• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRAKTIKUM PROMOSI KESEHATAN KLP 4 Kelas B

N/A
N/A
B@ZALZABILA FITRIA RAMADHANI

Academic year: 2024

Membagikan " PRAKTIKUM PROMOSI KESEHATAN KLP 4 Kelas B"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1. Justifikasi: Justifikasi dalam konteks masalah kesehatan adalah penjelasan atau alasan yang mendukung perlunya penanganan atau intervensi terhadap suatu masalah kesehatan. Justifikasi ini biasanya didasarkan pada data atau informasi yang menunjukkan dampak negatif yang ditimbulkan oleh masalah kesehatan tersebut terhadap individu, kelompok, atau masyarakat secara umum.

2. Prevalensi: Prevalensi merupakan ukuran yang digunakan untuk menggambarkan seberapa luas atau seberapa banyak suatu masalah kesehatan tersebar dalam populasi pada suatu waktu tertentu.

Prevalensi dapat dihitung sebagai jumlah kasus masalah kesehatan dibagi dengan total populasi pada suatu wilayah dan periode waktu tertentu.

3. Urgensi: Urgensi masalah kesehatan mengacu pada tingkat pentingnya untuk segera mengatasi atau menangani masalah kesehatan tersebut. Masalah kesehatan yang memiliki urgensi tinggi biasanya memiliki dampak yang serius atau berpotensi menyebabkan konsekuensi yang fatal jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

4. Insiden: Insiden adalah jumlah kasus baru suatu masalah kesehatan yang muncul dalam suatu populasi pada periode waktu tertentu. Insiden menggambarkan seberapa sering kasus baru masalah kesehatan muncul dalam populasi.

5. Morbiditas: Morbiditas mengacu pada tingkat atau tingkat keparahan suatu penyakit atau masalah kesehatan dalam suatu populasi. Morbiditas dapat diukur dengan menghitung jumlah kasus penyakit atau masalah kesehatan tertentu dalam populasi yang dinyatakan dalam angka atau persentase.

6. Mortalitas: Mortalitas merupakan tingkat kematian akibat suatu penyakit atau masalah kesehatan dalam suatu populasi. Mortalitas biasanya diukur dengan menghitung jumlah kasus kematian akibat suatu penyakit dalam populasi dalam periode waktu tertentu, dinyatakan dalam angka atau persentase.

Kami mengamati prevalensi ISPA yang lebih tinggi pada anak balita di Uganda, Kenya, Sao Tome dan Principe (masing-masing 9%), Gabon, Chad, Eswatini (masing-masing 8%), Burundi, Ethiopia, Republik Demokratik Kongo (masing-masing 7,0%). Prevalensi ISPA pada balita yang mencari

pertolongan/pengobatan ke fasilitas kesehatan lebih tinggi di Afrika Selatan (88%), Sierra Leone (86%), Tanzania (85%), Guinea (83%) dan Uganda (80). %). Angka prevalensi ISPA pada balita yang mendapat antibiotik lebih tinggi terjadi pada penduduk perkotaan, keluarga berpendapatan rendah, dan ibu dengan pendidikan rendah.

Berdasarkan hasil Riskesdas (2018) prevalensi ISPA di Indonesia sebesar 9,3% diantaranya 9,0% berjenis kelamin laki-laki dan 9,7% berjenis kelamin perempuan (Kementerian Kesehatan RI, 2018). Prevalensi ISPA tertinggi terjadi pada kelompok umur satu sampai empat tahun yaitu sebesar 13,7% (Kementerian Kesehatan RI, 2018). Kasus ISPA terbanyak di Indonesia yaitu terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur 15,4%, Papua 13,1%, Banten 11,9%, Nusa Tenggara Barat

(2)

11,7%, Bali 9,7% (Kementerian Kesehatan RI, 2018).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Makassar tahun 2020, total kasus ISPA pada balita

mencapai 22.522 kasus.8 Sementara menurut data Puskesmas Tamangapa ditemukan kasus ISPA pada tahun 2018 sebanyak 1.199 kasus, tahun 2019 sebanyak 1.317 kasus, pada tahun 2020 sebanyak 493 kasus, dan pada tahun 2021 sebanyak 328 kasus ISPA pada balita. Penyakit ISPA sering menempati urutan pertama dalam daftar 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Tamangapa. Puskesmas Tamangapa merupakan salah satu puskesmas di Kota Makassar yang wilayah kerjanya berada di Kelurahan

Tamangapa.

Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) memiliki urgensi tinggi di dunia, termasuk Indonesia.

Penyakit ini cenderung menjadi epidemi dan pandemi di fasilitas pelayanan kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menerbitkan pedoman interim untuk pencegahan dan pengendalian ISPA yang berpotensi menjadi epidemi dan pandemi �� ⚕ [^1^].

Di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar 2013 menunjukkan bahwa ISPA adalah diagnosis pada 25% pasien yang mengalami penyakit menular, seperti HIV. Insidensi tertinggi dilaporkan di provinsi Nusa Tenggara Timur, Papua, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Timur[^4^].

Berdasarkan buku Profil Kesehatan Puskesmas Singorojo II tahun 2020, ISPA merupakan penyakit dengan angka prevalensi tertinggi yaitu 24,74%. Desa Kertosari memiliki prevalensi ISPA pada balita tertinggi yaitu 37,53% tahun 2021[^3^].

ISPA secara anatomi mencakup saluran pernapasan bagian atas, saluran pernapasan bagian bawah dan organ saluran pernapasan. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai 14 hari[^5^]

Jadi, urgensi penyakit ISPA sangat tinggi karena prevalensi dan dampaknya yang luas terhadap kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, edukasi dan pencegahan menjadi sangat penting untuk mengendalikan penyebaran penyakit ini ���.

Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) memiliki urgensi tinggi di Puskesmas Tamangapa, Kota Makassar. Menurut data terbaru yang ditemukan, pada bulan Juni 2018 terdapat sebanyak 260 penderita ISPA di Puskesmas Tamangapa. Puskesmas ini memiliki wilayah kerja 1 kelurahan, yaitu Kelurahan Tamangapa �.

ISPA juga menjadi penyebab utama tingkat kesakitan dan kematian akibat penyakit menular di dunia.

Selain itu,

penelitian menunjukkan bahwa ISPA berhubungan dengan kejadian stunting pada balita usia 13-59 bulan di Puskesmas Tamangapa. Stunting adalah masalah serius yang mengancam generasi mendatang dan dapat menghambat pertumbuhan fisik, mental, dan menurunkan kecerdasan anak �.

(3)

Sebagai tambahan, penelitian lainnya menunjukkan bahwa terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit ISPA pada balita di sekitar wilayah tempat pembuangan akhir (TPA) Tamangapa, Kota Makassar.

Secara keseluruhan, urgensi penyakit ISPA di Puskesmas Tamangapa, Kota Makassar sangat tinggi dan memerlukan perhatian serta penanganan yang serius untuk mencegah penyebaran dan dampak negatifnya terhadap kesehatan masyarakat, khususnya balita �� ⚕ .

Sumber: Journal STIKMKS, Repositori UIN Alauddin, ResearchGate, Forikes Ejourna Latar Belakang Penyakit ISPA:

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit infeksi yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. Infeksi ini berlangsung kurang lebih 14 hari dan dapat menyerang struktur saluran di atas laring, tetapi kebanyakan penyakit ini mengenai bagian saluran atas dan bawah secara simultan atau berurutan [^1^].

ISPA masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia. Penyakit ini menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas penyakit infeksi di seluruh dunia. Secara global, ISPA menjadi penyebab ke-7 terbesar dari terjadinya kematian terkait lingkungan [^3^].

Justifikasi Penyakit ISPA:

ISPA merupakan penyakit utama penyebab kematian bayi dan sering menempati urutan pertama angka kesakitan balita. Menurut World Health Organization (WHO), ISPA merupakan penyakit saluran

pernapasan atas atau bawah, biasanya menular, yang dapat menimbulkan berbagai spektrum penyakit [^2^].

Infeksi ini disebabkan oleh virus, jamur, dan bakteri. ISPA akan menyerang host apabila ketahanan tubuh (immunologi) menurun. Balita di bawah usia 5 tahun merupakan kelompok yang paling rentan terkena ISPA [^5^].

[^5^]: Universitas Islam Sultan Repository

[26/3 19.53] Naila Adminkes B: Insiden penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di dunia sangat tinggi. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap tahunnya terdapat sekitar 18,8 miliar kasus ISPA di seluruh dunia, dengan kematian mencapai sekitar 4 juta orang. Tingkat kematian akibat ISPA sangat tinggi, terutama pada balita, anak-anak, dan orang lanjut usia, khususnya di negara-negara dengan pendapatan per kapita rendah dan menengah.

Sebagai tambahan, Pneumonia, salah satu bentuk ISPA, menjadi penyebab kematian terbesar pada anak di dunia maupun Indonesia. Menurut data WHO tahun 2019, pneumonia menjadi penyebab 14% dari kematian anak di bawah 5 tahun.

(4)

ISPA disebabkan oleh lebih dari 300 jenis bakteri, virus, dan rakhitis, termasuk streptokokus, stafilokokus, pneumokokus, Haemophilus influenzae, Bordetella, dan Corynebacterium, serta berbagai jenis virus.

Dengan demikian, ISPA memiliki insiden yang sangat tinggi di dunia dan menjadi perhatian utama dalam bidang kesehatan global �� ⚕ .

Sumber: WHO, Kementerian Kesehatan RI, Jurnal Health Sains, P2PM Kemenkes

Insiden Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Indonesia cukup tinggi. Berdasarkan data yang ditemukan, terdapat beberapa informasi terkait insiden ISPA di Indonesia:

1. Menurut Kementerian Kesehatan RI, ISPA, terutama pneumonia, menjadi penyebab utama tingkat kesakitan dan kematian pada balita di Indonesia. Program Pencegahan dan Pengendalian ISPA difokuskan pada pengendalian penyakit pneumonia pada balita karena berkontribusi besar terhadap angka

kesakitan dan kematian balita.

2. Faktor risiko terjadinya ISPA pada balita meliputi usia bayi yang memiliki daya tahan tubuh yang rendah, terjadinya penurunan antibodi ibu pada usia 6 bulan hingga kurang dari 12 bulan, dan ketidakmatangan sistem adaptasi imun.

3. Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa kasus ISPA di seluruh dunia mencapai 18,8 miliar per tahun, dengan kematian sebanyak 4 juta orang per tahun. Tingkat mortalitas penyakit ISPA juga tinggi.

Meskipun data spesifik mengenai insiden ISPA di Indonesia belum ditemukan, informasi ini memberikan gambaran umum mengenai kondisi ISPA di Indonesia.

Sumber:

: Berdasarkan hasil pencarian, terdapat beberapa informasi terkait insiden Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Makassar, khususnya di Puskesmas Tamangapa. Berikut adalah beberapa temuan yang relevan:

1. Berdasarkan data terbaru yang ditemukan pada bulan Juni 2018, terdapat 260 penderita ISPA di Puskesmas Tamangapa di Kota Makassar. Hal ini menunjukkan adanya kasus ISPA yang signifikan di wilayah tersebut.

2. Penelitian lain menunjukkan bahwa ISPA merupakan salah satu penyakit terbanyak yang terjadi di Puskesmas Tamangapa. Data kejadian penyakit ISPA yang terbaru ditemukan pada bulan Juni 2018 dengan jumlah penderita sebanyak 260 orang.

3. Kasus ISPA pada balita di wilayah tempat pembuangan akhir sampah (TPA) Antang Makassar juga tercatat dalam penelitian. Kasus ISPA pada balita di wilayah tersebut mencapai 0,94% pada tahun 2018, 1,03% pada tahun 2019, 0,38% pada tahun 2020, dan 0,44% pada tahun 2021.

(5)

4. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Tamangapa juga telah diteliti. Salah satu temuan menunjukkan bahwa imunisasi lengkap pada balita dapat berhubungan dengan kejadian ISPA.

Data yang ditemukan menunjukkan adanya insiden ISPA yang signifikan di Kota Makassar, khususnya di Puskesmas Tamangapa. Namun, untuk informasi lebih lanjut dan data yang lebih terperinci, disarankan untuk mengakses sumber-sumber yang tercantum di bawah ini:

(6)

Fadila, F. N., Siyam, N. 2022. Faktor Risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Anak Balita. HIGEIA JOURNAL OF PUBLIC HEALTH RESEARCH AND DEVELOPMENT

Michael Ekholuenetale, Amadou Barrow. 2023. Differentials in the Prevalence of Acute Respiratory Infections Among Under-Five Children: An Analysis of 37 Sub-Saharan Countries. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC9940173/

Muh. Arman Nyomba, Wahiduddin, Rismayanti. 2022. FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI SEKITAR WILAYAH TPA SAMPAH. Hasanuddin Journal of Public Health. Volume 3 Issue 1. Hal 8-19

Muhammad Sahlan Zamaa, Kamariana, Renaldi, Muhammad Hatta. 2023. Gambaran Kejadian ISPA pada Balita di Wilayah Tempat Pembuangan Akhir Sampah Antang Makassar.

Journal of Bionursing.volume 5 issue 1. Hal 31-41

Nyimas Sri Wahyuni, M.Kep,SP,Kep.A - RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang. 2022.

Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).

https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1792/infeksi-saluran-pernapasan-atas-ispa Trimaya Cahya Mulat, Suprapto. 2018. STUDI KASUS PADA PASIEN DENGAN

MASALAH KESEHATAN ISPA DIKELURAHAN BAROMBONG KECAMATAN TAMALATE KOTA MAKASSAR. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada. Vol.6 Issue 2. Hal 1384-1387

WHO. 2020. Pusat Pengobatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut Berat.

https://www.who.int/docs/default-source/searo/indonesia/covid19/who-2019-ncov-pusat-

pengobatan-infeksi-saluran-pernapasan-akut-berat.pdf?sfvrsn=3e00f2b7_2

Referensi

Dokumen terkait

Memberikan penyuluhan kesehatan pada orang tua berobat jalan dengan kasus anak balita kurang gizi di Puskesmas Air Dingin3. dengan menggunakan kaedah penyuluhan

Berdasarkan analisa data hasil penelitian dan pembahasan Self Eficacy ibu pada balita diare dengan menggunakan model promosi kesehatan di puskesmas sei kecamatan

Data Primer yaitu data empirik atau data lapangan yang diperoleh secara langsung mengenai Signifikasi Kasus Perceraian di Pengadilan Agama Bantaeng Kelas II B

Berdasarkan data penyakit diare di Puskesmas Pilolodaa dari Bulan Januari sampai dengan Desember Tahun 2013 jumlah balita 838 yang terkena diare 272 kasus, hal

Paris Ramdoni Rasantaka Basis Data C 7 Muhammad Wildan Musthofa Basis Data D 8 Sekar Ayu Arista Kirana Basis Data D 9 Titania Tasya Sananda Basis Data E 10 Nurmalisa Oktavia Budi