• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH EKSTRAK DAUN TEH HIJAU (Camelia sinensis) DALAM DILUTER SUSU KUNING TELUR FRUKTOSA TERHADAP MOTILITAS DAN VIABILITAS SPERMATOZOA AYAM GAOK PADA PENYIMPANAN SUHU 5oC

N/A
N/A
3129@ Nashihah

Academic year: 2023

Membagikan "PENGARUH EKSTRAK DAUN TEH HIJAU (Camelia sinensis) DALAM DILUTER SUSU KUNING TELUR FRUKTOSA TERHADAP MOTILITAS DAN VIABILITAS SPERMATOZOA AYAM GAOK PADA PENYIMPANAN SUHU 5oC"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

FRUKTOSA TERHADAP MOTILITAS DAN VIABILITAS SPERMATOZOA AYAM GAOK PADA

PENYIMPANAN SUHU 5

o

C

Oleh NASHIHAH NIM. 062011133129

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA

2023

(2)

ii

PENGARUH EKSTRAK DAUN TEH HIJAU (Camelia sinensis) DALAM DILUTER SUSU KUNING TELUR FRUKTOSA TERHADAP MOTILITAS DAN VIABILITAS SPERMATOZOA AYAM GAOK PADA

PENYIMPANAN SUHU 5oC

Proposal Penelitian

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan

Pada

Fakultas Kedokteran Hewan Uuniversitas Airlangga

Oleh

NASHIHAH NIM. 062011133129

Menyetujui Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Wurlina, drh., MS Dr. Wiwiek Tyasningsih, drh., M.Kes

Pembimbing Utama Pembimbing Serta

(3)

iii

Contents

HALAMAN PENGESAHAN ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan Penelitian... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 6

1.4.1 Manfaat Teoritis ... 6

1.4.2 Manfaat Praktis ... 6

1.5 Landasan Teori ... 6

1.6 Hipotesis ... 7

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA... 9

2.1 Ayam Gaok ... 9

2.1.1 Klasifikasi ... 9

2.1.2 Anatomi Alat Reproduksi Jantan ... 10

2.2 Spermatozoa ... 10

2.2.1 Bagian Kepala Spermatozoa ... 11 DAFTAR ISI

(4)

iv

2.2.2 Bagian Leher Spermatozoa ... 11

2.2.3 Bagian Ekor Spermatozoa ... 12

2.3 Motilitas Spermatozoa ... 12

2.4 Viabilitas Spermatozoa ... 12

2.5 Diluter Susu Kuning Telur Fruktosa ... 13

2.6 Ekstrak Daun Teh Hijau (Camelia sinensis) ... 13

BAB 3 MATERI DAN METODE PENELITIAN ... 15

3.1 Rancangan Penelitian ... 15

3.2 Sampel dan Besar Sampel ... 15

3.3 Variabel yang diamati ... 16

3.4 Definisi Operasional Variabel ... 16

3.5 Tempat dan Waktu Penelitian ... 17

3.6 Materi dan Bahan Penelitian... 17

3.6.1 Hewan Coba... 17

3.6.2 Bahan Penelitian ... 18

3.6.3 Alat Penelitian ... 18

3.7 Prosedur Penelitian... 19

3.7.1 Pembuatan Diluter Susu Kuning Telur Fruktosa ... 19

3.7.2 Penampungan Semen Ayam Gaok ... 19

3.7.3 Pemeriksaan Semen Ayam Gaok Sebelum Perlakuan ... 19

(5)

v

3.7.4 Perlakuan pada Semen Ayam Gaok ... 20

3.7.5 Pemeriksaan Mikroskopis Semen Ayam Gaok ... 20

3.7.6 Penyimpanan pada Suhu 5oC ... 21

3.7.7 Pemeriksaan Mikroskopis Semen Ayam gaok Setiap 2 Jam ... 21

3.8 Analisa Data ... 22

3.9 Diagram Alir Penelitian ... 23 DAFTAR PUSTAKA

(6)

1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ayam lokal atau dapat disebut dengan ayam bukan ras (buras) memiliki peranan yang sangat penting bagi masyarakat di Indonesia, karena dapat memenuhi kebutuhan ekonomi dan asupan sumber protein hewani sehari-hari.

Ayam lokal juga salah satu sumber daya genetik hewan dengan rumpun cukup banyak tersebar di Indonesia, sampai saat ini telah ditemukan lebih dari 39 ayam lokal yang tersebar dan berkembang di Indonesia yang dipelihara masyarakat (Sartika et al., 2006) salah satunya adalah ayam gaok. Ayam gaok merupakan salah satu ayam lokal Indonesia yang berasal dari Pulau Puteran Kabupaten Sumenep Madura, Jawa Timur. Ayam gaok memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi ayam pedaging, petelur maupun sebagai koleksi hewan peliharaan. Hal ini disebabkan karena produktivitas telur ayam gaok juga cukup baik yaitu sebesar 30,2 butir setiap 12 minggu dengan bobot telur sekitar 46,7 gram.

Sampai saat ini, populasi ayam gaok di Madura semakin berkurangnya akibat rendahnya produksi, terbatasnya manajemen pemeliharaan, dan tingginya variasi genetik antar ayam itu sendiri. Selain pola pemeliharaan yang intensif, produksi yang maksimal dapat dicapai dengan aplikasi bioteknologi reproduksi melalui perbaikan mutu genetiknya. Salah satu bioteknologi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan produktivitas dan mutu genetik adalah Inseminasi Buatan. Inseminasi buatan merupakan salah

(7)

satu terapan teknologi reproduksi yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas ternak (Malik dkk, 2018).

Menurut Danang dkk. (2012), keberhasilan inseminasi pada ayam sangat bergantung terhadap beberapa faktor, di antaranya adalah strain ayam, umur, pengencer yang digunakan, dosis inseminasi, kualitas semen, deposisi semen, dan waktu inseminasi. Penggunaan bahan pengencer untuk keperluan inseminasi buatan berfungsi sebagai sumber energi bagi spermatozoa, sebagai agen pelindung terjadinya kejut dingin (cold shock), sebagai penyangga (buffer) bila terjadinya perubahan pH, untuk mempertahankan tekanan osmotik, memperbanyak volume, keseimbangan elektrolit, dan mencegah pertumbuhan kuman. Bahan pengencer yang digunakan tidak boleh mengandung zat beracun baik terhadap spermatozoa maupun saluran kelamin betina, serta tetap mempertahankan dan tidak membatasi daya fertilisasi spermatozoa. Biasanya pengencer tersebut ditambah dengan kuning telur ayam (Utami, 2014).

Kuning telur mengandung glukosa sebagai sumber energi spermatozoa dan beberapa zat protein serta vitamin baik yang larut dalam air maupun minyak yang memiliki viskositas yang menguntungkan spermatozoa. Selain itu, kuning telur mengandung lesitin (derivat lipoprotein) yang berfungsi mempertahankan integritas selubung spermatozoa dan mencegah terjadinya cold shock. Pengenceran dan penyimpanan semen merupakan usaha mempertahankan kualitas spermatozoa dalam periode yang lebih lama yakni untuk memperpanjang daya hidup spermatozoa, motilitas, dan daya fertilitas

(8)

nya (Rusdin, 2000).

Spermatozoa ayam yang diencerkan dan disimpan pada suhu dingin 5oC akan menurunkan persentase motilitas dan viabilitas individu, karena terjadi penurunan suhu dari 37oC pada saat penampungan semen hingga disimpan pada suhu 5oC. Pendinginan akan menyebabkan rendahnya kualitas semen dengan terjadinya perubahan fungsional spermatozoa, kerusakan membran plasma dan tudung akrosom yang menyebabkan terjadinya penurunan motilitas, daya hidup yang berakibat kegagalan fertilisasi. Menurut Solihati et al., (2006), motilitas terendah yang harus dimiliki semen untuk melakukan IB adalah 40%. Sastrodiharjo dan Roesnawati (1999) menyatakan bahwa semen layak digunakan untuk IB bila memenuhi syarat persentase viabilitas di atas 45% .

Teh hijau (Camellia sinensis) mempunyai aktivitas sebagai antioksidan.

Penambahan antioksidan pada pengencer dapat mencegah aktivitas radikal bebas terhadap kerusakan membran sel spermatozoa yang berpengaruh terhadap viabilitas dan fertilitas, serta berperan sebagai sumber energi untuk mempertahankan motilitas spermatozoa. Epigallocatechin -3 gallate (EGCG) yang terdapat dalam teh hijau (Camellia sinensis) mempunyai aktivitas sebagai antioksidan. Terdapat 4 macam polyphenol dalam teh hijau yang diklasifikasikan sebagai catechin, epicatechin (EC), epigallocatechin-3 gallate (EGCG). EGCG merupakan golongan katekin yang paling dominan pada teh hijau dan memiliki aktivitas antioksidatif yang sangat kuat.

(9)

Kerentanan suhu dingin pada penyimpanan semen ayam juga dikaitkan dengan rasio asam lemak tak jenuh yang tinggi dari pada lemak jenuh sehingga Reactive Oxygen Species (ROS) yang terbentuk juga tinggi. Noori (2012) menyatakan kadar Reactive Oxygen Species (ROS) yang tinggi dalam sel dapat mengoksidasi lipid, protein dan DNA, sehingga diperlukan adanya antioksidan yang bertindak sebagai penangkal radikal bebas untuk melindungi spermatozoa. Aktivitas antioksidan turunan dari katekin adalah epigalokatekin galat (EGCG) dianggap sebagai senyawa bioaktif paling menjanjikan dalam teh hijau karena aktivitas antioksidannya yang kuat (Silva et al., 2019).

Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti ingin mengetahui bagaimana pengaruh penambahan ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensis) dalam diluter susu kuning telur fruktosa terhadap motilitas dan viabilitas spermatozoa ayam gaok pada penyimpanan suhu 5oC.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Apakah penambahan ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensis) dalam diluter susu kuning telur fruktosa dapat mempertahankan motilitas spermatozoa ayam gaok pada penyimpanan suhu 5oC?

2. Berapa lama motilitas spermatozoa ayam gaok dapat bertahan dengan persentase ≥ 40 % pada penyimpanan suhu 5oC?

(10)

3. Apakah penambahan ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensis) dalam diluter susu kuning telur fruktosa dapat mempertahankan viabilitas spermatozoa ayam gaok pada penyimpanan suhu 5oC?

4. Berapa lama viabilitas spermatozoa ayam gaok dapat bertahan dengan persentase ≥ 45 % pada penyimpanan suhu 5oC?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas, maka dapat dirumuskan tujuan sebagai berikut:

1. Mengetahui pengaruh ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensis) dalam diluter susu kuning telur fruktosa terhadap motilitas spermatozoa ayam gaok pada penyimpanan suhu 5oC.

2. Mengetahui berapa lama motilitas spermatozoa ayam gaok dapat bertahan dengan persentase ≥ 40 % pada penyimpanan suhu 5oC.

3. Mengetahui pengaruh ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensis) dalam diluter susu kuning telur fruktosa terhadap viabilitas spermatozoa ayam gaok pada penyimpanan suhu 5oC.

4. Mengetahui berapa lama viabilitas spermatozoa ayam gaok dapat bertahan dengan persentase ≥ 45 % pada penyimpanan suhu 5oC.

(11)

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Memberi informasi ilmiah tentang pengaruh ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensis) dalam diluter susu kuning telur fruktosa terhadap motilitas dan viabilitas spermatozoa ayam gaok pada penyimpanan suhu 5oC.

1.4.2 Manfaat Praktis

Memberi informasi kepada petugas inseminator dan peternak tentang pengaruh ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensis) dalam diluter susu kuning telur fruktosa sebagai alternatif bahan pengencer semen terhadap kualitas spermatozoa ayam gaok yang diukur dengan motilitas dan viabilitas spermatozoa.

1.5 Landasan Teori

Keberhasilan inseminasi buatan pada ayam sangat bergantung terhadap bahan pengencer yang digunakan. Ringer's merupakan salah satu bahan pengencer yang paling umum digunakan pada inseminasi buatan ayam.

Ringer’s mempunyai konsentrasi yang sama dengan konsentrasi yang terdapat dalam tubuh dan mengandung glukosa yang merupakan energi pengganti fruktosa dalam plasma semen.

Kandungan glukosa pada ringer’s diperlukan untuk aktivitas metabolisme spermatozoa selama masa penyimpanan (Danang dkk, 2012). Spermatozoa ayam yang diencerkan dan disimpan pada suhu dingin 5oC akan menurunkan

(12)

persentase motilitas individu, karena terjadi penurunan suhu dari 37oC pada saat penampungan semen hingga disimpan pada suhu dingin.

Kuning telur mengandung lesitin (derivat lipoprotein) yang berfungsi mempertahankan integritas selubung spermatozoa dan mencegah terjadinya cold shock. Kuning telur dalam penggunaannya berkisar antara 5 -20%. Di dalam kuning telur terdapat juga protein yang mirip dengan ekstraseluler superoksida dismutase dan plasma glutathione peroksida yang berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas antioksidan (Hartanti, 2012).

Daun teh hijau (Camellia sinensis) sebagai tanaman herbal dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas antioksidan alami dengan cukup kuat, diperoleh dari proses pengolahan daun. Kandungan antioksidan dalam daun teh hijau (Camellia sinensis) bertindak sebagai penangkal aktivitas radikal bebas terhadap kerusakan membran sel spermatozoa yang berpengaruh terhadap viabilitas dan fertilitas, serta berperan sebagai sumber energi untuk mempertahankan motilitas spermatozoa.

Senyawa utama yang berpengaruh terhadap mutu daun teh hijau yaitu katekin (Anjarsari, 2016). Katekin pada teh hijau memiliki kemampuan 100 kali lebih efektif untuk menetralisir radikal bebas daripada vitamin C dan 25 kali lebih kuat dari vitamin E (Towaha dan Balittri, 2013).

1.6 Hipotesis

1. Penambahan ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensis) dalam diluter susu kuning telur fruktosa dapat mempertahankan motilitas spermatozoa ayam gaok pada penyimpanan suhu 5oC.

(13)

2. Penambahan ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensis) dalam diluter susu kuning telur fruktosa dapat mempertahankan viabilitas spermatozoa ayam gaok pada penyimpanan suhu 5oC.

(14)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ayam Gaok

Ayam gaok adalah salah satu varietas dari ayam buras, dinmana betina memiliki cirri warna bulu bervariasi dengan leher unik hitam putih. Ayam gaok jantan memiliki warna dasar hijau metalik kehitaman dengan bulu penutup dan bulu leher putih. Bentuk tubuh besar, tegap dan gagah. Berat ayam gaok jantan dapat mencapai 4 kg dengan kisaran 2,1 kg -2,5 kg sehingga dapat digunakan sebagai ayam pedaging. Produksi telur yang dihasilkan berkisar 40-60 butir pertahun. Ayam gaok juga biasa dijadikan ayam hias terutama ayam jantannya, karena memiliki tampilan yang sangat cantik dan memiliki suara kokok yang khas (Sartika et al., 2014)

2.1.1 Klasifikasi

Ayam menurut gaok termasuk salah satu jenis ayam buras yang dapat dilihat pada Gambar 2.1. Klasifikasi ayam buras Suprijatna (2005) antara lain sebagai berikut :

Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Subphylum : Vertebrata Class : Aves

Subclass : Neornitehs Ordo : Galliformes

9

(15)

Genus : Gallus

Spesies : Gallus domesticus

2.1.2 Anatomi Alat Reproduksi Jantan

Reproduksi pada ayam gaok umumnya sama

dengan jenis ayam kainnya. Sistem reproduksi pada ayam jantan terdiri dari testis, epididymis, dan ductus deferens yang masing-masing berjumlah sepasang serta sebuah phallus yang homolog dengan penis sebagai organ kopulasi pada ayam jantan. Tidak seperti mamalia, ayam jantan memiliki testis yang berada di dalam tubuhnya. Sehingga tidak dijumpai adanya corda spermatica dan tunica vaginalis (Hendarti dkk., 2019).

2.2 Spermatozoa

Spermatozoa dibentuk di dalam tubuli seminiferus dan mengalami proses pematangan di dalam epididimis. Sel spermatozoa mempunyai fungsi dalam pembuahan ovum (Feradis, 2010). . Spermatozoa unggas terdiri atas kepala, badan dan ekor. Struktur morfologi spermatozoa ayam dapat dilihat pada Gambar 2.2

Gambar 2.1. Ayam gaok

(16)

2.2.1 Bagian Kepala Spermatozoa

Bagian kepala spermatozoa unggas berbentuk silindris memanjang dengan akrosom yang meruncing. Kepala spermatozoa pada unggas sedikit melengkung dengan panjang 12 -13 µm dan diselimuti akrosom (2 µm).

Bagian kepala mengandung nukleus, mengandung materi. Menurut Getachew (2016), bagian kepala spermatozoa ayam berbentuk panjang, jika dibandingkan dengan spesies lain.

2.2.2 Bagian Leher Spermatozoa

Bagian leher menghubungkan potongan bagian Basal plate bagian posterior dan bagian terbawah nukleus (Susilawati 2011). Bagian tengah spermatozoa memiliki panjang 4,220±1,127 m. Panjang bagian μ tengah terkait dengan pasokan energi yang lebih besar melalui produksi ATP dalam mitokondria (Cardullo dan Baltz, 1991).

Gambar 1.2 Struktur sel spermaozoa ayam:

akrosom (panah biru), kepala (panah merah), mid-piece (panah hijau), dan ekor (panah

kuning)

(17)

2.2.3 Bagian Ekor Spermatozoa

Ekor ini berfungsi sebagai alat gerak spermatozoa. Bagian tengah dan ekor spermatozoa berasal dari mitokondria dan sitoskleton sel yang menyebabkan spermatozoa menjadi motil. Mitokondria menghasilkan energi yang dibutuhkan untuk pergerakan spermatozoa (Susilawati, 2011).

2.3 Motilitas Spermatozoa

Motilitas spermatozoa adalah salah satu kriteria penentu kualitas spermatozoa yang dilihat dari banyaknya spermatozoa yang bergerak cepat progresif, dengan maksud agar sampai di dalam alat reproduksi betina untuk fertilisasi. Untuk menentukan motilitas dari spermatozoa dapat dilihat dari gerakan individu maupun gerakan massa. Gerakan massa adalah gerakan dari beberapa sel spermatozoa membentuk suatu gelombang. Gerakan massa mencerminkan daya gerak dan konsentrasi spermatozoa pemeriksaan gerakan individu didasarkan pada arah gerakan spermatozoa dan kecepatan sel spermatozoa (Hardijanto, 2010). Untuk melakukan gerakan individu maupun gerakan massa, spermatozoa membutuhkan energi yang berasal dari perombakan adenosin trifosfat (ATP) di dalam selubung mitokondria melalui reaksi-reaksi penguraiannya menjadi adenosin difosfat (ADP) dan adenosine monophosphate (AMP).

2.4 Viabilitas Spermatozoa

Viabilitas atau daya hidup spermatozoa merupakan kemampuan spermatozoa untuk bertahan hidup Viabilitas atau spermatozoa hidup merupakan syarat mutlak bagi spermatozoa dalam melakukan fertilisasi didalam sel telur

(18)

(Hardijanto, 2010). Viabilitas spermatozoa dihitung dari persentase dari jumlah spermatozoa hidup dibagi 100 spermatozoa yang diamati Spermatozoa yang hidup ditandai dengan kepalanya berwarna putih, sedangkan spermatozoa yang mati akan terwarnai merah karena spermatozoa yang telah mati mengalami kerusakan pada lapisan lipid dinding spermatozoa, sehingga pewarna eosin negrosin dapat masuk ke dalam sel. Viabilitas spermatozoa tergantung pada keutuhan membran spermatozoa. Kerusakan membran spermatozoa akan menyebabkan terganggunya proses metabolisme intraseluler spermatozoa sehingga spermatozoa akan melemah dan bahkan bisa menyebabkan kematian (Ihsan, 2008).

2.5 Diluter Susu Kuning Telur Fruktosa

Fungsi kuning teur sebagai bahan diluter adalah mempertahankan integritas selubung spermatozoa dan mencegah cold shock karena mengandung lesitin (derivat lipoprotein). Kuning telur juga mengandung glukoaa sebagai sumber energi spermatozoa dan ebberapa zat protein serta vitamin baik yang larut air maupun minyak yang memiliki viskositas yang menguntungkan spermatozoa (Penuntun Praktikum Inseminasi Buatan. Suherni Susilowati dkk, 2010).

2.6 Ekstrak Daun Teh Hijau (Camelia sinensis)

Ekstrak daun teh hijau (Camelia sinensis) memiliki kandungan antioksidan di antaranya seperti vitamin C, vitamin E, dan flavonoid yang dapat mencegah spermatozoa mengalami kerusakan. Kerusakan struktur spermatozoa disebabkan karena tidak ada atau berkurangnya antioksidan di dalam tubuh yang

(19)

mempertahankan keadaan normal sel dan DNA dari spermatozoa mengalami kerusakan sel (Hartadi, 2015).

(20)

BAB 3 MATERI DAN METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang digunakan dengan satu kelompok kontrol, dan tiga kelompok perlakuan. Ayam gaok jantan merupakan hewan coba yang digunakan dalam penelitian ini dengan usia 1-2 tahun dan berat badan ± 2 kg.

3.2 Sampel dan Besar Sampel

Sampel penelitian yang digunakan adalah semen yang berasal dari 5 ekor pejantan ayam gaok yang berada di Teaching Farm Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Kecamatan Kedamean Kabupaten Gresik Jawa Timur.

Besar sampel dalam penelitian ini dihitung menggunakan rumus Federer (Kusriningrum, 2012)

Keterangan :

t = jumlah perlakuan n = jumlah ulangan

(n − 1) ≥ 15 4n ≥ 19

n ≥194 n ≥ 4,75 ≈ 5

15

(21)

Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Fedder, maka didapatkan jumlah ulangan dalam setiap perlakuan adalah lima. Total sampel yang dibutuhkan untuk semua perlakuan adalah 20 sampel semen.

3.3 Variabel yang diamati

Variabel penelitian dalam penelitian ini dipaparkan sebagai berikut : a. Variabel bebas : Dosis ekstrak daun teh hijau (Camelia

sinensis)

b. Variable terikat : Persentase motilitas dan viabilitas spermatozoa ayam gaok

c. Variabel kendali : Umur, berat badan hewan coba, pakan dan minum secara ad libitum

3.4 Definisi Operasional Variabel

a. Ekstrak daun teh hijau (Camelia sinensis) mengandung komponen bioaktif yaitu polifenol yang memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat untuk mencegah kerusakan spermatozoa, yang diperoleh dari daun teh kering yang didapatkan dari Bandung, Jawa Barat yang diekstraksi dengan cara maserasi dalam pelaut etanol untuk mendapatkan hasil ekstrak cair dan kental, setelah itu untuk mendapatkan hasil yang padat dilakukan proses pengeringan beku (freeze dry) (Suherni dkk, 2019).

b. Motilitas spermatozoa adalah penilaian gerakan spermatozoa yang aktif progresif dengan tidak adanya gerakan yang melingkar, berputar-putar dan mundur. Sebanyak 100 spermatozoa dievaluasi dari 5 lapangan pandang

(22)

berbeda di bawah mikroskop. Penilaian terhadap motilitas dalam bentuk persen (Suprayogi et al, 2018)

c. Viabilitas spermatozoa adalah penilaian hidup dan mati spermatozoa dengan cara melihat spermatozoa tersebut terwarnai atau tidak oleh cairan eosin negrosin. Satu tetes semen di object glass dicampurkan dengan larutan eosin negrosin lalu dipanaskan di atas api bunsen. Sebanyak 100 spermatozoa dievaluasi dari 5 lapangan pandang berbeda di bawah mikroskop. Penilaian terhadap motilitas dalam bentuk persen (Suprayogi et al, 2018).

d. Ayam gaok yang digunakan adalah ayam gaok jantan usia 1-2 tahun dengan berat badan mencapai ± 2 kg. Pakan dan minum secara ad libitum yang diletakkan di dalam kandang.

3.5 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada Juli 2023 di Teaching Farm Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Kecamatan Kedamean Kabupaten Gresik Jawa Timur.

3.6 Materi dan Bahan Penelitian

3.6.1 Hewan Coba

Penelitian ini menggunakan ayam gaok sebagai hewan coba yang didapatkan di Gresik. Ayam gaok yang digunakan adalah adalah ayam jantan dewasa berumur 1-2 tahun dan memiliki berat badan ± 2 kg. Kriteria ayam yang baik untuk diambil semennya di antaranya adalah daerah kloaka dan

(23)

sekitarnya berwarna merah, jarak antara kloaka dengan kedua ujung tulang pelvis dan jarak antara kedua ujung pelvis cukup besar, bulu ekor panjang dan indah serta keadaan hewan seperti turgor kulit, sinar mata, dan kekusaman bulu serta postur tubuh juga ikut menentukan keberhasilkan pengambilan semen (Hardijanto dkk., 2010)

3.6.2 Bahan Penelitian

Penelitian ini menggunakan ekstrak daun teh hijau (Camelia sinensis) yang telah diperoleh dari hasil ekstraksi dan freezing dry daun teh hijau kering di penelitian sebelumnya (Suherni dkk, 2019). Bahan pengencer yang digunakan dalam penelitian ini adalah susu kuning telur dengan fruktosa 7,5%

dan penambahan penicillin serta streptomycin sebagai antibiotik. Pemeriksaan motilitas dan viabilitas spermatozoa menggunakan larutan NaCl fisiologis dan eosin-nigrosin sebagai pewarnaan. Bahan yang diperlukan untuk membersihkan alat penelitian yaitu alkohol 70%.

3.6.3 Alat Penelitian

Alat yang digunakan untuk pemeliharaan hewan coba ayam gaok meliputi kandang, tempat pakan dan minum, masker, gloves, dan peralatan kebersihan kandang. Alat yang digunakan untuk penampungan semen hewan coba ayam gaok meliputi tabung eppendorf berukuran dua milimiter dan kertas tisu. Alat yang digunakan untuk pembuatan diluter hingga pemeriksaan semen meliputi tabung erlenmeyer, termometer, kain kasa steril, kapas, pinset steril, kertas saring, gelas ukur, timbangan digital, tabung reaksi, rak tabung reaksi,

(24)

mikropipet, pipet, object glass, cover glass, mikroskop, alat penghitung, spektrofotometer, lemari pendingin.

3.7 Prosedur Penelitian

3.7.1 Pembuatan Diluter Susu Kuning Telur Fruktosa

Sebanyak 100gram susu skim ditambah dengan 100 ml aquades kemudian dipanaskan. Kuning telur dipisahkan dari putihnya, ditambah dengan susu perbandingan 1:2 dan ditambah fruktosa 7,5 %. Lalu ditambah penicillin 1000 IU dan streptomycin 1 mg/ ml bahan pengencer.

3.7.2 Penampungan Semen Ayam gaok

Penampungan semne dilakukan dengan metode masase pada bagian dorsal hingga pangkal ekor ayam gaok jantan. Sebelum dilakukan penampungan semen, kloaka dibersihkan menggunakan kertas tisu yang sudah diberi alkohol 70%. Penampungan semen dua kali per minggu dengan satu kali penampungan dilakukan dua kali ejakulasi.

3.7.3 Pemeriksaan Semen Ayam gaok Sebelum Perlakuan

Terdapat dua pemeriksaan yang harus dilakukan setelah penampungan semen untuk menentukan kualitas semen segar yang memenuhi syarat untuk diberi perlakuan, yaitu pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis.

Pemeriksaan makroskopis meliputi pemeriksaan bau, warna, volume, kekentalan dan pH semen. Pemeriksaan mikroskopis meliputi konsentrasi semen, presentase sel spermatozoa hidup dan mati, gerakan individu, gerakan massa.

(25)

3.7.4 Perlakuan pada Semen Ayam gaok

Bahan pengencer dibagi 4 kelompok perlakuan. Kelompok kontrol (P0) : semen + susu kuning telur + fruktosa 7,5 % . Kelompok II (P1) : semen + susu kuning telur + fruktosa 7,5 % + ektrak teh hijau 0,05 mg/ 100 ml bahan pengencer. Kelompok III (P2) terdiri dari semen + susu kuning telur + fruktosa 7,5 % + ektrak teh hijau 0,10 mg / 100 ml bahan pengencer, Kelompok IV (P3) terdiri dari semen + susu kuning telur + fruktosa 7,5 % + ektrak teh hijau 0,15 mg/ 100 ml bahan pengencer.

3.7.5 Pemeriksaan Mikroskopis Semen Ayam gaok 1. Motilitas Spermatozoa

Pemeriksaan motilitas sebelum penyimpanan pada suhu 5oC dilakukan dengan cara mengambil satu tetes campuran bahan pengencer dengan semen ayam dari masing-masing perlakuan kemudian diteteskan pada object glass kemudian ditutup dengan gelas penutup dan diamati berapa banyak spermatozoa yang bergerak progresif (maju ke depan) dengan menggunakan mikroskop perbesaran 400 kali (Suprayogi et al, 2018)

2. Viabilitas Spermatozoa

Pemeriksaan viabilitas sebelum penyimpanan pada suhu 5oC dilakukan dengan meneteskan semen segar pada object glass ditambahkan eosin negrosin dicampur sampai homogen dan dibuat preparat ulas, dikeringkan di atas nyala api dengan cepat. Hasil ulasan diperiksa dengan mikroskop perbesaran 400 kali. Jumlah

(26)

persentase spermatozoa yang mati dan hidup tetap dihitung (Suprayogi et al, 2018)

3.7.6 Penyimpanan pada Suhu 5oC

Semen ayam gaok selanjutnya disimpan pada lemari dingin suhu 5oC untuk kemudian dilakukan pengamatan secara berkala.

3.7.7 Pemeriksaan Mikroskopis Semen Ayam gaok Setiap 2 Jam a. Motilitas Spermatozoa

Pemeriksaan motilitas setelah penyimpanan pada suhu 5oC dilakukan dengan menggunakan pergerakan individu spermatozoa yang dapat dilakukan dengan cara mengambil satu tetes campuran bahan pengencer dengan semen ayam dari masing-masing perlakuan kermudian diteteskan pada object glass kemudian ditutup dengan gelas penutup dan diamati berapa banyak spermatozoa yang bergerak progresif (maju ke depan) dengan menggunakan mikroskop perbesaran 400 kali. Motilitas spermatozoa ditentukan dengan menghitung pergerakan spermatozoa motil (bergerak maju) dan tidak motil sampai sebanyak 100 spermatozoa. Motilitas spermatozoa dibagi menjadi 4 kriteria yaitu bergerak maju ke depan, bergerak mundur, bergerak berputar atau ditempat dan tidak bergerak (Suprayogi et al, 2018).

(27)

b. Viabilitas Spermatozoa

Pemeriksaan viabilitas setelah penyimpanan pada suhu 5oC dilakukan dengan meneteskan semen segar pada object glass ditambahkan eosin negrosin dicampur sampai homogen dan dibuat preparat ulas, dikeringkan di atas nyala api dengan cepat. Hasil ulasan diperiksa dengan mikroskop perbesaran 400 kali. Jumlah persentase spermatozoa yang mati dan hidup tetap dihitung dengan ulangan 3 kali dan tiap perhitungan dalam 100 spermatozoa.

Penilaian terhadap viabilitas spermatozoa adalah sebagai berikut : spermatozoa yang hidup kepalanya terlihat transparan atau berwarna jernih. Spermatozoa yang mati membran plasmanya, permeabilitas meningkat akhirnya zat warna masuk ke dalam sel dan kepalanya nampak kemerahan (Suprayogi et al, 2018).

3.8 Analisa Data

Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji ANOVA. Analisis yang berbeda nyata diuji lanjut menggunakan Duncan’s New Multiple Range Test dengan bantuan sofware SPSS (Statistical Package for TEH Social Sciences) for Windows versi 20 (Kusriningrum, 2012).

(28)

3.9 Diagram Alir Penelitian

Penampungan semen Evaluasi semen

Pemeriksaan makroskopis Pemeriksaan mikroskopis

Memenuhi syarat untuk dilakukan pengenceran

P1 Semen ayam gaok

+ Pengencer susu

kuning telur fruktosa + Ekstrak

teh hijau 0,05 mg/10 ml P0

Semen ayam gaok +

Pengencer susu kuning telur

fruktosa

P2 Semen ayam gaok

+ Pengencer susu

kuning telur fruktosa + Ekstrak

teh hijau 0,010 mg/10 ml

P3 Semen ayam gaok

+ Pengencer susu

kuning telur fruktosa + Ekstrak

teh hijau 0,015 mg/10 ml

Pemeriksaan motilitas dan viabilitas spermatozoa ayam gaok Disimpan pada suhu 50C

Pemeriksaan motilitas dan viabilitas psermatozoa ayam gaok setelah disimpan pada suhu setiap 2 jam hingga viabilitas mencapai ≥ 45% dan motilitas mencapai ≥ 40%

Analisis data

(29)

DAFTAR ISI

Anjarsari, I.R.D. 2016. Katekin Teh Indonesia. Prospk dan Manfaatnya.Jurnal Kultivasi. 16 (2) : 9-14)

Cardullo R.A., and J.M. Baltz. 1991. Metabolic Regulation In Mammalian Sperm: Mitochondrial Volume Determines Sperm length and flagellar beat frequency. Cell Motil Cytoskelet.

Feradis. 2010. Bioteknologi Reproduksi pada Ternak. Alfabeta, Bandung.

Getachew T. 2016. A Review Article of Artificial Insemination in Poultry.

World Veterinary Journal. 6(1):25-33.

Hardijanto, S. Susilowati, T. Hernawati, T. Sardjito dan T.W. Suprayogi. 2010.

Buku Ajar Inseminasi Buatan. Pusat Penerbit dan Percetakan Unair (AUP). Surabaya.1-2.20.55-58.

Hardijanto, I.A. Vidyana dan A. Ma’ruf. 2013. Motilitas dan Viabilitas Spermatozoa Domba Sapudi pada Berbagai konsentrasi Ion Perak (Ag+) dalam Pengencer Kuning Telur Sitrat Air Kelapa Muda [Jurnal].

Fakultas Kedokteran Hewan. Surabaya.

Hendarti, Gracia A. 2019. Bahan Ajar Anatomi Ayam. Surabaya : Universitas Airlangga.

Hernawati, T., Safitri, E. 2020 Effect of Fructose on Fertility in Fowl Semen. Indian Veterinary Journal. 97 (4), pp. 43-45.

Hoesni, F. 2016. Efek Penggunaan Susu Skim Dengan Pengencer Tris Kuning Telur Terhadap Daya Tahan Hidup Spermatozoa Sapi. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol.16 No.3.

Ihsan, M. N. 2008. Upaya peningkatan konsentrasi spermatozoa hasil pemisahan dengan sentrifugasi gradien densitas Percoll pada Sapi Friesian Holstein (FH). Disertasi. Program Pascasarjana Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang.

Kusriningrum. 2012. Buku Ajar Perancangan Percobaan. Airlangga University Press. Surabaya.

Malik, Abdul. M. Shahdan, M. Irwan Zakir, N. Sansongko, dan Sakiman. 2018.

Penambahan Minyak Ikan dalam Pengencer Skim Milk-Egg Yolk

24

(30)

Sastrodiharjo S, Resnawati H. 19999. Inseminasi Buatan pada Ayam Buras.

Jakarta. Penebar Swadayadan K. Ruhyat. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

Suprayogi, T.W., Rimayanti, Tatik Hernawati, Soeharsono, Suherni Susilowati.

2018. TEH Addition of L-Arginine in Capacitation Media to Motility, Viability, and Spermatozoa Capacity of Goats. International Journal of ChemTech Research, 11 (3). pp. 13-18. ISSN 0974-4290, ISSN (Online) 2455-9555.

Suprijatna, E., A. Umiyati, dan K. Ruhyat. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.

Susilawati, T. 2011. Spermatologi. UB Press, Malang.

Gambar

Gambar 2.1. Ayam gaok
Gambar 1.2  Struktur sel spermaozoa ayam:

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini jauh lebih lama dibandingkan dengan proses penyembuhan luka pada kelompok II dan kelompok III, dimana diberikan pengobatan berupa povidone iodine 10% salep membutuhkan waktu 9,3

Although schools of nursing are focused on the scholarship and science of nursing as top priorities, and graduate degrees in nursing have become more common, doctoral-prepared nursing