Fadhkur Nuur Muchlis, Yosafat Hermawan Trinugraha, Yuhastina | 22
Pilihan Rasional Mahasiswa “Kupu-Kupu”
(Studi Preferensi Mahasiswa yang Berorientasi Pada “Kuliah Pulang- Kuliah Pulang” di FKIP UNS )
Fadhkur Nuur Muchlis1, Yosafat Hermawan Trinugraha2, Yuhastina3
1,2,3
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNS
[email protected]1, [email protected]2, [email protected]3
ABSTRAK
Kehidupan sebagai mahasiswa di perguruan tinggi merupakan sesuatu yang unik dan beragam terkait dengan praktik budaya akademik yang mereka lakukan. Fenomena mahasiswa “kupu-kupu” (kuliah- pulang kuliah-pulang) seringkali bagi sebagian pihak mendapatkan pandangan yang kurang baik jika dibandingkan dengan mahasiswa yang aktif di berbagai kegiatan. Hal itulah yang melatarbelakngi penelitian ini terkait dengan pilihan rasional mahasiswa kupu-kupu. Peneliti ingin mengetahui bagaimana mahasiswa kupu-kupu menjalani kehidupan sehari-hari serta tujuan apa yang hendak mereka capai. Dengan berlandaskan pada teori pilihan rasional dari James Coleman, penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif yang dilakukan pada mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret (FKIP UNS). Pemilihan informan menggunakan metode purposive sampling. Dari hasil pembahasan, dapat disimpulkan bahwa terdapat berbagai alasan rasional/preferensi dari mahasiswa
“kupu-kupu”, antaralain tujuan terkait dengan pencapaian nilai/prestasi akademik, kondisi keluarga yang memaksa, kejelasan rencana setelah lulus kuliah, serta alasan individu lainnya.
Kata Kunci: Mahasiswa Kupu-Kupu, Pilihan Rasional
ABSTRACT
Life as a student at a university is something unique and diverse related to their academic cultural practices. The phenomenon of mahasiswa kupu-kupu (students who only focus on learning and are not involved in the organization on campus) is often viewed by some parties as less favorable when compared to students who are active in various activities. This is the background of this research related to the rational choice of mahasiswa kupu-kupu. Researchers want to know how mahasiswa kupu-kupu live their daily lives and what goals they want to achieve. Based on the rational choice theory of James Coleman, this research was conducted with a qualitative approach which was carried out on students from the Faculty of Teacher Training and Education, Sebelas Maret University (FKIP UNS) Surakarta. Selection of informants using purposive sampling method. Based on the results, it can be concluded that there are various rational reasons/preferences from mahasiswa kupu-kupu, including goals related to achieving academic grades/achievements, forcing family conditions, clarity of plans after graduating from university, and other individual reasons.
Keywords: Butterfly Student; Rational Choice
PENDAHULUAN
Sebagai mahasiswa, sudah tentu akan memiliki sudut pandang dan pola pikir yang berbeda antara satu dengan yang lain. Baik itu dalam hal cara belajar, cara bersosial, atau bagaimana cara beradaptasi dengan lingkungan kampus. Perbedaan sudut pandang dan pola pikir ini membuat adanya variasi praktik budaya yang ada di kehidupan kampus.
Setidaknya ada tiga jenis praktik budaya akademik yang biasa ditemukan di kampus- kampus Indonesia. Menurut (Masruroh, 2013) menyebutkan ketiga jenis praktik tersebut adalah (1) “kupu-kupu” atau kuliah-pulang kuliah-pulang, (2) “kura-kura” atau kuliah- rapat kuliah-rapat, dan (3) “kunang-kunang” atau kuliah-nongkrong kuliah-nongkrong.
Masing-masing dari ketiganya memiliki latar belakang, ciri, perilaku, serta pandangan yang berbeda-beda.
Fadhkur Nuur Muchlis, Yosafat Hermawan Trinugraha, Yuhastina | 23 Sedangkan (Videlitha, 2019) dalam penelitiannya tentang “Penerimaan Mahasiswa Terhadap Penggambaran Identitas Mahasiswa Pada Meme di Akun Instagram
@Anak.Kuliah” menunjukkan adanya unsur stereotip serta penggambaran identitas mahasiswa tertentu sebagai hasil konstruksi dalam masyarakat. Stereotip sendiri menurut Myers adalah suatu bentuk keyakinan yang dimiliki oleh seseorang atau suatu kelompok tentang atribut personal yang ada pada kelompok tertentu. Stereotip yang ada dalam masyarakat terkait keaktifan mahasiswa dalam mengikuti suatu kegiatan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu mahasiswa “kura-kura” untuk menyebut mahasiswa yang aktif di kampus, serta mahasiswa “kupu-kupu” untuk menyebut mahasiswa yang pasif dalam organisasi kemahasiswaan. Lebih lanjut, penggambaran identitas yang sudah dikonstruksi oleh masyarakat pada mahasiswa “kura-kura” adalah mereka mahasiswa yang sibuk, tidak memiliki waktu untuk bermain dengan teman-teman, dan topik pembicaraan yang berat.
Sedangkan mahasiswa kupu-kupu digambarkan dengan sifat tertutup, memiliki lingkaran pertemanan yang terbatas, dan jarang berkumpul bersama teman-temannya.
Dalam penelitian ini, mahasiswa “kupu-kupu” yang menjadi pokok bahasan memiliki pandangan yang terlihat lebih rendah daripada mahasiswa “kura-kura” dan
“kunang-kunang”. Pasalnya mereka cenderung melakukan praktis akademis yang monoton, hanya sekedar kuliah dan mengerjakan tugas dengan maksimal, tanpa berusaha mengembangkan nalar kritis, kreatif, inovatif, serta kepedulian mereka terhadap realitas dan fenomena terkini-pun cenderung rendah (Masruroh, 2013). Pandangan tersebut didukung oleh kebiasaan mahasiswa “kupu-kupu” yang terlihat tidak aktif dalam organisasi serta jarang melibatkan diri di tempat-tempat nongkrong seperti taman atau kafe. Hal tersebut menjadikan mahasiswa “kupu-kupu” dipandang sebagai individu yang tertutup dan menutup diri dari kehidupan sosial.
Universitas Sebelas Maret Surakarta sebagai salah satu universitas terbaik di Indonesia dengan peringkat ke-delapan versi lembaga pemeringkatan 4 ICU Unirank tentu tidak lepas dari adanya praktik budaya akademik tersebut. Kampus yang memiliki 11 fakultas dengan enam jenjang studi dan 43.439 mahasiswa aktif sudah tentu memiliki berbagai keberagaman di dalamnya. Fokus penelitian ini dilakukan di kawasan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Di FKIP sendiri terdapat kurang lebih 6332 mahasiswa aktif menurut pangkalan data UNS tahun 2020. Dikutip dari laman fkip.uns.ac.id/profile, FKIP UNS memiliki falsafah
“Senantiasa mengedepankan partisipasi aktif semua sivitas akademika untuk mencapai kemajuan bersama.” Sehingga sudah jelas bahwa FKIP UNS mengharapkan mahasiswa- mahasiswanya agar mampu aktif baik di dalam kampus maupun di luar kampus. Selain itu, tujuan yang hendak dicapai dari FKIP UNS adalah menghasilkan pendidik yang tidak hanya cerdas namun juga terampil (sumber: fkip.uns.ac.id/profile)
Lebih lanjut, saat menjadi mahasiswa, pihak kampus biasanya memberikan sarana dan prasarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan berupa pemberian jam kuliah serta pengembangan keterampilan berupa kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan organisasi. Kegiatan ekstrakurikuler dan organisasi bersifat tidak wajib seperti halnya kegiatan kuliah namun memiliki banyak manfaat untuk bekal mahasiswa di kemudian hari. Diantaranya ialah mudah memecahkan masalah (problem solving), melatih leadership, memperluas jaringan atau networking, meningkatkan wawasan dan pengetahuan, membentuk karakter seseorang, kuat dalam menghadapi tekanan dan mampu mengatur waktu dengan baik, sebagai ajang pembelajaran kerja yang sesungguhnya, menambah nilai plus pada Curriculum Vitae (CV) pada saat melamar pekerjaan.
Fadhkur Nuur Muchlis, Yosafat Hermawan Trinugraha, Yuhastina | 24 Meskipun demikian, di FKIP UNS mahasiswa “kupu-kupu” tetaplah ada dalam praktik perkuliahan. Penelitian oleh (Rupa Vani et al., 2018) tentang alasan mahasiswa tidak ingin terlibat dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan di kampus menunjukkan adanya beberapa alasan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa yang tidak mengikuti kegiatan di dalam kampus antara lain karena mereka lebih menyukai kegiatan di luar kampus, tidak menyukai terikat dengan organisasi, hanya menyukai menjadi kepanitiaan, atau keinginan untuk fokus ke kuliah. Oleh karena itu, penelitian ini menitikberatkan pada alasan atau faktor yang menyebabkan mereka tetap kukuh pada pilihan mereka serta melihat kehidupan mereka sebagai mahasiswa “kupu-kupu” baik di dalam atau luar perkuliahan.
Berbagai alasan atau latar belakang pilihan mahasiswa dalam memilih strategi belajarnya, juga pernah dilakukan penelitian oleh (Takashiro, 2016) yang meneliti tentang hubungan antara orientasi tujuan mahasiswa dan strategi belajar yang dilakukan mahasiswa, di mana ia menunjukkan adanya pola serta strategi belajar yang khusus digunakan oleh mahasiswa yang berbeda tergantung dari tujuan atau orientasi yang telah ditetapkan .
Dari beberapa hal yang telah disebutkan, peneliti merasa perlu adanya penelitian lebih lanjut berkenaan mahasiswa di wilayah FKIP UNS yang menjadi mahasiswa “kupu- kupu”. Apakah memang benar hanya dilatarbelakangi oleh nilai / hasil kuliah ataukah pilihan mereka untuk menjadi mahasiswa “kupu-kupu” atau adakah alasan lain yang bagi mereka dianggap rasional.
METODE PENELITIAN
Pada penelitian kali ini peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif, yang mana menurut Bogdan dan Taylor dalam (Moleong, 2021) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Kemudian, pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus.
Studi kasus sendiri adalah suatu proses pengumpulan data dan informasi secara mendalam, mendetail, intensif, holistik, dan sistematik tentang seseorang (Yusuf, 2016).
Sedangkan menurut (Arikunto, 2013) studi kasus adalah pendekatan yang dilakukan secara intensif, terperinci dan mendalam terhadap gejala-gejala tertentu. Dalam pendekatan studi kasus, biasanya seorang peneliti akan meneliti satu individu atau unit sosial tertentu secara lebih mendalam. Dengan begitu, dalam penelitian ini, peneliti berusaha untuk menemukan semua variabel penting yang terikat dengan diri subjek yang diteliti (Gunawan, 2013).
Lokasi penelitian ini dilakukan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang beralamat di Jl. Ir. Sutami No.36, Kentingan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah pada bulan Maret-April 2021.
Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling (Sugiyono &
Kuantitatif, 2009). Adapun yang menjadi informan bagi peneliti adalah mahasiswa yang pernah atau bahkan selama menjalani perkuliahan menerapkan praktik budaya akademik kupu-kupu. Sehubungan dengan adanya himbauan untuk work from home (WFH) serta pemberlakuan jaga jarak selama masa pandemi covid-19 maka pelaksanaan penelitian menggunakan sistematika virtual atau dalam jaringan berupa platform WhatsApp.
Pengumpulan data pada penelitian ini diperoleh dengan cara wawancara, observasi, serta analisis dokumen dan arsip. Dalam penelitian ini jenis wawancara yang dipakai adalah wawancara tak terstruktur. Untuk menggali data dari responden berupa
Fadhkur Nuur Muchlis, Yosafat Hermawan Trinugraha, Yuhastina | 25 kegiatan keseharian, perspektif tentang praktik budaya akademik kupu-kupu, dan alasan mengapa memilih menjadi mahasiswa kupu-kupu selama berkuliah di FKIP. Selain itu, pada pengambilan data juga dilakukan dengan cara observasi. Observasi dalam penelitian ini digunakan untuk mengamati kebiasaan informan. Teknik ini menuntut adanya pengamatan dari peneliti baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap objek penelitian. Serta penggunaan teknik dokumentasi yang dipergunakan untuk melengkapi sekaligus menambah keakuratan kebenaran data atau informasi yang telah didapat sebelumnya. Dokumentasi yang ada di lapangan dapat pula dijadikan bahan dalam pengecekan keabsahan data seta berfungsi sebagai pendukung dan pelengkap bagi data- data yang telah diperoleh melalui wawancara sebelumnya.
Kemudian, data yang sudah terkumpul akan dianalisis menggunakan teknik analisis kualitatif yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman. Meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sehingga pada akhirnya dapat menggambarkan fenomena sosial yang ada.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Setiap mahasiswa memiliki kebebasan atas pilihan atau preferensi masing-masing terkait praktik akademik selama di perkuliahan. Mereka cenderung menganggap bahwa pilihan yang diambil adalah yang paling tepat dan bukan merupakan suatu kesalahan yang akan menimbulkan rasa kecewa. Preferensi yang dipilih timbul dari bentuk penyesuaian individu terhadap lingkungan sosialnya.
Hasil dari penelitian ini akan dikaitkan dengan teori yang dikemukakan oleh James Coleman, yaitu teori pilihan rasional. Teori pilihan rasional ini menekankan bahwa aktor menjadi kunci terpenting di dalam melakukan sebuah tindakan. Aktor di sini bisa dikatakan sebagai individu atau negara yang melakukan suatu tindakan untuk mencapai kepentingannya dan berusaha memaksimalkan kepentingannya. Hal tersebut dilakukan oleh aktor dengan cara mengambil atau memilih suatu pilihan yang dianggap membawa hasil untuk mencapai kepentinganya tersebut. Sebagai contoh, jika pilihan 1 dianggap lebih penting dan lebih bermakna dari pada pilihan 2, dan 3, maka aktor akan memilih pilihan 1. Aktor disini ialah individu, yaitu individu yang melakukan sebuah tindakan.
Aktor tersebut dapat mengatur dirinya sendiri, karena aktor tahu apa yang apa yang ia mau dan yang harus dilakukan (Hudri, 2020:22).
Aktor yang dimaksud ialah seseorang yang melakukan sebuah tindakan. Dalam hal ini ialah individu yang mampu memanfaatkan sumber daya dengan baik. Aktor dianggap sebagai individu yang memiliki tujuan, aktor juga memiliki suatu pilihan yang bernilai dasar yang digunakan aktor untuk menentukan pilihan yaitu menggunakan pertimbangan secara mendalam berdasarkan kesadarannya, selain itu aktor juga mempunyai kekuatan sebagai upaya untuk menentukan pilihan dan tindakan yang menjadi keinginannya.
Kemudian sumber daya ialah setiap potensi yang ada atau bahkan yang dimiliki.
Sumber daya tersebut dapat berupa sumber daya alam, yaitu sumber daya yang telah disediakan atau potensi alam yang dimiliki dan juga sumber daya manusia, yaitu potensi yang ada dalam diri seseorang. Lebih lanjut Coleman menyebutkan bahwa teori pilihan rasional mengasumsikan bahwa tindakan manusia mempunyai maksud dan tujuan yang dibimbing oleh hierarki yang tertata rapi oleh preferensi. Dalam hal ini rasional berarti:
(1) Aktor melakukan perhitungan dari pemanfaatan atau preferensi dalam pemilihan suatu bentuk tindakan; (2) Aktor juga menghitung biaya bagi setiap jalur perilaku; (3) Aktor berusaha memaksimalkan pemanfaatan untuk mencapai pilihan tertentu (Hudri, 2020:21- 23).
Fadhkur Nuur Muchlis, Yosafat Hermawan Trinugraha, Yuhastina | 26 Dalam konteks ini, menjadi mahasiswa kupu-kupu merupakan salah satu preferensi atau pilihan praktik akademik yang ada dalam dunia akademik kampus.
Berdasarkan survei pra penelitian yang dilakukan secara online oleh peneliti, menunjukkan bahwa hanya sekitar 20% dari mahasiswa FKIP yang memilih dan mengidentifikasikan dirinya sebagai mahasiswa “kupu-kupu”. Mungkin hal ini juga tidak terlepas daripada adanya realita dan fakta yang terjadi di lingkungan sosial kampus yang mana lebih menekankan untuk menjadi mahasiswa yang aktif dalam berbagai kegiatan akademik maupun non-akademik.
Oleh karena itu, penelitian ini mencoba untuk melihat lebih jauh pada kehidupan mahasiswa “kupu-kupu” yang diharapkan akan memberikan sudut pandang yang lebih luas terhadap mereka. Setidaknya ada beberapa hal yang dapat ditemui pada mahasiswa kupu-kupu selama menjalani kehidupan di kampus seperti berikut.
Pemilihan Jurusan Kuliah dan Kampus Sebagai Wadah Menimba Ilmu
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa kampus adalah daerah lingkungan bangunan utama perguruan tinggi (universitas, akademi) tempat semua kegiatan belajar-mengajar dan administrasi berlangsung. Sebagai tempat berlangsungnya pendidikan, kampus atau universitas adalah “rumah", tempat berkumpul bagi para ilmuwan untuk mempertimbangkan masa depan umat manusia, yang akan sangat bergantung pada perkembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi (Irianto, 2012). Sehingga dalam pemilihan kampus tentu tidak dapat sembarangan. Temuan data menunjukan adanya alasan yang hampir serupa dalam pemilihan kampus UNS sebagai wadah menimba ilmu. Pertama adalah jarak yang dekat dari rumah dengan UNS.
Preferensi ini dipilih sebagai bentuk kemudahan akses dengan rumah asal jika di kemudian hari terdapat hal di luar kendali. Kedua, terdapat pula alasan bahwa UNS sudah cukup untuk mengakomodasi tujuan mereka dan mendukung untuk dilaksanakannya pembelajaran yang nyaman.
Dalam penelitian (Latifah, 2019) dijelaskan setidaknya ada tujuh preferensi yang melatarbelakangi pengambilan jurusan kuliah. Pertama, langkah melanjutkan tujuan yang telah ditetapkan; kedua, sebagai kualifikasi dalam menghadapi persaingan dunia kerja;
ketiga, memperluas relasi di lingkungan kuliah; keempat, faktor keluarga yang bekerja dibidang yang sama; kelima, peluang pekerjaan di masa depan; keenam, investasi jangka panjang; dan ketujuh, meningkatkan status sosial keluarga di dalam masyarakat.
Pada pemilihan jurusan, pilihan jurusan sepenuhnya dibebaskan kepada anak dan orang tua berposisi sebagai pendukung. Namun nyatanya, rasionalitas pada penentuan pilihan didasarkan pada minat mahasiswa tersebut. Mayoritas daripada mahasiswa memiliki minat pada jurusan yang dipilih semenjak dari bangku SMA dan beberapa sudah sedari SD. Preferensi yang digunakan merupakan hasil dari seleksi pada minat bidang tertentu dari yang dikuasainya sampai yang dianggap tidak terlalu sulit untuk dijalankan.
Mahasiswa “kupu-kupu” dalam menentukan tujuan setelah selesai dari perkuliahan belum terlihat memiliki kesinambungan dari jurusan yang dipilih. Mereka terlihat masih belum terlalu memikirkan apa yang sebenarnya ingin dilakukan.
Menggunakan dalih bahwa apapun ilmu yang didapat pasti akan terpakai di masa mendatang menjadikan sulit untuk fokus dalam menentukan target mendatang.
Alasan Menjadi Mahasiswa Kupu-Kupu
Mahasiswa kupu-kupu pada sejatinya tidak memiliki perbedaan yang signifikan apabila dibandingkan dengan mahasiswa lainnya. Daripada disebut perbedaan, mungkin
Fadhkur Nuur Muchlis, Yosafat Hermawan Trinugraha, Yuhastina | 27 lebih tepatnya untuk menyebutnya keunikan dan kekhasan. Hal ini dikarenakan setiap praktik budaya akademik di kampus memiliki ciri atau simbol tersendiri. Sehingga menjadikannya dapat disebut sebagai budaya. Di Universitas Sebelas Maret sendiri, individu mahasiswa memiliki beberapa alasan mengapa memilih praktik budaya akademik kupu-kupu. Hasil penelitian di lapngan menunjukkan bahwa beberapa alasan tersebut dapat disebutkan antaralain (a) tujuan terkait nilai/prestasi akademik, (b) kondisi keluarga yang memaksa, (c) kejelasan rencana setelah lulus kuliah, serta (d) alasan individu lainnya.
Untuk tujuan yang terkait nilai/prestasi akademik dapat dijelaskan bahwa tujuan di kampus diantaranya adalah menambah wawasan keilmuan, mengembangkan karakter, atau meningkatkan keterampilan. Di antara tujuan itu, mahasiswa “kupu-kupu” memiliki pandangan yang lebih terkait keilmuan dibandingkan yang lain. Sehingga terciptalah tujuan akhir berupa keinginan memperoleh nilai akhir yang tinggi. Atas dasar tersebut pula mahasiswa kupu-kupu sering memiliki pandangan negatif kepada mahasiswa yang aktif di kegiatan ekstrakurikuler atau organisasi. Dikarenakan banyak ditemukan oleh mahasiswa kupu-kupu bahwa mereka seringkali tidak ikut berkontribusi pada tugas kerja kelompok mata kuliah dengan alasan adanya kegiatan organisasi. Selaras dengan pernyataan L yang menyatakan bahwa:
“Kalau minus nya yang saya temui itu dari temen kelas saat ada tugas kelompok.
Jadi waktu udah pada ngumpul, “dia” nya yang terlambat. Alasannya ya karena ada urusan di organisasi, padahal ya organisasi harusnya gak bisa dibuat alasan karena emang ikut organisasi bisa dapat relasi dan pengalaman lebih, tapi ya yang perlu diinget kan tugas mahasiswa utamanya kan ya kuliah. Organisasi buat tambahan. Bukan kebalik.”.
Selain itu, mahasiswa menjadi mahasiswa kupu-kupu juga dilatarbelakangi oleh adanya kondisi keluarga. Hal ini seperti yang dialami oleh RNA. Pada kasusnya, mahasiswa tersebut sebenarnya memiliki keinginan untuk aktif di berbagai kegiatan kampus. Pada penelitian ini, data yang ditemukan adalah karena ibu mahasiswa terkait mengalami kecelakaan sehingga mahasiswa tersebut menggantikan peran kerja ibunya yang berprofesi sebagai pemilik kedai makan. Oleh karena itu, ia harus menggantikan peran kerja mulai dari berbelanja, menyiapkan kedai, menjaga kedai, serta mengawasi pekerja yang lain. Kondisi di luar individu seperti ini menjadi bagian mengapa mahasiswa
“kupu-kupu” dipilih sebagai praktik budaya akademik di kampus .
Selain itu, mahasiswa memiliki preferensi untuk menjadi mahasiswa “kupu-kupu”
dikarenakan karena kejelasan rencana setelah kuliah. Nilai akhir di kampus sudah bukan menjadi pelabuhan akhir selama berproses di kampus. Sekadar lulus tepat waktu sudah cukup menurut mereka. Kondisi lingkungan mereka juga tidak berpengaruh terhadap mereka. Di antara mereka biasanya sudah memiliki tempat berlabuh selepas kuliah seperti melanjutkan usaha keluarga. Hal ini terjadi pada FG yang sudah diminta oleh orang tuanya untuk meneruskan usaha toko bangunan. Sehingga kuliah hanya sebagai formalitas dalam meraih gelar.
Terakhir adalah karena alasan individual lainnya. Dalam hal ini adanya rasa bosan terhadap organisasi dan ekstrakurikuler yang telah dijalankan selama menempuh masa pendidikan di bangku SMA. Seperti halnya yang sudah dialami oleh L yang sudah sedari bangku SMA melakukan rutinitas sekolah dari pagi hingga malam. Hal ini menjadikan mereka setidaknya ingin bersantai selama berkuliah, menikmati masa muda, serta tidak ingin terlalu mengambil resiko dan tanggung jawab yang lebih.
Mahasiswa memiliki preferensi serta hak memilih terkait bagaimana
Fadhkur Nuur Muchlis, Yosafat Hermawan Trinugraha, Yuhastina | 28 menghabiskan dan menjalani kehidupan di kampus. Di antara mereka tidak melulu mengejar nilai yang bagus ketika memilih menjadi mahasiswa kupu-kupu. Melainkan ada pula kondisi dari luar dan dalam individu itu sendiri mengapa lebih memilih menjadi mahasiswa kupu-kupu.
Keseharian Mahasiswa Kupu-Kupu
Setelah mengetahui bahwa tujuan mahasiswa kupu-kupu bukanlah hanya berorientasi pada nilai akademik yang tinggi, maka tentu saja kegiatan keseharian mahasiswa kupu-kupu juga akan bervariasi tergantung individu tersebut masing-masing.
Menurut teori pilihan rasional oleh Coleman, seorang aktor bertindak sebagai subjek utama yang memanfaatkan sumber daya di sekelilingnya. Bagaimana mahasiswa menggunakan waktu, relasi, serta kondisi lingkungannya sehari-sehari untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya (Ritzer & Goodman, 2012).
Bagi mahasiswa kupu-kupu yang berorientasi pada nilai akhir memiliki pola yang stagnan dalam melalui kesehariannya di kampus maupun rumah atau indekos. Hal ini dijalani oleh ASY dan TNH khususnya pada masa sebelum pandemic Covid 19 melanda, di mana mereka mulai dari berangkat ke kampus lebih awal dari jadwal mata kuliah, kemudian mencari tempat duduk paling depan sehingga mereka lebih fokus dalam mendengarkan penjelasan dari dosen. Saat jeda jam mata kuliah dari yang sebelumnya ke mata kuliah berikutnya digunakan di kantin atau jika tidak mereka akan lebih memilih pulang ke indekos lagi dan akan kembali ke kampus sebelum jam kuliah selanjutnya dimulai. Setelah jam mata kuliah berakhir, mereka langsung kembali ke kos mereka masing-masing apabila tidak memiliki tugas yang harus dikerjakan secara kelompok di kampus. TNH juga mengungkapkan bahwa:
“Singkatnya sih kalau untuk kuliah dan mengerjakan tugas lebih banyak makan waktu. Untuk main, dan sebagainya cuma buat selingan saja biar tidak terlalu stres.”.
Setiba di indekos atau rumah masing-masing, mahasiswa “kupu-kupu” yang berorientasi pada nilai akhir biasanya langsung mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dosen. Dengan menjadi mahasiswa kupu-kupu, mereka memiliki keuntungan yang lebih terkait penggunaan dan tersedianya waktu lebih untuk fokus untuk pengerjaan tugas.
Ketika sudah selesai mengerjakan semua tugas yang ada, jika masih ada waktu luang biasanya mereka mengisinya dengan hobi mereka. Lebih lanjut, ASY menambahkan bahwa dengan menjadi mahasiswa kupu-kupu, Ia dapat lebih menyalurkan dan melakukan hobinya yang berhubungan dengan makanan seperti memasak di sela-sela kuliahnya.
Selanjutnya keseharian mereka yang menjadi mahasiswa kupu-kupu yang tidak berorientasi pada nilai akhir. Mereka adalah FG serta L yang tidak memiliki pola tertentu atau dapat dikatakan acak atau tidak terstruktur. Mereka terkesan lebih bebas dalam menggunakan waktu mereka. Pada masa perkuliahan sebelum pandemic Covid 19 melanda, ketika ada jam kuliah, maka mereka akan masuk seperti mahasiswa lainnya.
Saat di jeda waktu kuliah, biasa dihabiskan di kantin bersama teman-temannya (Ackbar, 2020).
Setelah jam kuliah usai, sama seperti mahasiswa “kupu-kupu” yang berorientasi pada nilai, mereka juga langsung pulang ke kos atau rumah masing-masing. Namun perbedaan terletak pada kegiatan selama di kos atau rumah, bahwa mereka tidak langsung mengerjakan tugas dan sesuatu yang berbau akademik secara masif, melainkan mereka akan bermain untuk menghabiskan waktu luang, baik berupa permainan di dunia maya seperti mobile game atau media sosial. Mereka segera akan mengerjakan tugas apabila
Keilmuan Sosiologi Pendidikan Vol. 8, Nomor 2, Juli 2021
Fadhkur Nuur Muchlis, Yosafat Hermawan Trinugraha, Yuhastina | 29 sudah ada mood atau suasana hati untuk belajar.
Teori Pilihan Rasional Terhadap Mahasiswa Kupu-Kupu
Coleman menekankan bahwa aktor menjadi kunci terpenting di dalam melakukan sebuah tindakan. Aktor di sini bisa dikatakan sebagai individu yang melakukan suatu tindakan untuk mencapai kepentingannya dan berusaha memaksimalkan kepentingannya.
Lebih lanjut, dalam mencapai dan memaksimalkan kepentingannya, individu akan menggunakan sumber daya. Sumber daya ialah setiap potensi yang ada atau bahkan yang dimiliki. Sumber daya tersebut dapat berupa sumber daya alam, yaitu sumber daya yang telah disediakan atau potensi alam yang dimiliki dan juga sumber daya manusia, yaitu potensi yang ada dalam diri seseorang (Coleman, n.d.).
Sebagai aktor, menjadi mahasiswa kupu-kupu yang menjalani kehidupan sudah tentu memiliki kepentingan dan sumber daya yang berbeda dengan mahasiswa lainnya.
Kepentingan berupa pencapaian prestasi yang tinggi, kelulusan dari kuliah yang tepat waktu, sekadar mendapatkan ijazah, atau bahkan hanya demi waktu luang yang melimpah. Pemanfaatan sumber daya berupa kemampuan berpikir intelektual yang tinggi, mempengaruhi pola pikir tujuan berupa kepentingan prestasi akademik.
Terjaminnya lapangan kerja pasca kuliah, menjadikan mahasiswa “kupu-kupu”
tidak perlu lagi terlalu memikirkan nilai yang tinggi asalkan lulus dengan tepat waktu.
Lingkungan yang mendukung untuk mempertahankan pelaksanaan praktik akademik kupu-kupu berupa tidak adanya cemooh dari teman, atau orang tua yang membebaskan bagaimana mereka berkuliah menjadikan orientasi untuk menambah waktu senggang terbentuk.
Tidak adanya paksaan dan intervensi atas pilihan menjadikan kebebasan menentukan preferensi bagaimana mereka melalui kehidupan di kampus. Mahasiswa
“kupu-kupu” bagi mereka merupakan ladang untuk meraih kepentingan-kepentingan individu. Tidak menjadi mahasiswa yang aktif di berbagai kegiatan ekstrakurikuler merupakan hasil pilihan atas preferensi yang ada, sehingga dalam mencapai kepentingan yang telah ditentukan tidak terganggu.
Dimaksudkan mereka yang menginginkan waktu luang yang lebih tentu tidak akan didapat jika aktif dalam organisasi. Mereka yang ingin prestasi akademik tentu tidak memiliki cukup waktu untuk belajar lebih atau pergi ke perpustakaan untuk berkeliling mencari buku (Tamsah et al., n.d.). Menjadi mahasiswa “kupu-kupu” dapat dilekatkan pada ketersediaan waktu yang lebih daripada mahasiswa yang aktif berkegiatan. Adanya waktu luang tersebut merupakan bentuk sumber daya yang besar bagi mahasiswa “kupu- kupu”.
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa terdapat praktik budaya akademik mahasiswa “kupu-kupu” di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS. Praktik budaya akademik tersebut dipilih sebagai hasil rasionalitas oleh mahasiswa yang dikarenakan adanya tujuan terkait pencapaian nilai/prestasi akademik, kondisi keluarga yang memaksa, kejelasan rencana setelah kuliah, serta kondisi individu lainnya. Selain itu, kepentingan yang hendak dicapai mahasiswa “kupu-kupu” menjadi rasional apabila memilih preferensi praktik budaya akademik tersebut. Teori pilihan rasional pula mampu menjelaskan mahasiswa kupu-kupu yang sepenuhnya memaksimalkan sumber daya yang pada penelitian ini ditemukan bahwa sumber daya tersebut ialah berhubungan waktu untuk mencapai kepentingan-kepentingan
Fadhkur Nuur Muchlis, Yosafat Hermawan Trinugraha, Yuhastina | 30 yang ada tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Ackbar, A. (2020). How COVID-19 Has Altered The American College Student’s Everyday Life. The Owl–Florida State University’s Undergraduate Research Journal, 11(1), 1–8.
Arikunto, S. (2013). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik.
Coleman, J. S. (n.d.). Dasar-Dasar Teori Sosial (Foundations of Social Theory), terj. Imam Muttaqien Dkk.(Bandung: Nusa Media, 2009).
Gunawan, I. (2013). Metode penelitian kualitatif. Jakarta: Bumi Aksara, 143.
Hudri, A. (2020). Badai Politik Uang dalam Demokrasi Lokal. Inteligensia Media (Kelompok Penerbit Intrans Publishing).
Irianto, S. (2012). Otonomi perguruan tinggi: suatu keniscayaan. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Latifah, I. (2019). Analisis Teori Pilihan Rasional James S. Coleman terhadap Rasionalitas Orang Tua dalam Pengambilan Keputusan Jurusan Kuliah Anak di Universitas Sebelas Maret.
Masruroh, A. (2013). Praktik Budaya Akademik Mahasiswa. Paradigma, 1(2).
Moleong, L. J. (2021). Metodologi penelitian kualitatif. PT Remaja Rosdakarya.
Ritzer, G., & Goodman, D. (2012). Teori Sosiologi Klasik-Postmodern. Bantul: Kreasi Wacana.
Rupa Vani, K., Pati, B., Veena, K. S., & Hemanth Kumar, V. R. (2018). Comparison of neonatal outcome parameters between thick and thin meconium stained liquor: a prospective study. International Journal of Reproduction, Contraception, Obstetrics and Gynecology, 7(11), 4408.
Sugiyono, M. P. P., & Kuantitatif, P. (2009). Kualitatif, dan R&D, Bandung: Alfabeta. Cet.
Vii.
Takashiro, N. (2016). What are the relationships between college students’ goal orientations and learning strategies? Psychological Thought, 9(2), 169–183.
Tamsah, H., Farida, U., Oyihoe, A. T., Yusriadi, Y., Awaru, A. O. T., & Lionardo, A.
(n.d.). Implementation of Soft Competency through Education and Training as well as Work Experience on the Quality of Financial Reports in the Government of Mamuju Regency.
Videlitha, K. F. (2019). PENERIMAAN MAHASISWA TERHADAP PENGGAMBARAN IDENTITAS MAHASISWA PADA MEME DI AKUN INSTAGRAM@ ANAK.
KULIAH. UNIVERSITAS AIRLANGGA.
Yusuf, A. M. (2016). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif & penelitian gabungan.
Prenada Media.