PROBLEMATIKA GURU DALAM MENGEMBANGKAN MEDIA PEMBELAJARAN PADA MUATAN BAHASA INDONESIA DI MI NW
NURUL HARMAIN NARMADA TAHUN PELAJARAN
Oleh
Meyyana Andriyani NIM
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM
PROBLEMATIKA GURU DALAM MENGEMBANGKAN MEDIA PEMBELAJARAN PADA MUATAN BAHASA INDONESIA DI MI NW
NURUL HARMAIN NARMADA TAHUN PELAJARAN
Skripsi
diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar
Sarjana Pendidikan
Oleh
Meyyana Andriyani NIM
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi oleh : Meyyana Andriyani, NIM : dengan judul “Problematika Guru dalam Mengembangkan Media Pembelajaran Pada Muatan Bahasa Indonesia di MI NW Nurul Haramain Narmada” telah memenuhi syarat dan disetujui untuk diuji.
Disetujui pada tanggal : Januari
Pembimbing I,
Dr. Muammar, M.Pd.
NIP.
Pembimbing II,
Ahmad Khalakul Khairi, M.Ag NIP.
NOTA DINAS PEMBIMBING
Mataram, Januari Hal : Ujian Skripsi
Yang Terhormat
Dekan Fakultas Trbiyah dan Keguruan Di Mataram
Assalamu’alaikum, Wr.Wb.
Dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi, kami berpendapat bahwa skripsi saudari :
Nama Mahasiswa : Meyyana Andriyani NIM :
Jurusan : Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Judul :Problematika Guru dalam Mengembangkan Media Pembelajaran Pada Muatan Bahasa Indonesia di MI NW Nurul Haramain Narmada Tahun Pelajaran Telah memenuhi syarat untuk diajukan dalam siding sidang skripsi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram. Oleh karena itu, kami berharap agar skripsi ini dapat segera di-munaqasyah-kan.
Wassalamu’alaikum, Wr.Wb.
Pembimbing I,
Dr. Muammar, M.Pd.
NIP.
Pembimbing II,
Ahmad Khalakul Khairi, M.Ag NIP.
PENGESAHAN
Skripsi oleh : Meyyana Andriyani, NIM : dengan judul
“Problematika Guru dalam Mengembangkan Media Pembelajaran Pada Muatan Bahasa Indonesia di MI NW Nurul Haramain” yang diajukan oleh Meyyana Andriyani NIM. . telah dipertahankan di depan dewan penguji Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Mataram pada tanggal ________________
Dewan Penguji
Dr. Muammar. M.Pd ________________________
( Ketua Sidang/Pemb. )
Ahmad Khalakul Khairi, M.Ag _______________________
( Sekretaris Sidang/Pemb. II)
H. Ridwan, M.Pd ________________________
(Penguji I)
Drs. H. Nujumuddin,M.Pd _________________________
(Penguji II)
MOTTO
“ Yakin adalah kunci jawaban dari segala permasalahan Dengan bermodal yakin merupakan obat mujarab penumbuh semangat hidup”
PERSEMBAHAN Skripsi ini saya persembahkan untuk :
. Allah SWT yang telah memberikan kesehatan, rahmat, hidayah, rezeki dan semua yang saya butuhkan. Allah sutradara terhebat.
. Kedua orangtuaku, umi dan bapak serta adik ku tersayang Yudia Lara Duta Wati dan Halqi Ade Agus Sanjaya, terima kasih atas doa, motivasi, semangat, cinta, kasih, sayang dan pengorbanan yang telah diberikan.
. Bapak Dr. Muammar M.Pd dan Ahmad Khalakul Khairi, M.Ag, terima kasih atas segala bantuan, bimbingan dan motivasi.
. Keluarga besar pondok pesantren Nurul Haramain
. Sahabat perjuangan di pondok khususnya alumni (syvia eka safitri, Hayatul Faniah, Kharisma Wandani, Florida Anggraini) terima kasih atas segalanya.
. Sahabatku yang selalu mengisi hari-hariku dengan kecriaan dan selalu memberikan semangat untuk menyelesaikan skripsi ini (Baiq. Maya Daura, Nuruhandayani Hasanah, Siti Alfiana, Yeni Rostiana) . Sababat perjuangan kelas B PGMI angkatan , terima kasih atas
waktunya yang berharga selama tahun lebih ini.
. Almamaterku tercinta, terima kasih.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah Swt. dengan limpahan, rahmat, taufik-Nya sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada baginda Nabi besar Muhammad SAW, keluarga dan kepada seluruh sahabat dan shahabiah beliau yang turut memperjuangkan Islam yang merupakan Agama Allah SWT.
Penulis menyadari bahwa proses penyelesaikan skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang ela membantu sebagai berikut.
. Dr. Muammar M.Pd. sebagai Pembimbing dan Ahmad Khalakul Khairi, M.Ag. sebagai Pembimbing II yang memberikan bimbingan, motivasi, dan koreksi mendetail, terus-menerus, dan anpa bosan ditengah kesibukannya dalam suasana keakaban menjadikan skripsi ini lebih matang dan cepat selesai.
. Bapak Dr. Ahmad Sulhan, M.pd selaku ketua jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.
. Dr. Hj.Lubna, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan . Prof. Dr. H. Mutawali, M.Ag. selaku Rektor UIN Mataram yang telah
memberi tempat bagi penulis untuk menuntut ilmu dan memberi bimbingan dan peringatan untuk tidak berlama-lama di kampus tanpa pernah selesai.
. Bapak dan Ibu Dosen PGMI UIN Mataram yang telah banyak memberikan bimbingan selama studi di UIN Mataram.
. Guru-guru di MI NW Nurul Haramain yang telah memberikan informasi yang terkait dengan pelaksanaan penelitian dalam rangka penyusunan
skripsi ini. Semoga amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. dan semoga
Narmada, _______________
Penulis,
Meyyana Andriyani
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii
NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vi
HALAMAN MOTTO ... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN... viii
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
ABSTRAK ... xv BAB PENDAHULUAN ...
A. Latar Belakang Masalah ...
B. Rumusan Masalah ...
C. Tujuan dan Manfaat ...
D. Ruang Lingkup Dan Setting Penelitian ...
E. Telaah Pustaka ...
F. Kerangka Teori...
G. Metode Penelitian...
H. Sistematika Pembahasan ...
BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ...
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ...
.Sejarah Berdirinya MI NW Nurul Haramain ...
.Visi, Misi dan Tujuan Madrasah ...
.Kondisi Geografis ...
.Keadaan Guru MI NW Nurul Haramain ...
.Keadaan Siswa MI NW Nurul Haramain ...
.Keadaan Sarana dan Prasarana ...
B. Paparan Data dan Temuan ...
. Problematika Guru dalam Mengembangkan Media Pembelajaran pada Muatan Bahasa Indonesia ...
. Kendala-Kendala Guru dalam Mengembangkan Media Pembelajaran ...
. Solusi-Solusi Guru dalam Mengembangkan Media Pembelajaran Pada Muatan Bahasa Indonesia ...
BAB III PEMBAHASAN ...
A. Problematika Guru dalam Mengembangkan Media Pembelajaran pada Muatan Bahasa Indonesia ...
B. Kendala-Kendala Guru dalam Mengembangkan Media Pembelajaran ...
C. Upaya Guru dalam Mengembangkan Media Pembelajaran Pada Muatan Bahasa Indonesia ...
BAB IV KESIMPULAN ...
A. Kesimpulan ...
B. Saran ...
DAFTAR PUSTAKA ...
LAMPIRAN-LAMPIRAN ...
DAFTAR TABEL
Tabel Nama-Nama Guru MI NW Nurul Haramain, . Tabel Jumlah Siswa MI NW Nurul Haramain Narmada, . Tabel Jumlah Ruang Kelas MI NW Nurul Haramain, .
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Instumen Lembaran Observasi
Lampiran Pedoman dan Hasil Wawancara kepala Madrasah Lampiran Pedoman dan Hasil Wawancara kepada Guru Kelas Lampiran Pedoman dan Hasil Wawancara kepada Guru Kelas Lampiran Pedoman dan Hasil Wawancara kepada Guru Kelas Lampiran Pedoman dan Hasil Wawancara kepada Guru Kelas Lampiran Pedoman dan Hasil Wawancara kepada Guru Kelas Lampiran Pedoman dan Hasil Wawancara kepada Guru Kelas Lampiran Dokumentasi Poto Penelitian
Lampiran Dokumentasi Surat Izin Penelitian
PROBLEMATIKA GURU DALAM MENGEMBANGKAN MEDIA PEMBELAJARAN PADA MUATAN BAHASA INDONESIA DI MI NW
NURUL HARAMAIN NARMADA TAHUN PELAJARAN Oleh:
Meyyana Andriyani NIM:
ABSTRAK
Penelitian ini dilatar belakangi oleh rasa keingin tahuan peneliti terhadap problematika guru dalam mengembangkan media pembelajaran di MI NW Nurul Haramain. Focus yang dikaji dalam penelitian ini adalah ( ) bagaimanakah problematika guru dalam mengembangkan media pembelajaran pada muatan bahasa Indonesia ? ( ) apa saja kendala guru dalam mengembangkan media pembelajaran pada muatan bahasa Indonesia? ( ) bagaimana solusi yang dilakukan guru dalam mengembangkan media pembelajaran?.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Adapun prosedur pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Dengan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), penarikan kesimpulan (conclusion drawing).
Dengan melakukan pengecekan keabsahan data melalui, perpanjangan keikutsertaan atau pengamatan, ketekunan atau keajegan pengamatan, trianggulasi. Sumber data dari hasil wawancara diperoleh melalui kepala madrasah dan guru-guru kelas di MI NW Nurul Haramain.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti bahwa ( ) guru menggunakan media pembelajaran jika memang alat media pembelajaran tersedia dan sesuai dengan materi yang diajarkan. akan tetapi guru-guru masih kurang dalam mengembangkan media pembelajaran tersebut ( ) kendala yang menjadi penghalang guru dalam mengembangkan media pembelajaran tersebut adalah, minimnya dana, keterbatasan waktu, kurangnya kreativitas guru dalam mengembangkan media media pembelajaran, materi yang susah dicarikan alat media pembelajaran ( ) solusi atau upaya yang dilakukan oleh guru dalam menhadapi kendala tersebut dengan cara mencari informasi melalui internet tentang bagaimana cara mengembangkan media pembelajaran, dongeng, permainan di dalam kelas, berdiskusi dengan guru lainnya dan mengikuti seminar- seminar tentang bagaiamana cara mengembangkan media pembelajaran.
Kata kunci : Problematika, Guru, Media Pembelajaran, dan Bahasa Indonesia.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan menjadi salah satu aspek penting dalam membentuk karakter generasi penerus bangsa. Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh suatu masyarakat untuk memelihara kelangsungan hidup kebudayaan dan peradaban masyarakat. Sekolah merupakan tempat yang strategis untuk melaksanakan rekayasa pedagogis guna mewujudkan kelangsungan hidup kebudayaan dan peradaban masyarakat.
Pendidikan adalah sesuatu yang sangat diperlukan oleh manusia, melalui pendidikan tersebut manusia dapat mengalami proses pembelajaran pengetahuan. Dalam proses pembelajaran tersebut dibutuhkan seseorang sebagai mediator sehingga tujuan pembelajaran tersebut dapat tercapai. Dan mediator yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran tersebut adalah tugas utama seorang guru.
Dunia pendidikan tidak terlepas dari peran seorang guru. Peran guru sangat dibutuhkan dalam program pendidikan. Karena tanpa guru siapa yang akan mengajar anak-anak di sekolah. Guru adalah seorang tenaga pendidik profesional yang mendidik, mengajarkan suatu ilmu, membimbing, melatih, memberikan penilaian, serta melakukan evaluasi kepada peserta didik.
Definisi guru adalah seseorang yang telah mengabdikan dirinya untuk mengajarkan suatu ilmu, mendidik, mengarahkan, dan melatih muridnya agar
memahami ilmu pengetahuan yang diajarkannya tersebut profesi yang tidak mudah.1
Tidak mudah menjadi guru yang baik, dikagumi dan dihormati oleh anak didik, masyarakat sekitar dan rekan seprofesi. Menjadi professional, berarti menjadi ahli dalam bidangnya. Seorang ahli, tentunya berkualitas dalam melaksanakan pekerjaanya. Akan tetapi tidak semua ahli dapat menjadi berkualitas. Karena menjadi berkualitas bukan hanya persoalan ahli, tetapi juga menyangkut persoalan integritas dan personality. Dalam perspektif pengembangan sumber daya manusia, menjadi professional adalah satu kesatuan antara konsep personality dan integritas yang dipadupadankan dengan skil atau keahliannya. Dalam hal ini profesionalisme seorang guru sangatlah penting, karena menjadi guru professional itu tidak segampang yang kita bayangkan, tetapi perlu kerja keras untuk menjadikan pembelajaran itu menjadi lebih bermakna dalam proses pembelajaran yang baik.2
Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan, kenyataan bahwa guru jarang menggunakan dan mengembangkan media pembelajaran dikarenakan minimnya pengetahuan guru tentang mengembangkan media pembelajaran dan menggunakannya. hal ini menyebabkan pembelajaran menjadi mototon setiap harinya, sehingga siswa cepat merasa bosan dan kurang aktif dalam proses pembelajaran. Padahal dengan adanya media pembelajaran peserta lebih mudah mengerti dan cepat memahami pelajaran
1 Rulitawati, Husein Ritonga dan Hasibuan, Model Pengelolaan Kinerja Guru, (Palembang : Tunas Gemilang Press, ), hlm. .
2 Moh. Noor, Guru Profesional dan Berkualitas, ( Semarang : Alprin, ), hlm. .
yang diajarkan. Sehingga guru akan terbantu dalam mengajar. Karena fungsi utama dari media pembelajaran adalah sebagai alat bantu pengajaran.3
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intlektual, social, dan emosional pesrta didik dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpatisipasi dalam masyarakat yang menggunakan kemampuan analitis dan imaginative yang ada dalam dirinya.
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi local, regional, nasional, dan global.
Adapun media pembelajaran yang dibuat oleh guru pada mata pembelajaran bahasa Indonesia yaitu eja abjad. Sedangkan media yang tidak pernah dibuat oleh guru adalah boneka tangan untuk meningkatkan
3 MI NW Nurul Haramain Narmada, Observasi, September
kemampuan bercerita pada siswa. Media wayang kertas sebagai media untuk meningkatkan kemampuan berbicara.
Adapun kendala yang menyebabkan guru tidak menggunakan dan mengembangkan media pembelajaran tersebut dikarenakan ( ) ada beberapa materi yang sulit untuk dirancang dan dicarikan medianya, ( ) guru merasa rumit untuk membuat media pembelajaran, ( ) membutuhkan biaya, dan ( ) tidak tersedia, ( ) guru kurang tahu cara menggunakan media pembelajaran .4 Banyaknya permasalahan dan kendala yang di hadapi guru dalam mengembangkan media pembelajaran yang ada di sekolah, hal inilah yang menjadi dasar untuk dilakukannya penelitian yang berjudul “Problematika Guru dalam Mengembangkan Media Pembelajaran pada Muatan Bahasa Indonesia di MI NW Nurul Haramain Narmada Tahun Pelajaran ” B. Rumusan Masalah
. Bagaimanakah penggunaan media pembelajaran pada Muatan Bahasa Indonesia di MI NW Nurul Haramain?
. Apa saja problematika guru dalam mengembangkan media pembelajaran?
. Bagaimanakah solusi guru dalam mengatasi problematika pengembangan media pembelajaran di MI NW Nurul Haramain?
C. Tujuan dan Manfaat . Tujuan
a. Untuk mengetahui penggunaan penggunaan media pembelajaran pada Muatan Bahasa Indonesia di MI NW Nurul Haramain.
4 Maharani, Wawancara, Oktober
b. Untuk mengetahui problematika guru dalam mengembangkan media pembelajaran.
c. Untuk mengetahui solusi guru dalam mengatasi problematika pengembangan media pembelajaran di MI NW Nurul Haramain
. Manfaat
a. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan dapat dijadikan sebagai refrensi untuk penelitian berikutnya.
b. Manfaat Praktis ) Manfaat bagi Guru
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi para guru khususnya, guru muatan Indonesia agar dapat menambah pengetahuan bagaimana seorang guru menghadapi problematika mengembangkan media pembelajaran.
) Manfaat bagi Siswa
Penelitian ini diharapapkan dapat menerima variasi model pembelajaran, sehingga terhindar dari rasa jenuh dan bosan.
) Manfaat bagi Sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam rangka meningkatkan perbaikan pembelajaran di kelas, sehingga didapat hasil yang optimal pada muatan Bahasa Indonesia maupun muatan pembelajaran yang lain.
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian . Ruang Lingkup
Problematika guru dalam mengembangkan media pembelajaran pada muatan Bahasa Indonesia di MI NW Nurul Harmain Narmada Tahun Pelajaran
. Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MI NW Nurul Haramain Narmada.
Alasan peniliti melakukan penelitian disini karena MI NW Nurul Haramain merupakan MI yang tergolong cukup bagus dan memiliki fasilitas yang lengkap dari segi kualitas dan kuantitas.
E. Telaah Pustaka
Beberapa penelitian yang relevan dengan permasalahan yang diangkat pada penelitian ini antara lain :
. Puspa Ristina Kusumawardani ( ) berjudul, “ Problematika Guru Dalam Pengembangan Media Pembelajaran Geometri Berbasis IT di SMP, hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga guru tersebut belum pernah mengembangan media pembelajaran geometri berbasis IT karena kurangnya kemampuan dalam mengoperasikan software pendukung pembelajaran seperti Ms. Power point, beban mengajar ketiga guru sebanyak jam/minggu mengakibatkan kurangnya waktu untuk latihan dalam mengembangkan, serta sarana dan prasarana sekolah yang kurang mendukung seperti listrik, LCD dan komputer, guru masih mendominasi pembelajaran menggunakan metode ceramah karena siswa
mengalami banyak kendala dalam operasi hitung perkalian dan pembagian. Berdasarkan data hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada problematika guru dalam mengembangkan media pembelajaran.5
Dari penelitian di atas, terdapat persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini. Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian yang dilaksanakan ini adalah sama-sama mengungkapkan permasalahan terhadap problematika pengembangan media pembelajaran. sedangkan perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan ini adalah pokok bahasan yang diajarkan dan kelas yang menjadi tempat penelitian juga berbeda.
. Pramita Ricky ( ), “ Problematika Guru dalam Membuat Media Pembelajaran di SMA Negeri Malang, hasil penelitian menunjukkan bahwa kendala guru membuat media pemelajaran adalah ( ) profil media pembelajaran yang digunakan oleh guru PKN di SMA Negeri di Kota Malang dapat dikelompok ke dalam (a) media visual dan (b) multimedia berbasis pengalaman langsung. Setiap bentuk media dipergunakan untuk mencapai SK dan KD yang berbeda, sedangkan prosedur penyediaan media pembelajaran melalui: membeli dan membuat. ( ) Setiap guru PKN SMA Negeri di Kota Malang mempunyai problematika masing-masing antara lain : (a) guru PKN SMA Negeri Malang mengalami problematika kurangnya waktu untuk membuat media pembelajaran, (b) guru PKN
5 Puspa Ristina Kusumawardani, Problematika Guru Dalam Pengembangan Media Pembelajaran Geometri Berbasis IT di SMP, Tahun Pelajran .
mengalami problematika kurangnya waktu dalam membuat media pembelajaran serta jam pelajaran pelajaran PKn yang hanya jam sehingga tidak mencukupi apabila menggunakan media pembelajaran, selain itu kondisi siswa yang belum mempunyai keinginan belajar yang tinggi juga menjadi problematika dalam membuat media pembelajaran, (c) Guru mengalami problematika kurangnya keterampilan atau kemampuan dalam membuat media pembelajaran IT seperti power point, (d) Guru juga mengalami problematika kurangnya keterampilan atau kemampuan dalam membuat media pembelajaran IT serta biaya dalam pembuatan media pembelajaran selain sulitnya menselaraskan antara materi dengan media yang akan dibuat, (e) Guru mengalami problematika kurangnya keterampilan/kemampuan baik dalam membuat maupun menggunakan media pembelajaran IT yang ada di sekolah (f) Guru mengalami problematika kurangnya respon siswa dalam kerjasama membuat media pembelajaran.
Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan ini adalah sama-sama membahas media pembelajaran. sedangkan perbedaanya adalah pokok bahasan yang diajarkan dan kelas yang menjadi tempat penelitian juga berbeda.6
. Soewarno ( ) berjudul, “ Kendala - Kendala yang Dihadapi Guru Dalam Memanfaatkan Media Berbasis Komputer di SD Negeri Banda Aceh, hasil penelitian menunjukkan bahwa kendala yang
6 Pramita Ricky, Problematika Guru dalam Membuat Media Pembelajaran di SMA Negeri Malang, Tahun Pelajaran .
dialami guru dalam memanfaatkan media berbasis Komputer di SD Negeri Banda Aceh adalah usia yang lanjut, biaya media yang mahal yaitu computer dari infokus, keterbatasan fasilitas yang dimiliki sekolah, jumlah siswa yang terlalu besar pada kelas, tidak pernah diberikan pelatihan penggunaan computer disekolah, tidak mampu dalam penggunaan computer disekolah, tidak mampu dalam penggunaan computer, tidak seluruh guru memiliki latar belakang mampu dalam penggunaan computer dan disarankan kepada pihak sekolah untuk menyediakan computer atau laptop dan infokus serta memberikan pelatihan penggunaan computer disekolah sehingga seluruh guru mampu menggunakan dan menerapkan pada penggunaan media berbasis computer.7
Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan ini adalah sama-sama sama-sama focus terhadap problematika pengembangan media pembelajaran. sedangkan perbedaanya adalah pokok bahasan yang diajarkan dan kelas yang menjadi tempat penelitian juga berbeda.
F. Keragka Teori
. Tinjauan Tentang Guru a. Pengertian Guru
Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Dalam undang-undang ini kedudukan guru
7 Soewarno, Kendala - Kendala yang Dihadapi Guru Dalam Memanfaatkan Media Berbasis Komputer di SD Negeri Banda Aceh
sebagai pendidik professional pada jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar dan menengah, pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.8
Pendapat lain menyatakan bahwa Pengertian guru adalah seorang tenaga pendidik profesional yang mendidik, mengajarkan suatu ilmu, membimbing, melatih, memberikan penilaian, serta melakukan evaluasi kepada peserta didik. Definisi guru adalah seseorang yang telah mengabdikan dirinya untuk mengajarkan suatu ilmu, mendidik, mengarahkan, dan melatih muridnya agar memahami ilmu pengetahuan yang diajarkannya tersebut.9 Pendapat lain menyatakan bahwa guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik.10
Dari penjelasan beberapa ahli di atas, dapat dipahami bahwa guru tidak hanya mengajarkan pendidikan formal, tapi juga pendidikan lainnya dan bahwa guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik, baik secara individual maupun klasikal, di sekolah maupun di luar sekolah.
b. Persyaratan Guru
Menjadi guru berdasarkan tuntutan hati nurani tidaklah semua orang dapat melakukannya, karena orang harus merelakan sebagian
8 Rulitawati, Husein Ritonga dan Hasibuan, Model Pengelolaan Kinerja Guru, (Palembang Tunas Gemilang Press, ), hlm. .
9 Dewi Safitri, Menjadi Guru Profesional ( Riau : PT. Indragiri Dot Com, ), h. .
10 Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta : PT Rineka Cipta, ), hlm. .
besar dari seluruh hidup dan kehidupannya mengabdi kepada Negara dan bangsa guna mendidik anak didik menjadi manusia susila yang cakap, demokratis, dan bertanggung jawab atas pembangunan dirinya dan pembangunan bangsa dan Negara.
Menjadi guru menurut Prof. Dr. Zakiah Daradjat tidak sembarangan, tetapi harus memenuhi beberapa persyaratan seperti dibawah ini :
) Takwa kepada Allah swt. Guru, sesuai dengan tujuan pendidikan islam, tidak mungkin mendidik anak didik agar bertakwa kepada Allah, jika ia sendiri tidak bertakwa kepada-Nya.
) Berilmu, ijazah bukan semata-mata secarik kertas, tetapi suatu bukti, bahwa pemiliknya telah mempunyai ilmu pengetahuan dan kesanggupan tertentu yang diperlukannya untuk suatu jabatan.
) Sehat jasmani, kesehatan jasmani kerapkali dijadikan salah satu syarat bagi mereka yang melamar untuk menjadi guru. Guru yang mengidap penyakit menular, umpamanya sangat membahayakan kesehatan anak-anak.
) Berkelakuan baik, budi pekerti guru penting dalam pendidikan watak anak didik. Guru harus menjadi teladan, karena anak-anak bersifat suka meniru.11
c. Peranan Guru
Banyak peranan yang diperlukan dari guru sebagai pendidik, atau siapa saja yang telah menerjunkan diri menjadi guru. Semua peranan yang diharapkan dari guru seperti diuraikan dibawah ini :
) Korektor
Sebagai korektor, guru harus bisa membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk. Kedua nilai yang berbeda ini harus betul-betul dipahami dalam kehidupan di masyarakat.
) Inspirator
Sebagai inspirator, guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi kemajuan belajar anak didik. Persoalan belajar
11 Syaiful Bahri Djamarah, Guru …, hlm .
adalah masalah utama anak didik. Guru harus dapat memberikan petunjuk (ilham) bagaimana cara belajar yang baik.
) Informator
Sebagai informator, guru harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selain sejumlah bahan pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum. Informasi yang baik dan efektif diperlukan dari guru.
) Organisator
Sebagai organisator, adalah sisi lain dari peranan yang diperlukan dari guru. Dalam bidang ini guru memiliki kegiatan pengelolaan kegiatan akademik, menyusun tata tertib sekolah, menyusun kalender akademik dan sebagainya. Semua diorganisasikan, sehingga dapat mencapai efektivitas dan efisien dalam belajar pada diri anak didik.
) Motivator
Sebagai motivator, guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bergairah dan aktif belajar. Dalam upaya memberikan motivasi, guru dapat menganalisis motif-motif yang melatarbelakangi anak didik malas belajar dan menurun prestasinya di sekolah.
) Inisiator
Dalam peranannya sebagai inisiator, guru harus dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran. Proses interaksi edukatif yang ada sekarang harus diperbaiki sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pendidikan.
) Fasilitator
Sebagai fasilitator, guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar anak didik.
) Pembimbing
Peranan guru yang tidak kalah pentingnya dari semua peran yang disebutkan di atas, adalah sebagai pembimbing.
) Demonstrator
Dalam interkasi edukatif, tidak semua bahan pelajaran dapat anak didik pahami. Apalagi anak didik yang memiliki inteligensi yang sedang. Untuk bahan pelajaran yang sukar dipahami anak didik, guru harus berusaha membantunnya, dengan cara memperagakan apa yang diajarkan secara didaktis, sehingga apa yang guru inginkan sejalan dengan pemahaman anak didik, tidak terjadi kesalahan pengertian antara guru dan anak didik.
Tujuan pengajaran pun dapat tercapai dengan efektif dan efesien.
) Pengelola kelas
Sebagai pengelola kelas, guru hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik, karena kelas adalah tempat berhimpun semua
anak didik dan guru dalam rangka menerima bahan pelajaran dari guru
) Mediator
Sebagai mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenisnya, baik media nonmaterial maupun materiil. Media berfungsi sebagai alat komunikasi guna mengefektifkan proses interaksi edukatif.
) Supervisor
Sebagai supervisor, guru hendaknya dapat membantu, memperbaiki, dan menilai secara kritis terhadap proses proses pengajaran. Teknik-teknik supervisi guru kuasai dengan baik agar dapat melakukan perbaikan terhadap situasi belajar mengajar menjadi lebih baik.
) Evaluator
Sebagai evaluator, guru dituntut untuk menjadi seorang evaluator yang baik dan jujur, dengan memberikan penilaian yang menyentuh aspek ekstrinsik dan intrinsic.12
d. Kode Etik Guru
Kode etik guru ini merupakan ketentuan yang mengikat semua sikap dan perbuatan guru. Bils guru telah melakukan perbuatan asusila dan amoral berarti guru telah melanggar kode etik guru. Sebab kode etik guru ini sebagai salah satu ciri yang harus ada pada profesi guru itu sendiri.
Berbicara mengenai kode etik guru Indonesia, berarti kita membicarakan guru di Negara kita. Berikut akan dikemukakan kode etik guru Indonesia sebagai hasil rumusan kongres PGRI XIII pada
12 Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak didik Dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta : PT Rineka Cipta, ), hlm. - .
tanggal sampai dengan November di Jakarta, terdiri dari Sembilan item, yaitu :
) Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila.
) Guru memiliki kejujuran professional dalam menerapkan kurikulum sesuai kebutuhan anak didik masing-masing.
) Guru mengadakan komunikasi, terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
) Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua anak didik sebaik- baiknya bagi kepentingan anak didik.
) Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat di sekitar sekolahnya maupun masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
) Guru sendiri atau bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
) Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesama guru, baik berdasarkan lingkungan kerja maupun dalam hubungan keseluruhan.
) Guru secara hokum bersama-sama memelihara, membina, dan meningkatkan mutu organisasi guru professional sebagai sarana pengabdiannya.
) Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.
Kode etik guru ini merupakan suatu yang harus dilaksanakan sebagai barometer dari sikap dan perbuatan guru dalam berbagai segi kehidupan, baik dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat.13
e. Kompetensi Guru Dalam Konteks Kebijakan
Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional, pemerintah telah merumuskan empat jenis kompetensi guru sebagaimana tercantum dalam penjelasan peraturan pemeritah No. Tahun tentang standar nasional pendidikan, yaitu :
) Kompetensi Pedagogik
13 Ibid, Hlm. - .
Kompetensi pedagogic yang harus dikuasai guru meliputi pemahaman guru terhadap siswa, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan siswa untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Secara rinci, tiap subkompetensi dijabarkan menjadi indicator esensial sebagai berikut.
a) Memahami siswa secara mendalam b) Merancang pembelajaran
c) Melaksanakan pembelajaran
d) Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran
e) Mengembangka siswa untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya.
) Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian bagi guru merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, berakhlak mulia dan berwibawaa, dan dapat menjadi teladan bagi siswa. Secara rinci, subkompetensi kepribadian terdiri atas :
a) Kepribadian yang mantap dan stabil b) Kepribadian yang dewasa
c) Kepribadian yang arif
d) Akhlak mulia dan dapat menjadi teladan e) Kepribadian yang berwibawa
) Kompetensi Sosial
Kompetensi social merupakan kemampuan yang harus dimiliki guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan siswa,
sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua atau wali siswa, dan
Masyarakat sekitar. Kompetensis ini memiliki subkompetensi dengan indicator esensial sebagai berikut.
a) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan siswa.
b) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan tenaga kependidikan.
c) Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua atau wali siswa dan masyarakat sekitar.
) Kompetensi professional
Kompetensi professional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang harus dikuasai guru mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan subtansi keilmuan. Setiap subkompetensi tersbut memiliki indicator esensial sebagai berikut.
a) Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi. Hal ini berarti guru harus memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah, memahami struktur, konsep, dan metode keilmuan yang menangungi dan koheren dengan materi ajar, memahami hubungan konsep antar mata pelajaran terkait dan menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam proses belajar – mengajar.
b) Menguasai struktur dan metode keilmuan memiliki implikasi bahwa guru harus menguasai langkah-langkah
penelitian dan kajian kritis untuk memperdalam pengetahuan atau materi bidang studi.14
. Tinjauan Tentang Media Pembelajaran a. Pengertian Media Pembelajaran
Secara etimologi, kata media berasal dari bahasa lain
“medium” yang artinya perantara, sedangkan dalam bahasa Arab media berasal dari kata “wasaaila” artinya pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Rudy Sumiharsono dan Hisbiyatul Hasanah mengutip beberapa pengertian media belajar mrnurut para ahli sebagai berikut :
) Gelach dan Ely ( ) mengemukakan bahwa media belajar merupakan alat-alat grafis, fotografis atau elektronis untuk menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.
) Heinich, dkk. ( ) mengemukakan bahwa media pembelajaran merupakan pembawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan pembelajaran atau mengandung maksud-maksud pembelajaran.
) Martin dan Briggs ( ) mengemukakan bahwa media pembelajaran mecakup semua sumber yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dengan pembelajaran. Hal ini bisa berupa perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan pada perangkat keras.
) H. Malik ( ) memukakan bahwa media belajar adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (bahan pembelajaran), sehingga dapat meransang perhatian, minat, pikiran danperasaan pembelajaran dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.15
14 Suyanto dan Jihad Asep, Menjadi Guru Profesional, ( Jakarta : Erlangga, ), hlm. - .
15 Sumiharsono Rudy dan Hisbiyatul Hasanah, Media Pembelajaran, ( Jember : CV Pustaka Abadi, ), hlm. - .
Dari penjelasan beberapa ahli di atas, dapat dipahami bahwa media pembelajaran adalah alat bantu yang digunakan dalam proses pelaksanaan pembelajaran.
b. Ciri-Ciri Media Pembelajaran
Gerlach dan Ely ( ) Mengemukakan tiga ciri media yang merupakan petunjuk mengapa media digunakan dan apa-apa saja yang dapat dilakukan oleh media yang mungkin guru tidak mampu (atau kurang efesien) melakukannya.
) Ciri Fiksatif (Fixative Property)
Ciri ini menggambarkan kemampuan media meekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek suatu peristiwa atau objek dapat diurut dan disusun kembali dengan media seperti fotografi, video tape, audio tape, disket computer, dan film.
) Ciri Manipulatif (Manipulative Proverty)
Transformasi suatu kejadian atau objek dimungkinkan karena media memiliki ciri manipulative. Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording. Misalnya, bagaimana proses larva menjadi kepompong kemudian menjadi kupu-kupu dapat dipercepat dengan teknik rekaman fotografi tersebut.
) Ciri Distributif (Distributive Property)
Ciri distributive dari media memungkinkan suatu objek atau kejadian ditransportasikan melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan stimulus pengalaman yang relative sama mengenai kejadia itu.16
c. Fungsi Media Pendidikan
16 Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, ).
Hlm. - .
Dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang amat penting adalah metode mengajar dan media pembelajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pembelajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain tujuan pembelajaran, jenis tugas dan respon yang diharapkan siswa kuasai setelah pembelajaran berlangsung, dan konteks pembelajaran termasuk karakteristik siswa.
Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.
Hamalik mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh- pengaruh psikologis terhadap siswa.
Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. Selain membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data
dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi.
Levie dan lentz mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu fungsi atensi, fungsi afektif, fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris.
Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.
Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar.
Gambar atau lambing visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang menyangkut masalah social atau ras.
Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambing visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. Dengan kata lain, media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal.17
d. Jenis-Jenis Media Pembelajaran
17 Ibid, hlm. - .
. Media Visual
Media visual berfungsi untuk menyalurkan pesan dari sumber ke penerima pesan. Pesan yang akan disampaikan dituangkan kedalam bentuk-bentuk visual. Selain itu fungsi media visual juga berfungsi untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, menggambarkan fakta yang mungkin dapat mudah untuk dicerna dan diingat jika disajikan dalam bentuk visual. Jenis-jenis media visual, antara lain gambar atau foto, sketsa, diagram, bagan, grafik, kartun, poster, peta dan globe, papan planel, dan papan bulletin.
. Media Audio
Media audio adalah jenis media yang berhubungan dengan indera pendengaran. Pesan yang akan disampaikan dituangkan pada lambang-lambang auditif. Jenis-jenis media audio, antara lain radio dan alat perekam atau tape recorder.
. Media Proyeksi Diam
Jenis-jenis media proyeksi diam, antara lain adalah film bingkai, film rangkai, OHP, Mikrofis.18
e. Pengunaan media
Salah satu ciri media pembelajaran adalah bahwa media mengandung dan membawa pesan atau informasi kepada penerinama yaitu siswa. Sebagian media dapat mengolah pesan dan respons siswa sehingga media itu sering disebut media interaktif. Pesan dan informasi yang dibawa oleh media bisa berupa pesan yang sederhana dan bisa pula pesan yang amat kompleks.
18 Saifuddin, Pengelolaan Pembelajaran Teoritis danPraktis, (Yogyakarta : Deepublish, ).hlm. .
Berikut ini akan diuraikan prinsip-prinsip penggunaan dan pengembangan media pembelajaran. Media pembelajaran yang akan dibahas tersebut akan mengikuti taksonomi lehsin, dan kawan-kawan yaitu media berbasis manusia (guru, instruktur, tutor, main peran, kegiatan kelompok, dan lain-lain), media berbasiscetakan (buku, penuntun, buku kerja atau latihan, dan lembaran lepas), media berbasis visual (buku, charts, grafik, peta, figure atau gambar, transparansi, film bingkai atau slide, media berbasis audio-visual (video, film, slide bersama tape, televise), dan media berbasis computer (pengajaran dengan bantuan computer video interaktif).19
. Tinjauan Tentang Belajar dan Pembelajaran a. Pengertian Belajar dan Pembelajaran
Belajar adalah suatu aktivitas atau suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian.20 Belajar adalah kemampuan manusia untuk belajar merupakan ciri penting yang mebedakan jenis manusia dan jenis makhluk lain. Dengan kemampuan belajar dapat memberikan manfaat bagi individu dan juga masyarakat.21
Dari penjelasan beberapa ahli di atas, dapat dipahami bahwa belajar adalah merupakan kegiatan penting setiap orang, termasuk di dalamnya belajar bagaimana seharusnya belajar. Dengan kemampuan belajar dapat memberikan manfaat bagi individu dan juga masyarakat.
Bagi individu, dengan kemampuan individu untuk belajar secara terus-
19 Ibid. hlm - .
20 Suryono dan Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, ), hlm. .
21 Karwono dan Heni Mularsih, Belajar dan Pembelajaran, (Depok : PT Raja Grafindo Persada, ), hlm. .
menerus memberikan sumbangan bagi pengembangan berbagai gaya hidup.
Pembelajaran adalah upaya yang dilakukan oleh factor eksternal agar terjadi proses belajar pada individu yang belajar. Hakikat pembelajaran secara umum dilukiskan Gagne dan Brigss adalah serangkaian kegiatan yang dirancang yang memungkinkan terjadinya proses belajar.22 Pembelajaran adalah proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar, bagaimana belajar memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan dan sikap.23
Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa pembelajaran adalah pembelajaran mengandung makna setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu individu mempelajari sesuatu kecakapan tertentu. Oleh sebab itu, dalam pembelajaran pemahaman karakteristik internal individu yang belajar menjadi penting. Proses pembalajaran merupakan aspek yang terintegrasi dan proses pendidikan.
b. Tujuan Belajar dan Pembelajaran
Tujuan belajar adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsungnya proses belajar. Karena belajar merupakan cara yang akurat untuk menentukan hasil pembelajaran.24
Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa Tujuan belajar adalah suatu hasil dari kegiatan pembelajaran sebagai tanda bahwa
22 Ibid, hlm. - .
23 Dimyati dan mudjiono, Belajar dan Pembelajaran ( Jakarta : Rineka Cipta, ), hlm .
24 Hamalik Oemar, Proses Belajar Mengajar, ( Jakarta : Bumi Aksara, ), hlm.
siswa telah mengikuti kegiatan pembelajaran dan hasil yang diperoleh berupa pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari belajar adalah adanya perubahan tingkah laku yang terjadi pada siswa yang bersifat permanen sebagai hasil dari kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di dalam kelas.
Sehingga siswa memiliki kompetensi-kompetensi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Tujuan pembelajaran merupakan titik awal yang sangat penting dalam pembelajaran, sehingga baik arti maupun jenisnya perlu dipahami betul oleh setiap guru maupun calon guru. Tujuan pembelaajaran merupakan komponen yang harus dirumuskan oleh guru dalam pembelajaran, karena merupakan sasaran dari proses pembelajaran. Mau dibawa ke mana siswa, apa yang harus dimiliki oleh siswa, semuanya tergantung pada tujuan yang ingin dicapai.25
Dari penjelasan beberapa ahli di atas, dapat dipahami bahwa tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku yang diharapkan siswa setelah melaksanakan pembelajaran.
. Tinjauan tentang Muatan Bahasa Indonesia a. Hakikat Muatan Bahasa Indonesia
Hakikat bahasa dilihat dari aspek bunyi dan isyarat, symbol (huruf dan gambar), dan makna. Dari ketiga aspek ini dapat didefinisikan bahwa bahasa adalah suatu bunyi ujaran atau isyarat yang dapat disimbolkan melalui huruf atau gambar yang berbeda-
25 Wina, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, ( Bekasi : Kencana Prenadamedia, ), hlm. - .
beda, masing-masing bunyi atau isyarat dan symbol atau gambar tersebut memiliki makna yang berbeda-beda pula.26
Bahasa merupakan alat komunikasi yang berupa system lambing bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia. Bahasa terdiri atas kata-kata atau kumpulan kata. Masing-masing mempunyai makna, yaitu hubungan abstrak antara kata sebagai lambang dan objek atau konsep yang diwakili kumpulan kata atau kosakata itu oleh ahli bahasa disusun secara alfabetis. Atau menurut urutan abjad, disertai penjelasan artinya dan kemudian dibukukan menjadi sebuah kamus.
Secara sederhana, bahasa dapat diartikan sebagai alat untuk menyampaikan sesuatu yang terlintas di dalam hati. Namun lebih jauh bahwa bahasa adalah alat untuk berinterkasi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan. Dalam studi sosiolinguistik, bahasa diartikan sebagai sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam, dan manusiawi.
Bahasa adalah sebuah sistem, artinya bahasa dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Sistem bahasa berupa lambang-lambang bunyi, setiap lambang bahasa melambangkan sesuatu yang disebut makna atau konsep. Karena setiap lambang bunyi itu memiliki atau
26 Zulela, Pembelajaran Bahasa Indonesia, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, ), hlm. .
menyatakan suatu konsep atau makna, maka dapat di simpulkan bahwa setiap suatu ujaran bahasa memiliki makna.27
b. Tujuan Bahasa Indonesia
Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :
. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis
. Menghargai dan bangga menggunakan Indonesia sebagai bahasa pesrsatuan dan bahasa Negara
. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan
. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intlektual, serta kematangan emosional dan social
. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa
. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intlektual manusia Indonesia.28
c. Ruang Lingkup Muatan Bahasa Indonesia
27 ibid
28 Kemendiknas, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor Tahun tentang Standar Isi, (Jakarta : Kemendiknas, ), h. - .
Sesuai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan KTSP saatt ini, pembelajaran bahasa Indonesia pada jenjang SD/MI mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra meliputi aspek :
) Mendengarkan ) Berbicara ) Membaca ) Menulis
Kemampuan bersastra untuk sekolah dasar bersifat apresiatif. Karena dengan sastra dapat menanamkan rasa peka terhadap kehidupan, mengajarkan siswa bagaimana mengahargai orang lain, mengerti hidup, dan belajar bagaimana menghadapi berbagai persoalan, selain sebagai hiburan dan kesenangan juga siswa dapat belajar mempertimbangkan makna yang terkandung di dalamnya.29
Tiap-tiap keterampilan itu erat sekali hubungannya dengan tiga keterampilan lainnya dengan cara yang beraneka ragam.
Dalam memperoleh keterampilan berbahasa, kita biasanya melalui suatu hubungan urutan yang teratur. Mula-mula pada masa kecil belajar menyimak bahasa kemudian berbicara, sesudah itu kita belajar membaca dan menulis. Menyimak dan berbicara kita pelajari sebelum memasuki sekolah.
29 Zulela, Pembelajaran Bahasa Indonesia, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, ), hlm. .
Keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan suatu kesatuam, merupakam catur-tunggal. Selanjutnya, keterampilam itu erat pula berhubungan dengan proses- prosesyang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah pula dan jelas pula jalan pikirannya.
Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktik dan banyak pelatihan. Melatih keterampilan berbahasa pula melatih keterampilan berfikir.30
. Media Pembelajaran dalam Muatan Bahasa Indonesia a. Pengertian Media dalam Muatan Bahasa Indonesia
Media pembelajaran bahasa Indonesia adalah alat yang digunakan oleh siswa maupun guru untuk memperlancar proses belajar mengajar bahasa Indonesia, papan planel, gambar, bumbung subtitusi merupakan contoh media pembelajaran bahasa Indonesia yang sangat sederhana.31
b. Fungsi Media Pembelajaran Bahasa Indonesia
Dalam muatan bahasa Indonesia, fungsi media dapat dikhususkan pada keterampilan bahasa, yaitu ( ) fungsi media dalam pembelajaran mendengarkan atau menyimak, ( ) fungsi media dalam pembelajaran membaca, dan ( ) fungsi media dalam pembelajaran menulis.
30 Sri Satata, Bahasa Indonesia, (Jakarta : Mitra Wacana Media, ), hlm. .
31 Jauharoti Alfin, dkk. Pembelajaran Bahasa Indonesia MI, ( Surabaya : LAPIS- PGMI), hlm. .
) Fungsi media dalam pembelajaran mendengarkan atau menyimak adalah sebagai berikut :
a. Memotivasi siswa-siswi untuk mencari dan mendapatkan sesuatu lebih banyak dengan mendengarkan.
b. Agar siswa-siswi merasa bahwa apa yang didengarkan berhubungan dengan kehidupan nyata
c. Memberi petunjuk tentang makna detil d. Memberi petunjuk tentang makna pokok
e. Memberi materi non verbal yang bisa dipahami32 ) Fungsi media dalam pembelajaran berbicara
a. Memotivasi siswa-siswi untuk ingin berani berbicara b. Mengembangkan dalam wicaranya
c. Memberi informasi dalam wicara yang menyangkut objek, tindakan, peristiwa, dan keterkaitannya
d. Memberi isyarat-isyarat non verbal dengan aman e. Mendorong untuk berdialog atau menemukan ) Fungsi media dalam pembelajaran membaca
a. Memotivasi siswa-siswi agar ingin membaca b. Memberikan petunjuk makna detail
c. Memberikan petunjuk tentang isi paragraph atau wacana d. Memberikan informasi tambahan berkenaan dengan isi teks e. Memberikan materi non verbal yang dipahaminya
32 ibid
f. Memberikan analisis simbolik tentang hubungan bahasa tulis dan bunyi luar
) Fungsi media dalam pembelajaran menulis a. Memotivasi siswa-siswi
b. Mengembangkan konteks dalam tulisan
c. Memberikan informasi yang menyangkut objek, tindakan, peristiwa, dan keterkaitannya
d. Memberikan isyarat non verbal dari latihan manipulasi e. Menyediakan rencana non verbal untuk menulis karangan c. Wujud Media Pembelajaran Bahasa Indonesia
Media pembelajaran bahasa Indonesia dibedakan atas media pandang (visual), media dengar (audio), media pandang dengar (audio visual), media cetak, objek fisik nyata, dan media computer.
Media pandang meliputi gambar buram dan gambar tembus pandang. Gambar buram meliputi sketsa, kartun, lukisan dinding, potongan gambar, chart, grafik, dan peta.
Gambar tembus pandang meliputi slide,gambar bergerak.
Media dengar meliputi radio, kaset. Media pandang dengar meliputi televise, video. Media cetak meliputi buku-buku pelajaran, buku bacaan, bunga rampai, kamus, ensiklopedia, buku cerita, majalah, dan Koran. Objek nyata meliputi lingkungan alam,
lingkungan social, lingkungan budaya, nara sumber, dan hasil karya siswa-siswi.33
d. Kriteria dan Prinsip-prinsip Pemilihan Media Pemblajaran Bahasa Indonesia
Dalam pemilihan media pembelajaran bahasa Indonesia, juga perlu dipertimbangkan prinsip pemilihan media. Prinsip yang dimaksud adalah sebagai berikut :
) Prinsip yang pertama yaitu prinsip efisien atau hemat. Artinya, apakah media yang dipilih dapat terjangkau pengadaanya. Guru bahasa Indonesia harus benar-benar mampu memilih media bahasa Indonesia sesuai dengan jangkauan guru dan sekolah . jadi, seorang guru bahasa Indonesia tida meninggalkan prinsip ini.
) Prinsip ketersediaan (availability factor). Maksudnya, apakah media yang dipilihnya itu benar-benar tersedia saat dibutuhkan.
Hal ini, biasanya dilupakan guru pada saat menetukan media pembelajaran (BI). Misalnya, guru sudah menentukan media pembelajaran tertentu, ternyata pada saat media itu dibutuhkan tidak tersedia.34
G. Metode Penelitian
33 Ibid., hlm.
34 Ibid.,hlm.
. Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengidentifikasi problematika guru dalam mengembangkan media pembelajaran dengan jenis studi kasus. Penelitian studi kasus merupakan penelitian yang lebih menekankan pada kedalaman informasi serta bersifat deskriftif dengan data yang berbentuk kata-kata atau gambar pada suatu tempat tertentu.35 . Kehadiran Peneliti
Peneliti dalam melaksanakan penelitian berperan sebagai pengumpulan data, peneliti sebagai partisipan penuh dengan informan yang mengetahui kehadiran peneliti dalam statusnya sebagai peneliti.
. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di MI NW Nurul Haramain Narmada.
Lokasi ini dipilih dikarenakan permasalahan yang diangkat pada penelitian ini ditemukan pada sekolah tersebut sebagaimana dijelaskan pada latar belakang.
Selain itu, sekolah ini adalah satu naungan dimana saya sekolah ketika saya Aliah, dan sekolah ini dinilai bagus oleh masyarakat sekitar.
Berdasarkan karakteristik tersebut maka sekolah ini cocok untuk dijadikan penelitian oleh peneliti. Dalam pengamatan awal terlihat bahwa pembelajaran di sekolah ini sangat kondusif dan guru yang disekolah sangat ramah.
35 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung : Alfabeta, ), hlm. - .
. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah terdi dari dua jenis yakni data primer dan data sekunder. Yang dimaksud dengan primer tersebut adalah data yang didapatkan langsung dari sumber utama untuk diamati dan merupakan bahan utama peneliti sedangkan data sekunder tersebut adalah data yang didapatkan melalui sumber ketiga.
a. Data Primer
Data primer dalam penelitian ini adalah didapatkan pada kegiatan proses pembelajaran di MI NW Nurul Haramain dan yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : ( ) Harmayana, ( ) Kartini Wahyuni, ( ) Miftahussaadah, ( ) Rio Wilson ( ) Rohmah Nurmahani ( ) Masithoh.
b. Data Sekunder
Dalam penelitian ini adalah berupa data yang didapatkan dari data kelembagaan sekolah berupa dokumentasi serta perangkat pembelajaran seperti RPP dan silabus atau foto yang berkaitan dengan penelitian yang ada di sekolah.
. Prosedur Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara observasi, wawancaa dan dokumnetasi.
a. Observasi
Nasution menyatakan bahwa, observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Observasi ini dapat digolongkan menjadi empat, yaitu partisipasi pasif, partisipasi moderat, observasi yang terus terang dan tersamar, dan observasi yang lengkap.36
Dalam melaksanakan kegiatan penelitian ini, peneliti menggunakan teknik observasi partisipatif. Berarti peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi penelitian ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang tampak. Sehingga peneliti hanya melakukan pengamatan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru di MI NW Nurul Haramain Narmada terkait problematika guru dalam mengembangkan media pembelajaran.
b. Wawancara
Wawancara adalah merupakan dua orang untuk bertukar informasi dan melalui Tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topic tertentu. 37 wawancara adalah percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.38
36 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung : Alfabeta, ), hlm. .
37 Ibid, hlm. .
38 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya Offset, ), hlm.
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal responden yang lebih mendalam. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self-report, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi.
Berdasarkan pengertian di atas peneliti ingin mendalami hasil observasi melalui berbagai petanyaan yang ditujukan kepada responden untuk memperolrh data yang valid dan lengkap tentang problematika guru dalam mengembangkan media pembelajaran.
c. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif.39
Hasil penelitian dari observasi atau wawancara, akan lebih kredibel atau dapat dipercaya kalau didukung oleh sejarah pribadi kehidupan di masa kecil, di sekolah, di tempat kerja, di masyarakat, dan autobiografi.
Hasil penelitian juga akan semakin kredibel apabila didukung oleh foto-foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah ada.
39 Sugiyono,Metode…,hlm. .
Tetapi perlu dicermati bahwa tidak semua dokumen memiliki kredibilitas yang tinggi. Sebagai contoh banyak foto dibuat untuk kepentingan tertentu. Demikian juga autobiografi yang ditulis untuk dirinya sendiri, sering subyektif.
. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama dilapangan, dan setelah selesai di lapangan.
Nasution menyatakan dalam buku sugiyono adalah analis telah mulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan, dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian.
Namun dalam penelitian kualitatif, analisis data lebih difokuskan selama proses dilapangan bersamaan dengan pengumpulan data. Dalam kenyataannya, analisis data kualitatif berlangsung selama proses pengumpulan data dari pada setelah selesai pengumpulan data.
Data dalam penelitian ini, menggunakan model analisis data Miles dan Huberman dalam buku sugiyono yaitu reduksi data (Data Reduction), penyajian data (Data Display), penarikan kesimpulan (Conclusion Drawing).40
a. Reduksi Data (Data Reduction)
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak
40 Ibid, hlm. .