Kelompok 1
Nama anggota : 1. A. Sutapa
2. Ade Novita lianti 3. Dwi Ulfah Agustia 4. M. Syahrul Hidayat 5. Najwa adilla
6. Vivi Meilanda Utami
Peran Indonesia dalam
Menciptakan Perdamaian
Dunia Melalui Hubungan
Nasional
PELAKSANAAN KONFERENSI ASIA AFRIKA (1995) Pada hari Senin 18 April 1955, , KAA berlangsung di Gedung Merdeka Bandung mulai jam 09.00
WIB dengan pidato pembukaan oleh Presiden RI, Soekarno. Sidang-sidang selanjutnya dipimpin
oleh Ketua Konferensi PM RI Ali Sastroamidjojo.
Peran Indonesia dalam Konferensi Asia Afrika adalah sebagai negara pemrakarsa konferensi, sebagai tuan rumah Konferensi Panca Negara di Bogor 28-29 Desember 1954 sebagai pertemuan pendahuluan KAA, dan sebagai tempat
penyelenggaraan KAA 1955. Tujuan Konferensi Asia Afrika adalah untuk mempererat solidaritas negara-negara di Asia dan Afrika dan menentang penjajahan (kolonialisme) negara-negara Barat.
Konferensi ASIA AFRIKA
(KAA)
Dasasila Bandung
KAA 1955 di Bandung melahirkan kesepakatan bersama yang disebut Dasasila Bandung, yaitu
sepuluh pokok tindakan dalam usaha menciptakan perdamaian dunia. Berikut ini 10 pokok Dasasila
Bandung:
1. Menghormati hak-hak dasar
manusia dan tujuan-tujuan, serta asas-asas kemanusiaan yang
termuat dalam Piagam PBB.
2. Menghormati kedaulatan dan
integritas teritorial semua bangsa.
3. Mengakui persamaan semua suku- suku bangsa dan persamaan semua bangsa besar maupun kecil.
4. Tidak melakukan campur tangan dalam soal-soal dalam negara lain.
5. Tidak melakukan tekanan terhadap negara-negara lain.
6. Menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai
dengan Piagam PBB.
7. Tidak melakukan tindakan-tindakan atau ancaman agresi terhadap
integritas teritorial dan kemerdekaan negara lain.
8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai seperti perundingan, persetujuan dan
lain-lain yang sesuai dengan Piagam PBB.
9. Memajukan kerja sama untuk kepentingan bersama.
10. Menghormati hukum dan kewajiban- kewajiban internasional.
Gerakan Non Blok (GNB)
Gerakan Non-Blok dibentuk karena dunia terbagi menjadi dua blok, yaitu blok barat yang menganut paham liberal dan blok timur yang berpaham komunis.
Gerakan ini diprakarsai oleh lima tokoh dari masing-masing negara yakni Ir.
Soekarno (Presiden Indonesia), Pandit Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India), Gamal Abdel Nasser (Presiden Mesir), Josep Broz Tito (Presiden Yugoslavia), dan Kwame Nkrumah (Presiden Ghana). peran serta Indonesia dalam Gerakan Non- Blok antara lain sebagai berikut:
1. Indonesia merupakan salah satu negara yang memprakarsai pembentukan Gerakan Non-Blok.
2. Indonesia menjadi tuan rumah dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Gerakan Non-Blok di Jakarta pada 1992.
3. Indonesia pernah menjadi Ketua Gerakan Non-Blok di pada 1992. Melalui kedudukannya, Indonesia berupaya menyelesaikan masalah utang luar negeri yang dialami oleh negara-negara berkembang miskin secara terpadu, berkesinambungan, dan komprehensif.
4. Indonesia pernah menjadi Ketua Gerakan Non-Blok di pada 1992.
5. Indonesia bekerja dengan Brunei Darussalam mendirikan Pusat Kerja Sama Teknik Selatan-Selatan GNB di Jakarta untuk memperkuat hubungan antarnegara anggota.
Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB)
PBB adalah organisasi internasional yang didirikan di San Fransisco yang disahkan melalui Piagam PBB pada tahun 1945. Walau demikian, Indonesia baru menjadi anggota PBB pada 28 September 1950, hampir setahun setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda. Peran-Peran Indonesia yaitu :
1. Indonesia berperan dalam rangka menjaga perdamaian dunia.
Keseriusan Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia dibuktikan dengan masuknya Indonesia dalam 10 besar kontributor pasukan Pemeliharaan Perdamaian PBB dari 124 negara penyumbang pasukan.
2. Indonesia selalu memberikan bantuan kemanusiaan di berbagai negara.
Bantuan kemanusiaan ke negara lain didasarkan berdasar prinsip politik luar negeri Indonesia.
3. Membantu menyelesaikan konflik di berbagai negara
4. Sebagai pemimpin dan anggota tetap beberapa organisasi di PBB Kepemimpinan Indonesia dalam organisasi dapat dilihat dari terpilihnya Menteri Luar Negeri Adam Malik sebagai ketua sidang Majelis Umum PBB untuk masa sidang tahun 197
Pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dikirim untuk misi perdamaian ini disebut Kontingen Garuda (Konga) atau Pasukan Garuda. Bahkan, Indonesia masuk ke dalam 10 besar penyumbang pasukan PBB terbanyak.
Berikut ini kita akan membahas beberapa misi yang pernah melibatkan Indonesia di dalamnya.
Kontingen Garuda yang pertama kali dikirim adalah Konga I yang bertugas ke Timur Tengah pada tahun 1957 untuk menengahi konflik antara Mesir dan Israel. Konga I terdiri atas 599 anggota TNI yang sebagian berasal dari Resimen Infanteri Teritorial IV/Diponegoro. Pasukan Konga I yang menjaga perbatasan Israel dan Mesir bersama pasukan PBB tersebut bertugas dari tanggal 8 Januari 1957 hingga 29 September 1957.Setelah misinya yang pertama, Indonesia kembali mengirim Konga II pada tahun 1960 dan Konga III pada tahun 1962 ke Kongo. Misi tersebut merupakan bagian dari United Nations Operation in the Congo dan bertujuan untuk menjaga perdamaian.
Pasukan Tentara Nasional
Indonesia (TNI)
ASEAN dibentuk karena adanya keinginan kuat negara anggota untuk membangun kerjasama yang erat dibidang ekonomi, sosial, termasuk pengembangan kebudayaan masing-masing negara anggota. Didirikan di Bangkok pada 8 Agustus 1967, ASEAN berdiri dengan adanya Deklarasi Perbara yang diprakarsai dan ditandatangani oleh 5 negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Kala itu, Indonesia diwakili oleh Adam Malik. Selain sebagai salah satu pemrakarsa ASEAN, Indonesia juga memiliki peran besar sebagai anggota ASEAN.
Entah itu dalam bentuk program ataupun kerjasama antar sesama anggotanya. Ini diantaranya:
1. Indonesia Sebagai tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN (KTT) pertama 2. Turut menjaga perdamaian di kawasan Asia Tenggara
3. Membentuk Komunitas Keamanan bagi ASEAN.
4. Mendorong penguatan dan kerjasama keamanan di sektor maritim 5. Memastikan sentralitas ASEAN
6. Turut serta pada isu pekerja migran di ASEAN
Peran Indonesia Pada
ASEAN
Peran Indonesia dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI)
Organisasi Islam ini berdiri tepat pada tanggal 25 September 1969 yang diprakarsai oleh Raja Husein II dari Maroko dan Raja Faisal dari Arab Saudi yang bertempat di
Rabat, Maroko.
Pembentukan OKI awalnya dilatarbelakangi karena keprihatinan negara-negara Islam atas berbagai masalah yang dihadapi oleh umat Islam.
OKI saat ini beranggotakan 57 negara Islam atau berpenduduk mayoritas muslim di kawasan Asia dan Afrika. Selain itu sebagai organisasi negara-negara Islam, OKI mempunyai tujuan untuk, Melenyapkan perbedaan diskriminasi, kolonialisme dan rasial, Memperteguh dan menjunjung tinggi perjuangan umat Islam, Membantu dan mendukung kemerdekaan Palestina, Meningkatkan solidaritas antar negara-negara IsIam, Melindungi tempat-tempat suci dan ibadah agama. Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia, Indonesia punya peranan penting dalam OKI yaitu :
1. Membela Pakistan dalam konflik dengan India 2. Menyelesaikan pertikaian Moro dengan Filipina
3. Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Menteri (KTM-OKI) ke-24 di Jakarta.
4. menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa juga dengan tegas membela kemerdekaan Palestina
Peran Indonesia dalam Jakarta Informal Meeting
Jakarta Informal Meeting (JIM) adalah pertemuan yang dilaksanakan dalam upaya menyelesaikan konflik Kamboja Vietnam dengan Indonesia sebagai perantaranya.
Puncak penyerangan Vietnam terhadap Pemerintah Demokratik Kamboja terjadi pada 25 Desember 1978 yang berhasil menjatuhkan pemerintahan Pol Pot.
Pelaksanaan dari JIM 1 Sampai 3 yaitu :
2. Jakarta Informal Meeting Dilaksanakan pada bulan Februari 1989. Pada pertemuan kedua ini, Australia turut ikut serta dengan diwakili oleh Menteri Luar Negeri, Gareth Evans, yang mengusulkan rancangan Cambodia Peace Plan yang berisi : mendorong upaya gencatan senjata, menurunkan pasukan penjaga perdamaian PBB di wilayah yang konflik, dan mendorong pembentukan pemerintah persatuan nasional untuk menjaga kedaulatan Kamboja sampai pemilihan umum diadakan.
1. Jakarta Informal Meeting Dilaksanakan pada bulan Juli 1988. Pihak-pihak yang terlibat konflik serta pihak mediator mengirimkan delegasinya.
Indonesia diwakili oleh Mochtar Kusumaatmadja. Dalam pertemuan tersebut, Norodom Sihanouk mengusulkan tiga tahap rencana penyelesaian Perang Indocina III, antara lain : melakukan gencatan senjata antara kedua belah pihak, diturunkannya pasukan penjaga perdamaian PBB untuk mengawasi penarikan pasukan Vietnam dari Kamboja, dan penggabungan semua kelompok bersenjata Kamboja ke dalam satu kesatuan.
3. Jakarta Informal Meeting IDilaksanakan pada bulan Februari 1990. Pertemuan ketiga ini membahas mengenai pengaturan pembagian kekuasaan di antara pihak Pemerintah Koalisi Demokratik Kamboja dengan Republik Rakyat Kamboja dengan membentuk Supreme National Council (SNC).