• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertemuan ke 3 Pemikiran

N/A
N/A
Sofjan Subijanto

Academic year: 2024

Membagikan "Pertemuan ke 3 Pemikiran"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PEMIKIRAN

Abdul Kadir, SH., MH

(2)

Pemikiran adalah aksi /act yang menyebabkan pikiran mendapatkan pengertian baru dengan perantaraan hal yang sudah diketahui.sebenarnya yang beraksi disini bukanlah hanya akal pikiran atau akal budi, yang berasi sesungguhnya adalah seluruh manusianya.

Proses pemikiran adalah suatu pengesahan mental dari satu hal

menuju hal lain, dari apa yang mudah diketahui ke hal yang

belum diketahui.

(3)

Aksioma Berfikir 1.Keyakinan

Mengakui hubungan sesuatu dengan sesuatu, mengeluarkan pendapat atas beberapa dasar, yang merupakan syarat supaya orang dapat berpikir.

Setiap pendapat berdasarkan atas sikap mental subjek yang diketahui, demikian halnya, pendapat lain tidak mungkin, itulah disebut keyakinan.

Keyakinan merupakan sifat subyek, jadi selalu bersifat

subjektif.

(4)

2.Kepastian

Seorang yang mempunyai keyakinan maka dia pasti merasa pasti dengan keyakinannya, maka ia mempunyai kepastian.

Kepastian tidak sama semua pastinya.

Mengenai hal yang abstark terdapat kepastian yang mutlak, berbeda dengan hal yang konkrit, kepastian kerapkali mengandung ketidakpastian.

Dalam hal yang konkrit kepastian mutlak sebenarnya tidak

ada, dalam rangka abstark mungkin, tetapi harus benar

wilayah kesungguhan/realitas .

(5)

3.Wilyah kesungguhan/realitas

Pengetahuan dasarnya adalah positif, kepositifan ternyata juga pada keyakinan yang merupakan dasar pemikiran. Keyakinan mengakibatkan kepastian bahwa demikian hal sesungguhnya.

Kesungguhan ini disebut realitas.

Kesungguhan itu konkrit adalah hal-hal dengan segala sifat- sifatnya yang tertentu yang dapat diamati dalam pengamatan.

Kesungguhan itu mungkin hanya merupakan hasil pemikiran,

bukan lagi hal-hal yang sesungguhnya melainkan hanya suatu

sifat yang dipandang oleh manusia atau dunia abstrak.

(6)

Unsur-unsur pemikiran

Pemikiran manusia terdiri atas unsur pengertiann, dari pengertian itu disusun sedemikian rupa sehingga menjadi keputusan-keputusan dan keputusan menjadi penyimpulan.

Pemikiran manusia/kegiatan akal budi terdapat tiga unsur:

1. Menangkap sesuatu sebagaimana adanya. Artinya menangkap sesuatu tanpa mengakui atau memungkirinya.

2. Memberikan keputusan. Artinya menghubungkan pengertian yang satu dengan pengertian lainnya atau memungkiri hubungan itu.

3. Merundingkannya. Artinya menghubungkan keputusan-keputusan sedemikian rupa, sehingga dari satu keputusan atau lebih, dan akhirnya sampai pada suatu kesimpulan.

(7)

KONDISI BERPIKIR YANG BAIK DAN

KEKELIRUAN BERPIKIR

(FALLACY)

(8)

Kondisi Berpikir Yang Baik 1. Cintailah Kebenaran

Cinta terhadap kebenran diwujudkan dalam kerajinan (jauh dari kemalasan, jauh dari takut sulit dan jauh dari kecerobohan) serta diwujudkan dalam kejujuran, yakni disposisi atau sikap kejiwaan (dan pikiran) yang selalu siap menerima kebenaran meskipun berlawanan dengan prasangka dan keinginan/kecendrungan pribadi atau golongannya.

Kewajiban mencari kebenaran adalah tuntutan intrinsik manusia untuk merealisasikan manusia menurut tuntutan keluhuran keinsaniannya.

(9)

2. Ketahuilah (dengan sadar) apa yang sedang anda dikerjakan

Kegiatan yang sedang dikerjakan adalah kegiatan berpikir.

Seluruh aktivitas intelek kita adalah suatu usaha terus menerus mengejar kebenaran yang diselingi oleh diperolehnya pengetahuan tentang kebenaran tetapi parsial sifatnya.

Untuk mencapai kebenaran, kita harus bergerak melalui berbagai macam langkah dan kegiatan, teramat pentinglah bagi kita untuk mengetahui betul semuanya itu supaya dapat melaksanakannya dngan tepat dan seksama.

(10)

3. Ketahuliah (dengan sadar) apa yang sedang anda katakan Pikiran diungkapkan ke dalam kata-kata, kecermatan pikiran terungkap ke dalam kecermatan kata-kata. Kerenanya kecermatan ungkapan pikiran ke dalam kata merupakan sesuatu yang tidak boleh ditawar lagi. Anda senantiasa perlu menguasai ungkapan pikiran ke dalam kata tersebut, baik yang ekplisit maupun yang implisit. Harus mengetahui betul dan seksama isi, lingkungan, arti fungsional kata yang digunakan, karena kata merupakan unsur konstitutif penalaran. Ketidaktertiban kata yang digunakan akan berakibat dalam ketidaktertiban dalam penalaran.

(11)

4. Buatlah distingsi (pembedaan) dan pembagian (klasifikasi) yang semestinya

Jika ada dua hal yang tidak mempunyai bentuk yang sama, hal itu jelas berbeda. Tetapi banyak kejadian di mana dua hal atau lebih mempunyai bentuk sama, namun tidak identik. Nah, disnilah perlunya dibuat suatu distingsi, suatu pembedaan.

Eksplisitkan hal-hal yang membuat yang satu bukan yang lain.

Hindari setiap usaha main pukul rata.

Karena realitas adalah begitu luas, maka perlu diadakan pembagian. Dalam pembagian peganglah prinsip pembagian yang sama.

(12)

5. Cintailah defenisi yang tepat

Penggunaan defenisi sebagai ungkapan sesuatu selalu mencakup kemungkinan tidak ditangkap sebagaimana yang akan diungkapkan atau sebagaimana dimaksudkan. Cintailah cara berfikir yang terang, jelas dan tajam mebeda-bedakan, sehingga terang yang dimaksud.

(13)

6. Ketahuilah (dengan sadar) mengapa anda menyimpulkan begini atau begitu

Anda harus bisa dan biasa melihat asumsi-asumsi, implikasi- implikasi, dan konsekuensi-konsekuensi dari suatu penuturan, pernyataan, atau kesimpulan yang dibuat.

Sering terjadi banyak orang tidak tahu apa yang mereka katakan (nyatakan) dan mengapa mereka berkata begitu. Jika bahan yang ada tidak atau kurang cukup untuk menarik kesimpulan, hendaknya orang menahan diri untuk tidak membuat kesimpulan atau membuat pembatasan-pembatasan dalam kesimpulan.

(14)

7. Hindarilah kesalahan-kesalahan dengan segala usaha dan tenaga, serta sangguplah mengenali jenis, macam, dan nama kesalahan, demikian juga mengenali sebab-sebab kesalahan pemikiran

Dalam belajar logika tidak hanya mau tahu hukum-hukum, prinsip-prinsip, bentuk-bentuk pikiran sekadar untuk tahu aja.dalam praktek tidak boleh mengabaikan dialektika, yakni proses perubahan keadaan. Dengan hanya berjalan secara logis, orang dapat kehilangan pandangan yang semestinya dan luas, dapat kehilangan pandangan yang meliputi seluruh sasarannya.

(15)

Kekeliruan Berpikir (Sesat Pikir)

Kekeliruan berpikir (sesat pikir), merupakan kekeliruan yang disebabkan oleh pengambilan kesimpulan yang tidak sahih dengan melanggar ketentuan-ketentuan logika atau susunan dan penggunaan bahasa serta penekanan kata yang secara sengaja atau tidak, telah menyebabkan pertautan atau asosiasi gagasan tidak tepat.

Biasanya kekeliruan berpikir tidak segera diketahui karena sepintas lalu, tampak seolah-olah benar tetapi sesungguhnya keliru.

(16)

Kekeliruan berpikir adalah proses penalaran atau argumentasi yang sebenarnya tidak logis, salah arah, dan menyesatkan, suatu gejala berpikir yang salah, yang disebabkan oleh pamaksaan prinsip-prinsip logika tanpa memperhatikan relevansinya.

Walaupun proses berpikir semacam ini menyesatkan, tetap juga hal ini sering kita lakukan. Atas dasar inilah maka dipandang perlu untuk mengetahui lebih lanjut jenis-jenis dan latar belakang terjadinya proses kekeliruan berfikir tersebut.

(17)

Strategi menghindari kekeliruan berpikir

Kekeliruan berpikir pada hakikatnya merupakan jebakan bagi proses penalaran kita. Seperti halnya rambu-rambu lalulintas dipasang sebagai peringatan bagi para pemakai jalan di bagian- bagian yang rawan kecelakaan, maka rambu-rambu sesat pikir ditawarkan kepada kita agar jeli dan cermat terhadap kesalahan- kesalahan dalam menalar, juga agar kita mampu mengidentifikasi dan menganalisa kesalahan-kesalahan tersebut sehingga memungkinkan kita akan selamat dari penalaran palsu.

(18)

Untuk menghindari kekeliruan relevansi, misalnya kita sendiri harus tetap bersikap kritis terhadap setiap argumen. Dalam hal ini, penelitian terhadap peranan bahasa dan penggunaannya merupakan hal yang sangat menolong dan penting. Realisasi keluwesan dan keanekaragaman penggunaan bahasa dapat kita manfaatkan untuk memperoleh kesimpulan yang benar dari sebuah argumen.

(19)

Untuk menguji suatu pemikiran, paling sedikit ada empat pertanyaan yang mesti diajukan:

1. Apa yang hendak ditegaskan, atau apa pokok pernyataan yang diajukan? Ini selanjutnya kita sebut kesimpulan.

2. Bagaimana hal itu; atas dasar apa orag sampai pada kesimpulan atau pertanyaan itu? Apa titik pangkanya? Apa alsan-alasannya? Dengan istilah teknis disebut premis-premisnya.

3. Bagaimana jalan pikiran yang mengkaitkan alasan-alasan yang diajukan dan kesimpulan yang ditarik? Bagaimana langkah-langkahnya? Apakah kesimpulan itu sah/memang dapat ditarik dari alasan-alasan itu?

4. Apakah kesimpulan atau penjelasan itu benar? Apakah pasti? Atau hanya mungki benar? Sangat mungkin tidak benar?

(20)

Syarat-syarat pokok pemikiran dan penalaran untuk mendapatkan kesimpulan yang benar:

1. Pemikiran harus berpangkal dari kenyataan atau titik pangkalnya harus benar

2. Alasan-alasan yang idajukan harus tepat dan kuat 3. Jalan pikiran harus logis atau lurus.

Referensi

Dokumen terkait