MENYIAPKAN KEMATIAN
Dosen Pengampuh: Hafidz Muhdhori, S.Kom.I., M.A
Mata Kuliah: Konseling Spiritual
DISUSUN OLEH KELOMPOK 6
Sofiah (224130029)
Zidny Rizkia Adinda (224130030) Pipit Eka Angraini (224130032)
Zulfaida S. (224130065)
Latar Belakang
Masih banyak orang yang belum menyadari, bahwa kehidupan di dunia ini hanya "sementara", pada saatnya semua manusia akan "dipanggil kembali"
atau meninggal dunia atau wafat untuk menghadap Dzat yang Maha
Menciptakan. Selanjutnya pindah tempat ke alam kubur sambil menunggu hari "berbangkit", setelah itu dilakukan perhitungan (hisab) terhadap apa- apa yang telak dilakukan selama hidup di dunia. Bagi mereka yang selama hidupnya menaati "aturan Allah" akan mendapat balasan surga dengan
segala nikmatnya, sebaliknya bagi mereka yang melanggar maka tempatnya di neraka dengan segala penderitaannya.
Meskipun kematian adalah suatu hal yang pasti terjadi, tetapi tidak seorang pun yang mengetahui kapan waktunya dan apa penyebabnya. Hal ini yang membuat sebagian orang lengah dan lupa diri, menghabiskan semua
waktu dan usianya hanya untuk mengejar kenikmatan dunia yang
didapatkan dengan segala cara, tidak menyadari bahwa kelak akan ada tanggung jawabnya; di sisi lain mereka sibuk untuk menumpuk harta untuk kepentingan dunia, sementara bekal akhirat dilupakan. Akhirnya mereka yang lupa akan kematian dan tanggung jawab sesudahnya akan menyesal.
A. Ketidakberdayaan Manusia Menghalangi Datangnya Kematian
Hai manusia bertakwalah kepada Tuhanmu, dan takutlah pada suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat
menolong anaknya dan seorang anak tidak (pula) mampu menolong bapaknya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah ialah benar, dan jangan sekali-kali kehidupan dunia
memperdayakan kamu, dan jangan (pula) menipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (menaati) aturan Allah.
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah, (1)
pengetahuan tentang Hari kiamat, dan (2) Dia-lah yang
menurunkan hujan, dan (3) mengetahui apa yang ada di dalam rahim, dan (4) tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakan besok," dan (5) tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia
akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha
mengenal." [QS. Luqman 31:33-34]
B. Belajar Dari Kehidupan Sehari-Hari
Kasus A
Pada zaman kehidupan berkomunikasi jarak jauh yang masih
menggunakan WLL (sejenis radio) ada seorang Ayah yang memiliki seorang anak yang sedang sakit keras dan harus segera
mendapatkan perawatan dari dokter. Si Ayah ini sudah mendatangi dua dokter di kampungnya yang rumahnya masing-masing berjarak empat kilometer, namun hasilnya nihil, kedua dokter tersebut
sedang tidak berada di kediaman. Akhirnya si Ayah pulang kembali ke rumah dan berunding bersama tetangganya yang menghasilkan kesepakatan bahwa mereka akan membawa si anak ke rumah sakit yang jaraknya sekitar sepuluh kilometer. Si Ayah diminta untuk
mencari mobil sewaan sebagai kendaraan yang akan membawa
mereka ke rumah sakit. Si Ayah juga harus mencari seseorang yang bisa mengemudikan mobil tersebut, kurang lebih tiga puluh menit si Ayah mencari dan akhirnya menemukan pengemudi. Saat fajar telah tiba, mereka baru berangkat ke rumah sakit. Namun saat tiba di rumah sakit dan mendapat pemeriksaan, dokter mengatakan
pasien dibawa pulang kembali saja karena "sudah tidak ada".
Akhirnya si Ayah beserta keluarga dan tetangganya kembali ke rumah dengan keadaan membawa jenazah.
Kasus B
Seorang tetangga mendatangi rumah B dengan panik meminta tolong untuk anaknya yang berusia 80 hari menangis tidak kunjung berhenti, dan anehnya suaranya terdengar hampir habis. Akhirnya B dan tetangga tersebut menuju ke rumah tetangga itu. Sesampainya di rumah tetangga tersebut,
mereka akhirnya memutuskan untuk membawa si anak ke rumah sakit disertai dengan Ibu dari si anak yang tampak sedih dan takut. Pukul 9 pagi sampai pukul 12 siang si anak ditangani oleh dokter namun belum membuahkan hasil, bahkan setelah pukul 12 siang itupun dokter mengatakan
ketidaksanggupannya dan menyarankan agar membawa pasien ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitas. Akhirnya dibawalah si anak ke rumah sakit yang lebih lengkap tersebut, namun setelah 1 jam lamanya diperiksa, tetap tidak membuahkan hasil. Dokter tersebut memberitahukan bahwa ada
sesuatu yang berada di dalam paru-paru si anak dan sampai saat ini mereka belum sanggup untuk mengeluarkannya. Seluruh keluarga disuruh berdoa demi keselamatan si anak. Hingga beberapa saat kemudian si anak telah kembali ke tangan Tuhan.
Dari dua contoh kasus tersebut, seperti tampak nyata dan benar apa yang
dinyatakan oleh Allah Swt. dalam QS. Luqman (31)33-34. Kalau panggilan Allah telah datang, siapapun tidak akan mampu menghalanginya atau menahannya, bahkan seandainya bapak dari anak yang hendak dipanggil atau anak dari ayah yang
menshalatkan jenazah, tetapi tidak semua orang menyadari bahwa suatu saat yang
belum diketahui waktu dan tempatnya, mereka juga akan dishalatkan.
C. Macam-macam Panggilan Ilahi
Secara garis besar, panggilan Allah ini bisa
dikelompokkan menjadi dua, yaitu (1) panggilan terakhir yang berupa panggilan kematian, dan (2) panggilan persiapan untuk panggilan
terakhir yang berupa seruan Allah untuk
melakukan ibadah yang telah ditetapkan oleh
Allah.
D. Karakteristik Panggilan Terakhir: Kematian
- Tidak bisa diprediksi secara pasti kapan waktunya.
- Bila tiba saatnya, tidak bisa dihalangi oleh siapapun
- Panggilan terakhir itu berlaku untuk semua
manusia dan tidak mengenal usia.
- Penjemputnya tidak peduli
dengan pangkat dan jabatan orang yang dijemput
- Bila tiba saatnya, tidak ada tempat aman untuk menghindar.
- Bila tiba saatnya, tidak bisa
dimajukan atau dimundurkan barang sedetikpun
A
D B
C
Dari kasus-kasus kematian, dapat diambil pelajaran, bahwa kondisi terakhir ketika saatnya seseorang
menerima panggilan terakhir dari Allah, insyaallah tidak jauh-jauh dari apa yang biasa dilakukan dalam
kehidupan sehari-hari. Kalau kebiasaan kita ahli ibadah, mudah-mudahan ketika panggilan itu datang juga
masih tetap dalam kondisi ahli ibadah. Sebaliknya, kalau keadaan seseorang lebih dekat melakukan maksiat, bisa jadi ujung kehidupannya juga tidak jauh-jauh dari hal
tersebut. Oleh karena itu, sepatutnya tidak ada detik dalam kehidupan ini yang tidak dalam kondisi
berpegang pada agama Allah, dan tidak ada detik dalam kehidupan ini yang tidak dalam keadaan taat
dalam aturan Allah, agar ujung kehidupan kita ini selalu dalam keadaan husnula khatimah bukan su'ul
khatimah.
E. Kemungkinan Kondisi Manusia
Ketika Panggilan Terakhir: Husnul
Khatimah atau Su'ul Khatimah
Kesimpulan
Kesimpulan dari materi menyiapkan kematian adalah bahwa kematian adalah suatu kepastian yang harus disikapi dengan kesadaran, kesiapan spiritual, dan perbaikan diri secara terus-menerus.
Menyiapkan kematian bukan berarti menyerah pada hidup, tapi justru menjadi motivasi untuk menjalani kehidupan dengan lebih bermakna, memperbanyak amal baik, menjaga hubungan dengan sesama, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Sikap ini juga membantu seseorang lebih tenang menghadapi akhir hayat, serta
meninggalkan warisan kebaikan yang berdampak positif bagi lingkungan dan keluarga yang
ditinggalkan.
sekian terimakasi