Terkait penafsiran ini, Sudarto mengingatkan, lembaga penegak hukum dalam sistem peradilan pidana menetapkan undang-undang masing-masing di wilayah dan yurisdiksinya masing-masing. Berlawanan dengan pemikiran tersebut, fungsi sistem peradilan pidana harus dilihat sebagai jaringan peradilan. Ketentuan tersebut nampaknya dimaksudkan untuk memberikan legitimasi kepada penyidik, perwira TNI AL, aparat Polri dan PPNS KKP untuk melakukan penyidikan terhadap tindak pidana perikanan yang terjadi di WPP RI, dan tetap dipertahankan.
Adapun yang dimaksud dengan kebijakan pidana dalam penanganan tindak pidana perikanan adalah penegasan akan koordinasi yang lebih efektif dan efisien antar penyidik dalam penanganan tindak pidana perikanan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perikanan. Penetapan kewenangan penyidikan tindak pidana di bidang perikanan sebagai bagian dari penegakan hukum pidana yang bersifat konkrit telah dilakukan sejak diundangkannya Undang-Undang Perikanan yang pertama yaitu Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1985, namun dengan semakin bertambahnya perkembangan yang maju didukung oleh teknologi modern, sehingga Undang-Undang Perikanan Tahun 1985 kemudian mengalami perubahan dengan Undang-undang No. 31 Tahun 2004, dimana pada pasal 3 yaitu penjelasan umum ditekankan. Dengan demikian, dipandang perlu adanya penegakan hukum terhadap tindak pidana perikanan sebagai sarana perlindungan serta pengendalian dan pencegahan terhadap tindakan yang mengganggu pengelolaan dan kelestarian sumber daya perikanan dan lingkungannya. pelaksanaan.
Pelaksanaan proses penegakan hukum terhadap tindak pidana perikanan tentunya sangat wajar, karena seperti diketahui dari aspek pidana, fungsi penegakan hukum hanya untuk melindungi kepentingan individu, masyarakat dan negara. Melakukan penggeledahan sarana dan prasarana perikanan yang diduga digunakan atau tempat dilakukannya tindak pidana di bidang perikanan. Menghentikan, memeriksa, menangkap, membawa dan/atau menahan kapal dan/atau orang yang diduga melakukan tindak pidana perikanan.
Dengan demikian, penyidik tindak pidana perikanan yaitu penyidik kepolisian, penyidik pegawai negeri sipil, dan penyidik angkatan laut masing-masing berwenang melakukan penyidikan tindak pidana perikanan sesuai dengan undang-undang atau dasar pelaksanaan kewenangan penyidikan tindak pidana perikanan, yang kesemuanya itu dalam lingkup sistem keseluruhan sistem peradilan pidana terpadu, sebagaimana dimaksud dalam KUHAP, dimana proses penyidikan tindak pidana penangkapan ikan yang melibatkan ketiga penyidik tersebut di atas, harus dalam komitmen yang kuat dengan tetap mengutamakan koordinasi bersama sesuai kewenangan yang diberikan dalam hukum.
Koordinasi Penyidikan Tindak Pidana Perikanan Antara Lembaga Penegak Hukum
Dari perspektif penegakan hukum pidana secara abstrak, tindak pidana perikanan diatur secara jelas dalam UU Perikanan sebagai bagian dari rumusan tindak pidana di bidang perikanan. Untuk mengatasi terjadinya illegal fishing, pengaturan tentang tindak pidana penangkapan ikan diatur dalam bab XV pasal 84 sampai dengan pasal 104 dan dijelaskan pada bab sebelumnya. Ketentuan Pasal 73 ayat (1) UU Perikanan (UUN No. 31/2004) menegaskan bahwa penyidikan tindak pidana di bidang perikanan di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Indonesia dilakukan oleh Pejabat Perikanan Sipil ( PPNS), pejabat penyidik Tentara Nasional Indonesia, Angkatan Laut (TNI AL) dan/atau Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), namun dalam Pasal 73 UU Perikanan No.
Selain Penyidik TNI Angkatan Laut, Penyidik Perikanan Sipil diberi wewenang untuk mengusut tindak pidana di bidang perikanan yang terjadi di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI). Sedangkan pada paragraf 3 dirumuskan bahwa penyidikan tindak pidana di bidang perikanan yang terjadi di pelabuhan perikanan diprioritaskan oleh penyidik pejabat perikanan. Menarik untuk ditelaah penambahan kedua alinea dalam UU No 45 Tahun 2009 bahwa dalam proses penyidikan tindak pidana perikanan terdapat kecenderungan kepentingan saling tarik menarik dalam proses penyidikan penyidik, yang penting perlu diingat bahwa setiap aparat penegak hukum yang berwenang merasa memiliki hak yang sama.
Penegakan hukum melalui penggunaan sarana pemidanaan atau hukum pidana, diharapkan penyidik sebagai aparat penegak hukum mampu berperan penting dalam mewujudkan sistem peradilan pidana yang terpadu dan terkoordinasi. Selain Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia, Penyidik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan departemen yang ruang lingkup dan tanggung jawabnya meliputi perikanan diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam KUHAP untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang perikanan. Dari segi hukum formil, UU Perikanan mengakomodir tiga instansi yang berwenang melakukan penyidikan tindak pidana di wilayah perairan Indonesia pada umumnya dan di wilayah Kepulauan Aru pada khususnya, yaitu Perwira Angkatan Laut, Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan Instansi Tertentu. Penyidik Pegawai Negeri Sipil.
Namun demikian, berbagai peraturan perundang-undangan yang ada tidak secara tegas dan jelas mengatur pembagian kewenangan, maupun mekanisme kerja yang jelas, sehingga ketiga instansi tersebut dapat mengklaim kewenangan dalam penegakan hukum tanpa adanya sistem yang terintegrasi dalam mekanisme koordinasi antar instansi dan terjadinya adanya benturan kepentingan dalam pengelolaan pelaksanaannya, sehingga efektifitas koordinasi dalam penyidikan tindak pidana perikanan di wilayah Kepulauan Aru belum maksimal atau belum terlaksana dengan baik. Diperlukan kelembagaan untuk mengusut tindak pidana perikanan dan aturan zona penanganan antar penyidik sehingga tidak menimbulkan tumpang tindih kewenangan dalam penyidikan dan juga dapat meningkatkan koordinasi. Memahami apa yang dikemukakan Muladi dan Barda di atas, dapat dikemukakan bahwa penegakan hukum pidana termasuk tindak pidana perikanan, baik secara substantif maupun prosedural, sebenarnya harus terintegrasi dengan baik, agar tidak menimbulkan konflik norma dan nilai, karena menurut Muladi, penegakan hukum adalah penerapan baik norma maupun nilai nilai di balik norma.19.
Apa yang dikatakan wajar, karena sampai saat ini penegakan hukum di laut yang dilakukan oleh instansi pemerintah masih tumpang tindih dan berduplikasi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berbeda, seharusnya instansi pemerintah yang menegakkan hukum penangkapan ikan di laut. Saat ini, Kepulauan Aru adalah rumah bagi kanguru penghuni pohon dan kasuari yang tidak bisa terbang. Bahkan bisa dibilang puluhan tahun Kepulauan Aru luput dari perhatian perusahaan penebangan kayu Indonesia.
Jumlah nelayan di Kabupaten Kepulauan Aru pada tahun 2019 sebanyak 18.519 orang dengan jumlah kelompok nelayan sebanyak 1.720 orang. Hal tersebut di atas merupakan kerja keras dan tanggung jawab bersama semua pihak sehingga Kabupaten Kepulauan Aru menjadi salah satu kabupaten yang memiliki prospek dan masa depan cerah di bidang perikanan.
Tantangan Dan Upaya Perbaikan Dalam Menjawab Efektifitas Penyeenggaraan Peradilan Perikanan
Menyikapi hal tersebut, diperlukan koordinasi dalam sistem yang lebih besar, yaitu antara penyidik Polri, penuntut umum, hakim dan reserse bahkan penasehat hukum, yang diatur oleh aturan hukum substantif dan prosedural, yaitu kewenangan penegakan hukum secara individual. agensi. berupa hak dan kewajiban untuk mengatur sistem hukum, serta tindakan paksaan untuk memeriksa seseorang yang disangka/dituduh melakukan tindak pidana. Jika dipahami sifat dari “pendekatan sistemik” sebagaimana dikemukakan di atas, maka dapat dikatakan bahwa pendekatan ini berguna tidak hanya untuk menangani tindak pidana biasa menurut KUHAP, tetapi juga untuk berbagai tindak pidana yang penyelesaiannya dalam selain menggunakan KUHAP, juga merupakan pedoman penanganan tindak pidana tertentu menurut peraturan perundang-undangan acara pidana khusus. Untuk menjamin keseragaman dan kepastian hukum bagi penyidik dalam penanganan perkara tindak pidana di bidang perikanan secara cepat dan tepat, maka dibuat pedoman bagi penyidik dalam penanganan perkara tindak pidana perikanan yaitu kesepakatan bersama antara Kementerian Kelautan dan Perikanan di republik ini. Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut No. : KB.05A/DJP2SDKP/2008, No.
Kesepakatan tersebut mengatur bahwa penyidikan tindak pidana penangkapan ikan dilakukan oleh PPNS di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara. Republik Indonesia, Penyidik TNI AL di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) dan Perairan Indonesia, dan Penyidik Polri di Perairan Indonesia. Adapun yang dimaksud dengan Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia meliputi perairan Indonesia; Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia; serta sungai, danau, waduk, rawa, dan badan air lainnya yang dapat dimanfaatkan, serta kawasan pembudidayaan ikan yang potensial di wilayah negara Republik Indonesia.
Untuk menangani tindak pidana penangkapan ikan dan tindak pidana tertentu di laut dibentuk Badan Keamanan Laut (Bakamla). 24Puteri Hikmawati, Masalah Hukum Dalam Penyelidikan Pelanggaran Perikanan, Jurnal Negara Hukum: Vol. Pendirian BAKAMLA sebenarnya merupakan persyaratan Pasal 60 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2014 tentang Kemaritiman (disingkat UU Kemaritiman) yang mengatur antara lain tentang pembentukan Badan Keamanan Laut sebagai lembaga pemerintah nonkementerian di bawah Presiden yang tugas utamanya melakukan patroli keamanan dan keselamatan di wilayah perairan Indonesia dan wilayah hukum Indonesia.
Jadi disini, BAKAMLA merupakan revitalisasi dari BAKORKAMLA yang telah diperkuat kewenangannya yaitu menjadi pusat komando penegakan hukum di wilayah perairan Indonesia sebagaimana diatur dalam Pasal 63. Berdirinya BAKAMLA akan menggeser paradigma penegakan hukum di laut dari multi -agency multi task to single agency multi task, yang dalam prakteknya akan menciptakan efisiensi dan efektifitas, serta penegakan hukum yang nyata. Oleh karena itu, pembentukan BAKAMLA dalam hukum laut juga tidak dapat menjadi solusi yang dapat menyelesaikan masalah penegakan hukum perikanan di laut.
Pekerjaan yang dilakukan hanya melakukan patroli keamanan dan keselamatan di wilayah perairan dan yurisdiksi Indonesia, sehingga tidak khusus untuk tindak pidana illegal fishing. Kewenangan Bakamla tidak diatur dalam Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan Sebagai Peneliti, sehingga keberadaan Bakamla tidak dapat mempengaruhi penegakan hukum terhadap illegal fishing yang terjadi di perairan yurisdiksi nasional. Kewenangan Bakamla adalah segera melakukan pengejaran, penghentian, penyidikan, penangkapan, penyitaan dan penyerahan kapal kepada instansi terkait yang bertanggung jawab untuk proses peradilan lebih lanjut, mengintegrasikan sistem informasi keamanan dan keselamatan di perairan Indonesia.