di desa Maritengngae. Tinjauan Ekonomi Islam tentang Perjanjian Bagi Hasil Panen Padi dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya di Desa Panen Bendera Sawah dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya di Desa Maritengngae.

PENUTUP

Simpulan

Semua barang yang digadaikan dipertukarkan, pemberi pinjaman menerima agunan dan pemberi tanah yang dijaminkan menerima pinjaman. Pada hakikatnya masyarakat terdahulu dengan demikian mengelola pegadaian, mengurus dan mengambil hasil panen yang tumbuh di atas tanah tersebut sebagai bunga jaminan atas pinjaman yang diberikan kepada pegadaian. Hal ini termasuk dalam kebijakan masyarakat karena dianggap sebagai bentuk hubungan yang saling menguntungkan. Transaksi hutang dan tagihan sering terjadi di masyarakat, dimana tanah dijadikan sebagai jaminan atas hutangnya.

Secara singkat hal ini menunjukkan bahwa dalam praktek gadai di masyarakat terdapat hal-hal yang dapat menyebabkan pihak pegadaian (pemilik tanah) merugi, karena sering kali pihak pegadaian mendapatkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan uang yang dipinjamkan. Praktek gadai di masyarakat dilihat dari proses muamalah yang dianggap sah; seluruh pilar dan syarat yang menjadi hal terpenting dalam pedoman tersebut telah terpenuhi. Jika rukun dan syaratnya tidak terpenuhi maka dianggap tidak sah dalam hukum Islam. Berdasarkan analisis terhadap penggadaian yang terjadi pada masyarakat Desa Maritengngae, diketahui bahwa penggadaian yang berlangsung masih berdasarkan prinsip-prinsip yang dilakukan oleh masyarakat sebelumnya. Terdapat hal-hal yang dilakukan masyarakat dalam menggadaikan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, yaitu sebagian masyarakat memanfaatkan sistem gadai tersebut untuk mendapatkan keuntungan.

Saran

Para ulama fiqh sepakat bahwa barang yang dijadikan jaminan tidak boleh dibiarkan begitu saja tanpa membuahkan hasil karena perbuatan tersebut merupakan perbuatan pemborosan harta. Norma dan Etika Ekonomi Islam Jakarta: Gema Insani Press Sabiq Sayyid, 1996 Terjemah Fiqh Sunnah. Jawaban: Alasan saya menggadaikan sawah saya adalah karena kebutuhan ekonomi dan juga karena biaya sekolah anak saya yang harus segera dibayar.

Jawab: Tadinya saya mendatangi rumah orang tersebut untuk mengajukan pinjaman, namun dia menginginkan jaminan atas uang yang dipinjamkan tersebut, namun saya tidak punya apa-apa untuk dijadikan jaminan kecuali satu-satunya sawah milik saya. Jawaban : Bentuk kesepakatan yang kami buat sesuai dengan yang berlaku di desa ini dan saya meminta untuk mengelola kembali sawah ini karena sawah ini adalah satu-satunya sumber penghasilan saya dan dia menyetujuinya tetapi harus ada pembagian kelebihannya. sistem ketika waktu panen tiba. Jawaban: Alasan saya menerimanya hanyalah untuk membantu seseorang yang sedang kesusahan, dan uang yang saya miliki sebenarnya cukup untuk jumlah yang dia butuhkan.

Jawaban: Ya, dalam transaksi ini saya meminta untuk menggunakan perjanjian sebagai bukti karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Jawaban: Pada saat transaksi ini kami lakukan, penyerahan jaminan dan uang pinjaman dilakukan di Kantor Desa dan disaksikan oleh Kepala Desa.

Gambar

Gambar 2.1: Bagan Kerangka Pikir
Tabel 1.1: Data Pemberi dan Penerima Gadai Sawah

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana praktik penambahan uang dalam gadai kebun kopi yang terjadi di Desa Gunung Sari Kecamatan Ulu Belu