• Tidak ada hasil yang ditemukan

PPh Pasal 22 = 1,5% x harga pembelian tidak termasuk PPN.

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "PPh Pasal 22 = 1,5% x harga pembelian tidak termasuk PPN."

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

K E L O M P O K 2

21216070 - M Zikry Fadila

21216075 - Triwijoyo Haryo Kesumo 21216076 - Ilyas Imam Mustapa 21216062 - Salman Alfarisi Rosyadi 21216038 - Jordan Satrie

21216043 - Aulia Umi Ambarak 21216057 - Leli Alvi Srihartini 21216058 - Wandar Sunandar

Pajak Penghasilan Pasal

22

(2)

• Dalam suatu negara untuk menjalankan fungsinya pemerintah atau penguasa setempat memerlukan dana atau modal. Modal yang diperlukan itu salah satunya bersumber dari pungutan berupa pajak dari rakyatnya. Pajak juga merupakan gejala sosial dan hanya terdapat dalam suatu masyarakat, tanpa ada masyarakat, tidak mungkin ada suatu pajak. Pajak adalah pungutan wajib yang dibayar rakyat untuk negara dan akan digunakan untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum.

PAJAK

(3)

Macam – Macam Pajak Penghasilan

Pajak Penghasilan Pasal 15

Pajak Penghasilan Pasal 21

Pajak Penghasilan Pasal 22

Pajak Penghasilan Pasal 23

Pajak Penghasilan Pasal 25

Pajak Penghasilan Pasal 26

Pajak Penghasilan Pasal 29

Pajak Penghasilan Pasal 4 ayat (2)

(4)

Pajak Penghasilan Pasal 22

Pajak Penghasilan Pasal 22 atau PPh Pasal 22 dikenakan kepada badan-badan usaha tertentu, baik milik pemerintah maupun swasta yang melakukan kegiatan perdagangan ekspor, impor dan re-impor. Melalui penerbitan peraturan No.

90/PMK.03/2015

Atau dengan kata lain PPh pasal 22

Adalah pemungutan pajak dari Wajib Pajak yang melakukan kegiatan impor atau dari pembeli atas penjualan barang mewah.

(5)

Menurut UU Pajak Penghasilan (PPh) Nomor 36 tahun 2008, Pajak Penghasilan Pasal 22 (PPh Pasal 22) adalah bentuk pemotongan atau pemungutan pajak yang dilakukan satu pihak terhadap Wajib Pajak dan berkaitan dengan kegiatan perdagangan barang.

PPh Pasal 22 dikenakan terhadap perdagangan barang yang dianggap

‘menguntungkan’, sehingga baik penjual maupun pembelinya dapat menerima keuntungan dari perdagangan tersebut. Dasar hukum pengenaan Pajak Penghasilan Pasal 22 adalah Pasal 22 Undang-undang Pajak Penghasilan, selanjutnya diikuti dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 210/PMK.03/2008 berlaku sejak 31 Agustus 2010.

(6)

Objek PPh pasal 22

• Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan No.

90/PMK.03/2016, lihat lampiran berikut ini mengenai objek PPh Pasal 22 berupa impor barang-barang mewah tertentu.

pajak PPh Pasal 22 meliputi Badan Usaha (industri semen, kertas, baja, otomotif, dan farmasi), Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM), produsen atau importir bahan bakar minyak, badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri baja, dan pedagang pengumpul (pengumpul hasil hutan, perkebunan, pertanian, dsb)

(7)

pengecualian PPh pasal 22

• Pasal 3 ayat 1 Peraturan Menteri Keuangan No. 224/PMK.

001/2012 dan Peraturan Direktur Jendral Pajak No. 57/PJ/2010 sttdd No. 06/PJ/2013 menyebutkan dikecualikan dari pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 :

• Impor barang dan atau penyerahan barang yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan tidak terutang Pajak Penghasilan.

• Impor barang yang dibebaskan dari pungutan Bea masuk dan/atau Pajak Pertambahan Nilai

(8)

Pemungut PPh Pasal 22

• Bendahara Pemerintah Pusat/Daerah, instansi atau lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga negara lainnya, berkenaan dengan pembayaran atas penyerahan barang.

• Badan-badan tertentu, baik badan pemerintah maupun swsata yang berkenaan dengan kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain.

• Wajib Pajak Badan tertentu untuk memungut pajak pembeli atas penjualan barang mewah.

(9)

Tarif PPh Pasal 22

• Apabila menggunakan Angka Pengenal Importir (API) adalah 2,5% x nilai impor, jika tidak menggunakan API maka tarifnya sebesar 7,5% x nilai impor.

• Pembelian barang yang dilakukan oleh DJPB, Bendahara Pemerintah, BUMN/BUMD tarifnya 1,5% x harga pembelian (tidak termasuk PPN dan tidak final).

• Atas impor kedelai, gandum dan tepung terigu yang menggunakan API adalah 0,5% x nilai impor.

Atas Impor

(10)

Kertas = 0,1% x DPP (Dasar Pengenaan Pajak) PPN (tidak final)

Semen = 0,25% x DPP PPN (tidak final)

Baja = 0,3% x DPP PPN (tidak final)

Otomotif = 0,45% x DPP PPN (tidak final)

Atas penjualan hasil produksi atau penyerahan barang oleh produsen atau importir bahan bakar minyak, gas dan pelumas adalah bersifat final bagi penyalur atau agen dan tidak bersifat final bagi yang lainnya

Atas Pembelian Bahan-bahan untuk Keperluan Industri tarifnya 0,25% x harga pembelian (Tidak termasuk PPN).

Tarif PPh Pasal 22

Atas Penjualan Hasil Produksi

(11)

Sifat PPh Pasal 22

• Final Atau Tidak terdapat pada Pasal 9 Peraturan Menteri

Keuangan No. 154/PMK.03/2010 sttdd No. 224/PMK.011/2012 menyebutkan sifat pemungutan PPh Pasal 22

• Pemungutan pajak bersifat final Artinya bahwa pajak yang

telah dibayar oleh Wajib Pajak melalui pemungutan oleh pihak lain dalam tahun berjalan tersebut tidak dapat dikreditkan

pada total PPh yang terutang pada akhir suatu tahun tahun pada saat pengisian SPT Tahunan PPh.

(12)

Pengembalian Barang

• Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. 06/PJ/2013 mengatur ketentuan PPh Pasal 22 yang telah dipungut apabila terdapat pengembalian barang yang sebelumnya telah dipungut PPh Pasal 22. Pembeli harus membuat dan menyampaikan nota retur kepada Pemungut Pajak Penghasilan Pasal 22.

(13)

Pembayaran PPh Pasal 22

• PPh Pasal 22 adalah cicilan PPh pada tahun berjalan.

Maksudnya, pada akhir tahun, cicilan ini akan diperhitungkan menjadi kredit pajak PPh badan atau PPh orang pribadi. PPh Pasal 22 yang berbentuk SSE, artinya PPh Pasal 22 tersebut dibayar langsung ke bank persepsi oleh wajib pajak yang bersangkutan pada saat transaksi

(14)

Kewajiban Membuat Bukti Pungutan

• Pemungut PPh Pasal 22 selain wajib membuat bukti pungut juga wajib menyetor PPh yang dipungut dengan kode pajak 411122-900 ke bank persepsi, kemudian melaporkannya dalam SPT Masa PPh Pasal 22. Sedangkan pihak yang dipungut mendapat bukti pungut dan dapat dikreditkan pada akhir tahun di SPT Tahunan

(15)

Contoh PPh Pasal 22

PT ANGGARA, memiliki nomor API, melakukan impor komputer dari Amerika Serikat dengan perincian sbb :

Harga Komputer (Cost)……….US$ 20,000.00

Asuransi (Insurance) ……….US$   1,000.00

Biaya angkut (Freight) ………..US$   4,000.00

Harga Pabean ………US$ 25,000.00 Pungutan :

Bea Masuk 20% ………...…..…..US$  5,000.00

Bea Masuk Tambahan 10% ………...US$  2,500.00

Nilai Impor ....……….………..US$ 32,500.00

Apabila pada tanggal impor (sesuai dokumen impor pemberitahuan impor barang) nilai kurs US $ 1.00 = Rp 10.000,00 maka :

       — Dasar pengenaan PPh Pasal 22: US$ 32,500.00 x Rp 10.000,00= Rp 325.000.000,-       — PPh Pasal 22 yang harus dipungut :Rp 325.000.000,00 x 2,5% = Rp  8.125.000,00

(16)

Contoh PPh Pasal 22

No Diketahui Nilai (Rp)

1 Nilai kontrak termasuk PPN Rp11.000.000

2 DPP (100/110) x

Rp11.000.000 Rp10.000.000

3 PPN dipungut (10% dari

DPP) Rp1.000.000

4 PPh Pasal 22 yang

dipungut (1,5% x Rp10.000.000)

Rp150.000

PT DTC berkedudukan di Jakarta, menjadi pemasok alat-alat tulis kantor bagi Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan.

Pada tanggal 1 Oktober 2015, PT DTC melakukan penyerahan barang kena pajak dengan nilai kontrak sebesar Rp11.000.000 (nilai sudah termasuk PPN). Maka, berapakah PPh Pasal 22 yang dipungut oleh Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan?

Jawaban:

Jadi, besarnya PPh Pasal 22 yang dipungut oleh Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan sebesar Rp150.000. 

PPh Pasal 22 = 1,5% x harga pembelian tidak termasuk PPN.

(17)

SESI PERTANYAAN

(Penelaah/Notulen)

(18)

Thank you

Referensi

Dokumen terkait

Ketentuan dalam Undang-Undang PPh Pasal 23 mengatur tentang pemotongan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh wajib pajak dalam negeri dan Bentuk

Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 adalah pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama apa pun yang diterima atau