Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, bentuk kemampuan dan hikmah pengharaman riba menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Teknik pengumpulan data dimulakan dengan membaca pelbagai rujukan khususnya daripada konsep pemikiran Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Hal sebegini menjadi latar belakang penulis untuk menjalankan kajian tentang konsep riba menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang lebih memfokuskan kepada jenis, kebolehan dan hikmah pengharaman riba.
Tajuk penelitian ini ialah “Konsep Riba Menurut Ibnu Kayyim Al-Jauziyah (Jenis Kemampuan dan Hikmah Pengharaman)”. Secara lebih khusus, penulis meneliti bagaimana Ibnu Qayyim Al-Jawziyeh dalam pemikirannya tentang konsep riba memfokuskan kepada jenis, kebolehan dan hikmah pengharaman riba. Kajian ini lebih memfokuskan kepada pemikiran Ibnu Kajjim Al-Jauziyah tentang jenis, kebolehan dan hikmah pengharaman riba.
Buku yang dijadikan rujukan dalam penyelidikan ini ialah “Hukum Islam Dalam Neraca Akal dan Hikmah” dengan tajuk asal “El Kijas fii Syar’I Al Islam” yang merupakan salah satu karya Ibnu Kajim al-Jauziyah. Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis bermula daripada membaca pelbagai rujukan khususnya daripada konsep pemikiran Ibnu Kajjim Al-Jauziyah. Nama penuh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah ialah Muhammad bin Abu Bakar bin Sa'ad bin Hariz Az-Zar'I Ed-Dimaski.
Permulaan ketika Ibnu Qayyim Al-Jawziya menjadi pengikut Ibnu Taimiyyah ialah ketika Ibnu Taimiyyah tiba di Damsyik sekitar tahun 712 Hijrah. pada tahun 751 h. Ibnu Qayyim Al-Jawziyah Jauziyah membahagikan riba kepada dua bahagian iaitu riba jali (jelas) dan riba kafi (kabur).
Ibnu Qayyim Al-Gauziyah mengatakan, diperbolehkannya riba fadhl yang memang wajib dan tidak dapat dihindari, seperti jual beli arayah. Kemudian Ibnu Qayyim mengatakan apa pentingnya hal tersebut dibandingkan dengan kebutuhan manusia dalam membeli dan menjual barang emas. Menurut Ibnu Qayyim Araya, jual beli adalah menjual kurma basah dengan kurma kering.
Ibnu Qayyim Al-Gauziyah membagi bunga menjadi dua bagian, yaitu bunga jali dan bunga kafi.
PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah
- Rumusan Masalah 4
- Kegunaan Penelitian
- Definisi Istilah/Pengertian Judul
- Tinjauan Penelitian Relevan
- Landasan Teori
- Konsep
- Riba
- Biografi Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
- Metode Penelitian
Riba dan bunga bank dalam pandangan Ibnu Qayyim dan pentingnya bagi perkembangan perbankan syariah.” Jurnal Studi Ekonomi dan Bisnis Islam. (2016). Konsep keadilan dalam pandangan Al-Ghazali dan Thomas Aquinas." Topik Universitas; Fakultas Syariah dan Hukum Islam: IAIN Parepare. Riba dan Bunga Bank menurut pendapat Muhammad Syafi'I Antonio "Skripsi Universitas; Fakultas Syariah : UIN Sunan Kalijaga.
Kajian Banding Pemikiran Muhammad Syafi’I Antonio dan Abdullah Saeed Tentang Riba.” Skripsi; Fakultas Syariah : IAIN Ponorogo.
JENIS-JENIS RIBA MENURUT IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH
Biografi Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
- Guru-guru Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
Jual Beli Araya
Nama penuh beliau ialah Abu 'Abdullah Syamsuddin Muhammad Abu Bakar bin Ayyub bin Sa'd bin Huraiz bin Makk Zainuddin az-Zur'I ad-Dimasyqi dan dikenali sebagai Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Khoirul Hadi al-Asy'ari, “Urency and bank interest in the vision of Ibnu Qayyim”, (Jurnal Syariah: Alumni Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Vol.II, No.2, 2014), h. Al-Jauziyah adalah nama salah satu sekolah di Damsyik yang dibina oleh Muhyiddin bin Hafidz bin Abu Faraj Abdurrahman Al-Jauzi, salah seorang pengurusnya ialah bapa kepada Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah amat berbangga dengan murid-muridnya, antaranya ialah mereka yang menjadi Imam dunia, individu terpilih yang mempunyai semangat penyayang, taqwa dan berwawasan.
Dasar Hukum Jual Beli Araya
Apakah yang kamu maksudkan dengan itu?" dia menjawab, "fulan" dia menyebut beberapa orang miskin di kalangan Ansar yang mengadu kepada Nabi SAW. Ini sama seperti nas-nas tentang kewajipan zakat emas dan perak.84 Dalam Fathu Kitab al-Mu' ins dalam Hamisi I'anutu at-Talibin Juz II, iaitu Ubadah bin Ash-shamit dan Muawiyah pernah berkumpul di suatu tempat, mungkin di gereja dan mungkin di tempat perdagangan.
Oleh karena itu, zakat tidak diwajibkan atas perhiasan yang terbuat dari emas dan perak, dan riba tidak berlaku untuk barter atau jual beli uang. 89 Kisanda Midisen dan Santi Handayani, “Jual Beli Emas Tunai Menurut Hukum Fiqh”, (Jurnal Ekonomi Syari’ah Pelita Bangsa: Universitas Pelita Bangsa h. Dan pada umumnya tidak ada yang melakukan kecuali mereka yang memang benar-benar membutuhkan pada saat mereka membutuhkannya. melihat bahwa orang yang memberi hutang selalu pada akhirnya menagih hutangnya dan bersabar dalam menerima imbalan yang ingin diberikannya, orang yang berhutang terpaksa harus menyelesaikan pembayarannya karena kesulitan dan kesukaran yang pada akhirnya menimpa dirinya celaka (bahaya). ) yang menimpanya semakin besar dan semakin sulit baginya untuk membayar utang sehingga utang yang ada melebihi jumlah seluruh harta yang dimilikinya, sehingga seolah-olah dia yang berhutang, tidak dapat memberikan tenggang waktu kepada orang yang memberi utang, tanpa ada manfaat yang diperoleh dari aset tersebut.
Orang yang mencela telah memakan harta saudaranya dengan hak batil, sedangkan orang yang berhutang ditimpa kerugian (bahaya) yang besar dan kesulitan yang berkepanjangan. Hidupnya bergantung pada riba yang ia peroleh dengan susah payah, hal ini dapat membahayakan permintaan keuangan, 3). Larangan riba menjadikan jiwa manusia suci dari riba, hal ini mengandung pesan moral yang sangat tinggi. 4) Kebanyakan yang memberi hutang adalah orang kaya dan orang yang memberi hutang adalah orang miskin.
Mengambil kewajiban berlebihan dari orang yang membutuhkan sangat bertentangan dengan sifat rahmat Allah. Islam menghargai kerja keras dan menghargai orang-orang yang gemar bekerja dan menjadikan pekerjaan sebagai gaya hidup, mengantarkan manusia pada kesempurnaan dan akan membangkitkan semangat, 3) Riba sebagai metode penjajahan, 4) Islam menganjurkan manusia untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang membutuhkan, baik untuk mendapatkan manfaat daripada mengeksploitasi kelemahan. Dari satu sisi dan dari sisi yang berlawanan, terkadang ada orang-orang yang licik dan penipu yang memanfaatkan orang-orang yang lemah pemahamannya dan menyesatkan mereka dengan mengatakan bahwa satu karung gandum sama dengan tiga karung gandum karena kualitasnya, dan a perhiasan yang diukir halus terbuat dari emas.emas adalah sesuatu yang nilainya sangat mirip dengan dua permata.
Hal ini dapat berujung pada menipu orang lain dan merugikan mereka dengan sesuatu yang ditutup-tutupi. Hal ini dapat menghilangkan rasa kasih sayang dan simpati terhadap sesama serta menghilangkan semangat membantu sesama manusia dalam kehidupan. Bagi masyarakat, sebagian besar masyarakat yang mata pencahariannya berdagang harus berhati-hati dan bijaksana dalam melakukan proses jual beli agar tidak terjadi penipuan antara penjual dan pembeli.
HIKMAH KEHARAMAN RIBA MENURUT IBNU QAYYIM AL-
Aspek-aspek Kemudharatan
Hikmah dibalik Hukum Riba
Menurut Jusuf Kardavi, pendapat ulama banyak menyebut tentang hikmah pengharaman riba secara rasional. 94. Seyyid Sabiku juga menjelaskan hikmah mengharamkan riba, kerana di dalamnya terdapat empat unsur yang merosakkan. 95. 95 Hikmah melarang riba antara lain: 1) Menimbulkan beberapa masalah dan menghalau semangat untuk tolong menolong, 2) Riba akan menimbulkan mental pemboros yang lemah dan tidak suka bekerja, menyebabkan terkumpulnya kekayaan. bersusah payah seperti belu memanjat pokok lain.
Hikmah mengharamkan riba fadhl adalah dengan menjauhi pungutan liar yang dimaksudkan sebagai perbuatan yang menguntungkan diri sendiri atau orang lain, yang dapat menimbulkan kerugian bagi masyarakat, terutama kemungkinan adanya penambahan pada salah satu barang yang diperjualbelikan. Hikmah mengharamkan riba dalam Al-Fadhl mempunyai persamaan dengan riba yaitu unsur pokok riba, namun tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat perbedaan yang sangat penting dalam penukaran dua barang sejenis yang memerlukan tambahan. Hal ini sangat jelas terlihat dari kisah Bilal yang mengeluarkan dua sha' kurma buruknya dan mengambil satu sha' kurma baik, namun kedua hal tersebut menimbulkan ketidakpastian akan terjadinya transaksi riba, dengan alasan kurma menghasilkan kurma.
Hikmah melarang riba adalah kerana riba itulah yang menyukarkan peminjam untuk melunaskan hutangnya yang terus bertambah sedangkan dia juga dalam defisit. Menurut Ibnu Qayyim, hikmah pengharaman riba dapat dilihat pada an-nasi’ah riba, baik satu jenis maupun dua jenis, sedangkan pengharamannya adalah karena sifat langsung (perbuatannya sendiri). Oleh sebab itu, tidak sedikit pun yang dibolehkan dari riba, sama seperti riba al-fadhl, hikmah larangannya ialah menutup jalan (menunggu) terhadap riba.
Tidak dinafikan bahawa hikmah pengharaman riba ialah harta tidak dengan sendirinya menghasilkan kekayaan tanpa bantuan orang lain. Dengan hikmah pengharaman riba, ia semata-mata untuk menjaga berbagai aspek, seperti kemaslahatan manusia, baik dari segi akhlak, sosial dan ekonomi. Riba jali yang jelas jenis ribanya (riba ini sama dengan riba nasi'ah), dan riba khafi yang belum jelas jenis ribanya (riba ini sama dengan riba fadhl).
Begitu juga dengan keperluan manusia untuk menjual barangan yang diperbuat daripada emas dan pada masa itu mereka tidak mempunyai wang untuk berniaga dengan orang lain. Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, hikmah mengharamkan riba pada nasi'ah riba ialah riba itulah yang menyukarkan peminjam untuk melunaskan hutangnya, yang dapat menghilangkan sifat belas kasihan dan simpati serta menghilangkan semangat tolong menolong. sesama manusia. Manakala pada riba fadhl hikmah, larangannya adalah untuk mengelakkan peras ugut yang boleh mendatangkan kerugian kepada masyarakat kerana larangan itu pada asasnya ingin menutup jalan kepada perbuatan haram.
PENUTUP
Kesimpulan
Saran
Bagi para pembaca, hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan dan melakukan penelitian lebih lanjut dari penelitian ini.