• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Pondok Pesantren Pendowo Walisongo dalam Menanggulangi Perilaku Konsumerisme Santri Putri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Peran Pondok Pesantren Pendowo Walisongo dalam Menanggulangi Perilaku Konsumerisme Santri Putri"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN PONDOK PESANTREN PENDOWO WALISONGO DALAM MENANGGULANGI PERILAKU KONSUMERISME

SANTRI PUTRI

SKRIPSI

Oleh :

Maula Binta Mustafida NIM 401190113

JURUSAN EKONOMI SYARIAH

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO

2023

(2)

iii

(3)

iv

(4)

v

(5)

vi

(6)

vi ABSTRAK

Mustafida, Maula Binta. Peran Pondok Pesantren Pendowo Walisongo dalam Menanggulangi Perilaku Konsumerisme Santri Putri. ” Jurusan Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, Pembimbing : Husna Ni’matul Ulya, M.E.Sy.

Kata kunci : Peran, Menanggulangi dan Perilaku Konsumerisme

Perilaku konsumtif atau konsumerisme adalah kecenderungan seseorang berperilaku berlebihan dalam membeli sesuatu atau membeli secara tidak terencana. Perilaku konsumerisme ini dapat terbentuk karena sebagian besar dari santri di Pondok Pesantren Pendowo Walisongo merupakan lulusan dari pondok- pondok besar yang mana di pondok tersebut dilarang keras membawa HP, sedangkan di Pondok Pesantren Pendowo Walisongo ini diperbolehkan membawa HP karena sebagian besar santrinya seorang mahasiswa. Selain diperbolehkan membawa HP dan juga laptop di Pondok Pesantren Pendowo Walisongo juga diberikan fasilitas Wi-Fi dengan harapan para santri bisa dengan leluasa dan terjamin dalam mengerjakan tugas-tugasnya, akan tetapi hal tersebut malah disalahgunakan oleh para santri dengan banyak bermain sosial media baik tiktok maupun shopee sehingga memberikan dampak negatif yaitu menimbulkan perilaku konsumerisme.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan perilaku konsumerisme santri putri pondok pesantren Pendowo Walisongo, untuk menganalisis dampak perilaku konsumerisme pada kehidupan santri putri di pondok pesantren Pendowo Walisongo dan untuk menganalisis peran pondok pesantren Pendowo Walisongo dalam menanggulangi perilaku konsumerisme santri putri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif untuk mendeskripsikan peran yang dilakukan pondok pesantren agar para santri dapat menanggulangi perilaku konsumerisme yang datanya dikumpulkan melalui observasi dan wawancara.

Hasil penelitian menunjukan bahwa perilaku konsumerisme yang masih melekat pada santri putri Pondok Pesantren Pendowo Walisongo yaitu seperti boros, sering belanja online, pergi ke tempat rekreasi yang dilarang, kumpul dengan teman di angkringan, dan sering jajan di luar pondok. Dampak yang disebabkan oleh perilaku konsumerisme pada kehidupan santri putri di pondok pesantren Pendowo Walisongo terdapat dampak positif dan dampak negatif dominan dengan dampak negatif. Pondok pesantren dalam menanggualngi perilaku konsumerisme santri putri adalah karena para santri diberikan himbauan agar para santri khususnya santri putri agar selalu menerapkan sikap qanaah.

(7)

vii DAFTAR ISI

COVER ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

PERNYATAAN KEASLIAN ... iii

LEMBAR PERSETUJUAN UJIAN SKRIPSI ... iv

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ... v

ABSTRAK ... vi

TRANSLITERASI ... vii

MOTTO ... viii

PERSEMBAHAN ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Manfaat Penelitian ... 8

E. Studi Penelitian Terdahulu ... 9

F. Metode Penelitian... 18

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 18

(8)

viii

2. Kehadiran Peneliti ... 19

3. Lokasi Penelitian ... 19

4. Data dan Sumber Data ... 20

5. Teknik Pengumpulan Data ... 21

6. Teknik Pengolahan Data ... 22

7. Teknik Analisis Data ... 24

8. Teknik Pengecekan Keabsahan Data ... 24

G. Sistematika Pembahasan ... 26

BAB II. PERILAKU KONSUMEN MUSLIM, PERILAKU KONSUMERISME, DAN PERAN ... 29

BAB III. PERAN PONDOK PESANTREN PENDOWO WALISONGO DALAM MENANGGULANGI PERILAKU KONSUMERISME SANTRI PUTRI ... 46

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 46

B. Data ... 51

1. Perilaku Konsumerisme Santri Putri Pondok Pesantren Pendowo Walisongo ... 51

2. Dampak Perilaku Konsumerisme pada Kehidupan Santri Putri Pondok Pesantren Pendowo Walisongo ... 58

3. Peran Pondok Pesantren Pendowo Walisongo dalam Menanggulangi Perilaku Konsumerisme Santri Putri ... 62

(9)

ix

BAB IV. ANALISIS PERAN PONDOK PESANTREN PENDOWO

WALISONGO DALAM MENANGGULANGI PERILAKU

KONSUMERISME SANTRI PUTRI ... 67

A. Analisis Perilaku Konsumerisme Santri Putri Pondok Pesantren Pendowo Walisongo ... 67

B. Analisis Dampak Perilaku Konsumerisme pada Kehidupan Santri Putri Pondok Pesantren Pendowo Walisongo ... 72

C. Analisis Peran Pondok Pesantren Pendowo Walisongo dalam Menanggulangi Perilaku Konsumerisme Santri Putri ... 76

BAB V. PENUTUP ... 84

A. Kesimpulan ... 84

B. Saran/Rekomendasi ... 85

DAFTAR PUSTAKA ... 86

LAMPIRAN ... 90

RIWAYAT HIDUP ... 110

(10)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Globalisasi yang menandai berakhirnya abad 20 merupakan sebuah keniscayaan yang membawa dampak serius di berbagai aspek kehidupan.

Menurut Baudrillard tumbuhnya masyarakat konsumsi sebagai salah satu dampak globalisasi. Dalam masyarakat konsumsi, terdapat kecenderungan orang membeli barang bukan karena nilai kemanfaatannya, melainkan karena gaya hidup (lifestyle), demi sebuah citra yang diarahkan dan dibentuk oleh iklan dan mode melalui televisi, tayangan sinetron, acara infotainment, dan berbagai media lain. Dengan apa yang ditawarkan diiklankan melalui media massa tersebut meliputi berbagai barang dan jasa yang memberikan citra sebagai ikon modernitas, kemewahan, dan glamor, terlepas dari nilai kemanfaatannya. Sehingga membuat seseorang sebagai konsumen tidak lagi melihat apakah barang yang dikonsumsinya tersebut memiliki nilai kemanfaatan atau tidak, tetapi lebih menekankan dapat mencitrakan dirinya sudah memiliki gaya hidup modern.1

Dalam menjalani kehidupan di dunia manusia memiliki kecenderungan untuk bertahan hidup. Untuk bertahan hidup, dibutuhkan pemenuhan atas kebutuhan-kebutuhan dari berbagai aspek, seperti kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya manusia harus melakukan kegiatan ekonomi, salah

1 Sindung Haryanto, “Sosiologi Ekonomi”, (Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2016), 163.

(11)

satunya adalah konsumsi. Di era pos-modernisme ini telah terjadi pergeseran dan perubahan makna dari kegiatan konsumsi. Konsumsi pada awalnya merupakan salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan. Namun, pada masa ini keinginan dan kebutuhan menjadi sangat sulit untuk dibedakan. Keinginan dan kebutuhan berubah menjadi dua hal yang telah bercampur baur, muskil, dan samar.2

Dengan berkembangnya media online yang digunakan sebagai media pemasaran saat ini, kebutuhan manusia juga semakin meningkat.

Manusia memiliki keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang merupakan naluri alamiah seorang manusia. Kebutuhan manusia adalah segala sesuatu yang diperlukan agar manusia dapat terus menjalani kehidupannya. Sedangkan keinginan adalah adalah terkait dengan hasrat atau harapanseseorang yang jika tidak dipenuhi manusia masih bisa untuk terus mejalani kehidupannya. Keinginan terkait dengan dengan suka atau tidak sukanya seseorang terhadap suatu barang/jasa, dan hal ini bersifat subjektif, tidak bisadibandingkan anatar satu orang dengan orang lain.3

Konsumsi merupakan suatu hal yang niscaya dalam kehidupan manusia, karena ia membutuhkan berbagai konsumsi untuk dapat mempertahankan hidupnya. Ia harus makan untuk hidup, berpakaian untuk melindungi tubuhnya dari berbagai iklim ekstrem, memiliki rumah untuk dapat berteduh, beristitahat sekeluarga, serta menjaganya dari berbagai

2 Bagong Suyanto, Sosiologi Ekonomi: Kapitalisme dan Konsumsi di Era Masyarakat Post-Modernisme (Jakarta: Kencana, 2017), 106.

3 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI), Ekonomi Islam (Jakarta: PT.

Raja Grafindo Persada, 2008), 130.

(12)

gangguan fatal. Juga aneka peralatan untuk memudahkan menjalani kehidupan serta untuk menggapai prestasi dan prestise. Sepanjang hal itu dilakukan sesuai dengan aturan-aturan syara’, maka tidak akan menimbulkan problematika. Akan tetapi, ketika manusia memperturutkan hawa nafsunya dengan cara-cara yang tidak dibenarkan oleh agama, maka hal itu akan menimbulkan malapetaka berkepanjangan.4

Dalam jurnal penelitian yang diteliti oleh Eddy dan Maulina, Perilaku konsumtif merupakan perilaku yang berlebihan dan irasional yang mendahulukan keinginan daripada kebutuhan dengan tidak memprioritaskan manfaat cenderung kepada sifat boros, kepuasan dan pengakuan diri. Menurut perspektif Islam, perilaku konsumtif tindakan yang tidak dianjurkan karena termasuk ke dalam perilaku berlebih-lebihan, hanya berorientasi pada kepuasan duniawi dan menumbuhkan sifat sombong. Dalam konsumerisme, perilaku konsumen mudahterbujuk oleh promosi dari suatu produk tanpa mengedepankan aspek kebutuhan atau kepentingan, lebih memilih barang-barang bermerek yang sudah dikenal luas tanpa melihat keterjaminan mutu produk itu sendiri, dan memilih barang tidakberdasarkan kebutuhan melainkan keinginan dan gengsi.5

Data yang didapat peneliti santri putri Pondok Pesantren Pendowo Walisongo berjumlah kurang lebih 72 santri yang terdiri dari 42 santri putri dan 30 santri putra yang mayoritas dari kalangan mahasiswi yang

4 Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI, Tafsir Al-Qur’an : Pembangunan Ekonomi Umat, (Jakarta : Departemen Agama RI, 2009), 240- 241.

5 Eddy Rohayedi dan Maulina, "Konsumerisme Dalam Perspektif Islam", Transformatif, Volume 4, Nomor 1 (2020), 31–48.

(13)

mana tidak jauh seperti anakmuda pada umumnya, mereka selalu membeli dan memakai berbagai produk terbaru yang sedang menjadi trend, karena mereka ingin seperti apa yang mereka lihat di televisi, tiktok, instagram, dan media sosial lainnya. Apalagi di dalam era digital sekarang ini transaksi lebih dipermudah dengan adanya online shop, sehingga mempermudah para mahasiswa untuk mendapatkan barang yang di inginkan hanya melalui HP di tangannya.6

Hal ini dibuktikan dengan adanya perilaku konsumerisme santri putri Pondok Pesantren Pendowo Walisongo yaitu dengan banyak yang belanja online tanpa memikirkan kebutuhannya, boros, pergi ke tempat rekreasi yang dilarang, kumpul dengan teman di angkringan, dan sering jajan di luar pondok. Perilaku konsumerisme ini dapat terbentuk karena sebagian besar dari santri di Pondok Pesantren Pendowo Walisongo merupakan lulusan dari pondok-pondok besar yang mana di pondok tersebut dilarang keras membawa HP, sedangkan di Pondok Pesantren Pendowo Walisongo ini diperbolehkan membawa HP karena sebagian besar santrinya seorang mahasiswa. Selain diperbolehkan membawa HP dan juga laptop di Pondok Pesantren Pendowo Walisongo juga diberikan fasilitas Wi-Fi dengan harapan para santri bisa dengan leluasa dan terjamin dalam mengerjakan tugas-tugasnya, akan tetapi hal tersebut malah disalah gunakan oleh para santri dengan banyak bermain sosial media baik tiktok

6 Anisatul Mukhoyaroh, Wawancara, 02 Februari 2023.

(14)

maupun shopee sehingga memberikan dampak negatif yaitu menimbulkan perilaku konsumerisme.7

Dampak yang ditimbulkan dari perilaku konsumerisme tersebut adalah dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah mengajak untuk menikmati kehidupan dengan kebahagiaan dan kesenangan, agar tidak selalu dalam keadaan murung atau sedih juga memungkinkan bisa membuat orang yang sedih menjadi bahagia meskipun dengan cara menghabiskan uangnya. Dampak negatifnya yaitu orang tua akan merasa pusing menuruti kemauan anaknya, tidak bisa mengatur keuangannya, tidak mencerminkan anak pondok, pandangan dari masyarakat sekitar pondok menjadi jelek, pandangan orang tua terhadap pondok pesantren yang kurang dalam pengawasan, menjadi boros, tidak bertanggung jawab dengan sesuatu yang dimiliki, egois, tidak bersyukur dengan apa yang dimiliki, tidak memiliki pendirian, dan juga akan menjadi pemalas.8

Dari hasil wawancara dengan 11 informan yang terdiri dari 1 pengasuh, 1 pengurus, dan 9 santri putri Ponpes Pendowo Walisongo terdapat beberapa pendapat. Santriwati pertama berpendapat bahwa ia lebih senang membeli skincare yang ramai diperbincangkan dan flash sale walau berbagai macam dari skincare yang dibeli tersebut tidak terdapat BPOM dan label halalnya.9 Hal ini memiliki persamaan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Putri dengan judul “Perilaku Konsumtif pada Konsumen E-commerce Shopee di Ponorogo Saat Flash Sale dalam

7 Anisatul Mukhoyaroh, Wawancara, 02 Februari 2023

8 Bu Nyai Sa’adah, Wawancara, 02 April 2023.

9 Nilna Ulwiyatul, Wawancara, 02 Februari 2023.

(15)

Perspektif Islam” terdapat hasil bahwa motif konsumen berbelanja saat flash sale adalah adanya promo potongan harga, gratis ongkos kirim, kemudahan akses dan kemudahan pembayaran, motif tersebut diperbolehkan dalam Islam selama tetap menaati norma dan etika konsumsi yang berlaku.10

Peran pondok pesantren Pendowo Walisongo dalam menanggulangi perilaku konsumerisme santri putri disana yaitu dengan selalu memberikan himbauan agar para santri khususnya santri putri agar tidak mengikuti perilaku konsumerisme dan selalu bersikap qanaah, selain itu juga dengan bentuk dari kegiatan mengaji yang ada di pondok pesantren diharapkan dapat menanggulangi perilaku konsumerisme.

Pondok pesantren juga memiliki upaya agar para santri menjadi lebih baik lagi yaitu membuat peraturan yang berkaitan dengan gaya hidup yang halal, membawakan uang saku santri, program tahfidz dimaksimalkan, menertibkan program ibadah sunnah, program controlling, teguran kepada santri yang melanggar peraturan, dan memberikan sanksi bagi santri yang melanggar peraturan dengan hukuman yang mendidik.11

Pondok pesantren Pendowo Walisongo jika dibandingkan dengan pondok pesantren lain yang lebih besar tetap memiliki keunggulan tersendiri. Pondok pesantren Pendowo Walisongo merupakan pondok salafiyah dan tahfidzul qur’an. Di pondok pesantren Pendowo Walisongo uang bulanan pondok murah meriah dan itu sudah termasuk makan,

10 Intan Nurdyahayuningtyas Putri, "Perilaku Konsumtif Pada Konsumen E-Commerce Shopee Di Ponorogo Saat Flash Sale", Skripsi, (Ponorogo : IAIN Ponorogo, 2022), 75.

11 Anisatul Mukhoyaroh, Wawancara, 02 April 2023.

(16)

minum, air, dan listrik. Di sana juga difasilitasi wi-fi agar memudahkan para santri leluasa mengerjakan tugas sekolah dan kuliah. Sistem mengaji yang baik dan terstruktur juga sudah diterapkan di pondok pesantren Pendowo Walisongo, yaitu mengaji Al-Qur’an dan kitab-kitab. Peraturan pondok pesantren yang baik juga sudah diterapkan di sana, dan dengan adanya dawuh kyai mengenai hal-hal yang para santri perlu lakukan agar selalu bisa bersikap qanaah. Konsumsi juga sangat terjamin dibandingkan dengan pondok lainnya, di pondok pesantren Pendowo Walisongo makanan sehat, bergizi, dan terjamin sehari 3 kali. Tidak sama dengan di pondok-pondok besar yang mana konsumsinya sangat tidak terjamin.12

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Peran Pondok Pesantren Pendowo Walisongo dalam Menanggulangi Perilaku Konsumerisme Santri Putri”.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana perilaku konsumerisme santri putri Pondok Pesantren

Pendowo Walisongo?

2. Bagaimana dampak perilaku konsumerisme pada kehidupan santri putri di Pondok Pesantren Pendowo Walisongo?

3. Bagaimana peran Pondok Pesantren Pendowo Walisongo dalam menanggulangi perilaku konsumerisme santri putri?

12 Anisatul Mukhoyaroh, Wawancara, 02 April 2023.

(17)

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk menguraikan perilaku konsumerisme santri putri Pondok Pesantren Pendowo Walisongo.

2. Untuk menganalisis dampak perilaku konsumerisme pada kehidupan santri putri di Pondok Pesantren Pendowo Walisongo.

3. Untuk menganalisis peran Pondok Pesantren Pendowo Walisongo dalam menanggulangi perilaku konsumerisme santri putri.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi dan wawasan keilmuan dan dapat dijadikan rujukan bagi peneliti yang akan datang.

2. Manfaat Praktis a. Bagi peneliti

Diharapkan hasil penelitian ini dapat memperkaya materi, wawasan, dan ilmu pengetahuan mengenai ilmu ekonomi islam khususnya tentang peran pondok pesantren untuk menanggulangi perilaku konsumerisme.

b. Pembaca

Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dan saran bagi pembaca untuk memperluas wacana keilmuan khususnya mengenai peran pondok pesantren dalam

(18)

menanggulangi perilaku konsumerisme.

E. Studi Penelitian Terdahulu

Pada penelitian ini mengangkat tema mengenai perilaku konsumen muslim dan perilaku konsumerisme. Sebelumnya sudah terdapat beberapa penelitian yang mengangkat tema serupa, yakni pertama penelitian yang dilakukan oleh Saefuloh dengan judul skripsi “Analisis Perilaku Konsumen Muslim Dalam Belanja Fashion Di Online Shop (Studi Kasus Mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam UIN Walisongo Semarang Angkatan 2014-2018)”, penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku konsumsi mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UINWalisongo Semarang angkatan 2014-2018 penggunaan media online shop dianggap informatif, harga yang stabil, dan fleksibel.13 Persamaan pada jenis penelitian kualitatif. Persamaan pada pembahasan tentang perilaku konsumen muslim akan tetapi berbeda pada konteksnya yaitu dalam belanja fashion sedangkan pada penelitian yang akan peneliti lakukan bukan hanya pada fashion saja. Lokasi penelitian objek berbeda.

Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Putri dengan judul skripsi

“Perilaku Konsumtif Pada Konsumen E-Commerce Shopee Di Ponorogo Saat Flash Sale Dalam Perspektif Konsumsi Islam”, penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya flash sale memberikan keuntungan dan dampak yang baik bagi

13 Asep Saefuloh, ‘Analisis Perilaku Konsumen Muslim Dalam Belanja Fashion Di Online Shop (Studi Kasus Mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam UIN Walisongo Semarang Angkatan 2014-2018)’, Skripsi, Progress in Retinal and Eye Research, 561.3 (2019), 3.

(19)

sebagian konsumen sehingga membuat terjadinya perilaku konsumtif kepada beberapa konsumen lainnya. 14 Persamaan pada metode penelitian yang digunakan. Lebih terfokus pada konsumen e-commerce shopee sedangkan penelitian yang akan peneliti gunakan fokus pada perilaku konsumerisme santri mahasiswa di pondok pesantren. Lokasi objek penelitian berbeda.

Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Muhebby dengan judul skripsi “Konsumerisme Pada Pola Konsumsi Di Kalangan Mahasiswi IAIN Jember”, penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola konsumsi yang dilakukan mahasiwi IAIN Jember dapat dikatakan pola konsumsi yang wajar dari segi kebutuhan hidup, namun pola konsumsi mahasiswi dapat dikatakan tahap awal pola konsumsi berlebihan atau dapat dikatakan perilaku konsumtif. Dari perilaku konsumtif yang dilakukan, mahasiswi terdorong untuk melakukan perilaku tersebut karena faktor internal dan faktor eksternal. 15 Persamaan membahas mengenai konsumerisme, tetapi pada mahasiswi sedangkan pada penelitian yang akan peneliti lakukan pada santri mahasiswa yang ada di pondok pesantren. Lokasi objek penelitian berbeda.

Keempat, penelitian yang dilakukan oleh Adzkiya dengan judul skripsi “Analisis Perilaku Konsumtif dan Faktor Pendorongnya (Studi Kasus Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

14 Intan Nurdyahayuningtyas Putri, 76.

15Muhebby, ‘Konsumerisme Pada Pola Konsumsi Di Kalangan Mahasiswi IAIN Jember’, Skripsi, (Jember : IAIN Jember, 2021), 115.

(20)

Angkatan 2017)”, Penelitian tersebut menggunakan metode kuantitatif.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gaya hidup dan media sosial berpengaruh signifikan secara positif serta literasi keuangan dan religiusitas berpengaruh signifikan secara negatif terhadap perilaku konsumtif pada mahasiswa UIN Jakarta Angkatan 2017.16 Persamaan pada pembahasan perilaku konsumtif tetapi lebih menekankan pada mahasiswa sedangkan pada penelitian yang akan dilakukan peneliti disini lebih menekankan perilaku konsumerisme pada santri mahasiswa yang berada di pondok pesantren. Lokasi objek penelitian berbeda.

Kelima, penelitian yang dilakukan oleh Khoiriyah dengan judul skripsi “Analisis Perilaku Mahasiswa FEBI IAIN Ponorogo dalam Membeli Produk Online Shop (Perilaku Konsumen Islami)”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa secara garis besar perilaku konsumsi yang dilakukan oleh mahasiswa FEBI IAIN Ponorogo tidak sesuai dengan syariat konsumsi Islam seperti membelanjakan harta untuk kebaikan dan menjauhi sifat kikir, tidak melakukan kemubadziran, dan kesederhanaan.17 Persamaan pada metode penelitian yang digunakan. Perbedaan tidak menjelaskan mengenai perilaku konsumerisme dan pada penelitian tersebut lebih menekankan pada perilaku konsumen islami sedangkan penelitian yang

16Annisa Adzkiya, Analisis Perilaku Konsumtif Dan Faktor Pendorongnya (Studi Kasus Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2017), Skripsi, (Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah, 2018), 86.

17 Riza Rosyidah Khoiriyah, ‘Analisis Perilaku Mahasiswa FEBI IAIN Ponorogo Dalam Membeli Produk Online Shop (Perilaku Konsumsi Islami)’, Skripsi, (Ponorogo : IAIN Ponorogo, 2021), 2.

(21)

akan dilakukan oleh peneliti menekankan pada perilaku santri mahasiswa di pondok pesantren. Lokasi objek penelitian berbeda.

Keenam, penelitian ini dilakukan oleh Burhanuddin dan Riyanto dengan judul jurnal “Perilaku Konsumen Muslim Indonesia terhadap Perkembangan Produk Makanan dan Minuman”. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan kehalalan dan gizi produk yang dikonsumsi seorang muslim merupakan salah satu bagian dari perhatian Nabi, yaitu bahwa seorang muslim tidak memakan apapun kecuali halal dan toyyib.18 Persamaan pada pembahasan perilaku konsumen muslim. Perbedaan pada metode penelitian yang digunakan. Perbedaan tidak membahas perilaku konsumerisme, tetapi lebih menekankan pada perilaku konsumen muslim.

Ketujuh, penelitian yang dilakukan oleh Rohayedi dan Maulina dengan judul jurnal “Perilaku Konsumerisme dalam Perspektif Islam”.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa menurut perspektif Islam, konsumerisme tindakan yang tidak dianjurkan karena termasukke dalam perilaku berlebih-lebihan, hanya berorientasi pada kepuasan duniawi dan menumbuhkan sifat sombong.19 Persamaan pada metode yang digunakan. Persamaan membahas tentang perilaku konsumerisme, tetapi secara umum sedangkan pada penelitian yang akan dilakukan peneliti secara studi kasus yaitu

18 Burhanuddin dan Setyo Riyanto, ‘Perilaku Konsumen Muslim Indonesia Terhadap Perkembangan Produk Makanan Dan Minuman Halal’, Jurnal Pendidikan Dan Kewirausahaan, Volume 10, Nomor 2, (2022), 45–54.

19 Eddy Rohayedi dan Maulina, 48.

(22)

perilaku konsumerisme pada seorang santri di pondok pesantren. Lokasi objek penelitian berbeda.

Kedelapan, penelitian yang dilakukan oleh Rachel dan Rangkuty dengan judul “Konsumerisme dan Gaya Hidup Perempuan di Ruang Sosial:Analisis Budaya Perbedaan Diri di Lingkungan FISIP UNIMAL”.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa para mahasiswi di Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh ingin tampil beda disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:keinginan menjadi pusat perhatian, keinginan menarik perhatian lawan jenis, keinginan menjadi trendsetter, merasa lebih percaya diri.20 Persamaan pada metode penelitian yang digunakan. Persamaan membahas tentang konsumerisme, tetapi lebih menekankan pada konsumerisme perempuan di lingkungan universitas sedangkan pada penelitian yang akan dilakukan peneliti akan menekankan pada perilaku konsumerisme santri putri di pondok pesantren yang merupakan seorang mahasiswa.

Kesembilan, penelitian yang dilakukan oleh Romadhona dan Perdhana dengan judul “Memahami Perilaku Konsumen Muslim Sebelum dan Selama Masa Pandemi COVID-19”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku pembelian konsumen di Indonesia terhadap kebutuhan pokok barang dan jasa selama masa pandemi covid-19 diIndonesia, mengalami

20 Rahmi Rachel dan Rakhmadsyah Putra Rangkuty, ‘Konsumerisme Dan Gaya Hidup Perempuan Di Ruang Sosial: Analisis Budaya Pembedaan Diri Di Lingkungan Fisip Unimal’, Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM), Volume 1, Nomor 1, (2020), 97.

(23)

penurunan daya beli dari responden sedangkan sebelum adanya pandemi covid-19, aktivitas yang banyak dilakukan oleh konsumen adalah travelling maupun kegiatan aktivitas di luar rumah.21 Persamaan pada metode penelitian yang digunakan. Persamaan membahas tentang perilaku konsumen muslim, tetapi terfokus pada masyarakat Indonesia sebelum dan selama covid-19 sedangkan pada penelitian yang akan peneliti lakukan terfokus pada santri mahasiswa yang ada di pondok pesantren. Lokasi objek penelitian berbeda.

Kesepuluh, penelitian yang dilakukan oleh Thohir, Sari, dan Aini dengan judul “Konsumerisme dan E-commerce:Perilaku Konsumen Online Saat Pandemi dalam Tinjauan Pendidikan Ekonomi Islam”.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku konsumen dalam belanja melalui Shopee, yang diperoleh melalui besaran persentase seberapa sering para konsumen berbelanja di Shopee dan barang apa saja yang sering mereka beli.22 Persamaan pada metode penelitian yang digunakan. Persamaan membahas tentang konsumerisme tetapi lebih terokus pada perilaku konsumen online pada masa pandemi sedangkan pada penelitian yang akan dilakukan penelitian akan terfokus pada perilaku konsumerisme pada santri mahasiswa di pondok pesantren.

21 Thithit Romadhona dan Mirwan Surya Perdhana, ‘Memahami Perilaku Konsumen Muslim Sebelum Dan Selama Masa Pandemi Covid-19’, Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, Volume 8, Nomor 1, (2022), 95.

22 Muhammad Thohir, Aprilia Indah Sari, dan Erhasah Nuril Aini, ‘Konsumerisme Dan E- Commerce: Perilaku Konsumen Online Saat Pandemi Dalam Tinjauan Pendidikan Ekonomi Islam’, Jurnal Studi Ekonomi, Volume XII, Nomor II, (2021), 1–23.

(24)

Kesebelas, penelitian yang dilakukan oleh Nisrina, Widodo, Larassati, dan Rahmaji dengan judul “Dampak Konsumerisme Budaya Korea (KPOP) di Kalangan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dampak dari konsumerisme dalam aspek ekonomi yaitu sikap pemborosan serta perubahan nilai guna suatu barang yang awal pembelian didasarkan pada kebutuhan (needs), dalam aspek budaya yaitu remaja mulai meninggalkan budaya Indonesia. Dari dampak sosial yaitu memicu adanya kesenjangan sosial di masyarakat.23 Persamaan pada metode penelitian yang digunakan. Persamaan membahas tentang konsumerisme, tetapi lebih menekankan pada konsumerisme mahasiswa terhadap KPOP sedangkan pada penelitian yang akan dilakukan peneliti disini lebih menekankan konsumerisme santri mahasiswa dalam kehidupan santrinya.

Kedua belas, penelitian yang dilakukan oleh Dzikrayah dengan judul “Perilaku Konsumen Muslim terhadap Food and Beverage pada Masa Pandemi Covid-19”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku konsumen muslim terhadap konsumsi food and beverage pada masa pandemi covid-19 tidak jauh berbeda dengan sebelum adanya virus karena mengacu pada Al- Quran dan Hadits dimana perilaku konsumen muslim harus menghindari

23 Dzakkiyah Nisrina, Incka Aprillia Widodo, Indah Bunga Larassari, dan Fikri Rahmaji,

‘Dampak Konsumerisme Budaya Korea ( Kpop ) Di Kalangan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial’, Jurnal Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang, Volume 21, Nomor 1, (2020), 78–88.

(25)

atau menjauhi dari sifat israf (berlebih-lebihan) dan sifat tabdzir (boros).24 Persamaan pada metode penelitian yang digunakan. Persamaan membahas tentang perilaku konsumen muslim, tetapi lebih fokus terhadap makanan dan minuman pada masa pandemi sedangan pada penelitian yang akan peneliti lakukan akan fokus pada peran pondok pesantren dalam menanggulangi perilaku konsumerisme santri.

Ketiga belas, penelitian yang dilakukan oleh Alam dan Hasmira dengan judul “Perilaku Konsumerisme Remaja Penggemar Olahraga Surfing di Pantai Air Manis Kota Padang”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan remaja untuk menunjang hobi sekaligus olahraga selancar terdapat nilai guna yang merupakan fungsi serta manfaat selancar itu sendiri sebagai sebuah aktivitas olahraga yang dilakukan oleh remaja tersebut.25 Persamaan pada metode penelitian yang digunakan. Persamaan membahas tentang perilaku konsumerisme yang fokus pada remaja penggemar olahraga surfing sedangkan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti fokus pada santri mahasiswa di pondok pesantren. Perbedaan pada lokasi penelitian dan fokus penelitian.

Keempat belas, penelitian yang dilakukan oleh Naftali, Madjakusumah, dan Srisusilawati dengan judul “Analisis Perilaku Konsumen Muslim dalam Penggunaan Produk Soju Non Alkohol”.

24 Fithri Dzikrayah, ‘Perilaku Konsumen Muslim terhadap Food and Beverage pada Masa Pandemi Covid-19’, Jurnal Ekonomi Syariah, Volume 7, Nomor 1, (2020), 25–34.

25 Taufik Paku Alam dan Mira Hasti Hasmira, ‘Perilaku Konsumerisme Remaja Penggemar Olahraga Surfing Di Pantai Air Manis Kota Padang", Jurnal Perspektif: Jurnal Kajian Sosiologi dan Pendidikan , Volume 4, Nomor 3, (2021), 307–19.

(26)

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa minat konsumen muslim terhadap penggunaan produk soju non alkohol ini cukup tinggi karena rasa penasaran dari informan yang rata-rata mengetahui produk soju alkohol kini tersedia dengan versi non alkohol dan masih memperhatikan etika-etika konsumsi sebagai konsumen muslim mulai dari kehalalan, kehendak bebas, keadilan, ketauhidan, sederhana, dan amanah.26 Persamaan pada metode penelitian yang digunakan. Persamaan membahas tentang perilaku konsumen muslim, tetapi lebih terfokus pada penggunaan produk soju non alkohol sedangkan pada penelitian yang akan peneliti lakukan akan terfokus pada perilaku konsumen muslim seorang santri mahasiswa yang berperilaku konsumerisme. Lokasi objek penelitian berbeda.

Kelima belas, penelitian yang dilakukan oleh Fitriah, Islam, dan Diharjo dengan judul “Dampak Korean Wave terhadap Perilaku Konsumerisme Merchaindise K-Pop Dikalangan Mahasiswa Probolinggo”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa remaja tertarik terhadap budaya Korea disebabkan pengaruh dari media dan orang-orang terdekat misalnya teman dan keluarga. Setelah menjadi penggemar k-pop mereka akan melakukan perilaku konsumtif.27 Persamaan menggunakan metode penelitian yang

26 Reza Naftali Rahmayosa, D. Gandana Madjakusumah, dan Popon Srisusilawati, ‘Analisis Perilaku Konsumen Muslim Dalam Penggunaan Produk Soju Non Alkohol’, Bandung Conference Series: Sharia Economic Law, Volume 2, Nomor 2, (2022), 58–63.

27 Nur Lailatul Fitriah, Muhammad Hifdil Islam, dan Roby Firmandil Diharjo, ‘Dampak Korean Wave Terhadap Perilaku Konsumerisme Merchaindise K-Pop Dikalangan Mahasiswa Probolinggo’, Jurnal Pendidikan Dan Konseling, 4 (2022), 49–58.

(27)

digunakan. Persamaan membahas tentang perilaku konsumerisme tetapi lebih terfokus pada perilaku konsumerisme pada budaya korea oleh mahasiswa sedangkan pada penelitia yang akan peneliti lakukan akan terfokus pada perilaku konsumerisme santri mahasiswa di pondok pesantren. Perbedaan tidak membahas tentang hedonisme. Lokasi objek penelitian berbeda.

F. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah pengumpulan data pada suatu latar alamiah dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.28 Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan (field research), yaitu suatu penelitian yang dilakukan di lapangan atau di lokasi penelitian, suatu tempat yang dipilih sebagai lokasi untuk menyelidiki gejala objektif yang terjadi di lokasi tersebut.29 Tujuan peneliti menggunakan pendekatatan kualitatif karena peneliti kurang tertarik untuk mengukur atau mengetahui jumlah dalam suatu usaha.

Peneliti ingin mengetahui karakteristik dan kondisi tertentu. Dalam

28 Albi Anggito dan Johan Setiawan, S. Pd., Metodologi Penelitian Kualitatif (Jawa Barat:

CV Jejak, 2018), 8.

29 Abdurahmat Fathoni, Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi (Jakarta:

Asdi mahasatya, 2006), 96.

(28)

penelitian ini, peneliti berusaha mencari tahu mengenai peran Pondok Pesantren Pendowo Walisongo dalam Menanggulangi Perilaku Konsumerisme Santri Putri.

2. Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian kualitatif, kehadiran peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Kehadiran peneliti mutlak diperlukan, karena di samping itu kehadiran peneliti juga sebagai pengumpul data. Sebagaimana salah satu ciri penelitian kualitatif dalam pengumpulan data dilakukan sendiri oleh peneliti. Sedangkan kehadiran peneliti dalam penelitian ini sebagai pengamat partisipan/berperan serta, artinya dalam proses pengumpulan data peneliti mengadakan pengamatan dan mendengarkan secermat mungkin sampai pada yang sekecil-kecilnya sekalipun.30

3. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang digunakan untuk memperoleh informasi mengenai data yang diperlukan berdasarkan pertimbangan tertentu.31 Lokasi penelitian adalah di Pondok Pesantren Pendowo Walisongo.

Berada di Jl. Raya Ngebel, Sedah, Jenangan, Ponoorogo. Alasan peneliti memilih lokasi tersebut karena lokasi tersebut memiliki karakteristik dan permasalahan yang akan diteliti.

30 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), 117.

31 Narkubo, C dan Achmadi, A. Metode Penelitian. (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), 83.

(29)

4. Data dan Sumber Data a. Data

Data kualitatif diungkapkan dalam bentuk kalimat serta uraian- uraian, bahkan dapat berupa cerita pendek. Data kualitatif amat bersifat subjektif, karenanya peneliti yang menggunakan data kualitatif, sesungguhnya harus berusaha sedapat mungkin untuk menghindari sikap subjektif yang dapat mengaburkan objektivitas data penelitian.32 Data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Perilaku konsumerisme santri putri Pondok Pesantren Pendowo Walisongo.

2) Dampak perilaku konsumerisme pada kehidupan santri putri di Pondok Pesantren Pendowo Walisongo.

3) Peran Pondok Pesantren Pendowo Walisongo dalam menanggulangi perilaku konsumerisme santri putri.

b. Sumber Data

Sedangkan untuk mendapatkan informasi atau data yang akan digunakan dalam penelitian ini membutuhkan sumber data.

Sumber data adalah yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian yang dilakukan ini, peneliti melakukan wawancara dengan beberapa informan, yaitu:

1) Pengasuh Ponpes Pendowo Walisongo sebanyak 1 orang.

2) Pengurus Ponpes Pendowo Walisongo sebanyak 1 orang.

32 Haris Herdiansyah, Wawancara, Obsercasi, dan Focus Group, (Jakarta: Rajawali

Press,2015), 11-12

(30)

3) Santri putri Ponpes Pendowo Walisongo sebanyak 9 orang.

5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:

a. Wawancara

Wawancara penelitian kualitatif merupakan salah satu teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi.

Wawancara yang digunakan adalah wawancara kualitatif yaitu peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan lebih bebas dan leluasa, tanpa terikat oleh suatu susunan pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya.33

Peneliti melakukan wawancara dengan berbagai pihak yang menjadi informan dalam penelitian ini. Dalam hal ini, peneliti melakukan wawancara dengan 11 orang yaitu 1 pengasuh pondok, 1 pengurus pondok, dan 9 santri putri Pondok Pesantren Pendowo Walisongo. Wawancara ini dilakukan dengan tujuan untuk menggali dan mendapatkan data-data yang tepat terkait peran Pondok Pesantren Pendowo Walisongo dalam menanggulangi perilaku konsumerisme santri putri disana.

b. Observasi

Metode observasi (pengamatan) adalah sebuah teknik pengumpulan data yang mengharuskan peneliti turun ke

33 Djunaidi Ghony dan Fauzan Almanshur, Metodologi Penelitian Kualitatif (Yogyakarta:

Ar-Ruzz Media, 2012), 176.

(31)

lapangan untuk mengamati hal-hal yang berkaitan dengan ruang, tempat, pelaku, kegiatan, benda-benda, waktu, peristiwa, tujuan, dan perasaan. Metode observasi merupakan salah satu cara yang sangat baik untuk mengawasi perilaku sebjek penelitian seperti perilaku dalam lingkungan (ruang), waktu, dan keadaan tertentu.34 Observasi dilakukan dengan cara peneliti melakukan observasi di lapangan dengan datang langsung ke Pondok Pesantren Pendowo Walisongo. Peneliti mengamati langsung tentang peran Pondok Pesantren Pendowo Walisongo dalam menanggulangi perilaku konsumerisme santri putri disana.

c. Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.

Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang.35 Dokumentasi pada penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh gambar penelitian tentang peran Pondok Pesantren Pendowo Walisongo dalam menanggulangi perilaku konsumerisme santri putri disana.

6. Teknik Pengolahan Data

Dalam penelitian kualitatif, data yang terkumpul melalui berbagai teknik pengumpulan data akan berbeda-beda. Pola analisis data yang digunakan dengan tiga kegiatan analisis data yang dilakukan secara serempak. Ketiga kegiatan tersebut yaitu:

34 Ibid, 165.

35 Sugiyono, Metode Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2016), 240.

(32)

a. Reduksi Data

Reduksi data adalah kegiatan yang tidak terpisahkan dari analisis data. Reduksi data adalah suatu bentuk analisis yang mempertajam, memilih, memfokuskan, membuang, dan mengorganisasikan data dalam satu cara, di mana kesimpulan akhir dapat digambarkan atau diverifikasikan.36

b. Data Display

Display adalah kumpulan informasi yang telah tersusun yang membolehkan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Bentuk display data dalam penelitian kualitatif yang paling sering yaitu teks naratif dan peristiwa atau kejadian di masa lampau.37

c. Kesimpulan atau Verifikasi

Kesimpulan atau verifikasi adalah tahap akhir yang dilakukan dalam proses analisis data. Penarikan kesimpulan bisa dilakukan dengan jalan membandingkan kesesuaian pernyataan dari subyek penelitian dengan makna yang terkandung dengan konsep-konsep dasar dalam penelitian tersebut.31 Sehingga dapat ditarik kesimpulan hasil dari penelitian yang dilakukan terkait peran Pondok Pesantren Pendowo Walisongo dalam menanggulangi perilaku konsumerisme santri putri disana.

36 A. Muri Yusuf, Metode Penelitian: Kuantitaif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), 408.

37 A. Muri Yusuf, 409.

(33)

7. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri maupun orang lain.38

Analisis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu peneliti mengamati permasalahan peran yang dilakukan di Pondok Pesantren Pendowo Walisongo, yaitu yang bersifat khusus. Kemudian menyederhanakan dengan memilah-milah data yang sesuai dengan fokus penelitian, selanjutnya data yang diperoleh dianalisis. Hasil dari analisis tersebut kemudian ditarik kesimpulan tentang bagaimana perilaku santri putri di Pondok Pesantren Pendowo Walisongo yang mengarah pada konsumerisme, bagaimana dampak perilaku konsumerisme pada kehidupan santri di pondok pesantren, dan bagaimana peran Pondok Pesantren Pendowo Walisongo untuk menanggulangi perilaku konsumerisme santri putri disana.

8. Teknik Pengecekan Keabsahan Data

Untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan atau pengecekan keabsahan data. teknik pengecekan keabsahan data pada penelitian ini adalah:

38 Sugiyono, 244.

(34)

a. Perpanjangan Pengamatan Penelitian

Perpanjangan pengamatan penelitian berarti peneliti kembali ke lapangan, untuk melakukan pengamatan di lokasi penelitian, wawancara lagi dengan sumber data yang pernah ditemui maupun yang baru.39

Adanya perpanjangan pengamatan ini dilakukan agar hubungan peneliti dengan informan atau narasumber akan semakin terbentuk rapport, semakin akrab (tidak ada jarak lagi), semakin terbuka, saling mempercayai sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan lagi oleh informan.40 Sehingga, data yang didapat sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan. Jadi, perpanjangan pengamatan ini digunakan peneliti untuk mendapat data yang sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu terkait peran Pondok Pesantren Pendowo Walisongo dalam menanggulangi perilaku konsumerisme santri putri disana.

b. Meningkatkan Ketekunan

Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Sebagai bekal peneliti untuk meningkatkan ketekunan dengan cara membaca berbagai referensi buku maupun hasil penelitian terdahulu atau dokumentasi-dokumentasi yang membahas terkait perilaku konsumen muslim dan perilaku konsumerisme khususnya pada

39 Sugiyono, 270.

40 Sugiyono, 271.

(35)

penelitian ini yaitu perilaku konsumerisme santri putri, dampak dari perilaku konsumerisme santri putri pada kehidupan di pondok, dan peran Pondok Pesantren Pendowo Walisongo dalam menanggulangi perilaku konsumerisme santri putri disana.41

Dengan meningkatkan ketekunan maka dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan sistematis tentang perilaku konsumen muslim dan perilaku konsumerisme khususnya peran Pondok Pesantren Pendowo Walisongo dalam menanggulangi perilaku konsumerisme santri putri disana.

c. Triangulasi

Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain, di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data. Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lainnya.42 Jadi, triangulasi ini digunakan peneliti untuk mendapat data yang sesuai untuk mendapatkan hasil penelitian yang lebih tepatyaitu dengan mewawancarai sebanyak 11 orang yang terdiri dari 1 pengasuh pondok, 1 pengurus pondok, dan 9 santri putri.

G. Sistematika Pembahasan

Dalam menyusun laporan penelitian kualitatif ini peneliti akan menggambarkan sistematika bahasan yang relevan. Agar pembaca dapat

41Sugiyono, 272.

42 Lexy J. Moleong, 330.

(36)

lebih memahami pembahasan dalam penelitian ini karena dengan demikian dapat memberikan kesatuan yang sistematis. Berikut merupakan sistematika pembahasan dalam penelitian:

Bab I Pendahuluan. Pada bab ini berisi mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, studi penelitian terdahulu, metode penelitian dan sistematika pembahasan.

Bab II Perilaku Konsumen Muslim, Perilaku Konsumerisme, dan Peran.

Pada bab ini berisi tentang teori perilaku konsumen muslim, perilaku konsumerisme, dan peran.

Bab III Paparan Data Peran Pondok Pesantren Pendowo Walisongo dalam Menanggulangi Perilaku Konsumerisme Santri Putri. Pada bab ini berisi tentang pemaparan data yang diperoleh dari penggalian informasi di Pondok Pesantren Pendowo Walisongo. Dengan paparan data terkait perilaku konusmerisme santri putri pondok pesantren Pendowo Walisongo, dampak perilaku konsumerisme pada kehidupan santri putri pondok pesantren Pendowo Walisongo, dan peran pondok pesantren Pendowo Walisongo dalam menanggulangi perilaku konsumerisme santri putri disana.

Bab IV adalah Analisis Data Peran Pondok Pesantren Pendowo Walisongo dalam Menanggulangi Perilaku Konsumerisme Santri Putri. Pada bab ini berisi tentang pembahasan perilaku konsumerisme santri putri pondok pesantren Pendowo Walisongo, dampak perilaku konsumerisme pada kehidupan santri putri di pondok pesantren Pendowo Walisongo, dan

(37)

peran pondok pesantren Pendowo Walisongo dalam menanggulangi perilaku konsumerisme santri putri.

Bab V adalah Penutup. Bab ini berisi kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dipaparkan dan pemberian saran pada pihak terkait untuk perbaikan penelitian selanjutnya.

(38)

29 BAB II

PERILAKU KONSUMEN MUSLIM, PERILAKU KONSUMERISME, DAN PERAN

A. Perilaku Konsumen Muslim 1. Pengertian

Dalam Islam, perilaku seorang konsumen harus mencerminkan hubungan dirinya dengan Allah Swt. Inilah yang tidak kita dapati dalam ilmu perilaku konsumsi konvensional. Setiap pergerakan dirinya, yang berbentuk belanja sehari-hari, tidak lain adalah manifestasi zikir dirinya atas nama Allah. Dengan demikian, dia lebih memilih jalan yang dibatasi Allah dengan tidak memilih barang haram, tidak berlebihan atau Israf, tidak kikir, dan tidak tamak supaya hidupnya selamat baik dunia maupun di akhirat.1

Ada 3 norma dasar yang hendaknya menjadi landasan dalam perilaku konsumen muslim yaitu:

a. Membelanjakan harta dalam kebaikan dan menjauhi sifat kikir.

Harta diberikan Allah kepada manusia seharusnya digunakan untuk kemaslahatan manusia sendiri serta sebagai sarana beribadah kepada Allah. Dalam memanfaatkan harta ini, sasarannya dikelompokkan menjadi 2 yaitu pemanfaatan harta untuk fi Sabilillah dan pemanfaatan harta untuk diri sendiri dan keluarga.2 Al-Quran

1 Muhammad Muflih, Perilaku Konsumen dalam Perspektif Ilmu Ekonomi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), 4.

2 Yusuf Qardhawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam, (Jakarta: Gema Insani, 1997), 121.

(39)

juga mengajarkan umat Islam agar menyalurkan sebagian hartanya dalam bentuk zakat, sedekah, dan infaq. Tak lain dari muatan ajaran tersebut bahwa pada sesungguhnya umat Islam merupakan mata rantai yang kokoh bagi umat Islam yang lainnya.3

Seperti firman Allah dalam QS. At-Taubah [9]:103, QS. Al- Baqarah [2]:276, dan QS. Al-Fathir [35]:29 dibawah ini:

ٌعْيِمَس ُٰاللّ َو ْْۗمُهَّل ٌنَكَس َكَتوٰلَص َّنِا ْْۗمِهْيَلَع ِ لَص َو اَهِب ْمِهْيِ ك َزُت َو ْمُهُرِ هَطُت ًةَقَدَص ْمِهِلا َوْمَا ْنِم ْذُخ ٌمْيِلَع Artinya:

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui”. QS. At-Taubah [9]:103.4

ٍمْيِثَا ٍراَّفَك َّلُك ُّب ِحُي َلَ ُ ٰاللّ َو ْۗ ِتٰقَدَّصلا ىِب ْرُي َو اوٰب ِ رلا ُ ٰاللّ ُقَحْمَي Artinya:

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa.”. QS. Al-Baqarah [2]:276.5

ْنَّل ًة َراَجِت َن ْوُج ْرَّي ًةَيِن َلََع َّو ا ًّرِس ْمُهٰنْق َز َر اَّمِم ا ْوُقَفْنَا َو َةوٰلَّصلا اوُماَقَا َو ِ ٰاللّ َبٰتِك َن ْوُلْتَي َنْيِذَّلا َّنِا َر ْوُبَت

3 Muhammad Muflih, 6.

4Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya, (Bandung: Gema Risalah Pers, 1993), Al Quran Surah At-Taubah/9:103.

5Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya, (Bandung: Gema Risalah Pers, 1993Al Quran Surah Al-Baqarah/2:276..

(40)

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur'an) dan melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi,”. QS. Al-Fathir [35]:29. 6

b. Tidak melakukan kemubadziran

Seorang muslim selalu dianjurkan agar tidak berlebihan dalam membelanjakan hartanya, tidak akan membeli barang- barang diluar jangkauan penghasilannya dan mengarahkan berbelanja untuk kebutuhan yang bermanfaat. Sikap ini dilandasi oleh keyakinan bahwa manusia harus mempertanggungjawabkan harta dihadapan Allah.7 Manfaat yang diperoleh kosumen ketika membeli barang dapat berbentuk satu diantara hal berikut ini:

Manfaat material, yaitu berupa diperolehnya tambahan harta bagi konsumen akibat pembelian suatu barang/jasa. Manfaat material ini bisa berbentuk murahnya harga, discount, murahnya biaya transportasi dan searching, dan semacamnya. Larisnya pakaian dan sepatu obral menunjukkan manfaat materiil yang diharapkan oleh konsumen.

Manfaat fisik dan psikis, yaitu berupa terpenuhinya

6 Departemen Agama RI, Al Quran Surah Al-Fathir/35:29.

7 Yusuf Qardhawi, 132.

(41)

kebutuhan fisik atau psikis manusia, seperti rasa lapar, haus, kedinginan, kesehatan, keamanan, kenyamanan, harga diri, dan sebagainya. Mulai berkembangnya permintaan rokok kadar rendah nikotin, kopi kadar rendah kafein menunjukkan adanya manfaat fisik (kesehatan) pada rokok dan kopi.8

Manfaat intelektual, yaitu berupa terpenuhinya kebutuhan akal manusia ketika ia membeli suatu barang/jasa, seperti kebutuhan tentang informasi, pengetahuan, keterampilan, dan semacamnya.

Sebagai misal, permintaan surat kabar, alat ukur suhu, timbangan, dan sebagainya.

c. Kesederhanaan

Sikap hidup yang sederhana sangat dianjurkan oleh Islam bahkan dalam kondisi ekonomi seperti ini juga dapat menjaga kemaslahatan masyarakat luas.9 Seorang muslim dalam berkonsumsi didasarkan atas pemahaman bahwa kebutuhan sebagai manusia terbatas. Seorang muslim akan mengkonsumsi pada tingkat wajar dan tidak berlebihan. Tingkat kepuasan berkonsumsi sebagai kebutuhan, bukan sebagai keinginan serta tingkat kepuasan tidak hanya di tentukan oleh jumlah satu atau dua pilihan, namun suatu tingkat kepuasan akan ditentukan oleh kemaslahatan yang dihasilkan.Sebagai seorang muslim akan mencapai tingkat kepuasan

8 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI), Ekonomi Islam,(Jakarta:

Rajawali Pers, 2013), 143.

9 Yusuf Qardhawi, 150.

(42)

tergantung kepada rasa syukurnya.10

Apabila dalam ekonomi konvensional, konsumen diasumsikan selalu bertujuan untuk memperoleh kepuasan (utility) maka dalam ekonomi Islam, konsumen bertujuan untuk mencapai suatu maslahah.

Pencapaian maslahah merupakan tujuan dari syariat Islam (maqashid syariah) yang menjadi tujuan dari kegiatan konsumsi. Maslahah dipergunakan dalam ekonomi Islam, dikarenakan penggunaan asumsi manusia bertujuan untuk mencari kepuasan (utility) maksimum tidak mampu menjelaskan apakah barang yang memuaskan akan selalu identik dengan barang yang memberikan manfaat atau berkah bagi penggunanya.11

Ajaran Islam tidak melarang manusia untuk memenuhi kebutuhan ataupun keinginannya, selama dengan pemenuhan tersebut maka martabat manusia bisa meningkat, namun manusia diperintahkan untuk mengonsumsi barang atau jasa yang halal dan baik saja secara wajar serta tidak berlebihan. Pemenuhan kebutuhan ataupun keinginan dibolehkan selama hal itu mampu menambah maslahah atau tidak mendatangkan kemudharatan.12 Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A'raf [7]:31 :

ُّب ِحُي َلَ ٗهَّنِا ۚا ْوُف ِرْسُت َلَ َو ا ْوُب َرْشا َو ا ْوُلُك َّو ٍد ِجْسَم ِ لُك َدْنِع ْمُكَتَنْي ِز ا ْوُذُخ َمَدٰا ْْٓيِنَبٰي نْيِف ِرْسُمْلا

10 Heri Sudarsono, Konsep Ekonomi Islam, (Yogyakarta: Ekonosia. 2002), 188.

11M. Nur Rianto Al-Arif, Dasar-Dasar Ekonomi Islam, (Solo: Era Adicitra Intermedia, 2011), 152.

12 M. Nur Rianto Al-Arif, 156.

(43)

Artinya :

“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih- lebihan.” QS. Al-A'raf [7]:3113

Selain itu, kegiatan konsumsi terhadap barang atau jasa yang halal dan bermanfaat serta membawa kebajikan (thayib) akan memberikan berkah bagi konsumen. Berkah ini akan hadir jika seluruh hal berikut ini dilakukan dalam aktivitas konsumsinya.

1) Barang atau jasa yang dikonsumsi bukan merupakan barang haram. Barang atau jasa yang diharamkan oleh Islam tidaklah banyak, yaitu babi, darah, bangkai, binatang yang dibunuh atas nama selain Allah, perjudian, riba, zina, dan barang-barang yang najis atau merusak.

2) Tidak melakukan konsumsi yang berlebih-lebihan di luar kemampuan dan kebutuhan dirinya.

3) Aktivitas konsumsi yang dilakukan diniatkan untuk mendapatkan ridha Allah Swt.

Pada tingkat pendapatan tertentu, konsumen Islam, karena memiliki alokasi untuk hal-hal yang menyangkut akhirat, akan megonsumsi barang lebih sedikit daripada nonmuslim. Hal yang membatasinya adalah konsep maslahah tersebut. tidak semua

13 Departemen Agama RI, Al-Qur‟an Dan Terjemahnya, (Bandung: Gema Risalah Pers,

1993), Al Quran Surah QS. Al-A'raf [7]:31.

(44)

barang/jasa yang memberikan kepuasan/utility mengandung maslahah di dalamnya, sehingga tidak semua barang/jasa dapat dan layak dikonsumsi oleh umat Islam.14

2. Prinsip-Prinsip Konsumsi dalam Islam

Perintah Islam mengenai konsumsi dikendalikan oleh lima prinsip, yaitu :15

a. Prinsip Keadilan

Dalam Islam terdapat berbagai ketentuan tentang benda ekonomi yang boleh dikonsumsi dan tidak boleh dikonsumsi. Yang boleh dikonsumsi adalah yang halal dan baik, sedangkan yang tidak boleh dikonsumsi adalah yang haram dan tidak baik. Keadilan yang dimaksud dalam aktivitas ekonomi adalah mengonsumsi sesuatu yang halal, tidak haram, dan baik, tidak membahayakan tubuh.

Barang yang haram dan membahayakan tubuh dilarang oleh Islam, misalnya makan babi dan bangkai serta minum khamar yang dinilai sebagai barang najis dan membahayakan.

b. Prinsip Kebersihan

Dalam mengonsumsi sesuatu, seseorang haruslah memilih barang yang baik dan cocok untuk dimakan, tidak kotor ataupun menjijikkan sehingga merusak selera. Karena itu, tidak semua barang konsumsi diperkenankan, boleh dimakan dan diminum.

14Mustafa Edwin Nasution, dkk, Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam, (Jakarta:

Kencana, 2007), 64.

15 M. Abdul Manan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, (Yogyakarta: PT Dana Bhakti Prima Yasa, 1997), 81.

(45)

Hanya makanan dan minuman yang halal, baik, bersih, dan bermanfaat yang boleh dikonsumsi.

c. Prinsip Kesederhanaan

Prinsip ini mengatur manusia agar dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tidak terlalu berlebihan. Sikap berlebih-lebihan (israf) sangat dibenci oleh Allah dan merupakan pangkal dari berbagai kerusakan di muka bumi. Sikap berlebih-lebihan ini mengandung makna melebihi dari kebutuhan yang wajar dan cenderung memperturutkan hawa nafsu atau sebaliknya terlampau kikir sehingga justru menyiksa diri sendiri.

d. Prinsip Kemurahan Hati

Makanan dan minuman yang disediakan oleh Allah karena kemurahan-Nya diperbolehkan selama hal itu halal dan dimaksudkan untuk kelangsungan hidup dan menjaga kesehatan demi menunaikan perintah Allah sesuai dengan tuntutan-Nya.16 Disamping itu, Allah juga memerintahkan umat manusia agar bermurah hati dengan menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu dan meringankan beban sesama manusia yang sedang diuji oleh Allah dengan kekurangan harta.

e. Prinsip Moralitas

Konsep moralitas dalam mengonsumsi barang atau jasa dalam Islam menunjukkan bahwa terdapat perbedaan mendasar antara

16 M. Abdul Mannan, 47.

(46)

seseorang yang hanya memburu kepuasan, kenikmatan, dan kebahagiaan semata tanpa mengindahkan aturan-aturan Islam dengan seseorang yang menerapkan nilai-nilai moral Islam dalam kaitannya dengan konsumsi suatu barang atau jasa. Karena itu, etika merupakan hal penting dalam aktivitas konsumsi.

B. Perilaku Konsumerisme 1. Pengertian

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, konsumerisme merupakan suatu paham atau gaya hidup yang menganggap barangbarang sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dan sebagainya.

Konsumerisme juga dapat disebut sebuah gaya hidup yang tidak hemat.17 Perilaku konsumtif atau konsumerisme adalah kecenderungan seseorang berperilaku berlebihan dalam membeli sesuatu atau membeli secara tidak terencana. Sebagai akibatnya mereka kemudian membelanjakan uangnya dengan membabi buta dan tidak rasional, sekedar untuk mendapatkan barang-barang yang menurut anggapan mereka dapat menjadi simbol keistimewaan.18

Perilaku konsumtif merupakan perilaku membeli dan menggunakan barang yang tidak didasarkan atas pertimbangan secara rasional dan memiliki kecenderungan untuk mengkonsumsi sesuatu tanpa batas dimana individu lebih mementingkan faktor keinginan daripada

17 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 5 ed., 2016.

18 Vinna Sri Yuniarti, Perilaku konsumen - teori dan praktik, (Bandung: Pustaka Setia, 2015), 67.

(47)

kebutuhan serta ditandai oleh adanya kebutuhan mewah dan berlebihan, penggunaan segala hal yang paling mewah memberikan kepuasan dan kenyamanan fisik. Perilaku konsumtif adalah suatu perilaku membeli yang tidak didasarkan pada pertimbangan yang rasional, karena adanya keinginan yang sudah mencapai taraf yang tidak rasional lagi.19

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumerisme

Ada dua faktor yang memengaruhi perilaku konsumerisme yaitu dari dalam diri dan luar individu.20 Adapun penyebab perilaku konsumerisme dari faktor internal yaitu:

a. Kepribadian

Kepribadian merupakan esensi yang mencerminkan perbedaan individu. Suatu ciri kepribadian tidak bisa dimiliki bersama-sama oleh setiap individu dan bersifat konsenten dan bertahandalam waktu yang lama.

b. Sikap

Sikap merupakan kondisi jiwa yang refleksi dari pengetahuan dan cara berfikir konsumen untuk memberikan respon terhadap suatu objek yang diorganisasi melalui pengalaman dan mempengaruhi secara langsung pada perilaku uang ditampilkannya. Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh tradisi, kebiasaan, kebudayaan, serta lingkungan sosialnya.

19 Vinna Sri Yuniarti, 68.

20 Donni Juni Priansa, Perilaku Konsumen, (Bandung: Alfabeta, 2017), 190.

(48)

c. Konsep diri

Konsep diri erat kaitannya dengan citra merek dari produk yang dikonsumsi. Bagaimana konsumen secara individu memandang tentang dirinya akan sangat mempengaruhi minatnya terhadap suatu objek. Konsep diri merupakan inti dari pola kepribadian yang akan menentukan perilaku individu dalam menghadapi permasalahan hidupnya, karena konsep diri merupakan frame of reference yang menjadi awal timbulnya perilaku yang ditampilkan oleh konsumen.21

d. Motif

Perilaku individu muncul karena adanya motif kebutuhan dan keinginan yang menyertainya. Konsumen membutuhkan dan menginginkan untuk merasa aman serta memiliki prestise tertentu. Jika motif konsumen terhadap kebutuhan akan prestise lebih besar maka akan membentuk gaya hidup yang cenderung mengarah kepada gaya hidup hedonis.

e. Pengalaman atau pengamatan

Pengalaman dan pengamatan merupakan hal yang saling erat terkait. Pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan sosial dalam tingkah laku, pengalaman dapat diperoleh dari semua tingkah laku dan perbuatan konsumen di masa lampau.

21 Donni Juni Priansa, 191.

Referensi

Dokumen terkait

Percik-percik Keteladanan Kyai Hamid Ahmad Pasuruan (Rembang: Lembaga Informasi dan Studi Islam (L" Islam) Yayasan Ma'had as-Salafiyah.. Departemen

Peran Kyai dalam membina perilaku religius santri di Pondok Pesantren.. Modern Raden

Karena dengan beberapa motivasi tersebut santri akan lebih memiliki rasa percaya terhadap dirinya sendiri dari tertanamnyarasa kepercayaan yang dibrikam Kyai

a. Mengoreksi metode yang digunakan untuk memperoleh data. Dalam hal ini peneliti telah melakukan cek ulang terhadap metode yang digunakan untuk menjaring data. Metode

serta menyerahkan diri hanya pada Allah semata 66 tidak di sebut sabar orang yang tahan menderita dengan terpaksa akan tetapi. harus dengan ridlo karena semuanya datang

Peran Kyai dalam membina perilaku qonaa’ah santri di Pondok Pesantren Modern Raden Paku Trenggalek ... Peran Kyai dalam membina perilaku sabar santri di Pondok Pesantren Modern

Skripsi ini bermanfaat bagi Pondok sebagai input dan tambahan informasi dalam rangka meningkatkan kualitas perilaku santri. bagi ustadz dan ustadzah dapat digunakan sebagai

Tujuan dari kegiatan ini adalah pencegahan masalah di atas, salah satunya dengan melakukan upaya promosi kesehatan berbentuk kegiatan penyuluhan kesehatan dan pelatihan dalam upaya