• Tidak ada hasil yang ditemukan

poster rangkuman undang-undang tentang etika profesi

N/A
N/A
mohammad danang

Academic year: 2025

Membagikan "poster rangkuman undang-undang tentang etika profesi"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

MOHAMMAD DANANG NUR ZAINI UKRON --- 22161682001

Eni Zuliana. S.T.,M.Ars.

Ujian Tengah Semester

Dosen Pengampu:

Latar Belakang:

Ketentuan Umum BAB 1

Asas Dan Tujuan BAB 2

Layanan Praktik Arsitek BAB 3

Arsitek juga memerlukan pendidikan untuk memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, selain itu praktik arsitek juga memerlukan penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan untuk menghadapi masalah tantangan global. Namun hal tersebut juga memerlukan dukungan peraturan mengenai hak-hak dan kewajiban mengenai arsitek, dari hal tersebut maka dibuatlah Undang-Undang tentang Arsitek. Tujuan utama dari Undang - Undang ini adalah untuk meningkatkan kualitas profesi arsitek di Indonesia, juga melindungi pengguna jasa arsitektur, dan memastikan bahwa praktek arsitektur sesuai dengan standar yang berlaku dan memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat dan lingkungan.

Asas dan Tujuan yang menjadi landasan dalam pengaturan profesi arsitek di Indonesia.

Berikut adalah kesimpulan mengenai poin-poin utama dalam bab ini:

Layanan Praktik Arsitek, yang mencakup berbagai ketentuan terkait ruang lingkup, syarat, dan prosedur layanan yang dapat dilakukan oleh seorang arsitek. Berikut adalah kesimpulan mengenai poin-poin utama dalam bab ini:

Bab ini menetapkan bahwa profesi arsitek harus berlandaskan pada asas-asas tertentu, yaitu:

Keadilan: Menekankan bahwa setiap arsitek harus memperlakukan semua pihak secara adil dalam menjalankan profesinya

Ruang Lingkup Layanan Praktik Arsitek:

layanan praktik arsitek meliputi beberapa kegiatan utama, yaitu:

• Perencanaan dan Perancangan Arsitektur

• Pengawasan Pelaksanaan Konstruksi

• Manajemen Konstruksi

Kewenangan Arsitek dalam Praktik: Kewenangan bagi arsitek untuk menjalankan berbagai layanan profesional sesuai dengan kompetensinya. Namun, kewenangan ini hanya dapat dilaksanakan apabila seoarang arsitek tersebut memiliki Surat Tanda Registrasi Arsitek (STRA) yang masih berlaku.

Standar Pelayanan: Layanan praktik arsitek harus dilakukan sesuai dengan standar estetika, teknis, keamanan, dan kesehatan.

Arsitek juga wajib memperhatikan untuk aspek-aspek desain yang layak secara fungsional dan aman bagi pengguna.

Kepatuhan pada Etika dan Hukum: Dalam menjalankan layanan praktiknya, arsitek juga diharuskan mematuhi kode etik dan peraturan hukum yang berlaku. Bab ini menegaskan bahwa pelanggaran terhadap ketentuan ini dapat berdampak pada pencabutan izin praktik atau sanksi lain yang berlaku.

Perlindungan Pengguna Jasa:

Bab 3 juga mengatur kewajiban arsitek untuk memberikan layanan yang melindungi hak dan juga kepentingan pengguna jasa, termasuk dalam hal ketepatan waktu, transparansi biaya, dan akuntabilitas terhadap desain dan konstruksi.

Manfaat: Menyatakan bahwa pekerjaan arsitek harus memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat.

Profesionalitas: Menggarisbawahi bahwa arsitek harus bertindak secara profesional sesuai dengan standar kompetensi dan kode etik.

Keselamatan Publik dan Lingkungan: Yaitu memastikan bahwa layanan arsitektur juga memperhatikan keamanan dan kelestarian lingkungan.

Keberlanjutan: Menekankan pentingnya pembangunan berkelanjutan yang juga harus memperhatikan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Meningkatkan Kualitas Profesi: Memastikan arsitek yang bekerja di Indonesia memiliki kompetensi dan keahlian yang sesuai dengan standar yang berlaku.

Perlindungan terhadap Masyarakat: Melindungi masyarakat sebagai pengguna jasa arsitektur agar menerima layanan yang aman, berkualitas, dan bertanggung jawab.

Mendukung Pembangunan Nasional: Peran arsitek agar dapat berkontribusi dalam pembangunan nasional yang mencakup aspek fisik, budaya, dan lingkungan.

Mendorong Daya Saing Global: Memperkuat posisi arsitek Indonesia dalam kompetisi global melalui peningkatan standar dan kompetensi.

• Asas-Asas Profesi Arsitek:

Bab ini juga menjelaskan tujuan-tujuan utama dari pengaturan profesi arsitek, yaitu:

• Tujuan Pengaturan Profesi Arsitek:

Ketentuan Umum, berfungsi sebagai fondasi utama untuk memahami peraturan mengenai profesi arsitek di Indonesia. Bab ini mencakup beberapa poin penting sebagai berikut:

Definisi Profesi Arsitek: Arsitek yakni individu yang memiliki kualifikasi tertentu dan telah memperoleh izin serta registrasi resmi untuk menjalankan profesinya. Arsitek adalah profesi yang memiliki wewenang dalam perencanaan, perancangan, dan pengawasan konstruksi bangunan.

Pentingnya Registrasi dan Perizinan: Seorang arsitek yaitu harus memiliki Surat Tanda Registrasi Arsitek (STRA) sebagai bukti izin resmi untuk berpraktik. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kualitas dan profesionalisme dalam layanan arsitektur.

Lingkup Layanan Arsitektur: Undang-undang ini mendefinisikan layanan arsitektur sebagai kegiatan profesional meliputi perancangan bangunan, perencanaan tapak, penataan kota, serta manajemen proyek yang terkait dengan konstruksi dan bangunan.

Peran Organisasi Profesi Arsitek: Undang - undang ini mengakui keberadaan organisasi profesi, seperti Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), yang berperan dalam mengawasi, mengatur, dan membina anggotanya. Organisasi ini juga bertanggung jawab untuk menetapkan standar kompetensi dan kode etik profesi yang wajib dipatuhi oleh seluruh arsitek.

Kode Etik dan Standar Profesi: prinsip-prinsip yang akan mendasari perilaku serta tanggung jawab profesional arsitek dalam bekerja, seperti pada kewajiban menjaga kualitas, keamanan, dan kepentingan masyarakat.

Sanksi: mengatur sanksi administratif terhadap seorang arsitek yang melanggar ketentuan didalam undang-undang ini.

(2)

Persyaratan Arsitek

Arsitek Asing

BAB 4

BAB 5 Hak Dan Kewajiban

Persyaratan Arsitek dan dibagi menjadi empat bagian yang mencakup persyaratan untuk menjalankan profesi arsitek di Indonesia.

Berikut adalah kesimpulan dari masing-masing

bagian dalam bab ini: Persyaratan dan prosedur yang harus dipenuhi arsitek asing agar dapat menjalankan profesinya di Indonesia, dengan tujuan untuk melindungi profesi arsitek lokal dan menjaga standar kualitas yang berlaku. Berikut adalah kesimpulan dari ketentuan dalam Bab V:

Hak dan Kewajiban bagi arsitek yang berpraktik di Indonesia dan pengguna jasa arsitek di Indonsia. Bab ini terdiri dari dua bagian, yaitu hak dan kewajiban arsitek, serta hak pengguna dan kewajiban pengguna jasa.

Berikut adalah kesimpulan dari masing-masing bagian dalam bab ini:

Bagian ini menetapkan beberapa hak yang dimiliki oleh arsitek dalam menjalankan profesinya, antara lain:

1. Hak atas Perlindungan Profesi

2. Hak atas Pengembangan Kompetensi 3. Hak atas Imbalan yang Layak

4. Kebebasan Berkarya

Pengguna jasa arsitek memiliki beberapa hak yang dilindungi oleh undang-undang, di antaranya:

1. Hak atas Informasi yang Jelas

2. Hak atas Kualitas dan Standar Layanan 3. Hak atas Perlindungan Konsumen Persyaratan bagi Arsitek Asing: Arsitek asing

yang ingin berpraktik di Indonesia harus memenuhi beberapa persyaratan ketat, seperti memiliki kualifikasi profesional dari negara asal yang diakui di Indonesia, dan membuktikan kompetensinya mengikuti uji kompetensi khusus di Indonesia. Mereka juga harus pengalaman yang relevan dalam bidang arsitektur.

Registrasi dan Izin Praktik Khusus: Arsitek asing diwajibkan untuk mendapatkan Surat Tanda Registrasi Arsitek Asing (STRA-A) sebagai bentuk registrasi di Indonesia. Selain itu, mereka juga harus memperoleh izin praktik khusus dari pemerintah Indonesia yang hanya berlaku dalam jangka waktu tertentu dan untuk proyek tertentu.

Kerja Sama dengan Arsitek Lokal: Salah satu persyaratan utama bagi arsitek asing adalah kewajiban untuk bekerja sama dengan arsitek lokal dalam pelaksanaan proyek di Indonesia.

Tujuan dari kerja sama ini adalah untuk transfer pengetahuan dan keterampilan kepada arsitek Indonesia serta memperkuat kolaborasi dalam industri arsitektur.

Pengawasan dan Pembatasan Praktik: Arsitek asing yang berpraktik di Indonesia berada di bawah pengawasan organisasi profesi arsitek dan pemerintah. Mereka hanya diizinkan untuk menangani proyek yang membutuhkan suatu keahlian khusus yang belum tersedia secara luas di Indonesia. Pembatasan ini bertujuan untuk melindungi lapangan kerja arsitek lokal dan mendorong pengembangan kompetensi arsitek dalam negeri.

Pengembangan Kapasitas Arsitek Lokal:

Arsitek asing yang bekerja di Indonesia juga diwajibkan untuk berkontribusi pengembangan kapasitas dan kompetensi arsitek lokal, seperti melalui pelatihan atau mentoring. Hal ini upaya pemerintah untuk meningkatkan daya saing arsitek lokal di pasar internasional.

Persyaratan umum tersebut meliputi kualifikasi pendidikan arsitektur dari institusi yang diakui, lulus uji kompetensi profesi, serta pemenuhan pengalaman kerja tertentu di bidang arsitektur.

Selain itu, arsitek wajib mematuhi kode etik dan norma-norma yang ditetapkan oleh organisasi profesi arsitek.

• Bagian Kesatu: Persyaratan Umum

• Bagian Kesatu: Hak Arsitek

• Bagian Pertama: Hak Pengguna Jasa Arsitek

Di samping hak-haknya, pengguna jasa juga memiliki kewajiban tertentu dalam proses kerja sama dengan arsitek, yaitu:

1. Kewajiban Mematuhi Perjanjian

2. Kewajiban Memberikan Informasi yang Jujur dan Akurat

3. Kewajiban Melakukan Pembayaran Sesuai Ketentuan

• Bagian Kedua: Kewajiban Pengguna Jasa Arsitek

Bagian ini mengatur kewajiban yang harus dipenuhi oleh arsitek, yang meliputi:

1. Kewajiban Mematuhi Etika Profesi

2. Kewajiban Menjaga Standar Keselamatan dan Kualitas

3. Kewajiban Bertanggung Jawab pada Pengguna Jasa

4. Kewajiban Mengikuti Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

• Bagian Kedua: Kewajiban Arsitek

Registrasi ini ditandai dengan penerbitan

Surat Tanda Registrasi Arsitek (STRA) diterbikan organisasi profesi yang berwenang, seperti Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). STRA diberikan kepada mereka yang telah memenuhi semua persyaratan pendidikan, lulus uji kompetensi, memiliki pengalaman kerja yang memadai.

Registrasi ini harus diperbarui secara berkala sebagai bagian dari pemantauan kompetensi.

• Bagian Kedua: Registrasi Arsitek

Untuk dapat berpraktik secara legal, arsitek tidak hanya memerlukan STRA, juga perlu lisensi praktik yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah atau instansi terkait. Lisensi praktik ini memberikan izin kepada arsitek menjalankan layanan praktik di wilayah tertentu dan dalam bidang-bidang tertentu yang sesuai dengan kompetensinya. Lisensi ini bertujuan untuk memastikan bahwa arsitek sudah memahami peraturan lokal dan memiliki kewenangan sesuai wilayah kerjanya.

• Bagian Ketiga: Lisensi Praktik Arsitek

pentingnya pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) untuk arsitek. Setiap arsitek yang ingin memperbarui registrasi atau lisensi praktik diwajibkan mengikuti program PKB yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan memperbarui pengetahuan profesional.

Program ini meliputi seperti pelatihan, seminar, lokakarya, atau kegiatan lain yang diakui oleh organisasi profesi. PKB bertujuan agar arsitek tetap up-to-date dengan perkembangan teknologi, regulasi, dan tren arsitektur terbaru.

• Bagian Keempat: Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

BAB 6

(3)

Organisasi Profesi Arsitek berperan penting dalam pembinaan, pengawasan, dan juga pengembangan profesi arsitek di Indonesia.

Sanksi Administratif yang diberlakukan bagi arsitek yang melanggar ketentuan dalam undang-undang ini. Bab ini bertujuan untuk menjaga profesionalisme dan integritas arsitek, serta melindungi kepentingan masyarakat dan pengguna jasa. Berikut adalah kesimpulan dari ketentuan utama yang diatur dalam Bab IX:

Bab ini menegaskan bahwa segala hal yang belum diatur dalam undang-undang ini akan diatur lebih lanjut melalui peraturan pemerintah atau peraturan terkait lainnya.

Undang-Undang No. 6 Tahun 2017 tentang Arsitek bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme profesi arsitek di Indonesia.

Melalui pengaturan yang jelas mengenai tentang persyaratan, hak dan kewajiban arsitek, serta pembinaan yang berkelanjutan, undang-undang ini menciptakan kerangka kerja yang mendukung perkembangan profesi arsitek. Sanksi administratif diterapkan untuk memastikan kepatuhan terhadap ketentuan yang ada, sementara ketentuan peralihan memberikan kelonggaran bagi arsitek yang sudah berpraktik untuk beradaptasi dengan regulasi baru. Bab-bab yang diatur dalam undang-undang secara keseluruhan bertujuan untuk melindungi kepentingan publik dan memastikan bahwa arsitek berpraktik dengan kompetensi, integritas, dan tanggung jawab yang tinggi.

Jenis Sanksi Administratif: Sanksi administratif yang dapat dikenakan kepada arsitek meliputi peringatan tertulis, pembatasan kegiatan, pembekuan sementara Surat Tanda Registrasi Arsitek (STRA), denda administratif, pencabutan STRA. Sanksi-sanksi ini diberikan sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan.

Pelanggaran yang Dapat Dikenai Sanksi:

Sanksi administratif dikenakan kepada arsitek yang melakukan pelanggaran, seperti tidak memenuhi standar kompetensi, melanggar kode etik profesi, tidak mematuhi peraturan yang berlaku. Pelanggaran tersebut dapat mencakup aspek kualitas pekerjaan, tanggung jawab terhadap pengguna jasa, kepatuhan terhadap regulasi lingkungan.

Prosedur Pemberian Sanksi: Pemberian sanksi administratif dilakukan melalui prosedur yang diatur secara jelas dan terperinci, di mana arsitek yang melanggar diberi kesempatan untuk memberikan klarifikasi atau pembelaan sebelum sanksi dijatuhkan. Prosedur bertujuan untuk memastikan keadilan dan memberikan ruang bagi arsitek memperbaiki pelanggaran yang dibuatnya.

Peran Organisasi Profesi dan Pemerintah:

Organisasi profesi arsitek, seperti Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), dan pemerintah berperan dalam mengawasi dan menegakkan sanksi administratif. Organisasi profesi bertugas untuk menindaklanjuti pelanggaran yang terkait dengan kode etik, sementara pemerintah berwenang memberikan sanksi administratif sesuai peraturan perundang-undangan.

Tujuan Sanksi Administratif: Sanksi administratif diberlakukan sebagai upaya pembinaan pencegahan agar arsitek dapat menjalankan praktiknya secara bertanggung jawab dan mematuhi ketentuan hukum. Selain itu, sanksi ini berfungsi untuk melindungi kepentingan publik dan memastikan bahwa layanan diberikan oleh arsitek tetap berkualitas dan aman.

Bab ini memberikan ketentuan transisi bagi implementasi undang-undang baru, terutama mengenai status arsitek yang sudah berpraktik sebelum undang-undang diberlakukan. Berikut adalah kesimpulan dari ketentuan yang diatur dalam Bab X:

Status Arsitek yang Sudah Berpraktik: Bagi arsitek yang berpraktik sebelum berlakunya Undang-Undang No. 6 Tahun 2017, ketentuan ini memberikan kesempatan menyesuaikan diri dengan persyaratan baru yang diatur dalam undang-undang. Mereka diberi waktu tertentu untuk memenuhi syarat dan prosedur yang berlaku, seperti registrasi atau peningkatan kompetensi

pentingnya pembinaan bagi para arsitek yang dilakukan oleh pemerintah dan organisasi profesi untuk memastikan perkembangan, kompetensi, serta profesionalisme praktik arsitektur di Indonesia. Berikut beberapa upaya pemerintah dalam membina Arsitek:

Peran dan Fungsi Organisasi Profesi: peran seperti Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), diakui sebagai satu-satunya organisasi menaungi profesi arsitek. Organisasi ini berfungsi untuk mengatur dan membina anggotanya dalam menjalankan profesinya sesuai standar, kode etik, dan kompetensi yang berlaku.

Pembinaan dan Pengawasan: Organisasi profesi bertanggung jawab untuk melakukan pembinaan terhadap para arsitek melalui program pendidikan dan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB). Selain itu, organisasi profesi juga mengawasi praktik arsitektur agar arsitek mematuhi ketentuan undang-undang, peraturan, dan kode etik.

Pengaturan Kode Etik dan Standar Profesi:

Organisasi profesi memiliki kewenangan untuk menyusun dan menetapkan kode etik serta standar profesi yang harus dipatuhi oleh seluruh anggota. Kode etik ini bertujuan untuk menjaga profesionalisme, kualitas, dan tanggung jawab dalam praktik arsitektur, terhadap pengguna jasa maupun masyarakat luas.

Peran dalam Registrasi dan Lisensi: Organisasi profesi juga berperan dalam registrasi arsitek melalui penerbitan Surat Tanda Registrasi Arsitek (STRA). STRA ini menjadi bukti bahwa seorang arsitek telah memenuhi kualifikasi dan persyaratan kompetensi yang diperlukan untuk berpraktik di Indonesia.

Menyelesaikan Sengketa Profesi: Organisasi profesi diberi wewenang untuk menyelesaikan sengketa atau permasalahan yang berkaitan dengan praktik arsitek, baik antara arsitek dengan pengguna jasa maupun antar arsitek.

Mekanisme penyelesaian sengketa dilakukan berdasarkan kode etik dan standar profesi yang berlaku.

Mewakili Profesi di Tingkat Nasional maupun Internasional: Organisasi profesi juga bertugas mewakili profesi arsitek di forum nasional dan internasional, termasuk dalam kerja sama dengan organisasi profesi arsitek di negara lain.

Hal ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing arsitek Indonesia di kancah global.

Organisasi Profesi BAB 7

Pem binaan A BAB 8 rsitek

Sank si Admin BAB 9 istratif

Penutup BAB 11

Keten tuan Pera BAB 10 lihan

• menetapkan kebijakan pengembangan profesi Arsitek dan Praktik Arsitek

• Melakukan pemberdayaan Arsitek

• Pengawasan terhadap kepatuhan Arsitek dalam pelaksanaan peraturan dan standar penataan bangunan dan lingkungan.

KESIMPULAN

Referensi

Dokumen terkait