• Tidak ada hasil yang ditemukan

perubahan sosial masyarakat lokal akibat

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "perubahan sosial masyarakat lokal akibat"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memenuhi Gelara Sarjana Pendidikan (S.Pd) Pada Jurusan Sosiologi Fakultas Keguruan Dan

Ilmu Pendidikan Univeritas Muhammadiyah Makassar

ZALDY PUTRA AL 10538 01791 10

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN PENDIDIKAN SOSIOLOGI 2015/2016

(2)

studi pendidikan sosiologi fakultas keguruan dan ilmu pendidikan universitas muhammadiyah Makassar di bimbing oleh St. Fatima Tolah dan H. Nurdin

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk perubahan sosial pada masyarakat loakal akibat perkembangan pariwisata dan untuk mengentahui factor-faktor apa saja yang mempengaruhi perubahan sosial masyarakat local akibat perkembangan parawisata

Penelitian ini mengunakan metode kualitatif dan adapun loaksi penelitian yaitu di kelurahan sumpang binangae kabupaten barru. Teknik pengambilan sampling dengan cara menentukan karastaristik sendiri (purposive sampling) dan teknik pengumpulan data yang di lakuakan dengan mengunakan data primer dan data skunder melalui observasi, wawancara dan documenttasi.

Hasil penelitian ini yaitu yang menjadi bentuk perubahan sosial di nkelurahan sumpang binangae adalah perbuahan secara kecil yang tidak membawa pengaruh langsung/berarti bagi masyarakat seperti perubahan gaya berbusana/pakaian pada masyarakatnya yang sudah mulai mengikuti trend, tapi masi saja mempertahankan kebudayaanya. Dan menjadi factor-faktor Yang mempengaruhi perubahan sosial di kelurahan sumpang yaitu dengan adanya pendidikan formal yang sudah maju pada masyarakat membuat pola pikir masyarakat sudah maju, di liat dari cara masyarakat menyelesaikan konflik yang tidak lagi mengunakan cara main hakim sendiri, melainkan menyelesaikan maslah, konflik dengan cara musyawara atau dengan mediasi yg menunjuk orang ketiga sebagain penengah.

Kata kunci: Perubahan, Perkembang, Pariwisata

(3)

iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 7

E. Landasan Teori ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Konsep Perubahan Sosial 1. Pengertian Perubahan Sosial ... 10

2. Proses-proses Perubahan Sosial ... 17

3. Bentuk-bentuk Perubahan Sosial ... 21

4. Faktor-faktor yang Mendorong Jalannya Proses Perubahan ... 25

5. Interaksi Antara Wisatawan Dengan Masyarakat Lokal ... 34

6. Konsep Pariwisata ... 36

B. Kerangka Pikir ... 42

(4)

iv

C. Informan Penelitian ... 46

D. Fokus Penelitian ... 48

E. Instrumen Penelitian... 49

F. Jenis dan Sumber Data ... 50

G. Teknik Pengumpulan Data ... 50

H. Analisis Data ... 53

I. Teknik Keabsahan Data ... 55

BAB IV HASIL PENELETIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Peenelitian ... 58

B. Hasil Penelitian ... 62

C. Pembahasan ... 64

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 79

B. Saran ... 80

DAFTAR PUSTAKA ... 82

(5)

1

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pada hakekatnya pembangunan adalah proses perubahan yang terjadi secara terus menerus dan merupakan perbaikan ke arah tujuan dan kemajuan yang dicapai. Indonesia sebagai negara yang sedang bekembang, berusaha untuk mengembangkan dirinya dari suatu keadaan dengan sifat masyarakat tradisional menuju kearah keadaan yang di anggap lebih baik.

Pembangunan ini harus di arahkan kepada pembangunan manusia indonesia dalam ikatan bangsa indonesia yang mencerminkan situasi keselarasan hubungan antara manusia dan Tuhannya, antara sesama manusia dan antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya. Dalam pelaksanaan pembangunan Nasional segenap modal dan potensi sumber daya dalam negeri perlu di manfaatkan secara optimal guna memenuhi kebutuhan masyarakat secara menyeluruh.

Jelaslah bahwa tujuan pembangunan pada umumnya adalah untuk mencapai kehidupan sosial yang seimbang baik jasmani maupun rohaniah. Juga dapat meningkatkan dan mensejahterakan kehidupan bangsa. Oleh karena itu pemerintah telah berusaha untuk mencari dan guna untuk membiayai pembangunannya. Dan dalam pembangunan pariwisata, dapat memperluas kesempatan kerja dan kesempatan berusaha melalui peningkatan arus kunjungan wisatawan.

(6)

penduduk setempat. Karena pada peningkatan kualitas hidup dikalangan penduduk akan meningkatkan hidup mereka dalam pola konsumtif itu bisa menimbulkan rasa tidak puas terhadap gaya hidup tradisional dan sederhana mereka selama ini dan merangsang keinginan untuk berpola hidup seperti para wisatawan yang berkunjung kedaerahnya.

Pengembangan daerah tersebut dapat menimbulkan perubahan-perubahan sosial dikalangan masyarakat setempat. Perencanaan yang berhubungan aspek sosial yang ada serta berdasarkan kenyataan yang menyangkut aspek-aspek sosial yang mungkin timbul. Masyarakat setempat sedapat mungkin di ikut sertakan dalam perencanaan dan perkembangan kepariwisataan dengan memberikan motivasi bahwa mereka mempunyai kepentingan terhadap keberhasilan daerah pariwisata yang bersangkutan.

Berdasarkan pengamatan awal peneliti, pariwisata dapat menimbulkan perubahan-perubahan pada pola perilaku sosial nilai-nilai sosial, norma-norma sosial di dalam masyarakat setempat di mana dalam kepariwisatawan kadang kala tidak sejalan dengan nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola prilaku sosial, yang ada dalam masyarakat setempat khususnya masyarakat di kelurahan Sumpang Binangae Kab.barru

Pementasan atau tingkah laku orang-orang yang berwisata tentunya tidak semuanya sesuai dengan nilai-nilai atau norma-norma yang berlaku di kelurahan Sumpang Binangae Kabupaten barru contohnya apabila wisatawan mandi dengan hanya memakai penutup bagian tertentu saja, sehingga dapat menimbulkan

(7)

biasanya mereka lihat didalam masyarakat. Dengan sendirinya akan menimbulkan pengaruh terhadap pribadi masyarakat kelurahan sumpang binangae efek-efek demikian ini dapat merubah pola tingkah laku sesuai masyarakat baik secara perlahan-lahan maupun secara cepat.

Masyarakat sebagai suatu sistem senantiasa mengalami perubahan.

Perubahan-perubahan pada kehidupan masyarakat tersebut merupakan fenomena sosial yang wajar. Oleh karena setiap manusia mempunyai kepentingan yang tak terbatas. Perubahan-perubahan akan nampak setelah tatanan sosial dan kehidupan masyarakat yang lama dapat dibandingkan dengan tatanan sosial dan kehidupan masyarakat yang baru. Kehidupan masyarakat desa, dapat dibandingkan antara sebelum dan sesudah mengenal surat kabar, listrik, dan televisi. Perubahan- perubahan dalam suatu masyarakat dapat mengenai norma-norma, pola-pola prilaku. Organisasi susunan dan stratifikasi masyarakat dan juga lembaga masyarakat.

Perubahan-perubahan saat ini nampak sangat cepat, sehingga semakin sulit untuk mengetahui bidang-bidang manakah yang akan berubah terlebih dahulu dalam kehidupan masyarakat. Namun demikian secara umum, perubahan- perubahan itu biasanya bersifat berantai dan saling berhubungan antara satu unsur dengan unsur dalam suatu kemasyarakatan yang lainnya. Perubahan-perubahan tersebut terjadi di dalam berbagai segi kehidupan masyarakat. Terutama bagi masyarakat dalam negara yang sedang membangun, seperti Negara Indonesia yang saat ini sedang giat melaksanakan pembangunan.

(8)

merupakan akibat dari adanya pembangunan yang dilaksanakan pemerintah bersama rakyat Indonesia sendiri. Perhatian utama pemerintah dalam pembangunan nasional tertuju pada pembangunan pedesaan, dengan menitik beratkan pada program pembanguan untuk kemajuan pedesaan, karena sebagian besar penduduk masih berpenghasilan rendah bahkan masih berada dalam garis kemiskinan. Seperti halnya dalam masyarakat Sumpang binangae yang tepatnya berada di Kabupaten barru mengalami juga kecepatan perubahan sejalan dengan tingkat peradaban sekarang ini, mengakibatkan adanya sebagian masyarakat kelurahan Sumpang binangae kehilangan akan nilai-nilai tradisionalnya dan perlahan-lahan menjadi manusia modern. Walaupun masih ada pula masyarakat kelurahan sumpang binangae yang tetap memegang teguh nilai-nilai leluhur mereka yang dianggap sebagai suatu nilai yang sangat sakral.

Perkembangan kebudayaan manusia yang cukup cepat yang terjadi di kelurahan Sumpang Binangae terutama disebabkan oleh kemampuan sebagian masyarakatnya untuk meminjam dan meniru unsur-unsur kebudayaan yang berasal dari luar dan menerapkannya kedalam kebudayaannya, ataupun dengan adanya berbagai macam pengaruh dari budaya lain yang mengakibatkan terjadinya perubahan sosial.

Perubahan yang terjadi, merupakan akumulasi kebudayaan yang menjadi warisan sosial manusia. Pada masa lampau tidak begitu banyak perubahan yang terjadi, sedangkan dalam zaman moderen ini frekuensi perubahan kian meningkat.

Manusia agak kewelahan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi

(9)

disebabkan oleh berbagai penemuan baru, yang memungkinkan terjadinya akumulasi kebudayaan material (SOEKANTO.1990: 342). kelurahan sumpang binangae merupakan wilayah yang dipilih sebagai lokasi penelitian. Karena mempunyai keunikan tersendiri yakni adanya lokasi wisata yang dapat menarik pengunjung dari luar Kab.barru.

Sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin menampakkan pengaruhnya disetiap kehidupan individu maupun masyarakat dan secara langsung maupun tidak langsung, juga terasa jelas mempengaruhi masyarakat kelurahan s.binangae Pengaruh tersebut diindikasikan oleh adanya perubahan- perubahan dalam tata kehidupan mereka, baik cara hidupnya, cara kerja, barang- barang kebutuhan yang mereka beli, keadaan sekeliling mereka, maupun nilai- nilai atau norma-norma yang mereka anut. Tampaknya hal ini terjadi, karena ada rasa ketidakpuasan sebagaian masyarakat kelurahan Sumpang Binangae yang melihat lingkungan sekeliling mereka mengalami percepatan kemajuan, dan dilihat dari segi pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder mereka yang kurang terpenuhi dan kurang memuaskan seperti masyarakat yang ada didaerah lain yang sudah mengalami kemajuan.

Tidak dapat di pungkiri bahwa perubahan-perubahan yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi seluruh kehidupan masyarakat itu adalah dampak dari pembangunan di segala bidang yang dilaksanakan pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. Percepatan perubahan sosial itu pun terjadi dapat dimungkinkan pula oleh kemajuan teknologi yang diperoleh

(10)

pengetahuan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana diuraikan diatas maka rumusan masalah penelitian yang penulis dapat rumuskan sebagai berikut :

1. Faktor- faktor apakah yang mempengaruhi perubahan sosial masyarakat loakal akibat perkembangan parawisata?

2. Bagaimana bentuk perubahan sosial masyarakat lokal akibat perkembanagan parawisata?

C. Tujuan Penelitian

Pada hakekatnya penelitian merupakan usaha yang dilakukan secara sistematis. Diteliti secara mendalam untuk menganalisa serta memecahkan masalah yang akan dirumuskan dengan cara menyimpulkan dan mencari pengertian terhadap fenomena sosial. Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan sosial masyarakat lokal akibat perkembangan parawisata.

2. Untuk mengetahui bentuk perubahan sosial masyarakat lokal akibat perkembangan parawisata.

(11)

Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:

1. Secara teoritis

Secara teoritis, peneliti ini diharapkan bisa memberikan gambaran kepada masyarakat bagaimana perubahan masyarakat lokal akibat perkembangan parawisata.

2. Secara praktis a. Bagi Masyarakat

Manfaatnya bagi masyarakat yakni mereka dapat mengetahui bagaimana perubahan dalam masyarakat akibat dalam perkembangan parawisata terkhusus pada segi kehidupan masyarakat misalnya pada segi ekonominya

b.Bagi Peneliti

Penelitian ini dpat menambah pengetahuan sebagai bekal dalam mengaplikasikan pengetahuan teoritik terhadap masalah praktis,sekaligus dapat dijadikan sebagai bahan rujukan oleh peniliti-peniliti lain.

E. Landasan Teori

Untuk dapat menyatakan perbedaannya. Konsep dasar perubahan sosial mencakup tiga gagasan:

1. Perbedaan.

2. Pada waktu berbeda.

3. Diantara keadaan sistem sosial yang sama.

Sedang perubahan sosial menurut Hawley yaitu : Perubahan sosial adalah setiap perubahan yang tak terulang dari sistem sosial sebagai satu kesatuan

(12)

tergantung pada sudut pengamatan, apakah dari sudut aspek, fragmen atau dimensi sistem sosialnya.

Ini disebabkan keadaan sistem sosial itu tidak sederhana, tidak hanya berdimensi tunggal, tetapi muncul sebagai kombinasi atau gabungan hasil dari berbagai komponen.

Dan pengertian perubahan sosial menurut para ahli yaitu :

1. Menurut Macionis perubahan sosial itu adalah transformasi dalam organisasi masyarakat, dalam pola berfikir dan dalam perilaku pada waktu tertentu (Sztompka, 2010 : 5) Menurut Spencer, suatu organisme akan bertambah sempurna apabila bertambah kompleks dan terjadi diferensiasi dan integrasi. Perkembangan masyarakat pada dasarnya berarti pertambahan diferensiasi dan integrasi, pembagian kerja dan perubahan dari keadaan homogen menjadi heterogen

2. Perubahan sosial menurut Persell adalah modifikasi atau transformasi dalam organisasi masyarakat (Sztompka, 2010: 5)

3. Sedangkan Ritzer berpendapat bahwa perubahan sosial mengacu pada variasi hubungan antaraindividu, kelompok, organisasi, kultur dan masyarakat pada waktu tertentu (Sztompka, 2010 : 5)

4. Menurut Farley perubahan sosial adalah perubahan pola prilaku, hubungan sosial,lembaga dan struktur sosial pada waktu tertentu(Sztompka,2010: 5)

(13)

organisasi atau komunitas, ia dapat menyangkut “struktur sosial” atau “ pola nilai dan norma” serta “peran”. Dengan demikian, istilah yang lebih lengkap mestinya adalah “ perubahan sosial-kebudayaan” kerena memang antara manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan itu sendiri.

Perubahan sosial adalah proses di mana terjadi perubahan struktur dan fungsi suatu system sosial. Perubahan tersebut terjadi sebagai akibat masuknya ide-ide pembaruan yang di adopsi oleh para anggota system sosial yang bersangkutan.

(14)

10 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Konsep Perubahan Sosial 1. Pengertian Perubahan Sosial

Penelitian mengenai perubahan sosial masyarakat lokal akibat perkembangan pariwisata tentunya sudah pernah di lakukan,untuk mendukung penelitian ini,penulis mencantumkan penelitian sebelumnya yang relevan yaitu oleh Sri Rahayu Rahma Nasir,Skripsi yang berjudul‘’Perubahan Sosial Masyarakat Lokal Akibat Perkembangan Pariwisata Dusun Wakka Kab. Pinrang (Interaksi Antara Wisatawan Dan Masyarakat Lokal)’’.

Perubahan sosial dapat dikatakan sebagai perubahan yang terjadi di dalam atau mencakup sistem sosial. Lebih tepatnya, terdapat perbedaan antara keadaan sistem tertentu dalam jangka waktu berlainan.

Berbicara tentang perubahan, kita membayangkan sesuatu yang terjadi setelah jangka waktu tertentu; kita berurusan dengan perbedaan keadaan yang diamati antara sebelum dan sesudah jangka waktu tertentu. Untuk dapat menyatakan perbedaannya. Konsep dasar perubahan sosial mencakup tiga gagasan:

(15)

1. Perbedaan.

2. Pada waktu berbeda.

3. Diantara keadaan sistem sosial yang sama.

Sedang perubahan sosial menurut Hawley yaitu :

Perubahan sosial adalah setiap perubahan yang tak terulang dari sistem sosial sebagai satu kesatuan (Sztompka, 2010 : 3).

Perubahan sosial dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, tergantung pada sudut pengamatan, apakah dari sudut aspek, fragmen atau dimensi sistem sosialnya. Ini disebabkan keadaan sistem sosial itu tidak sederhana, tidak hanya berdimensi tunggal, tetapi muncul sebagai kombinasi atau gabungan hasil dari berbagai komponen.

Dan pengertian perubahan sosial menurut para ahli yaitu :

Menurut Macionis perubahan sosial itu adalah transformasi dalam organisasi masyarakat, dalam pola berfikir dan dalam perilaku pada waktu tertentu (Sztompka, 2010 : 5)

Perubahan sosial menurut Persell adalah modifikasi atau transformasi dalam organisasi masyarakat (Sztompka, 2010: 5)

Sedangkan Ritzer berpendapat bahwa perubahan sosial mengacu pada variasi hubungan antaraindividu, kelompok, organisasi, kultur dan masyarakat pada waktu tertentu (Sztompka, 2010 : 5)

Menurut Farley perubahan sosial adalah perubahan pola prilaku, hubungan sosial, lembaga, dan struktur sosial pada waktu tertentu (Sztompka, 2010 : 5)

Perubahan sosial adalah perubahan dalam hubungan interaksi antar orang, organisasi atau komunitas, ia dapat menyangkut “struktur sosial” atau “ pola nilai dan norma” serta “pran”. Dengan demikian, istilah yang lebih lengkap mestinya adalah “ perubahan sosial-

(16)

kebudayaan” kerena memang antara manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan itu sendiri.

Perubahan sosial adalah proses di mana terjadi perubahan struktur dan fungsi suatu system sosial. Perubahan tersebut terjadi sebagai akibat masuknya ide-ide pembaruan yang diadopsi oleh para anggota system sosial yang bersangkutan. Proses perubahan sosial biasa terdiri dari tiga tahap, yaitu :

1. Invensi, yakni proses dimana ide-ide baru diciptakan dan dikembangkan.

2. Difusi, yakni proses dimana ide-ide baru itu dikomunikasikan kedalam sistem sosial.

3. Konsekuensi, yakni perubahan-perubahan yang terjadi dalam system sosial sebagai akibat pengadopsian atau penolakan inovasi.

Perubahan terjadi jika penggunaan atau penolakan ide baru itu mempunyai akibat. Perubahan sosial dalam masyarakat bukan merupakan sebuah hasil atau produk tetapi merupakan sebuah proses.

Perubahan sosial merupakan sebuah keputusan bersama yang diambil oleh anggota masyarakat. Konsep dinamika kelompok menjadi sebuah bahasan yang menarik untuk memahami perubahan sosial.

(17)

Ada empat tingkat perubahan yang perlu diketahui yaitu pengetahuan, sikap, prilaku individual, dan perilaku kelompok. Setelah suatu masalah dianalisa tentang kekuatannya maka pemahaman tentang tingkat-tingkat perubahan dan siklus perubahan akan dapat berguna.

Peletak dasar pemikiran perubahan sosial sebagai suatu bentuk

“evolusi” antara lain Herbert Spencer dan August Comte. Keduanya memiliki pandangan tentang perubahan yang terjadi pada suatu masyarakat dalam bentuk perkembangan yang linear menuju kearah yang positif. Perubahan sosial menurut mereka berjalan lambat namun menuju suatu bentuk ” kesempurnaan” masyarakat.

Menurut Spencer, suatu organisme akan bertambah sempurna apabila bertambah kompleks dan terjadi diferensiasi dan integrasi.

Perkembangan masyarakat pada dasarnya berarti pertambahan diferensiasi dan integrasi, pembagian kerja dan perubahan dari keadaan homogeny menjadi heterogen. Seperti halnya Spencer, pemikiran Comte sangat dipengaruhi oleh pemikiran ilmu alam. Pemikiran Comte yang dikenal dengan aliran positivisme, memandang bahwa masyarakat harus menjalani berbagai tahap evolusi yang pada masing- masing tahap tersebut dihubungkan dengan pola pemikiran tertentu.

Selanjutnya Comte menjelaskan bahwa setiap kemunculan tahap baru akan diawali dengan pertentangan antara pemikiran tradisional dan

(18)

pemikiran yang bersifat progresif . sebagaimana Spencer yang menggunakan analogi perkembangan makhuk hidup, Comte menyatakan bahwa dengan adanya pembagian kerja, masyarakat akan menjadi semakin kompleks dan terspesialisasi.

Dan definisi lain dari perubahan sosial adalah segala perubahan yang terjadi dalam lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi system sosialmya. Tekanan pada definisi tersebut adalah pada lembaga masyarakat sebagai himpunan kelompok manusia dimana perubahan mempengaruhi struktur masyarakat lainnya (Soekanto, 1990). Perubahan sosial terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat seperti misalnya perubahan dalam unsur geografis, biologis, ekonomis, dan kebudayaan.

Perubahan social merupakan bagian dari perubahan budaya.

Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian, yang meliputi kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat, dan lainnya. Akan tetapi perubahan tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas dibandingkan perubahan sosial. Namun demikian dalam prakteknya dilapangan kedua jenis perubahan-perubahan tersebut sangat sulit untuk dipisahkan(soekanto, 1990).

(19)

Sedangkan secara umum perubahan sosial dapat diartikan suatu proses pergeseran atau berubahnya struktur/tatanan didalam masyarakat, meliputi pola pikir yang lebih inovatif, sikap, serta kehidupan sosialnya untuk mendapatkan penghidupn yang lebih bermartabat. Perubahan yang terjadi di dalam masyarakat itu dikatakan berkaitan dengan hal yang kompleks. Tentang perubahan sosial ini beberapa sosiolog memberikan beberapa definisi perubahan sosial, yaitu sebagai berikut :

William F. Ogburn mengemukakan bahwa “ ruang lingkup perubahan-perubahan social meliputi unsur-unsur kebudayaan baik yang materil maupun immaterial, yang ditekankan adalah pengaruh besar unsure-unsur kebudayaan material terhadap unsure-unsur immaterial.

Kingsley Davis mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi msyarakat.

Maclver mengatakan perubahan-perubahan sosial merupakan sebagai perubahan-perubahan dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan hubungan sosial.

JL.Gillin dan JP. Gillin mengatakan perubahan-perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi georafi, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideology maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuanbaru dalam masyarakat.

Samuel Koenig mengatakan bahwa perubahan sosial menunjukkan pada modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia.

Selo soemardjan mengatakan segala perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat,

(20)

yangmempengruhi system sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengertian perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat yang mencakup peubahan dalam aspek-aspek struktur dari suatu masyarakat, ataupun karena terjadinya perubahan dari factor lingkungan, karena berubahnya komposisi penduduk, keadaan geografis, serta berubahnya system hubungan sosial, maupun perubahan pada lembaga kemasyarakatan.

2. Proses – proses Perubahan Sosial

Pada dasarnya masyarakat senantiasa mengalami perubahan.

Perubahan tersebut dapat diketahui dengan membandingkan keadaan masyarakat dalam satu waktu dengan keadaan yang lampau. Menurut Alvin L. Bertrond, proses perubahan sosial adalah sebagai berikut : 1. Difusiadalah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari satu individu ke individu yang lain, dari satu golungan ke golongan yang lain, atau dari satu masyarakat ke masyarakat lain, Difusi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

a. Difusi intra-masyarakat yaitu Difusi unsure kebudayaan antara individu/golongan dalam satu masyarakat.

(21)

b. Difusi antarmasyarakat, yaitu difusi unsur kebudayaan dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain.

Masuknya unsur-unsur baru ke dalam suatu masyarakat dapat terjadi melalui:

a. Pementasan damai (penetration pacifique), yaitu masuknya unsur baru kedalam masyarakat tanpa tanpa paksaan dan kekerasan.

Misalnya masuknya kebudayaan islam kemasyarakat Indonesia.

b. Perembesan dengan kekerasan (penetration violente), yaitu masuknya unsure baru kedalam masyarakat yang diwarnai dengan paksaan dan kekerasan sehingga terkadang merusak kebudayaan setempat.

c. Simbiotik, yaitu proses masukny unsure-unsur kebudayaan ke atau dari dalam masyarakat yang hidup berdampingan. Simbiotik dibagi menjadi 3 macam :

1. Mutualistik yaitu simbiosis yang saling menguntungkan

2. Komensalistik yaitu satu pihak untung dan satu pihak lain tidak untung tetapi juga tidak rugi.

3. Parasitistik yaitu satu pihak mendapatkan keuntungan dan pihak lain menderita kerugian.

2. Akulturasiatau kontak kebudayaan merupakan proses social yang timbul apabila suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu

(22)

dihadapkan dengan unsur-unsur kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga unsur-unsur kebudayaan tersebut lambat laun diterima dan diolah kedalam kebudayaannya tanpa menghilangkan sifat khas kepribadian kebudayaan asal.

3. Asimilasi adalah proses social tingkat lanjut yang timbul apabila terdapat golongan-golongan manusia yang mempunyai latar belakang kebudayaan berbeda saling berinteraksi dan bergaul secara langsung dan intensif dalam waktu yang lama sehingga kebudayaan dari masing- masing golongan tersebut berubah sifatnya dari yang khas menjadi unsur-unsur kebudayaan baru yang berbeda dengan asalnya.

a. Faktor-faktor pendorong asimilasi

1. Toleransi antara kebudayaan yang berbeda

2. Kesempatan-kesempatan yang seimbang dibidang ekonomi 3. Sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya

4. Sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dimasyarakat 5. Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan

6. Perkawinan campuran

7. Adanya musuh bersama dari luar.

b. Faktor-faktor penghambat asimilasi

1. Terisolasinya kehidupan berkelompok

2. Kurangnya pengetahuan akan kebudayaan lain

(23)

3. Perasaan takut akan kebudayaan lain

4. Perasaan kebudayaan sendiri lebih tinggi dari kebudayaan lain

5. Perbedaan warna kulit dan cirri badaniah 6. In group feeling yang kuat

7. Golongan minoritas mendapat gangguan dari mayoritas 8. Perbedaan kepentingan

4. Akomodasidikenal pula dengan sebutan adaptasi.

Akomodasi dapat berarti keadaan atau proses. Sebagai suatu keadaan, akomodasi menunjuk kepada adanya keseimbangan dalam interaksi antara individu dengan kelompok sehubungan dengan norma- norma dan nilai-nilai social yang berlaku di masyarakat. Sebagai suatu proses, akomodasi menunjuk kepada usaha-usaha manusia untuk meredakan pertentangan-pertentangan atau usaha-usaha untuk mencapai kestabilan social.

a. Tujuan akomodasi

1. Mengurangi pertentangan

2. Mencegah meledaknya suatu pertentangan 3. Memungkinkan terjadinya kerjasama 4. Mengusahakan terjadinya asimilasi b. Bentuk-bentuk akomodasi

(24)

1. Konsoliasi merupakan pengendalian konflik melalui lembaga-lembaga tertentu yang memungkinkan terjadinya difusi dan pengambilan keputusan diantara pihak-pihak yang berlawanan mengenai persoalan-persoalan yang mereka pertentangkan.

2. Mediasi adalah menunjuk pihak ketiga untuk memberikan nasihat-nasihat tentang bagaimana caranya menyelesaikan pertentangan-pertentangan diantara golongan yang bertikai.

3. Arbitrasi pengendalian konflik dengan arbitasi (perwasitan) hampir sama dengan mediasi akan tetapi pihak yang bertikai dengan suka rela menerima putusan yang dibuat.

4. Kompromi yaitu antara pihak yang bertikai saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian masalah.

5. Coercion merupakan bentuk pengendalian konflik yang dilakukan karena adanya paksaan. Dalam hal ini salah satu pihak berada dalam keadaan limah dari pihak lainnya.

3. Bentuk-bentuk Perubahan Sosial

Perubahan sosial dalam masyarakat dapat dibedakan kedalam beberapa bentuk yaitu :

(25)

a. Perubahan lambat (Evolusi)

Perubahan secara lambat atau evolusi memerlukan waktu yang lama. Perubahan ini biasanya merupakan rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat. Pada evolusi, perubahan terjadi dengan sendirinya tanpa rencana atau kehendak tertentu. Masyarakat hanya berusaha menyesuaikan dengan keperluan, keadaan, dan kondisi baru yang ditimbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat.

b. Perubahan Cepat (Revolusi)

Perubahan yang berlangsung secara cepat dinamakan dengan revolusi. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan terlebih dahulu maupun tanpa direncanakan. Selain itu dapat dijalankan tanpa kekerasan maupun dengan kekerasan. Ukuran kecepatan suatu perubahan sebenarnya relative karena revolusi pun dapat memakan waktu lama. Perubahan-perubahan tersebut dianggap cepat Karena mengubah sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat, seperti sistem kekeluargaan dan hubungan antara manusia. Suatu revolusi dapat juga berlangsung dengan didahului suatu pemberontakan.

Secara sosiologis, persyaratan berikut ini harus dipenuhi agar suatu revolusi dapat tercapai.

(26)

a. Harus ada keinginan dari masyarakat banyak untuk mengadakan perubahan. Didalam masyarakat harus ada perasaan tidak puas terhadap keadaan dan harus ada keinginan untuk mencapai keadaan yang lebih baik.

b. Ada seorang pemimpin atau sekelompok orang yang mampu memimpin masyarakat untuk mengadakan perubahan.

c. Pemimpin harus dapat menampung keinginan atau aspirasi dari rakyat untuk kemudian merumuskan aspirasi tersebut menjadi suatu program kerja.

d. Ada tujuan konkret yang dapat dicapai. Artinya, tujuan itu dapat dilihat oleh masyarakat dan dilengkapi oleh suatu ideology tertentu.

e. Harus ada momentum yang tepat untuk mengadakan revolusi, yaitu saat dimana keadaan sudah tepat dan baik untuk megadakan suatu gerakan

c. Perubahan kecil

Perubahan kecil adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur social yang tidak membawa pengaruh langsung atau berarti bagi masyarakat. Seperti contohnya yaitu pada zaman

(27)

dahulu, kaum perempuan di Indonesia setiap harinya mengenakan baju kebaya. Seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan mode, model pakaian yang mereka kenakan pun mengalami perubahan. Ada yang memakai rok panjang, rok mini, celana panjang, kaos dan lain lain.

d. Perubahan Besar

Perubahan besar adalah perubahan yang berpengaruh terhadap masyarakat dan lembaga-lembaganya, seperti dalam system kerja, system hak milik tanah, hubungan kekeluargaan, dan stratifikasi masyarakat.

e. Perubahan yang dikehendaki

Perubahan ini adalah perubahan yang diperkirakan atau yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan dalam masyarakat. Pihak-pihak ini dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat sebagai pemimpin dalam perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan.

(28)

f. Perubahan Struktural

Perubahan struktural adalah perubahan yang sangat mendasar yang menyebabkan timbulnya reorganisasi dalam masyarakat.

g. Perubahan Proses

Perubahan proses adalah perubahan yang sifatnya tidak mendasar. Perubahan tersebut hanya merupakan penyempurnaan dari perubahan sebelumnya.

4. Faktor-faktor Yang Mendorong Jalannya Proses Perubahan A. Faktor-Faktor Pendorong Perubahan

a) Adanya Kontak dengan Kebudayaan Lain

Kontak dengan kebudayaan lain dapat menyebabkan manusia saling berinteraksi dan mampu menghimpun penemuan-penemuan baru yang telah dihasilkan. Penemuan-penemuan baru tersebut dapat berasal dari kebudayaan asing atau merupakan perpaduan antara budaya asing dengan budaya sendiri. Prosestersebut dapat mendorong pertumbuhan suatu kebudayaan dan memperkaya kebudayaan yang ada.

b). Sistem Pendidikan Formal yang Maju

Pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia, terutama membuka pikiran dan mem-biasakan berpola pikir ilmiah, rasional, dan objektif. Hal ini akan memberikan kemampuan manusia

(29)

untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya dapat memenuhi perkembangan zaman atau tidak.

c). Sikap Menghargai Hasil Karya Orang Lain

Penghargaan terhadap hasil karya seseorang akan mendorong seseorang untuk berkarya lebih baik lagi, sehingga masyarakat akan semakin terpacu untuk menghasilkan karya-karya lain.

d).Toleransi terhadap Perbuatan yang Menyimpang

Penyimpangan sosial sejauh tidak melanggar hukum atau merupakan tindak pidana, dapat merupakan cikal bakal terjadinya perubahan sosial budaya.Untuk itu, toleransi dapat diberikan agarsemakin tercipta hal-hal baru yang kreatif.

e). Sistem Terbuka Masyarakat ( Open Stratification ).

Sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertikal atau horizontal yang lebih luas kepada anggota masyarakat.

Masyarakat tidak lagi mempermasalahkan status sosial dalam menjalin hubungan dengan sesamanya.

Hal ini membuka kesempatan kepada para individu untuk dapat mengembangkan kemampuan dirinya.

f).Heterogenitas Penduduk

Di dalam masyarakat heterogen yang mempunyai latar belakang budaya, ras, dan ideologi yang berbeda akan mudah terjadi

(30)

pertentangan yang dapat menimbulkan kegoncangan sosial. Keadaan demikian merupakan pendorong terjadinya perubahan-perubahan baru dalam masyarakat dalam upayanya untuk mencapai keselarasan sosial.

g). Orientasi ke Masa Depan

Pemikiran yang selalu berorientasi ke masa depan akan membuat masyarakat selalu berpikir maju dan mendorong terciptanya penemuan-penemuan baru yang disesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman.

h). Ketidakpuasan Masyarakat terhadap Bidang-Bidang Tertentu Ketidakpuasan yang berlangsung lama di kehidupan masyarakat dapat menimbulkan reaksi berupa perlawanan, pertentangan, dan gerakan revolusi untuk mengubahnya.

i).Nilai Bahwa Manusia Harus Senantiasa Berikhtiar untuk Memperbaiki Hidupnya

Ikhtiar harus selalu dilakukan manusia dalam upaya memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas dengan menggunakan sumber daya yang terbatas.

B. Faktor-Faktor Penghambat Perubahan

a. Kurangnya Hubungan dengan Masyarakat Lain

(31)

Kehidupan terasing menyebabkan suatu masyarakat tidak mengetahui perkembangan-perkembangan yang telah terjadi. Hal ini menyebabkan pola-pola pemikiran dan kehidupan masyarakat menjadi statis.

b. Terlambatnya Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Kondisi ini dapat dikarenakan kehidupan masyarakat yang terasing dan tertutup, contohnya masyarakat pedalaman.

Tapi mungkin juga karena masyarakat itu lama berada di bawah pengaruh masyarakat lain (terjajah).

c.Sikap Masyarakat yang Masih Sangat Tradisional

Sikap yang mengagung-agungkan tradisi dan masa lampau dapat membuat terlena dan sulit menerima kemajuan dan perubahan zaman. Lebih parah lagi jika masyarakat yang bersangkutan didominasi oleh golongan konservatif (kolot).

d. Rasa Takut Terjadinya Kegoyahan pada Integritas Kebudayaan

Integrasi kebudayaan seringkali berjalan tidak sempurna, kondisi seperti ini dikhawatirkan akan menggoyahkan pola kehidupan atau kebudayaan yang telah ada. Beberapa golongan masyarakat berupaya menghindari risiko ini dan tetap

(32)

mempertahankan diri pada pola kehidupan atau kebudayaan yang telah ada.

e. Adanya Kepentingan-Kepentingan yang Telah Tertanam dengan Kuat ( Vested Interest Interest)

Organisasi sosial yang mengenal sistem lapisan strata akan menghambat terjadinya perubahan. Golongan masyarakat yang mempunyai kedudukan lebih tinggi tentunya akan mempertahankan statusnya tersebut. Kondisi inilah yang menyebabkan terhambatnya proses perubahan.

f. Adanya Sikap Tertutup dan Prasangka Terhadap Hal Baru (Asing) Sikap yang demikian banyak dijumpai dalam masyarakat yang pernah dijajah oleh bangsa lain, misalnya oleh bangsa Barat. Mereka mencurigai semua hal yang berasal dari Barat karena belum bisa melupakan pengalaman pahit selama masa penjajahan, sehingga mereka cenderung menutup diri dari pengaruh-pengaruh asing.

g. Hambatan-Hambatan yang Bersifat Ideologis

Setiap usaha perubahan pada unsur-unsur kebudayaan rohaniah, biasanya diartikan sebagai usaha yang berlawanan dengan ideology masyarakat yang sudah menjadi dasar integrasi masyarakat tersebut.

(33)

h. Adat atau Kebiasaan yang Telah Mengakar

Adat atau kebiasaan merupakan pola-pola perilaku bagi anggota masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Adakalanya adat dan kebiasaan begitu kuatnya sehingga sulit untuk diubah. Hal ini merupakan bentuk halangan terhadap perkembangan dan perubahan kebudayaan. Misalnya, memotong padi dengan mesin dapat mempercepat proses pemanenan, namun karena adat dan kebiasaan masyarakat masih banyak yang menggunakan sabit atau ani- ani, maka mesin pemotong padi tidak akan digunakan.

i. Nilai Bahwa Hidup ini pada Hakikatnya

Buruk dan Tidak Mungkin Diperbaiki Pandangan tersebut adalah pandangan pesimistis. Masyarakat cenderung menerima kehidupan apa adanya dengan dalih suatu kehidupan telah diatur oleh Yang Mahakuasa. Pola pikir semacam ini tentu saja tidak akan memacu pekembangan kehidupan manusia.

5. Pengertian Interaksi dan Masyarakat Lokal

Karena interaksi social merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas social. Bentuk lain dari proses-proses sosial hanya merupakan bentuk-bentuk khusus dari interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut

(34)

hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang-perorangan dengan kelompok manusia.

(SOEKANTO, 2007: 55)

Interaksi sosial dimulai pada saat dua orang bertemu. Mereka saling menegur, berjabat tangan, saling berbicara atau bahkan mungkin berkelahi. Walaupun orang-orang yang bertemu muka tidak saling berbicara atau tidak saling menukar tanda-tanda, interaksi sosial telah terjadi, karena masing-masing sadar akan adanya pihak lain yang menyebabkan perubahan-perubahan dalam perasaan maupun syaraf orang-orang yang bersangkutan, yang misalkan disebabkan bau keringat, minyak wangi, suara berjalan, dan sebagainya. Semuanya itu menimbulkan kesan dalam pikiran seseorang, yang kemudian menentukan tindakan apa yang akan dilakukan.

Interaksi sosial adalah hubungan sosial yang dinamis, menyangkut hubungan antara individu, antara kelompok maupun antara individu dengan kelompok. Dan dua syarat terjadinya interaksi sosial yaitu :

1. Adanya kontak sosial, yang dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu antaraindividu, antaraindividu dengan kelompok, antar kelompok. Selain itu, suatu kontak dapat pula bersifat langsung maupun tidak langsung.

2. Adanya komunikasi, yaitu seseorang member arti pada perilaku orang lain, perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian member reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut (Soekanto,2007:

62)

(35)

Dan ada juga bentuk-bentuk interaksi sosial yakni dapat berupa kerjasama (cooperation), persaingan (competition), dan bahkan juga berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflict).

Dimana pertikaian mungkin mendapatkan penyelesaian.

Mungkin penyelesaian tersebut hanya akan dapat diterima untuk sementara waktu, yang dinamakan akomodasi dan ini berarti bahwa kedua belah pihak belum tentu puas sepenuhnya.

Tiga pendapat tentang bentuk-bentuk interaksi dari tiga tokoh yaitu : 1. Gillin dan Gillin : bentuk interaksi adalah

(1) proses asosiatif (akomodasi, asimilasi, dan akulturasi), (2) proses disosiatif (pertentangan, persaingan). (Soekanto, 2007:65)

2. Kimball Young : bentuk interaksi adalah (1) oposisi (persaingan, dan pertentangan), (2) kerjasama yang menghasilkan akomodasi,

(3) diferensiasi (tiap individu mempunyai hak dan kewajiban atas dasar perbedaaan usia, seks, dan pekerjaan). (Soekanto, 2007 : 65) 3. Tomatsu Shibutani : bentuk interaksi adalah

(1) akomodasi dalam situasi rutin, (2) ekspresi pertemuan dan anjuran, (3) interaksi strategis dalam pertentangan,

(36)

(4) pengembangan perilaku massa. (Soekanto, 2007 : 65 ).

Masyarakat menurut Selo Soemardjan yaitu adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.

Ciri-ciri suatu masyarakat pada umumnya sebagai berikut.

1. Manusia yang hidup bersama sekurang-kurangnya terdiri atas dua orang.

2. Bergaul dalam waktu cukup lama. Sebagai akibat hidup bersama itu, timbul sistem komunikasi dan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antarmanusia.

3. Sadar bahwa mereka merupakan satu kesatuan.

4. Merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan karena mereka merasa dirinya terkait satu dengan yang lainnya.

Masyarakat Lokal adalah kelompok Masyarakat yang menjalankan tata kehidupan sehari-hari berdasarkan kebiasaan yang sudah diterima sebagai nilai-nilai yang berlaku umum tetapi tidak sepenuhnya bergantung pada Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tertentu. (Pasal 1 Angka 34 UU Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil).

(37)

6. Interaksi Antara Wisatawan Dengan Masyarakat Lokal

Wisatawan yang mengunjungi suatu daerah tujuan wisata antara lain di dorong oleh keinginan untuk mengenal, mengetahui atau mempelajari daerah dan kebudayaan masyarakat lokal. Dan selama berada di daerah tujuan wisata, wisatawan pasti berinteraksi dengan masyarakat lokal, tapi bukan saja dengan mereka yang melayani kebutuhan wisatawan melainkan juga dengan masyarakat luas.

Hubungan antara wisatawan dengan masyarakat dicirikan oleh beberapa hal yaitu :

1. Mereka berhubungan sementara, sehingga tidak ada hubungan mendalam.

2. Ada kendala ruang dan waktu yang menghambat hubungan.

Wisatawan umumnya berkunjungan secara musiman dan tidak berulang. Apalagi kenyataan bahwa fasilitas pariwisata umumnya hanya terkonsentrasi pada tempat-tempat tertentu, maka wisatawan hanya berhubungan secara intensif dengan sebagian anggota masyarakat yang secara langsung berhubungan dengan pelayanan terhadap pariwisata, sedangkan masyarakat yang jauh dari fasilitas pariwisata berhubungan dengan wisatawan secara kurang intensif.

3. Hubungan atau interaksi umumnya bersifat tidak setara.

(38)

Apapun motivasi seseorang melakukan perjalanan wisata maka bagi seorang / kelompok wisatawan, perjalanan tersebut mempunyai berbagai

manfaat dan akibat antara lain :

1. Perjalanan wisata memberikan stimulasi bagi penyegaran fisik dan mental serta merupakan kompensasi terhadap berbagai hal yang melelahkan sepert situasi yang sibuk, ketegangan, rutinitas yang menjemukan, sehingga melakukan perjalanan merupakan kompensasi terhadap masalah-masalah.

2. Pariwisata memberikan keuntungan social ekonomi pada satu sisi, tetapi disisi lain membawa ketergantungan dan ketimpangan social dan berbagai masalah social.

3. Pariwisata membawa berbagai peluang baru bagi masyarakat dan mendorong berbagai bentuk perubahan social.

4. Munculnya kondisi frustasi ditengah-tengah masyarakat yang menjadi objek tetapi tidak merasa menikmati keuntungan dari pembangunan pariwisata.

Tetapi berbagai perubahan social yang terjadi tidak dapat sepenuhnya dipandang sebagai dampak pariwisata semata-mata, mengingat pariwisata memiliki sifat kegiatan multidimensional dan

(39)

terjalin erat dengan berbagai kegiatan lain yang mungkin pengaruhnya jauh sebelum pariwisata berkembang disatu Kota/Kabupaten.

7. Konsep Pariwisata

a. Pengertian Pariwisata

Pengertian pariwisata adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain bersifat sementara, dilakukan perorangan atau kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam, dan ilmu.

Selanjutnya menurut Musanef mengartikan pariwisata sebagai suatu perjalanan yang dilaksanakan untuk sementara waktu, yang dilakukan dari satu tempat ke tempat yang lain untuk menikmati perjalanan bertamasya dan berekreasi.

Menurut Yoeti, pariwisata harus memenuhi 4 kriteria yaitu:

1) perjalanan dilakukan dari suatu tempat ke tempat lain, perjalanan dilakukan di luar tempat kediaman di mana orang itu biasanya tinggal;

2) tujuan perjalanan dilakukan semata-mata untuk bersenang- senang, tanpa mencari nafkah di negara, kota atau DTW yang dikunjungi.

(40)

3) uang yang dibelanjakan wisatawan tersebut dibawa dari negara asalnya, di mana dia bisa tinggal atau berdiam, dan bukan diperoleh karena hasil usaha selama dalam perjalanan wisata yang dilakukan; dan

4) perjalanan dilakukan minimal 24 jam atau lebih.

Dalam pengertian kepariwisataan terdapat 4 faktor yang harus ada dalam batasan suatu definisi pariwisata. Faktor-faktor tersebut adalah perjalanan itu dilakukan dari satu tempat ke tempat lain, perjalanan itu harus dikaitkan dengan orang-orang yang melakukan perjalanan wisata semata-mata sebagai pengunjung tempat wisata tersebut.

b. Strategi Pengembangan Pariwisata

Strategi pada prinsipnya berkaitan dengan persoalan: Kebijakan pelaksanaan, penentuan tujuan yang hendak dicapai, dan penentuan cara-cara atau metode penggunaan sarana-prasarana. Strategi selalu berkaitan dengan 3 hal yaitu tujuan, sarana, dan cara. Oleh karena itu, strategi juga harus didukung oleh kemampuan untuk mengantisipasi kesempatan yang ada. Dalam melaksanakan fungsi dan peranannya dalam pengembangan pariwisata daerah, pemerintah daerah harus melakukan berbagai upaya dalam pengembangan sarana dan prasarana pariwisata.Strategi perkembangan pariwisata yang menunjang

(41)

pertumbuhan ekonomi dapat dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

1.Perlu ditetapkan beberapa peraturan yang berpihak pada peningkatan mutu pelayanan pariwisata dan kelestarian lingkungan wisata, bukan berpihak pada kepentingan pihak- pihak tertentu.

2.Pengelola pariwisata harus melibatkan masyarakat setempat.

Hal ini merupakan hal penting karena sebagai hal pengalaman pada beberapa daerah tujuan wisata, apabila tidak melibatkan masyarakat setempat, akibatnya tidak ada sumbangsih ekonomi yang diperoleh masyarakat sekitar.

3.Kegiatan promosi, selain dengan mencanangkan cara kampanye dan program Visit Indonesia Year seperti yang sudah dilakukan sebelumnya. Kegiatan promosi juga perlu dilakukan dengan membentuk system informasi yang handal dan membangun kerja sama yang baik dengan pusat informasi pada Negara – Negara lain terutama pada Negara yang berpotensi.

4.Perlu menentukan daerah tujuan wisata yang memiliki keunikan disbanding dengan daerah tujuan wisata lain, terutama yang bersifat tradisional dana lama. Karena era

(42)

kekinianlah objek wisata yang alami dan tradisional yang menjadisasaranwisatawanasing.

Daerah ini masih banyak ditemukan didaerah luar jawa seperti daerah pedalaman papua atau Kalimantan.

5. Pemerintah pusat membangun kerja sama dengan kalangan swasta dan pemerintah daerah setempat, dengan system terbuka, jujur dana dil. Kerja sama ini penting karena untuk mempelancar pengelolah secara professional dengan mutu pelayanan yang memadai.

6. Perlu dilakukan pemerataan arus wisatawan bagi semua daerah tujuan wisata yang ada diseluruh Indonesia.

7. Mengajak masyarakat sekitar daerah tujuan wisata agar menyadari peran, fungsi dan manfaat pariwisata serta merangsang mereka untuk memanfaatkan peluang - peluang yang tercipta bagi berbagai kegiatan yang dapat menguntungkan secara ekonomi.

8. Sarana dan prasarana yang dibutuhkan perlu dipersiapkan secara baik untuk menunjang kelancaran pariwisata.

Misalnya dengan pengadaan perbaikan jalan, telepon, internet dan pusat pembelanjaan disekitar lokasi daerah wisata.

(43)

Dengan memperhatikan beberapa masukan ini kiranya dapat membantu bagi penyelenggara pariwisata yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi. Factor baik internal dan eksternal, pariwisata dapat menghasilkan pendapat yang luar biasa bagi suatu daerah terutama apabila dikelolah dengan baik.

c. Faktor Pendorong Perkembangan Pariwisata diIndonesia Dewasa ini maupun pada masa yang akan datang, kebutuhan untuk berwisata akan meningkat khususnya di Indonesia seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia maupun dunia.

Serta perkembangan penduduk Indonesia yang semakin membutuhkan Refresing akibat semakin tingginya kesibukan kerja.

MenututFandeli (1995), factor yang mendorong manusia untuk berwisata ialah:

1. Keinginan untuk melepas diri dari tekanan hidup sehari-hari di kota, keinginan untuk mencari suasanya baru untuk mengisi waktu lenggang.

2. Kemajuan pembangunan dalam bidang komunikasi dan transformasi.

3. Keinginan untuk melihat dan memperoleh pengalaman baru mengenai budaya masyarakat dan di tempat lainnya.

(44)

4. Meningkatnya pendapat yang dapat memungkinkan seseorang dapat dengan bebas melakukan perjalanan yang jauh dari tempat tinggalnya.

Faktor – factor pendorong perkembangan pariwisata di Indonesia menurut Spilane (1987) adalah:

1.Berkurangnnya peranan minyak bumi sebagaisumber devisa Negara jika dibandingkan dengan waktu lalu;

2.Merosotnya nilai ekspor pada sector non migas;

3. Adanya kecendrungan peningkatan pariwisata secara konsisten 4. Besarnya potensi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia bagi

pengembangan pariwisata

Ini semua memperlihatkan bahwa itu kondisi sosial-ekonomi di Indonesia semakin berkurangnya lahan pertanian dan lapangan kerja lainnya serta semakin rusaknya lingkungan akibat kegiatan industry manufaktur dan kegiatan ekonomi lainnya yang mengeksploitasi sumber daya alam.

Maka pariwisata perlu dikembangkan tidak terkecuali di daerah- daerah seperti di Kelurahan Sumpang Binangae, Kabupaten Barru sebagai salah satu pemasukan bagi divisit Negara dan daerah menjadi sumber industry andalan. Sektor pariwisata selain dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, juga dapat merusak lingkungan bahkan

(45)

sebaliknya merangsang pelestarian lingkungan hidup. Hal ini dapat dimaklumi karena perkembangan pariwisata tidak dapat dipisahkan dari lingkungan hidup sebagai salah satu sarana atau objek wisata.

C. Bagan Kerangkah Pikir

Bagan kerangka pikir

Gambar.1.1

Berbicara mengenai Indonesia pasti tidak terlepas dari keindahan alamnya dan tidak terlepas dari pariwisatan-pariwisata yang ada, salah satunya adalah di Kelurahan Sumpang Binangae,Kabupaten

PERKEMBANG AN PARIWISATA

PERUBAHAN SOSIAL

MASYARAKAT CEPAT DAN

LAMBAT

TERJADINYA PERUBAHAN

(46)

Barru.Di daerah ini terdapat pantai ujung batu yang menjadi salah satu tempat rekreasi para wisatawan-wisatawan baik lokal maupun asing.

Seiring dengan perkembangan jaman,tempat ini terjadi perubahan-perubahan atau perkembangan dari hari ke hari baik infastruktur dan fasilitas-fasilitas bagi para wisatawan,agar para wisatawan merasa nyaman dan tidak merasa bosan datang kembali ke tempat ini.

Namun demikian ada dampak-dampak yang terjadi,baik itu dampak positif maupun dampak negatif.Dengan kata lain terjadi perubahan sosial dalam masyarakat setempat,entah itu perilaku dan gaya hidup.Perubahan itu jika dikaji lebih dalam terjadi melalui dua cara yaitu perubahan secara cepat dan perubahan secara lambat.Hal ini terjadi melalui interaksi sosial antara wisatawan dengan masyarakat lokal.

Wisatawan yang mengunjungi suatu daerah tujuan wisata antara lain di dorong oleh keinginan untuk mengenal, mengetahui atau mempelajari daerah dan kebudayaan masyarakat lokal. Dan selama berada di daerah tujuan wisata, wisatawan pasti berinteraksi dengan masyarakat lokal, tapi bukan saja dengan mereka yang melayani kebutuhan wisatawan melainkan juga dengan masyarakat luas.

(47)

Hubungan antara wisatawan dengan masyarakat yamg di ciri- cirikan oleh beberapa hal yaitu :

1. Mereka berhubungan sementara, sehingga tidak ada hubungan mendalam.

2. Ada kendala ruang dan waktu yang menghambat hubungan.

Wisatawan umumnya berkunjungan secara musiman dan tidak berulang. Apalagi kenyataan bahwa fasilitas pariwisata umumnya hanya terkonsentrasi pada tempat-tempat tertentu, maka wisatawan hanya berhubungan secara intensif dengan sebagian anggota masyarakat yang secara langsung berhubungan dengan pelayanan terhadap pariwisata, sedangkan masyarakat yang jauh dari fasilitas pariwisata berhubungan dengan wisatawan secara kurang intensif.

3. Hubungan atau interaksi umumnya bersifat tidak setara.

Apapun motivasi seseorang melakukan perjalanan wisata maka bagi seorang / kelompok wisatawan, perjalanan tersebut mempunyai berbagai manfaat dan akibat antara lain :

1. Perjalanan wisata memberikan stimulasi bagi penyegaran fisik dan mental serta merupakan kompensasi terhadap berbagai hal yang melelahkan sepert situasi yang sibuk, ketegangan, rutinitas yang menjemukan, sehingga melakukan perjalanan merupakan kompensasi terhadap masalah-masalah.

(48)

2. Pariwisata memberikan keuntungan social ekonomi pada satu sisi, tetapi disisi lain membawa ketergantungan dan ketimpangan social dan berbagai masalah social.

3. Pariwisata membawa berbagai peluang baru bagi masyarakat dan mendorong berbagai bentuk perubahan social.

4. Munculnya kondisi frustasi ditengah-tengah masyarakat yang menjadi objek tetapi tidak merasa menikmati keuntungan dari pembangunan pariwisata.

Tetapi berbagai perubahan social yang terjadi tidak dapat sepenuhnya dipandang sebagai dampak pariwisata semata- mata, mengingat pariwisata memiliki sifat kegiatan multidimensional dan terjalin erat dengan berbagaikegiatan lain yang mungkin pengaruhnya jauh sebelum pariwisata berkembang disatu Kota/Kabupaten.

(49)

45 BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penilitian deskriptif kualitatif untuk mengungkap dan menjawab pertanyaan tentang perubahan sosial masyarakat lokal akibat perkembangan parawisata di Kelurahan Sumpang Binangae, Kabupaten Barru.

Penelitian kualitif sering disebut metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan dengan kondisi yang alamia(natural setting) ;disebut juga sebagai metode etnografi, karena pada awalnya metode ini lebih banyak digunakan untuk peneliti bidang antropologi budaya;disebut sebagai metode kualitatif,karean data yang terkumpul dan analisisnya bersifat kualitatif.

Bogdan dan biklen(sugiyono,2008:13) menyatakan bahwa ”sala satu ciri penelitian kualitatif adalah bersifat deskriftif, dimana data dikumpulkan dalam bentuk kata-kata, atau gambar,sehingga tidak menekankan pada angka”

Metode penelitian kualitatif dilakukan secara intensif peneliti ikut berpartisipasi, mencatat apa yang terjadi , melakukan analisis

(50)

reflektif terhadap berbagai kejadian yang ditemukan di lapangan dan membuat laporan penelitian.

Ada pun ciri-ciri pokok dari metode deskriftif adalah:

1. Memusatkan perhatian pada masalah-masalah yang ada pada saat penelitian dilakukan(saat sekarang)atau masalah-masalah yang aktual.

2. Menggambarkan fakta-fakta tentang masalah –masalah yang di selidiki sebagaimana adanya, diiringi intervertasi nasional.

B. Lokasi Penelitian

Tempat penelitian sangat menentukan diperolehnya informasi untuk

menyampaikan kebenaran dari suatu penelitian. Tempat penelitian yang akan

peneliti gunakan adalah kelurahan sumpang binangae kabupaten barru C. Informan Penelitian

Moleong dalam Prastowo (2014: 195) informan adalah orang- orang dalam yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi (lokasi atau tempat) penelitian. Jadi syaratnya, ia harus mempunyai banyak pengalaman tentang lokasi penelitian.

Sedangkan kewajibannya adalah secara sukarela menjadi anggota tim

(51)

penelitian walaupun hanya bersifat informal. Sebagai anggota tim dengan ke baikannya dan ke sukarelaannya, iya dapat memberikan pandangan dari segi orang-orang dalam tentang nilai-nilai, sikap, bangunan, proses, dan kebudayaan yang menjadi latar belakang (lokasi) penelitian tersebut.

Guba dalam Prastowo (2014: 196) menerangkan bahwa kegunaan informan bagi peneliti kita adalah sebagai berikut :

1. Membantu agar secepatnya dan tetap seteliti mungkin dapat membenamkan diri dalam konteks setempat, terutama bagi peneliti yang belum mengalami latihan etnografi.

2. Agar dalam waktu yang relatif singkat banyak informasi yang terkumpul sebagai sampling internal karena informan dimanfaatkan untuk berbicara, bertukar pikiran atau membandingkan suatu kejadian yang ditemukan dari subjek lainnya dapat dilakukan.

Jadi dalam penelitian ini yang menjadi informan penelitian pada saat mengumpulkan data adalah para wisatawan, masyarakat setempat,Tokoh masyarakat,Toko agama dan Pemerintahan setempat

(52)

D. Fokus Penelitian

Spradley dalam Sugiyono (2013: 286) menyatakan bahwa fokus merupakan domain tunggal atau beberapa domain yang terkait dari situasi sosial. Dengan demikian penentuan fokus penelitian dalam proposal lebih didasarkan pada tingkat kebaruan informasi yang akan diperoleh dari situai sosial (lapangan).adapun menurut Spradley dalam Prastowo (2014: 137) mengemukakan bahwa ada empat alternatif untuk menetapkan fokus penelitian, yaitu sebagai berikut :

1. Menetapkan fokus pada permasalahan yang disarankan oleh informan.

2. Menetapkan fokus berdasarkan domain-domain tertentu organizing domain.

3. Menetapkan fokus yang memiliki nilai temuan untuk mengembangkan iptek.

4. Menetapkan fokus berdasarkan permasalahan yang terkait dengan teori-teori yang ada.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka yang menjadi fokus atau titik perhatian dalam penelitian ini adalah perubahan sosial masyarakat lokal akibat perkembangan pariwisata di Kelurahan Sumpang Binangae Kabupaten Barru.

(53)

E Instrumen Penelitian

Afrizal (214: 134) Instrumen penelitian adalah alat-alat yang di perlukan di pergunakan untuk mengumpulkan data.dalam penelitian kualitatif, alat atau instrumen utama pengumpulan data adalah manusia yaitu, peneliti sendiri atau orang lain yang membantu peniliti. Karena peneliti sendiri yang mengumpulkan data dengan cara bertanya, meminta, mendengar, dan mengambil. Peneliti dapat meminta bantuan orang lain untuk mengumpulkan data, disebut pewawancara. Dalam hal ini, seorang pewawancara sendiri yang langsung mengumpulkan data dengan cara bertanya, meminta, mendengar, dan mengambil.

Berbeda dengan penelitian kuantitatif, dalam penelitian kuantitatif alat dalam pengumpulan data mengacu kepada hal yang dipergunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data, biasanya dipakai untuk menyebut kusioner.

Pada penelitian ini, penulis sendiri yang bertindak sebagai instrumen (human instrumen). Hal ini didasari oleh adanya potensi manusia yang memiliki sifat dinamis dan kemampuan untuk mengamati, menilai, memutuskan dan menyimpulkan secara obyektif.

Untuk memperoleh hasil penelitian yang cermat dan valid serta memudahkan penelitian maka perlu menggunakan alat bantu berupa pedoman wawancara (daftar pertanyaan), pedoman observasi,

(54)

pensil/pulpen dan catatan peneliti yang berfungsi sebagai alat pengumpul data serta alat pemotret.

F. Jenis dan Sumber Data

Jenis dan sumber data yang akan digunakan adalah data primer yang diperoleh langsung dilokasi penelitian melalui wawancara langsung kepada narasumber serta data sekunder yang diperoleh secara tidak langsung melalui penelitian kepustakaan baik dengan teknik pengumpulan dan inventarisasi,buku-buku,karya-karya,artikel-artikel dan dari internet secara dokumen-dokumen yang ada hubungannya dengan masalah yang akan dibahas dalam tulisan ini.

G. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian kualitatif para ilmuwan hanya dapat bekerja dengan menggunakan data, fakta dari dunia kenyataan yang diperoleh melalui penelitian. Data adalah penunjang yang sangat penting dalam sebuah penelitian. Semakin banyak data yang diperoleh maka semakin bagus pula hasil akhir dari suatu penelitian. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tiga teknik pengumpulan data, untuk lebih memahami teknik-teknik pengumpulan data penelitian kualitatif tersebut, maka kita harus memahami terlebih dahulu teknik-teknik tersebut. Dengan mempertimbangkan persoalan tersebut, akan

(55)

dijeaskan apa dan bagaimana cara penggunaan teknik tersebut secara singkat dan jelas sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi dilakukan dengan cara pengamatan secara langsung mengenai fenomena-fenomena yang diteliti. Observasi memungkinkan melihat dan mengamati sendiri kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana keadaan yang sebenarnya.

Observasi ini dilakukan dengan cara, peneliti mendatangi lokasi penelitian, selanjutnya melakukan pengamatan dan pencatatan tentang fenomena-fenomena yang diteliti di lokasi penelitian, yaitu di Kelurahan Sumpang Binangae Kabupaten Barru yang dilakukan sesaat atau berulang-ulang secara informal sehingga mampu mengarsahkan peneliti untuk sebanyak mungkin mendapatkan informasi yang berkaitan dengan masalah penelitian. Adapun objek penelitian yang akan diobservasi menurut Spradley (Sugiyono, 2013: 229) dinamakan situasi sosial, yang terdiri atas tiga komponen yaitu place (tempat), actor (pelaku), dan activities (aktivitas) yang memberikan informasi dan pandangan yang benar-benar berguna dan sesuai dengan masalah penelitian.

2. Wawancara

(56)

Sugiyono (2013: 231), Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam.

Dalam penelitian ini digunakan teknik wawancara mendalam (indepth interview), yaitu dengan mengumpulkan sejumlah data dari informan dengan menggunakan daftar pertanyaan dengan merajuk pada pedoman wawancara yang telah disusun secara sistematis agar data yang ingin diperoleh lebih lengkap dan valid. Wawancara dilakukan dengan mengajukan pertanyaan secara lisan dan langsung (bertatap muka) dengan informan yang ditunjang oleh pedoman wawancara.

Antara observasi dengan wawancara bisa dilakukan secara bersamaan artinya sambil melakukan observasi juga bisa melakukan wawancara terhadap informan penelitian untuk mendapatkan data yang lebih mendalam sehingga apa yang terjadi dilapangan sesuai dengan apa yang diperoleh sebagai hasil penelitian.

3. Dokumentasi

Sugiyono (2013: 240), Dokumentasi yaitu proses pengambilan data dengan melihat dokumen-dokumen. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental. Dokumentasi merupakan pelengkap dari observasi dan wawancara, karena

(57)

dokumentasi dilakukan pada saat melakukan observasi dan wawancara terhadap informan penelitian berlangsung dilapangan.

H. Analisis Data

Bogdan dalam Sugiyono (2013: 334) Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan ke dalam unit- unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model Analisis Interaktif yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (Sugiyono, 2013: 337-345) mencakup tiga kegiatan, yaitu:

1. Reduksi Data (Data Reduction)

Reduksi data merupakan merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, mencari tema dan polanya. Dengan demikian, data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan. Proses ini berlangsung selama penelitian dilakukan, dari

(58)

awal sampai akhir penelitian.

2. Penyajian Data (Data Display)

Adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan untuk menarik kesimpulan dan pengambilan tindakan selanjutnya. Bentuk penyajiannya antara lain berupa teks naratif, matrik, grafik, network (jejaring kerja), dan bagan.

3. Menarik Kesimpulan/Verifikasi (Conclusion Drawing/Verification)

Tindakan yang dilakukan setelah pengumpulan data berakhir adalah penarikan kesimpulan dengan verifikasinya berdasarkan semua hal yang terdapat dalam reduksi data dan sajian data.Berdasarkan uraian di atas, langkah analisis data ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar I.II: Teknik Analisis Data dalam Model Analisis Interaktif oleh Miles dan Huberman

Pengumpulan Data

Reduksi Data Penarikan

Kesimpulan/

Verifikasi Penyajian Data

(59)

I. Teknik Keabsahan Data

Dalam penelitian kualitatif, data dapat dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada obyek penelitian.

Menurut Sugiyono (2013: 368 - 375) untuk menguji kredibilitas suatu penelitian kualitatif dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu:

1. Perpanjangan pengamatan: dengan perpanjangan pengamatan berarti peneliti kembali ke lapangan, melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan sumber data yang pernah ditemui maupun yang baru. Hal ini akan membentuk hubungan peneliti dengan narasumber akan semakin baik dan kehadiran peneli tidak lagi dianggap sebagai orang asing yang mengganggu perilaku masyarakat yang sedang dipelajari.

2. Meningkatkan ketekunan: yaitu melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Dengan cara tersebut kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis, karena peneliti dapat melakukan pengecekan kembali apakah data yang telah ditemukan itu salah atau tidak.

Gambar

Gambar I.II: Teknik Analisis Data dalam Model Analisis Interaktif  oleh Miles dan Huberman
Tabel 1.  Pembagian Wilayah Administratif Kabupaten Barru  No  KECAMATAN  DESA/KELURAHAN       LUAS
Tabel 3. Keadaan Wilayah berdasarkan Kemiringan   Di Kabupaten Barru Tahun 2016
Tabel 4. Keadaan Wilayah berdasarkan Ketinggian dari Permukaan Laut  Di Kabupaten Barru Tahun 2016

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Terjadinya perubahan pola pikir masyarakat yang pada awalnya merupakan masyarakat agraris menjadi masyarakat industri sehingga banyak masyarakat yang memilih menjadi