• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM "

Copied!
82
0
0

Teks penuh

Ibu tercinta Mawia (almarhum) dan ayah tercinta Darwin yang telah memberikan motivasi dan doa untuk saya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsep dan implementasi akad Musyarakah Penelitian Mutanaqishah pada lembaga keuangan syariah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep dan implementasinya merupakan kerjasama antara dua pihak yang saling memberikan kontribusi berupa dana untuk membangun suatu usaha, dengan keuntungan dan resiko ditanggung bersama sesuai kesepakatan.

Dimana dalam praktennya dengan pitak Bank untuk membeli sebuah barang or atau property yang diingining dengan percentage yang telah disepakati. The purpose of this study is to determine the concept and implementation of Musyarakah Mutanaqishah contacts in Islamic financial institutions. The results of this study show that concept and implementation are a collaboration between two parties who contribute to each other in the form of funds to build a business, with benefits and risks shared according to an agreement.

Where in practice with the bank an item or property that is desired to buy with an agreed percentage. To make a profit, the good or property is then divided into two based on the agreement.

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

3 Rohmad, afhandling: "An Analysis of Shareholder Sharia Residential Financing Using the Musyarakah Mutanaqishah Contract Perspective of DSN - MUI fatwa Ko.73/DSN-MUI/XI/2008 (Semarang: UIN Walisongo 2016) s.18.

Tujuan Penelitian

Penelitian Terdahulu

Perbankan Islam”, bahwa pembiayaan adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengannya, berdasarkan perjanjian atau perjanjian pinjam meminjam antara bank dan lembaga keuangan lainnya dengan pihak lain, yang mengharuskan peminjam untuk membayar utangnya setelah jangka waktu tertentu. waktu dengan bagi hasil Yang dimaksud dengan pembiayaan adalah penyediaan dana yang sebanding dengannya, berdasarkan kesepakatan atau kesepakatan antara bank syariah dengan pihak lain yang mengharuskan pihak tersebut untuk dibiayai.Sedangkan dari segi terminologi, pengertiannya terdiri Pembiayaan beberapa pernyataan yaitu menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, bahwa pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah adalah penyerahan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan akad dan perjanjian antara bank dan pihak lain yang mengharuskan pihak yang dibiayai untuk melakukan hal tersebut. mengembalikan uang atau tagihan setelah jangka waktu tertentu berupa imbalan atau bagi hasil.

Dari beberapa pengertian pembiayaan di atas dapat disimpulkan bahwa pembiayaan adalah penyerahan uang atau tagihan berdasarkan persetujuan bank atau perjanjian yang diberikan oleh bank syariah atau lembaga lain dengan pihak lain (nasabah) untuk mengembalikan uang atau tagihan secara angsuran. jangka waktu tertentu sebagai imbalan atau hasil. Rincian jenis pembiayaan terdiri dari beberapa ulasan, yaitu: . satu. bentuk pembiayaan berdasarkan tujuan penggunaan. pembiayaan konsumen, yaitu pembiayaan yang diberikan kepada pelanggan yang digunakan untuk membiayai barang konsumsi. Produk pembiayaan perbankan syariah dibagi menjadi 4 bagian yang dibedakan berdasarkan tujuan penggunaannya yaitu.

Terkait dengan fungsi bank syariah sebagai lembaga intermediasi terhadap fasilitas pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, maka bank syariah menanggung risiko pembiayaan. Hal ini kembali dijelaskan dalam Pasal 37(1) UU Perbankan Syariah yang menyatakan bahwa penyaluran dana berdasarkan prinsip syariah oleh bank syariah dan UUS mempunyai risiko kemacetan pembayaran. Karena hal ini dapat mempengaruhi kesehatan bank syariah dan UUS, karena penyaluran dana tersebut berasal dari dana masyarakat yang disimpan di bank syariah dan UUS, maka risiko yang dihadapi bank syariah dan UUS juga dapat mempengaruhi keamanan sumber daya masyarakat tersebut.

Risiko bagi bank syariah dalam memberikan fasilitas pembiayaan adalah tidak terbayarnya pokok pinjaman dan tidak mendapat imbalan, ujrah, maupun bagi hasil. Sebagaimana disepakati dalam perjanjian pembiayaan antara bank syariah dengan nasabah penerima fasilitas pembiayaan dari bank syariah. 16 Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah (Jakarta:PT RajaGrafindo), hal.179.. merupakan aset produktif bagi bank syariah untuk menghasilkan pendapatan.

Artinya apabila pilihan pembiayaan yang diberikan bank syariah mempunyai kualitas yang baik, maka bank syariah akan mendapatkan kembali dana yang disalurkan bank kepada nasabah yang menerima pilihan pembiayaan terkait pendapatan dalam bentuk imbalan. Penerapan dalam operasional perbankan syariah adalah adanya kerjasama antara bank syariah dengan nasabah dalam pembelian suatu barang, dimana harta kekayaan barang tersebut dimiliki secara bersama-sama. Pelaksanaan akad musyarakah oleh bank syariah digunakan untuk pembiayaan usaha atau proyek yang dibiayai oleh lembaga keuangan yang besarnya tidak 100%, sedangkan sisanya menjadi milik nasabah.

Selain itu juga berlaku untuk indikasi antar lembaga keuangan.18 Selain sejumlah angsuran yang harus dibayar nasabah untuk mengambil alih harta tersebut, nasabah juga harus membayar sejumlah uang sewa kepada bank syariah sampai akhir masa sewa. ketentuan. batas kepemilikan bank syariah. Pembayaran sewa dilakukan bersamaan dengan pembayaran angsuran. Pembayaran secara angsuran merupakan salah satu bentuk pengembalian sebagian harta bank syariah.

Lembaga Keuangan Syariah

Perbankan syariah, yang dimaksud dengan pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu, termasuk dalam bentuk transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah. Mengetahui nisbah bagi hasil akad Musyarakah Mutanaqishah memudahkan dan mempercepat bank dan nasabah dalam menghitung bagi hasil. 30 Firman Wahyudi, Penentuan Nisbah Bagi Hasil Pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah Serta Perlakuan Akuntansinya Pada Bank Mandiri Syariah Cabang Jember, 2015 Artikel Ilmiah untuk Mahasiswa.

Kebijakan penyetoran modal pada pembiayaan musyarakah mutanaqishah pada lembaga keuangan syariah bertolak belakang dengan kontribusi pada nisbah bagi hasil, yaitu minimal 20% (bank). 31 Firman Wahyudi, Penentuan Nisbah Bagi Hasil Pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah Serta Perlakuan Akuntansinya Pada Bank Mandiri Syariah Cabang Jember, Artikel Ilmiah Untuk Mahasiswa 2015, hal.4. Keuntungan usaha yang timbul dari kepemilikan properti MMQ dibagi antara BUS/UUS/BPRS dan pelanggan sesuai nisbah bagi hasil yang disepakati, sedangkan kerugian dibagi menurut nisbah masing-masing modal yang dipegang.

Besarnya nisbah bagi hasil harus disepakati oleh para pihak pada awal akad; perjanjian nisbah bagi hasil merupakan pilar yang harus dipenuhi dalam kontrak. Bagi hasil dalam akad MMQ ini diperoleh dari pendapatan ujroh atas sewa properti MMQ (real estate) yang dimiliki bersama oleh Pemilik Modal (Klien dan BUS/UUS/BPRS). Nisbah bagi hasil ditentukan berdasarkan pendapatan ujroh yang diharapkan akan dihasilkan dan tidak perlu berdasarkan porsi modal MMQ.

Rasio bagi hasil dan pembayarannya akan berubah tergantung pada hisshah atau porsi kepemilikan properti MMQ. Ketentuan mengenai penjadwalan pembelian atau pemindahbukuan hisshah diperhitungkan dan disepakati bersama antara BUS/UUS/BPRS dan pelanggan.32 . Pembayaran bagian bagi hasil BUS/UUS/BPRS dilakukan setiap bulan setelah berakhirnya jangka waktu akhir bulan pada bulan penggunaan uang tersebut atau sesuai dengan tanggal yang disepakati dalam kontrak. Apabila nasabah tidak menggunakan dana atas batas pendanaan pada bulan tertentu (rata-rata saldo penggunaan batas tersebut adalah nol), maka BUS/UUS/BPRS tidak berhak atas pembayaran bagi hasil BUS/UUS /BPRS -bagian.

Bagaimanapun nasabah telah menyampaikan Laporan Realisasi Pendapatan sebelum tanggal pembayaran sebagian pendapatan bagi hasil bank. Apabila nilai pembagian bagi hasil bagian Bank BUS/UUS/BPRS melebihi nilai yang diharapkan dari BUS/UUS/BPRS, maka BUS/UUS/BPRS dapat mengeluarkan pengembalian sebagian bagi hasil tersebut kepada Nasabah. Risiko Pasar Risiko pasar adalah risiko yang disebabkan oleh fluktuasi kondisi pasar makroekonomi baik yang berkaitan dengan inflasi, nilai tukar, maupun suku bunga, meskipun BUS/UUS/BPRS mengabaikan perhitungan bagi hasil berdasarkan suku bunga, namun pengaruh bunga tersebut. suku bunga sendiri harus diperhatikan karena dampaknya menyebar ke segala arah, termasuk sektor riil yang dibiayai oleh BUS/UUS/BPRS.

Oleh karena permasalahan di atas, maka pembiayaan musyarakah yang dilakukan di Perbankan Syariah mempunyai unsur riba dalam praktik musyarakah mutanaqishah. Vidya Fatimah, “Pengaruh Perkembangan Jumlah Tabungan dan Bagi Hasil Terhadap Jumlah Pembiayaan yang Diberikan Perbankan Syariah di Sumatera Utara”, Jurnal Ilmiah, Volume 5, No.1, hal. 41-52, Februari 2017.

Referensi