Salah satu potensi pengurangan emisi sampah kota adalah upaya pemanfaatan gas metana (CH4) dari tempat pengolahan akhir sampah (TPA) atau Land Fill Gas (LFG). Pemanfaatan LFG dapat menjadi sumber energi alternatif berupa listrik dan bahan bakar bagi pemerintah daerah. Buku ini mencoba memotret berbagai TPA yang telah menerapkan aksi eksploitasi LFG, untuk memberikan gambaran untuk menggenjot proyek eksploitasi gas metana di TPA di seluruh Indonesia.
Pemerintah Indonesia merupakan salah satu negara terdepan dalam ekspresi dan upaya mengatasi perubahan iklim. Sebagai bentuk kontribusinya, pemerintah telah menetapkan target penurunan emisi dari masing-masing sektor yang harus dicapai pada tahun 2030. Dari berbagai upaya pengelolaan sampah, salah satu upaya penurunan emisi yang dapat dilakukan pada rumah tangga sampah padat adalah penggunaan gas metana (CH4). dihasilkan oleh pabrik pengolahan. Limbah Akhir (TPA) atau Landfill Gas (LFG).
Pemanfaatan LFG dapat menjadi pemborosan untuk kegiatan energi, karena LFG dapat menjadi sumber energi alternatif baik berupa listrik maupun bahan bakar. Beberapa kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan aksi pemanfaatan metana ini antara lain kurangnya infrastruktur di TPA, registrasi yang tidak teratur dan yang terpenting adalah kurangnya pengetahuan tentang metodologi pengukuran penurunan/penurunan emisi gas rumah kaca. Ketersediaan data aktivitas di lapangan akan mempengaruhi keakuratan pengukuran penurunan emisi akibat tindakan pemanfaatan gas metana.
Mencermati uraian di atas, salah satu upaya untuk memetakan aksi pemanfaatan LFG di Indonesia adalah dengan memotret kondisi pelaksanaan aksi di tingkat tapak.
MAKSUD DAN TUJUAN
Khusus untuk sektor limbah, target penurunan emisi gas rumah kaca pada tahun 2030 adalah 11 juta ton CO2e. Sayangnya hingga saat ini implementasi langkah pemanfaatan limbah gas dan data kegiatan mitigasi limbah gas belum optimal di berbagai lokasi TPA. Kondisi ketersediaan data di setiap lokasi TPA berbeda-beda, kondisi ini sangat bergantung pada ketersediaan infrastruktur yang dibutuhkan.
Hal ini diharapkan dapat mendukung proses Monitoring Reporting and Verification (MPV) untuk mencapai penurunan emisi yang diajukan oleh penanggung jawab aksi.
RUANG LINGKUP
WAKTU DAN LOKASI PELAKSANAAN
EMISI GAS RUMAH KACA SEKTOR LIMBAH
Gas rumah kaca (GRK) yang diperhitungkan dalam pedoman IPCC dan dianggap berkontribusi terhadap efek pemanasan global terdiri dari 6 (enam) jenis gas, yaitu. Metana (CH4) berasal dari sawah, pelapukan kayu, tempat pembuangan sampah, proses industri dan eksplorasi bahan bakar fosil. Konkretnya, dalam proses pengelolaan sampah akan dihasilkan gas rumah kaca mulai dari timbulan sampah hingga proses di tempat pengolahan akhir (TPA).
GRK yang dihasilkan dari proses pengelolaan sampah perkotaan didominasi oleh gas karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4). Jumlah dan komposisi sampah yang dihasilkan dari berbagai provinsi di Indonesia sangat bervariasi dan bergantung pada aspek ekonomi, sosial, budaya dan gaya hidup komunal, peraturan, iklim, pengelolaan awal sampah dan kegiatan daur ulang serta ukuran kota.
POTENSI REDUKSI
EMISI GRK DARI AKSI PEMANFAATAN GAS
Dari aksi mitigasi tersebut, penggunaan LFG merupakan salah satu yang memberikan kontribusi besar dalam pengurangan emisi metana. Pada tahun 2020, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim menerbitkan pedoman perhitungan penurunan emisi dari aksi pemanfaatan GFG. Metodologi ini tertuang dalam Metodologi Perhitungan Penurunan Emisi dan/atau Peningkatan Penyerapan GRK Edisi Tahun 2020.
Berdasarkan uji coba pengambilan sampel di 5 (lima) TPA pada tahun 2019, potensi pengurangan masing-masing TPA telah teridentifikasi, yang ditunjukkan pada Tabel 1 (a) di bawah ini.
PROFIL TEMPAT PEMROSESAN AKHIR
Kabupaten harus meningkatkan program revitalisasi pengelolaan sampah yang meliputi perbaikan kelembagaan pengelolaan sampah, peraturan perundang-undangan terkait, hal-hal teknis terkait pengelolaan sampah, infrastruktur pendukung, alternatif pembiayaan dan investasi, serta peningkatan kesadaran, budaya dan pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan sampah yang baik. Pada tahun 2019, Direktorat Inventarisasi GRK dan MPV mencoba memotret 5 (lima) TPA yang telah mengambil langkah pemanfaatan LFG. Potret kelima TPA ini dalam melakukan aksi mitigasi diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi TPA lainnya di seluruh Indonesia.
TPA BANTARGEBANG
TPA Bantar Gebang mulai dikerjakan pada tahun 1989 oleh BKLH Provinsi DKI Jakarta dan BKL Provinsi Jawa Barat, yang kemudian direvisi dengan surat persetujuan kelayakan lingkungan berupa AMDAL, RKL dan RPL No. Pembongkaran sampah dari truk ke titik pembuangan secara estafet menggunakan alat berat dan sampah organik di titik pengomposan. Fasilitas pengelolaan sampah di TPST meliputi: unit pengomposan, operasi 3R, struktur sel TPA dan mekanisme TPA terkontrol, serta unit penangkap biogas (LFG recovery) yang digunakan sebagai sumber listrik untuk pembangkit listrik.
TPA SUPITURANG
Kota Malang dengan luas wilayah 110,06 km2 yang meliputi 5 (lima) kecamatan merupakan kota terbesar kedua di Provinsi Jawa Timur. Jumlah penduduk kota Malang pada tahun 2018 sebanyak 907.346 jiwa dengan potensi timbulan sampah sebesar 664,62 ton/hari. TPA Supit Urang merupakan tempat pengelolaan sampah terkendali dengan luas 32,65 ha, dengan cakupan pelayanan 96% kota Malang.
Selain itu, TPA ini juga akan membangun pengolahan lindi bekerja sama dengan KFW (Jerman) yang rencananya akan beroperasi pada Januari 2020. Dalam kajian yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang, diketahui bahwa TPA Supiturang memiliki potensi gas metana sebesar 4.521 ton/tahun dihasilkan oleh TPA. Saat ini telah dibangun fasilitas berupa pipa untuk mengalirkan gas metana dari 72 titik (sumur gas) yang dialirkan langsung ke keluarga di sekitar TPA.
Pada periode awal penggunaan gas metana, 72 sumur mampu melayani total 510 rumah tangga, namun karena beberapa pipa rusak/.
TPA MANGGAR
TPA Manggar merupakan fasilitas milik Pemerintah Kota Balikpapan yang berdiri di atas lahan seluas 27,1 hektar. Lahan yang digunakan untuk TPA Kota Balikpapan adalah milik Pemkot Balikpapan yang dibeli masyarakat pada tahun 2010 dengan luas 49,89 Ha. TPA Manggar dapat menampung 400 – 700 ton sampah rumah tangga (70% dari TPA), 20% sampah telah diolah dari rumah tangga sebelum sampai ke TPA.
Selain lubang penampungan sampah, TPA ini memiliki fasilitas berupa jembatan timbang dan pipa gas metana. Dengan letak geografis dan pertumbuhan penduduk, mengakibatkan perkembangan ekonomi kota Balikpapan yang pesat dalam bidang perdagangan, jasa, industri dan pariwisata. Kondisi tersebut di atas mempengaruhi jumlah timbulan sampah di kota Balikpapan yang berdasarkan data timbulan sampah yang masuk ke TPA Manggar tahun 2016 sebesar 130.671 ton/tahun atau 358 ton/hari (data DLH Kota Balikpapan 2016).
Jika limbah ini tidak dikelola dengan baik, maka akan berdampak pada permasalahan limbah terhadap kesehatan, lingkungan, sosial, ekonomi dan sebagainya. Gambar (searah jarum jam) : (12) Pengelolaan lindi di instalasi pengolahan limbah, (13) lapisan tanah TPA, (14) pipa gas, (15) LFG digunakan untuk memasak.
TPA JATIBARANG
TPA Jatibarang mulai bekerja pada Maret 1992 yang pengelolaannya dikelola oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Semarang, namun sejak tahun 2016 pengelolaannya dialihkan ke Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang. Pada awalnya pengelolaan sampah di TPA Jatibarang menggunakan metode open dumping, namun pada tahun 1993-1994 beralih ke metode controlled landfill dan pada tahun 1995 beralih ke metode sanitary landfill. Sementara itu, juga tersedia instalasi pengolahan lindi dan saluran pengumpul lindi yaitu berupa kolam lindi yang digunakan untuk menampung lindi yang dihasilkan oleh limbah sebelum diolah, namun saat ini kolam lindi tersebut sudah tidak digunakan lagi.
Fasilitas pengendalian operasional tersedia di site ini untuk dijadikan sarana monitoring dan pengendalian kegiatan operasional di site TPA Jatibarang. Hal itu agar gas metana yang dihasilkan dari proses pengolahan sampah dapat disalurkan ke rumah-rumah warga sekitar. Pemanfaatan gas metana (CH4) sebagai gas alternatif (biogas) dilakukan dengan cara menyumbat pipa di TPA hingga kedalaman sekitar 5 meter, kemudian diarahkan penyerapan gas metana dari limbah/sampah TPA. ke rumah penduduk setempat.
Area pengumpulan gas di TPA Jatibarang seluas ± 9 Ha, dimana dengan proses ini dapat menyalurkan gas metana berkapasitas 72 meter kubik dari tumpukan sampah ke TPA, gratis ke rumah 100 warga.
TPA BANYUROTO
TPA Banyuroto dibangun pada tahun 2008 di Desa Dlinggo, Kecamatan Banyuroto, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo dengan luas 2,5 ha. TPA Banyroto terletak kurang lebih 10 km sebelah utara Wates. 0,5 ha TPA Banyroto digunakan sebagai IPLT, 0,5 ha sebagai Zona 2 (0,5 ha sebagai hanggar, gudang, alat berat dan kantor) dan 1 ha sebagai Zona 1.
PENUTUP
Buku potret pemanfaatan metana di 5 (lima) TPA ini merupakan bentuk apresiasi atas pelaksanaan aksi mitigasi pemanfaatan LFG yang dilakukan di tingkat tapak. Informasi di dalamnya diharapkan dapat menjadi acuan dan stimulus bagi TPA lain di seluruh Indonesia untuk mulai melakukan aksi mitigasi serupa. Dengan berkembangnya aksi pemanfaatan LFG diharapkan dapat mendukung pencapaian target NDC di bidang persampahan, serta salah satu upaya pengembangan sumber energi alternatif selain bahan bakar fosil.
DAFTAR PUSTAKA