A. Perspektif Historis
Sejak zaman es, ketika sebagian besar bumi tertutup oleh salju, wilayah nusantara yang berada di sekitar garis khatulistiwa telah menjadi tempat yang kondusif bagi kehidupan manusia purba (homo erectus), dan menjadi jalur persinggahan terpenting dalam arus migrasi homo sapiens dari afrika timur, sebelum menyebar lebih lanjut ke tempat-tempat lain di muka bumi.menurut stephen oppenheimer (2004, 2010), konsentrasi manusia prasejarah dalam lingkungan geografi, klimatologi, dan kekayaan alam nusantara (khususnya dataran sunda yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari daratan asia tenggara) menjadi pelopor cikal- bakal peradaban di muka bumi.
Kondisi lingkungan alam-geologis nusantara yang bersifat vulkanis juga sejak dulu kala memengaruhi kehidupan manusia di seantero dunia. jelle zeilinga de boer dan donald theodore sanders (2002) menyebutkan bahwa ada empat gunung berapi yang letusannya dinilai paling dahsyat dan paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. tiga dari empat gunung tersebut berada di indonesia (gunung toba, gunung tambora, dan gunung krakatau).
Letusan gunung toba (sumatera utara) yang terjadi sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu, dikenal sebagai letusan paling dahsyat (supervolcano) dengan dampak yang begitu besar bagi kehidupan umat manusia. diperkirakan, bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkannya sekitar 2800 km. debu vulkanik yang ditiuop angin menyebar ke separuh bumi, dari china sampai ke afrika selatan. letusannya terjadi selama 1 minggu dan lontaran debunya mencapai 10 km diatas permukaan laut. kawasan sekitar india-pakistan tertutup abu toba setebal 5 meter. menurut oppenheimer (2004) ledakan dahsyat (super-eruption) gunung toba membawa perubahan besar bagi perjalanan kehidupan manusia di jagad bumi. ledakannya menimbulkan nuclear winter selama enam tahun yang segera diikuti oleh zaman es selama 1000 tahun.
akibatnya, terjadi kekurangan cadangan pangan dan bencana kealaparan yang menimbulkan penciutan populasi manusia di muka bumi hingga kurang dari 10.000 orang. begitu pun ketika gunung tambora (sumbawa) meletus pada 1815. sekitar 10.000 manusia punah, oleh rusaknya pesawahan. partikel gas dan debu yang dimuntahkannya ke atmosfer mengubah pola cuaca di seluruh dunia, yang menimbulkan " tahun tanpa musim panas" di amerika utara, kekacauan pangan di eropa, dan berjangkitnya wabah kolera. kehidupan murung yang ditimbulkannya memberi inspirasi kepada mary shelley untuk menulis novel gotik, frankenstein.
setelah zaman es berakhir dan nusantara menjadi gugus kepulauan, nenek moyang bangsa indonesia merupakan perintis dan penarik arus-arus pelayaran internasional yang membuka jalan ke arah globalisasi. ketika jalan dan alat lalu lintas di daratan masih jauh dari sempurna, sungai dan lautan merupakan faktor penghubung antargugus peradaban. fakta bahwa segala jurusan di nusantara ini terpotong oleh jalan-jalan air, dan kenyataan begitu dekatnya dengan jarak dari pedalaman ke pantai, kecuali di kalimantan, dengan hampir 80% wilayah kepulauan itu terdiri dari air, maka sejak masa purbakala nenek moyang bangsa indonesia sudah terbiasa mengarungi air, dan merupakan satu-satunya bangsa di muka bumi yang menamai negerinya dengan sebutan "tanah air".
Ditempa oleh alam kepulauan yang dikepung lautan, nenek moyang bangsa indonesia merespons tantangan lingkungannya dengan mengembangkan keahlian berlayar, bermula dari pelayarlukan samudera. berkenaan dengan hal itu, posisi strategis geografi nusantara dengan kekayaan dan kemolekan alamnya menajdi faktor yang menarik kedatangan perlbagai arus peradaban dunia.