Dalam hukum waris Islam, pembagian harta warisan terjadi setelah meninggalnya orang yang memiliki harta warisan tersebut. Para ulama sektarian sepakat bahwa harta warisan orang yang meninggal berpindah kepemilikannya kepada ahli waris setelah meninggal, sepanjang tidak ada utang atau wasiat.
Penegasan Istilah
Jika dikaitkan dengan judul skripsi di atas, maka yang dimaksud dengan penangguhan adalah apabila seseorang meninggal dunia dan meninggalkan harta warisan, meninggalkan istri dan anak-anaknya, maka harta benda yang dimiliki orang tersebut tidak dibagikan kepada ahli waris yang telah mempunyai harta warisan. berhak menerima sebagian harta warisan, namun harta itu malah didiamkan atau dikuasai seluruhnya oleh isteri untuk waktu yang tidak tertentu atau menunggu isteri pewaris meninggal terlebih dahulu. Asas ijbari artinya peralihan harta terjadi secara otomatis sesuai kehendak Allah SWT tanpa bergantung pada kehendak ahli waris atau ahli warisnya.15.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Mendeskripsikan dan menganalisis pengetahuan warga Desa Karanggebang Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo tentang hukum waris Islam. Menjelaskan sikap dan paradigma masyarakat Desa Karanggebang Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo terhadap Hukum Warisan Islam.
Kegunaan Penelitian
Menjelaskan pandangan hukum Islam tentang penundaan pembagian warisan selama istri pewaris masih hidup di Desa Karanggebang Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo.
Telaah pustaka
Maka berdasarkan landasan tersebut peneliti mengambil tema penundaan pembagian harta warisan selama istri ahli waris masih hidup, pada masyarakat desa Karanggebang kecamatan Jeti kabupaten Ponorogo. Oleh karena itu, penulis akan terus melakukan penelitian tentang penundaan pembagian harta warisan selama istri pewaris masih hidup di masyarakat Desa Karanggebang Kecamatan Jeti Kabupaten Ponorogo.
Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian
Sumber data utama dalam penelitian ini adalah informasi dari perkataan dan tindakan yang diperoleh langsung dari wawancara dengan berbagai sumber dan dari pengalaman penulis selama melakukan penelitian di desa Karanggebang kecamatan Jetis kabupaten Ponorogo. Pada bagian ini penulis mengelompokkan data-data yang diperoleh dari lapangan sesuai dengan pemaparan yang nantinya akan dibahas sesuai dengan permasalahan dalam penelitian.
Sistematika Pembahasan
Pengorganisasian yaitu menyusun secara sistematis data-data yang diperlukan untuk menyajikan data yang direncanakan sebelumnya sesuai dengan tata letak yang diperlukan untuk menjawab setiap permasalahan.
TINJAUAN UMUM KEWARISAN DAN SOSIOLOGI HUKUM
Bab ini menjelaskan tentang teori kesadaran hukum dan kepatuhan serta pengertian dan dasar pembagian waris menurut hukum Islam, prinsip-prinsip waris Islam, prinsip-prinsip waris Islam, serta ahli waris dan bagian masing-masing ahli waris.
BAB III: BAB INI BERISI TENTANG PRAKTIK PEMBAGIAN WARISAN MASYARAKAT DESA KARANGGEBANG KECAMATAN
PENUTUP
Teori Hukum Waris Islam 1. Pengertian Hukum Waris Islam
Penggunaan kata mawa>rith lebih menitikberatkan pada apa yang menjadi pokok hukum ini, yaitu harta benda yang akan dialihkan kepada ahli waris yang masih hidup. Kedua, Islam juga meramalkan adanya kemungkinan orang tua ahli waris (setidaknya ibu) meninggal dunia tanpa keturunan sebagai ahli waris. Apalagi jika mengingat sistem waris Islam yang memberikan bagian sebanyak-banyaknya kepada ahli waris dan kerabatnya.
Ahli waris terbahagi kepada dua jenis iaitu pertama waris nasabiyyah iaitu ahli waris yang hubungan keturunannya berdasarkan pertalian darah (kerabat). Sekiranya semua ahli waris hadir, maka yang berhak menerima pusaka hanyalah: anak, bapa, ibu, balu atau duda. Selebihnya mungkin disekat atau tidak, bergantung kepada sama ada ada waris lain yang menutupnya.
Hukum waris dalam ketentuan KHI adalah hukum yang mengatur tentang peralihan hak waris (tirkah) ahli waris, menentukan siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa besar bagiannya masing-masing. 1) Sistem pewarisan perseorangan artinya harta warisan dapat dibagi kepada para ahli waris, seperti yang terjadi pada masyarakat bilateral seperti (di Jawa, Batak, Sulawesi dan lain-lain). Dalam hukum adat, anak ahli waris merupakan kelompok ahli waris yang paling penting, karena merekalah satu-satunya kelompok ahli waris.
Teori Sosiologi Hukum
PRAKTIK PENYEDIAAN WARISAN MASYARAKAT DI DESA KARANGGEBANG KECAMATAN JETIS KABUPATEN PONOROGO A. Profil Desa Karanggebang Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo. Desa Karanggebang merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo Selatan. Hal ini juga dilatarbelakangi oleh kuatnya pengaruh ulama besar yaitu K. Hasan Besari yang menyebarkan agama Islam di desa Karanggebang dan Tegalsari.
Agama Islam mulai masuk ke desa Karanggebang pada tahun 1830 yaitu pada masa K. Hasan Besari, pada saat itu banyak warga Desa Karanggebang yang belajar agama kepadanya. Data terakhir menunjukkan hampir 750 masyarakat Desa Karanggebang telah tamat SD/sederajat, namun banyak juga yang mulai memasuki perguruan tinggi.76. Selain pendidikan, agama Islam juga sangat berpengaruh dalam aktivitas sosial warga Desa Karanggebang, seperti ritual selamatan, yasinan rutin setiap RT, kencrengan atau rutin pembacaan hari ulang tahun, rutin simaan mengaji, dan peringatan hari raya Islam. liburan .
Wilayah Desa Karanggebang sebagian besar didominasi oleh lahan persawahan seluas 151,89 Ha dari total luas Desa Karanggebang sebesar 238,95 Ha yang dijadikan lahan pertanian oleh masyarakat Desa Karanggebang menjadikan desa ini sebagai desa pertanian. . Sekitar 800 orang di Desa Karanggebang berprofesi sebagai petani, dan sekitar 730 orang menjadi buruh tani karena tidak mempunyai lahan sendiri. Masyarakat Desa Karanggebang menganut sistem kekeluargaan orang tua dimana garis keturunan seseorang berasal dari garis laki-laki atau garis ayah dan garis perempuan atau garis ibu.
Paparan Data Pembagian Warisan di Desa Karanggebang Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo
Namun siapa ahli warisnya masih simpang siur karena acuannya adalah hukum adat yang tidak tertulis jelas di desa Karanggebang. Padahal jika dilihat dari hukum adat Jawa, anak merupakan ahli waris yang paling utama dibandingkan dengan orang lain. Ahli waris pertama yang berhak menerima warisan adalah isteri dan anak-anak ahli waris, baik anak angkat maupun anak kandung.
Begitu pula belum ada ketentuan pasti siapa yang berhak menjadi ahli waris di Desa Karanggebang. Adapun besar kecilnya bagian masing-masing ahli waris setelah isteri pewaris meninggal dunia, tergantung pada kesepakatan keluarga. Umumnya masyarakat Desa Karanggebang Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo membagi harta warisan secara merata antara laki-laki dan perempuan, ada pula yang membaginya berdasarkan tanggung jawab/jasa ahli waris kepada ahli waris.
Sistem pembagian 2:1 sebagaimana terdapat dalam Hukum Warisan Islam atau Ringkasan Hukum Islam tidak digunakan dalam pembagian warisan di Desa Karanggebang. Pembagian harta warisan di Desa Karanggebang tidak sama dengan sistem 2:1 yang terdapat dalam Hukum Warisan Islam atau Ringkasan Hukum Islam. Alasan Tertundanya Pembagian Warisan padahal istri dari almarhum masih hidup di Desa Karanggebang Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo Salah satu instrumen penting dalam pembagian warisan adalah adanya ahli waris selain harta warisan yang meliputi adanya dari seorang ahli waris.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan tertundanya pembagian harta warisan selama istri pewaris masih tinggal di Desa Karanggebang, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo. Menurutnya, tertundanya pembagian warisan selama istri pewaris masih tinggal di Desa Karanggebang juga dilatarbelakangi oleh kurangnya kesadaran hukum masyarakat mengenai hukum waris Islam.
Analisis Terhadap Praktik Pembagian Warisan Masyarakat Desa Karanggebang Menurut Hukum Adat
Jadi, jika penulis membandingkan ketentuan Pasal 180 KHI dengan praktik pewarisan yang terdapat di Desa Karanggebang Kec. Ponorogo, dimana istri menerima bagian dari seluruh harta kekayaan suaminya yang telah meninggal, sedangkan anak ahli waris akan mewarisi setelah istri ahli waris meninggal dunia, jelas praktek pewarisan ini tidak sesuai dengan ketentuan hukum Islam, sebagaimana disebutkan di dalam artikel. 180 KHI dan belum dihormati oleh masyarakat Desa Karanggebang. Menurut asumsi penulis, praktik pewarisan yang terjadi di Desa Karanggebang bermula dari tidak segera dibagikannya harta warisan seseorang dan menunggu hingga istri pewaris meninggal dunia.
Berdasarkan beberapa faktor di atas, penulis berhipotesis bahwa tidak diterapkannya ketentuan waris syariat Islam pada KHI di Desa Karanggebang dapat dilatarbelakangi oleh beberapa alasan di atas. Seperti telah disinggung pada pembahasan sebelumnya, bahwa peralihan harta warisan yang terjadi di desa Karanggebang merupakan adat istiadat masyarakat zaman dahulu, apabila seorang ahli waris meninggal dunia dan meninggalkan isteri, anak atau ayah dan ibu, maka harta ahli waris berpindah kepada isterinya. Pelaksanaan pewarisan yang terjadi di desa Karanggebang tidak sesuai dengan keperluan pewarisan itu sendiri, dimana pewarisan itu berkaitan dengan harta benda, yang apabila tidak diberikan ketentuan (bagian-bagian rincinya) tidak menutup kemungkinan sangat mudah menimbulkan perselisihan antar ahli waris di kemudian hari.
Memang benar, ketentuan-ketentuan mengenai macam-macam ahli waris, baik internal maupun eksternal, yang terdapat dalam hukum waris Islam, secara tidak langsung mempengaruhi praktik pewarisan yang terjadi di Desa Karanggebang. Dalam Pasal 173 KHI diatas terdapat ketentuan khusus bahwa ahli waris kehilangan hak warisnya, hal ini berbeda dengan yang terjadi dalam praktek pewarisan di Desa Karanggebang, dimana ahli waris yang tidak boleh kehilangan hak warisnya maka kehilangan hak warisnya. hak atas warisan karena terhalang oleh kehadiran istri ahli waris. Dengan demikian dari pembahasan mengenai ketentuan praktek waris di desa Karanggebang, menurut penulis tidak sesuai dengan ketentuan hukum waris Islam sebagaimana tercantum dalam Pasal 180 Kompilasi Hukum Islam.
Analisis Terhadap Alasan Penundaan Pembagian Warisan Selama Istri Pewaris Masih Hidup Masyarakat Desa Karanggebang Kecamatan Jetis
Hal ini disebabkan oleh sikap masyarakat Desa Karanggebang yang menganggap ketentuan Pasal 180 KHI tidak sesuai dengan norma yang ada di desanya, terutama mengenai norma kesopanan dan kepatutan menurut standarnya. Dalam konteks penerapan hukum waris di Desa Karanggebang, kita dapat melihat mengapa masyarakat tidak menerapkan ketentuan hukum Islam yang terdapat dalam KHI, yaitu lemahnya kesadaran hukum masyarakat Desa Karanggebang. Kenyataannya, masyarakat desa Karanggebang belum sepenuhnya memahami hukum waris Islam yang terkandung dalam KHI.
Menurut warga Desa Karanggebang, ketentuan hukum waris dalam KHI hanya sebatas formalitas atau aturan saja. Menurut warga Desa Karanggebang, pembagian harta warisan saat istri ahli waris masih hidup merupakan tindakan yang bertentangan dengan norma yang berlaku di desa tersebut karena dianggap tidak pantas dan tabu. Karanggebang disebabkan oleh kurangnya kesadaran hukum masyarakat Desa Karanggebang mengenai ketentuan hukum waris Islam dan hukum positif yang ada di Indonesia.
Tampaknya kemudahan dalam menggunakan hukum waris adat membuat sebagian warga Desa Karanggebang mengabaikan hukum waris Islam dan hukum positif. Pelaksanaan pembagian pusaka di Desa Karanggebang Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo didasarkan pada ketentuan adat istiadat yang diwariskan secara turun temurun. Alasan penundaan pembagian harta warisan selama istri pewaris masih hidup dan masyarakat tidak menaati ketentuan Pasal 180 KHI tentang bagian warisan istri di desa Karanggebang kecamatan Jetis Ponorogo- kabupaten tidak melaksanakan maka dapat disimpulkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu: a).
Saran
Ketentuan Pasal 180 KHI tidak berjalan karena tidak ada sanksi hukum apabila warga tidak melaksanakan ketentuan tersebut, sehingga otomatis warga mengabaikan aturan tersebut. Mengingat KHI merupakan penegasan dan pengukuhan hukum Islam yang telah dikodifikasikan menjadi peraturan perundang-undangan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. Pengertian dan Implementasi Pembagian Warisan Masyarakat dalam Hukum Islam “Studi Kasus di Desa Joresan Kecamatan Mlarak Kabupaten Ponorogo”.