• Tidak ada hasil yang ditemukan

PR-SP3.pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PR-SP3.pdf"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

Terbitnya Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap 15 korporasi pelaku pembakaran hutan dan lahan yang dilakukan Polda Riau pada Januari hingga Juni 2016 sangat mengejutkan dan merugikan masyarakat Riau. Dalam dokumen SP3 disebutkan, salah satu alasan yang digunakan Polda Riau karena tidak cukup bukti. Berbagai upaya pun dilakukan masyarakat Riau untuk mendesak Polda Riau terus mengusut 15 korporasi tersebut.

Pada sidang kedua, gugatan yang diajukan Walhi ditolak hakim tunggal Ria Sorta Neva dengan menilai penerbitan SP3 oleh Polda Riau sudah sesuai prosedur. Kalaulahari menginisiasi uji publik terhadap penerbitan SP3 bagi 15 perusahaan karhutla oleh Polda Riau dan Putusan Praperadilan dengan menggunakan pedoman Kajian Publik (Pemeriksaan Publik terhadap Peraturan Perundang-undangan) yang dikembangkan oleh Indonesia Corruption Watch (ICW). Pemberitahuan publik ini bertujuan untuk menelaah penerbitan SP3 bagi 15 perusahaan oleh Polda Riau dan keputusan-keputusan yang diajukan masyarakat sebelumnya, serta menghasilkan dokumen yang dapat menjadi pedoman bagi masyarakat umum dan penegak hukum pada khususnya untuk menindaklanjuti proses hukum terkait ke. kasus yang dikeluarkan oleh Polda Riau.

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN

DAMPAK KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN

PIDANA DAN ATURAN TERKAIT KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN

ANALISIS DOKUMEN SP3 DAN PUTUSAN PRA PERADILAN

PENUTUP

LATAR BELAKANG

Sepanjang periode Januari-November 2015, warga Riau menghirup polusi asap akibat pembakaran hutan dan lahan gambut. Saat itu, masyarakat Riau geram karena Pj Gubernur Riau baru saja menetapkan status tanggap darurat. Di tengah kemarahan masyarakat, lima warga Riau tewas akibat menghirup polusi kabut asap: tiga anak kecil dan dua orang dewasa meninggal.

Pada Oktober 2015, Polda Riau merilis 18 nama perusahaan yang diduga melakukan pembakaran hutan dan lahan dan sedang ditangani Polda RI. Khusus perusahaan, total kebakaran hutan dan lahan di 18 konsesi perusahaan mencapai 5.769 hektare. Pada bulan Oktober-November 2015, Eyes on The Forest juga melakukan survei untuk melihat lahan yang terbakar di Riau.

PENDAHULUAN

PUBLIK REVIEW Apa Itu Publik Review?

Sedangkan peraturan perundang-undangan – menurut undang-undang no. 12 Tahun 2011 - adalah peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui tata cara yang ditetapkan dalam Peraturan Perundang-undangan. Apabila berkaitan dengan konteks peninjauan dan masyarakat, peninjauan umum terhadap peraturan perundang-undangan adalah upaya untuk melakukan pengujian atau pemeriksaan oleh masyarakat terhadap peraturan atau keputusan hukum yang tertulis, yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat masyarakat. Istilah ini lahir atas dasar pertimbangan bahwa subjek yang melakukan pengujian peraturan perundang-undangan adalah masyarakat atau kelompok masyarakat tertentu.

Tidak hanya keputusan, pemeriksaan juga dapat dilakukan untuk menilai atau menguji produk hukum berupa peraturan atau peraturan perundang-undangan secara lebih luas, seperti undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan menteri atau peraturan daerah, bahkan keputusan kepala daerah. Ide penyelidikan masyarakat di bidang peraturan atau undang-undang sebenarnya sudah dimulai pada tahun 2003. Setelah penyidikan terhadap putusan pengadilan ini berjalan dengan baik dan mendapat kepercayaan masyarakat, sebaiknya tujuan penyidikan publik kedepannya diperluas.

Tidak hanya terhadap produk hukum yang berupa keputusan pengadilan, tetapi juga terhadap produk hukum lainnya seperti ketetapan, keputusan pejabat publik, undang-undang dan peraturan perundang-undangan lainnya sesuai dengan Ketetapan MPR Nomor 3 Tahun 2000. Penyidikan atau pengujian undang-undang bertujuan untuk menguji apakah materi undang-undang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang memuat ketentuan-ketentuan pokok di bidang hukum yang sejenis/sederajat atau yang kedudukannya lebih tinggi, misalnya konstitusi. Tinjauan publik ini dilakukan agar masyarakat dapat mengetahui benar dan salahnya penerbitan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap 15 korporasi oleh Polda Riau sehingga dapat dihasilkan dokumen yang memberikan arahan kepada masyarakat umum dan penegakan hukum khususnya untuk menempuh upaya hukum terhadap perkara pidana kebakaran hutan dan lahan yang dikuasai korporasi.

Majelis pemeriksa terdiri dari pihak-pihak yang kredibel dan mempunyai kuasa untuk melakukan penyidikan terhadap Surat Perintah Penghentian Perkara (SP3) dan putusan Hakim sebelum sidang gugatan SP3. Badan Penguji terdiri dari orang-orang yang mempunyai minat dalam bidang penegakan hukum dan mempunyai kompetensi keilmuan di bidang Hukum Tata Usaha Negara, Ilmu Sosial, Kehutanan, Perundang-undangan serta mempunyai pengalaman dalam bidang advokasi di bidang kehutanan dan lingkungan hidup. Salah satunya menjadi ahli dalam proses praperadilan penerbitan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) Polda Riau yang digugat Walhi pada 2016.

Kebakaran hutan besar pertama di Indonesia terjadi dengan luas hutan yang terbakar mencapai 3,6 juta ha, dengan luas kebakaran terluas berada di Kalimantan Timur.

DAMPAK KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN

Kerugian akibat kebakaran dan pembakaran hutan dan lahan sangat besar bagi kehidupan manusia dan keanekaragaman hayati. Kebakaran atau pembakaran hutan dan lahan menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap sumber daya lahan dan ekosistem, hal ini dibuktikan dengan berbagai hasil penelitian. Dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap flora dan fauna menjadi lebih besar dan nyata jika yang menjadi korban adalah spesies langka dan dilindungi.

Oleh karena itu, wajar bila pelaku pembakar hutan dan lahan dimintai pertanggungjawaban atas ganti rugi atas kerugian yang diakibatkan perbuatannya22. Dari 'keuntungan sesaat' yang diperoleh dari pembukaan lahan dengan cara pembakaran, kita nantikan kerugian besar yang akan ditanggung oleh lingkungan, masyarakat dan para pelaku karhutla nantinya. Berdasarkan data dan fakta yang diberikan oleh Prof. Bambang Hero Saharjo mengumpulkan, hampir seluruh 15 korporasi yang tersangkut perkara pidana SP3 karhutla ternyata mengalami kebakaran.

Sesuai dengan Pasal 13 PP No. 4 Tahun 2001, setiap penanggung jawab suatu usaha yang usahanya dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap kerusakan dan/atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan/atau lahan wajib melakukan pencegahan pencemaran hutan dan/atau lahan. atau kebakaran lahan di tempat usahanya. Pasal 14 berbunyi: (1) Setiap penanggung jawab usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 diharapkan mempunyai sarana dan prasarana yang memadai untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan/atau lahan di lokasi usahanya. 2) Sarana dan prasarana pencegahan kebakaran hutan dan/atau lahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. Oleh karena itu tidak dapat dipungkiri bahwa setiap penanggung jawab dunia usaha harus mempunyai sarana pengendalian kebakaran hutan dan lahan agar terhindar dari ancaman kebakaran.

Pasal 15 PP Nomor 4 Tahun 2001 kini mengatur bahwa pengurus perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 wajib melakukan pengawasan di lokasi perusahaannya untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan/atau lahan dan melaporkan hasilnya sekurang-kurangnya untuk melaporkan secara berkala. setiap enam bulan sekali dengan data penginderaan jauh dari satelit kepada gubernur/bupati/walikota dengan tembusan kepada dinas teknis dan instansi yang bertanggung jawab. Hal ini menegaskan kembali bahwa perusahaan wajib melakukan pengawasan untuk mencegah kebakaran bahkan melaporkannya secara berkala, karena Pasal 17 menyebutkan bahwa setiap orang wajib melakukan pencegahan kebakaran hutan dan/atau lahan di lokasi kegiatannya. Data dan fakta tersebut semakin menegaskan bahwa akibat dari kebakaran hutan dan lahan memberikan dampak yang sangat negatif terhadap lingkungan. Jadi tidak ada alasan untuk menghentikan upaya meminta pertanggungjawaban perusahaan yang lahannya terbakar, karena dampaknya sudah dan akan terus terjadi. berwujud secara langsung maupun tidak langsung.

Di Riau, penegakan hukum pidana di bidang karhutla sering menggunakan Pasal 98 dan Pasal 99 UU 32 Tahun 2009.

Gambar 1. Jumlah hotspot muncul di Indonesia sepanjang 2006 – 2015
Gambar 1. Jumlah hotspot muncul di Indonesia sepanjang 2006 – 2015

PIDANA DAN ATURAN TERKAIT KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN

Analisis Penerbitan SP3 oleh Polda Riau

Penghentian penyidikan merupakan bagian dari hukum acara pidana yang berlaku di Indonesia sebagaimana diatur dalam KUHAP dan harus tunduk pada KUHAP, KUHAP. Istilah hukum acara pidana adalah “hukum pidana” atau “penuntutan pidana”. Dalam lingkup hukum pidana yang luas, baik hukum pidana substantif (substantif) maupun hukum acara pidana (formal) disebut hukum pidana. Hukum acara pidana bertujuan untuk melaksanakan hukum acara pidana yang bersifat substantif (substantif), sehingga disebut hukum pidana formil atau hukum acara pidana.

Yang perlu anda ketahui perbedaan antara hukum pidana (substantif) dan hukum acara pidana (formal), yaitu hukum pidana (substantif) adalah keseluruhan peraturan hukum yang menunjukkan perbuatan mana yang diancam pidana, sedangkan hukum acara pidana (formal) adalah bagaimana negara menggunakan instrumen kekuasaannya. - Saatnya menjatuhkan hukuman. KUHAP tidak mendefinisikan hak acara pidana, tetapi memuat komponen-komponen seperti penyidikan, penuntutan, persidangan, penyidikan pendahuluan, putusan pengadilan, perbuatan hukum, penyitaan, penggeledahan, penangkapan, penahanan, dan lain-lain. mencari dan memperoleh kebenaran materiil, yaitu kebenaran suatu perkara pidana, dengan menerapkan ketentuan hukum acara pidana secara adil dan cermat dengan tujuan menemukan pelaku yang dapat disangkakan melakukan pelanggaran hak.

Mereka kemudian meminta penyelidikan dan keputusan kepada pengadilan untuk menentukan apakah mereka terbukti melakukan tindak pidana dan apakah tersangka pelakulah yang patut disalahkan.

ANALISIS DOKUMEN SP3 DAN PUTUSAN PERADILAN

Kesimpulan

Hasil penyelidikan putusan no. 13/PID.PRA/2017/PN.PBT pertama menunjukkan bahwa pertimbangan hukum hakim sebagian besar menggunakan jawaban dan bukti yang disampaikan Polda Riau. Kedua, putusan hakim cacat karena pertimbangan hukum kurang memadai karena hanya memperhatikan jawaban dan bukti yang disampaikan Polda Riau. Meski tidak secara tegas dicantumkan dalam pertimbangan, hakim tampaknya sama sekali tidak mempertimbangkan bukti-bukti yang disampaikan Walhi.

Hakim juga tidak membuka sudut pandang lain sebagai second opinion dari tanggapan dan bukti Polda Riau bahwa kasus tersebut masih bisa dibuka kembali untuk penyidikan, seharusnya hakim bisa mempertimbangkan hal-hal yang dapat membatalkan SP3 dan SKPP. Hal ini terlihat dari kegagalan perusahaan dalam menyediakan sarana dan prasarana pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan sesuai ketentuan yang berlaku. Selain itu, kerusakan lingkungan terjadi akibat perubahan fungsi tanah, hilangnya flora dan fauna serta mikroorganisme serta rusaknya lahan gambut yang sulit dikembalikan ke fungsi semula.

Selain itu, kajian pemeriksa terkait penerbitan SP3 15 korporasi didasarkan pada keterangan ahli yang tidak kompeten dan tidak memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan mengenai kriteria ahli lingkungan hidup.

Rekomendasi

PENUTUP

Alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Matematika Universitas Riau, Alumni Bahana Press Institute, Mahasiswa UR.

Gambar

Gambar 1. Jumlah hotspot muncul di Indonesia sepanjang 2006 – 2015

Referensi

Dokumen terkait

Dari redesign tersebut akan dianalisis perbandingan stabilitas, hambatan, olah gerak kapal dan kapasitas ruang muat dengan desain kapal angkut ikan lambung konvensional.. Hasil analisis

Kidney allograft function serum creatinine and proteinuria progression at 6, 12 and 24 months in E+/HR kSORT versus E-/LR kSORT patients and sc-AR versus STA patients.. Serum creatinine