POLA PERESEPAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN
RAWAT JALAN DI PUSKESMAS OHOITAHIT KOTA TUAL
TAHUN 2025 PROPOSAL
DI SUSUN OLEH :
SAFILA AHMAD RENIURYAAN NPM : 4820121170
PROGRAM STUDI S1 FARMASI SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MALUKU HUSADA AMBON
2025
iii
KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan nikmat sehat, iman islam, rezeki, kekuatan, petunjuk, rahmat serta kasih sayangNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal Penelitian dengan judul
“POLA PERESEPAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI DI PUSKESMAS OHOITAHIT, KOTA TUALTAHUN 2025”
Dalam pembuatan dan penyusunan Proposal Penelitan ini penulis telah banyak menerima bantuan atas bimbingan, kesempatan dan perhatian yang telah diberikan, penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. H.Hamdan Tunny,.S.Kep,.M.Kes Selaku Pembina Yayasan Maluku Husada Yang Telah Menyediakan Sarana Prasarana Selama Penulis Mengikuti Pendidikan.
2. Hj.Rasma Tunny S.Sos Selaku Ketua Yayasan Maluku Husada Yang Telah Menyediakan Sarana Prasarana Selama Penulis Mengikuti Pendidikan.
3. Dr. Sahrir Silehu, SKM.,M.Kes Selaku Ketua Di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Maluku Huasada
4. Apt. Aulia Debby Pelu,S.Farm.,M.,Si Selaku Ketua Program Studi Farmasi dan sekaligus sebagai Dosen Pembimbing I yang dengan keikhlasan dalam memberikan arahan, bimbingan, dan demi penyempurnaan proposal ini
5. M. Dahlan Sely,SE.,M.Si Selaku Pembimbing II Yang Telah Memberikan Arahan, Bimbingan, dan Saran Kepada Penulis Dalam Menyelesaikan proposal ini.
6. Teristimewa untuk kedua orangtua saya, Ayahanda Ahmad Reniuryaan dan Ibunda Ema Reniuryaan yang telah memberikan kasih sayang, perhatian, dan dukungan moril maupun materil tanpa henti bagi penulis serta menguatkan penulis dalam doa-doanya. orangtua motivator terbesar penilis untuk terus melangkah meraih mimpi-mimpi akan masa depan dan orang tua yang sangat luar biasa.
iv
7. Saudrara saya kepada kakak tercinta Safitri Ahmad Reniuryaan dan adek – adekku tercinta Safira Ahmad, Edwin Ahmad, Rizkia Ahmad, dan Sasmira Ahmad, atas doa, perhatian, dukungan dan bantuannya.
8. Ponakan saya tercinta Zein Fatur dan Lana Azizzah yang telah menjadi support system bagi penulis dari awal hingga akhir kuliah.
9. Sahabat dan teman terkasih penulis Sasa, Tiara, Dina, Upa, Sabila, Syafira, Rani, Risma, Wanda, Noni, Ika, Puput, Agis, Ulen, Rany, Nurul, Yoan, terimaksih untuk menjadi partner bertumbuh di segala kondisi yang terkadang tidak terduga, menjadi teman nongkrong di semua tempat yang kita datangi, menjadi pendengar yang baik untuk penulis serta menjadi orang yang selalu memberikan semangat dan meyakinkan penulis bahwa segala masalah yang di hadapi selama proses penulisan tugas akhir akan berakhir
10. Kepada seseorang yang tak kalah penting kehadirannya, Mohammad Rizki Salam Rettob terimakasih telah hadir dalam kehidupan penulis selama proses penulisan tugas akhir penulis, selalu menemani, mendengar keluh kesah penulis yang tak pernah henti serta memberikan dukungan, semangat, dan selalu mengusahan kebahagian untuk penulis.
11. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah membantu dan mendukung penulis dalam menyelesaikan tugas akhir dengan baik.
12. Terakhir, kepada diri saya sendiri Safila Ahmad Reniuryaan. Apresiasi sebesar- besarnya yang telah berjuang sampai di titik ini, terimakasih untuk tetap hidup dan merayakan dirimu sendiri, serta senantiasa menikmati prosesnya yang bisa dibilang tidak mudah, walaupun sering kali putus asa atas apa yang sedang di usahakan, tetaplah jadi manusia yang mau berusaha dan tidak Lelah untuk mencoba. God thank you for being me independent women, I know there are more great ones but i’m proud of this achievement
Ambon, 06 Mei 2025
Safila Ahmad Reniuryaan
v
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... i
LEMBARAN PENGESAHAN...ii
KATA PENGANTAR...iii
DAFTAR ISI...v
DAFTAR TABEL ...vii
DAFTAR GAMBAR...viii
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Rumusan Masalah...2
1.3 Tujuan Umum...3
1.4 Tujuan Khusus...3
1.5 Manfaat Penelitian...3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...5
2.1 Hipertensi...5
2.1.1. Defenisi...5
2.1.2. Epidemiologi Hipertensi...5
2.1.3. Klasifikasi Hipertensi...7
2.1.4. Faktor Resiko Hipertensi...8
2.1.5. Modifikasi Gaya Hidup...11
2.2 Golongan Obat Hipertensi...12
2.2.1 Obat Yang Mempengaruhi Resistensi Perifer...12
2.2.2 Obat Diuresis ( Punurunan Volume Darah)...14
2.2.3 Obat Yang Mempengaruhi System Renin-Angiotensi...15
2.2.4 Obat Yang Mempengaruhi Curah Jantung (B Blocker) ...16
2.3 Golongan Obat Menurut WHO...17
2.4 Resep...17
2.4.1 Defenisi...17
2.4.2 Jenis – Jenis Resep...18
2.4.3 Tujuan Penulisan Resep...18
2.4.4 Bagian Resep...19
vi
2.4.5 Penulis Resep...20
2.5 Pengkajian Resep...21
2.5.1 Pengkajian Dan Pelayanan Resep...21
2.6 Pola Peresepan ...24
2.7 Puskesmas... 25
2.7.1 Defenisi Puskesmas...25
2.7.2 Tugas Dan Fungsi Puskesmas...25
2.7.3 Profil Puskesmas Ohoitahit...26
2.8 Populasi Dan Sampel...26
2.8.1 Populasi...26
2.8.2 Sampel...27
2.9 Keaslian Penelitian...28
BAB III KERANGKA TEORI...30
3.1 Kerangka Konsep...30
3.2 Hipotesis Penelitian...30
BAB IV METODE PENELITIAN...31
4.1. Jenis Penelitian...31
4.2. Tempat Dan Waktu Penelitian...31
4.2.1. Tempat Penelitian...31
4.2.2. Waktu Penelitian...31
4.3. Populasi Dan Sampel...31
4.3.1. Populasi...31
4.3.2. Sampel...31
4.3.3. Teknik Sampling...32
4.4. Variabel Penelitian...33
4.5. Defenisi Operasional...34
4.6. Teknik Pengumpulan Data...34
4.6.1. Bahan Dan Alat...34
4.7. Prosedur Penelitian...35
4.8. Pengolahan Data...36
4.8.1. Pengolahan Data ...36
4.9. Analisi Data...36
vii
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan JNC VII...8
Tabel 2.2. Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan WHO...8
Tabel 2.3. Golongan Obat Hipertensi Menurut Pedoman WHO...17
Tabel 2.4. Keaslian Penelitian...28
Tabel 4.1. Defenisi Operasional...34
viii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1. Kerangka Konsep...30 Gambar 4.1. Prosedur Penelitian...35
ix
x
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kematian dini di berbagai belahan dunia. Hipertensi dikenal sebagai The Silent Killer karena dapat menyebabkan kematian secara mendadak tanpa adanya keluhan atau Seseorang dinyatakan hipertensi apabila memiliki tekanan darah diatas140/90 mmHg secara berulang dalam waktu pemeriksaan lebih dari dua kali dengan selang waktu 5 menit (Sekar Siwi et al., 2020).
Secara global, World Health Organization (WHO) memperkirakan prevalensi hipertensi mencapai 33% pada tahun 2023 dan dua pertiga diantaranya berada di negara miskin dan berkembang (WHO, 2023). Jumlah penyandang hipertensi akan terus bertambah seiring waktu dan diperkirakan jumlahnya akan mencapai 1.5 miliar penduduk dunia pada tahun 2025 (WHO, 2018).
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyebab kematian nomor satu di dunia, dengan 90-95% kasus didominasi oleh hipertensi esensial. Di Indonesia, menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dan studi kohor penyakit tidak menular (PTM) 2011-2021, hipertensi merupakan faktor risiko tertinggi penyebab kematian keempat dengan persentase 10,2%.
Di Indonesia, jumlah kasus hipertensi sebesar 63.309.620 orang dan angka kematian akibat hipertensi sebesar 427.218 kematian. Kasus hipertensi pada kelompok umur 31-44 tahun sebanyak 31,6%, umur 45-54 tahun sebanyak 45,3%, dan umur 55-64 tahun kasus hipertensi sebanyak 55,2%. Sampai saat
1
2
ini, banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa dirinya memiliki tekanan darah tinggi sehingga perlu dilakukan pemeriksaan tekanan darah sebagai upaya diagnosis dini apabila terkena hipertensi ( Kemenkes RI, 2024).
Maluku Sendiri tercatat sebesar 25,2% pada tahun 2018 dengan jumlah kasus sebanyak 14.789 jiwa, dan mengalami penurunan jumlah kasus pada tahun 2019 yakni sebesar 1.810 jiwa di tahun 2019. Namun terjadi peningkatan kasus hipertensi menduduki No 4 tertinggi Provinsi Maluku dengan jumlah kasus sebanyak 25.410 jiwa pada tahun 2020 (Dinkes Prov Maluku, 2021).
Berdasarkan survey yang dilakukan di Kota Tual tepatnya di puskesmas Ohoitahit, Penyakit hipertensi masih menjadi kasus penyakit degeneratif terbanyak yang menempati posisi kedua dari grafik 10 penyakit terbanyak di puskesmas Ohoitahit dengan 1.241 kasus. (Puskemas Ohoitahit, 2024).
Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti pola peresepan penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Ohoitahit Kota Tual, karena tingginya angka kasus di hipertensi di Kota Tual tepatnya di Puskesmas Ohoitahit.
1.2. Rumusan Masalah
Bagaimanakah pola peresepan penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Ohoitahit?.
3
1.3. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pola peresepan penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Ohoitahit, Kota Tual.
1.4 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui kesesuaian peresepan obat antihipertensi di Puskesmas Ohoitahit, Kota Tual sesuai dengan pedoman terapi yang berlaku yaitu WHO.
2. Untuk mengidentifikasi jumlah obat antihipertensi yang paling sering diresepkan di Puskesmas Ohoitahit, Kota tual.
1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Bagi Akademik
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna bagi Puskesmas, terutama dalam mengevaluasi kesesuaian peresepan obat antihipertensi dengan pedoman yang berlaku,dan enjadi dasar perbaikan sistem peresepan dan pelatihan tenaga medis untu meningkatkan rasionalitas penggunaan obat.
1.5.2 Bagi Akademik
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi dunia akademik, terutama dalam menambah wawasan dan pemahaman mengenai pola peresepan obat antihipertensi di fasilitas pelayanan kesehatan primer.
1.5.3 Bagi Peneliti Lanjutan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi peneliti lanjutan agatr menjadi dasar referensi untuk penelitian lebih mendalam
4
mengenai pola peresepan obat antihipertensi di Puskesmas dan menyediakan data dan temuan yang dapat digunakan untuk studi lanjutan dalam mengevaluasi efektivitas terapi antihipertensi di tingkat layanan kesehatan primer
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hipertensi
2.1.1 Defenisi
Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah sistolik melebihi 140 mmHg dan atau tekanan diastolik melebihi 90 mmHg, yang terdeteksi melalui dua kali pemeriksaan dengan jeda lima menit saat individu berada dalam keadaan tenang dan telah cukup beristirahat.
Hipertensi dikenal sebagai silent killer atau pembunuh diam-diam karena sering kali tidak menimbulkan gejala yang spesifik. Kondisi ini membuat penderitanya tidak menyadari bahwa mereka mengidap hipertensi, dan biasanya baru terdeteksi setelah munculnya komplikasi serius (Kemenkes, 2018).
Tekanan darah adalah besarnya tekanan yang dihasilkan oleh jantung terhadap dinding arteri saat darah dipompa ke seluruh tubuh.
Tekanan darah terdiri atas dua komponen, yaitu tekanan sistolik dan diastolik. Tekanan sistolik merupakan tekanan tertinggi yang terjadi ketika bilik kiri jantung memompa darah ke arsteri, sedangkan tekanan diastolik merupakan tekanan terendah yang terjadi saat jantung berada dalam fase istirahat (Luthfiyah & Widajati, 2019).
2.1.2 Epidemiologi Hiertensi
Menurut Nurarif A.H. dan Kusuma H. (2016), hipertensi pada lanjut usia disebabkan oleh berbagai perubahan fisiologis, seperti penurunan elastisitas dinding aorta, penebalan dan kekakuan katup
5
jantung, penurunan kemampuan jantung dalam memompa darah, hilangnya elastisitas pembuluh darah perifer, serta meningkatnya resistensi pada pembuluh darah perifer. Faktor-faktor tersebut berkaitan dengan penurunan fungsi organ tubuh seiring bertambahnya usia (Tanjung et al., 2023).
Menurut laporan Riskesdas (2018), prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 34,1%. Provinsi dengan angka tertinggi adalah Kalimantan Selatan sebesar 44,1%, sedangkan Papua mencatat angka terendah yaitu 22,2%. Secara nasional, jumlah kasus hipertensi tercatat sebanyak 63.309.620 orang, dengan angka kematian akibat hipertensi mencapai 427.218 jiwa. Berdasarkan kelompok usia, prevalensi hipertensi tertinggi terdapat pada usia 55–64 tahun sebesar 55,2%, diikuti usia 45–54 tahun sebesar 45,3%, dan usia 31–44 tahun sebesar 31,6%. Banyak masyarakat belum menyadari bahwa mereka mengidap tekanan darah tinggi, sehingga pemeriksaan tekanan darah secara rutin sangat diperlukan sebagai langkah deteksi dini. Riskesdas (2018) juga menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi meningkat pada kelompok usia produktif di Indonesia. Selain itu, sebanyak 50% dari sekitar 15 juta orang memiliki tekanan darah yang tidak terkontrol.
Di Provinsi Maluku, prevalensi hipertensi pada tahun 2018 tercatat sebesar 25,2% dengan jumlah kasus sebanyak 14.789 jiwa.
Pada tahun 2019, jumlah kasus mengalami penurunan menjadi 1.810 jiwa. Namun demikian, terjadi lonjakan kembali pada tahun 2020, di mana hipertensi menjadi penyakit keempat dengan jumlah kasus
6
tertinggi di Provinsi Maluku, yaitu sebanyak 25.410 jiwa (Dinas Kesehatan Provinsi Maluku, 2021).
2.1.3 Klasifikasi Hipertensi
Klasifikasi berdasarkan etiologi : a) Hipertensi esensial (primer)
Hipertensi esensial merupakan jenis hipertensi yang paling umum, mencakup sekitar 90% dari seluruh kasus hipertensi. Hingga kini, penyebab pastinya belum diketahui secara pasti. Namun, terdapat sejumlah faktor yang diduga berperan dalam terjadinya kondisi ini, antara lain faktor genetik, kondisi stres dan psikologis, serta pengaruh lingkungan dan pola makan—seperti obesitas, konsumsi garam yang berlebihan, dan rendahnya asupan kalium maupun kalsium (Manutung, 2018).
Peningkatan tekanan darah sering kali menjadi satu-satunya tanda dari hipertensi primer. Secara umum, gejala hipertensi baru muncul ketika telah terjadi komplikasi pada organ target seperti ginjal, mata, otak, maupun jantung.
b) Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder merupakan jenis hipertensi yang penyebab serta mekanisme patofisiologinya dapat diidentifikasi secara jelas, sehingga lebih mudah dikendalikan dengan pengobatan. Beberapa penyebab hipertensi sekunder antara lain gangguan pada ginjal seperti tumor atau diabetes, kelainan pada kelenjar adrenal, kelainan aorta, gangguan endokrin lainnya seperti resistensi insulin dan
7
hipertiroidisme, serta penggunaan obat-obatan tertentu seperti kontrasepsi oral dan k ortikosteroid (Manutung, 2018).
Klasifikasi berdasarkan derajat hipertensi menurut (Sabrina, 2023) :
a. Berdasarkan Joint National Committe (JNC) VII
Tabel 1
Klasifikasi hipertensi berdasarkan JNC VII Derajat Tekanan Sistolik
(mmHg) Tekanan Diastolik
(mmHg) Normal
Pre hipertensi Hipertensi derajat I Hipertensi derajat II
<120 120 – 139 140 – 159 >160
Dan < 80 Atau 80 -89 Atau 90 – 99
Atau > 100 b. Berdasarkan WHO
Tabel 2
Klasifikasi hipertensi berdasarkan WHO Derajat Tekanan sistolik
(mmHg) Tekanan diastolic
(mmHg Optimal
Normal
Hipertensi derajat I Hipertensi derajat II Hipertensi derajat III Sistolik Terisolasi
<120
<130 140-159 160-179
>180
>140
Dan Dan/ atau Dan/ atau Dan/ atau Dan/ atau Dan/atau
<80
<85 90-99 100-109
>110 <90
2.1.4 Faktor Resiko Hipertensi
Resiko hipertensi dapat terjadi karena beberapa factor, yang dapat meningkatkan tekanan darah, yaitu (Dwi Juni Irianti, 2018)
a. Faktor Risiko Hipertensi yang Tidak Dapat Diubah 1. Usia
Seiring bertambahnya usia, kemungkinan seseorang mengalami hipertensi meningkat. Oleh karena itu, kasus hipertensi cenderung lebih banyak ditemukan pada kelompok usia lanjut.
8
2. Jenis Kelamin
Laki-laki umumnya memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami hipertensi dibandingkan perempuan, kemungkinan karena perbedaan pola hidup. Namun setelah menopause, risiko hipertensi pada perempuan juga meningkat secara signifikan.
3. Faktor Genetik (Keturunan)
Memiliki anggota keluarga dekat yang menderita hipertensi dapat memperbesar kemungkinan seseorang mengalami kondisi serupa. Hal ini terutama berlaku pada hipertensi primer, karena faktor genetik turut berperan dalam pengaturan metabolisme garam dan aktivitas sistem renin dalam sel.
b. Faktor Risiko Hipertensi yang Dapat Diubah 1. Supan Garam Berlebih
Kandungan natrium dalam garam dapat menyebabkan tubuh menahan air, sehingga volume darah meningkat dan menambah tekanan pada dinding pembuluh darah. Selain itu, natrium juga memperkuat efek penyempitan pembuluh darah oleh noradrenalin.
2. Merokok
Nikotin dalam rokok memicu penyempitan pembuluh darah (vasokonstriksi) dan menaikkan tekanan darah. Kebiasaan merokok juga mengurangi efektivitas obat antihipertensi dalam melindungi pembuluh darah.
9
3. Penggunaan Pil Kontrasepsi
Beberapa pil KB mengandung hormon estrogen, yang dapat menyebabkan tubuh menahan garam dan air, sehingga berpotensi meningkatkan tekanan darah.
4. Stres
Kondisi stres atau tekanan emosional bisa menyebabkan lonjakan tekanan darah sementara, karena tubuh melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan noradrenalin yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah.
5. Konsumsi Permen Drop
Permen drop yang mengandung succus liquiritiae memiliki senyawa asam glisirizat, yang bisa menyebabkan retensi air dalam tubuh. Jika dikonsumsi berlebihan, dapat meningkatkan tekanan darah.
6. Hormon Pria dan Kortikosteroid
Hormon testosteron serta obat kortikosteroid memiliki efek menahan air dalam tubuh, yang turut memengaruhi kenaikan tekanan darah.
7. Kehamilan
Tekanan darah dapat meningkat selama masa kehamilan.
Jika rahim terlalu meregang karena pertumbuhan janin dan aliran darah ke rahim berkurang, tubuh dapat melepaskan zat-zat tertentu yang meningkatkan tekanan darah melalui mekanisme mirip dengan yang terjadi di ginjal.
10
2.1.5 Modifikasi Gaya Hidup
Modifikasi gaya hidup merupakan langkah penting untuk menciptakan pola hidup yang sehat dan menghindari kebiasaan yang berisiko bagi kesehatan. Selain penggunaan obat-obatan, perubahan gaya hidup juga direkomendasikan sebagai bagian dari terapi hipertensi menurut pedoman JNC VIII. Meskipun tidak dijelaskan secara rinci dalam JNC VIII, prinsip modifikasi gaya hidup tetap merujuk pada pedoman JNC VII dan referensi lainnya (Muhadi, 2016).
a. Menurunkan Berat Badan
Penurunan berat badan dapat secara signifikan menurunkan tekanan darah sistolik, sekitar 5–20 mmHg, terutama jika berat badan berkurang hingga 10 kg. Hal ini dapat dicapai melalui pengurangan asupan kalori dan peningkatan aktivitas fisik.
b. Menerapkan Pola Makan DASH
Diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) terbukti efektif menurunkan tekanan darah sistolik sebesar 8–14 mmHg. Diet ini menekankan konsumsi buah-buahan, sayuran, dan produk susu rendah lemak dalam jumlah cukup.
c. Mengurangi Konsumsi Garam
Pembatasan asupan natrium harian dapat menurunkan tekanan darah sistolik sebesar 2–8 mmHg. Makanan rendah garam sebaiknya menjadi bagian dari pola makan sehat.
11
d. Meningkatkan Aktivitas Fisik
Melakukan olahraga atau aktivitas fisik dengan intensitas sedang secara rutin dapat menurunkan tekanan darah sistolik sebanyak 4–9 mmHg.
e. Mengurangi Konsumsi Alkohol
Membatasi minuman beralkohol dapat membantu menurunkan tekanan darah sistolik sekitar 2–4 mmHg.
f. Berhenti Merokok
Meskipun dampaknya pada tekanan darah mungkin tidak langsung, berhenti merokok secara signifikan mengurangi risiko penyakit kardiovaskular secara keseluruhan.
2.2 Golongan Obat hipertensi
2.2.1 Obat yang mempengaruhi resistensi perifer a. a-blocker
obat ini bereaksi mengeblok resptor a adrenergic. Persyaratan simpatetik pada pembulu darah melibatkan reseptor a-1 adrenergik.
Aktivitas pada reseptor ini mengakibatkan fasokonstriksi sehingga meningkatkan resistensi perifer, selanjutnya meningkatkan tekanan darah baik vena maupun arteri. Obat a-blocker, atau antagonis reseptor a-1, menyebabkan fasodilatasi. Contoh obat yang seletif menghambat reseptor a-1 adalah prazosin, fentolamin, dan fenoxsibenzamin merupakan obat non selectif a-blocker. Carvedilol dan labetalol (a-&B-blocker) merupakan obat fasodilator yang
12
aksina tidak selektif pada reseptor a dan B adrenergic (Nugroho,2014).
b. Calcium antagonist
Obat ini disebut juga dengan calcium channel blocker, karena beraksi menghambat influx ion kalsium pada kanal ion kalsium (voltage – gated calcium channels) di pembulu darah dan otot jantung. Penurunan ion kalsium intraseluler menyebabkan penurunan kontraksi otot polos pembulu darah, lalu meningkatkan diameter pembulu darah arteri namun tidak pada vena, sehingga menimbulkan fasodilatasi. Fasodilatasi mengakibatkan penurunan resistensi perifer. Pada jantung, penurunan ion kalsium intraseluler menyebabkan penurunan kontraksi sel otot jantung, sehingga menurunkan curah jantung. Penurunan baik curah jantung maupun rsistensi perifer menyebabkan penurunan tekanan darah ( Nugroho, 2014)
c. Golongan nitrat
Obat golongan nitrat mempunyai efek dilatasi pembulu darah dan menurunkan beban awal jantung, mengakibatkan kebutuhan konsumsi oksigen sel jantung berkurang. Obat nitrat di metabolisme dalam tubuh menjadi nitric oxide (NO). NO ini kemudian berinteraksi dengan haem dalam enzim guanylate siklase, mengaktivitasi enzim tersebut untuk kemudian mengaktivitasi cGMP sehingga menurunkan kadar ion kalsium intraseluler, lebih lanjut menyebabkan relaksasi pembuu darah vena. Contoh obat golongan
13
ini adalah nitrogliserin, amilnitrat, isosorbit dinitrat, isosorbit mononitra. (Nugroho, 2014)
2.2.2 Obat diuresis (penurun volume darah)
Diuresis merupakan senyawa yang dapat meningkatkan ekskresi air dan natrium, meliputi :
a. Thiazid
Thiazid termasuk distal tubule diuretics, bereaksi menghambat co-transporter N+/C1- pada tubulus distal sehingga menghambat reabsorbsi Na+ dan C1-. Obat ini juga menyebabkan hipokalemia. Obat ini termasuk obat lini pertama untuk penanganan hipertensi. Contoh obat golongan ini adalah klorotiazid, hidroklorothiazid, klorthalidon dan metozalon. ( Nugroho, 2014).
b. Furosemid
Furosemide termasuk loop diuretics. Obat ini bereaksi menghambat co-trasportes Na+/K+/2C1 pada ascending limb lengkung Hendle sehingga menghambat reabsorbsi Na+ dan C1.
Peningkatan Na+ filtrat nevron Ketika berada bagian tubulas kolektivus akan mengakibatkan sekresi K+ dan H+ sehingga menyebabkan hipokalemia. Contoh obat golongan ini adalah furosemide, bumetanid, peretanid, torasemid, dan asam etakrinat.
(Nugroho, 2014).
c. Diuresis hemat kalium
Obat ini bereaksi pada duktus kolektivivus, dan efek diuresisnya sangat lemah sehingga tidak digunakan dalam bentuk tunggal.
14
Diuresis ini sering dikombinasikan dengan diuresis lainnya untuk menjaga keseimbangan ion kalium. Spinorolakton merupakan antagonis aldosterone, suatu hormone yang menyebabkan resistensi air dan ion natrium. Aksi spinorolakton lainnya adalah menurunkan sekresi ion kalium. Amirolid dan triamterene bereaksi mengeblok kanal ion natrium pada numen nefron, sehingga menghambat reabsorpsi Na+ dan menurunkan sekresi K+ (Nugroho, 2014).
2.2.3 Obat yang mempengaruhi system renin-angiotensi a. Angiotensin converting enzyme inhibitors
Angiotensin-converting-enzyme ( ACE) merupakam enzim penting dalam system renin-angiotensin. ACE disebut juga dengan peptidil dipeptida hidrolase atau peptidil dipeptidase. Enzim ini mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II pada permukaan sel endothelium. Angiotensin II adalah suatu vasokostriktor poten dan pemacu sekresi aldosteron. Aldosteron sendiri menyebabkan peningkatan volume darah sehingga meningkatkan resistensi vaskuler. Obat golongan ini tidak mempengaruhi kadar glukosa darah sehingga tepat bila digunakan pada pasien diabetes yang mengalami hipertensi. Efek samping klinik yang sering terjadi adalah batuk kering, disebabkan karena akumulasi bradykinin dalam mukosa bronkus. Contoh obat golongan ini adalah kaptopril, enalapril, lisinopril, ramipril, transdolapril, perindopril (Nugroho, 2014).
15
b. Antagonist reseptor angiotensin II
Obat ini bereaksi menghambat reseptor angiotensin II Khususnya AT-1. Aksinya sebenarnya mirip dengan ACE inhibitor, bedanya obat ini menghambat aktivitas angiotensin II terhadap resptornya, sedangkan ACE inhibitor menghambat produksi angiotensin II. Secara teori, obat ini lebih menguntungkan dibandingkan ACE inhibitor karena tidak menghasilkan efek samping batuk kering. Contoh obat golongan ini adalah losartan, candesartan, dan valsartan (Nugroho, 2014).
2.2.4 Obat yang mempengaruhi curah jatung (B Blockers)
Obat ini bekerja menghambat persyarafan simpatetik menuju organ jantung. Obat ini juga digunakan dalam terapi hipertensi karena menurunkan frekuensi denyut jantung, curah jantung dan pelepasan enzim renin dari ginjal. Semuanya melibatkan penghambatan pada reseptor B1 adrenerik. Selain itu obat ini juga digunakan pada terapi penyakit angina pektoris, disritmia jantung, infark miokardial dan migrain. (Nugroho, 2014).
a. Non-selective B Blockers
Golongan obat yang bekerja menghambat B1 dan B2 reseptor.
Contoh obat golongan ini adalah propranolol, nadolol, timolol
16
b. Selective B Blockers
Golongan obat yang spesifik manghambat B1 reseptor. Contoh obat golongan ini adalah metoprolol, bisoprolol, atenolol, acebutolol.
2.3 Golongan Obat Menurut Pedoman WHO
Menurut pedoman dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), golongan obat antihipertensi yang direkomendasikan sebagai terapi lini pertama untuk pengendalian tekanan darah tinggi meliputi : (WHO, 2021)
Tabel 2.3. Golangan obat menurut pedoman WHO
Golongan Contoh Obat Mekanisme
Diuretik Tiazid atau Tiazid-like - Hindroklorotiazid - Indapamid - Klorotalidon
Meningkatkan ekskresi natrium dan air, menurunkan volume darah
ACE Inhibitor (Angiotensin Congverting Enzyme Inhibitor)
- Enalapril - Ramipril - Lisinopril
Menghambat pembentukan angiotensin II, vasodilatasi, dan menurunkan resistensi vascular Angiotensin II Receptor Blocker
( ARB ) - Losartan
- Valsartan - Telmisartan
Memblokir reseptor angioensin II, menurunkan tekanan darah Calcium Channel Blocker
( CCB ) - Amlodipin
- Nifedipin - Felodipin
Menghambat masuknya ion kalsium ke otot polos pembuluh darah, menyebabkan vesodilasati
2.4 Resep
2.3.1 Defenisi
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016 mengenai standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit, resep diartikan sebagai permintaan tertulis dari dokter atau dokter gigi kepada apoteker, baik dalam bentuk fisik maupun elektronik, untuk meracik dan menyerahkan obat atau alat kesehatan kepada pasien sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pelayanan resep mencakup sejumlah tahapan, dimulai dari penerimaan resep, pengecekan ketersediaan obat,
17
pengkajian terhadap isi resep, penyiapan obat dan alat kesehatan termasuk proses peracikan, pemeriksaan akhir, hingga penyerahan obat kepada pasien yang disertai dengan pemberian informasi terkait penggunaannya. Penulisan resep harus dilakukan secara lengkap dan jelas, karena ketidakjelasan atau ketidaklengkapan dalam penulisan resep dapat menimbulkan kesalahan pengobatan (medication error).
Medication error sendiri merupakan kejadian yang merugikan pasien akibat penggunaan obat selama berada dalam pengawasan tenaga medis, padahal kejadian tersebut sebenarnya bisa dicegah (Permenkes RI, 2016).
2.4.2 Jenis-jenis resep
Terdapat dua jenis resep, yaitu resep standar dan resep magistral.
Resep standar adalah resep dengan formula yang sudah ditetapkan dan tercantum dalam buku resmi seperti farmakope atau standar lainnya.
Sementara itu, resep magistral merupakan resep hasil modifikasi yang dibuat oleh dokter, berupa campuran beberapa obat atau obat tunggal yang telah diencerkan (Ramkita, 2018).
2.4.3 Tujuan penulisan resep
Penulisan resep bertujuan untuk mendukung kelancaran komunikasi antara dokter dan apoteker dalam pelayanan kefarmasian, membantu mengurangi potensi kesalahan dalam pemberian obat, serta berfungsi sebagai catatan riwayat penggunaan obat oleh pasien. Selain itu, resep juga berperan dalam mempermudah proses identifikasi pasien (Kumar et al., 2019).
18
Sementara itu, menurut Romdhoni (2020), resep ditulis untuk memudahkan dokter dalam memberikan pelayanan di bidang farmasi serta menjadi bagian dari rekam medis yang penting guna meminimalkan kesalahan dalam terapi obat.
2.4.4 Bagian Resep
Resep harus mencantumkan informasi lengkap mengenai jenis obat yang diberikan, kepada siapa obat tersebut ditujukan, serta siapa yang meresepkannya. Selain itu, resep juga perlu menjelaskan jumlah obat atau sediaan yang harus disiapkan, rute pemberian, dan durasi penggunaannya. Unsur-unsur yang wajib ada dalam sebuah resep meliputi:
1. Identitas dokter, dokter gigi, atau dokter hewan yang mencakup nama, alamat, dan nomor izin praktik.
2. Waktu dan lokasi penulisan resep (Inscriptio).
3. Simbol “R” sebagai penanda awal resep di sisi kiri (Invocatio).
4. Informasi mengenai obat seperti nama, komposisi, jumlah, dan cara pembuatannya (Praescriptio).
5. Petunjuk penggunaan obat secara tertulis (Signatura).
6. Tanda tangan atau paraf dokter yang menulis resep (Subscriptio).
7. Untuk resep dokter hewan, harus disertakan pula jenis hewan serta nama dan alamat pemiliknya (Kumar et al., 2019)
Menurut Nora Ramkita (2018), penulisan resep yang benar harus mencantumkan beberapa elemen penting, yaitu:
19
1. Identitas lengkap dokter yang meliputi nama, nomor izin praktik, alamat tempat tinggal atau tempat praktik, serta nomor telepon yang bisa dihubungi.
2. Nama kota serta tanggal saat resep tersebut dibuat.
3. Simbol R/ yang merupakan singkatan dari Recipe atau “harap diambil”, yang termasuk dalam bagian superscriptio.
4. Nama obat, baik berupa nama generik maupun nama dagang, lengkap dengan dosis dan jumlahnya menggunakan satuan seperti mikrogram, mililiter, miligram, atau gram, yang merupakan bagian dari inscriptio.
5. Bentuk sediaan obat yang diresepkan, yang tercantum dalam bagian subscriptio.
6. Simbol S/ yang menunjukkan bagian signatura, yaitu petunjuk penggunaan obat yang biasanya ditulis dalam bahasa Latin.
7. Penulisan resep sebaiknya ditutup dengan sebuah garis horizontal di bagian akhir, diikuti dengan paraf dokter sebagai tanda pengesahan.
8. Identitas pasien juga harus dicantumkan, termasuk nama penderita, usia, serta berat badan, yang merupakan bagian dari pro.
2.4.5 Penulis resep
Resep adalah suatu permintaan tertulis yang bersifat resmi, dan tidak dapat dibuat oleh sembarang orang. Hanya pihak tertentu yang memiliki kewenangan untuk menulis resep, yaitu
a. Dokter umum.
20
b. Dokter gigi, namun terbatas pada pengobatan yang berkaitan dengan kesehatan gigi dan mulut.
c. Dokter hewan, dengan kewenangan terbatas pada pemberian obat untuk hewan (Kumar et al., 2019).:
Romdhoni (2020) menyatakan bahwa resep adalah permintaan tertulis yang dibuat oleh dokter, termasuk dokter gigi dan dokter hewan, yang memiliki izin praktik sesuai dengan ketentuan perundang- undangan. Permintaan ini ditujukan kepada apoteker pengelola apotek untuk menyiapkan, meracik, serta me nyerahkan obat kepada pasien.
2.5 Pengkajian resep
2.5.1 Pengkajian dan Pelayanan Resep
Menurut permenkes No 34 tahun 2021 tentang standar pelayanan kefarmasian di klinik,ssalah satunya adalah pengkajian dan pelayana resep. Kegiatan pengkajian Resep meliputi administratif, kesesuaian farmasetik,mdan pertimbangan klinis.
1. Kajian administratif meliputi:
a. Identitas pasien meliputi; nama pasien, tanggal lahir, jenis kelamin dan beran badan;
b. Nama dokter, nomor Surat Izin Praktik (SIP), alamat, nomor telepon dan paraf; dan
c. Tanggal penulisan Resep.
2. Kajian kesesuaian farmasetik meliputi:
a. Bentuk dan kekuatan sediaan;
b. Stabilitas; dan
21
c. Kompatibilitas (ketercampuran Obat).
3. Pertimbangan klinis meliputi:
a. Ketepatan indikasi dan dosis Obat;
b. Aturan, cara, dan lama penggunaan Obat;
c. Duplikasi dan/atau polifarmasi;
d. Reaksi Obat yang tidak diinginkan (alergi, efek samping Obat,manifestasi klinis lain);
e. Kontraindikasi; dan f. Interaksi.
Jika ditemukan adanya ketidaksesuaian dari hasil pengkajian maka Apoteker harus mengomunikasikannya kepada dokter penulis Resep dan mencatat hasilnya.
Pelayanan Resep dimulai dari penerimaan, pemeriksaan ketersediaan, penyiapan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan BMHP termasuk peracikan Obat, pemeriksaan, penyerahan disertai pemberian informasi Obat. Pada setiap tahap alur pelayanan Resep dilakukan upaya pencegahan terjadinya kesalahan pemberian Obat (medication error).
Setelah melakukan pengkajian Resep dilakukan hal sebagai berikut:
1. Menyiapkan Obat sesuai dengan permintaan Resep:
a. Menghitung kebutuhan jumlah Obat sesuai dengan Resep;
b. Mengambil Obat yang dibutuhkan pada rak penyimpanan dengan memperhatikan nama Obat,tanggal kedaluwarsa, dan keadaanfisik Obat.
22
2. Melakukan peracikan Obat bila diperlukan.
3. Memberikan etiket sekurang-kurangnya meliputi:
a. Informasi pasien, tanggal etiket dikeluarkan, cara pakai, ED, dan BUD (beyond use date).
b. Menempelkan label “kocok dahulu” pada sediaan bentuk suspensi atau emulsi.
4. Memasukkan Obat ke dalam wadah yang tepat dan terpisah untuk Obat yang berbeda untuk menjaga mutu Obat dan menghindari penggunaan yang salah.
Setelah penyiapan Obat dilakukan hal sebagai berikut:
1. Sebelum Obat diserahkan kepada pasien harus dilakukan pemeriksaan kembali mengenai penulisan nama pasien pada etiket, cara penggunaan serta jenis dan jumlah Obat (kesesuaian antara penulisan etiket dengan Resep).
2. Memanggil nama dan nomor tunggu pasien.
3. Memeriksa ulang identitas dan alamat pasien;
4. Menyerahkan Obat yang disertai pemberian informasi Obat;
5. Memberikan informasi cara penggunaan Obat dan hal-hal yang terkait dengan Obat antara lain aturan pakai dan interval waktu penggunaannya (misalnya disampaikan satu tablet tiap delapan jam) manfaat Obat, makanan dan minuman yang harus dihindari, kemungkinan efek samping, cara penyimpanan Obat, dan lain-lain;
23
6. Penyerahan Obat kepada pasien hendaklah dilakukan dengan cara yang baik, mengingat pasien dalam kondisi tidak sehat mungkin emosinya tidak stabil;
7. Memastikan bahwa yang menerima Obat adalah pasien atau keluarganya;
8. Membuat salinan Resep sesuai dengan Resep asli dan diparaf oleh Apoteker (apabila diperlukan);
9. Menyimpan Resep pada tempatnya;
10. Apoteker membuat catatan pengobatan pasien dengan menggunakan Formulir 7. Catatan pengobatan pasien diutamakan untuk pasien yang diprioritaskan mendapat Pelayanan Farmasi Klinis (Konseling, PTO) contohnya pasien penyakit kronis.
2.6 Pola Peresepan
Pola peresepan adalah gambaran penggunaan obat secara umum atas permintaan tulis dari dokter, dokter gigi, dan dokter hewan kepada Apoteker untuk menyiapkan obat untuk pasien. Penggunaan obat merupakan salah satu aspek terpenting dalam pengobatan. Salah satu pedoman pola peresepan obat rasional yang umum adalah indeks yang digunakan menurut WHO. Indikator WHO adalah pedoman untuk mengevaluasi penggunaan obat secara rasional (Sisyeni dan Hardiyan, 2022).
Penggunaan obat yang tidak tepat akan menimbulkan banyak masalah.
Peresepan yang tidak rasional akan meningkatkan terjadinya efek samping obat, interaksi obat,biaya pengobatan serta mengakibatakan penurunan kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat. (Enato dan Ifeanyl, 2011).
24
Beberapa hal yang menjadi kriteria pemantauan peresepan oleh WHO adalah jumlah obat dalam satu resep (Poli Farmasi), penurunan biaya pengobatan melalui peresepan obat generic serta penurunan kejadian penularan penyakit melalui suntik juga menjadi kriteria dalam peresepan WHO.
2.7 Puskesmas
2.7.1 Defenisi Puskesmas
Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya Kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan mengutamakan upaya promotif dan preventif untuk mencapat derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya. Puskesmas merupakan salah satu fasilitas kesehatan yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat dimana puskesmas dan jejaringnya menjadi ujung ombak dari pelayanan kesehatan di Indonesia. (Permenkes, 2014).
2.7.2 Tugas dan Fungsi Puskesmas
Puskesmas mempunyai tugas menyelenggarakan dan mengoordinasikan Pelayanan Kesehatan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan/atau paliatif dengan mengutamakan promotif dan preventif di wilayah kerjanya. Selain itu Puskesmas memiliki fungsi sebagai penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan primer di wilayah kerjanya. Dalam melaksanakan fungsi, Puskesmas berperan mewujudkan wilayah kerja yang sehat dengan masyarakat yang:
a. berperilaku hidup sehat;
b. mudah mengakses Pelayanan Kesehatan bermutu;
25
c. hidup dalam lingkungan sehat; dan
d. memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya,
e. baik individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat.
(Permenkes,2024)
2.7.3 Profil Puskesmas Ohoitahit
Puskesmas Ohoitahit merupakan fasilitas kesehatan tingkat pertama yang berlokasi di Desa Ohoitahit, Kecamatan Pulau Dullah Utara, Kota Tual, Provinsi Maluku. Sebagai puskesmas non-rawat inap, layanan utamanya meliputi pemeriksaan kesehatan dasar, imunisasi, pelayanan ibu dan anak, promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, perbaikan gizi masyarakat, upaya P2P, kesehatan usia lanjut, kesehatan mata, kesehatan jiwa, kesehatan sekolah, erawatan kesehatan masyarakat serta kesehatan kerja . (Profil Puskesmas 2024)
2.8 Populasi dan Sampel 2.8.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan elemen dalam penelitian meliputi objek dan subjek dengan ciri ciri dan karakteristik tertentu. Populasi dapat dibagi menjadi tiga, populasi berdasarkan jumlahnya yaitu populasi terbatas dan populasi tak terbatas, berdasarkan sifatnya yaitu populasi homogen dan populasi heterogen, dan berdasarkan perbedaan yang lain yaitu populasi target dan populasi survey sedangkan sampel diartikan sebagai bagian dari populasi yang menjadi sumber data yang sebenarnya dalam suatu penelitian. (Amin et al. 2023).
26
27
2.8.2 Sampel
Sampel terdiri dari bagian populasi yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling (Nursalam, 2017). Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah resep pasien di wilayah kerja Puskesmas Ohoitahit, Kota Tual periode Juni – Agustus 2024 dengan diagnos hipertensi yang memenuhi kriteria penelitian. Kriteria sampel penelitian meliputi kriteria inklusi dan eksklusi, diamana kriteria tersebut menetukan dapat atau tidaknya sampel digunakan.
28
2.9. Keaslian Penelitian
Penulis & Tahun Judul Penelitian Desain Penelitian Sampel Variabel Hasil Utama
Polopadang, Y., Mongi, J., Maarisit, W., &
Karauwan, F. (2021)
Pola Peresepan Penggunaan Obat Antihipertensi Di
UPTD Puskesmas
Airmadidi
Deskriptif, retrospektif 559 resep Jenis kelamin, usia, jenis obat, dosis, durasi terapi
Pasien hipertensi terbanyak pada usia 60–69 tahun dan perempuan.
Monoterapi lebih umum digunakan, dengan Captopril sebagai obat yang sering diresepkan.
Sumariyanti, S.,
Widiastuti, R.,
Sulistyowati, R., &
Eltivitasari, A. (2021)
Profil Peresepan
Penggunaan Obat
Antihipertensi di Puskesmas Pare Temanggung Periode Maret - April 2021
Deskriptif, retrospektif 100 resep Jenis kelamin, usia, jenis obat, dosis, durasi terapi
Pasien hipertensi terbanyak pada usia 51–75 tahun dan perempuan.
Penggunaan monoterapi dominan, dengan Amlodipin sebagai obat yang sering digunakan.
Jannah, A., Hardia, L.,
& Budiyanto, A. B.
(2023)
Evaluasi Pola Peresepan Obat Antihipertensi di
Puskesmas Mariat
Kabupaten Sorong
Deskriptif, retrospektif 63 resep Jenis kelamin, usia, jenis obat, dosis, durasi terapi
Penggunaan terapi kombinasi CCB + ACEI (Amlodipin + Captopril) sebesar 25%, dan monoterapi Amlodipin sebesar 75%.
Khaer, M., & Tjandra, O. (2020)
Pola Penggunaan Obat Antihipertensi pada Lansia di Puskesmas Kecamatan Pulo Gadung Periode Juli- Desember 2020
Deskriptif, potong lintang
Tidak disebutkan
Jenis kelamin, usia, jenis obat, dosis, durasi terapi
Penggunaan Amlodipin (67,7%) sebagai obat antihipertensi utama, dengan rasionalitas pengobatan mencapai 56,3%.
Saraswati, D., Fauzi, Y.
N., & Utami, T. F. Y.
(2021)
Peresepan Obat
Antihipertensi dan Antidiabetik Oral Beserta Analisis Ketepatan pada Pasien Lansia
Deskriptif, retrospektif Tidak
disebutkan Jenis kelamin, usia, jenis obat, dosis, durasi terapi
Amlodipin sebagai obat
antihipertensi utama (66,95%), dengan terapi kombinasi Amlodipin + Irbesartan sebanyak 6,45%.
29
Safila Ahmad
Reniuryaan POLA PERESEPAN
PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN RAWAT JALAN
DI PUSKESMAS
OHOITAHIT, KOTA
TUAL TAHUN 2025
Deskriptif, retrospektif 44 Jenis kelamin, usia, jenis obat, dosis, durasi terapi
30
BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL
3.1 Kerangka Konsep
Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian
= Variabel Independen
= Variabel Dependen
3.2 Hipotesis penelitian
Pola peresepan penggunaan obat antihipertensi pada pasien rawat jalan di puskesmas ohoitahit tahun 2025 sesusai dengan pedoman WHO tahun 2021
Pola peresepan Penggunaan Obat Antihipertensi
Faktor yang mempengaruhi Jenis peresepan
Pasien Dokter Monoterapi Kombinasi
31
BAB IV
METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif pada pasien Hipertensi di Puskesmas Ohoitahit, Kota Tual periode bulan Januari – Maret 2025.
4.2 Tempat dan Waktu Penelitian 4.2.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Ohoitahit, Kota tual.
4.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini di rencanakan akan di laksanakan pada bulan Juni 2025
4.3 Populasi dan Sampel 4.3.1 Populasi
Pada penelitian ini populasi yang di gunakan adalah populasi berdasarkan jumlah pasien yang berobat di Puskesmas Ohoitahit dengan diagnose hipertensi dengan jumlah populasi 50
4.3.2 Sampel
a. Kriteria inklusi
Kriteria Inklusi adalah karakteristik yang harus dimiliki oleh populasi agar memenuhi syarat untuk berpartisipasi dalam penelitian. Contohnya termasuk usia, jenis kelamin, diagnosis penyakit, atau kondisi klinis tertentu (Nikolopoulou, K. 2023).
Kriteria inklusi pasien yang digunakan pada penelitian ini adalah :
32
1. Pasien hipertensi Rawat Jalan 2. Pasien dengan umur 35 keatas 3. Pasien Hipertensi
b. Kriteria eksklusi
Kriteria eksklusi adalah syarat atau kondisi tertentu yang mengeliminasi individu dari partisipasi dalam suatu penelitian, meskipun mereka mungkin memenuhi kriteria inklusi.
(Nikolopoulou, K. 2023). Kriteria inklusi pasien yang digunakan pada penelitian ini adalah :
a. Pasien dengan umur 35 tahun keatas
b. Pasien hipertensi dengan penyakit penyerta 4.3.3 Teknik Sampling
Teknik sampling merupakan cara – cara yang di tempu dalam mengambil sampel, untuk memperorel sampel yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan subjek penelitian. Teknik sampling yang di gunakan pada penelitian ini adalah teknik purposive sampling berdasarkan kriteria tertentu. Penelitian ini berdasarkan pada lembar resep yang berisi obat antihipertensi dan rekam medik pasien yang terdiagnosa hipertensi.
Pada penelitian ini populasi yang di gunakan adalah populasi berdasarkan jumlah pasien yang berobat di Puskesmas Ohoitahit dengan diagnose hipertensi. Sampel pada penelitian ini di dapatkan dari perhitungan menggunakan rumus slovin. (Siregar, 2013).
n =
N1+N(𝑑2)
33
keterangan:
n = jumlah sampel N = Jumlah populasi
d = perkiraan tingkat keselahan
Jumlah sampel berdasarkan rumus di atas maka perhitungannya sebagai berikut :
N = 50, yaitu pasien hipertensi di Puskesmas Ohoitahit
d = ditetapkan 0,05 yaitu penyimpangan dalam pemakaian sampel sebesar 5%
1 = bilangan konstanta
Berdasarkan rumus tersebut, maka dapat diketahui bersarnya jumlah sampel sebagai berikut :
n = 50 (50).(0,05)2+1 n = 50
0,125+1 n = 50
1,125 n = 44
Berdasarkan hasil perhitungan sampel, maka diketahui bahwa banyaknya responden yang akan di teliti pada pengambilan sampel dari populasi pasien hipertensi sebanyak 44 orang.
4.4 Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu : 1. Variabel bebas (Independent)
34
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pasien yang terdiagnosa hipertensi di Puskesmas Ohoitahit, Kota tual periode Januari-Maret 2025.
2. Variabel terikat (Dependent)
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah peresepan obat antihipertensi pada pasien hipertensi di Puskesmas Ohoitahit, Kota tual periode Juni-Maret 2025.
4.5 Defenisi Operasional
Pola peresepan Kebiasaan dokter dalam meresepkan obat antihipertensi yang meliputi jenis obat, jumlah obat, frekuensi, dan kombinasi obat.
- Jenis obat yang diresepkan
- Jumlah obat per resep - Kombinasi vs monoterapi
Nominal, rasio
Penggunaan obat
antihipertensi
Pemanfaatan obat-obatan untuk mengendalikan tekanan darah tinggi berdasarkan diagnosa medis.
- Golongan obat yang digunakan
-Dosis
-Rute pemberian - Frekuensi penggunaan
Niminal, interval
4.6 Teknik Pengumpulan Data 4.6.1 Alat dan Bahan
a. Alat
Alat dalam penelitian berupa laptop, alat tulis menulis, buku, kamera, dan data semua pasien hipertensi.
b. Bahan
Bahan dalam penelitian ini adalah lembar resep dan rekam medis pasien yang terdiagnosa hipertensi di Puskemas Ohoitahit selama bulan Januari-Maret tahun 2025
35
4.7 Prosedur Penelitian
Gambar 4.1. Alur Penelitian
Pembuatan surat pengantar dari Stikes MalukuHusada ke Puskesmas Ohoitahit untuk
melakukan penelitian di Puskesmas Ohoitahit
Penelusuran resep pasien hipertensi rawat jalan di Puskesmas Ohoitahit periode Januari-Maret 2025.
Pengambilan data meliputi nama pasien, umur, jenis kelamin, diagnosa, terapi yang diberikan.
Data yang telah ada diambil yang memenuhi kriteria yaitu pasien yang mendapatkan pengobatan Hipertensi,
dan dievaluasi menggunakan standar pengobatan
36
4.8 Pengolahan Data 4.8.1 Pengolahan Data
Pengolahan data merupakan tahap penting untuk mengubah data mentah menjadi informasi yang bermakna (Bambang Murti 2013). Cara pengolahan data menggunakan Software Statistical Product and Service Solution (SPSS) for Windows. Adapun tahapan pengolahan data antara lain:
1. Editing
Memeriksa dan menyesuaikan data agar siap untuk diberi kode dan diolah secara statistik.
2. Coding
Memberikan kode pada data untuk memudahkan pengolahan, seperti mengubah data menjadi skor angka.
3. Data Prosesing
Mengolah data menggunakan perangkat lunak setelah melalui tahap editing dan coding.
4.9 Analisis Data
Analisi data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisi secara deskrkriptif yaitu analisis yang di maksud untuk mengambarkan suata fakta dan keadaan secara objektif . Analisi data pada penelitian ini menggunakan program SPSS. Data yang di peroleh diidentifikasi dan ditabulasi berdasarkan umur pasien, jenis kelamin, jaminan, obat, dan penggolongan obat yang digunakan kemudia diolah dalam bentuk presentase dan disajikan kedalam bentuk table.
37
DAFTAR PUSTAKA
Amin, A., Nurjannah, I., & Syamsu, M. (2023). Metodologi Penelitian Kesehatan.
Jakarta: Mitra Cendekia.
Bambang, M. (2013). Metode Penelitian dan Aplikasinya di Bidang Kesehatan.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Dinas Kesehatan Provinsi Maluku. (2021). Laporan Tahunan Statistik Kesehatan Provinsi Maluku 2020. Retrieved from
Enato, E. F. O., & Ifeanyl, A. I. (2011). Drug prescription patterns in a tertiary hospital in Nigeria. Tropical Journal of Pharmaceutical Research, 10(5), 455–461.
Jannah, A., Hardia, L., & Budiyanto, A. B. (2023). Evaluasi Pola Peresepan Obat Antihipertensi di Puskesmas Mariat Kabupaten Sorong. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan, 11(1), 45–53.
Kemenkes RI. (2018). Pedoman Pengelolaan Hipertensi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kemenkes RI. (2024). Profil Kesehatan Indonesia 2023. Retrieved from
Khaer, M., & Tjandra, O. (2020). Pola Penggunaan Obat Antihipertensi pada Lansia di Puskesmas Kecamatan Pulo Gadung. Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia, 7(2), 104–111.
Kumar, A., Sharma, M., & Singh, A. (2019). Rational Drug Prescription Practices. International Journal of Pharmacy Teaching & Practices, 10(1), 45–52
Luthfiyah, L., & Widajati, N. (2019). Hipertensi dan Strategi Penanggulangannya.
Jurnal Keperawatan Terapan, 6(1), 22–30.
Manutung, B. (2018). Hipertensi Esensial dan Sekunder. Jurnal Biomedik, 10(2), 155–160.
Nikolopoulou, K. (2023). Inclusion and Exclusion Criteria in Health Research.
Health Science Journal, 17(2), 1–6.
Nugroho, W. A. (2014). Farmakologi untuk Mahasiswa Keperawatan.
Yogyakarta: Nuha Medika.
Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2016). Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular. Yogyakarta: Media Action Publishing.
38
Nursalam. (2017). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Polopadang, Y., Mongi, J., Maarisit, W., & Karauwan, F. (2021). Pola Peresepan Penggunaan Obat Antihipertensi di UPTD Puskesmas Airmadidi. Jurnal Medika Manado, 9(2), 112–120. Retrieved from
Ramkita, N. (2018). Penulisan Resep yang Benar dan Lengkap. Jurnal Kefarmasian Indonesia, 8(3), 55–63.
Riskesdas. (2018). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI.
Romdhoni, R. (2020). Manajemen Resep dalam Pelayanan Kefarmasian. Jurnal Farmasi Klinik Indonesia, 9(1), 35–42.
Sabrina, D. (2023). Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan JNC VII dan WHO. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 12(1), 10–16.
Saraswati, D., Fauzi, Y. N., & Utami, T. F. Y. (2021). Peresepan Obat Antihipertensi dan Antidiabetik Oral Beserta Analisis Ketepatan pada Pasien Lansia. Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kesehatan, 3(2), 145–
151
Sekar Siwi, A. P., Rahayu, A. W., & Izzah, N. N. (2020). Hipertensi Sebagai Silent Killer. Jurnal Ilmiah Keperawatan Indonesia, 10(1), 12–20.
Siregar, S. (2013). Statistik Parametrik untuk Penelitian Kuantitatif. Jakarta:
Bumi Aksara.
Sisyeni, N., & Hardiyan, A. (2022). Evaluasi Pola Peresepan Obat Berdasarkan Indikator WHO. Jurnal Kefarmasian Indonesia, 10(1), 18–25.
WHO. (2018). Global Brief on Hypertension: Silent Killer, Global Public Health Crisis. Retrieved from
WHO. (2023). World Hypertension Day 2023: Awareness and Prevention.
Retrieved