Judul: Efektifitas Badan Pengawas Pemilu dalam Mencegah Malpraktik Administratif (ALM) Jelang Pemilu 2024 di Kabupaten Polewali Mandar. Penyelenggaraan pengawasan pemilu pertama kali dilakukan pada pemilu tahun 1982, yang pada saat itu dikenal dengan sebutan Pengawas Penyelenggaraan Pemilu (Panwaslak Pemilu) kemudian diubah menjadi Panitia Pengawasan Pemilu (Panwaslu) dan diubah pula menjadi Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu). pengawas pemilu saat ini. dilakukan oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan juga diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu. Badan Pengawas Pemilu yang disebut Bawaslu merupakan lembaga yang sebagai penyelenggara pemilu mempunyai urgensi agar pemilu dapat terselenggara secara bersih, adil, dan jujur.
KPU Edisi 23 Tahun 2018 tentang Kampanye Pemilu, Alat peraga Kampanye yang dapat digunakan antara lain: Baliho, baliho atau videotron; Spanduk atau Spanduk. “Efektifitas Biro Pengawasan Pemilu Dalam Mencegah Pelanggaran Administratif (APK) Jelang Pemilu 2024 di Kabupaten Polewali Mandar.”
Rumusan masalah
Tujuan penelitian
Manfaat Penelitian
Sistematika Penulisan
PENDAHULUAN a. Latar Belakang Masalah
Konsep Pemilihan Umum
Pemilihan Umum dapat dikatakan sebagai alat demokrasi dan wujud perwujudan kedaulatan rakyat untuk menghasilkan wakil-wakil rakyat dan pemimpin-pemimpin yang bercita-cita tinggi, berkualitas dan bertanggung jawab untuk mensejahterakan rakyat. Salah satu kategori kelompok pemilih yang sangat menarik untuk dicermati dan diteliti lebih lanjut adalah pemilih pemula. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui bentuk-bentuk partisipasi politik pemilih pemula dalam pemilu, faktor-faktor yang mendukung partisipasi politik pemilih pemula dalam pemilu dan faktor-faktor yang menghambat partisipasi politik pemilih pemula. dalam pemilu.
Pemilih pemula diharapkan lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan politik dengan membagi waktu antara belajar dan mengikuti kegiatan politik. Menurut Sarbaini, pemilu merupakan ajang pertarungan pengisian jabatan politik di pemerintahan yang diisi melalui pemungutan suara oleh warga negara yang bersyarat. Umumnya pemilu merupakan suatu cara yang digunakan oleh rakyat untuk menentukan pemimpin atau wakilnya dalam pemerintahan. Dapat dikatakan hal ini merupakan hak rakyat sebagai warga negara untuk memilih wakilnya dalam pemerintahan.
Meski setiap warga negara Indonesia berhak memilih, namun undang-undang pemilu memberikan batasan usia untuk mengikuti pemilu. Batasan waktu untuk mencapai batas usia adalah waktu pendaftaran pemilih pemilu, yaitu setelah menginjak usia 17 tahun, diatur oleh KPU dalam PKPU (Peraturan Komisi Pemilihan Umum) nomor 7 Tahun 2022 melalui Pasal 4, mereka yang menjadi pemilih harus warga negara Indonesia dengan sejumlah kriteria, antara lain 17 tahun. Langsung, artinya masyarakat sebagai pemilih mempunyai hak untuk memilih secara langsung dalam pemilihan umum atas kebijaksanaannya sendiri tanpa perantara. B.
Umum Yang dimaksud dengan pemilihan umum berlaku bagi seluruh warga negara yang memenuhi syarat, tanpa membedakan agama, suku, ras, jenis kelamin, golongan, pekerjaan, kedaerahan, dan status sosial lainnya.
Konsep pelanggaran Administrasi pemilu
Pelanggaran administrasi pemilu adalah pelanggaran yang meliputi tata cara, tata cara, dan mekanisme yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemilu pada setiap tahapan pemilu, selain tindak pidana pemilu dan pelanggaran kode etik penyelenggara pemilu Pasal 253 Ketentuan Undang-undang tentang tata cara dan mekanisme terkait hingga administrasi penyelenggaraan Pemilu dapat berupa persyaratan-persyaratan yang diatur baik dalam Undang-Undang Pemilu maupun dalam keputusan KPU yang bersifat regulasi sebagai aturan pelaksanaan Undang-Undang Pemilu. Penyelenggaraan pemilu terdiri dari tiga tahap yang meliputi tahap persiapan, pelaksanaan, dan penyelesaian. Namun dalam kasus ini pelanggaran administratif yang disoroti adalah pemilihan anggota Volksraad, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Rakyat Daerah.
Alat Peraga Kampaye
Substansi atau substansi materi kampanye memuat visi, misi dan program calon atau pasangan calon, lambang atau tanda yang bergambar pasangan calon. Kata-kata atau gambar yang dipublikasikan dimaksudkan untuk mendorong masyarakat agar memilih calon tertentu atau beberapa calon. Baliho adalah lambang atau emblem yang terbuat dari bahan kain, kayu/plastik dan/atau sejenisnya untuk memperkenalkan, memberi semangat atau memuji suatu kegiatan, untuk menarik perhatian masyarakat dan dapat dilihat atau dibaca oleh masyarakat.
Umbul-umbul adalah suatu lambang atau peragaan lambang yang terbuat dari kain dengan corak dan ragam sedemikian rupa, untuk memperkenalkan, memberi semangat atau memuji, menarik perhatian masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan suatu kegiatan yang dapat dilihat atau dibaca oleh masyarakat dan diadakan secara santai atau sementara. c. Spanduk adalah lambang atau lambang yang terbuat dari bahan termasuk kertas dan plastik untuk memperkenalkan masyarakat. merekomendasikan atau memuji, menarik perhatian masyarakat terhadap sesuatu yang berkaitan dengan suatu kegiatan yang dapat dilihat atau dibaca oleh masyarakat dan diadakan secara santai atau sementara. Baliho/billboard/vedeotron terbesar berukuran 4 mx 7 m, maksimal 5 per pasangan calon untuk setiap Kabupaten/Kota. Spanduk terbesar berukuran 1,5 mx 7 m, maksimal 2 buah untuk setiap pasangan calon tiap desa atau aliran/kelurahan lain.
Alat peraga kampanye tidak ditempatkan di tempat ibadah, rumah sakit atau pelayanan kesehatan, gedung umum, lembaga pendidikan (gedung dan sekolah), jalan protokol, jalan raya, sarana dan prasarana umum, taman dan pepohonan. Bawaslu merupakan lembaga penyelenggara pemilu sebagai lembaga yang mempunyai peran dan kewenangan yang besar, Bawaslu tidak hanya sekedar pengawas dan juga eksekutor yang memutus perkara berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum. Pemantauan pemilu merupakan bagian dari upaya Bawaslu dalam mengawal proses pemilu. Fungsi Bawaslu adalah mengawasi pemilu yang jujur dan adil. Saat ini, di era reformasi, kebutuhan akan pemilu yang jujur dan adil semakin meningkat, terbukti dengan semakin kuatnya konstitusi hukum formal. Peran pengawas pemilu sebagaimana diamanatkan UU Nomor 7 Tahun 2017 dilaksanakan oleh Bawaslu sebagai lembaga.
Kerangka Berfikir
Penyelenggaraan pemilu meliputi tata cara, tata cara atau mekanisme yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemilu mulai sebelum pemilu, pada saat pemilu, dan setelah pemilu. Pelanggaran alat salat kampanye yang terjadi salah satunya adalah pemasangan baliho atau spanduk yang tidak sesuai dengan aturan pemilu, seperti pemasangan baliho di tiang listrik, pohon, atau area tempat ibadah. Efektivitas program dapat dicapai apabila terdapat kapasitas operasional untuk melaksanakan program kerja sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Efektivitas dilihat dari tercapainya tujuan dengan penekanan pada aspek produktif, yaitu efektivitas dapat diukur dari sejauh mana tercapainya tingkat produksi dalam kebijakan dan prosedur perusahaan, yang memungkinkan organisasi mencapai tujuan yang telah ditetapkan. mengatur . Semakin tinggi kualitas produk dan jasa yang diberikan maka semakin tinggi pula kepuasan penggunanya sehingga dapat membawa manfaat bagi organisasi. Jika output lebih besar dari input maka dikatakan efisien, dan jika input lebih besar dari output maka dikatakan tidak efisien.
Sehingga efektivitas program dapat dilaksanakan berdasarkan kemampuan operasionalnya untuk melaksanakan program sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.Efektifitas secara umum dapat diartikan sebagai tingkat kompetensi suatu lembaga.
Penelitian Terdahulu
Bagi parpol peserta pemilu rambu-rambu tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada masa kampanye dan kendala yang dihadapi Bawaslu adalah lemahnya regulasi yang ada dalam penertiban APK. Sedangkan penelitian saat ini berada di Kota Polewali Mandar. Sedangkan penelitian saat ini berfokus pada efektivitas Bawaslu dalam mencegah pelanggaran administratif (APC) menjelang pemilu tahun 2024 di Kabupaten Polewali Mandar. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui strategi Bawaslu Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam mencegah pelanggaran kampanye pada Pilpres 2019 dan faktor apa saja yang mempengaruhi peran Bawaslu pada Pilpres 2019.
Hasil Penelitian: Dari hasil penelitian diketahui bahwa dalam mencegah pelanggaran kampanye Bawaslu NTB, PERBAWASLU nomor 28 Tahun 2018 dan undang-undang no. 7 Tahun 2017 sebagai pedoman. Sementara penelitian saat ini berfokus pada efektivitas lembaga pengawas pemilu dalam mencegah terjadinya malpraktik administrasi (ALM) menjelang pemilu tahun 2024 di Kabupaten Polewali Mandar.
Jenis Penelitian
Lokasi dan Waktu Penelitian
Fokus Penelitian
Informan Penelitian
Instrumen Penelitian
Sumber Data
Bila menggunakan wawancara untuk mengumpulkan data, sumber data disebut informan, yaitu orang yang memberikan tanggapan tertulis atau lisan atau menjawab pertanyaan. Jika digunakan dokumentasi, maka dokumen atau catatan menjadi sumber datanya.5 Dalam penelitian ini, sumber data primer berupa kata-kata yang diperoleh dari wawancara dengan informan yang telah ditentukan, antara lain:
Teknik Pengumpulan Data
Apabila yang digunakan adalah dokumentasi, maka dokumen atau catatan merupakan sumber datanya. 5 Dalam penelitian ini, sumber data primer adalah kata-kata yang diperoleh dari wawancara dengan informan yang telah ditentukan yang meliputi... menggunakan observasi partisipan, dimana peneliti terlibat langsung dalam aktivitas kehidupan masyarakat sehari-hari. yang diamati atau yang dijadikan sumber data penelitian.7 Dalam observasi langsung ini peneliti berperan sebagai pengamat penuh yang dapat mengamati gejala-gejala atau proses-proses yang terjadi dalam situasi nyata yang diamati langsung oleh pengamat. Hal ini dimaksudkan agar pembahasan dalam wawancara lebih terarah dan terfokus pada tujuan yang diinginkan dan penghindaran.
Teknik Analisis Data
Reduksi data diartikan sebagai proses memilih, memfokuskan, menyederhanakan, mengabstraksi, dan mentransformasikan data kasar yang muncul dari catatan lapangan tertulis. Antisipasi reduksi data sudah terlihat ketika peneliti memutuskan (seringkali tanpa memahami sepenuhnya) kerangka konseptual bidang penelitian, masalah penelitian, dan pendekatan pengumpulan data mana yang harus dipilih. Selama pengumpulan data, dilakukan tahapan reduksi sebagai berikut (ringkasan, pengkodean, eksplorasi tema, pembuatan cluster, pembuatan divisi, pembuatan memo).
Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang mempertajam, mengkategorikan, mengarahkan, menghilangkan yang tidak diperlukan, dan mengorganisasikan data sedemikian rupa. Miles & Huberman mendefinisikan presentasi sebagai kumpulan informasi terstruktur yang menawarkan kemungkinan untuk menarik kesimpulan dan mengambil tindakan. Semuanya dirancang untuk menggabungkan informasi yang disusun dalam bentuk yang runtut dan mudah diakses.
Menurut Miles & Huberman, penarikan kesimpulan hanyalah sebagian dari satu aktivitas dari konfigurasi yang utuh. Verifikasinya bisa sesingkat pemikiran kedua yang terlintas di benak analis (peneliti) saat dia menulis tinjauan catatan lapangan, atau bisa juga menyeluruh dan menghabiskan energi seperti meninjau dan bertukar ide di antara rekan kerja untuk mengembangkan intersubjektif. kesepakatan atau juga upaya ekstensif untuk memasukkan salinan temuan ke dalam kumpulan data lain. Singkatnya, makna-makna yang muncul dari data lain harus diuji kebenarannya, kekokohan dan kesesuaiannya, yaitu validitasnya.
Kesimpulan akhir tidak hanya didapat pada saat proses pengumpulan data saja, melainkan harus diverifikasi agar benar-benar dapat diperhitungkan.