Alhamdulillah puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat-Nya yang melimpah, Konferensi Nasional Teknik Sipil (KoNTekS) ke-13 dapat terselenggara pada tanggal 19-21 September 2019 di Banda Aceh. Konferensi Nasional Teknik Sipil (KoNTekS) merupakan pertemuan ilmiah tahunan bidang teknik sipil yang diselenggarakan sejak tahun 2007. Penerapan KoNTekS diprakarsai oleh program studi Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang kemudian dilanjutkan. berkembang hingga akhirnya terbentuklah konsorsium sebagai penyelenggara KoNTekS.
Konsorsium ini merupakan wadah kerjasama antar Program Studi Teknik Sipil yang tergabung di dalamnya, yang mana kiprahnya akan lebih dikembangkan lagi agar dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi dunia Teknik Sipil di Indonesia. Selain itu, KoNTekS telah mendapat dukungan penuh dari Badan Permusyawaratan Perguruan Tinggi Teknik Sipil Seluruh Indonesia (BMPTTSSI) dan menjadi konferensi tahunan BMPTSSI. Dalam penyelenggaraan KoNTekS-13, konsorsium telah mempercayakan Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan konferensi nasional ini.
Merujuk pada perkembangan industri konstruksi dengan memperhatikan aspek penanggulangan bencana dan permasalahan lingkungan hidup, maka konferensi nasional ini dipilih dengan mengusung tema: “Inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam penyelenggaraan infrastruktur berbasis penanggulangan bencana dan ramah lingkungan”. Hasil konferensi ini diharapkan dapat menyumbangkan pemikiran bagi penelitian dan profesi teknik sipil dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Pertama-tama saya panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga terselenggaranya Konferensi Nasional Teknik Sipil ini.
KoNTekS ke-13 menghadirkan keynote speaker dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung dan Universitas Syiah Kuala. KoNTekS juga didukung oleh Badan Musyawarah Pendidikan Tinggi Teknik Sipil Seluruh Indonesia (BMPTTSSI) yang bertujuan untuk memberikan kesetaraan materi perkuliahan dan proses pembelajaran bagi seluruh program studi Teknik Sipil di seluruh Indonesia. Selain itu, Rapat Bamus XII juga dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan KoNTekS ini, guna membahas pengembangan kurikulum program studi Teknik Sipil dan pemilihan lokasi penyelenggaraan KoNTekS ke-14 tahun depan.
Saya mengucapkan terima kasih kepada para sponsor yang telah memberikan dukungan moril dan finansial sehingga terselenggaranya acara KoNTekS ke-13 ini dapat sukses. Terima kasih juga saya sampaikan kepada panitia yang telah berjuang dan mencurahkan seluruh tenaga, waktu dan pikirannya untuk mensukseskan Konferensi Nasional Teknik Sipil (KoNTekS) ke-13. Semoga konferensi ini dapat membawa hasil yang bermanfaat bagi perkembangan industri konstruksi dan pendidikan teknik sipil di Indonesia.
Saya selaku panitia juga mohon maaf sebesar-besarnya apabila terdapat kekurangan dalam penyelenggaraan KoNTekS ke-13 ini. 230 Pengaruh penggunaan kalkulus beras terhadap kuat tekan beton (Muhammad Noor Asnan, Isnaini Zulkarnain, Rusandi Noor, Vebrian, Johanes Wicaksono). 239 Pemanfaatan agregat kasar pelapis styrofoam untuk meningkatkan kuat tekan beton ringan (Muhammad Noor Asnan, Rusandi Noor, Ahmad, Tri Dianingsi Dumendehe).
285 Pengaruh pemanasan awal butiran styrofoam terhadap kuat tekan beton ringan (Andi Prasetiyo Wibowo, Angelina Eva Lianasari, Trevi Arga Kurniawan, Zaki Adhi Wiransyah M).
PENDAHULUAN
Jasa logistik pihak ketiga merupakan model layanan yang dilakukan oleh pihak di luar kontraktor untuk melakukan kegiatan logistik proyek, sehingga kontraktor dapat lebih fokus dalam pelaksanaan operasional konstruksi. Pendekatan kualitatif eksploratif digunakan untuk memperoleh data mengenai permasalahan yang dihadapi kontraktor dalam proses logistik bahan konstruksi. Hasil yang diperoleh dari analisis korespondensi menunjukkan bahwa permasalahan logistik yang dialami kontraktor mempunyai hubungan biasa dengan metode logistik yang umum diterapkan pada proyek konstruksi dengan nilai signifikan sebesar 0,045, sedangkan pengetahuan praktisi konstruksi terhadap jasa logistik pihak ketiga mempunyai hubungan dengan jenis. proyek dan metode logistik yang diterapkan pada proyek dengan nilai signifikan sebesar 0,036 dan 0,035.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran awal dalam kajian jasa logistik pihak ketiga pada rantai pasok konstruksi sesuai peta penelitian yang dilakukan peneliti. Penggunaan jasa logistik pihak ketiga pada industri manufaktur telah menunjukkan manfaat yang baik karena perusahaan manufaktur dapat fokus pada aktivitas intinya (Vasiliauskas dan Jakubauskas, 2007), sehingga penggunaan jasa logistik pihak ketiga untuk proyek konstruksi merupakan peluang yang perlu dimanfaatkan. diambil, diteliti, dan potensinya. Tulisan ini membahas permasalahan yang dihadapi kontraktor dalam kegiatan logistik bahan konstruksi, sehingga dapat memberikan gambaran mengenai jenis layanan yang dapat diberikan oleh penyedia jasa logistik pihak ketiga dan posisi layanan logistik pihak ketiga berdasarkan persepsi kontraktor.
LAYANAN LOGISTIK PIHAK KE-TIGA
AKTIVITAS LAYANAN LOGISTIK PROYEK KONSTRUKSI
METODE PENELITIAN
Karena hampir 90% responden memiliki pengalaman kerja lebih dari 1 tahun, maka diasumsikan bahwa responden mampu memberikan data mengenai kegiatan logistik pada proyek yang sering mereka kerjakan. Dari hasil pendataan diketahui bahwa jenis proyek yang paling sering dilakukan responden adalah bangunan gedung termasuk proyek perumahan sebanyak 59%, bangunan transportasi seperti proyek jalan dan jembatan, rel kereta api dan landasan pacu, sebanyak 27%, kemudian bangunan air. yaitu bendungan, saluran irigasi dan sejenisnya sebanyak 5%, dan responden yang mengerjakan proyek spesialis seperti proyek pembangkit tenaga listrik, instalasi pabrik atau proyek kategori spesialis lainnya sebanyak 7%.
HASIL DAN DISKUSI
Ketepatan bahan yang dikirim dinilai dari segi jumlah atau jumlah bahan yang dikirim, apakah sesuai dengan pesanan atau tidak, dari aspek kualitas bahan yang dikirim, serta dari aspek ketepatan rencana. jenis atau spesifikasi. Hal ini sejalan dengan konsep lean Construction yang menekankan perlunya efisiensi dalam hal penyimpanan material, sehingga material yang didatangkan ke lokasi proyek haruslah material yang benar-benar dibutuhkan sesuai jadwal pelaksanaan proyek (Ballard, 2000). Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa harga material bukanlah permasalahan terbesar yang dihadapi kontraktor.
Hal ini mungkin disebabkan oleh fluktuasi harga material yang diantisipasi oleh kontraktor dengan strategi pembelian materialnya. Umumnya kontraktor mempunyai pemasok tetap sehingga harga material berada dalam toleransi kontraktor. Dengan demikian, pemasok yang menjual bahan bangunan dengan harga yang tidak wajar akan ditinggalkan kontraktor.
Pelacakan material seperti yang dijelaskan di atas juga merupakan informasi yang dibutuhkan kontraktor untuk memastikan kedatangan material tepat waktu. Terkait dengan penanganan material berlebih atau bahkan sisa material pada proyek, konsep reverse logistic menjadi isu penting dalam konsep green konstruksi. Hal ini bertujuan agar kendaraan logistik yang masuk ke lokasi proyek dapat meninggalkan lokasi proyek dengan membawa sampah atau sisa material yang tidak terpakai, sehingga beban jalan dan bahan bakar akibat mudik kendaraan logistik dapat lebih optimal.
Kontraktor harus memiliki sumber daya manusia yang handal dalam perencanaan kebutuhan material yang terintegrasi dengan jadwal pelaksanaan proyek, dan kontraktor memiliki peralatan gudang material yang standar sesuai dengan karakteristik material yang dapat disimpan. Dari hasil analisa diketahui bahwa material struktur merupakan material yang diharapkan dapat dilayani oleh pemasok TPL. Hasil yang diperoleh dari analisis korespondensi menunjukkan bahwa permasalahan logistik yang dialami kontraktor mempunyai hubungan kebetulan dengan metode logistik yang umum diterapkan pada proyek konstruksi dengan nilai signifikan sebesar 0,045 yang dapat dilihat pada Gambar 2.
Permasalahan logistik yang dihadapi oleh kontraktor yang menggunakan metode logistik in-house terutama adalah ketersediaan material dan waktu pengiriman material. Masalah lain yang dihadapi kontraktor yang menggunakan metode outsourcing adalah jangkauan pengiriman material. Sementara itu, kontraktor yang menggunakan metode logistik internal dan eksternal (kombinasi) tampaknya menghadapi masalah komitmen dari pemasok dan masalah terkait pelacakan bahan yang mereka pesan dari pemasok.
KESIMPULAN
Pengetahuan profesional konstruksi terhadap jasa logistik pihak ketiga berkaitan dengan metode logistik yang diterapkan para profesional terhadap proyek yang sering mereka kerjakan, dengan nilai signifikan sebesar 0,035 (Gambar 3). Kontraktor yang menggunakan metode tersebut untuk melakukan aktivitas logistiknya sendiri (in-house) biasanya tidak mengetahui keberadaan jasa logistik pihak ketiga (TPL). Sebaliknya, kontraktor yang mengetahui keberadaan TPL cenderung menggandeng pihak ketiga untuk mengelola kegiatan logistiknya, meskipun hal ini tidak menutup kemungkinan kontraktor untuk mengelolanya sendiri.