• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTEMUAN ILMIAH TAHUNAN (PIT) HATHI XXXI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PERTEMUAN ILMIAH TAHUNAN (PIT) HATHI XXXI"

Copied!
642
0
0

Teks penuh

Pengelolaan Sumber Daya Air Berkelanjutan untuk Mitigasi Bencana” diselenggarakan dengan baik dan dihadiri oleh para ahli dan profesional dari seluruh Indonesia, pada tanggal 22-24 Agustus 2014 di Padang. Diskusi dan presentasi pada Temu Ilmiah tahun ini berfokus pada inovasi teknologi dalam mengatasi inovasi teknologi air berkelanjutan, partisipasi masyarakat dalam mitigasi bencana, antisipasi dan penanganan pascabencana, serta pemanfaatan teknologi informasi. Saya berharap seluruh presentasi dan diskusi pada pertemuan ilmiah tahunan ini dapat memberikan kontribusi berupa konsep, strategi, pembelajaran dan berbagi pengalaman terkait pengelolaan air, khususnya dalam konteks penanggulangan bencana di masa depan.

Mengucapkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Pengurus HATHI Cabang Padang dan Panitia Penyelenggara Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XXXI HATHI Tahun 2014 mengucapkan selamat atas terbitnya Prosiding PIT HATHI ke-31. Pertemuan Ilmiah Tahunan ini menjadi ajang pertemuan, diskusi dan diseminasi ilmu pengetahuan dan wawasan untuk meningkatkan profesionalisme para praktisi, akademisi, peneliti dan pengambil keputusan khususnya anggota HATHI. Selain untuk pendokumentasian karya ilmiah TAP ke-31, proses ini diharapkan juga bermanfaat sebagai acuan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan profesionalisme di bidang sumber daya air.

Potensi banjir tahunan di hulu DAS Bengawan Solo, kasus aliran berkontribusi ke Waduk Wonogiri. Penerapan sistem peringatan dini berbasis informatif dalam pengelolaan sumber daya air di Daerah Aliran Sungai Brantas.

Tema

PIT) HATHI XXXI

PADANG, 22 - 24 AGUSTUS 2014

Sub Tema 1

Inovasi Teknologi Keairan Berkelanjutan

Fungsi-fungsi tanpa dimensi dari ukuran butir

  • Tujuan
  • Manfaat
  • Tinjauan Pustaka Pengertian Air
  • Metodologi
  • Hasil Analisis Debit Andalan
  • Hasil Analisis Kebutuhan Air Penduduk
  • Hasil Analisis Kontinuitas Air
  • Hasil Analisis Kualitas Air
  • Hasil Analisis Aksesibilitas
  • Hasil Analisis Lingkungan
  • Hasil Analisis Tanah
  • Rekomendasi
    • Pemecah Gelombang Tipe Terumbu Buatan

Laju erosi tanah di daerah tangkapan air Waduk Kedung Ombo dianalisis menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan metode Universal Soil Loss Equation (USLE). Pada penelitian ini erosi lahan di DAS Kedung Ombo dihitung dengan menggunakan persamaan USLE (Universal Soil Loss Equation). Oleh karena itu, dilakukan upaya untuk melakukan studi kelayakan terhadap sumber daya air baku sungai Jati dan Riam Kako sebagai upaya penyelesaian permasalahan air bersih di Kabupaten Ketapang.

Secara umum kendala produktivitas Instalasi Pengolahan Air di Kabupaten Ketapang adalah terbatasnya sumber air baku. Sedangkan di daerah terpencil, adanya kegiatan penambangan emas tanpa izin (PETI) menyebabkan kualitas air pada sumber air baku yang ada terancam pencemaran merkuri (Hg), sehingga sumber air yang ada tidak memenuhi syarat sebagai air baku. Oleh karena itu dilakukan studi kelayakan terhadap dua sumber air baku yaitu Sungai Jati di Kecamatan Simpang Dua dan Riam Kako di Kecamatan Simpang Hulu, sehingga tingkat kebutuhan air penduduk di kedua Kecamatan tersebut dapat terpenuhi.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi potensi kelayakan sumber air baku sungai Jati dan Riam Kako untuk dijadikan sumber air bersih berdasarkan hasil analisis data untuk membantu permasalahan air bersih di Kabupaten Ketapang penyelesaian Kalimantan Barat. Memberikan informasi potensi sumber air baku dari segi kualitas, kontinuitas dan kuantitas yang dapat dikembangkan untuk menunjang pembangunan di wilayah Kabupaten Ketapang. Membantu pengambilan keputusan dalam pemilihan alternatif lokasi sumber air baku yang layak secara teknis dan lingkungan untuk dikembangkan.

Metode Mock digunakan untuk mengetahui jumlah air (debit andal) pada sumber air baku Sirin Meragun. Pengolahan Data Untuk Mendapatkan Beban Yang Handal (Ketersediaan Air) Pengolahan data untuk mendapatkan nilai kuantitas air pada beberapa sumber air baku di wilayah Ketapang dilakukan dengan menggunakan metode Mock. Kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 20 menit dari Dusun Kembera hingga ke sumber Sungai Jati.

Kajian ini dapat dilanjutkan dengan perancangan detail sumber air baku dengan memanfaatkan sumber air Sungai Jati dan Riam Kako bagi warga Kabupaten Ketapang khususnya Kecamatan Simpang Dua dan Kecamatan Simpang Hulu. Beberapa upaya yang harus dilakukan agar kondisi alam sumber air baku yang diteliti tetap sesuai dengan yang diharapkan, yaitu; Harus ada kerjasama antar pemangku kepentingan untuk menjaga kondisi alam sumber air baku yang ditinjau.

Diperlukan upaya konservasi sumber daya air baku, antara lain dengan pengaturan penggunaan lahan berupa reklamasi lahan sebagai daerah resapan air hujan dan penanaman kembali hutan yang telah dibuka. Lingkungan sekitar sumber air baku harus dijaga untuk menjamin kesinambungan pasokan air baik kualitas, kuantitas, dan kontinuitas.

Tabel 1.   Luas Poligon Thiesen Stasiun Hujan
Tabel 1. Luas Poligon Thiesen Stasiun Hujan

PEMBAHASAN

Uji Kepanggahan Data

Uji penerimaan data dilakukan terhadap data dengan panjang data 25 tahun dan 15 tahun dengan menggunakan 2 (dua) metode yaitu metode Kurva Massa Ganda dan metode RAPS dengan menggunakan Persamaan (4) – Persamaan (7). Selain menggunakan kedua metode tersebut, uji reliabilitas pada penelitian ini juga didukung oleh software Rainbow (Raes, dkk, 2010).

Analisis Parameter Statistik

Analisis Kekeringan (Teori Run)

Nilai maksimum durasi kekeringan pada periode T (sama dengan 5 tahun) dirata-ratakan untuk memperoleh nilai periode ulang 5 tahun. Contoh penghitungan nilai bulanan durasi kekeringan disertai hujan di stasiun Air Molek dari tahun 1987 hingga 2011 disajikan pada Tabel 3. Nilai maksimum durasi kekeringan pada periode T (sama dengan 5 tahun) dihitung berdasarkan periode waktu (bulanan) setiap tahun selama lima tahun ke depan dirata-ratakan dan menghasilkan nilai durasi kekeringan untuk periode ulang 5 tahun.

Nilai maksimum durasi kekeringan periode ulang 5 tahun untuk data panjang 25 tahun dan 15 tahun ditunjukkan pada Tabel 5. Dari Tabel 5 dan Gambar 2 terlihat perbedaan masing-masing stasiun curah hujan antara durasi terpanjang kekeringan terjadi setiap bulan, 15 hari, 10 hari, dan mingguan. Selisih durasi kekeringan terpanjang antara panjang data 25 tahun dan 15 tahun berkisar antara 0,04 bulan (Stasiun Talang Jerinjing 10 hari) dan 1,67 bulan (Stasiun Talang Jerinjing 15 hari).

Pola dominan yang muncul adalah semakin kecil pembagian periode pengelompokan data curah hujan setiap bulannya, maka nilai durasi kekeringan terlama juga akan semakin kecil. Hasil peta isohyet kala ulang 5 tahun, durasi kekeringan terpanjang dan jumlah periode kekeringan terbanyak, perhitungan I (4 stasiun) dapat dilihat pada Gambar 4 dan Gambar 5 dan perhitungan II (8 stasiun) dapat dilihat terlihat pada Gambar 6 dan Gambar 7. Terlihat nilai indeks kekeringan durasi kekeringan terbesar terjadi di stasiun Sentajo dan jumlah kekeringan terbesar terjadi di stasiun Air Molek, sedangkan durasi dan jumlah kekeringan terendah terjadi di stasiun Talang Stasiun Jerinjing.

Durasi kekeringan terlama (Ln) isohyet (I) curah hujan bulanan (dalam bulan) dengan kala ulang 5 tahun di DAS Indragiri. Durasi kekeringan terlama (Ln) isohyet (II) curah hujan bulanan (dalam bulan) dengan kala ulang 5 tahun di DAS Indragiri. Dengan menggunakan isohyet durasi kekeringan (Gambar 4 dan Gambar 6) dan isohyet angka kekeringan (Gambar 5 dan Gambar 7), dapat ditentukan perbandingan durasi kekeringan terlama dengan menggunakan data curah hujan dari 4 stasiun dan 8 stasiun seperti disajikan pada tabel 9.

Perbandingan penggunaan data curah hujan dari 4 stasiun dan 8 stasiun dalam menghitung durasi kekeringan terpanjang (Ln) dan jumlah kekeringan terbesar (Dn) dengan panjang data yang sama. Hal ini disebabkan nilai durasi kekeringan periode bulanan terpanjang di stasiun Lirik cukup besar dibandingkan stasiun lainnya. Pembagian periode pengelompokan data curah hujan (bulanan, 15 hari, 10 hari dan mingguan) dalam penerapan teori penggerak mempengaruhi proses penghitungan durasi dan jumlah kekeringan, dimana semakin kecil pembagian periode pengelompokan data curah hujan. , nilai durasi kekeringan yang lebih panjang akan semakin kecil.

Tabel  1.  Hujan bulanan Stasiun Air Molek (1987-2011) unit: mm
Tabel 1. Hujan bulanan Stasiun Air Molek (1987-2011) unit: mm

Distribusi Kecepatan

Pengaruh fenomena alam seperti El Nino berpotensi mengancam kelangsungan ketersediaan limpasan air irigasi pada daerah irigasi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak El Nino terhadap ketersediaan limpasan di Daerah Irigasi Way Sekampung, yang merupakan daerah irigasi terluas di Provinsi Lampung. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara berkurangnya curah hujan pada musim kemarau di DAS Way Sekampung dengan kejadian El Nino.

El Nino yang sangat ekstrim dapat terjadi sewaktu-waktu dan berpotensi mengancam keberhasilan pertanian di daerah irigasi Way Sekampung. Selain itu El Nino juga berdampak besar terhadap variasi curah hujan di daerah tropis (Aldrian dan Susanto, 2003). Beberapa pengaruh alam seperti El Nino dapat mengancam keberadaan ketersediaan debit di daerah irigasi Way Sekampung.

Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh El Nino terhadap ketersediaan debit di daerah irigasi Way Sekampung. Pada penelitian ini akan diteliti hubungan jumlah IMS dengan kondisi curah hujan bulanan dan hubungan kejadian El Nino dengan kondisi curah hujan tahunan di DAS Way Sekampung. Detil curah hujan bulanan pada musim kemarau pada tahun El Nino untuk masing-masing stasiun disajikan pada Tabel 2.

Di sisi lain, tahun-tahun El Niño hampir selalu berhubungan dengan tahun-tahun dengan curah hujan tahunan yang minimal. Nilai korelasi Pearson (r) SOI vs mean bulanan curah hujan El Niño secara umum mempunyai pengaruh yang signifikan di DAS Way Sekampung pada musim kemarau. Menurunnya curah hujan pada musim kemarau di DAS Way Sekampung erat kaitannya dengan peristiwa El Nino yang terjadi di wilayah tersebut.

Terdapat hubungan yang jelas antara kejadian El Nino dengan curah hujan bulanan terutama pada musim kemarau, meskipun nilai korelasi kedua unsur tersebut tidak terlalu signifikan (dengan nilai maksimum sekitar 0,6). Kejadian El Nino cenderung berulang dengan periode ulang setiap 3 sampai 5 tahun sekali di daerah tangkapan air Way Sekampung. El Nino yang sangat ekstrim dapat terjadi sewaktu-waktu dan berpotensi mengancam keberhasilan pertanian di daerah irigasi Way Sekampung.

Gambar 3. Profil Distribusi Kecepatan pada Saluran Menikung 2.  Distribusi konsentrasi Sedimen Suspensi
Gambar 3. Profil Distribusi Kecepatan pada Saluran Menikung 2. Distribusi konsentrasi Sedimen Suspensi

Gambar

Gambar 6. Hubungan kedalaman dengan massa jenis kering   (Citanduy – konsolidasi  3 minggu)
Gambar 5. Peta Bencana Kekeringan WS Pemali Comal Periode Ulang 20 Tahun
Gambar 7. Peta Risiko Kekeringan WS Pemali Comal Periode Ulang 10 Tahun
Gambar 8. Peta Risiko Kekeringan WS Pemali Comal Periode Ulang 20 Tahun
+7

Referensi

Dokumen terkait

9 No 1 2023 1 Isi Kurikulum 2 Proses Metode 3 Produk Evaluasi 4 Lingkungan Belajar Guru, Siswa Berdasarkan data pada tabel 2, maka dapat diketahui bahwa komponen pembelajaran