• Tidak ada hasil yang ditemukan

prosiding

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "prosiding"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

Penyakit yang berkaitan dengan nutrisi makanan adalah hasil interaksi nutrisi makanan dengan beberapa gen dan bukan hanya dengan satu gen. Variasi genetik menjadi dasar utama perbedaan respon setiap individu terhadap zat gizi makanan. Nutrigenetik menekankan perbedaan respon variabilitas gen (dari individu yang berbeda) terhadap nutrisi makanan yang sama.

Tinjauan Pustaka FARMAKOGENOMIK DALAM PENGOBATAN PRESISI

KARDIOVASKULAR

Variabilitas dalam efikasi dan efek samping yang serius terus mengacaukan terapi dan bahkan menyebabkan efek samping pada individu yang berbeda dan berhubungan dengan farmakogenomik.2. Oleh karena itu, untuk memaksimalkan keberhasilan pengobatan dan menghindari efek samping atau efek toksik, penemuan, pengembangan, dan penggunaan obat harus didasarkan pada profil genetik pasien.

Tinjauan Pustaka CLINICAL IMPLEMENTATION AND BENEFITS OF

PHARMACOGENOMIC TESTING BY NALAGENETICS

Modern medicine insists on the clinical implementation of “the right drug, right dose, right time and right way” approach to treatment in the medical field as there are unknown areas yet to be explored and validated with supporting evidence. In addition, these differences are likely due to differences in allele frequencies of single nucleotide polymorphisms (SNPs) that functionally affect the expression or function of genes in the drug pathway. Genetic polymorphism is defined as a mutation in the DNA sequence present in at least 1% of the population.

These SNPs can cause a change in the amino acid sequence, a premature stop codon, or a splicing defect that can increase, decrease, or weaken the function of the protein.8 One of the most important enzymes in this family is the CYP2C19 enzyme. The CYP2C19 gene is polymorphic, and the variation is particularly common in Asian populations. The CYP2C19 polymorphism may be most important in the Asian population because of its higher allelic frequency compared to other enzymes in this family, such as CYP2C9 and CYP2D6.

In the last revision in March 2010, the FDA approved a new label for clopidogrel with a "boxed warning" stating "Efficacy is reduced in patients who are poor metabolizers, tests are available to identify patients with genetic polymorphisms, and that alternative treatment strategies should be considered in poor metabolizers of the drug”.8.Research Directions in the Clinical Implementation of Pharmacogenomics: An Overview of US Programs and Projects.

Artikel Penelitian PENERAPAN RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY (REBT)

GUNA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS IBU RUMAH TANGGA DENGAN HIV/AIDS

Pernyataan di atas menggambarkan bahwa perempuan dengan HIV memiliki kemampuan yang sangat rendah dalam mengelola emosinya. Berdasarkan fenomena di atas, peneliti menyimpulkan bahwa layanan konseling diperlukan bagi perempuan dengan HIV/AIDS. Penilaian ini dilakukan secara tertutup, sehingga bersifat subyektif.(11) Hasil penelitian menyebutkan bahwa perempuan dengan HIV memiliki kesejahteraan subyektif yang rendah.

Penyebab utamanya adalah adanya pikiran negatif dan emosi negatif yang cenderung bertahan pada perempuan dengan HIV. Untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif perempuan dengan HIV, perlu dilakukan pengobatan dalam bentuk terapi. Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) merupakan salah satu bentuk terapi yang dapat digunakan dalam layanan konseling untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif perempuan dengan HIV.

Pola pikir dan emosi negatif memengaruhi perkembangan kekebalan dan perilaku perempuan dengan HIV. Hubungan self-efficacy dengan kesejahteraan subjektif pada penderita HIV/AIDS di Jakarta.

Tinjauan Pustaka

Variabilitas detak jantung (HRV) adalah alat untuk mengukur tingkat fluktuasi panjang interval antara detak jantung. Metode Heart Rate Variability (HRV) berkaitan erat dengan sistem saraf otonom manusia dimana terdapat dua sistem saraf manusia yaitu sistem saraf somatik (SNS) dan sistem saraf otonom (ANS). terbagi menjadi dua yaitu sistem saraf simpatis dan parasimpatis. Data yang dihasilkan oleh metode Heart Rate Variability (HRV) adalah data Heart Rate (HR), yaitu detak jantung per satuan waktu, dinyatakan dalam beats per minute (BPM).

Variabilitas detak jantung (HRV) mengukur perbedaan spesifik dalam waktu (atau variabilitas) antara detak jantung yang berurutan. Alat heart rate variability (HRV) merupakan alat yang digunakan untuk melihat aktivitas saraf otonom yang terbagi menjadi dua yaitu saraf simpatis dan saraf parasimpatis. Variabilitas detak jantung juga merupakan alat yang baik dalam menilai keseimbangan otonom pada pasien hipertensi.

Analisa Detak Jantung dengan Metode Heart Rate Variability (HRV) untuk Pengenalan Stress Mental Berbasis Photoplethysmograph (PPG). The role of heart rate variability in assessing the evolution of patients with chronic obstructive pulmonary disease. Rom.

Artikel Penelitian HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN KEBERHASILAN

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan IMT dengan keberhasilan pengobatan TB Paru di Puskesmas Malinau Kota Kalimantan Utara Tahun 2020. Analisis keberhasilan pengobatan TB Paru menunjukkan bahwa hasil penelitian didominasi oleh subjek yang berhasil mengobati TB Paru (61,9%), dan sisanya dinyatakan gagal (38,1%). Artinya ada hubungan yang bermakna secara statistik antara IMT dengan keberhasilan pengobatan TB Paru pada penelitian ini.

Sementara itu, Intiyati melaporkan lebih banyak subyek yang tidak berhasil dalam pengobatan TB Paru (57%) dibandingkan subyek yang berhasil dalam pengobatan (43%). Panggayuh melaporkan lebih banyak kegagalan pengobatan untuk TB paru (52,4%) dibandingkan dengan mereka yang berhasil (47,6%) dalam penelitiannya. Hasil analisis bivariat pada penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dengan keberhasilan pengobatan TB Paru.

Kemudian terdapat hubungan yang signifikan antara IMT dengan keberhasilan pengobatan TB Paru pada pasien TB Paru yang dirawat di Puskesmas Malinau Kalimantan Utara Tahun 2020. Faktor-faktor yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan TB Paru di RSU Karsa Husada Batu.

Laporan Kasus MANAJEMEN KEPERAWATAN PADA PASIEN ULKUS PEPTIKUM

DENGAN ABDOMINAL DISCOMFORT

Perawat sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan harus terampil dalam melakukan asuhan keperawatan yang komprehensif dan berkualitas bagi pasien penyakit ulkus peptikum. Penelitian ini merupakan studi kasus yang bertujuan untuk mendeskripsikan manajemen keperawatan pasien ulkus peptikum dalam memenuhi kebutuhan akan rasa nyaman berupa nyeri akut. Intervensi keperawatan yang dilakukan pada pasien tukak lambung dengan keluhan abdomen ditujukan pada pendekatan interpersonal sehingga terbentuk komitmen dalam praktik di bawah kepemimpinan perawat.

Tanda dan gejala ulkus peptikum meliputi tanda dan gejala seperti nyeri, nyeri ulu hati (heartburn), muntah, konstipasi dan perdarahan (12). Berawal dari domain pemenuhan kebutuhan kenyamanan menurut Standar Hasil Perawat Indonesia (SLKI), penulis mendapatkan masalah keperawatan pada pasien penyakit tukak lambung yaitu Kenyamanan Fisik Kelas 1 berupa berkurangnya rasa nyaman, kemauan untuk meningkatkan kenyamanan, mual, nyeri akut, nyeri kronis, nyeri persalinan, sindrom nyeri kronis. N dengan ulkus peptik dengan nyeri akut Masalah keperawatan menurut teori adalah melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif, mengajarkan prinsip manajemen nyeri, mengajarkan penggunaan teknik non farmakologis, mendorong pasien untuk memonitor nyeri dan tentang manajemen nyeri yang tepat, mendukung istirahat atau tidur yang adekuat untuk membantu mengurangi mendeskripsikan aplikasi panas atau dingin, menentukan durasi aplikasi berdasarkan respons verbal, perilaku, dan biologis, memantau tekanan darah, suhu, detak jantung, dan status pernapasan dengan benar, memantau tekanan darah saat pasien dalam keadaan baik berbaring, duduk, dan berdiri, dorong pasien untuk melakukan perubahan posisi, sertakan posisi tidur yang diinginkan dalam rencana perawatan jika tidak ada kontraindikasi, angkat kepala tempat tidur.

Perawat harus memastikan bahwa komponen utama perawatan pasien ulkus peptikum dan memotivasi pasien untuk pemulihan yang lebih cepat menjadi prioritas. Peran perawat dalam perawatan pasien ulkus peptikum sangat penting dalam memonitor kondisi dan memenuhi kebutuhan dasar.

Tinjauan Pustaka PROSEDUR PENGHASIL AEROSOL SEBAGAI

FAKTOR RISIKO TRANSMISI SARS-COV-2

Istilah yang digunakan saat menelusuri mencakup istilah yang mewakili prosedur pembuatan aerosol, penularan COVID-19, dan penularan SARS-CoV-2. Studi kelima menemukan bahwa nebulisasi, ventilasi non-invasif (NIV) dan kinerja pemeriksaan fisik dapat meningkatkan penularan SARS-CoV-2.9 Nebulisasi dan NIV diklasifikasikan sebagai prosedur penghasil aerosol, sedangkan kinerja pemeriksaan fisik tidak diklasifikasikan dianggap sebagai prosedur penghasil aerosol. SARS-CoV-2 ditemukan bertahan di lapisan luar masker bedah setelah 7 hari (22oC, kelembaban relatif 65%).

SARS-CoV-2 yang menempel pada pakaian pelindung atau permukaan lantai dapat tererosi kembali akibat aktivitas dan pergerakan petugas kesehatan. Studi ini telah mencakup risiko penularan SARS-CoV-2, namun sayangnya belum ada analisis terpisah mengenai risiko penularan antara SARS-CoV-2 dengan virus lainnya. Rekomendasi dan pedoman yang membatasi tindakan pencegahan melalui udara hanya untuk prosedur yang menghasilkan aerosol dapat menempatkan petugas layanan kesehatan pada risiko penularan SARS-CoV-2.13 yang lebih tinggi.

Kejelasan tentang faktor-faktor yang memengaruhi penularan SARS-CoV-2 dapat membantu fasilitas layanan kesehatan dan petugas layanan kesehatan membuat pilihan yang lebih logis terkait perlindungan pernapasan. Studi lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi prosedur medis mana yang dapat meningkatkan penularan SARS-CoV-2.

Artikel Penelitian

DIMER PADA PASIEN COVI19 DENGAN KOMORBID DIABETES MELITUS DI MURNI TEGUH MEMORIAL HOSPITAL MEDAN

Dari Tabel 4.2.4 di atas dapat dilihat bahwa gambaran hasil penelitian rasio neutrofil-limfosit pada pasien COVID-19 dengan diabetes melitus pada penelitian ini meningkat sebesar 68,7% dengan total 44 orang. Berdasarkan Tabel 4.2.5 di atas dapat dilihat gambaran hasil pemeriksaan C-Reactive Protein (CRP) pada pasien COVID-19 dengan diabetes melitus pada penelitian ini meningkat sebesar 89,1% dengan total 57 orang. Berdasarkan Tabel 4.2.6 di atas dapat dilihat bahwa gambaran hasil pemeriksaan D-dimer pada pasien COVID-19 dengan diabetes melitus pada penelitian ini meningkat sebesar 56,2%, berjumlah 36 orang.

Hasil penelitian berdasarkan pemeriksaan rasio neutrofil-limfosit pada pasien COVID-19 dengan diabetes melitus di RS Memorial Murni Teguh tahun 2020 terdapat 44 pasien dengan peningkatan rasio neutrofil-limfosit sebesar 68,7% dan normal. Tingkat RNL 31,3. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Liu J et al pada tahun 2020, terjadi peningkatan rasio limfosit neutrofil sebesar 50%. 11 Pada pasien COVID-19 dengan grade berat, ditemukan nilai RNL lebih tinggi dibandingkan pasien dengan prognosis ringan. Berdasarkan hasil pemeriksaan C-Reactive Protein (CRP) pada pasien COVID-19 dengan diabetes melitus di Rumah Sakit Murni Teguh Memorial tahun 2020, terdapat 57 pasien dengan kadar CRP meningkat sebesar 89,1% dan 7 pasien dengan kadar CRP normal. 10,9%…

Karena diketahui bahwa CRP merupakan penanda inflamasi dan sebagai pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan untuk mengetahui derajat keparahan dan prognosis pasien COVID-19 dengan diabetes melitus. Berdasarkan hasil pemeriksaan D-Dimer pada pasien COVID-19 dengan diabetes mellitus di Rumah Sakit Murni Teguh Memorial tahun 2020, pasien dengan kadar D-Dimer meningkat sebesar 56,2%, berjumlah 36 orang dan kadar D-Dimer normal sebesar 43,8 % berjumlah 28 orang.

ARTIKEL PENELITIAN

Pada model fenotipe frailty, ditemukan kelelahan, kelemahan dan kelesuan, yang tidak hanya terkait dengan fungsi otot, sedangkan sarkopenia lebih menunjukkan kombinasi kehilangan massa otot dan penurunan fungsi otot. Penurunan aktivitas menyebabkan massa otot semakin menyusut sehingga sarcopenia banyak terlihat pada orang yang tidak aktif. Anda juga mungkin berisiko terkena sarcopenia karena Anda menjalani gaya hidup yang tidak banyak bergerak.

Untuk menghilangkan gaya hidup yang kurang gerak, karyawan harus menerapkan ergonomi yang tepat di tempat kerja, misalnya menggunakan meja berdiri dan konverter meja agar mudah berpindah dari duduk ke berdiri. Tubuh yang tidak sehat dapat menyebabkan seseorang mengalami degenerasi otot dini, sehingga nutrisi yang tepat sangat dianjurkan.20. Stres di tempat kerja merupakan salah satu masalah yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang dalam bekerja.

Ini juga dapat meningkatkan risiko gaya hidup yang tidak banyak bergerak, yang dapat menyebabkan peningkatan kasus sarkopenia. Untuk mencegah timbulnya sindrom geriatri secara cepat, pekerja disarankan untuk menjaga gaya hidup sedentary di tempat kerja, mencegah malnutrisi, mencegah stres di tempat kerja dan menghindari postur tubuh yang buruk saat bekerja.

Referensi

Dokumen terkait

As mentioned earlier under the discussion of hierarchical stratifi- cation of mujtahid, it is interesting to note that according to Shah Wali AUeh, when the jurist