• Tidak ada hasil yang ditemukan

perspektif sosiologi komunikasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "perspektif sosiologi komunikasi"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

PERSPEKTIF SOSIOLOGI KOMUNIKASI

(MUSYAWARAH ANTARA APARATUR DESA DAN MASYARAKAT DESA PEKAUMAN KEC.MARTAPURA TIMUR DALAM MENETAPKAN KPM BLT DD

TA.2021)

Siti Rahmah1), Sanusi2), Muhammad Agus Humaidi3)

1)Ilmu Komunikasi, 70201, Fisip, Universitas Islam Kalimantan MAB, NPM.17.11.0022

2) Ilmu Komunikasi, 70201, Fisip, Universitas Islam Kalimantan MAB, NIDN.0019056202

3) Ilmu Komunikasi, 70201, Fisip, Universitas Islam Kalimantan MAB, NIDN.1118088901 Email : [email protected]

ABSTRAK

Program BLT pada faktanya membentuk persepsi negatif public sejak disalurkan pertama kali pada April tahun 2020. PDTT Nomor 6 Tahun 2020 mengatur mekanisme penetapan KPM(Keluarga Penerima Manfaat) BLT pemerintahan desa harus melakukan Musdesus(Musyawarah Desa Khusus) bersama tokoh-tokoh masyarakat.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses komunikasi, hambatan komunikasi, dan interaksi sosial dari segi persepektif sosiologi komunikasi di masyarakat desa pekauman. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif metode studi kasus. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dengan teknik purposive sampling terhadap key informan dan teknik random sampling terhadap informan tambahan, serta dokumentasi data-data BLT tahun sebelumnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses komunikasi antara aparatur desa dan masyarakat desa pekauman dipengaruhi oleh persepsi masyarakat terhadap program BLT. Terdapat dua hambatan komunikasi yang dominan di antara mereka yaitu : hambatan psikologis seperti rasa tidak percaya dan sikap emosional, dan hambatan intelektual tentang pemahaman masyarakat terhadap program BLT. Dari segi persepektif sosiologi komunikasi, Interaksi antara aparatur dan masyarakat desa pekauman lebih cenderung mengarah pada bentuk interaksi disosiatif. Hal ini dibuktikan dengan adanya temuan di lapangan faktor sugesti dan imitasi yang mempengaruhi sikap ketidakacuhan mereka terhadap pentingnya Musdesus penetapan KPM BLT.

Kata kunci : Proses komunikasi;hambatan komunikasi;interaksi sosial;

ABSTRACT

The BLT program has in fact formed negative public perceptions since it was first distributed in April 2020. PDTT Number 6 of 2020 regulates the mechanism for determining the KPM(Beneficiary Families) BLT village government must conduct MUSDESUS(Special Village forum) with community leaders.

This research to find out the communication process, communication barrier, and social interaction from the communication sociology perspective in community pekauman village. This research was conducted using a qualitative approach with case study method. Data collection techniques were through observation, interviews with purposive sampling techniques to key informants and random sampling techniques to additional informants, and the previous year’s BLT data documentation.

The results showed that the communication process between the village government and the village community was influenced by the community's perception of the BLT program. There are two dominant communication barrier between them, namely: psychological barrier such as distrust and emotional attitudes, and intellectual barrier about public understanding of the BLT program. From the communication sociology perspective, the interaction between the village government and the village community of Pekauman is more likely to lead to a form of dissociative interaction. This is evidenced by the findings in the field suggesting and imitation factors that influence their indifference to the importance of the MUSDESUS for determining the BLT KPM.

Keyword : Communication process, communication barrier, social interactions

(2)

2 PENDAHULUAN

Sebagai bagian dari prioritas anggaran negara yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 222/PMK.07/2020 tentang Pengelolaan Dana Desa Pasal 38 jaring pengaman sosial sebagaimana dimaksud pada ayat(2) BLT Desa menjadi prioritas utama dalam penggunaan Dana Desa (Kementerian Keuangan, 2020). Kemudian diatur lebih lanjut dalam Peraturan Bupati Banjar Nomor 78 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pembagian Dan Penetapan Rincian Dana Desa Setiap Desa Kabupaten Banjar Tahun Anggaran 2021. Peraturan tersebut sebenarnya yaitu peraturan yang diperbaharui, yang dimana pemerintah sebelumnya telah menerbitkan PMK Nomor 205/PMK.07/2019 sebagai payung hukum dalam pelaksanaan penyaluran program BLT Dana Desa Tahun Anggran 2020 lalu. Pemerintah mengeluarkan kebijakan ini dengan tujuan yang sama, yaitu agar mampu memperbaiki perekenomian Indonesia. Namun pada pelaksanannya, program BLT(Bantuan Langsung Tunai) malah menjadi bagian dari polemik yang hangat diperbincangkan di lingkungan masyarakat desa.

Penyaluran pengaman jaring sosial program BLT(Bantuan Langsung Tunai) Dana Desa pada faktanya membentuk persepsi negatif publik. Eko Listiyanto Wakil Insitutue For Development of Economic and Finance melalui video conference, mengangap penyaluran BLT yang tidak terarah dan tumpang tindih dianggap menjadi bagian dari penyebabnya. (Setiawan V. N., 2020). Peneliti Indonesia Corruption Watch(ICW) Egi Primayogha menyebutkan bahwa titik rawan penyaluran BLT Dana Desa ada pada bagian pendataan.

Desa diberikan ruang yang cukup dalam menentukan kelayakan warga di daerahnya sebagai penerima bantuan dengan merujuk pada kriteria penerima sebagai berikut : 1) Warga miskin yang kehilangan mata pencaharian, 2) Warga miskin yang belum terdata, dan 3) warga miskin yang atau memiliki anggota keluarga sakit menahun/kronis. (Database Peraturan, 2020). Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI melalui peraturan PDTT Nomor 6 Tahun 2020 menjelaskan, Pemerintahan Desa dalam menentukan KPM(Keluarga Penerima Bantuan) BLT DD terlebih dahulu harus melakukan MUSDESUS(Musyawarah Desa Khusus) yang diprakarsai oleh BPD(Badan Permusyawaratan Desa). Forum musyawarah yang dihadiri beberapa tokoh seperti Camat, Pendamping Lokal Desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas Desa, Perangkat Desa, ketua RT, serta tokoh-tokoh masyarakat untuk melangsungkan proses komunikasi.

Di Kabupaten Banjar ada 20 Kecamatan dengan jumlah 13 Kelurahan dan 277 Desa yang melaksanakan program BLT DD, termasuk Desa Pekauman. Desa ini memiliki lebih dari 2.318 jiwa dengan total 704 KK juga menghadapai kendala dalam penetapan KPM BLT. Tidak menutup kemungkinan, desa dengan jumlah penduduk terbanyak di Kecamatan Martapura Timur dengan mayoritas mata pencaharian masyarakat sebagai petani ini mendapat banyak respon negatif dari masyarakat sekitar dalam pelaksanaanya.

Hal ini sejalan dengan hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis sebagai observasi awal bersama bagian dari anggota BPD. “Tahun lalu kami mendapat banyak kritikan dari warga terkait 107 orang tersebut, bahkan ada yang pergi ke rumah pambakal untuk sekadar menanyakan atau terang- terangan meminta dijadikan KPM penerima. Tahun ini dilakukan pemangkasan karena memang kami menginginkan KPM BLT yaitu Keluarga yang benar-benar perlu bantuan dan bukan sebatas terdampak covid saja. ”(Wawancara, 3 Maret 2021)

Sejalan dengan pernyataan hasil wawancara yang dilakukan, maka peneliti menelaah bahwa sumber dari kekeliruan data bukanlah murni dari kesalahan pelaksana acara MUSDESUS(Musyawarah Desa Khusus), melainkan dari komunikasi kelompok yang berlangsung di antara mereka. Perbedaan persepsi dan tingkat pengetahuan juga sangat mempengaruhi dalam keefektivitasan sebuah musyawarah. Ilmu sosiologi akan membantu penulis menyelidiki persoalan- persoalan yang terjadi dalam masyarakat desa pekauaman dengan maksud menterjemahkan kondisi kemasyarakatan tersebut. Maka dari itu, peneliti tertarik untuk menjadikannya sebuah penelitian

(3)

3

sistematis dengan judul “Persepektif Sosiologi Komunikasi(Musyawarah antara aparatur desa dengan masyarakat desa pekauman dalam menetapkan KPM BLT DD TA.2021)”.

METODE PENELITIAN a. Metode Penelitian

Pelaksanaan penelitian Perspektif Sosiologi Komunikasi(Musyawarah antara Aparatur Desa dan Masyarakat Desa Pekauman Kec.Martapura Timur dalam menetapkan KPM BLT DD TA.2021), penulis memakai pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus.

b. Objek Penelitian

Objek penelitian yaitu suatu hal yang menjadi titik perhatian peneliti. Tentunya dalam penelitian ini yang menjadi titik perhatian peneliti ialah proses komunikasi yang digunakan oleh masyarakat desa pekauman saat melangsungkan Musdesus(Musyawarah Desa Khusus).

c. Lokasi Penelitian

Penentuan lokasi penelitian didasarkan berbagai pertimbangan dari paparan latar belakang masalah yang dikemukan oleh penulis sebelumnya. Lokasi diadakannya penelitian ini yaitu bertempat di Desa Pekauman Kecamatan Martapura Timur Kabupaten Banjar.

d. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data penelitian Perspektif Sosiologi Komunikasi(Musyawarah antara Aparatur Desa dan Masyarakat Desa Pekauman Kec.Martapura Timur dalam menetapkan KPM BLT DD TA.2021), dilakukan dengan memakai teknik sebagai berikut :

1.) Wawancara

Moleong (Herdiansyah H. , 2013:16-24) menjelaskan wawancara yaitu percakapan yang dilakukan oleh dua pihak dengan maksud tertentu. Dalam penelitian ini, peneliti akan melangsungkan proses wawancara memakai teknik purposive sampling terhadap 6 orang key informan dan memakai teknik random sampling terhadap 3 orang informan tambahan. Hal ini bertujuan untuk menguji keakuratan data dan ketergantungan hasil wawancara satu sama lainnya untuk menjawab hal yang menjadi subtansi penelitian.

Wawancara mendalam akan dilakukan bersama narasumber dengan data sebagai berikut :

a. BPD(Badan Permusyawaratan Desa) sebagai key informan pertama. Anggota BPD yakni unsur bertanggung jawab atas musyawarah yang ada di desa, termasuk dalam pelaksanaan Musdesus(Musyawarah Desa Khusus). Selain menjalankan fungsi legislatif sebagai badan pengawas di tingkat desa, BPD juga memiliki peran penting dalam menampung dan menyuarakan aspirasi dari masyarakat.

b. Perangkat Desa Pekauman termasuk Pambakal sebagai key informan kedua. Dalam pelaksanaan Musdesus perangkat desa pekauman yaitu orang-orang yang memfasilitasi jalannya musyawarah. Pambakal selaku pimpinan dalam stuktur organisasi pemerintahan desa juga harus terlibat dalam proses Musdesus karena setelah hasil penetapan disepakati bersama, pambakal memiliki wewenang mengeluarkan SK(Surat Keputusan) atas nama-nama dari KPM BLT DD. Terakhir, perangkat desa ialah mereka yang melaksanakan penyaluran program BLT, mulai dari penginputan anggaran keuangan hingga pelaporan.

c. Pendamping Lokal Desa dan Pendamping Kecamatan sebagai key informan ketiga.

Pendamping Lokal Desa yaitu orang yang memiliki tugas memberikan pendampingan terhadap desa dalam menajalankan roda pemerintahan sebagai pengguna anggaran pemerintah. Dan pendamping kecamatan sebagai pengawas yang juga sekaligus tali koordinasi yang membantu menghubungkan pemerintahan

(4)

4

desa dan pemerintahan di atasnya. Dalam hal ini, mereka yaitu orang yang lebih memahami teknis pelaksanaan Musdesus dalam penetapan KPM BLT.

d. Masyarakat sebagai informan tambahan. Pada kenyataannya masyarakat yaitu orang yang secara langsung menerima manfaat dan dampak dari program yang dijalankan oleh pemerintahan. Masyarakat juga yakni orang yang dapat memberikan masukan atau komentar terhadap segala sesuatu yang ada di desa.

2.) Observasi

Fatoni(2011:104) mengartikan observasi sebagai pengamatan terhadap apa yang menjadi objek penelitian secara menyeluruh disertai dengan kegiatan mencatat setiap apa yang terjadi baik keadaaan maupun perilaku yang disaksikan. Dari beberapa bentuk observasi yang dapat dilakukan, peneliti akan melakukan observasi tidak terstuktur dalam penelitian ini. Peneliti akan lebih mengandalkan dan mengembangkan daya pengamatannya saat melakukan pengamatan terhadap responden atau tanpa memakai guide observasi.

3.) Dokumentasi

Dalam mengumpulkan data melalui metode dokumentasi, Suharsimi(2002:149) mengatakan peneliti akan menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, berita- berita, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya.

Peneliti akan melangsungkan analisis data dari dokumen pelaksanaan program BLT tahun sebelumnya sebagai teknik pengumpulan data yang mendukung proses penelitian ini.

f. Analisis Data

Miles dan Huberman (Sugiyono, 2018:132-133) mengemukakan bahwa kegiatan menganlisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan bersifat kontinyu. Pada dasarnya, peneliti sudah melakukan analisis data melalui jawaban yang dipaparkan oleh responden saat melangsungkan wawancara. Jika terdapat hal yang tidak memuaskan, maka peneliti dapat melanjutkan pertanyaan lagi.

Ada tiga tahapan analisis yang dijelaskan oleh Miles dan Huberman (Akbar, 2009:85-89) yaitu:

1. Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan informasi data kasar yang muncul dari catatan lapangan. Tujuan dari reduksi data yaitu menyisihkan atau mengesampingkan data yang tidak relevan dengan cara membuat ringkasan dari data yang didapatkan untuk selanjutnya dilakukan verifikasi data

2. Penyajian data yaitu pendeskripsian sekumpulan informasi yang telah didapat untuk mendukung adanya penarikan kesimpulan. Penyajian data kualitatif disajikan dalam bentuk teks naratif yang tersusun dalam bentuk yang padu dan mudah dipahami.

3. Penarikan kesimpulan atau verifikasi yakni tahap akhir dari analisi data. Penarikan kesimpulan pada prinsipnya yaitu proses memahami atau mencari makna dari pola-pola, penjelasan, alur sebab akibat dari data yang dikumpulkan di lapangan setelah melakukan penyajian data dalam bentuk naratif. Proses analisis data yang sejatinya juga tidak terjadi hanya sekali melainkan bersikap interaktif. Analisis data dilakukan secara bolak-balik di antara kegiatan reduksi, penyajian dan tahap penarikan kesimpulan

HASIL PENELITIAN

1. Proses Komunikasi antara Aparatur Desa dan Masyarakat Desa Pekauman Kec.

Martapura Timur : a. Komunikator

Dari hasil wawancara dan observasi yang dilakukan oleh peneliti, pihak yang lebih mendominasi menjadi komunikator dalam acara Musdesus yaitu perangkat desa. Meskipun

(5)

5

pada hakikatnya BPD(Badan Permusyawaratan Desa) yaitu pihak yang menyelenggarakan Musdesus, tetapi pada kenyataanya penyampaian pesan lebih banyak dilakukan oleh perangkat desa. Kemampuan komunikasi BPD Pekauman dalam acara formal seperti MUSDESUS(Musyawarah Desa Khusus) cenderung bersifat pasif.

b. Pesan

Data usulan calon penerima BLT sebagai pesan utama yang menjadi bagian dari proses komunikasi ini dengan dibagikan kepada warga dalam bentuk cetak atau printout dan bukan sekadar penyampaian dari pembawa acara. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya kesalahan penyebutan nama atau kekeliruan apa yang didengar oleh komunikan sebagai penerima pesan.

c. Media

Tidak ada media yang dikhususkan untuk acara Musdesus ini selain microphone wireless dan spanduk tema acara. Dua media inilah yang membantu jalannya proses komunikasi antara pemerintahan desa dan masyarakat desa pekauman dalam acara MUSDESUS(Musyawarah Desa Khusus)

d. Komunikan

Dalam proses komunikasi yang berlangsung, masyarakat desa pekauman yang menjadi komunikan atau yang menerima pesan cenderung bersifat apatis di awal. Seolah mereka kurang memahami isi pesan yang disampaikan dan lebih membiarkan aspirasinya diatur oleh pemerintahan desa. Namun, karena pihak pemerintahan desa berupaya untuk memancing mereka dengan menanyakan satu persatu dari daftar usulan yang ada, warga perlahan-lahan membuka suaranya. Sebelum akhirnya terjadi model komunikasi intersional hingga model komunikasi transaksional.

a. Respon

Respon yaitu bagian terpenting yang dapat mengukur keefektivitasan suatu proses komunikasi. Respon yang diberikan oleh masyarakat sebagai komunikan dalam acara Musdesus bersifat variatif. Respon mereka yang diwujudkan dalam bentuk aspirasi dapat memperkuat, mengubah, serta mengatur isi pesan yang disampaikan. Dalam artian, daftar usulan calon penerima BLT yang diajukan mengalami pengurangan atau penambahan serta perubahan setelah Musdesus dilakukan.

2. Hambatan Komunikasi Forum MUSDESUS dalam Menetapakan KPM BLT DD

Dengan ditemukannya keluhan di masyarakat berdasarkan observasi dan jawaban dari wawancara yang dilakukan terhadap informan tambahan membuktikan bahwa interaksi sosial yang terjalin di antara mereka terdapat beberapa gangguan. Dalam hal ini gangguan tersebut dapat diartikan sebagai hambatan(noise) dalam proses komunikasi yang berlangsung di antara mereka, bagian darinya dengan berkaca pada forum Musdesus. Hambatan-hambatan tersebut lebih terlihat pada komunikan sebagai penerima pesan dengan penjabaran sebagai berikut :

a. Hambatan Intelektual

Terganggunya jalan komunikasi bagian darinya dipengaruhi oleh latar belakang komunikan.

Selain pendidikan, pemahaman tentang tujuan diadakannya acara Musdesus itu sendiri memberikan pengaruh yang besar terhadap posisi mereka sebagai komunikan. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan motif dari masing-masing perwakilan warga yang mengikuti Musdesus. Warga yang memahami dengan benar tujuan dari Musdesus cenderung lebih memberikan aspirasinya saat acara berlangsung. Sementara warga yang hanya ikut-ikutan cenderung lebih bersikap apatis dan lebih banyak diam.

b. Hambatan Psikologis

Perasaan tidak percaya terhadap pemerintahan desa menjadikan masyarakat desa pekauman bersikap acuh tak acuh terhadap program BLT. Di antara mereka yang berhadir pada acara

(6)

6

Musdesus sedikit dari mereka yang memahami pentingnya pendapat dari masing-masing perwakilan untuk mengatur dan menetapkan warga penerima BLT. Hambatan ini dijumpai dalam bentuk yang lebih jelas berupa sikap antipati terhadap penerima BLT tahun sebelumnya. Sikap ini bahkan timbul tanpa adanya sebab-akibat yang rasional dari warga karena mereka lebih mementingkan rasa egois mereka yang lebih membenarkan keinginan dan pandangan mereka daripada menyuarakannya dalam bentuk pendapat dan mendiskusikannya.

c. Terbatasnya akses informasi

Terbatasnya jumlah undangan yang dicetak dan sasaran penerima undangan yang kurang tepat sejatinya mempengaruhi hasil Musdesus. Merujuk pada penanganan covid-19 untuk melakukan pembatasan sosial dengan membatasi jumlah perkumpulan tatap muka menyebabkan akses informasi menjadi sedikit terganggu. Di samping itu, pemerintahan desa juga harus mengingat pentingnya acara Musdesus ini dilakukan membuat mereka melakukan interkasi kepada masyarakat.

3. Bentuk Interaksi antara Aparatur Desa dan Masyarakat Desa Pekauman jika ditinjau dari Perspektif Sosiologi Komunikasi

Dari segi perspektif sosiologi kelompok masyarakat desa pekauman dapat dikategorikan sebagai kelompok gemeinchaft atau penguyuban. Dengan adanya kekerabatan yang terjalin erat di antara mereka bergerak saling mempengaruhi terhadap kesamaan sikap dan pola pikir masyarakat.

Hubungan antara konsentrasi penduduk dengan gejala-gejala sosial yang dinamakan urbanisme cenderung ke arah statis, hal ini dapat dilihat dari respon masyarakat desa pekauman dalam menyikapi kebijakan pemerintah.

Perspesi masyarakat desa pekauman selain dipengaruhi oleh pendidikan, juga dipengaruhi oleh cara pandang mereka. Mereka yang berasal dari kalangan wanita akan mempersepsikan hal yang berbeda dengan mereka yang berasal dari kalangan laki-laki. Status sosial dan mata pencaharian menjadi alasan yang paling kuat bagi masyarakat desa pekauman untuk menyalahartikan tujuan dari program BLT. Program dari kebijakan pemerintah yang dimana ditujukan untuk memperbaiki perekonomian di tingkat pedesaan pada faktanya menjadi pemicu peningkatan kecemburuan sosial di lingkungan pedesaan khususnya desa pekauman.

Bentuk interaksi sosial yang ada di masyarakat desa pekauman dipengaruhi oleh faktor sugesti dan imitasi. Cara pandang tokoh masyarakat di lingkungan mereka berhubungan erat dengan sifat umum masyarakat pedesaan itu sendiri yaitu, meniru orang lain. Dari keseluruhan yang menjadi objek penelitian dan hasil yang diperoleh berdasarkan wawancara, obseravasi dan dokumentasi membuktikan bentuk interaksi sosial masyarakat desa dan pemerintahan desa pekauman lebih mengarah pada bentuk disosiatif dengan mayoritas masyarakat bersikap kontra terhadap kebijakan pemerintahan.

Kemampuan komunikasi aparatur desa pekauman terhadap masyarakat desa pekauman menjadi faktor penentu terjalinnya interaksi yang baik di antara mereka. Bentuk komunikasi yang cocok untuk meminimalkan terjadinya misskomunikasi yaitu dengan menerapkan komunikasi empatik, yaitu komunikasi yang dilakukan harus mampu mengerti dan memahami terhadap karakter ataupun maksud orang lain yang menjadi penerima pesan. Pemerintahan desa pekauman sebagai tokoh yang berperan sebagai jembatan antara pemerintah dan masyarakat harus mampu menjadi kerjasama yang baik bersama dengan masyarakatnya.

Berdasarkan apa yang menjadi fokus penelitian ini yaitu musyawarah desa pekauman dapat dianalisa bahwa korelasi antara pemerintahan desa dan masyarakat desa pekauman tidak begitu terlihat. Model komunikasi linier yang lebih banyak digunakan oleh mereka daripada model komunikasi interaksional menandakan belum adanya kesamaan persepsi antara masyarakat desa dan aparatur desa pekauman. Dari hasil yang didapat di lapangan setelah dianalisa lebih jauh,

(7)

7

masyarakat desa pekauman lebih berfokus pada hasil daripada bersama-sama merumuskan hasil tersebut.

PENUTUP Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi di Desa Pekauman tentang Perspektif Sosiologi Komunikasi(Musyawarah antara Aparatur Desa dan Masyarakat Desa Pekauman Kec. Martapura Timur dalam menetapkan KPM BLT DD Tahun 2021), maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Proses komunikasi antara aparatur desa pekauman dan masyarakat desa pekauman yang berlangsung melibatkan model komunikasi interaksional, meskipun sering juga terjadi model komunikasi linier di antara mereka. Dalam acara Musdesus, komunikator lebih didominasi oleh perangkat desa pekauman dan bukan BPD Pekauman sebagai pelaksana kegiatan. Selain itu, komunikan dari proses komunikasi ini yaitu masyarakat desa pekauman lebih cenderung apatis seolah aspirasi dapat diatur, sehingga pemerintahan desa pekauman harus terlebih dahulu mengajukan pertanyaan kepada masing-masing tokoh yang hadir dan bukan mereka yang berinisiatif memberikan masukan.

2. Dalam forum Musdesus antara masyarakat dan pemerintahan desa pekauman terdapat beberapa hambatan yaitu hambatan intelektual atau pemahaman masyarakat terhadap acara Musdesus dan hambatan psikologis atau sikap emosional masyarakat desa pekauman terhadap program BLT.

Berdasarkan pengalaman program BLT yang disalurkan pada tahun 2020 membuat mayoritas masyarakat desa tidak percaya terhadap pemerintahan desa. Hal ini juga berhubungan dengan tingkat pemahaman mereka terhadap pentingnya mengadakan acara Musdesus dalam menetapkan KPM BLT DD. Masyarakat hanya bersikap acuh tak acuh seolah memang merasa tidak penting, sementara mereka tidak terlalu mengerti bahwa aspirasi dari mereka yang menghadiri acara Musdesus dapat mempengaruhi, mengatur hingga menetapkan Keluarga Penerima Manfaat program BLT Dana Desa(KPM BLT DD).

3. Jika dinilai dari perspektif sosiologi komunikasi, Interaksi yang terjadi di desa pekauman antara masyarakat desa dan pemerintahan desa cenderung mengambarkan bentuk interaksi disosiatif daripada bentuk interaksi asosiatif. Adanya pertentangan terhadap keputusan Musdesus meskipun dalam bentuk rumor dan pandangan buruk di lingkungan masyarakat menandakan masyarakat tidak mendukung sepenuhnya program yang dijalankan oleh pemerintahan desa.

Kekerabatan yang terjalin di masyarakat desa pekauman jika dikaitkan dengan program BLT dipengaruhi oleh faktor sugesti dan imitasi. Adanya komentar atau kritikan negatif dari satu mulut masyarakat berpengaruh besar terhadap masyarakat umum. Mereka yang tidak mengikuti Musdesus terlebih untuk mereka yang tidak begitu mengerti dengan program BLT akan dengan mudah terpengaruh.

Saran

Adapun saran yang dapat peneliti sampaikan yaitu sebagai berikut :

1. Ada beberapa faktor pembentukan persepsi masyarakat di antaranya yaitu perhatian, kebutuhan yang searah dan pengalaman/ingatan. Pemerintahan desa pekauman dalam membentuk persepsi positif masyarakat harus lebih sensitif terhadap apa yang menjadi perhatian masyarakat. Dalam satu waktu, panca indera manusia dapat menangkap ribuan atau bahkan jutaan stimulus.

Namun, tidak semua stimulasi tersebut ditanggapi oleh mereka. Stimulasi yang biasanya ditanggapi oleh mereka yaitu stimulasi paling menarik perhatian. Kebutuhan yang searah dan pengalaman dapat direalisasikan dengan cara mengevaluasi kegiatan BLT tahun 2020 dan

(8)

8

memilah keluhan atau komentar yang masuk dengan tujuan membangun kepercayaan masyarakat kembali.

2. Sikap emosional dapat diminimalisir dengan cara meningkatkan intensitas komunikasi terhadap masyakarat umum. Hal kecil yang bisa dilakukan sebagai aparatur desa baik BPD dan perangkat desa ialah dengan lebih banyak memberikan kelulasaan masyarakat berpendapat di luar jam kerja. Sehingga nantinya masyarakat secara otomatis akan merasa mendapat perhatian oleh pemerintahan desa. Pemerintahan desa pekauman sebagai pelaku kebijakan pemerintahan harus dapat memahami karakter dari masyarakat pekauman pada umumnya. Hal ini dapat dimulai dengan memahami karakter dari tokoh-tokoh yang dominan di masyakarat. Kemudian dilanjutkan dengan memahami cara mereka berkomunikasi hingga memberikan pemahaman yang benar terhadap setiap kebijakan yang ada. Dengan menjalin hubungan yang baik bersama orang-orang yang berpengaruh besar di lingkungan masyarakat secara otomatis mereka akan menjadi perantara terjalinnya hubungan yang baik terhadap masyarakat luas, karena tokoh masyarakat dapat menjadi corong pemerintahan desa.

3. Libatkan generasi muda dan keterwakilan perempuan yang lebih mudah memahami kebijakan pemerintahan tanpa menghilangkan tokoh masyarakat atau petua kampung dalam setiap acara musyawarah. Pembahasan dan hasil musyawarah akan berbeda jika komunikan yang berhadir juga berbeda.

REFERENSI Buku

Akbar, H. U.(2009). Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Australia-Indonesia)(2020). Panduan Pendataan Bantuan Langsung Tunai-Dana Desa. Jakarta:

Kementerian PPN/Bappenas.

Bungin, M. B.(2011). Sosiologi Komunikasi(Teori, Paradigma,dan Diskursus Teknologi Komunikasi Masyarakat). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Caropeboka, R. M.(2017). Konsep dan Aplikasi Ilmu Komunikasi. Yogyakarta: Penerbit ANDI(Anggota IKAPI).

Fatoni, A.(2011). Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi. Jakarta: Rineka Cipta.

Fiske, J.(2016). Pengantar Ilmu Komunikasi Edisi 3, Cetakan 4. diterjemahkan Hapsari Winingtyas. Jakarta: Rajawali Press.

Herdiansyah, H.(2013). Wawancara, Observasi, dan Fokus Group sebagai instrumen penggalian data Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Kolip, E. M.(2011). Pengantar Sosiologi(Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial : Teori, Aplikasi dan Pembahasannya). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Lexy, J. M.(2000). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nazir, M.(2017). Metode Penelitian Cetakan 11. Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia.

Rukajat.(2018). Pendekatan Penelitian Kualitatif(Qualitative Research Approach). Yogyakarta:

Penerbit Deepublish.

Setiawan, A. A.(2018). Metodologi Penelitan Kualitatif. Sukabumi: CV Jejak.

Soekanto, S.(2017). Sosiologi sebuah pengantar Edisi Revisi, Cetakan 48. Jakarta: Rajawali Pers.

Sugiyono, D.(2018). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Suharsimi, A.(2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Wiryanto.(2004). Pengantar Ilmu Komunikasi. Bandung: Grasindo.

Jurnal

Adhi Imam Sulaiman, D. P., & Sulaiman, A.I., L. P.(2015, Desember Vol.31 No.2). Komunikasi Stakeholder dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan(Musrenbang). MIMBAR: Jurnal Sosial dan Pembangunan, Vol.31, No.2, 367-378.

Hendri, E., P. S.(2014, Juli). Analisis Efektivitas Musyawarah Perencanaan Pembangunan. Jurnal Komunikasi Pembangunan, Vol.12, No.2, 60-79.

(9)

9

Mokodompis, J. R.(2014). Pola Interaksi Sosial Masyarakat dalam Menunjang Pelaksanaan Pemerintahan Desa1(Studi Kasus di Desa Pokol Kecamatan Tamako Kabupaten Kepulauan Sangihe). Politico: Jurnal Ilmu Politik, Vol.2, No.6, 1058.

Tutiasri, R. P.(2016:83-84, April). Komunikasi dalam komunikasi kelompok. Jurnal Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Vol.4, No.1, 81-90.

Yanti, D.(2013:39-54). Kualitas Komunikasi Pelayanan Customer Service di PT Indosat, TBK Balikpapan. Ejournal Ilmu Komunikasi, Vol.1, No.2, 39-54.

Wowiling, R.(2021). Peran Pemerintah Desa dalam Penyaluran Bantuan Langsung Tunai pada Masyarakat di Masa Pandemi Covid-19 di Kecamatan Maesaan Kabupaten Minahasa Selatan.

Politico : Jurnal Ilmu Politik, 1-12.

Wawancara

Firdaus.(2021, Maret 3). Efektivifitas Musyawarah Desa Khusus .(S. Rahmah, Interviewer)

Zaki, S.(2021, Maret 4). Respon masyarakat terhadap KPM BLT yang sudah ditetapkan.(S. Rahmah, Interviewer)

Lain-lain

Database Peraturan.(2020, April 14). Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertingal, dan Transmigrasi Nomor 6 Tahun 2020. Retrieved April 23, 2021, from Sekretariat Website JDIH BPK RI: https://peraturan.bpk.go.id/HOme/Details/139739/permendes-pdtt-no-6-tahun-2020 Institute For Development of Economic and Finance.(2020). Hasil Riset Analisis . Jakarta: Institute

For Development of Economic and Finance.

Kementerian Keuangan.(2020, Desember 29). Peraturan Menteri Keuangan RI. Retrieved from Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Kementerian Keuangan RI:

http://www.djpk.kemenkeu.go.id/?p=17965

Rahadian, L.(2020). Potensi Masalah dari BLT Dana Desa. Jakarta: lokadata.id.

Setiawan, V. N.(2020). Bansos Dampak Corona Tak Tepat Sasaran, Citra Pemerintah Dinilai Turun.

Jakarta: Katadata News and Research.

Referensi

Dokumen terkait