DISUSUN OLEH:
“PROFIL WILAYAH PESISIR: DESA UJUNG BAJI”
Mata Kuliah : Pengantar Perencanaan Wp3k Dosen Pengampu : 1. Ir.Jufriadi, M.Si
2. Rimba Arief,S.T,M.Eng 3. Dr.Ir.Agus Salim,M.Si
Kelompok 3:
1. Besse Widya Utami (4520042033) 2. Ibnu Alim Nugraha (4520042026)
3. Muhammad Cahyadi Mokoginta (4520042031) 4. Olvi (4520042045)
5. Srikandi Sangaji (4520042021) 6. Yosafat Monares (4520042002)
Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota Fakultas Teknik
PROFIL WILAYAH
PESISIR: DESA
UJUNG BAJI
Universitas Bosowa Makassar
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan “Profil Desa Pesisir Ujung Baji” untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Pengantar Perencanaan Wp3k. Tidak lupa pula shalawat serta salam kepada junjungan kita Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya.
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dengan penuh kesabaran dan kepedulian dalam proses pengerjaan laporan ini. Terima kasih kepada dosen pengampu Ir.Jufriadi, M.Si yang telah memberikan arahan dalam penyusunan laporan ini.
Dalam penyusunannya, penulis telah berusaha sebaik mungkin agar dapat memberi manfaat kepada para pembacanya. Namun, laporan ini masih sangat jauh dari kata sempurna, sehingga diharapkan kritik dan saran yang membangun untuk dapat menyempurnakan isi laporan ini.
Makassar, 19 November 2021
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman Judul... i
Kata Pengantar... ii
Daftar Isi... iii
Daftar Gambar... iv
Daftar Tabel... v
Profil Desa Ujung Baji... vi
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang... 1
B. Sasaran... 1
C. Ruang Lingkup... 1
D. Sistematika Pembahasaan... 1
BAB II MUATAN PROFIL DESA PESISIR... 3
A. Kondisi Geografis dan Administrasi... 3
B. Sumberdaya Alam... 4
C. Sumberdaya Manusia... 4
D. Perekonomian... 5
E. Infrastruktur... 16
F. Kelembagaan... 24
BAB III ISU-ISU UTAMA... 26
A. Sumberdaya Alam dan Lingkungan... 26
B. Ekonomi... 27
C. Infrastruktur... 27
BAB IV METODOLOGI... 28
A. Pendekatan Penyusunan Profil... 28
B. Jenis dan Sumber Peta... 28
C. Teknik Pengumpulan Data... 30
D. Teknik Penyajian Data dan Informasi... 30
BAB VI PENUTUP... 31
LAMPIRAN... 32
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Peta Desa Ujung Baji... 3
Gambar 2.2 Rumput laut... 5
Gambar 2.3 Prasarana Jalan Di Desa Ujung Baji... 16
Gambar 2.4 Prasarana Drainase Di Desa Ujung Baji... 17
Gambar 2.5 Sistem pengolahan sampah di Desa Ujung Baji... 19
Gambar 2.6 Sarana Pendidikan Di Desa Ujung Baji... 20
Gambar 2.7 Sarana Kesehatan Di Desa Ujung Baji... 21
Gambar 2.8 Sarana Peribadatan Di Desa Ujung Baji... 22
Gambar 2.9 Sarana Perdagangan dan Jasa Di Desa Ujung Baji... 23
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Desa Ujung Baji... 4
Tabel 2.2 Jumlah Distribusi Dan Kepadatan Penduduk di Desa Ujung Baji.. . 5
Tabel 2.3 Jumlah Penduduk Menurut Agama Yang Dianut di Desa Ujung Baji5 Tabel 2.4 Jumlah Pengguna Listrik di Desa Ujung Baji... 18
Tabel 2.5 Jumlah Sarana Pendidikan di Desa Ujung Baji... 20
Tabel 2.6 Jumlah Sarana Kesehatan di Desa Ujung Baji... 22
Tabel 2.7 Jumlah Sarana Peribadatan di Desa Ujung Baji... 23
Tabel 2.8 Jumlah Sarana Perdagangan dan Jasa di Desa Ujung Baji... 24
Tabel 2.9 Jumlah Kelembagaan di Desa Ujung Baji... 25
PROFIL DESA UJUNG BAJI
Nama Desa : Ujung Baji
I. Keadaan Geografis a. Letak astronomis
b. Batas desa - Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Sanrobone
- Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Soreang
- Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Maccini Baji
- Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Laguruda
c. Luas desa 3,31 km2
II. Penduduk, Sosial Budaya, Ekonomi dan Kelembagaan a. Jumlah total penduduk 2.561
- Jumlah Kepala Keluarga
: 822
- Laki-laki : 1.223 jiwa
- Perempuan : 1.377 jiwa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Desa ujung baji merupakan salah satu desa yang berada pada wilayah Kabupaten Takalar. Desa ini berada dibawah naungan pemerintah daerah dan kemendesa. Pengelolaan di kepalai oleh seorang kepala desa. Desa ini terletak di daerah pesisir atau di daerah pantai.
Desa ini terletak di kecamatan sanrobone, kabupaten takalar, sulawesi selatan. Mayoritas penduduk disana mencari pendapatan di pantai, lebih tepatnya mencari rumput laut.
Desa ujung baji ini merupakan desa yang masih dalam tahap perkembangan, adapun tujuan untuk pembuatan dan penyusunan data ini sebagai sarana referensi dan sumber ilmu bagi mahasiswa dan dosen agar dapat mengetahui bagaimana desa ujung baji tersebut.
Ini juga bisa jadi sebagai penunjang, untuk dapat mengembangkan desa ujung baji menjadi desa yang lebih baik lagi kedepannya.
B. Sasaran
Sasaran ini sebagai acuan dalam membangun atau menyusun profil desa pesisir ujung baji.
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penyusunan dokumen desa pesisir ini primer dan sekunder yang dikumpulkan melalui survei dan observasi lapangan, BPS, dan dokumen tentang gambran umum wilayah administrative, kiondisi SDA, SDM, perekonomian, infrastruktur, kelembagaan, yang disajikan dalam bentuk narasi dan foto dokumentasi.
D. Sistematika Pembahasaan BAB I PENDAHULUAN
Bab Pendahuluan menguraikan tentang latar belakang,tujuan, sasaran, ruang lingkup dan sistematika penulisan.
BAB II. PROFIL MUATAN DESA PESISIR
Bab ini berisi muatan profil desa pesisir yang memuat gambaran desa, sumberdaya manusia, umum perekonomian, infrastruktur, dan kelembagaan BAB III ISU-ISU UTAMA
Bab ini menguraikan isu dan permasalahan yang terkait dengan sumberdaya alam dan lingkungan, ekonomi, dan infrastruktur.
BAB IV METODOLOGI
Bab ini menguraikan tentang pendekatan penyusunan profil, jenis dan sumber data, teknik pengumpulan data, teknik penyajian data dan informasi serta arahan strategi pengembangan.
BAB VI PENUTUP
Bab ini berisikan pernyataan penutup dari panduan penyusunan profil desa pesisir.
BAB II
MUATAN PROFIL DESA PESISIR A. Kondisi Geografis dan Administrasi
Gambar 2.1 peta Desa Ujung Baji
Desa Ujung Baji terletak di wilayah Kecamatan Sanrabone Kabupaten Takalar yang memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :
- Sebelah utara berbatasan dengan Desa Sanrabone - Sebelah timur berbatasan dengan Desa Soreang - Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Maccini Baji - Sebelah barat berbatasan desa Laguruda
Secara administratif, Desa Ujung Baji mempunyai luas wilayah 331 Ha, yang terdiri dari 5 Dusun, yaitu: Dusun Ujung Lau, Dusun Ujung Baji, Dusun Galumbaya, Dusun Makkio Baji, Dusun Maccini Baji.
Desa Ujung Baji memiliki luas wilayah 331 Ha, yang terdiri dari : 1) Tanah Sawah : 36 Ha
2) Tanah Rawa : 47 Ha 3) Permukiman : 76 Ha
4) Pekarangan : 32 Ha 5) Pasang Surut : 121 Ha 6) Fasilitas Umum: 18,2 Ha B. Sumberdaya Alam
Sumber daya alam yang banyak ditemukan di Desa Ujung Baji adalah rumput laut. Masyarakat yang tinggal pesisir biasanya turun memetik rumput laut yang tumbuh alami pada saat air laut surut. Hasil yang diperoleh bisa mencapai dua karung dengan berat kurang lebih 25 kg/karung. Selanjutnya, rumput laut tersebut dijemur dengan proses pengeringan 3-4 hari tergantung cuaca.
Dikembangkannya budidaya rumput laut membuat tengkulak tidak lagi membeli hasil rumput laut kering dari warga Desa Ujung Baji sehingga masyarakat khususnya para wanita yang biasanya ikut memetik rumput laut tidak lagi memberikan kontribusi berupa pendapatan bagi keluarga.
Padahal potensi rumput laut dapat dikembangkan lagi menjadi hal lain sehingga memberikan nilai ekonomi sekaligus nilai gizi bagi warga seperti yang dikutip dari Majalah Aplikasi Ipteks NGAYAH Volume 9, Nomor 1, Juli 2018. Rumput laut bisa diolah menjadi dodol, salad, keripik rumput laut, dll yang berbahan baku rumput laut.
C. Sumberdaya Manusia 1. Jumlah penduduk
Penduduk adalah objek pelaksana pembangunan, dan demi pembangunan pula diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas agar dapat meningkatkan daya saing. Berikut jumlah data penduduk yang terdapat di Desa Ujung Baji.
Tabel 2.1 Jumlah penduduk Desa Ujung Baji
No Jenis Kelamin Jumlah Jiwa
1. Laki-laki 1.223
2. Perempuan 1.377
Jumlah Total 2.561
Sumber: Kecamatan Sanrobone Dalam Angka 2020
Berdasarkan tabel di atas, jumlah penduduk Desa Ujung Baji adalah 2.561 jiwa, dengan jumlah laki-laki sebanyak 1.223 dan jumlah wanita sebanyak 1.377.
2. Distribusi dan kepadatan penduduk
Berikut adalah jumlah distribusi dan kepadatan penduduk di Desa ujung Baji pada tahun 2019.
Tabel 2.2 Jumlah distribusi dan kepadatan penduduk di Desa Ujung Baji Presentase Penduduk Kepadatan Penduduk Per km2
16,75 774
Sumber: Kecamatan Sanrabone Dalam Angka 2020 3. Jumlah penduduk menurut agama yang dianut
Berikut adalah jumlah penduduk menurut agama yang dianut.
Tabel 2.3
Jumlah penduduk menurut agama yang dianut di Desa Ujung Baji
No Agama yang dianut Jumlah
1. Islam 2.561
2. Protestan -
3. Katolik -
4. Hindu -
5. Budha -
Sumber: Kecamatan Sanrabone Dalam Angka 2020
D. Perekonomian
1. Strategi pemberdayaan kehidupan sosial ekonomi petani rumput laut di desa ujung baji kecamatan sanrobone kabupaten takalar.
Gambar 2.2 rumput laut
Sumber : Hasil survei lapangan 2021 a) Formal empowerment
Formal empowerment pemberdayaan terhadap institusi pemerintah, merupakan sebuah upaya yang dilakukan oleh pemerintah dengan menyediakan mekanisme untuk publik dalam mempengaruhi keputusan-keputusan yang terkait dan tentunya melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan. Berdasarkan hasil penelitian yang ditemukan dilapangan bahwa pemberdayaan terhadap institusi pemerintah telah berjalan dengan baik, dapat kita lihat dari berbagai upaya pemberdayaan yang dilakukan baik dari pihak pemerintah Dinas Perikanan dan Dinas Koperasi yang berjalan setiap tahunnya di masyarakat, selain itu ada berbagai lembaga pemberdayaan pihak swasta yang bekerjasama dengan institusi pemerintah di Desa Ujung Baji. Dalam upaya pemberdayaan pun melibatkan masyarakat Desa Ujung Baji selaku pihak penyelenggara pemberdayaan sehingga akan dengan mudah memahami kondisi masyarakat dan melibatkan masyarakat setempat dalam upaya pengambilan keputusan terkait dengan upaya pemberdayaan yang dilakukan. Pengentasan kemiskinan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat tidak lepas dari partisipasi dan percaya diri masyarakat. Dalam kebijakan pembangunan, pemerintah harus mampu menumbuhkan partisipasi, sehingga masyarakat pedalaman tidak saja dipandang sebagai pengguna jasa pelayanan tetapi sebagai warga Negara yang aktif.
b) Interpersonal empowerment
Dari hasil penelitian ditemukan bahwa pengembangan (Interpersonal empowerment kemampuan personal para petani rumput laut melalui upaya pembudidayaan rumput laut sehingga cara-cara lama yang belum mereka ketahui sebelumnya bisa dikembangkan melalui upaya pemberdayaan personal yang dilakukan. Masyarakat yang awalnya belum mengetahui cara pembudidayaan yang baik dan benar sehingga hasil yang di dapatkan bisa lebih maksimal. Tidak hanya cara pembudidayaan yang diajarkan tapi mereka juga diberikan pengetahuan tentang bagaimana cara mengelolah keuangan dari hasil pendapatan yang mereka dapatkan sehari-harinya. Namun yang menjadi fokus utama dalam kegiatan pemberdayaan adalah bagaimana cara meningkatkan kemampuan personal dari para petani rumput laut agar supaya hasil budidaya rumput laut yang dihasilkan dapat maksimal.jadi dapat dipahami bahwa pengembangan kemampuan personal memang memberikan dampak terhadap peningkatan pengetahuan para petani rumput laut dan menjadi fokus utama adalah peningkatan personal dalam upaya pembudidayaan rumput laut.
c) Instrumental Empowerment
Strategi selanjutnya yang dilakukan dalam upaya pemberdayaan adalah Instrumental Empowerment terkait dengan pemberian fasilitas yang aktual bagi individu. Pemberian fasilitas bertujuan untuk memberikan dorongan kepada para petani rumput laut untuk lebih giat dan semangat lagi dalam upaya pembudidayaan yang mereka lakukan. Pemerintah dan pihak dari lembaga pemberdayaan telah menyiapkan berbagai fasilitas yang diberikan kepada para petani rumput laut dengan harapan yang besar agar supaya hasil yang di dapatkan lebih maksimal.
Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan dilapangan bahwa pemberian fasilitas yang diberikan oleh pemerintah setempat maupun lembaga pemberdayaan swasta lainnya dalam upaya pemberdayaan kepada petani rumput laut sangat direspon dengan baik oleh masyarakat, karena dengan fasilitas tersebut mampu meningkatkan hasil
yang didapatkan dan memaksimalkan pendapatan masyarakat petani rumput laut. jadi dapat dipahami bahwa semakin banyak fasilitas yang diberikan oleh pemerintah dan lembaga pemberdayaan maka semangat masyarakat untuk upaya pembudidayaan rumput laut juga semakin meningkat. Fasilitas yang diberikan tentunya memberikan dampak dan dapat memaksimalkan pendapatan yang tentunya akan berdampak pula terhadap kehidupan social ekonomi petani rumput laut tersebut.
d) Substantive empowerment
Substantive empowerment, menanamkan kemampuan untuk menerapkan keputusan- keputusan yang bersifat problem solving atau produksi hasil yang diharapkan. Strategi pemberdayaan ini bertujuan agar masyarakat mampu mengatasi berbagai persoalan/permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan pembudidayaan rumput laut yang mereka jalani sehari-harinya. Kemampuan mereka menerapkan keputusan- keputusan yang dianggap tepat untuk mengatasi berbagai persoalan yang mereka hadapi. Dari hasil penelitian diungkapkan bahwa pemberdayaan dengan menanamkan kemampuan dalam menerapkan keputusan yang bersifat problem solving yang diterapkan kepada masyarakat petani rumput laut di Desa Ujung Baji direspon dengan baik oleh masyarakat. Masyarakat menerapkan apa yang telah diajarkan dan disampaikan dalam kegiatan pemberdayaan serta mampu mengatasi persoalan dan permasalahan terakait cara pembudidayaan yang mereka hadapi dan dapat diselesaikan dengan baik. Kemampuan dan pemahamannya terkait pembudidayaan dan pengolahan rumput laut semakin bertambah serta mampu meningkatkan produksi sesuai yang diharapkan. Dengan demikian, pemberdayaan bukan hanya meliputi penguatan individu anggota masyarakat, tetapi juga pranta-pranatanya.
Menanamkan nilai-nilai budaya modern seperti kerja keras, hemat, keterbukaan, kebertanggungjawaban dan lain-lain yang merupakan bagian pokok dari upaya pemberdayaan itu sendiri.
2. Faktor yang menunjang dan menghambat pemberdayaan kehidupan sosial ekonomi petani rumput laut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar.
a) Faktor Penunjang
Dalam menjalankan suatu kegiatan tidak terlepas dari beberapa faktor pendukung yang menunjang agar kegiatan bisa terlaksana. Faktor penunjang dalam kegiatan pemberdayaan yang dilakukan terhadap petani rumput laut di Desa Ujung Baji berdasarkan hasil penelitian yang ditemukan di lapangan bahwa kegiatan pemberdayaan dapat terlaksana dengan baik karena partisipasi masyarakat dan rsespon positif masyarakat terhadap kegiatan pemberdayaan tersebut. Semakin tinggi pasrtisipasi dan respon masyarakat terhadap kegiatan maka semakin banyak pula masyarakat yang ikut dalam kegiatan pemberdayaan.
Selain faktor tersebut ketersediaan fasilitas dan kelengkapan alat-alat yang disiapkan oleh lembaga pemberdayaan merupakan faktor yang dapat menunjang terlaksananya kegiatan pemberdayaan tersebut.
Partisipasi dalam pemberdayaan merupakan hal penting terselenggaranya program pemberdayaan. Pelaksanaan pemberdayaan di Desa Ujung Baji melibatkan berbagai pihak baik dari masyarakat, pemerintah daerah dan lembaga pemberdayaan yang turut berpartisipasi. Pelaksanaan pemberdayaan masyarakat pada dasarnya membutuhkan pasrtisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan kegiatan pemberdayaan. Apabila program pemberdayaan diharapkan dapat meningkatkan kehidupan tersebut harus sesuai dengan persoalan dan kebutuhan masyarakat yang akan ditingkatkan taraf hidupnya.
Keterlibatan masyarakat dan pemerintah desa dalam pelaksanaan pemberdayaan di Desa Ujung Baji yang diselenggarakan oleh pengelola program dikarenakan dengan adanya keterlibatan masyarakat tentunya akan mempermudah pelaksanaan kegiatan pemberdayaan, baikpemenuhan kegiatan pemberdayaan maupun dalam mengelola dan mengembangkan hasil program pemberdayaan. Keterlibatan masyarakat dan berbagai pihak dari pemerintahan berfungsi untuk pemenuhan
fasilitas kegiatan pelaksanaan pemberdayaan serta sebagai steakholder kegiatan pemberdayaan. Jadi dapat dipahami bahwa, partisipasi masyarakat dan segala aspek pemberdayaan yaitu pemerintah dan lembaga pemberdayaan mempunyai peran yang besar sehingga kegiatan pemberdayaan dapat terlaksana dan berjalan dengan baik.
b) Faktor Penghambat
Faktor penghambat merupakan suatu faktor yang menjadikan kegiatan pemberdayaan tidak berjalan dan terlaksana dengan baik. Faktor penghambat ini kadangakala muncul dari masyarakat itu sendiri sebagai fokus utama dalam kegiatan pemberdayaan yang akan dilakukan.
Berdasarkan hasil penelitian yang ditemukan peneliti di lapangan faktor penghambat kegiatan pemberdayaan dikarenakan oleh pemikiran- pemikiran masyarakat yang masih menganggap bahwa ketika kegiatan pemberdayaan dilakukan serta merta mereka akan diberikan bantuan dana secara langsung, hal inilah yang menjadi kendala terbesar, karena orientasi awal dari kegiatan pemberdayaan adalah pengembangan kemampuan personal dalam diri masyarakat sehingga ketika kemampuan personalnya telah meningkat akan berdampak terhadap peningkatan rumput laut yang dihasilkan yang tentunya berpegaruh terhadap kehidupan sosial ekonomi petani rumput laut. Jika dikaitkan antara teori yang diungkapkan oleh Ibrahim) dengan hasil penelitian yang ditemukan di lapangan dapat disimpulkan bahwa memang ada keterkaitan antara teori dengan hasil penelitian yang di dapatkan di lapangan. Faktor penghambat yang dimaksud adalah adanya konflik dan motivasi serta masalah finansial dan penolakan oleh kelompok- kelompok tertentu yang masih belum terlalu memahahmi tujuan dan orientasi dari kegiatan pemberdayaan tersebut. Hal inilah merupakan faktor penghambat yang menjadikan kegiatan pemberdayaan dapat terkendala dan tidak berjalan dengan baik.
3. Dampak pemberdayaan terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat petani rumputmlaut di Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar.
a) Pendapatan
Pendapatan merupakan hasil yang didapatkan atau upah dari sebuah pekerjaan yang telah dilakukan yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Sebagai masyarakat yang berprofesi sebagai petani rumput laut, pendapatan yang diperoleh dari hasil panen rumput laut yang telah dijual kepada para distributor yang ada di Desa Ujung Baji tersebut. Christoper dalam sumardi (2004) mendefenisikan pendapatan berdasarkan kamus ekonomi adalah uang yang diterima oleh seseorang dalam bentuk gaji, upah sewa, bunga, laba dan lain sebagainya. Berdasarkan hasil temuan peneliti di lapangan pendapatan masyarakat di Desa Ujung Baji mula-mula tidak menentu dalam usaha pembudidayaan rumput laut, namun seiring dengan masuk dan berkembangnya kegiatan pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah maupun lembaga pemberdayaan berangsur- angsur pendapatan masyarakat mulai mengalami peningkatan yang signifikan.
Perubahan yang dirasakan masyarakat dengan adanya kegiatan
pemberdayaan ini merupakan harapan terbesar dari pemerintah dan lembaga pemberdayan. Hasil temuan pada masyarakat di Desa Ujung Baji, pendapatan masyarakat yang mengalami peningkatan dalam satukali panen bisa mencapai angka 5.000.000 dengan keadaan cuaca yang mendukung untuk hasil rumput laut yang maksimal. Selain itu peningakatan pendapatan Dengan adanya kegiatan pemberdayaan dapat dilihat dari hasil panen yang bisa mencapai angka 4 sampai 5 kali lipat dari bibit yang ditanam.
b) Pendidikan
Pendidikan merupakan hal utama yang wajib dirasakan oleh semua warga Negara. Masyarakat Desa Ujung Baji sebagai masyarakat pesisir sekarang ini sudah mulai peduli akan pendidikan terhadap anak-anak mereka. Walaupun mereka berprofesi sebagai petani rumput laut akan tetapi anak-anak mereka sudah sebagian besar disekolahkan pada sekolah formal yang ada di Desa Ujung Baji. Penghasilan dari rumput laut sehari-harilah yang menunjang pembiayaan anak-anak mereka
bersekolah. Pendidikan berperan penting dalam kehidupan manusia, pendidikan dapat bermanfaat seumur hidup manusia. Dengan pendidikan, diharapkan seseorang dapat membuka pikiran untuk menerima hal-hal baik berupa teknologi, materi, sistem teknologi maupun berupa ide-ide baru serta bagaimana cara berfikir secara alamiah untuk kelangsungan hidup dan kesejahteraan dirinya, masyarakat dan tanah airnya. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan di temukan bahwa pendidikan sudah menjadi perhatian khusus masyarakat walaupun mereka berprofesi sebagai petani rumput laut, namun besar harapan mereka untuk menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke bangku perkuliahan. Sebagian besar anak-anak dari petani rumput laut yang menjadi informan dalam penelitian masih bersekolah pada jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, namun sebagian pula yang telah menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke bangku perkuliahan. Pendidikan para petani rumput laut yang sebagian besar hanya sampai pada jenjang SMP dan SMA mendorong mereka untuk menyekolahkan anak merekake jenjang yang lebih tinggi dari apa yang mereka telah lalui, besar harapan mereka agar kelak anaknya bisa meningkatkan kehidupan sosial ekonomi mereka lewat pendidikan.
Untuk biaya pendidikan para anak petani rumput laut di dapatkan dari hasil penjualan dan pengolahan rumput laut, namun juga disertai dengan tambahan dari pekerjaan sampingan sebagai nelayan tangkap dan budidaya ikan dan udang di empang. Berdasarkan hasil uraian diatas, maka dapat dipahami bahwa masyarakat di Desa Ujung Baji telah menunaikan tugas memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka melalui jenjang pendidikan formal di sekolah-sekolah. Untuk urusan pembiayaan di dapatkan dari hasil panen rumput laut serta hasil sampingan sebagai nelayan tangkap.
c) Jumlah Tanggungan Orang tua
Tanggungan orang tua merupakan sebuah tanggung jawab yang harus dipenuhi kebutuhannya oleh seorang kepala keluarga. Untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari seorang kepala keluarga harus
mampu memenuhi kebutuhan dari anggota keluarga mereka.
Berdasarkan hasil temuan di lapanganjumlah tanggungan para petani rumput laut di Desa Ujung Baji hanya terfokus pada anak-anak dan istri mereka, namun ketika ada kelebihan hasil yang didapatkan kemudian diberikan kepada orang tua dan sanak keluarga mereka. Sejauh ini tanggungan oleh masing-masing orang tua yang berprofesi sebagai petani rumput laut masih dalam kategori terpenuhi. Sejalan dengan hasil temuan diatas (Lirik, 2007:88) mengungkapkan bahwa jumlah tanggungan orang tua yaitu berapa banyak anggota keluarga yang masih bersekolah dan membutuhkan biaya pendidikan, yaitu 1 orang, 2 orang, 3 orang, lebih dari 4 orang.
d) Kepemilikan
Kepemilikan terhadap suatu barang ataupun aset berharga seperti rumah dan tanah maka dapat dikatakan bahwa orang itu mempunyai kemampuan ekonomi yang tinggi dan mereka semakin dihormati oleh orang-orang di sekitarnya. Berdasarkan hasil penelitian yang ditemukan di lapangan bahwa petani rumput lau di Desa Ujung Baji tidak mempunyai kepemilikan lahan yang permanen di daerah pesisir pantai yang kemudian dijadikan tempat pembudidayaan rumput laut. Sistem kepemilikan berdasarkan siapa yang duluan menempati kawasan tersebut maka dialah yang berhak atas lahan tersebut. Lain pula halnya dengan kepemilikan empang yang sebagian masyarakat juga menjadikan sebagai tempat pembudidayaan rumput laut namun sebagian pula yang hanya menjadikan empang sebagai tempat pembudidayaan ikan, udang dan kepiting. Lahan rumput laut hampir seluruhnya telah terpenuhi di kawasan pesisir pantai Desa Ujung Baji, keadaan dan sanitas air yang memungkinkan banyak masyarakat yang menjadikan lahan tersebut sebagai lahan utama dalam pembudidayaan rumput laut yang mereka lakukan. Adapun yang menjadi resiko terbesar ketika pembudidayaan dilakukan di laut adalah cuaca yang tidak menentu dapat menjadikan hasil rumput laut tidak menentu kadang baik jika cuaca mendukung dan hasilnya buruk jika cuaca sedang buruk.
Keadaan ombak yang kadangkala besar dapat merusak budidaya rumput laut yang sedang dalam proses tanam. Sedangkan ketika rumput laut di budidayakan di empang keadaan cuaca nya lumayan dapat di prediksi karena kawasannya yang sempit dan sewaktu-waktu dapat dipantau.
Kepemilikan lahan oleh para petani rumput laut merupakan faktor yang menunjang hasil rumput laut yang maksimal. Ketika petani rumput laut memiki lahan yang luas makan besar peluang mereka untuk mendapatkan hasil yang maksimal ketika hasil rumput lautnya dalam keadaan baik. Namun tingkat kerugian yang sebanding juga ketika lahan yang luas disertaidengan kerusakan hasil rumput laut. Status dalam kepemilikan lahan juga menjadi tolak ukur kehidupan sosial ekonomi masyarakatpetani rumput laut di Desa Ujung Baji.
e) Jenis Tempat Tinggal
Keadaan masyarakat daerah pesisir yang sebagian besar dikategorikan masyarakat miskin dan tertinggal kini mulai terbantahkan, masyarakat di Desa Ujung Baji kini mulai mengalami peningkatan dari segi jenis tempat tinggal yang mereka huni. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa jenis tempat tinggal masyarakat petani rumput laut di Desa Ujung Baji kebanyakan telah mengalami perbuahan yang dulunya masih berdindingkan (gamacca) namun setelah adanya pemberdayaan dan meningkatnya hasil panen rumput laut kemudian mereka mampu mengubah dan merenovasi rumah-rumah mereka menjadi rumah kayu yang kokoh dan rumah batu yang berdindingkan tembok. Kemampuan masyarakat mengubah dan meningkatkan jenis tempat tinggal yang mereka diami merupakan sebuah keberhasilan dari kegiatan pemberdayaan yang dilakukan. Kini telah terbantahkan bahwasnya masyarakat daerah pesisir kebanyakan dalam kategori miskin dan tertinggal, namun di Desa Ujung Baji kini masyarakatnya telah mengalami peningkatan yang signifikan. Jenis tempat tinggal kebanyakan masyarakat adalah milik pribadi. Rumah dapat mewujudkan suatu tingkat sosial ekonomi bagi keluarga yang menempati. Apabila rumah tersebut berbeda dalam hal ukuran kualitas
rumah. Rumah yang dengan ukuran besar, permanen dan milik pribadi dapat menunjukkan bahwa kondisi sosial ekonominya tinggi berbeda dengan rumah yang kecil, semi permanen dan menyewa menunjukkan bahwa kondidi sosial ekonominya rendah.
f) Status Dalam Masyarakat
Status sosial merupakan salah satu konsep sosiologi yang menjelaskan tentang posisi seseorang dalam stratifikasi sosial. Dengan kata lain, status sosial menunjukkan dimana individu berada dalam sebuah sistem yang hierarkis. Individu yang berada di posisi atas memiliki status sosial yang tinggi. Individu yang berada di posisi bawah memiliki status sosial yang rendah. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa sebelum adanya pemberdayaan keadaan masyarakat masih dalam kategori bawah namun sekarang dengan adanya kegiatan pemberdayaan status sosial masyarakat mengalami peningkatan sehingga kebutuh sehari-hari kini mulai terpenuhi dengan baik. Keadaan masyarakat di Desa Ujung Baji yang telah mampu memenuhi kebutuhan sehari- hari dan mampu menyekolahkan anak-anak mereka pada jenjang pendidikan formal merupakan sebuah keberhasilan dalam peningkatan status sosial dalam masyarakat. Secara garis besar perbedaan masyarakat yang ada dalam masyarakat berdasarkan materi yang dimiliki seseorang yang disebut sebagai kelas sosial (sosial class). M. Arifin Noor membagi kelas sosial dalam tiga golongan, yaitu Kelas atas (Upper class), Kelas menengah (middle class) dan Kelas bawah (lower class). Jadi dapat dipahami bahwa, status social ekonomi masyarakat di Desa Ujung Baji telah mengalami peningkatan seiring dengan masuk dan berkembangnya kegiatan pemberdayaan, yang dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah maupun lembaga pemberdayaan pihak swasata.
g) Partisipasi Dalam Masyarakat
Partisipasi masyarakat seringkali dianggap sebagai bagian yang tidak terlepas dalam upaya pemberdayaan masyarakat dengan melihat
partisipasi sebagai kesatuan dalam proses pemberdayaan masyarakat.
Partisipasi masyarakat dapat diartikan sebagai keikutsertaan masyarakat dalam proses pengidentifikasian masalah dan potensi yang ada dimasyarakat, pemilihan dan pengambilan keputusan tentang alternatif solusi untuk menangani masalah, pelaksanaan upaya mengatasi masalah, keterlibatan masyarakat dalam proses mengevaluasi perubahan yang terjadi. Berdasakan hasil peneltian yang ditemukan dilapangan partisipasi masyarakat untuk ikut dalam berbagai kegiatan pembangunan dan pemberdayaan mulai meningkat, Masyarakat kini menyadari kegiatan- kegiatan yang dilakukan tersebut berdampak positif terhadap mereka. Jadi dapat dipahami, dengan adanya komponen-komponen pokok yang harus berperan dalam kegiatan pemberdayaan yang dilakukan maka partisipasi masyarakat merupakan hal yang paling utama yang menentukan sehingga kegiatan tersebut dapat berjalan, ketika masyarakat ikut berpartisipasi segala rangkaian komponen-komponen pokok dapat berjalan sesuai dengan tahapan yang telah direncanakan sehingga hasil yang didapatkanpun maksimal.
E. Infrastruktur 1. Prasarana
a) Prasarana Jalan
Jaringan jalan adalah suatu kesatuan jalan yang terdiri atas sistem jaringan primer dan sekunder yang terjalin dalam hubungan yang hierarkis.
Jaringan jalan di desa Ujung Baji terbagi atas jalan kolektor primer, kolektor sekunder, dan jalan lokal.
Gambar 2.3 prasarana jalan di Desa Ujung Baji
Sumber : Hasil survei lapangan 2021 b) Prasarana Drainase
Prasarana Drainase adalah lengkungan atau saluran air di permukaan atau di bawah tanah, baik yang terbentuk secara alami maupun dibuat oleh manusia, yang berfungsi menyalurkan kelebihan air dari suatu kawasan ke badan air penerima.
Adapun kondisi drainase Desa Ujung Baji sangat kotor karena adanya sampah.
Gambar 2.4 prasarana drainase di Desa Ujung Baji
Sumber : Hasil Survei Lapangan 2021 c) Prasarana Air Bersih
Air merupakan sumber kehidupan. Tanpa air, tidak ada makhluk yang bisa bertahan hidup. Begitu juga terhadap manusia, air merupakan kebutuhan pokok.
Kebutuhan air bersih di Desa Ujung Baji terlayani oleh jaringan perpipaan PDAM dan selain dari PDAM kebutuhan air bersih di Desa Ujung Baji juga diperoleh dari sumur gali ataupun sumur pompa.
d) Listrik
Pemenuhan kebutuhan listrik di Desa Ujung Baji dikelola oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Tabel 2.4 Jumlah pengguna listrik di Desa Ujung Baji
No Pengguna Listrik Jumlah
1. PLN 815
2. Non PLN -
Sumber : Kecamatan Sanrobone Dalam Angka 2020 e) Persampahan
Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/ atau proses alam yang berbentuk padat.
Sistem pengolahan sampah yang digunakan oleh masyarakat Desa Ujung Baji, yaitu sampahnya dikumpulkan di satu tempat atau lubang yang dibuat sendiri kemudian dibakar.
Gambar 2.5 Sistem pengolahan sampah di Desa Ujung Baji
Sumber : Hasil survei lapangan 2021 2. Sarana
a) Sarana Pendidikan
Sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar, baik yang bergerak maupun yang tidak
bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan dan berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efisien.
Menurut Ibrahim Bafadal (2003;2), sarana pendidikan adalah semua perangkatan peralatan, bahan dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan.
Di Desa Ujung Baji terdapat sarana pendidikan yaitu TK sebanyak 2 unit, dan SD sebanyak 2 unit.
Tabel 2.5 Jumlah sarana pendidikan di Desa Ujung Baji N
o
Sarana Pendidikan Jumlah Kondisi
1. TK 2 Baik
2. SD 2 Baik
3. SMP - -
4. SMA - -
Sumber : Kecamatan Sanrobone Dalam Angka 2020
Gambar 2.6 sarana pendidikan di Desa Ujung Baji
Sumber : Hasil Survei Lapangan 2021 b)Sarana Kesehatan
Menurut (undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan) sarana kesehatan yaitu fasilitas pelayanan kesehatan yang merupakan suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.
Di Desa Ujung Baji terdapat sarana kesehatan, yaitu posyandu sebanyak 4 unit dengan kondisi baik dan poskesdes sebanyak 1 unit dengan kondisi baik.
Gambar 2.7 sarana kesehatan di Desa Ujung Baji
Sumber : Hasil Survei Lapangan 2021
Tabel 2.6 Jumlah sarana kesehatan di Desa Ujung Baji No Sarana Kesehatan Jumlah Kondisi
Rumah sakit - -
Puskesmas - -
Posyandu 4 Baik
Pustu - -
Poskesdes 1 Baik
Sumber : Kecamatan Sanrobone Dalam Angka 2020 c) Sarana Peribadatan
Sarana peribadatan merupakan sarana kehidupan untuk mengisi kebutuhan rohani yang perlu disediakan di lingkungan perumahan yang direncanakan selain sesuai peraturan yang ditetapkan, juga sesuai dengan keputusan masyarakat yang bersangkutan ( SNI 03-1733-2004 ).
Di Desa Ujung Baji terdapat sarana peribadatan, yaitu masjid sebanyak 5 unit dengan kondisi baik.
Gambar 2.8 sarana peribadatan di Desa Ujung Baji
Sumber : Hasil Survei Lapangan 2021
Tabel 2.7 Jumlah sarana peribadatan di Desa Ujung Baji Sarana Peribadatan Jumlah Kondisi
Masjid 5 Baik
Musholla - -
Gereja - -
Pura - -
Vihara - -
Sumber : Kecamatan Sanrobone Dalam Angka 2020 d) Sarana Perdagangan dan Jasa
Sarana perdagangan berfungsi melayani dan menyediakan kebutuhan sehari- hari penduduk yang dilengkapi dengan fasilitas-fasiltas pendukung yang dibutuhkan.
Jasa atau layanan adalah aktivitas ekonomi yang melibatkan sejumlah interaksi dengan konsumen atau dengan barang-barang milik, tetapi tidak menghasilkan transfer kepemilikan.
Di Desa Ujung Baji terdapat sarana perdagangan, yaitu warung klontong sebanyak 35 unit dengan kondisi baik, koperasi unit desa sebanyak 1 unit dengan kondisi baik, dan terdapat bangunan sarang walet sebanyak 1 unit.
Gambar 2.9 sarana perdagangan dan jasa di Desa Ujung Baji
Sumber : Hasil Survei Lapangan 2021
Tabel 2.8 Jumlah sarana perdagangan dan jasa di Desa Ujung Baji No Sarana Kegiatan
Ekonomi
Jumlah Kondisi
1. Pasar - -
2. Minimarket - -
3. Warung klontong 35 Baik
4. Koperasi unit desa 1 Baik
5. Restoran - -
6. Sarang walet 1 Sangat baik
Sumber : Kecamatan Sanrobone Dalam Angka 2020 F. Kelembagaan
Kelembagaan didefinisikan sebagai suatu sistem badan sosial yang melakukan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu. Pada umumnya Lembaga dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu lembaga formal dan lembaga non-formal.
1. Lembaga formal adalah kelembagaan resmi yang sengaja dibentuk pemerintah untuk mendukung program tertentu, didukung dengan surat keputusan. Menurut Pakpahan, 1989 menyatakan bahwa Non formal adalah kelembagaan yang tumbuh di masyarakat secara alamiah.
2. Lembaga Non formal adalah kelembagaan yang tumbuh di masyarakat secara alamiah. Tumbuhnya kelembagaan di masyarakat bisa muncul karena adanya persoalan yang tidak bisa diatasi secara individual, sehingga muncul kesepakatan untuk menumbuhkan kelembagaan.
Adapun lembaga yang terdapat di kecamatan ujung baji dapat dilihat pada table dibawah ini.
Tabel 2.9 Jumlah kelembagaan di Desa Ujung Baji
No Lembaga Jumlah
1. LPM 1
2. Pemuda 1
3. BPD 1
Sumber : Kecamatan Sanrobone Dalam Angka 2020
BAB III ISU-ISU UTAMA A. Sumberdaya Alam dan Lingkungan
Di Desa Ujung Baji terdapat tambang pasir yang memiliki pengaruh terhadap masyarakat terutama yang bermukim di sekitar tambang pasir.
Tetapi, tambang pasir tersebut tidak memiliki izin berdasarkan UU No. 1 Tahun 2014 (perubahan UU No. 27 Tahun 2007) tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Pasal 17 Ayat 1 sebelum diterbitkannya Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K) maka izin lokasi untuk pertambangan pasir laut belum dapat diproses.
Kegiatan tambang pasir yang dilakukan di Desa Ujung Baji tersebut tidak berizin mengakibatkan beberapa permasalahan lingkungan yang sudah tidak sesuai dengan pasal 69 ayat 1 huruf (a), yaitu penambangan pasir ilegal yang dilakukan di sepanjang pesisir Desa Ujung Baji mengakibatkan perubahan garis pantai, penurunan kualitas lingkungan, serta kerusakan jalan yang diakibatkan oleh kendaraan berat yang mengangkut pasir seperti yang dikutip dari Dhiaurrahma, D. (2018) tentang Pengaruh Pertambangan Pasir terhadap Lingkungan Permukiman Desa Ujung Baji Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar.
Tambang Pasir di Desa Ujung Baji mulai beroperasi sejak pertengahan tahun 2017 dan merupakan tambang ilegal. Pengerukan pasir laut berpotensi meningkatkan abrasi dan erosi pantai di pesisir Desa Ujung Baji sebab tipe pantai di Desa Ujung Baji termasuk tipe pantai terbuka dan tidak dilindungi sehingga mengancam ekosistem terumbu karang maupun mangrove.
Galian tambang tersebut dekat dengan tempat tinggal masyarakat sehingga sangat mengkhawatirkan terjadinya pergeseran tanah akibat kondisi tanah berpasir. Masyarakat setempat telah beberapa kali melakukan protes terhadap pemerintah setempat dan Polres Takalar pun sudah membubarkan
aktivitas pertambangan tersebut namun hanya terhenti selama beberapa hari dan selanjutnya kembali beroperasi hingga saat ini.
B. Ekonomi
Budidaya rumput laut merupakan penghasilan pokok masyarakat di desa tersebut tetapi sayangnya belum mampu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Hasil panen dan penghasilan yang tidak menentu adalah permasalahan pokok ekonomi yang berdampak terhadap kehidupan sosial dan ekonomi para petani rumput laut seperti yang dikutip dalam artikel yang ditulis oleh Mussyahida.
Fenomena di atas turut berpengaruh terhadap aktivitas masyarakat pesisir khususnya di Desa Ujung Baji yang 92% penduduknya bermatapencaharian petani rumput laut dan dijadikan sebagai penghasilan pokok. Namun, pada kenyataannya, budidaya rumput laut yang diharapkan dapat menjadi solusi atas ketimpangan dan kemiskinan ternyata belum mampu meningkatkan perekonomian sekitar. Hasil panen dan penghasilan yang tidak menentu adalah permasalahan pokok yang berdampak pada kehidupan social dan ekonomi petani rumput Desa Ujung Baji.
Sebagian besar masyarakat belum mampu mengolah sendiri hasil panen rumput laut sehingga hasil yang diperoleh akan dijual dalam keadaan basah dan kering kepada para distributor. Nantinya, distributor tersebut yang akan mengumpulkan dan menjual kembali rumput laut tersebut.
Salah satu faktor yang menyebabkan rumput laut tidak dapat dipanen dengan baik adalah curah hujan. Hal tersebut disebabkan masyarakat memperkirakan hanya di bulan-bulan tertentu penghasilan rumput laut melimpah dan sebaliknya hanya di bulan-bulan tertentu pula penghasilan rumput laut tidak melimpah atau bahkan tidak ada sama sekali. Sehingga, masyarakat akan mencari pekerjaan sampingan untuk mencukupi perekonomian keluarganya.
C. Infrastruktur
Permasalahan jalan di Desa Ujung Baji yaitu terdapat jalan yang masih rusak dan berlubang, sehingga mengganggu kenyamanan pengguna jalan.
BAB IV METODOLOGI A. Pendekatan Penyusunan Profil
Realitas desa-desa pesisir di Indonesia dihadapkan pada empat persoalan pokok, yakni:
1.
Tingginya tingkat kemiskinan masyarakat pesisir.2.
Tingginya kerusakan sumberdaya pesisir;3.
Rendahnya kemandirian organisasi sosial desa dan lunturnya nilai- nilai budaya lokal4. Rendahnya infrastruktur desa dan kesehatan lingkungan pemukiman.
Penyusunan profil desa pesisir merupakan sarana pengenalan terhadap potensi dan tantangan yang di hadapi desa pesisir dalam pengembangan menuju desa pesisir yang tangguh. Dalam rangka memberikan panduan dalam penyusunan profil desa pesisir, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mengeluarkan sebuah Panduan Penyusunan Profil Desa. Dengan adanya panduan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan menciptakan persepsi yang sama di antara para pemangku kepentingan dalam penyusunan profil desa sehingga terwujud sebuah profil desa pesisir yang baik untuk pencapaian desa pesisir yang tangguh.
B. Jenis dan Sumber Data N
o
Kategori Jenis Data Keterangan
A. Biosfik
1. Fisik Pesisir Posisi geografis, letak administrasi, Luas wilayah, tipe tanah dan lain lain
Sekunder dan Primer
2. Sumber Daya Alam
Sumberdaya rumput laut Primer B. Ekonomi
1. Aktivitas Ekonomi
Budidaya rumput lau Primer 2. Potensi
sumberdaya alam dan jasa lingkungan
Potensi lahan potensi industri maritim, potensi ekosistem pesisir, potensi sumberdaya ikan, potensi kebencanaan, potensi pariwisata, , dan lain- lain.
Primer dan
Sekunder
3. Infrastruktur Sarana dan prasarana sosial dan ekonomi
Sekunder C. Sosial
1. Kelembagaan masyarakat 2. Kebijakan
pemerintah dan pemerintah daerah
Undang-undang, Peraturan Pemerintah, Perda, Peraturan Menteri, Peraturan Gubernur
dan atau Peraturan
Bupati/Walikota, aturan masyarakat, dan lain-lain.
Primer dan
Sekunder
Jenis data yang digunakan dalam penyusunan profil desa pesisir adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung melalui pengukuran atau wawancara langsung di lapangan. Sedangkan data sekunder merupakan data yang diperoleh dari berbagai sumber yang telah terlebih dahulu mengumpulkan dan menganalisis data tersebut. Data sekunder yang digunakan sebaiknya menggunakan data time series kurun waktu lima tahun terakhir untuk memperoleh banyak informasi dalam menyajikan data tersebut.
Sumber data yang digunakan dalam penyusunan profil desa pesisir ini berasal dari berbagai sumber seperti:
- Stakeholder terkait atau tokoh kunci yang relevan dengan data dan informasi yang dibutuhkan.
- Publikasi dan dokumentasi dari berbagai instansi dan lembaga terkait yang relevan dengan kebutuhan data seperti: Kantor Desa, Kantor Kecamatan, BPS, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas PU, Dinas Kebersihan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Bappeda dan lain-lain.
- Publikasi dan dokumentasi dari lembaga-lembaga survey, lembaga penelitian dan kajian, LSM dan lain-lain.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data baik data primer maupun data sekunder yang dibutuhkan dalam laporan ini adalah sebagai berikut:
Survei Lapangan. Pengumpulan data dengan teknik survei lapangan dilakukan melalui pengamatan, pengukuran, pemotretan, pendokumentasian langsung ke lapangan. Kegiatan survei lapangan disesuaikan dengan jenis dan kebutuhan data yang dibutuhkan dalam penyusunan laporan ini.
Survei Instansional. Pengumpulan data dengan teknik survey instansional dilakukan melalui pengumpulan data dari berbagai instansi swasta dan pemerintah seperti Kantor Desa. Data yang dikumpulkan melalui metode- metode berupa publikasi data yang disesuaikan dengan kebutuhan penyusunan profil desa pesisir, seperti data kependudukan, pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan lain-lain.
Wawancara. Pengumpulan data dengan teknik wawancara dan FGD dilakukan melalui wawancara langsung atau berdialog langsung kepada sumber data dan informasi seperti nelayan, masyarakat, dan kepala desa.
Studi Pustaka. Pengumpulan data dengan teknik studi pustaka dilakukan melalui penelusuran dokumen hasil kajian dan penelitian yang dilakukan oleh lembaga kajian, lembaga penelitian, perguruan tinggi.
D. Teknik Penyajian Data dan Informasi
Teknik penyajian data dan informasi yang kami sediakan di laporan terkait desa pesisir kami berupa tabel, foto beserta narasi dan argumentasi.
BAB VI PENUTUP
Berdasarkan hasil survei yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa Desa Ujung Baji memiliki kekayaan rumput laut yang sangat melimpah. Hal ini menunjukkan bahwa Desa Ujung Baji memiliki potensi yang besar bagi perekonomian dan pembangunan desa sekaligus dapat memberikan sumbangsi bagi daerah di sekitarnya khususnya bagi Kabupaten Takalar sebagai salah satu daerah penghasil rumput laut.
LAMPIRAN