• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Wilayah Kerja Puskesmas Rawat Inap Panjang

N/A
N/A
eka kurniawati

Academic year: 2024

Membagikan " Profil Wilayah Kerja Puskesmas Rawat Inap Panjang"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

A. Gambaran Umum Wilayah Penelitian 1. Geografi

Puskesmas Rawat Inap Panjang terletak di Kelurahan Panjang Selatan Kecamatan Panjang Kotamadya Bandar Lampung mempunyai luas wilayah 992 Ha yang mencakup 4 Kelurahan:

a. Kelurahan Panjang Selatan dengan Luas 111 Ha b. Kelurahan Panjang Utara dengan Luas 225 Ha c. Kelurahan Karang Maritim dengan Luas 100 Ha d. Kelurahan Srengsem dengan Luas 556 Ha

Adapun Batas-batas wilayah Kerja Puskesmas Rawat Inap Panjang adalah:

a. Sebelah Utara: Kelurahan Pidada b. Sebelah Selatan: Lampung Selatan c. Sebelah Timur: Kecamatan Katibung d. Sebelah Barat: Teluk Lampung 2. Topografi

Secara topografi Puskesmas Rawat Inap Panjang mempunyai wilayah kerja yang terdiri dari Pegunungan, tanah berbukit dan landai serta sebagian kecil pantai.

3. Demografi

Jumlah penduduk yang berada di Wilayah Kerja Puskesmas Rawat inap Panjang adalah 46.672 jiwa pada tahun 2010 dengan kepadatan penduduk

(2)

di Panjang Selatan 118 jiwa/Ha, Panjang Utara 62 jiwa/Ha, Karang Maritim 101 jiwa/Ha dan Srengsem 17 jiwa / Ha. Jumlah seluruh kepala keluarga (KK) 11.015 dimana Kelurahan Srengsem merupakan kelurahan dengan jumlah penduduk yang paling sedikit.

B. Hasil Penelitian 1. Analisis Univariat

a. Perilaku Seksual

Tabel 5.1

Distribusi frekuensi Responden Menurut Perilaku Seksual remaja SLTA di wilayah kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung Tahun 2012

Perilaku Seksual Jumlah Persentase

Beresiko Tidak Beresiko

52 38

57,8 42,2

Total 90 100,0

Berdasarkan tabel 5.1 diketahui bahwa sebagian besar responden dengan perilaku seksual beresiko yaitu sebanyak 52 orang (57,8%).

b. Pengetahuan

Tabel 5.2

Distribusi frekuensi Responden Menurut Pengetahuan Remaja SLTA di wilayah kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung Tahun 2012

Pengetahuan Jumlah Persentase

Kurang

Baik 35

55 38.9

61.1

Total 90 100,0

Berdasarkan tabel 5.1 diketahui bahwa sebagian besar responden dengan pengetahuan baik yaitu sebanyak 55 orang (61,1%).

c. Sikap

(3)

Tabel 5.3

Distribusi frekuensi Responden Menurut Sikap Remaja SLTA di wilayah kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung Tahun 2012

Sikap Jumlah Persentase

Negatif

Positif 36

54 40.0

60.0

Total 90 100,0

Berdasarkan tabel 5.1 diketahui bahwa sebagian besar responden dengan sikap positif yaitu sebanyak 54 orang (60,0%).

d. Pengaruh Teman

Tabel 5.4

Distribusi frekuensi Responden Menurut Pengaruh Teman terhadap Remaja SLTA di wilayah kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung Tahun 2012

Pengaruh Teman Jumlah Persentase

Tidak Baik Baik

51 39

56.7 43.3

Total 90 100,0

Berdasarkan tabel 5.4 diketahui bahwa sebagian besar responden mendapat pengaruh teman tidak baik yaitu sebanyak 51 orang (56,7%).

e. Pengaruh Orang Tua

Tabel 5.5

Distribusi frekuensi Responden Menurut Pengaruh Orang Tua terhadap Remaja SLTA di wilayah kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung Tahun 2012

Pengaruh Orang Tua Jumlah Persentase Tidak Baik

Baik

44 46

48.9 51.1

Total 90 100,0

Berdasarkan tabel 5.5 diketahui bahwa sebagian besar responden mendapat pengaruh orang tua baik yaitu sebanyak 46 orang (51,1%).

f. Sumber Informasi/Media

(4)

Tabel 5.6

Distribusi frekuensi Responden Menurut Sumber Informasi/Media terhadap Remaja SLTA di wilayah kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung

Tahun 2012 Sumber

Informasi/Media Jumlah Persentase

Tidak Baik

Baik 33

57 36.7

63.3

Total 90 100,0

Berdasarkan tabel 5.6 diketahui bahwa sebagian besar responden dengan sumber informasi baik yaitu sebanyak 57 orang (63,3%).

2. Analisis Bivariat

Setelah diketahui karakteristik masing – masing variabel dapat diteruskan analisis lebih lanjut. apabila diinginkan analisis hubungan antara 2 variabel, maka analisis dilanjutkan pada tingkat bivariat. Untuk mengetahui hubungan 2 variabel tersebut biasanya digunakan pengujian statistic. Jenis uji statistic yang digunakan sangat tergantung jenis data/variable yang dihubungkan. Pada penelitian ini analisis bivariat yang digunakan adalah uji Chi Square karena kedua variabel merupakan data kategori (Hastono, 2007).

a. Hubungan antara Pengetahuan dengan Perilaku Seksual Tabel 5.7

Hubungan antara Pengetahuan dengan Perilaku Seksual Remaja SLTA di wilayah kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung

Tahun 2012 Pengetahuan

Perilaku Seksual

Total P

Value Beresiko Tidak Beresiko

n % n %

Kurang 16 45,7 19 54,3 35 0,103

Baik 36 65,5 19 34,5 55

Total 52 57,8 38 42,2 90

(5)

Hasil penelitian didapatkan bahwa diantara 35 responden yang memiliki pengetahuan kurang baik, sebanyak 16 responden (45,7%) berperilaku seksual beresiko, sedangkan dari 55 responden yang memiliki pengetahuan baik, sebanyak 36 responden (65,5%) berperilaku seksual beresiko. Hasil uji statistic didapatkan nilai p value = 0,103 berarti dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku seksual remaja SMA di Wilayah Kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung Tahun 2012.

b. Hubungan antara Sikap dengan Perilaku Seksual Tabel 5.8

Hubungan antara Sikap dengan Perilaku Seksual

di Wilayah Kerja Puskesmas Karang Anyar Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2012

Sikap

Perilaku Seksual

Total P

Value OR

Beresiko Tidak Beresiko

n % n %

Negatif 27 75,0 9 25,0 36 0,013 3,480 (1,380-

8,774)

Positif 25 46,3 29 53,7 54

Total 52 57,8 38 42,2 90

Hasil penelitian didapatkan bahwa diantara 36 responden yang memiliki sikap negatif, sebanyak 27 responden (75,0%) berperilaku seksual beresiko, sedangkan dari 54 responden yang memiliki sikap positif, sebanyak 25 responden (46,3%) berperilaku seksual beresiko. Hasil uji statistic didapatkan nilai p value = 0.013 dan nilai OR = 3,480 (CI 95%

1,380-8,774) berarti dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan perilaku seksual pada remaja SMA di Wilayah Kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung Tahun 2012. Dengan demikian responden dengan sikap negatif berpeluang untuk perilaku seksualnya

(6)

beresiko sebesar 3,480 kali dibandingkan dengan responden yang memiliki sikap positif.

c. Hubungan antara Pengaruh Teman dengan Perilaku Seksual Tabel 5.9

Hubungan antara Pengaruh Teman dengan Perilaku Seksual di Wilayah Kerja Puskesmas Karang Anyar Kabupaten Lampung Selatan

Tahun 2012 Pengaruh

Teman

Perilaku Seksual

Total P

Value OR

Beresiko Tidak Beresiko

n % n %

Tidak Baik 39 76,5 12 23,5 51 0,000 6,5 (2,569-

16,447)

Baik 13 33,3 26 66,7 39

Total 52 57,8 38 42,2 90

Hasil penelitian didapatkan bahwa diantara 51 responden dengan pengaruh teman tidak baik, sebanyak 39 responden (76,5%) berperilaku seksual beresiko, sedangkan dari 39 responden dengan pengaruh teman baik, sebanyak 13 responden (33,3%) berperilaku seksual beresiko. Hasil uji statistic didapatkan nilai p value = 0.000 dan nilai OR = 6,5 (CI 95%

2,569-16,447) berarti dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara pengaruh teman dengan perilaku seksual pada remaja SMA di Wilayah Kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung Tahun 2012. Dengan demikian responden dengan pengaruh teman tidak baik berpeluang untuk perilaku seksualnya beresiko sebesar 6,5 kali dibandingkan dengan responden dengan pengaruh teman baik.

d. Hubungan antara Pengaruh Orang Tua dengan Perilaku Seksual

(7)

Tabel 5.10

Hubungan antara Pengaruh Orang Tua dengan Perilaku Seksual di Wilayah Kerja Puskesmas Karang Anyar Kabupaten Lampung Selatan

Tahun 2012 Pengaruh

Orang Tua

Perilaku Seksual

Total P

Value Beresiko Tidak Beresiko

N % n %

Tidak Baik 21 47.7 23 52.3 44 0,094

Baik 31 67.4 15 32.6 46

Total 52 57,8 38 42,2 90

Hasil penelitian didapatkan bahwa diantara 44 responden dengan pengaruh orang tua tidak baik, sebanyak 21 responden (47,7%) berperilaku seksual beresiko, sedangkan dari 46 responden dengan pengaruh orang tua baik, sebanyak 31 responden (67,4%) berperilaku seksual beresiko. Hasil uji statistic didapatkan nilai p value = 0.094 berarti dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pengaruh orang tua dengan perilaku seksual pada remaja SMA di Wilayah Kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung Tahun 2012.

e. Hubungan antara Sumber Informasi dengan Perilaku Seksual Tabel 5.11

Hubungan antara Sumber Informasi dengan Perilaku Seksual di Wilayah Kerja Puskesmas Karang Anyar Kabupaten Lampung Selatan

Tahun 2012 Sumber

Informasi

Perilaku Seksual

Total P

Value Beresiko Tidak Beresiko

n % n %

Tidak Baik 16 48.5 17 51.5 33 0,256

Baik 36 63.2 21 36.8 57

Total 52 57,8 38 42,2 90

Hasil penelitian didapatkan bahwa diantara 33 responden dengan sumber informasi tidak baik, sebanyak 16 responden (48,5%) berperilaku seksual beresiko, sedangkan dari 57 responden dengan sumber informasi baik,

(8)

sebanyak 36 responden (63,2%) berperilaku seksual beresiko. Hasil uji statistic didapatkan nilai p value = 0.256 berarti dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara sumber informasi dengan perilaku seksual pada remaja SMA di Wilayah Kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung Tahun 2012.

3. Analisis Multivariat

Tabel 5.12

Faktor-faktor yang berhubungan dengan Perilaku Seksual Remaja SMA di Wilayah Kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung

Tahun 2012

Variables in the Equation

B S.E. Wald df Sig. Exp(B)

95% C.I.for EXP(B) Lower Upper Step 1a Pengaruh_

Teman 1,641 ,510 10,347 1 ,001 5,162 1,899 14,034

Sikap ,598 ,536 1,246 1 ,264 1,819 ,636 5,197

Constant -1,448 ,423 11,704 1 ,001 ,235

a. Variable(s) entered on step 1: Pengaruh_Teman, Sikap.

Dari analisis multivariat ternyata variabel yang berhubungan bermakna dengan perlaku seksual adalah variabel pengaruh teman dan sikap. Hasil analisis odds ratio (OR) dari variabel pengaruh teman adalah 5,162, artinya remaja SMA yang memiliki pengaruh teman tidak baik akan berpeluang untuk berperilaku seksual beresiko sebesar 5 kali lebih besar dibandingkan dengan yang memiliki pengaruh teman baik setelah di kontrol variabel sikap.

BAB VI

(9)

PEMBAHASAN

A. Hubungan antara Pengetahuan dengan Perilaku Seksual

Hasil penelitian didapatkan bahwa diantara 35 responden yang memiliki pengetahuan kurang baik, sebanyak 16 responden (45,7%) berperilaku seksual beresiko, sedangkan dari 55 responden yang memiliki pengetahuan baik, sebanyak 36 responden (65,5%) berperilaku seksual beresiko. Hasil uji statistic didapatkan nilai p value = 0,103 berarti dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku seksual remaja SMA di Wilayah Kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung Tahun 2012.

Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori bahwa Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.

Pengetahuan yang baik didukung oleh tingkat pengetahuan orang tua yang baik dalam memberikan informasi tentang perilaku seksual beresiko (Hurlock, 2004).

Menurut Syafrudin (2008), pengetahuan yang setengah-setengah justru lebih berbahaya dari pada tidak tahu sama sekali. Pembentukan pengetahuan sendiri dipengaruhi oleh faktor internal yaitu cara individu dalam menanggapi pengetahuan tersebut dan eksternal yang merupakan stimulus untuk mengubah pengetahuan tersebut menjadi lebih baik lagi.

Menurut Prayitno (2008), pengetahuan yang baik adalah responden memahami dan mengerti tentang perilaku seksual beresiko.

(10)

Menurut Amrillah (2006), semakin tinggi pengetahuan kesehatan reproduksi yang dimiliki remaja maka semakin rendah perilaku seksual pranikahnya, sebaliknya semakin rendah pengetahuan kesehatan reproduksi yang dimiliki remaja maka semakin tinggi perilaku seksual pranikahnya. Pengetahuan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, umur, pengalaman, pekerjaan, pendapatan, budaya, dan pergaulan. Pengetahuan yang tidak tepat, pengharapan yang tidak realistis, harga diri yang rendah, takut tidak berhasil atau pesimis, menunjukan bahwa remaja memiliki kepribadian yang belum matang dan emosi yang labil, sehingga mudah terpengaruh melakukan hal-hal negatif, seperti melakukan hubungan perilaku seksual beresiko. Pengetahuan seksualitas yang baik dapat menjadikan remaja memiliki tingkah laku seksual yang sehat dan bertanggung jawab.

Pemahaman yang keliru mengenai seksualitas pada remaja menjadikan mereka mencoba untuk bereksperimen mengenai masalah seks tanpa menyadari bahaya yang timbul dari perbuatannya, dan ketika permasalahan yang ditimbulkan oleh perilaku seksnya mulai bermunculan, remaja takut untuk mengutarakan permasalahan tersebut kepada orang tua.

Menurut Sarwono (2003), manfaat pengetahuan seksualitas adalah:

a) mengerti tentang perbedaan kesehatan reproduksi antara pria dan wanita dalam keluarga, pekerjaan dan seluruh kehidupan yang selalu berubah dan berbeda dalam tiap masyarakat dan kebudayaan, b) mengerti tentang peranan kesehatan reproduksi dalam kehidupan manusia, dan keluarga, c) mengembangkan pengertian tentang diri sendiri sehubungan dengan fungsi

(11)

dan kebutuhan seks, d) membantu untuk mengembangkan kepribadian sehingga remaja mampu untuk mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Pengetahuan kesehatan reproduksi yang diterima oleh remaja dari sumber yang benar dapat menjadikan faktor untuk memberikan dasar yang kuat bagi remaja dalam menyikapi segala perilaku seksual yang semakin menuju kematangan (Miqdad, 2001).

Pengetahuan kesehatan reproduksi dapat menjadikan remaja memiliki sikap dan tingkah laku seksual yang sehat dan bertanggung jawab (Saringedyanti, 1999). Hasil yang sama diperoleh dari responden remaja SMA Negeri 1 Purwokerto. Uji statistik pada responden ini didapatkan p=1.000, berarti tidak ada hubungan antara pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, IMS dan HIV/AIDS. Jumlah responden yang berpengetahuan rendah dan melakukan perilaku seksual pranikah sebanyak 9 (29%), sedangkan responden yang berpengetahuan tinggi dan melakukan perilaku seksual pranikah sebanyak 27 (28,7%). Meskipun tidak ada hubungan di antara pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, IMS dan HIV/AIDS, adanya kurang pemahaman tentang pengetahuan tersebut perlu untuk diperhatikan. Informasi tentang kesehatan reproduksi, IMS, dan HIV/AIDS perlu diberikan untuk meningkatkan pemahaman remaja, sehingga mereka akan berpikir dengan cermat sebelum melakukan hubungan seksual pranikah. Pengetahuan mungkin bukanlah faktor yang berpengaruh langsung terhadap perilaku seksual pranikah. Seperti yang dijelaskan oleh Bandura (1990) bahwa perilaku tersebut tidak merupakan hasil langsung dari pengetahuan atau ketrampilan, melainkan suatu proses

(12)

penilaian yang dilakukan seseorang dengan menyatukan ilmu pengetahuan, harapan, status emosi, pengaruh sosial dan pengalaman yang didapat sebelumnya untuk menghasilkan suatu penilaian atas kemampuan mereka dalam menguasai situasi yang sulit. Pernyataan tersebut membuktikan bahwa pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, IMS dan HIV/AIDS yang rendah maupun tinggi belum tentu mempengaruhi perilaku seksual pranikah pada remaja.

Pada analisis multivariat, variabel pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, IMS dan HIV/AIDS tidak dapat diikutkan dalam pemodelan analisis multivariat, karena pada seleksi variabel diperoleh hasil pada responden SMA Negeri 1 Baturraden p=0.754, sedangkan pada responden SMA Negeri 1 Purwokerto p=0.974. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Suryoputro dkk juga ditemukan tidak ada pengaruh pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dengan perilaku seksual pranikah pada remaja

B. Hubungan antara Sikap dengan Perilaku Seksual

Hasil penelitian didapatkan bahwa diantara 36 responden yang memiliki sikap negatif, sebanyak 27 responden (75,0%) berperilaku seksual beresiko, sedangkan dari 54 responden yang memiliki sikap positif, sebanyak 25 responden (46,3%) berperilaku seksual beresiko.

Hasil uji statistic didapatkan nilai p value = 0.013 dan nilai OR = 3,480 (CI 95% 1,380-8,774) berarti dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan perilaku seksual pada remaja SMA di

(13)

Wilayah Kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung Tahun 2012. Dengan demikian responden dengan sikap negatif berpeluang untuk perilaku seksualnya beresiko sebesar 3,480 kali dibandingkan dengan responden yang memiliki sikap positif.

Sikap terhadap seksualitas adalah keyakinan, evaluasi, dan kecenderungan untuk bertindak tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan hubungan seksual. Menurut Alport, sikap mempunyai tiga komponen, yaitu kepercayaan, ide dari konsep terhadap suatu objek;

kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek, kecenderungan untuk bertindak. Ketiga komponen tersebut membentuk sikap yang utuh. Dalam pembentukan sikap utuh ini, pengetahuan, berfikir, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting. Menurut Azwar, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan sikap, yaitu pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa, insitiusi atau lembaga, emosi dalam diri individu.

Sikap individu memang memegang peranan dalam menentukan perilaku seseorang di lingkungannya. Pada gilirannya, lingkungan secara timbal balik akan mempengaruhi sikap dan perilaku. Interaksi antara lingkungan social dengan sikap, dengan berbagai faktor di dalam maupun di luar individu akan membentuk suatu proses kompleks yang akhirnya menentukan bentuk perilaku seseorang. Menurut Breckler dan Wiggins (1989), sikap yang diperoleh lewat pengalaman akan menimbulkan pengaruh langsung terhadap perilaku berikutnya.

(14)

Berdasarkan analisis secara multivariat dapat disimpulkan bahwa sikap terhadap seksualitas berpengaruh terhadap perilaku seksual pranikah pada kedua kelompok responden. Pada responden remaja SMA Negeri 1 Purwokerto didapatkan p=0.000, dimana responden yang bersikap permisif akan memiliki kemungkinan hampir lima kali (OR=4.986) lebih besar untuk melakukan perilaku seksual pranikah dibandingkan mereka yang memiliki sikap tidak permisif terhadap seksualitas. Sedangkan pada responden remaja SMA Negeri 1 Purwokerto didapatkan p value sebesar 0.016 dimana responden yang bersifat permisif akan memiliki kemungkinan hampir tiga kali (OR=2.828). Hasil penelitian sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Suryoputro dkk bahwa sikap terhadap seksualitas berpengaruh terhadap perilaku seksual pranikah pada remaja

C. Hubungan antara Pengaruh Teman dengan Perilaku Seksual

Hasil penelitian didapatkan bahwa diantara 51 responden dengan pengaruh teman tidak baik, sebanyak 39 responden (76,5%) berperilaku seksual beresiko, sedangkan dari 39 responden dengan pengaruh teman baik, sebanyak 13 responden (33,3%) berperilaku seksual beresiko. Hasil uji statistic didapatkan nilai p value = 0.000 dan nilai OR = 6,5 (CI 95%

2,569-16,447) berarti dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara pengaruh teman dengan perilaku seksual pada remaja SMA di Wilayah Kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung Tahun 2012. Dengan demikian responden dengan pengaruh teman tidak baik berpeluang untuk

(15)

perilaku seksualnya beresiko sebesar 6,5 kali dibandingkan dengan responden dengan pengaruh teman baik.

Menurut Conger (1991), Papalia dan Olds (2001), perkembangan social pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua. Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman. Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar. Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya.

Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya. Kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya. Bandura juga menjelaskan bahwa teman memainkan peranan yang penting dalam perubahan perilaku.

D. Hubungan antara Pengaruh Orang Tua dengan Perilaku Seksual Hasil penelitian didapatkan bahwa diantara 44 responden dengan pengaruh orang tua tidak baik, sebanyak 21 responden (47,7%) berperilaku seksual beresiko, sedangkan dari 46 responden dengan

(16)

pengaruh orang tua baik, sebanyak 31 responden (67,4%) berperilaku seksual beresiko. Hasil uji statistic didapatkan nilai p value = 0.094 berarti dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pengaruh orang tua dengan perilaku seksual pada remaja SMA di Wilayah Kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung Tahun 2012.

Dalam hal komunikasi orang tua dengan remaja, remaja seringkali merasa tidak nyaman atau tabu untuk membicarakan masalah seksualitas dan kesehatan reproduksinya (Syafrudin, 2008). Remaja lebih senang menyimpan dan memilih jalannya sendiri tanpa berani mengungkapkan kepada orang tua.

Hal ini disebabkan karena ketertutupan orang tua terhadap anak terutama masalah seks yang dianggap tabu untuk dibicarakan serta kurang terbukanya anak terhadap orang tua karena anak merasa takut untuk bertanya (Dhede, 2002).

Komunikasi antara orang tua dengan remaja dikatakan berkualitas apabila kedua belah pihak memiliki hubungan yang baik dalam arti bias saling memahami, saling mengerti, saling mempercayai dan menyayangi satu sama lain, sedangkan komunikasi yang kurang berkualitas mengindikasikan kurangnya perhatian, pengertian, kepercayaan dan kasih sayang di antara keduanya (Hopson, 2002). Magdalena (2000) juga mengemukakan bahwa komunikasi yang menguntungkan kedua belah pihak, dalam hal ini antara orang tua dengan remaja adalah komunikasi yang timbal balik, ada keterbukaan, spontan dan ada feedback dari kedua pihak antara orang tua dan remaja.

Orang tua dalam memberikan informasi kesehatan reproduksi kecil, kecilnya peranan orang tua untuk memberikan informasi kesehatan

(17)

reproduksi dan seksualitas disebabkan oleh rendahnya pengetahuan orang tua mengenai kesehatan reproduksi serta masih menganggap tabu membicarakan tentang kesehatan reproduksi. Apabila orang tua merasa memiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang kesehatan reproduksi, remaja lebih yakin dan tidak merasa canggung untuk membicarakan topic yang berhubungan dengan masalah perilaku seksual beresiko (Hurlock, 2004).

Ketidaktahuan orang tua tentang kesehatan reproduksi, atau tidak mengerti konsep pendidikan seks, remaja dapat mencari informasi di luar rumah yang justru sering mengarahkan mereka pada solusi yang menjerumuskan. Keluarga yang mengabaikan pengawasan terhadap media informasi, remaja dapat dengan mudah meniru perilaku-perilaku yang menyimpang (Hady, 2009). Peran orang tua sangat diperlukan dalam memberikan informasi dan bimbingan tentang seksualitas kepada anak remajanya.

Menurut Soetjiningsih (2006), bahwa makin baik hubungan orang tua dengan anak remajanya, makin baik perilaku seksual pranikah remaja.

Hubungan orang tua remaja, mempunyai pengaruh terhadap perilaku seksual pranikah remaja. Remaja yang melakukan hubungan seksual sebelum menikah banyak diantaranya berasal dari keluarga yang bercerai atau pernah cerai, keluarga dengan banyak konflik dan perpecahan (Kinnaird, 2003).

Berdasarkan hasil penelitian SMA di Surakarta remaja yang melakukan hubungan seksual pranikah sebanyak (5,2%) dan mayoritas remaja melakukan hubungan seksual tersebut di luar rumah. Dalam hal ini peran orang tua sangat dibutuhkan remaja untuk menghindari perilaku seksual pranikah. Peran orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap remaja. Remaja

(18)

dalam keluarga yang bercerai lebih menunjukkan penyesuaian dibandingkan dengan keluarga remaja yang utuh dengan kehadiran orang tuanya. Orang tua yang sibuk, kualitas pengasuhan yang buruk, dan perceraian orang tua, remaja dapat mengalami depresi, kebingungan, dan ketidakmantapan emosi yang menghambat mereka untuk tanggap terhadap kebutuhan remaja sehingga remaja dapat dengan mudah terjerumus pada perilaku yang menyimpang seperti perilaku seksual beresiko (Santrock, 2005).

Konflik orang tua dengan remaja yang tarafnya sedang-sedang saja berperan sebagai fungsi perkembangan positif yang meningkatkan otonomi dan identitas. Sedangkan konflik berat menghasilkan berbagai hasil dampak yang negatif yang dapat mengganggu jiwa remaja sehingga dapat melakukan perilaku yang menyimpang seperti pergaulan bebas (Santock, 2002). Orang tua dalam memberikan informasi tentang perilaku seksual beresiko kecil, kecilnya peranan orang tua untuk memberikan informasi kesehatan reproduksi dan seksualitas disebabkan oleh rendahnya pengetahuan orang tua mengenai kesehatan reproduksi serta masih menganggap tabu membicarakan tentang perilaku seksual beresiko. Apabila orang tua merasa memiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang kesehatan reproduksi, remaja lebih yakin dan tidak merasa canggung untuk membicarakan topik yang berhubungan dengan masalah perilaku seksual beresiko (Hurlock, 2004).

Sehingga dibutuhkan komunikasi yang baik antara orang tua dengan remaja untuk membicarakan masalah perilaku seksual beresiko.

E. Hubungan antara Sumber Informasi dengan Perilaku Seksual

(19)

Hasil penelitian didapatkan bahwa diantara 33 responden dengan sumber informasi tidak baik, sebanyak 16 responden (48,5%) berperilaku seksual beresiko, sedangkan dari 57 responden dengan sumber informasi baik, sebanyak 36 responden (63,2%) berperilaku seksual beresiko. Hasil uji statistic didapatkan nilai p value = 0.256 berarti dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara sumber informasi dengan perilaku seksual pada remaja SMA di Wilayah Kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung Tahun 2012.

Seringkali remaja merasa bahwa orang tuanya menolak membicarakan masalah kesehatan reproduksi sehingga mereka kemudian mencari alternatif sumber informasi lain seperti teman atau media massa (Syafrudin, 2008). Remaja sering kali disuguhi majalah, film, acara televisi, lagu, iklan, dan produk-produk yang berdaya khayal dan mengandung pesan ke arah seksual yang merupakan pelengkap konsep realita masyarakat yang dikenal dengan pornografi, merangsang gairah seksual, mendorong orang gila seks, meruntuhkan nilai-nilai moral. Hasil studi Pustaka Komunikasi FISIP UI (2005), menunjukkan bahwa ketersediaan dan kemudahan menjangkau produk media pornografi merupakan faktor stimulan utama bagi remaja untuk melakukan perilaku seksual pranikah.

Beberapa kajian menunjukkan bahwa remaja sangat membutuhkan informasi mengenai persoalan seksual dan reproduksi. Remaja seringkali memperoleh informasi yang tidak akurat mengenai kesehatan reproduksi dari teman-teman mereka, bukan dari petugas kesehatan, guru atau orang tua (Saifuddin dan Hidayana, 1999). Teman-teman yang tidak baik berpengaruh terhadap munculnya perilaku seks menyimpang (Hady, 2009). Sehingga

(20)

informasi yang baik dan akurat diperlukan oleh remaja untuk menghindari pengaruh buruk yang dapat menimbulkan perilaku seksual yang menyimpang (Anonim, 2009).

Remaja akan terhindar dari keterlibatan dengan perilaku seksual beresiko, jika remaja dapat membicarakan masalah seks dengan orang tuanya.

Artinya, orang tua menjadi pendidik seksualitas bagi anak remajanya (Syafrudin, 2008).

Menurut Rohmahwati (2008), paparan media massa, baik cetak (koran, majalah, buku-buku porno) maupun elektronik (TV, VCD, Internet), mempunyai pengaruh terhadap remaja untuk melakukan hubungan seksual pranikah. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang diperoleh remaja dari media massa belum digunakan untuk pedoman perilaku seksual yang sehat dan bertanggung jawab. Justru paparan informasi seksualitas dari media massa (baik cetak maupun elektronik) yang cenderung bersifat pornografi dan pornoaksi dapat menjadi referensi yang tidak mendidik bagi remaja. Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba, akan meniru apa yang dilihat atau didengarnya dari media massa tersebut. Maka dari itu sumber informasi yang baik dan bertanggung jawab diperlukan oleh remaja, agar remaja tidak salah dalam mendapatkan sumber informasi.

BAB VII

(21)

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Tidak ada pengaruh secara signifikan antara pengetahuan terhadap perilaku seksual remaja SMA di Wilayah Kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung Tahun 2012 (p value 0,103)

2. Ada pengaruh secara signifikan antara sikap terhadap perilaku seksual remaja SMA di Wilayah Kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung Tahun 2012 (p value 0,013)

3. Ada pengaruh secara signifikan antara pengaruh teman terhadap perilaku seksual remaja SMA di Wilayah Kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung Tahun 2012 (p value 0,000)

4. Tidak ada pengaruh secara signifikan antara pengaruh orang tua terhadap perilaku seksual remaja SMA di Wilayah Kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung Tahun 2012 (p value 0,094)

5. Tidak ada pengaruh secara signifikan antara sumber informasi terhadap perilaku seksual remaja SMA di Wilayah Kerja Puskesmas Panjang Bandar Lampung Tahun 2012 (p value 0,256).

B. Saran

(22)

1. Bagi Sekolah

Penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan untuk memasukkankurikulum kesehatan reproduksi diberikan kepada siswa-siswi melalui bimbingan konseling yang lebih mendalam.

2. Bagi Siswa

Siswa dapat meningkatkan pengetahuan tentang perilaku seksual beresiko, pemahaman tingkat agama, dengan mencari informasi yang baik dan akurat serta dapat memilih teman yang baik agar tidak terpengaruh terhadap perilaku perilaku seksual beresiko.

3. Bagi Keluarga

Orang tua dapat memberikan pengetahuan tentang perilaku seksual beresiko pada remaja sejak usia dini, pemahaman agama yang baik serta memberikan informasi yang baik dan bertanggung jawab agar remaja tidak salah dalam mendapatkan informasi yang dapat mempengaruhi perilaku perilaku seksual beresiko.

4. Bagi Peneliti Lain

Karena keterbatasan peneliti maka faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku perilaku seksual beresiko pada remaja seperti sosial budaya, pengendalian diri, gaya hidup, nilai dan norma dapat diteliti oleh peneliti selanjutnya.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian diharapkan kepada Dinas Kesehatan Kota Medan dan kepada puskesmas dengan fasilitas rawat inap agar memberikan informasi secara lebih menyeluruh

Perancangan sistem informasi difokuskan pada sistem informasi Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan Rawat Inap Geyer, yang meliputi perekaman dan pemeliharaan data yang

Lintang (LS/LU) Bujur (BT) Rawat Inap Non Rawat Inap Wilayah Luas Desa Penduduk Jumlah ALAMAT PUSKESMAS.. Koordinat P O JENIS PUSKESMAS

Lintang (LS/LU) Bujur (BT) Rawat Inap Non Rawat Inap Wilayah Luas Desa Penduduk Jumlah ALAMAT PUSKESMAS.. Koordinat P O JENIS PUSKESMAS

Rawat Inap Non Rawat Inap Luas Wilayah Desa Jumlah Penduduk JENIS.. PUSKESMAS WILAYAH KERJA NO PROVINSI

Rawat Inap Non Rawat Inap Luas Wilayah Desa Jumlah Penduduk JENIS.. PUSKESMAS WILAYAH KERJA NO PROVINSI

Rawat Inap Non Rawat Inap Luas Wilayah Desa Jumlah Penduduk JENIS.. PUSKESMAS WILAYAH KERJA NO PROVINSI

Form Cetak Laporan Pemeriksaan Rawat Inap seperti terlihat pada Gambar 4.19 di atas berfungsi untuk mencetak laporan pemeriksaan pasien rawat inap di Puskesmas