PRESERVASI KARAKTER KEMARITIMAN MASYARAKAT NELAYAN TELUR IKAN TERBANG DI DESA MANGINDARA MELALUI FILM DOKUMENTER (PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT DALAM PROGRAM KULIAH KERJA
NYATA BENUA MARITIM INDONESIA UNIVERSITAS HASANUDDIN) PRESERVATION OF THE MARITICAL CHARACTER OF THE FLYING FISH EGG FISHING COMMUNITY IN MANGINDARA VILLAGE THROUGH A DOCUMENTARY
FILM
(SOCIETY SERVICE IN THE INDONESIAN MARITIME CONTINENT REAL WORK COLLEGE PROGRAM, HASANUDDIN UNIVERSITY)
Ian Adrian
e-mail: [email protected] Dosen Pendamping Dr. Irma Adriani, S.Si., M.Si.
e-mail: [email protected]
Abstrak
Pengabdian ini dilakukan di Desa Mangindara, Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, dalam program Kuliah Kerja Nyata Tematik Benua Maritim Indonesia (BMI) Gelombang 110 Universitas Hasanuddin. Mayoritas masyarakat di desa tersebut mayoritas berprofesi sebagai nelayan, karena letaknya berapa di pesisir barat Sulawesi Selatan. Aktivitas nelayan mereka begitu menonjol pada pencarian telur ikan terbang. Para nelayan di sana memiliki kearifan lokal yang telah lama bersemayam di tengah-tengah mereka. Maka dari itu, pengabdian ini akan mengemas sebuah film dokumenter yang bertujuan untuk menjaga dan melestarikan pengetahuan-pengetahun mengenai aktivitas mencari telur ikan terbang di desa tersebut. Lebih jauh, film ini bertujuan untuk menstimulus pengembangan karakter dan nilai- nilai kemaritiman masyarakat di Sulawesi Selatan. Film dokumenter tersebut telah terpublikasi di kanal Youtube Angin Timur sehingga dengan mudah disaksikan oleh banyak kalangan.
Kata kunci: Pengabdian, Maritim, Ikan Terbang, Film Dokumenter
Abstract
This service was carried out in Mangindara Village, South Galesong District, Takalar Regency, in the 110th Wave of the Indonesian Maritime Continent (IMC) Thematic Real Work Lecture program at Hasanuddin University. The majority of people in the village work as fishermen, because it is located on the west coast of South Sulawesi. Their fishing activities are very prominent in the search for flying fish eggs. The fishermen there have local wisdom that has long lived in their midst. Therefore, this service will package a documentary film which aims to maintain and preserve knowledge regarding the activity of looking for flying fish eggs in the village. Furthermore, this film aims to stimulate the development of character and maritime values of the people in South Sulawesi. The documentary has been published on the East Wind YouTube channel so that it can easily be watched by many groups.
Keywords: Devotion, Maritime, Flying Fish, Documentary Film.
1. PENDAHULUAN
Di Mangindara, Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan, terdapat nelayan-nelayan pencari telur ikan terbang. Setiap tahun menjelang bulan April, mereka sudah sibuk mempersiapkan segala kebutuhan dan peralatan untuk berburu komoditas ‘emas laut’ tersebut. Jangkauan pencarian telur ikan terbang antara lain: perairan Jawa, dekat Pulau Kalimantan, Laut Seram, hingga menyentuh batas perairan Australia. Hal ini disebabkan oleh produksi telur ikan terbang di perairan Selat Makassar—dekat mereka bermukim—telah menurun. Sementara permintaan pasar selalu besar. Negara tujuan ekspor telur ikan terbang adalah Jepang, China, Korea, Swedia, dan Lithuania dengan harga $ 30 - $40 per kilogram. Harga ini tidak tetap karena harus mengikuti nilai tukar rupiah.
Pada tahun 2002, nelayan Galesong mulai mencari telur ikan terbang ke daerah Papua Barat (Wati, 2021: 13). Berdasarkan data dari Dinas Perikanan Kabupaten Takalar, pada tahun tersebut kapal yang digunakan sebanyak 50 unit kapal, sedangkan pada tahun 2012 mencapai 912 unit (Salam, 2019: 27). Sebelum itu, pencarian hanya dilakukan di sekitar Selat Makassar.
Populasi ikan terbang di Selat Makassar (Sulawesi Selatan) memang begitu melimpah. Hal ini serupa dengan pengungkapan Nontji (1993) bahwa ikan terbang hidup berkembang di perairan yang memiliki kadar garam tinggi, seperti di Nusa Tenggara, Maluku, Irian Barat, dan Selat Makassar. Namun, karena nelayan rutin mengambil telur ikan terbang di Selat Makassar tanpa adanya regulasi yang membatasi, maka dalam perkembangan selanjutnya terjadi penurusan ketersediaan telur ikan terbang sehingga mendorong nelayan untuk mencari areal baru di tempat yang lebih jauh.
Pergi ke tempat jauh membutuhkan modal yang besar. Modal tersebut untuk menutupi kebutuhan selama melaut, seperti alat tangkap, bahan bakan kapal, konsumsi nelayan, dan juga diberikan kepada istri untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga selama suami pergi melaut.
Seturut dengan itu, ada pihak yang berperan memodali mereka dengan sistem bagi hasil yang telah ditentukan dan disepakati (Herdiana, 2019: 26).
Tidak semua nelayan di sana memiliki kapal. Banyak di antara mereka bekerja di kapal orang lain demi memperoleh penghasilan dari telur ikan terbang yang bernilai harga tinggi tersebut. Struktur dalam sebuah kapal terdiri atas, pinggawa (nahkoda) dan sawi (anak buah kapal). Pinggawa merupakan pemimpin para sawi saat dalam pelayaran (Mustafa, 2017: 75).
Pinggawa ini biasanya dipercayakan oleh pemilik kapal untuk membawa kapalnya. Ada pula yang memiliki kapal sendiri sekaligus merangkap sebagai pinggawa. Namun, kebanyakan hanya bekerja di kapal orang lain.
Perangkap telur ikan terbang yang digunakan masih sangat tradisional. Alat tersebut terbuat dari rakitan daun kelapa kering dan bambu (Wawancara Dg. Betta, Mangindara, 9 Agustus 2023). Meskipun begitu, ikan terbang begitu senang bertelur di daun kelapa tersebut.
Pada malam hari perangkap disimpan ke laut, lalu pada pagi hari diangkat kembali untuk dilihat, sampai seterusnya begitu.
Kearifan lokal para nelayan pencari telur ikan terbang di Mangindara telah menjadi bagian dari keberagaman karakter maritim di Indonesia sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada (Farid, 2014). Olehnya itu, dianggap perlu untuk melakukan pemeliharaan sekaligus pelestarian karakter kemaritiman nelayan pencari telur ikan terbang di Mangindara melalui media digital dalam bentuk film dokumenter.
Film dokumenter dapat didefinisikan sebagai perekaman realita yang ditangani sekreatif mungkin agar mampu menyampaikan berbagai pengertian yang ada dalam realitas tersebut (Biran, 2009:53). Perekaman realita ini berarti dalam film tidak sedikit pun menyampaikan sesuai yang fiktif. Apa yang dipertontonkan, demikian yang terjadi dalam masyarakat. Sampai sejauh ini, belum ada pendokumentasian melalu film mengenai sosial ekonomi nelayan di Mangindara. Paling tidak hal ini bisa menambah perbendaharaan literatur mengenai informasi kemaritiman di Indonesia melalui media yang jamak dikunjungi oleh berbagai kalangan masyarakat.
2. TUJUAN PELAKSANAAN
Tujuan dari pengabdian tersebut ialah untuk mengemas aktivitas nelayan telur ikan terbang dengan menfokuskan pada aspek sosial-ekonominya ke dalam sebuah film dokumenter sebagai bentuk preservasi dan pelestarian karakter kemaritiman yang ada di Sulawesi Selatan.
3. SASARAN KEGIATAN
Adapun sasaran kegiatan ini adalah nelayan telur ikan terbang di Mangindara, istri para nelayan, Pemerintah Desa Mangindara, Pemerintah Kecamatan Galesong Selatan, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar.
4. METODE PELAKSANAAN 4.1. Waktu dan Tempat
Pengumpulan data atau pengambilan video dimulai pada tanggal 6 Juli 2023 hingga 10 Agustus 2023. Selanjutnya pada tanggal 11 Agustus 2023 hingga 19 Agustus adalah tahap editing. Lokasi pengambilan data dan video hanya lingkup Desa Mangindara, Kecamatan Galesong Selatan, Sulawesi Selatan. Tetapi, dibutuhkan pula footage dari wilayah lain untuk mendukung pola hubungan antar wilayah dalam film.
4.2. Teknik Pengumpulan Data
Mula-mula dilakukan observasi terlebih dahulu untuk mengamati keadaan sekitar desa terutama di pesisir pantai untuk memperoleh data pengantar sembari menentukan topik film.
Setelah itu, mulai mengumpulkan data-data inti. Data yang dikumpulkan ialah data kualitatif baik dalam bentuk tulisan yang telah terbit, berita di website-website, hingga informasi lisan dari para nelayan di Desa Mangindara. Tulisan yang telah terbitkan berupa buku, dan artikel dalam jurnal. Selanjutnya dilakukan wawancara untuk dibandingkan dengan data tulisan yang telah diperoleh. Pihak-pihak yang dijadikan sebagai narasumber adalah nelayan (sawi), pemilik kapal, pemerintah desa, penjual daun kelapa (rumpun hanyut), dan istri nelayan. Namun, sebelum wawancara, terlebih dahulu melakukan pengamatan suasana sekitar, membangun kedekatan emosional dengan para nelayan, serta bercerita hal-hal kecil terkait aktivitas melaut mereka.
Setelah data dikumpulkan maka selanjutnya dilakukan penyeleksian data dan diinterpretasi. Kendati demikian, kebanyakan data dari informan dalam tetap dipertahankan keasliannya. Dalam artian, dalam filmnya, narasumber akan bercerita langsung mengenai cara menangkap, perolehan hasil tangkapan, penjualan, kapal yang digunakan, lama mencari telur ikan, keuntungan telur ikan terbang dibanding ikan besar, dan lain-lain. Adapun data dari buku, artikel dalam jurnal, skripsi, dan website digunakan sebagai perbandingan dengan data narasumber.
4.3. Metode Pengabdian
Adapun langkah-langkah pengabdian berupa pembuatan film dokumenter nelayan di Mangindara, yaitu:
Observasi Penentuan Topik
Studi Literatur
Pengambilan Video
Penyusunan Naskah Film
Editing Publikasi
Media
Laporan Kegiatan
Penjelasan dari tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Observasi. Pada tahap ini dilakukan pengamatan sekitar untuk melihat situasi desa, sembari membangun kedekatan emosional dengan penduduk, terutama para nelayan.
2. Penentuan Topik. Dari hasil observasi kemudian ditentukan topik film dokumenternya.
Topik ini yang akan menjadi acuan kerja dalam pengumpulan data-data lebih lanjut.
3. Studi Literatur. Menelusuri literatur berupa buku dan artikel dalam jurnal sebagai data yang hendak dimuat pada film dokumenter.
4. Penyusunan Naskah Film. Penyusunan naskah akan menjadi acuan alur cerita film dokumenter.
5. Pengambilan Video. Video yang diambil ialah proses wawancara dengan narasumber, pesisir pantai, dan lain sebagainya.
6. Editing. Proses penyusunan video-video yang telah diambil menjadi sebuah film yang utuh.
7. Publikasi Media. Video yang telah selesai melewati tahap pengeditan akan dipublikasi di Youtube.
8. Laporan Kegiatan. Laporan ini berisi segala informasi selama pelaksanaan kegiatan pengabdian pembuatan film dokumenter di Desa Mangindara, Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar.
5. HASIL DAN PEMBAHASAN
Film dokumenter ini telah selesai dibuat dengan durani waktu 35.31 menit dan telah terpublikasi di kanal Youtube Angin Timur pada 18 September 2023. Adapun yang bertindak sebagai sutradara dalam film ini adalah Ian Adrian, yang sekaligus juga menjadi juru kamera, periset, dan editor. Juru kamera lainnya ialah Palfianti, Rezki Fauzy, dan Salsabillah Aliyah Ramadhani. Sementara naratornya diisi oleh Nurhamdani. Narasumber yang diwawancarai dan diambil videonya sebanyak tujuh orang. Ketujuh narasumber tersebut bernama Muh. Nasrus Dg. Betta, Syamsuddin Dg. Nojeng, Syaharuddin Dg. Naba, Amirullah, Intang Dg. Sayang, Muliati, dan Badariah.
Film ini terdiri atas beberapa bagian. Pertama, berisi penjelasan mengenai profesi masyarakat di Desa Mangindara. Menurut Sekretaris Desa Mangindara, mata pencaharian masyarakat di desa tersebut didominasi oleh nelayan dan petani. Nelayan sendiri dipersentasekan sebanyak 70%, selebihnya adalah petani dan profesi lainnya (Wawancara Dg.
Betta, 2023).
Gambar 1. Publikasi Film Dokumenter Nelayan Patorani Desa Mangindara di Youtube Telur ikan terbang benar-benar menjadi sumber penopang utama perekonomian masyarakat di sana, meski waktunya musiman. Dalam satu tahun musimnya berlangsung selama enam bulan, yaitu mulai bulan April hingga September. Pada waktu tersebut, nelayan benar-benar memfokuskan diri pada pencarian telur ikan terbang. Nanti musim telur ikan terbang selesai, baru nelayan beralih mencari ikan.
Bagian kedua ialah tempat penangkapan para nelayan. Areal penangkapan para nelayan meliputi Selat Makassar, Laut Jawa, dan Laut Seram (sebelah barat Papua Barat) hingga batas perairan Australia. Di wilayah perairan Selat Makassar, mereka mencari sampai dekat Pangkep (Pangkajene dan Kepulauan) dan Pulau Kalimantan. Kapal yang digunakan bertipe GT 10 sampai 20. Sedangkan kapal yang menuju ke daerah sekitar Papua dan perbatasan Australia bertipe GT 20 hingga 30 (Wawancara Dg. Nojeng, 2023).
Gambar 2. Wawancara Syamsuddin Dg. Nojeng
Bagian ketiga, penjelasannya mengenai penghasilan dan pembagian para nelayan.
Dalam usaha ini, penghasilan sudah tentu tidak menetap. Biasanya pencarian ke wilayah Papua atau perbatasan Australia akan menuai hasil yang lebih besar dibandingkan di Selat Makassar—karena produksinya telah menurun. Menurut Dg. Nojeng, pada kisaran tahun 2014 sampai 2019, perolehan telur ikan terbang para nelayan di Desa Mangindara mencapai 700 kg hingga 1 ton. Namun, tahun 2020 sampai 2022 tidak lagi menyentuh perolehan seperti sebelumnya. Sementara hasil tangkapan yang didapat dari luar Selat Makassar, seperti perairan Papua, selalu mencapai angka ton.
Pembagiannya pada nelayan pencari berbeda-beda. Seperti telah dijelaskan pada bagian awal, terdapat struktur dalam nelayan pencari telur ikan terbang. Ada pemodal, pemilik kapal, punggawa, dan sawi. Sebelum dibagi kepada nelayan-nelayan pencari, bila memperoleh keuntungan maka akan dipotong sekian persen untuk pemodal, misal 10%. Setelah itu dipotong lagi untuk mengembalikan modal atau ongkos yang telah dipakai sebelum melaut. Sisa dari itu dibagi dua, setengah diambil oleh pemilik kapal, dan setengahnya lagi dibagi kepada pinggawa dan sawi. Pinggawa akan memperoleh hasil lebih besar dibanding sawi (Wawancara Dg.
Nojeng, 2023).
Sistem seperti di atas rupanya bukan lagi hal baru, melainkan kebiasaan lama dari masa perdagangan abad ke-16. Menurut Tome Pires dalam buku Lapian yang berjudul Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad Ke-16 dan 17 (2017), raja-raja Pahang, Kampar, dan Indragiri bukanlah seorang pedagang. Mereka bahkan tidak terlihat aktif dalam perdagangan laut.
Namun, mereka memiliki kantor dagang di Malaka dengan menempatkan wakil-wakilnya.
Mereka menanam saham di sana. Saham merekalah yang menjadi modal untuk berlayar dan berdagang para pedagang dengan keuntungan yang disepakati (Lapian, 2017: 60).
Adapula raja atau sultan lain memiliki kapal. Biasanya mereka menugaskan seorang nahkoda untuk menjalankan kapal-kapalnya. Tidak hanya kapal, barang-barang dalam kapal pun sebagian milik raja atau sultan. Pires sendiri mengutarakan bahwa setiap kapal atau jung yang berangkat dari Malaka pasti di dalamnya terdapat barang milik sultan (Lapian, 2017 : 60).
Tidak hanya itu, di Banten, sebagaimana catatan Lodenwycksz pada tahun 1595 dalam buku Lapian, memperlihatkan adanya penguasa yang berperan memberi modal kepada para pedagang dengan sistem bagi hasil tertentu. Modal yang dikeluarkan mesti kembali. Jika tidak
maka itu akan menjadi hutang para pedagang kepada pemodal. Untuk jaminannya anak dan istri para pedagang diambil oleh penguasa sampai pedagang tersebut melunasi utangnya. Di Mangindara pun sama, modal bos nelayan harus kembali, dan bila tidak maka para nelayan telur ikan terbang memiliki hutang yang harus dilunasi (Wawancara Dg. Naba, 2023).
Gambar 2. Wawancara Syaharuddin Dg. Naba
Bagian keempat menjelaskan tentang cara dan waktu menangkap telur ikan terbang.
Perangkap akan diturunkan ke laut sebanyak mungkin pada malam hari. Biasanya dilakukan sekitar pukul 00.00 atau 01.00. Lalu, di pagi hari perangkap tersebut akan diangkat untuk diperiksa, bila terdapat telur ikan maka langsung dilepas dan disimpan ke tempat yang telah di sediakan. Perangkap kemudian akan diturunkan kembali ke laut, begitulah seterusnya. Telur ikan tersebut kemudian akan dijemur.
Bagian kelima berisi penjelasan alat tangkap yang digunakan. Masyarakat nelayan di sana menyebutnya bala-bala atau rumpun hanyut. Alat ini terbuat dari daun kelapa kering dan bambu. Daun kelapa tersebut didatangkan dari Pulau Sabaru dan Balo-Baloa. Dari pulau tersebut dibeli seharga 55 ribu per ikat, kemudian akan dijual kepada nelayan-nelayan seharga 60 ribu per ikat. Penjual rumpun hanyut biasanya membeli dalam jumlah yang banyak, misalnya sepuluh ribu. Pasalnya, nelayan dan kapal pencari telur ikan terbang di Mangindara begitu banyak (Wawancara Amirullah, 2023).
Ketika musim telur ikan terbang berlangsung, nelayan akan jarang bertemu sang istri.
Olehnya, istri akan mengurus rumah tangga seorang diri, dan untuk segala kebutuhan rumah tangga sudah berikan oleh suami sebelum pergi melaut. Namun, beberapa istri nelayan melakukan kerja serabutan lainnya untuk membantu perekonomian keluarga. Paralel dengan itu, pada bagian kelima dijelaskan mengenai aktivitas istri di rumah saat suami berlayar.
Film ini diakhiri dengan penjelasan terkait kegiatan nelayan setelah musim telur ikan terbang selesai. Ketika musim tersebut selesai, para nelayan akan beralih mencari ikan besar meski keuntungannya tidak sebesar penjualan telur ikan terbang. Ikan yang ditangkap antara lain: ikan sunu dan kakap merah. Namun, hasil tangkapan ikan di perairan Selat Makassar telah menurun sejak adanya penambangan pasir untuk proyek reklamasi di sebelah barat Pantai Losari, Kota Makassar (Wawancara Dg. Nojeng, 2023).
6. SIMPULAN
Film ini telah selesai digarap dan terpublikasi di media Youtube dengan durasi waktu selama 35.31 menit. Film ini terdiri atas enam bagian, yaitu: (1) Menampilkan tentang mata pencaharian masyarakat di Desa Mangindara; (2) Lokasi penangkapan telur ikan terbang; (3) Penghasilan dan pembagian dari penjualan telur ikan terbang; (4) Tata cara dan waktu menangkap telur ikan terbang; (5) alat tangkapan; (6) Kegiatan nelayan pasca musim telur ikan terbang.
7. UCAPAN TERIMA KASIH
Tidak luput penulis mengucapkan terima kasih setulus-tulusnya kepada Pemerintah Desa Mangindara atas dukungannya dalam pengabdian pembuatan film dokumenter ini.
Selanjutnya kepada para narasumber yang telah meluangkan waktu untuk dimintai informasinya sebagai kunci utama dari film ini. Ibu Irma Andriani selaku dosen pendamping dalam kegiatan pengabdian ini, dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Takalar yang telah memberikan bantuan dana untuk pembuatan film dokumenter ini.
8. BAHAN RUJUKAN Buku dan Artikel Jurnal
Biran, M. Y. 2009. Sejarah Film 1900 – 1950: Bikin Film di Jawa. Jakarta: Komunitas Bambu.
Farid, H. 2014. Arus Balik Kebudayaan: Sejarah sebagai Kritik. Buku Pidato Kebudayaan, Dewan Kesenian Jakarta.
Herdiana. 2019. “Analisis Pola Distribusi Usaha Telur Ikan Terbang Di Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar”. Genec Swara, Vol. 13 No. 1. Hlm. 23 – 29.
Lapian, A.B. 2017. Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad Ke-16 dan 17. Yogyakarta:
Komunitas Bambu.
Mustafa, M. D. & A. A. Arief. 2017. “Kajian Struktur Sosial Kelompok Nelayan Ikan Terbang di Kabupaten Takalar (Studi Kasus Desa Bontomaranu Kecamatan Galesong Selatan)”. Jurnal Perikanan dan Kelautan, Vol. 7 No. 1. Hlm. 71 – 81.
Nontji, A. 1993. Marine Archipelago. Second Printing. Jakarta: Djambatan.
Salam, M. A. “Studi Pemasaran dan Pola Distribusi Usaha Telur Ikan Terbang di Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan”. Jurnal Riset Perikanan dan Kelautan, Vol. 1.
No. 1, Hlm. 26 – 36.
Wati, Y.T. 2021. “Pemanfaatan Ikan Terbang dan Telur Ikan Terbang di Indonesia”. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap: Kementerian Kelautan Dan Perikanan.
Wawancara
Amirullah, 9 Agustus 2023, Mangindara. Galesong Selatan.
Badariah, 1 Agustus 2023 Mangindara. Galesong Selatan.
Betta, Muh. Nasrun N. Dg. 9 Agustus 2023. Mangindara, Galesong Selatan.
Muliati, 1 Agustus 2023. Mangindara, Galesong Selatan
Naba, Syaharuddin Dg. 25 Juli 2023. Mangindara, Galesong Selatan Nojeng, Syamsuddin Dg. 9 Agustus 2023. Mangindara, Galesong Selatan Sayang, Intan Dg. 8 Agustus 2023. Mangindara, Galesong Selatan.