• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proseding Konferensi Nasional FPT PRB 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Proseding Konferensi Nasional FPT PRB 2015"

Copied!
190
0
0

Teks penuh

Forum Perguruan Tinggi Pengurangan Risiko Bencana (FPT PRB) merupakan salah satu layanan yang diberikan oleh para akademisi untuk mengurangi risiko bencana di Indonesia. Ketahanan berupa hidup harmonis dalam menghadapi risiko bencana (Refleksi empat tahun pasca erupsi Merapi tahun 2010).

Gambar 1. (Color Online) Titik-titik hasil pemetaan untuk pemasangan alat EWS
Gambar 1. (Color Online) Titik-titik hasil pemetaan untuk pemasangan alat EWS

PENDIDIKAN MANAJEMEN RISIKO BENCANA DI UNIVERSITAS BUNG HATTA

UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, yang dilanjutkan dengan implementasi Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana, anon., 2010). Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan mengambil pendekatan yang komprehensif, Universitas Bung Hatta bermitra dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana membuka konsentrasi Manajemen Resiko Bencana pada program sarjana Teknik Sipil.

Tabel 1: Distribusi mata kuliah dalam kurikulum Manajemen Risiko Bencana  [3]
Tabel 1: Distribusi mata kuliah dalam kurikulum Manajemen Risiko Bencana [3]

PEMETAAN MAKROSEISMIK UNTUK PENDUGAAN SUMBER GEMPA BUMISTUDI KASUS: GEMPA BUMI

ACEH TENGAH 2 JULI 2013

Untuk memastikan lokasi sesar yang menjadi sumber gempa 2 Juli 2013, perlu dilakukan survei geofisika secara menyeluruh. Survei makroseismik adalah studi skala intensitas gempa berdasarkan persepsi manusia dan tingkat kerusakan bangunan.

Gambar 1. (Color Online) (a) Episenter gempa bumi 2 juli 2013 menurut USGS dan BMKG dan posisi patahan Sumatra  berdasarkan Sieh dan Natawijaja (2000)
Gambar 1. (Color Online) (a) Episenter gempa bumi 2 juli 2013 menurut USGS dan BMKG dan posisi patahan Sumatra berdasarkan Sieh dan Natawijaja (2000)

PENGELOLAAN RESIKO BENCANA PERIKANAN AKIBAT KONDISI IKLIM EKSTRIM DI KEPALA BURUNG

PAPUA

Alianto 2) , Suhaemi 2) , Derek Ampnir 3)

Selain itu, kondisi ekstrem ini juga terkait dengan penangkapan ikan tuna rumpon secara tradisional dan modifikasi. Dengan cara ini, rumpon yang dimodifikasi dapat meningkatkan produksi tangkapan tuna dalam kondisi ekstrim di wilayah Kepala Burung, Papua Barat.

Gambar 1.(Color Online) Domain simulasi model WRF
Gambar 1.(Color Online) Domain simulasi model WRF

POLA PERUBAHAN CURAH HUJAN di PULAU AMBON

Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami kondisi wilayah dan dampak perubahan pola curah hujan terhadap terjadinya banjir bandang di DAS Wae Ela. Perubahan pola curah hujan total yang terjadi dalam lima tahun terakhir di Pulau Ambon menjadi faktor penting terjadinya banjir bandang di DAS Wae Ela.

Gambar 1. (Color Online) Prediksi Pergeseran Pola Curah Hujan  Indonesia  Karena Perubahan Iklim (UNDP, 2007)
Gambar 1. (Color Online) Prediksi Pergeseran Pola Curah Hujan Indonesia Karena Perubahan Iklim (UNDP, 2007)

EFEKTIFITAS SISTEM PERINGATAN DINI BERBASIS MASYARAKAT PADA ERUPSI G. KELUD 2014

Di tingkat masyarakat, Anchor Kelud merupakan CBDMO penting yang jarang dibicarakan dalam memenuhi keempat unsur tersebut. PVMBG bersama Kappala Indonesia dan PSMB UPN "Veteran" Yogyakarta selalu bekerjasama dalam memperkuat kapasitas jaringan ANCHOR Kelud.

Tabel 1: Status Gunungapi & Kesiapsiagaan Masyarakat
Tabel 1: Status Gunungapi & Kesiapsiagaan Masyarakat

DESAIN KKN MITIGASI BENCANA BERBASIS KOLABORASI ANTAR PERGURUAN TINGGI DALAM

KERANGKA PENGURANGAN RESIKO BENCANA

BIDANG TRAUMA HEALING 1 Sosialisasi Trauma Healing

BIDANG PEMULIHAN INFRASTRUKTUR DAN EKONOMI

Hal ini menunjukkan bahwa faktor masyarakat dan perguruan tinggi masih memegang peranan penting dalam pengurangan risiko bencana (Maarif dkk, 2012). Perguruan tinggi berperan penting sebagai keunggulan akademik dalam pengurangan risiko bencana dalam mengembangkan kekuatan dan mengoptimalkan peluang.

Gambar 1. (Color Online) Pelatihan Tanggap Darurat
Gambar 1. (Color Online) Pelatihan Tanggap Darurat

IDENTIFIKASI DEBIT BANJIR MENGGUNAKAN METODE AMBANG BERTINGKAT: STUDI KASUS DI

JAWA TIMUR

Elida Novita 2) , Sri Wahyuningsih 2) , Afif Amiluddin 2) , Ahkmad Faruq 2) , Prassita Tsabit 2)

TLM menggunakan rekaman data debit DAS sebagai masukan utama untuk menganalisis surplus/defisit atau debit yang dapat menyebabkan banjir/kekeringan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: (1) mengevaluasi karakteristik fisik DAS, karakteristik data hidrometrologi di dalam DAS dan mengembangkan indikator terkait kejadian banjir; (2) menganalisis frekuensi, distribusi temporal kejadian debit dan variasi kejadian debit yang dapat menyebabkan banjir di DAS Jawa Timur. Dari Tabel 2 (hasil analisis), selanjutnya dapat dibuat peta tematik yang menggambarkan sebaran spasial (variabilitas antar cekungan) dan sebaran temporal (variabilitas temporal: bulanan dan tahunan) nilai statistik aliran dan kejadian aliran yang melebihi ambang batas Q90. .

Gambar 1. (Color Online) Visualisasi “TLM – Flood assessment” untuk menentukan ambang batas  banjir dan analisis frekuensi kejadaian banjir
Gambar 1. (Color Online) Visualisasi “TLM – Flood assessment” untuk menentukan ambang batas banjir dan analisis frekuensi kejadaian banjir

KARAKTERISTIK BENTUK LAHAN RAWAN BENCANA LONGSORLAHAN DI PEGUNUNGAN MENOREH

YOGYAKARTA

Survei perkembangan lahan di Pegunungan Menoreh ini mencakup seluruh kejadian longsor pada berbagai bentang alam di wilayah survei. Longsor di daerah penelitian biasanya terjadi pada pegunungan yang kemiringannya cembung, dan kemiringannya tidak curam. Ciri-ciri bentang alam longsoran berdasarkan kejadian longsoran sebelumnya pada wilayah yang dipertimbangkan dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelas berikut.

Tabel 1. Sebaran Bentuklahan dan Kejadian Longsorlahan di Daerah Penelitian
Tabel 1. Sebaran Bentuklahan dan Kejadian Longsorlahan di Daerah Penelitian

STRATEGI MEMBANGUN KETANGGUHAN

MASYARAKAT YANG BERKELANJUTAN: STUDI KASUS DESA LEBAKHARJO, KABUPATEN MALANG

Ketahanan masyarakat tentunya harus memiliki semangat kemandirian, lebih khusus lagi kemandirian dalam rangka penanggulangan bencana. Lurah mengatakan, program penanggulangan bencana akan terus digalakkan karena melihat kondisi kota yang memiliki berbagai potensi dan pengalaman bencana. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, Pemerintah Kota akan terus mengalokasikan anggaran untuk program penanggulangan bencana.

Gambar 1. (Color Online) Lokasi Desa Lebakharjo (Google Earth, Capture 2015)
Gambar 1. (Color Online) Lokasi Desa Lebakharjo (Google Earth, Capture 2015)

PEMANFAATAN BUNKER SEBAGAI METODE EVAKUASI VERTIKAL MENURUN PADA BENCANA TSUNAMI

Dalam hal ini diasumsikan tinggi Live Saving Tower/EscapeBuilding lebih tinggi 1 meter dari tinggi gelombang tsunami. Dengan demikian, efektivitas penggunaan Live Saving Tower/Escape Building sangat rendah pada ketinggian gelombang tsunami tertentu. Berdasarkan grafik di bawah ini dapat disimpulkan bahwa tinggi gelombang tsunami mempunyai pengaruh yang besar terhadap tinggi Live Saving Tower/Escape Building.

Gambar 1. (Color Online)  Peta Kerawanan Tsunami di Indonesia
Gambar 1. (Color Online) Peta Kerawanan Tsunami di Indonesia

KETANGGUHAN DALAM WUJUD HIDUP HARMONI DENGAN RISIKO BENCANA (REFLEKSI EMPAT TAHUN

PASCA ERUPSI MERAPI TAHUN 2010)

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 mengamanatkan pembentukan BNPB sebagai lembaga utama yang menangani penanggulangan bencana.BNPB merupakan lembaga pemerintah nonkementerian yang dipimpin oleh pejabat setingkat menteri. Lembaga ini mempunyai tugas merumuskan dan menetapkan kebijakan penanggulangan bencana serta penanganan pengungsi secara cepat dan tepat.Dalam peran dan fungsinya, BNPB menetapkan visi dan misi yang menjadi pedoman penyusunan dan program kegiatan. Dalam bahasa geologi seperti pada makhluk hidup, 'bencana' (letusan/letusan gunung berapi) adalah cara alam melepaskan 'keinginan' untuk dapat berubah menjadi suatu tingkat keselarasan yang menurut U.G Krishnamurti (2012) terjadi (letusan/gunung berapi). letusan) ). Seiring berjalannya waktu memang terjadi pergeseran cara pandang dalam melihat dan memaknai bencana, perubahan tersebut dilakukan sebagai upaya untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana sebenarnya suatu bencana terjadi dan bagaimana cara mengatasinya.

ANALISA KESIAPSIAGAAN SISWA PADA

SATUAN PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH TERHADAP BENCANA GEMPA BUMI DI KABUPATEN SUKOHARJO

Sampling

Teknik pengumpulan datanya adalah dengan menggunakan survei dengan cara menyampaikan angket, dengan cara berkunjung ke sekolah namun telah mendapat izin terlebih dahulu dari pihak sekolah, kemudian meminta bantuan guru pembimbing untuk membantu mengkoordinasikan siswa agar dapat dikumpulkan. Observasi (survei) adalah pengumpulan data dari pengamatan yang dilakukan oleh seorang peneliti terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dengan cara mendeskripsikan data yang telah dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner.

ANALISIS KESIAPSIAGAAN GURU TERHADAP

BENCANA PADA SATUAN PENDIDIKAN MUHAMMDIYAH DI KABUPATEN SUKOHARJO

Tingkat kewaspadaan bencana (WS) pada guru Satuan Pendidikan Muhammadiyah di Kabupaten Sukoharjo, dari jumlah maksimal 107 responden, 71% termasuk dalam klasifikasi tinggi. Angka Resource Mobilization (RMC) guru pada Satuan Pendidikan Muhammadiyah di Kabupaten Sukoharjo, dari jumlah maksimal 78 responden, 48% termasuk dalam klasifikasi sedang. Jumlah penelitian analisis kesiapsiagaan bencana pada guru Satuan Pendidikan Muhammadiyah di Kabupaten Sukoharjo, dari jumlah terbanyak yaitu 91 responden, 60% termasuk dalam klasifikasi sedang.

Tabel 1. Pengetahuan tentang bencana (KAP)
Tabel 1. Pengetahuan tentang bencana (KAP)

ANALISIS FAKTOR STRATEGIS KERENTANAN DI SATUAN PENDIDIKAN SEKOLAH MUHAMMADIYAH DI

KABUPATEN SUKOHARJO

Penelitian yang menganalisis faktor strategis kerentanan satuan pendidikan sekolah muhammadiyah di kabupaten sukoharjo meliputi 13 sekolah yaitu mi muhammadiyah PK sukoharjo, sd muhammadiyah bekonang, sd muhammadiyah wonorejo, sd muhammadiyah imam syuhodo, smp muhammadiyah muhammadiyah syuhodo, mt h tawangsari, mts Muhammadiyah Blimbing , SMA Muhammadiyah Imam Syuhodo, MA Muhammadiyah Bekonang, SMA Muhammadiyah 1 Sukoharjo, SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo dan SMK Muhammadiyah 2 Sukoharjo. MI Muhammadiyah PK Sukoharjo perlu perbaikan SD Muhammadiyah Bekonang perlu perbaikan SD Muhammadiyah Wonorejo perlu perbaikan SD Muhammadiyah Imam Syuhodo perlu perbaikan SMP Muhammadiyah Mojolaban perlu perbaikan SMP Muhammadiyah Nevojahs pasangan MTs Muhammadiyah Blimbing Perlu Perbaikan SMA Muhammadiyah Imam Syuhodo Perlu Perbaikan MA Muhammadiyah Bekonang Perlu Perbaikan Muhammadiyah 1 Sukoharjo Sekolah Menengah Perlu Perbaikan. MI Muhammadiyah PK Sukoharjo Perlu perbaikan SD Muhammadiyah Bekonang Tidak perlu perbaikan SD Muhammadiyah Wonorejo Perlu perbaikan SD Muhammadiyah Imam Syuhodo Tidak perlu perbaikan SMP Muhammadiyah Mojolaban Tidak perlu perbaikan SMP Muhammadiyah 1 Sukoharjo MT Muhammadiyah MT Tidak perlu perbaikan h Blimbing Tidak perlu perbaikan SMA Muhammadiyah Imam Syuhodo Perlu perbaikan MA Muhammadiyah Bekonang Perlu perbaikan SMA Muhammadiyah 1 Sukoharjo TIDAK Perlu perbaikan SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo Tidak perlu perbaikan SMK Muhammadiyah 2 Sukoharjo Perlu perbaikan .

Tabel 1. Hasil analisis komponen struktural
Tabel 1. Hasil analisis komponen struktural

PENGEMBANGAN SEKOLAH AMAN BENCANA MELALUI SIMULASI DI SATUAN PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH

Pengelolaan data dilakukan secara deskriptif dengan menjelaskan data yang diperoleh di lapangan untuk mengetahui berapa banyak warga sekolah yang mengikuti kegiatan simulasi di 13 Satuan Pendidikan Muhammadiyah Sukoharjo. Keempat, peringatan bencana, dengan semakin banyaknya warga satuan pendidikan muhammadiyah yang mengikuti simulasi maka akan mempunyai pemahaman mengenai sistem peringatan dini yang digunakan di sekolah sebagai sinyal kepada warga sekolah untuk tanggap apabila terjadi bencana. Melalui simulasi, semakin banyak warga sekolah yang mengikuti kegiatan simulasi, maka akan semakin mudah memahami aspek pengetahuan, kesiapsiagaan, peringatan dini dan mobilisasi bencana dalam penelitian di unit sekolah Muhammadiyah, sehingga dapat mengurangi risiko bencana dan memperkuat kapasitas sekolah. masyarakat dalam mewujudkan sekolah aman bencana.

Tabel 1. Jumlah Responden yang Pernah Mengikuti Simulasi
Tabel 1. Jumlah Responden yang Pernah Mengikuti Simulasi

Perhitungan tercepat ada di SD Muhammadiyah Wonorejo, untuk sampai ke Titik Berkumpul dari A1-TK dengan jarak 1,30 meter dengan kecepatan 1,10/detik, sedangkan jarak terjauh adalah A12-TK dengan jarak 36 meter dengan kecepatan sebesar 30,57/detik. Perhitungan tercepat ada di SMP Muhammadiyah 1 Sukoharjo, untuk sampai ke Titik Berkumpul dari K1-TK1 dengan jarak terpendek 4,17 meter dengan kecepatan 3,53/detik, sedangkan jarak terjauh K4-TK1 dengan jarak 14,6 meter dengan kecepatan 3,53/detik. kecepatan. Menuju Titik Berkumpul dari K6-TK2 dengan jarak terdekat 4,12 meter dengan kecepatan 3,49/detik, sedangkan jarak terjauh K11-TK2 dengan jarak 22,41 meter dengan kecepatan 24,42/detik.

Tabel 1. Jalur lintasan terpendek dan terpanjang menuju titik berkumpul (Assembly  Point) di SD MUHAMMADIYAH WONOREJO, SUKOHARJO
Tabel 1. Jalur lintasan terpendek dan terpanjang menuju titik berkumpul (Assembly Point) di SD MUHAMMADIYAH WONOREJO, SUKOHARJO

TINGKAT KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT DI SEKITAR SATUAN PENDIDIKAN SEKOLAH MUHAMMADIYAH DI

KABUPATEN SUKOHARJO TERHADAP BENCANA BANJIR DAN ANGIN PUTING BELIUNG

Berdasarkan indeks pengetahuan masyarakat Kabupaten Sukoharjo mengenai kebencanaan masih sangat rendah yaitu sebesar 53% dengan indeks 0-33 dalam kategori rendah. Berdasarkan indeks pengetahuan masyarakat Kabupaten Sukoharjo mengenai kebencanaan masih sangat rendah yaitu sebesar 67% dengan indeks 0-33 dalam kategori rendah. Berdasarkan indeks pengetahuan masyarakat Kabupaten Sukoharjo mengenai kebencanaan masih sangat rendah yaitu sebesar 41% dengan indeks 0-33 dalam kategori rendah.

Gambar 1. (Color Online) Diagram indeks kesadaran masyarakat
Gambar 1. (Color Online) Diagram indeks kesadaran masyarakat

ANALISIS KESIAPSIAGAAN SEKOLAH PADA SATUAN PENDIDIKAN SEKOLAH MUHAMMADIYAH DI

KABUPATEN SUKOHARJO TERHADAP BENCANA

Survei untuk mengukur kesiapsiagaan sekolah yang dikembangkan untuk meningkatkan kesadaran seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan, baik secara individu maupun kolektif di sekolah dan lingkungan sekolah mengenai kesiapsiagaan bencana, dapat dilakukan dengan menggunakan 5 (lima) parameter: (LIPI: 2009) ) . Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan peran guru dalam kesiapsiagaan sekolah dalam kaitannya dengan bencana banjir. Pengaruh guru terhadap kesiapsiagaan bencana di sekolah mencakup pengetahuan dan sikap, kebijakan, rencana darurat, dan mobilitas sumber daya.

PERBEDAAN SEKOLAH AMAN BENCANA DI SATUAN PENDIDIKAN DI SEKOLAH MUHAMMADIYAH

Penelitian ini menggunakan metode pengambilan sampel dengan menggunakan kuota sampling dan menganalisis uji beda sekolah aman tingkat SD, SMP, dan SMA terhadap bencana. Penelitian ini dilakukan di Satuan Pendidikan Muhammadiyah di Kabupaten Sukoharjo yang meliputi 13 sekolah pada tingkat SD, SMP, dan SMA. Data yang diperoleh melalui wawancara dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif yaitu melalui data yang diperoleh dari wawancara dengan informan yang dideskripsikan secara menyeluruh.

Tabel 3. Tentang Kesiapsiagaan Sekolah
Tabel 3. Tentang Kesiapsiagaan Sekolah

INFORMASI GEOLOGI DALAM PERENCANAAN WILAYAH SEBAGAI AGEN SISTEM PERINGATAN DINI

Studi Kasus Rayapan Cepat di Kampung Cigintung, Desa Cimuncang, Kecamatan Malausma, Kabupaten

Majalengka, Provinsi Jawa Barat)

Salah sahiji kajadian longsér anu cukup matak pikaheraneun nyaéta kajadian longsér di Désa Cigintung, Kabupatén Majalengka. Kajadian gerak taneuh mangrupa salah sahiji jenis ngarayap gancang, anu lumangsung taun 2013 di Désa Cigintung, Désa Cimuncang, Kacamatan Malausma, Kabupatén Majalengka, Jawa Barat (Gambar 2). Desa Cigintung, Desa Cimuncang, Kecamatan Malausma, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat sabenerna aya dina zona kerentanan gerakan sedeng jeung luhur.

Gambar 1. (Color Online) Rekonstruksi lempeng tektonik di Indonesia (Hall, 1995)
Gambar 1. (Color Online) Rekonstruksi lempeng tektonik di Indonesia (Hall, 1995)

POTENSI RISIKO BENCANA KEPESISIRAN DI WILAYAH KABUPATEN BANTUL, DAERAH ISTIMEWA

Masukan dalam pembuatan peta risiko bencana adalah penyusunan peta risiko/bencana, peta kerentanan dan hasil penilaian kapasitas masyarakat. Pengkajian dan pemetaan risiko bencana pesisir, khususnya bencana tsunami dan gerusan di wilayah pesisir Kabupaten Bantul, dilakukan dengan menggunakan dua metode berbeda. Tingkat risiko tersebut kemudian dipetakan secara spasial untuk mendapatkan hasil peta risiko bencana pesisir Kabupaten Bantul.

Gambar 1. Langkah Kerja Perhitungan Risiko
Gambar 1. Langkah Kerja Perhitungan Risiko

DISASTER MANAGEMENT BAGI PENDIDIK PAUD UNTUK MENGURANGI RESIKO BENCANA

Ruang lingkup pengelolaannya dapat pada tingkat nasional, daerah, atau pada satuan kelembagaan, dalam hal ini lembaga pada tingkat satuan PAUD. Dari definisi di atas maka DM pada tingkat mikro atau kelembagaan dalam hal ini lembaga PAUD harus mempunyai strategi dan kerangka mengenai apa yang perlu dilakukan dalam menghadapi situasi bencana. Responsnya sangat bergantung pada pemahaman individu dalam menghadapi situasi darurat, dalam hal ini kemampuan individu guru dan sekolah ketika menghadapi situasi bencana.

Gambar 1. Siklus Disaster manajemen yang disederhanakan
Gambar 1. Siklus Disaster manajemen yang disederhanakan

PERAN PERGURUAN TINGGI DALAM MENDUKUNG PRB DI JAWA TENGAH, SULAWESI TENGGARA, MALUKU,

MALUKU UTARA, PAPUA BARAT, PAPUA : KAJIAN KAPASITAS OLEH FPT-PRB UNTUK PROGRAM TATTS

Sehubungan dengan hal tersebut, Forum Perguruan Tinggi Pengurangan Risiko Bencana (FPT-PRB) dan Mercy Corps Indonesia berkolaborasi melalui program Technical Assistance and Training Teams (TATTs) dalam kegiatan peningkatan kapasitas perguruan tinggi di enam provinsi (Provinsi Jawa Tengah , Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat) agar dapat berkontribusi lebih besar dalam upaya pengurangan risiko bencana (DRR) di wilayah tersebut. Color Online) Tingkat kekuatan kapasitas pendidikan tinggi di masing-masing provinsi dan secara keseluruhan untuk enam provinsi. Color Online) Tingkat kekuatan kapasitas pendidikan tinggi di masing-masing provinsi dan secara keseluruhan di keenam provinsi.

Tabel 2. Penilaian Kuantitatif Kapasitas PRB Perguruan tinggi
Tabel 2. Penilaian Kuantitatif Kapasitas PRB Perguruan tinggi

PENGURANGAN RISIKO BENCANA DI SEKTOR PERTANIAN

Hingga saat ini upaya pengurangan risiko bencana di sektor pertanian masih belum optimal, program yang ada masih bersifat parsial di berbagai kementerian/lembaga (K/L). Di sisi lain, kerugian di sektor pertanian akibat berbagai bencana cukup besar. Berdasarkan latar belakang, penelitian ini secara umum dimaksudkan untuk mengeksplorasi dan mengevaluasi program pengurangan risiko bencana di sektor pertanian.

Tabel 1.  Kerugian akibat bencana alam di Sektor Pertanian (Sumber: Kajian PSB IPB)
Tabel 1. Kerugian akibat bencana alam di Sektor Pertanian (Sumber: Kajian PSB IPB)

Gambar

Gambar 5. (Color Online) Alat Deteksi Dini Banjir berbasis telemetri
Gambar 7. (Color Online) Aplikasi berbasis web untuk monitoring ketinggian air
Gambar 8. (Color Online) Map Lokasi dan level ketinggian air dalam bentuk tanda
Gambar 9. (Color Online) Notifikasi berupa kondisi alat EWS yang terpasang.
+7

Referensi

Dokumen terkait