Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menggantikan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. 32 Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. 38 Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.
Kekayaan Orang-orang Pengadilan
Pertama, ada dua kemungkinan, yakni KPKPN tidak mempunyai kewenangan yang cukup untuk memaksa pejabat pengadilan melaporkan harta kekayaannya. Kemungkinan kedua, masih banyak pegawai pengadilan yang bandel dan tidak mau mengisi dan menyerahkan formulir. Kedua, sikap keras kepala para pejabat pengadilan mencerminkan budaya penutupan birokrasi yang lazim terjadi pada rezim otoriter dan tidak demokratis.
Hal ini juga berimplikasi pada tidak adanya nilai akuntabilitas publik yang seharusnya dimiliki oleh pejabat negara, dalam hal ini pejabat pengadilan. Ketiga, rendahnya apresiasi aparat pengadilan dalam melaporkan harta kekayaannya menunjukkan bahwa aparat pengadilan yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam penegakan hukum malah mencemooh hukum dan juga masyarakat. Hal ini penting, karena ada larangan bagi pengacara untuk memiliki jabatan/pekerjaan paralel yang dapat menghasilkan banyak uang.
Mengomentari kekayaan istana yang dianggap tidak masuk akal, seorang informan berkomentar: bagaimana halamannya bisa menyerupai ruang pamer mobil mewah? Jelas bahwa para abdi dalem yang memperdagangkan hukum dan keadilan untuk memperkaya diri sendiri, melakukan pelanggaran terhadap sumpah jabatannya.
Percaloan
Kebanyakan orang yang ditilang tidak melalui proses hukum yang sesuai untuk menyelesaikan masalah tilang mereka. Kasus tilang harus diselesaikan melalui jalur litigasi, namun kenyataannya banyak, bahkan sebagian besar, masyarakat yang mendapat tilang menyelesaikan kasusnya melalui calo. Proses penyelesaian denda lalu lintas di pengadilan melibatkan banyak pihak, termasuk 'orang dalam', dalam hal ini staf peradilan.
Karena banyaknya orang yang terlibat dan kualitasnya yang rendah, calo tiket sangat terlihat. Masyarakat penerima tilang seringkali menggunakan jasa calo tilang yang melalui Pengadilan Negeri dibandingkan ke pengadilan, padahal biaya yang harus dikeluarkan untuk hal tersebut lebih besar dibandingkan dengan denda resmi yang (akan) dikenakan oleh hakim. jika mereka melakukannya. Ada anggapan bahwa proses penyelesaian perkara tilang melalui mediator lebih cepat dibandingkan melalui proses pengadilan.
Keberadaan calo tilang di pengadilan negeri menyulitkan masyarakat terdampak tilang yang ingin menyelesaikan perkaranya melalui proses peradilan tilang. Para calo ini berusaha menghalangi pihak-pihak yang ingin menyelesaikan perkaranya melalui proses tilang dengan memberikan informasi yang belum tentu benar. Misalnya jika melalui suatu proses maka akan memakan waktu yang relatif lama dan prosesnya menjadi rumit.
PENYIMPANGAN PERADILAN DI
Kondisi Umum
Investigasi serius juga akan menemukan sejumlah kasus dugaan korupsi dan kolusi antara penggugat dan hakim Mahkamah Agung. Kepercayaan masyarakat terhadap Mahkamah Agung sebagai benteng terakhir penegakan hukum dan keadilan mulai memudar sejak mantan Ketua Umum Pidana Umum Andi Andjojo membeberkan praktik kolusi antara hakim Mahkamah Agung dan pihak yang berperkara dalam kasus Gandhi Memorial School tahun 1996. Penanganan kerjasama Mahkamah Agung Kasus-kasus yang tidak menghukum pelakunya menambah citra buruk sistem peradilan kita.
Praktik korupsi di Mahkamah Agung saat itu berjalan lancar, karena individu Hakim Agung tidak bertindak sendiri, melainkan melalui campur tangan panitera atau pegawai administrasi lainnya. Ironisnya, pihak berwenang melakukan intervensi ke Mahkamah Agung dengan teguran lisan atau catatan tertulis dalam kasus-kasus yang melibatkan tuntutan hukum atau kasus-kasus yang berkaitan dengan jaminan pemerintah, seperti Majalah Tempo, Kedung Ombo dan Ohee. Penelitian tersebut juga menggambarkan betapa aktifnya peran aparat Mahkamah Agung dalam membangun praktik kolusi antara hakim dan pencari keadilan, mulai dari.
Kasus Gandhi Memorial School dan putusan hakim Mahkamah Agung yang menunjuk pada konspirasi dan korupsi menggambarkan puncak dari segala indikasi praktik kotor di pengadilan kita, bahkan sampai ke Mahkamah Agung. Meski bukti memperkuat tuduhan terdakwa melakukan korupsi, Ram dibebaskan oleh juri Mahkamah Agung.
Pola Praktik Peradilan Korupsi
Panitera bahkan bisa mengubah keputusan hakim yang ada untuk menguntungkan pihak pemberi uang. Jika seorang pengacara atau pihak yang berperkara menolak memberikan suap, ia akan dikalahkan meskipun buktinya kuat. Seorang hakim Pengadilan Tinggi yang memiliki seorang anak yang berpraktik sebagai pengacara, meminta pihak-pihak yang terlibat dalam kasus tersebut untuk menggunakan jasa anaknya.
Ketika pengambilan kembali keputusan telah diambil, maka proses tawar-menawar suap dengan salah satu pihak yang terlibat pun dimulai. Oleh karena itu, faktor nomor urut juga turut andil dalam praktik kolusi antara pengadilan dan pihak yang berperkara. Setelah menerima juri, pihak yang perkaranya sedang dipertimbangkan masih harus mengeluarkan uang untuk mendapatkan keputusan yang menguntungkannya.
Ia akan secara aktif menghubungi pengacara atau pihak yang berperkara atau terdakwa, baik melalui telepon atau secara langsung. Surat sakti itu dikeluarkan setelah adanya perundingan antara hakim dan pihak lawan perkara.
Faktor Penyebab Korupsi
Jika gaji hakim MA ingin dinaikkan, maka kinerja hakim MA yang buruk harus diperbaiki dan sanksi yang berat, misalnya pemberhentian dan persidangan, harus dimasukkan dalam rancangan perubahan UU Komposisi dan kedudukan hakim. Mahkamah Agung. Oleh karena itu, belum pernah ada hakim MA yang diperiksa dan divonis bersalah padahal ada laporan adanya upaya pemerasan keadilan atau kolusi, misalnya di PO Box 5000. Faktor lain yang tidak penting untuk menghilangkan praktik korupsi di MA adalah peninjauan kekayaan calon hakim agung dan penghitungan kembali kekayaannya ketika hakim agung pensiun, yang bisa menjadi parameter apakah hakim agung itu bersih atau tidak.
Pemeriksaan terhadap harta kekayaan hakim Mahkamah Agung juga harus dilakukan setiap tahun, atau setidak-tidaknya pada saat ia mengusulkan kenaikan pangkat atau pangkat. Sistem rekrutmen calon hakim agung belum transparan, belum ada standar sistem penilaian hakim agung yang bisa diakui oleh hakim agung, sistem pengelolaan perkara yang kurang baik, sehingga mengakibatkan banyaknya jumlah perkara yang kemudian mendorong semakin banyaknya calon hakim agung. praktek suap sehingga pertimbangan suatu perkara diprioritaskan dibandingkan perkara yang lain, tidak jelasnya sistem informasi mengenai proses pertimbangan perkara tersebut; Belum adanya sistem pengawasan terhadap perilaku resmi hakim Mahkamah Agung yang seharusnya dilakukan oleh DPR karena lembaga ini mengusulkan nama-nama calon presiden dalam kapasitas sebagai kepala negara;
Gaji hakim Mahkamah Agung yang relatif rendah dibandingkan dengan rekan-rekan mereka di luar negeri, seperti di Filipina dan Malaysia, dan tidak adanya tunjangan perumahan tidak dapat disebut sebagai faktor yang berkontribusi terhadap berlanjutnya praktik korupsi di Mahkamah Agung; Faktor gaji yang rendah membuat hakim tidak bisa membekali diri dengan materi hukum baru atau berlangganan jurnal hukum untuk memperkaya materi tentang aspek hukum perkara yang sedang dipertimbangkan. Dalam kasus suap atau korupsi yang dilakukan oleh hakim Mahkamah Agung, hukuman berat harus diterapkan di Mahkamah Agung.
Mengungkap Penyimpangan
- Kasus Surat Sakti dan Putusan
- Perkara Besar yang Diputus MA
- Pemalsuan Vonis
- Broker Pejabat MA
- Penyalahgunaan wewenang yang
- Operasi Tangkap Tangan KPK
Kasus surat ajaib Ketua Hakim (MA) yang membatalkan putusan majelis Hakim Ketua juga terjadi dalam kasus Hanock Hebe Ohee. Majelis hakim Pengadilan Niaga Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang mendengarkan permohonan pailit tersebut, setelah memenuhi syarat untuk dinyatakan pailit, menyatakan PT Modernland Realty Tbk pailit dalam sidang tanggal 12 Oktober 1998. Majelis hakim yang mengadili permohonan tersebut PT Modernland Realty Tbk atau permohonan kasasi mengabulkan permohonan.
Majelis hakim kasasi menuding majelis hakim Pengadilan Niaga menyatakan pemohon kasasi I bersalah. Majelis Hakim Pengadilan Niaga Pengadilan Negeri Pudat Jakarta dan Mahkamah Agung tidak mengabulkan permohonan pailit PT Dharmala Agrifood Tbk karena tidak cukup bukti untuk menyatakan perusahaan tersebut pailit. Namun dibalik alasan tersebut muncul dugaan bahwa majelis hakim Pengadilan Niaga dan Mahkamah Agung telah menerima hal tersebut.
Menurut majelis hakim Pengadilan Niaga dan Mahkamah Agung, perjanjian kredit dengan model turunan melanggar hukum. Pada tingkat Judicial Review, setelah Presiden B.J. Habibie menghubungi Ketua MA Sarwata SH, majelis hakim membatalkan putusan pailit terhadap PT Hutama Karya.
Eksistensi Komisi Yudisial
- Gagasan Pembentukan
- Ketidak - harmonisan Hubungan
Kehadiran Komisi Yudisial dan Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga yang menjalankan kekuasaan kehakiman bersama dengan Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya. Pembentukan komisi yudisial diharapkan dapat memperkuat visi independensi peradilan dan terwujudnya peradilan yang bersih. Ketentuan lebih rinci mengenai komisi yudisial mengenai susunan organisasi, kedudukan dan keanggotaan diatur dalam Undang-undang No. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial.
-UU Nomor 22 Tahun 2004 juga memuat dalam Pasal 40 klausul penting tentang batas waktu pengangkatan anggota Komisi Kehakiman. Terdapat jaminan proses seleksi, pengangkatan dan pemberhentian anggota Komite Kehakiman yang adil, transparan, akuntabel dan tidak memihak. Komisi; Ada jaminan dan jaminan mengenai hak protokoler, keuangan dan tindakan kepolisian bagi anggota Komisi Yudisial.
Ketentuan mengenai keanggotaan Panitia Yudisial diatur dalam Pasal 4, Pasal 5, Pasal 6, dan Pasal 7. Pasal 4 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 menyatakan: “Panitia Yudisial terdiri atas pimpinan dan anggota. Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial mengakibatkan lemahnya pengawasan terhadap hakim di Indonesia.
Penguatan Kelembagaan MA
Badan Peradilan, diatur dengan adanya perubahan kepengurusan peradilan dari dua atap di bawah Mahkamah Agung dan Departemen Kehakiman (sekarang Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia) menjadi satu atap di bawah Mahkamah Agung. Pada sistem lama (menurut UU No. 14 Tahun 1970), pengelolaan pengadilan berada di bawah pengawasan dua atap, yaitu Mahkamah Agung untuk pengawasan dan pembinaan di bidang peradilan dan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kehakiman). ) untuk instruksi. dan pengawasan pengelolaan organisasi, administrasi dan keuangan. “Badan peradilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) secara organisatoris, administratif, dan finansial berada di bawah kekuasaan Mahkamah Agung”.
Sistem satu atap ini menyatukan kewenangan teknis hukum dan kewenangan mengatur organisasi, administrasi, dan keuangan lembaga peradilan (termasuk pengelolaan sumber daya manusia hakim) di bawah Mahkamah Agung. Landasan hukum perubahan peradilan terpadu (sistem atap) di Mahkamah Agung diawali dengan diundangkannya Undang-undang Nomor. Penyelenggaraan peradilan terpadu satu pintu kembali diperkuat dalam Undang-Undang Peradilan yang baru, yaitu Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2018. 04 Tahun 2004, yang kemudian diganti dengan UU No.
Berdasarkan amanat Undang-Undang Peradilan, pada tahun 2004, Presiden Megawati menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 21 Tahun 2004 tentang Pengalihan Urusan Organisasi, Tata Usaha, dan Keuangan pada Peradilan Umum dan Peradilan Tata Usaha Negara serta Peradilan Agama kepada Mahkamah Agung.
Blue Print Pembaruan Peradilan
Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim
Hambatan Pembaruan
PENUTUP
Kesimpulan
Rekomendasi