Peran Pemuda dalam Perubahan Politik &
Ketatanegaraan
Indonesia
Anggota Kelompok
Anggita
Christian
Davent
Violetta
Gerakan Pemuda pada
Masa Kolonial Belanda
Pelaksanaan Politik Etis
Terselenggara berkat kegigihan Conrad Theodore van Deventer dan van Kool memperjuangkan politik kolonial yang lebih menyejahterakan pribumi kepada parlemen
Belanda.
Pendidikan dibagi dua jalur, yaitu pendidikan untuk pribumi dan nonpribumi.
Sekolah Pribumi Sekolah Desa
(volkschool) Sekolah Lanjutan (vervolgschool)
(2 tahun) Sekolah
Nonpribumi Meer Uitbreid Lager
Onderwijs (MULO) (3 tahun)
Holland Inlandsche
School (HIS) (7 tahun)
Algemene Middlebare Scholen (AMS) (3
tahun) Sekolah Lanjutan
STOVIA
Recht Hooge School
Technische Hooge School
Dampak berdirinya sekolah-sekolah
Munculnya golongan terpelajar.
Lahirnya
organisasi-
organisasi
pergerakan.
Budi Utomo
Atas inisiatif para pemuda pelajar School Tot Opleiding van Inlandesche Artsen (STOVIA)
didirikanlah organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.
Sikap nonpolitis yang ditunjukkan oleh organisasi ini membuat Boedi Oetomo dapat bekerja sama
dengan pemerintah Belanda.
Organisasi yang muncul pada masa
pergerakan
Serikat Islam
Didirikan oleh Haji Samanhudi di Solo pada 1911.
SDI kemudian berubah nama menjadi menjadi Sarekat Islam (SI). SI berkecimpung di bidang
politik.
Organisasi yang muncul pada masa
pergerakan
Partai Nasional Indonesia
Didirikan oleh Ir. Sukarno dengan para anggota kelompok studi club (Algemene Studi Club)
Bandung.
Strategi perjuangannya nonkooperatif.
Organisasi yang muncul pada masa
pergerakan
Kedaerahan, Agama, Kepanduan
Jong Java, sJong Ambon, Pemuda Betawi, Jong Sumatranen, Jong Java, Sekar Rukun, Muda Kristen
Djawi, Pemuda Muslimin Indonesia (PSII), Jong Islamieten Bond, Pemuda Ansor (NU), Pemuda
Muhammadiyah.
Organisasi yang muncul pada masa
pergerakan
Sumpah Pemuda
Berdiri Tri Koro Dharmo yang merupakan gerakan pemuda pertama di Indonesia. Tujuan adalah untuk mencapai Jawa- Raya dengan memperkokoh rasa persatuan dari para pemuda
yang berasal dari Jawa, Sunda, Madura, Bali dan Lombok.
Akan tetapi, karena sifat gerakan pemuda ini masih sangat Jawasentris, maka pemuda pemuda yang berasal dari Sunda
dan Madura merasa tidak senang. Guna menghindari perpecahan, maka ketika berlangsung kongres di Solo, organisasi pemuda ini berganti nama menjadi Jong Java (12
Juni 1918). Diselenggarakan kongres pemuda yang pertama yang bertujuan menanamkan semangat kerja sama
antarperkumpulan pemuda dan membina persatuan Indonesia dalam arti yang lebih luas.
7 Maret 1915 & April-2 Mei 1926
Sumpah Pemuda
Kongres pemuda yang kedua dilangsungkan bertujuan
mempersatukan semua perkumpulan pemuda yang ada saat itu dalam sebuah wadah yang menjunjung tinggi rasa
persatuan. Dalam kongres inilah dideklarasikanlah Sumpah Pemuda yang terdiri dari tiga sendi utama dari persatuan Indonesia, yaitu persatuan tanah air, bangsa, dan bahasa.
Dalam kongres ini pula diperkenalkan lagu Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Supratman dan bendera merah putih yang dipandang sebagai simbol persatuan bangsa Indonesia.
27-28 Oktober 1928
Tokoh Penggerak Kaum
Muda dan Pemikirannya
Mendirikan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.
Pada 1923, ia diangkat menjadi dokter di RSU Surabaya. Ia mendirikan sebuah Studie Club yang menjadi wadah dalam mempersatukan para pelajar untuk mengembangkan wawasan
tentang sebuah gerakan kebangsaan yang lebih luas. Menurut pemikirannya, perjuangan
politik tidak dapat dijalankan selama rakyat yang hidup di desa-desa masih dilanda
kesengsaraan, kemiskinan, dan kebodohan.
Soetomo
Samanhudi
Mendirikan Sarekat Dagang Islam pada 1911 di Solo. Menjadi wadah para pedangang batik
pribumi menghadapi persaingan dengan
pedagang Tiongkok. Menjadikan SDI sebagai organisasi yang bergerak di bidang ekonomi
yang taat azas dan mengikuti semua peraturan perundangan-undangan yang
dikeluarkan oleh pemerintah kolonial.
Tan Malaka
Tan Malaka kemudian diangkat menjadi ketua PKI dalam usianya yang ke-25. Tan Malaka diberi tugas
oleh Komitern untuk mengembangkan organisasi- organisasi komunis di Asia. Tugas inilah yang
sempat membawanya ke Tiongkok dan bertemu dengan Dr. Sun Yat Sen. Ketika PKI melakukan
pemberontakan terhadap pemerintah Belanda pada 1926, Tan Malaka tidak menyetujui tindakan
tersebut. Memobilisasi para pemuda ke rapat raksasa di Lapangan Ikada (kini kawasan Monas)
pada 19 September 1945.
Mohammad Yamin
Lahir di sebuah desa kecil bernama Talawi, dekat Sawahlunto, Sumatra Barat, pada 23 Agustus 1903. Saat masih bersekolah di Sumatra Barat, ia menjadi pemimpin Jong Sumatranen Bond. Pada
perayaan organisasi tersebut yang ke-5 di Jakarta, pada 1923, ia menyampaikan pidato berintikan bahwa bahasa Melayu akan menjadi
bahasa kebangsaan. Gagasan Yamin akhirnya mengilhami para pemuda saat berlangsungnya Kongres Pemuda II, 27–28 Oktober 1928 dengan
mengikrarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Mohammad Natsir
Nafas pergerakan seorang Natsir diasah melalui berbagai organisasi. Ketika masih sekolah, ia
masuk organisasi kepanduan Natipij. Ia
bergabung dengan Jong Islamieten Bond (JIB), bahkan menduduki jabatan sebagai wakil ketua
pada 1929–1932 ketika ia di Bandung. Ketika Jepang mulai menggantikan Belanda untuk
menduduki Nusantara, Natsir memegang jabatan sebagai Kepala Jawatan Pengajaran
Kotapraja Bandung dan menjadi Sekretaris Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI).
Silas Papare
Silas Papare lahir di Serui, Papua, pada 18 Desember 1918. Ia membentuk Komite
Indonesia Merdeka (KIM) pada 29 September 1945. Silas Papare memberikan andil besar bagi kembalinya Irian menjadi bagian integral
Republik Indonesia. Ia menjadi pelopor bagi tumbuhnya cinta tanah air dan nasionalisme
di Papua.
Maria Walanda Maramis
Pada 1917, Maria mendirikan organisasi yang diberi nama Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya (PIKAT). Memiliki kemampuan menulis. Dan membuat sejumlah artikel yang
dimuat pada surat kabar lokal. Kemampuan menulis ini kemudian menjadi alat yang
ampuh dalam mengembangkan program- program PIKAT. Cita-citanya adalah
menerbitkan majalah bagi perempuan dan mendirikan sekolah kerumahtanggaan.
Gerakan Pemuda
Indonesia pada Masa
Pendudukan Jepang
Kegiatan pemuda Indonesia pada masa pendudukan Jepang secara umum terbagi dalam tiga hal, yaitu:
1. gerakan organisasi pemuda yang bersifat militer dan semimiliter,
2. organisasi pemuda yang bergerak secara sembunyi-sembunyi atau yang lebih dikenal dengan gerakan bawah tanah, dan
3. organisasi pemuda bentukan Jepang yang disiapkan untuk membantu Jepang menghadapi Perang Asia Timur Raya.
Organisasi-organisasi
Keibodan seinendan Fujinkai
Djawa Hokokai
Heiho Peta
Gerakan 3A
Putera
Gerakan Pemuda setelah Kemerdekaan Indonesia
Gerakan Pemuda dan Mahasiswa yang
Memengaruhi Perubahan
Tata Negara di Indonesia
TRI TUNTUTAN RAKYAT (TRITURA)
Meletusnya peristiwa G30S/PKI membuat mahasiswa non komunis mulai bangkit dan membentuk “Kesatuan Aksi
Pengganyangan Kontra Revolusi Gerakan Tiga puluh September”
yang disingkat menjadi KAP-Gestapu. Puncak gerakan KAP-
Gestapu adalah ketika berhasil mengerahkan massa secara besar- besaran pada 9 November 1965 di Lapangan Banteng, Jakarta.
Pada Januari, KAP-Gestapu menjadi Front Pancasila dengan kegiatan yang lebih terfokus dalam bidang politik. Dibentuk wadah baru bagi gerakan mahasiswa Indonesia dengan nama
Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).
TRI TUNTUTAN RAKYAT (TRITURA)
Pada 12 Januari 1966, KAMI bersama-sama dengan rakyat beserta Front Pancasila dan kesatuan aksi lainnya mendatangi DPR-GR
mengajukan Tritura yang berisi:
pembubaran Partai Komunis Indonesia, 1.
pembersihan kabinet dari unsur-unsur G30S dan PKI, dan 2.
penurunan harga/perbaikan ekonomi.
3.
Reformasi
5 Maret 1998 ; 20 utusan mahasiswa Universitas Indonesia mendatangi gedung DPR/MPR untuk menyatakan penolakan
terhadap pidato pertanggung jawaban Presiden Soeharto.
11 Maret 1998: MPR kembali menunjuk Soeharto sebagai presiden untuk yang kelima kalinya. Keputusan politik ini memicu aksi
demonstrasi menentang rezim Orde Baru di banyak kota.
15 April 1998: Presiden Soeharto meminta para mahasiswa untuk mengakhiri protes dan kembali ke kampus. Sebulan lamanya para mahasiswa dari perguruan tinggi, baik dari swasta maupun negeri,
telah berunjuk rasa menuntut dilakukannya Reformasi.
Reformasi
9 Mei 1998: Presiden Soeharto berangkat ke Kairo untuk menghadiri pertemuan KTT G-15. Hal ini menjadi lawatan
terakhirnya ke luar negeri sebagai Presiden RI
12 Mei 1998 ; Terjadi penembakan oleh tentara terhadap empat mahasiwa Trisakti, yang kemudian dikenal dengan nama Tragedi
Trisakti.
12-13 Mei 1998: Para mahasiswa mendorong perubahan melalui agenda reformasi dan berhasil menduduki gedung DPR/MPR.
21 Mei 1998: Presiden Soeharto menyatakan berhenti dari jabatannya sebagai presiden dan menyerahkan kekuasaannya
kepada Wakil Presiden B.J. Habibie.
Thank You for
listening!