• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosedur pembuatan sample kulit pisang kepok Kulit pisang kapok di cuci bersih dengan air yang mengalir kemudian di potong menjadi bagian – bagian kecil

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Prosedur pembuatan sample kulit pisang kepok Kulit pisang kapok di cuci bersih dengan air yang mengalir kemudian di potong menjadi bagian – bagian kecil"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Prosedur Penelitian

1. Prosedur pembuatan sample kulit pisang kepok

Kulit pisang kapok di cuci bersih dengan air yang mengalir kemudian di potong menjadi bagian – bagian kecil. Selanjutnya dikeringkan dengan cara dioven pada suhu 47oC sampai menjadi simplisia kering. Setelahnya sample yang sudah kering diblender hingga halus

2. Prosedur pembuatan ekstrak n-heksana kulit pisang kepok

Sebanyak 357,65 gram sampel yang sudah dikeringkan dan dihaluskan ditambah dengan 2L n-heksana 96 %, kemudian dimasukkan dalam wadah, ditutup dan dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil diaduk dan disaring dengan kertas saring sehingga didapatkan maserat. Maserat diuapkan pada suhu 600C - 700C sampai didapatkan ekstrak kental selanjutnya ditimbang untuk mengetahui bobot sampel yang diperoleh kemudian dihitung rendemen ekstrak sampel

3. Skrining Fitokimia

3.1 Pemeriksaan Alkaloid

Sebanyak 0,5 g serbuk simplisia ditambah 1 ml asam klorida 2 N dan 9 ml air suling, dipanaskan diatas penangas air selama dua menit, didinginkan, dan disaring. Filtrat dipakai untuk percobaan berikut:

(i) Sebanyak 3 tetes filtrat ditambahkan dua tetes larutan pereaksi Mayer, maka akan terbentuk endapan menggumpal berwarna putih atau putih kekuningan.

(ii) Sebanyak 3 tetes filtrat ditambahkan dua tetes larutan pereaksi Bouchardat,

maka akan terbentuk endapan berwarna coklat sampai hitam.

(iii) Sebanyak 3 tetes filtrat ditambahkan dua tetes larutan pereaksi Dragendorff, maka akan terbentuk endapan merah atau jingga.

(2)

Percobaan dilanjutkan dengan mengocok sisa filtrat dengan 3 ml ammonia pekat dan 10 ml campuran eter-kloroform (3:1), diambil lapisan kloroform, lalu diuapkan diatas penangas air. Sisanya dilarutkan dalam 1 ml asam klorida 2 N, dibagi tiga, dimasukkan ke dalam tabung reaksi, dan ditambahkan dua tetes larutan pereaksi Mayer, Bouchardat dan Dragendorff pada masing-masing tabung reaksi. Alkaloid positif jika terjadi endapan atau kekeruhan paling sedikit dua dari tiga percobaan diatas (Ditjen POM, 1995).

3.2 Pemeriksaan Flavonoid

Sebanyak 0,5 g serbuk simplisia ditambah 10 ml metanol, direfluks dengan menggunakan pendingin balik selama 10 menit, lalu disaring panas melalui kertas saring berlipat. Diencerkan filtrat dengan 10 ml air suling, ditambah 5 ml eter minyak tanah setelah dingin, dikocok hati-hati, kemudian didiamkan. Larutan metanol diambil, diuapkan, lalu sisa dilarutkan dalam 5 ml etil asetat.

(i) Diambil 1 ml larutan percobaan dan diuapkan hingga kering. Sisa dilarutkan dalam 2 ml etanol 95%, ditambah 0,5 g serbuk Zn dan 2 ml asam klorida 2 N, didiamkan selama 1 menit, lalu ditambahkan 10 tetes asam klorida pekat. Hasil positif jika dalam waktu 2 sampai 5 menit terjadi warna merah intensif (glikosida-3-flavonol).

(ii) Diambil 1 ml larutan percobaan dan diuapkan hingga kering. Sisa dilarutkan dalam 1 ml etanol 95%, ditambah 0,1 g serbuk Mg dan 10 tetes asam klorida pekat. Hasil positif flavonoid jika terjadi warna merah jingga sampai merah ungu. Sedangkan warna kuning jingga menunjukkan adanya flavon dan kalkon (Ditjen POM, 1995).

3.3 Pemeriksaan Glikosida

(3)

Sebanyak 3 g serbuk simplisia disari dengan 30 ml campuran etanol 95%-air suling (7:3) dan 10 ml asam sulfat 2 N, direfluks selama sepuluh menit, didinginkan, dan disaring. Diambil 20 ml filtrat, ditambahkan 25 ml air suling dan 25 ml timbal (II) asetat 0,4 M; dikocok, didiamkan selama lima menit, dan disaring. Filtrat dipartisi dengan 20 ml campuran kloroform- isopropanol (3:2), dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali (triplo). Lapisan air dikumpulkan, diuapkan pada temperatur tidak lebih dari 500C. Sisanya dilarutkan dalam 2 ml metanol, dimasukkan kedalam tabung reaksi, selanjutnya diuapkan diatas penangas air. Pada sisanya ditambahkan 2 ml air suling dan lima tetes pereaksi Molish, lalu ditambahkan secara hati-hati 2 ml asam sulfat pekat melalui dinding tabung. Apabila terbentuk cincin ungu pada batas kedua cairan, menunjukkan adanya glikosida (Ditjen POM, 1989).

3.4 Pemeriksaan Saponin

Sebanyak 0,5 g serbuk simplisia dimasukkan ke dalam tabung reaksi,

ditambahkan 10 ml air panas, didinginkan, kemudian dikocok kuat-kuat selama sepuluh detik. Jika terbentuk busa yang stabil setinggi 1-10 cm selama tidak kurang dari sepuluh menit dan tidak hilang dengan penambahan asam klorida 2 N maka menunjukkan adanya saponin (Ditjen POM, 1989).

3.5 Pemeriksaan Tanin/Fenol

Sebanyak 0,5 g serbuk simplisia disari dengan 10 ml air suling, lalu disaring. Filtratnya diencerkan dengan air suling sampai tidak berwarna.

Larutan diambil sebanyak 2 ml dan ditambahkan satu hingga dua tetes pereaksi besi (III) klorida 1%. Apabila terjadi warna biru kehitaman atau hijau kehitaman, menunjukkan adanya tanin (Ditjen POM, 1989).

3.6 Pemeriksaan Triterpenoid/Steroid

(4)

Sebanyak 1 g serbuk simplisia dimaserasi dengan 20 ml n-heksan selama dua jam. Kemudian maserat yang diperoleh disaring, filtrat diuapkan dalam cawan penguap, dan pada sisanya ditambahkan pereaksi Liebermann- Burchard. Apabila terbentuk warna biru kehijauan atau merah ungu menunjukkan adanya triterpenoid/steroid (Harborne, 1987).

4. Pengukuran aktivitas antioksidan pada ekstrak kulit pisang kepok 4.1 Pembuatan Larutan Induk Baku DPPH

Sebanyak 10 mg DPPH ditimbang, kemudian dimasukkan kedalam labu tentukur 50 mL, dilarutkan dalam metanol sampai garis tanda (200 µg/mL).

4.2 Pembuatan Larutan Blanko

Larutan DPPH (konsentrasi 200 µg/mL) dipipet sebanyak 1 mL, kemudian dimasukkan ke dalam labu tentukur 5 mL, lalu dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda (konsentrasi 40 μg/mL) (Molyneux, 2004).

4.3 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum

Panjang gelombang maksimum ditentukan dengan menggunakan larutan DPPH konsentrasi 40 μg /mL dan diukur serapannya pada panjang gelombang 400-800 nm.

4.4 Pembuatan Larutan Induk Sampel

Sebanyak 10 mg ekstrak ditimbang kemudian masing-masing dilarutkan dalam labu tentukur 10 mL dengan metanol, lalu volumenya dicukupkan dengan metanol sampai garis tanda (konsentrasi 1000 µg/mL).

(5)

Larutan induk sampel dipipet 0,5 mL; 1 mL ; 1,5 mL; 2 mL; 2,5 mL untuk mendapatkan konsentrasi 100µg/mL, 200 µg/mL, 300 µg/mL, 400 µg/mL dan 500 µg/mL, ke dalam labu tentukur 5 mL kemudian kedalam masing-masing labu tentukur ditambah 1 mL larutan induk baku DPPH 200 µg/mL, lalu volume dicukup dengan metanol sampai garis tanda dan dihomogenkan, didiamkan selama 30 menit lalu diukur serapannya menggunakan spektrofotometer UV-Visibel pada panjang gelombang serapan maksimum yang diperoleh yaitu 515.

Perhitungan persen Peredaman dan nilai IC50

 Perhitungan persen Peredaman 1. Tabel data absorbansi

No. Konsentrasi Larutan Uji (ppm) Absorbansi

1. 0 1,542(Akontrol)

2. 100 1,604

3. 200 1,470

4. 300 1,430

5. 400 1,420

6. 500 1,362

Keterangan : Akontrol = Absorbansi tidak mengandung sampel Asampel = Absorbansi sampel

Perhitungan % Peredaman - Konsentrasi 100 ppm

% Peredaman = A kontrol - A sampel x 100%

A kontrol

% Peredaman = 1,542  1,604

x 100%

1,542

= -4,02075227%

Aktivitas Peredaman (%) = A kontrol - A sampel x 100%

A kontrol

(6)

- Konsentrasi 200 ppm

% Peredaman = A kontrol - A sampel x 100%

A kontrol

% Peredaman = 1,542  1,470

x 100%

1,542

= 4,6692607 %

(7)

Konsentrasi 300 ppm

% Peredaman = A kontrol - A sampel x 100%

A kontrol

% Peredaman = 1,542  1,430

x 100%

1,542

= 7,263294423%

Konsentrasi 400 ppm

% Peredaman = A kontrol - A sampel x 100%

A kontrol

% Peredaman = 1,542  1,419

x 100%

1,542

= 7,911802853 % Konsentrasi 500 ppm

% Peredaman = A kontrol - A sampel x 100%

A kontrol

% Peredaman = 1,542  1,362

x 100%

1,542

= 11,67315175%

 Perhitungan nilai IC50

Tabel IC50 dari

No. X Y XY X2 (ƩX)2

1 0 0 0 0 2250000

2 100 -4,02075227 -402,075227 10000

3 200 4,6692607 933,8521401 40000

4 300 7,263294423 2178,988327 90000

5 400 7,911802853 3164,721141 160000

6 500 11,67315175 5836,575875 250000

Ʃ 1500 27,49675746 11712,06226 550000

(8)

Mean 250 4,58279291 1952,010376 91666,6666 7 Keterangan : X = Konsentrasi (ppm)

Y = % Peredaman

a = ( XY) - ( X)(  Y) / n ( X 2 )  ( X) 2 / n

= (11712,06)  (1500)( 27,4967) / 6 (550000 )  (1500)2 / 6 4837,8728

= 175000 = 0,027644988 b = Y  aX

= 4,58279291– (0,027644988) (250)

= -2,328454079

Jadi, persamaan garis untuk mendapatkan IC50 adalah Y = 0,027644988X - 2,328454079 Nilai IC50 = > Y = 0,027644988X - 2,328454079

50 = 0,027644988X - 2,328454079 X =1892,87

IC50 = 1892,87ppm

1. Pisang Kepok (Musa Paradisiaca L.)

(9)

Gambar 1 Kulit Pisang Kepok 2. Hasil Konsentrasi dan Peredaman Kurva N-heksana

0 100 200 300 400 500 600

-5 0 5 10 15

f(x) = 0.03 x − 2.33 R² = 0.82

NHEKSAN

KONSENTRASI

%PEREDAMAN

Gambar 2 Kurva hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak N-heksana kulit pisang kepok 3. Hasil Penentuan Panjang Gelombang serapan maksimum DPPH

Gambar 3 Kurva serapan maksimum larutan DPPH 40 ppm dalam N-heksana menggunakan spektrofotometer UV-Visibel 4. Skrining Fitokimia

(10)

Uji fitokimia dilakukan untuk mengetahui kandungan zat atau senyawa fitokimia yang terkandung di dalam ekstrak etanol biji pepaya. Dari hasil uji fitokimia didapatkan hasil seperti pada tabel 5.1 yaitu sebagai berikut

Tabel 2 Hasil Pengujian Fitokimia

No .

Metabolit Sekunder Pereaksi Hasil Ekstrak N-heksana

1 Alkaloid Dragendroff

Bouchardat Meyer

- - -

2 Flavoniod Serbuk Mg+ Amil

Alkohol + HCIp

-

3 Glikosida Molish+H2SO4 +

4 Saponin Air panas/dikocok -

5 Tanin FeCl3 -

6 Triterpenoid/Steroid Lieberman-Bourchat -

Keterangan:

Mengandung senyawa (+) Tidak mengandung senyawa (-)

Hasil uji fitokimia menunjukan Ekstrak N-heksana kulit pisang kapok mengandung senyawa kimia berupa glikosida dan tidak mengandung senyawa kimia berupa Alkaloid, Flavonoid, Saponin, Tanin, Triterpenoid/Steroid.

5. Perhitungan persen Peredaman dan nilai IC50

Tabel 3 Data absorbansi

(11)

No. Konsentrasi Larutan Uji (ppm)

Absorbansi

1. 0 1,542(Akontrol)

2. 100 1,604

3. 200 1,470

4. 300 1,430

5. 400 1,420

6. 500 1,362

Dari tabel 3 dapat kita lihat bahwa Konsentrasi Larutan Uji 0 merupakan pelarut DPPH (konsentrasi sampel) sedangkan Konsentrasi Larutan Uji 100-500 menggunakan konsentrasi dari sampel. Dapat di lihat bahwa semakin banyak ekstrak yang dicampurkan maka pelarut DPPH akan semakin terpendam

DAFTAR PUSTAKA

Andarina, Rosi, and Tantawi Djauhari. 2017. “Antioksidan Dalam Dermatologi.” Jurnal Kedokteran dan Kesehatan 4(1): 39–48.

Devitria, Rosa, Harni Sepriyani, and Seftika Sari. 2020. “Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Metanol Daun Ciplukan Menggunakan Metode 2,2-Diphenyl 1-Picrilhidrazyl (DPPH).”

Penelitian Farmasi Indonesia 9(1).

Ernawiati, E, G D Pratami, E Setyaningrum, and S S D Ulhaq. 2021. “ Characterization Of Morfology Structure Flower from Variation Cultivars of Pisang Kepok ( Musa Paradisiaca L.) .” Journal of Physics: Conference Series 1751: 012046.

Kesuma, Yenrina. 2015. Antioksidan Alami Dan Sintetik.

Khairun, Nisa Berawi, and Marini Desty. 2018. “Efektivitas Kulit Batang Bakau Minyak (Rhizopora Apiculata) Sebagai Antioksidan.” Jurnal Agromedicine 5(1): 412–17.

Ni Putu Gani Astiti. 2020. “RESPONS BERBAGAI BAGIAN TANDAN BUAH PISANG KEPOK ( Musa Paradisiaca L .) TERHADAP PEMBERIAN BERBAGAI

KONSENTRASI ETHEPON.”

Putri, Zhafirah Salma et al. 2020. “Pengaruh Tepung Kulit Pisang Kepok (Musa Paradisiaca L.) Terhadap Aktivitas Antioksidan Dan Sitotoksisitas Pada Sel Kanker Payudara T-47D.”

(12)

JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI SAINS DAN TEKNOLOGI 5(3): 166.

Saputri, Anggi Pantria, Indria Augustina, and Fatmaria. 2020. “Uji Aktivitas Antioksidan

Ekstrak Air Kulit Pisang Kepok ( Musa Acuminate x Musa Balbisiana ( ABB Cv ) ) Dengan Metode ABTS ( 2 , 2 Azinobis ( 3-Etilbenzotiazolin ) -6-Asam Sulfonat ) Pada Berbagai Tingkat Kematangan.” Jurnal Kedokteran 8(1): 973–80.

Utomo, Suratmin. 2016. “PENGARUH KONSENTRASI PELARUT (n-HEKSANA) TERHADAP RENDEMEN HASIL EKSTRAKSI MINYAK BIJI ALPUKAT UNTUK PEMBUATAN KRIM PELEMBAB KULIT.” Jurnal Konversi 5(1): 39.

1. Putri, A. A. S., & Hidajati, N. (2015). Uji Aktivitas Antioksidan Senyawa Fenolik Ekstrak Metanol Kulit Batang Tumbuhan Nyiri Batu(Xylocarpus Moluccensis).

Unesa Journal Of Chemistry, 4(1), 1–6.

2. Aprilia, 2020. Pemanfaatan Kulit Pisang Kepok (Musa Paradisiaca) Dalam Pembuatan Bolu Kukus. Universitas Binawan, Jakarta

3. Ida Ayu R, 2018. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kulit Pisang (Musa Sp.) Terhadap Escherichiacoli Dan Staphylococcus Aureus Serta Identifikasi Golongan Senyawa Aktifnya. Fmipa Universitas Udayana, Bukit Jimbaran

Dikutif:

Https://Www.Google.Com/Url?

Sa=T&Rct=J&Q=&Esrc=S&Source=Web&Cd=&Cad=Rja&Uact=8&Ved=2ahukewjd0e 3mh970ahuwyzgghewfahsqfnoecbmqaq&Url=Https%3A%2F%2Fojs.Unud.Ac.Id

%2Findex.Php%2Fcakra%2Farticle%2Fdownload

%2F40864%2F24800&Usg=Aovvaw2npo0dqkut9ibaagmkebe5 4. Lully H, 2016. Farmakognisi Dan Fitokimia. Kemenkes Ri

5. Valensi, 2013. Uji Aktivitas Senyawa Antioksidan Dari Ekstrak Metanol Kulit Pisang Raja (Musa Paradisiaca Sapientum).

Dikutif:

Http://Repository.Radenfatah.Ac.Id/26/1/Kulit%20pisang.Pdf

6. Irene C, 2021. Aktivitas Antioksidan Dari Fraksi N-Heksana Kulit Batang Tumbuhan Jambu Semarang (Syzygium Samarangense). Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Surabaya

Dikutif:

(13)

Https://E-Journal.Unair.Ac.Id/JKR/Article/View/24467/14618

Referensi

Dokumen terkait