• Tidak ada hasil yang ditemukan

prosiding seminar nasional sastra dan budaya ii

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "prosiding seminar nasional sastra dan budaya ii"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Halaman Judul

PROSIDING

SEMINAR NASIONAL SASTRA DAN BUDAYA II

PENGEMBANGAN PENGETAHUAN SASTRA DAN BUDAYA SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN APRESIASI TERHADAP KEANEKARAGAMAN BUDAYA BANGSA

Penyunting Ahli Dr. I Ketut Sudewa, M. Hum

Penyunting Pelaksana Drs. I Wayan Teguh, M. Hum

DENPASAR, 26 – 27 MEI 2017

FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR 2017

ISBN 978 – 602 – 294 – 215 – 3

(3)

ii

DAFTAR ISI

Halaman Judul ... i

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

TIFA IN TANAH PAPUA: TEXT AND CONTEXT ... 1

I Wayan Rai S. SASTRA DAN BUDAYA SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN DALAM PENDIDIKAN KARAKTER ... 19

I Wayan Resen WAYANG MADURA: INOVASI PENGEMBANGAN SENI WAYANG SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN RESPONSIF BAHASA DAN SASTRA MADURA BAGI PENUTUR MADURA ... 49

Ahmad Junaidi PERISTIWA TUTUR DALAM TRANSAKSI JUAL BELI DI PASAR GROSIR BUTUNG MAKASSAR ... 58

Andi Saadillah BALI SEBAGAI DAERAH ISTIMEWA KONSERVASI BAHASA DAERAH: SEBUAH USULAN ... 71

Bambang Suwarno PENGARUH CONSCIOUSNESS-RAISING GROUP DALAM KEGIATAN MEMBACA EKSTENSIF TEKS INSPIRATIF GENDER PADA SIKAP EMANSIPATIF SISWA SMA NEGERI DI KOTA BENGKULU ... 84

Bambang Suwarno dan Agus Joko Purwadi MOTIF HIAS KAIN PADA ARCA PERWUJUDAN DI PURA PUSEH DESA SUMERTA, DENPASAR TIMUR ... 96

Coleta Palupi Titasari INVENTARISASI CAGAR BUDAYA DI DESA SUMERTA KOTA DENPASAR ... 105 Coleta Palupi Titasari, Rochtri Agung Bawono, dan Zuraidah

(4)

iii PEMBERDAYAAN BAHASA LEWAT TRADISI BERCERITA (SASTRA):

STUDI KASUS DI DESA SUMERTA, DENPASAR ... 112 I G.A.A. Mas Triadnyani, I Nyoman Suparwa, I Wayan Teguh

PARIBASA DAN PEMBENTUKAN MORAL DALAM LAGU POP

BALI ... 120 I Gede Budiasa

REPRESENTASI MULTIKULTURALISME DALAM TRILOGI

NOVEL "SEMBALUN RINJANI" KARYA DJELANTIK SANTHA ... 131 I Gede Gita Purnama Arsa Putra

PENERAPAN STRATEGI PEMELAJARAN BAHASA ASING

OLEH SISWA-SISWI KELAS 10 SMA NEGERI 3 DENPASAR ... 140 I Gede Oeinada dan I Nyoman Rauh Artana

EKSISTENSIALISME DALAM CERITA “ON THE ROAD” ... 148 I Gusti Ayu Gde Sosiowati dan Ni Made Ayu Widiastuti

KAJIAN DWIBAHASA PADA PAPAN INFORMASI PUBLIK:

PERSPEKTIF ALIH BAHASA ... 156 I Gusti Ngurah Parthama

TEMA-TEMA CERITA RAKYAT SEBAGAI PEMBENTUK

KARAKTER ... 164 I Ketut Darma Laksana

PEMALI: SEBUAH KEARIFAN LOKAL MEMBENTUK KARAKTER

ANAK USIA DINI ... 176 I Ketut Jirnaya

EKSISTENSI NASKAH LONTAR PRASASTI, PRALINTIH KI GUSTI

PANIDA DI DESA SUMERTA DENPASAR ... 183 I Ketut Jirnaya, Anak Agung Gede Bawa, dan Komang Paramarta

AMANAT CERITA PENDEK “DILARANG MENCINTAI

BUNGA-BUNGA” KARYA KUNTOWIJOYO ... 191 I Ketut Nama

BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA TEKS SAA DALAM RITUAL

TUMPEK BUBUH ... 198 I Ketut Ngurah Sulibra

FENOMENA SOSIAL DALAM CERPEN “PROTES” KARYA PUTU WIJAYA206

(5)

iv

I Ketut Sudewa

HARMONIS TRAGIS STRUKTUR HANCUR: PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUNGUT LANTANG NGUTAHANG KACANG KARYA

MADE SANGGRA ... 214 I Made Suarsa

MAHABHARATA DALAM TRADISI DAN PENCIPTAAN SASTRA BALI .... 223 I Made Suastika

PERKAWINAN GANDARWA DALAM PERSPEKTIF MASA KINI (REFLEKSI PERKAWINAN DUSMANTA-SAKUNTALA DALAM

MAHABHARATA) ... 238 I Nyoman Duana Sutika

NILAI-NILAI MULTIKULTURAL DALAM SASTRA PARIBASA

BALI ... 248 I Nyoman Suarka

MAKNA PENDIDIKAN MORAL DALAM KIDUNG RĂGA WINASA

EPISODE PERSAHABATAN SI LUTUNG DENGAN SI KEKER ... 258 I Nyoman Sukartha

PRAKTIK-PRAKTIK KULTURAL KEBUDAYAAN BALI DI KELURAHAN SUMERTA DENPASAR TIMUR 2002-2017 ... 270 I Nyoman Wijaya, Anak Agung Ayu Rai Wahyuni, dan Fransiska Dewi Setiowati Sunaryo

PENGARCAAN PRATIMA DEWA DEWA HINDU DI BALI:

KESINAMBUNGAN TRADISI PENGARCAAN JAMAN INDONESIA HINDU279 I Wayan Redig

MERAJUT KEBHINEKAAN DALAM BINGKAI NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA (NKRI) BERDASARKAN BUKTI-BUKTI

ARKEOLOGI ... 288 I Wayan Srijaya

MODEL PEMBELAJARAN BAHASA BALI LEWAT PENGGALIAN DAN PEMANFAATAN CERITA LISAN (SATUA) DI LINGKUNGAN SEKOLAH:

STUDI KASUS DI KELURAHAN SUMERTA, KECAMATAN

DENPASAR TIMUR ... 300 I Wayan Suardiana

(6)

v MAKNA AIR DALAM TEKS ADI PARWA ... 310 I Wayan Suteja

SASTRA SEBAGAI SUMBER PENGETAHUAN TRADISIONAL:

KAJIAN EKOKRITIK CERITA RAKYAT BALI AGA ... 323 Ida Ayu Laksmita Sari; I Nyoman Weda Kusuma

EKSPRESI BUDAYA SEPAT GANTUNG: MENATA KERUKUNAN HIDUP BERTETANGGA DALAM MASYARAKAT TRADISIONAL

DI BALI ... 332 Ida Bagus Rai Putra

PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK BERKAITAN DENGAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM PERMAINAN

TRADISIONAL ... 336 Intan Susanti, dkk

MARABOT: KESALEHAN SOSIAL DALAM KEHIDUPAN

SOSIO-KULTURAL MASYARAKAT BALI ... 342 Ketut Darmana

SATUA BALI PADA ERA GLOBALISASI DALAM KEHIDUPAN SOSIO-KULTURAL MASYARAKAT BALI:

Studi Kasus Kelurahan Sumerta, Kota Denpasar ... 351 Ketut Darmana, I Wayan Suwena, Anak Agung Ayu Murniasih, dan Aliffiati

DESA PENGLIPURAN BANGLI: ADAT DAN BUDAYANYA ... 362 Kt. Riana, Putu Evi W. Citrawati, dan I.G.A. Istri Aryani

FILOSOFI KEPEMIMPINAN DALAM CERITA RAKYAT

KOLOPE BHALA TUMBU (UBI HUTAN) PADA MASYARAKAT

MUNA ... 369 La Ode Ali Basri

RATAPAN DEWI DRUPADI KETIKA DI WIRATA DALAM

GEGURITAN KICAKA ... 379 Luh Ratu Puspawati

KONSEP SASTRA HIJAU DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

DALAM SASTRA LISAN NGADHA DI FLORES ... 393 Maria Matildis Banda

(7)

vi

KEGIATAN LITERASI SEKOLAH DAN PENGARUHNYA BAGI

MINAT MEMBACA KARYA SASTRA DI SMAN 3 DENPASAR ... 403 Maria Matildis Banda, dkk

MENDEDAH TRANSFER BUDAYA DALAM SASTRA ANAK KANIA’S DREAM: RAHASIA UNIK BEKICOT LEZAT KARYA

NELFI SYAFRINA ... 411 Mateus Rudi Supsiadji dan Linusia Marsih

SASTRA NUSANTARA SEBAGAI MEDIA AJAR BUDAYA DALAM

PEMBELAJARAN BAHASA ... 419 Muna Muhammad

NILAI KEPAHLAWANAN DALAM "PERANG PANIPI" CERITA RAKYAT GORONTALO SEBAGAI BENTUK PENGUATAN KARAKTER

BANGSA ... 427 Muslimin

PENDIDIKAN KARAKTER DALAM TEKS DAKSA CURSES LORD

SIVA ... 439 Ni Ketut Dewi Yulianti

GEGAR BUDAYA YANG DIALAMI MAHASISWA INDONESIA DALAM MENGIKUTI PROGRAM PERTUKARAN DI JEPANG: STUDI KASUS TERHADAP MAHASISWA PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG

FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS UDAYANA ... 446 Ni Luh Putu Ari Sulatri dan Silvia Damayanti

PROFIL PEMAKAIAN BAHASA DI KELURAHAN SUMERTA

DENPASAR TIMUR ... 454 Ni Luh Sutjiati Beratha, Ni Wayan Sukarini dan I Made Rajeg

CECIMPEDAN: SEBUAH SARANA BERMAIN DAN BELAJAR

KETANGKASAN BERPIKIR SERTA PENGENALAN LINGKUNGAN

PADA ANAK ... 464 Ni Made Suryati

EKSISTENSI GUNUNG DALAM MASYARAKAT JEPANG ... 472 Ni Putu Luhur Wedayanti

MENGAPA PEMAKAIAN BEBERAPA KOSAKATA BAHASA

INDONESIA DALAM KOMUNIKASI TIDAK LELUASA? ... 478 Ni Putu N. Widarsini

(8)

vii SEKAR RARE: SISTEM BUDAYA MASYARAKAT BALI DAN UNSUR

PEMBENTUK PENDIDIKAN KARAKTER ... 484 Ni Wayan Sumitri

MODEL PEMBELAJARAN TEMATIK DALAM NOVEL

MADOGIWA NO TOTTOCHAN ... 501 Novi Andari dan Sudarwati

PENDIDIKAN KARAKTER DAN PEMERTAHANAN NILAI-NILAI

BUDAYA LOKAL MELALUI LAGU DAERAH DI ALBUM BALI KUMARA ... 510 P.A.A. Senja Pratiwi

RITUS DAN METAFORA BUNGA DI BALI DALAM PUISI-PUISI

TAHUN 1960—2015 ... 519 Puji Retno Hardiningtyas

KONSEPSI ‘SEJAHTERA’ SUDARWATI DALAM TEKS BUDAYA

BALI TELAAH ANTROPOLINGUISTIK ... 531 Putu Sutama

MAKAM TROLOYO: BUKTI KOMUNITAS MUSLIM DALAM

KERAJAAN MAJAPAHIT ... 540 Rochtri Agung Bawono

NILAI KEKUATAN CINTA DALAM NOVEL ‘THE GREAT GATSBY’ ... 548 Sang Ayu Isnu Maharani

EKOLOGI SASTRA DALAM MANGA KISEKI NO RINGO ... 559 Silvia Damayanti, Ni Luh Ari Sulatri

KEARIFAN LINGKUNGAN NOVEL WIJAYA KUSUMA DARI KAMAR NOMOR TIGA KARYA MARIA MATILDIS BANDA: PENDEKATAN

EKSPRESIF ... 569 Sri Jumadiah

PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK MELALUI CERITA RAKYAT

NUSANTARA ... 577 Ni Ketut Sri Rahayuni

PENGARCAAN PRATIMA DEWA DEWA HINDU DI BALI:

KESINAMBUNGAN TRADISI PENGARCAAN JAMAN INDONESIA HINDU584 I Wayan Redig

SOSIOLOGI MASYARAKAT JEPANG PADA NOVEL UTSUKUSHISA TO KANASHIMI TO DAN IZU NO ODORIKO KARYA KAWABATA YASUNARI Zida Wahyuddin dan Eva Amalijah ... 592

(9)

viii

WUJUD KEBERAGAMAN DI MASA LALU TERCERMIN PADA

BEBERAPA TINGGALAN ARKEOLOGI ISLAM ... 607 Zuraidah

(10)

Prosiding Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

454 ISBN 978 – 602 – 294 – 215 – 3

PROFIL PEMAKAIAN BAHASA DI KELURAHAN SUMERTA DENPASAR TIMUR

Ni Luh Sutjiati Beratha, Ni Wayan Sukarini dan I Made Rajeg Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

[email protected] [email protected]

[email protected] Abstrak

Makalah ini menjelaskan profil dan fungsi bahasa-bahasa yang digunakan oleh masyarakat di Kelurahan Sumerta, Kecamatan Denpasar Timur. Data diperoleh melalui pengamatan langsung dan wawancara mendalam dengan kaum laki-laki dan perempuan, kaum remaja yang orang tuanya beretnis Bali, serta pasangan kawin campur yang berdomisili, bermasyarakat, dan melakukan aktivitas di kelurahan setempat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat di Kelurahan Sumerta melestarikan kebudayaan Bali dengan baik, khususnya melalui penggunaan bahasa Bali (BB) secara ajeg pada semua ranah, yang pada penelitian ini terdiri atas ranah keluarga, keagamaan/adat, kantor, dan transaksi.

Dilihat dari segi fungsinya dan ranah penggunaan, BB digunakan dalam ranah keluarga sebagai perekat persaudaraan, penghormatan, dan kesantunan sosial. Pada ranah keagamaan/adat, BB memiliki fungsi sosial dan religius. Pada ranah kantor, BB berfungsi untuk melepas keformalan dan ketegangan, serta untuk menunjukkan kedekatan atau keakraban, sedangkan pada ranah transaksi, BB berfungsi untuk memperlancar tuturan.

Bahasa Indonesia, difungsikan untuk menunjukkan keresmian atau keformalan, dan keserasian. Penggunaan bahasa Inggris tidak memiliki fungsi penting di lingkungan masyarakat ini. Di pihak lain penggunaan bahasa campuran berfungsi untuk memperlancar dan mengefektifkan komunikasi, mengurangi kesan keformalan sehingga menghasilkan kesan akrab dan dekat serta membuat percakapan menjadi lebih komunikatif.

Kata kunci: profil bahasa, fungsi bahasa, ranah, pelestarian bahasa

PENDAHULUAN

Anak-anak di kalangan orang Bali pada umumnya berbahasa Indonesia, jarang berbahasa Bali. Atmadja (2010:67) mengatakan bahwa anak-anak mengalami kesulitan berbahasa Bali alus walaupun di sekolah telah diajarkan

(11)

Prosiding

Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

ISBN 978 – 602 – 294 – 215 – 3 455

bahasa Bali alus. Selain di sekolah, penggunaan bahasa Bali juga sudah sering disosialisasikan melalui tayangan televisi lokal. Sementara itu, orang Bali dewasa pun sering mengalami kesulitan dalam berbahasa Bali alus. Dengan demikian mereka memakai bahasa campuran, yakni bahasa Bali bercampur dengan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, terutama di desa-desa yang termasuk dalam daerah wisata (Keriana, 2004).

Hal ini merupakan salah satu penyebab termarginalisasinya penggunaan bahasa Bali. Sebagaimana dikemukakan oleh Atmadja (2010:67), masalah ini berkaitan dengan penyebarluasan penggunaan bahasa Indonesia. Kondisi ini dapat mengakibatkan orang Bali mengalami krisis budaya dan krisis identitas, mengingat bahasa Bali merupakan wadah kebudayaan dan unsur identitas atau jati diri orang Bali. Bahkan, pariwisata budaya di Bali pun bisa mengalami degradasi mengingat kebudayaan Bali merupakan modal utama dalam pengembangan bahasa Bali. Oleh karena itu, makalah ini hendak mengkaji tentang ekologi bahasa Bali: keberagaman bahasa yang digunakan oleh masyarakat Bali di Kelurahan Sumerta, Kecamatan Denpasar Timur. Hasilnya dapat diharapkan bermanfaat untuk menyusun program revitalisasi bahasa Bali.

Terkait dengan penggunaan bahasa, para ahli, antara lain Thompson (2007) dan Althusser (2008) berpendapat bahwa ideologi dan kepentingan sangat menentukan pikiran, sikap, dan tindakan manusia, termasuk pikiran, sikap, dan tindakan dalam memilih bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dalam berbagai konteks, yakni berbagai arena sosial. Sejalan dengan pendapat ini, khusus dalam konteks marginalisasi bahasa Bali telah muncul wacana yang bertopik "Keperluan Penutur Tak Terpenuhi Bahasa Bali Makin Terpinggirkan"

(Bali Post, 13-10-2006:13). Hal ini berarti bahwa ideologi dan kepentingan orang Bali merupakan dua hal yang secara signifikan melatarbelakangi preferensi (pilihan utama) penggunaan bahasa di kalangan orang Bali. Dalam hal ini, mereka kurang mengutamakan penggunaan bahasa Bali, tetapi lebih mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia atau bahasa asing sehingga pemakaian bahasa Bali termarginalkan. Tentu saja hal ini berproses dan berimplikasi dalam kehidupan

(12)

Prosiding Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

456 ISBN 978 – 602 – 294 – 215 – 3

sehari-hari orang Bali. Bertolak dari gagasan di atas, maka tujuan khusus makalah ini adalah menjelaskan bahasa-bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi di lingkungan orang Bali dan melihat fungsi-fungsi yang diduduki oleh masing- masing bahasa yang terpakai di Kelurahan Sumerta, Kecamatan Denpasar Timur, Pemerintah Kota Denpasar.

METODOLOGI

Metode yang digunakan untuk memperoleh data pada penelitian ini adalah pengamatan langsung dan wawancara mendalam. Informan yang dipilih sebagai narasumber atau pemberi informasi dalam penelitian ini beragam, yaitu meliputi kaum laki-laki dan perempuan, kaum remaja dari orang tua etnis Bali dan dari orang tua kawin campur yang berdomisili, bermasyarakat, dan melakukan aktivitas di Kelurahan Sumerta. Keberagaman ini dimaksudkan selain untuk mendapatkan data dan fakta yang banyak dan bermutu, juga agar diperoleh informasi penting untuk dianalisis. Pemilihan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling, yakni dengan memilih masyarakat seperti yang telah disebutkan. Selanjutnya, dengan memosisikan masyarakat tersebut sebagai informan kunci maka dilakukan teknik menggelinding (snowball). Artinya, dari informan-informan kunci digali identitas informan lain yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Teknik wawancara dan observasi juga digunakan dalam penelitian ini. Namun, jenis wawancara dalam hal ini adalah wawancara mendalam, terutama wawancara mengenai pengalaman individu yang biasanya disebut sebagai metode penggunaan data pengalaman individu (individual life history) atau dokumen manusia (human document) (Koentjaraningrat, 1989: 158). Teknik wawancara ini dilengkapi juga dengan wawancara mendalam biasa (bukan life history). Hal-hal yang diamati atau diobservasi adalah situasi sosial di kediaman informan, termasuk orang-orang yang terlibat dalam situasi tersebut lengkap dengan perannya masing-masing.

Data dan informasi dianalisis secara interpretatif, dirangkaikan dengan pendekatan emik dan etik sehingga kemungkinan adanya masalah dengan

(13)

Prosiding

Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

ISBN 978 – 602 – 294 – 215 – 3 457

informan yang telah melakukan sesuatu, tetapi tidak mampu menginformasikan maknanya sebagaimana dikatakan oleh Brian Fay (2004) dapat dihindari.

Data yang terkumpul dalam penelitian ini sebagian besar berwujud data kualitatif. Data ini dianalisis dengan melakukan berbagai kegiatan, yakni reduksi data, menyajikan, menafsirkan, dan menarik simpulan (Miles dan Huberman, 1992:20; Hikmat, 2000 ).

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Profil Penggunaan Bahasa Masyarakat di Kelurahan Sumerta

Profil penggunaan bahasa pada masyarakat di Kelurahan Sumerta akan diuraikan sesuai dengan ranah pemakaian bahasa. Ranah adalah konstelasi dari variabel topik, latar, dan pelibat (Fishman, 1969). Menurut Fishman (1969), ranah terdiri atas empat, yaitu ranah keluarga, ketetanggaan, kerja, dan agama.

Akan tetapi, Schmidt-Rohr (1932) menyatakan bahwa ada sembilan ranah yang meliputi keluarga, tempat bermain, sekolah, tempat ibadah, sastra, pers, militer, pengadilan, dan administrasi pemerintahan. Tampaknya dari kedua literatur tersebut tidak dapat ditetapkan jumlah ranah secara pasti sehingga dalam penelitian ini profil penggunaan bahasa masyarakat di Kelurahan Sumerta diuraikan menjadi ranah keluarga, keagamaan/adat, kantor, transaksi.

3.1.1 Ranah Keluarga

Pemakaian bahasa dalam ranah keluarga terjadi antara seorang penutur di rumah yang sedang bercakap-cakap dengan anggota keluarga, seperti suami/istri, anak, saudara, mertua, dan lain-lain dengan topik kehidupan rumah tangga sehari- hari. Berikut disajikan profil penggunaan bahasa pada ranah keluarga di Kelurahan Sumerta dengan pelibat pertama (P1) dan pelibat kedua (P2).

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada ranah keluarga, masyarakat berkomunikaksi antara satu dan yang lain menggunakan bahasa Bali (BB), bahasa Indonesia (BI), dan bahasa campuran, yakni bahasa campuran Bali–Indonesia (BC1, maksudnya penggunaan bahasa Bali lebih dominan daripada penggunaan

(14)

Prosiding Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

458 ISBN 978 – 602 – 294 – 215 – 3

bahasa Indonesia), dan bahasa campuran Indonesia–Bali (BC2, maksudnya penggunaan bahasa Indonesia lebih dominan daripada penggunaan bahasa Bali).

Profil penggunaan bahasa di atas menunjukkan bahwa pada ranah keluarga, ayah, ibu, dan anak berkomunikasi menggunakan BB, atau BC1. Hal ini berarti bahwa kalangan generasi tua masih menggunakan BB bila berkomunikasi dengan putra-putri mereka di lingkungan keluarga. Demikian pula apabila para generasi tua berkomunikasi antargenerasi tua, BB dan BC1 tetap digunakan. Hal ini menunjukkan bahwa anggota keluarga melestarikan BB dengan cara berkomunikasi menggunakan bahasa tersebut pada ranah keluarga karena mereka menganggap bahwa keluarga sebagai komunitas kecil dan merupakan ranah utama untuk melestarikan BB.

Jika dilihat dari profil penggunaan bahasa dalam ranah rumah keluarga dengan pelibat pertama (P1) + pelibat kedua (P2) + pelibat ketiga (P3) dapat dijelaskan bahwa pada ranah keluarga bila terdapat P1, P2, dan P3, penggunaan BB masih tetap dominan. Bila seorang ayah berkomunikasi dengan istrinya di mana anak, kemenakan, mertua, saudara atau ipar, dan pembantu sebagai P3, mereka menggunakan BB. Hal ini mengisyaratkan bahwa penggunaan BB masih kuat dan dominan pada ranah keluarga. Bahasa campuran (BC1) muncul hanya bila yang dibicarakan menyangkut topik yang tidak ada padanannya dalam BI.

Sebagaimana halnya dengan bahasa-bahasa daerah lainnya, bagi masyarakat Bali, BB merupakan bahasa ibu sekaligus sebagai bahasa pertama mereka. Dalam kehidupan keluarga BB diajarkan sejak dini kepada anak-anak. Dengan kata lain, bahasa ini diajarkan pada masa awal pembelajaran bahasa dan BB diperoleh sebagai bahasa pertama.

Apabila P3 adalah pemondok yang bukan orang Bali dan hanya mengerti BI atau sedikit BB, mereka berkomunikasi dengan BI atau BC2. Dalam ranah keluarga ditemukan penggunaan BB seperti yang sudah dijelaskan di atas, hanya kadang-kadang BC1 dan BC2 digunakan, baik untuk P1 dan P2 maupun P1, P2, dan P3.

(15)

Prosiding

Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

ISBN 978 – 602 – 294 – 215 – 3 459

3.1.2 Ranah Keagamaan/Adat

Penggunaan bahasa pada ranah keagamaan atau adat dengan P1 dan P2, serta P1, P2, dan P3 dapat dijelaskan bahwa penggunaan BB masih sangat mendominasi BI atau BC1. Dalam melaksanakan aktivitas keagamaan (persembahyangan), semua masyarakat Hindu, etnis Bali menggunakan BB secara dominan (baik ragam tinggi maupun ragam rendah) dan sudah sesuai dengan kaidah penggunaan unda usuk BB. Bahasa campuran (BC1) lebih sering digunakan daripada BC2 karena BC2 digunakan hanya sesekali dalam suatu kesempatan.

3.1.3 Ranah Kantor

Ranah kantor pada penelitian ini mengacu pada semua aktivitas masyarakat yang ada di Kelurahan Sumerta dan berhubungan dengan unsur-unsur kantor (kantor Desa atau Lurah dan Camat) dalam rangka pengurusan surat-surat, seperti surat keterangan domisili, kartu keluarga, KTP, dan lain-lain. Sesuai dengan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia, pada ranah kantor, penggunaan BI sangat dominan, kemudian BC2, dan BB hanya sekali-sekali muncul bila ada di antara generasi tua yang tidak mengerti BI, atau antara sesama orang Bali.

3.1.4 Ranah Transaksi

Profil penggunaan bahasa pada ranah transaksi berkaitan erat dengan berbagai aktivitas kehidupan masyarakat, terutama dalan aktivitas jual beli.

Tranasaksi yang mempunyai tempat tetap disebut dengan istilah pasar. Pasar dalam masyarakat terdiri atas pasar tradisional dan moderen. Pasar tradisional adalah pasar yang ada pada masyarakat desa, sedangkan pasar moderen seperti swalayan, toko-toko. Perbedaan bentuk pasar sebagai tempat transaksi ini memberikan ciri penggunaan bahasa yang berbeda.

Pedagang di Kelurahan Sumerta terdiri atas masyarakat yang heterogen sehingga penjual dan pembeli menggunakan BI dalam bertransaksi. Walaupun demikian, penggunaan BB masih tetap memdominasi. Apabila penjual mengerti bahwa pembelinya tidak mengerti BB, mereka akan menggunakan BC2, hal itu

(16)

Prosiding Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

460 ISBN 978 – 602 – 294 – 215 – 3

terjadi sebab menurut mereka akan terasa pasti dalam percakapan untuk bernegosiasi harga bila mereka menggunakan BC2. Di pasar tradisional, BB tetap mendominasi, bahkan sekali-sekali BC1 juga digunakan, dan penggunaan BI muncul salah satunya ketika pembeli dan penjual tidak mengerti BB. Untuk di pasar modern, penggunaan BI yang mendominasi, disusul oleh BC2, dan BB hanya sekali-sekali digunakan pada ranah ini.

3.2 Fungsi Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, dan Bahasa Asing

Dalam Politik Bahasa Nasional telah diatur kedudukan dan fungsi bahasa nasional serta bahasa daerah. Berikut diuraikan fungsi bahasa Indonesia, fungsi bahasa daerah, dan fungsi bahasa asing.

3.2.1 Fungsi Bahasa Indonesia

Di dalam Politik Bahasa Nasional diatur fungsi-fungsi BI sebagai bahasa nasional. Sebagai alat untuk menyatukan berbagai suku bangsa yang memiliki latar belakang sosial budaya dan bahasa daerah yang berbeda ke dalam satu kesatuan kebangsaan, BI yang hidup dan berkembang pada masyarakat di Kelurahan Sumerta, berfungsi untuk menciptakan hubungan yang harmonis dengan suku bangsa lain tanpa meninggalkan identitas kesukuan, serta tetap setia dengan nilai-nilai budaya yang melatarinya.

Sebagai alat perhubungan antarwarga, antardaerah, dan antarsuku bangsa yang hidup dan bermukim di Kelurahan Sumerta BI difungsikan untuk menghindari kesalahpahaman akibat latar belakang sosial budaya dan bahasa.

Sebagai bahasa resmi kenegaraan, masyarakat di Kelurahan Sumerta menggunakan BI baik lisan maupun tulisan, dalam kegiatan kenegaraan yang bersifat resmi, seperti dalam penulisan dokumen-dokumen, pidato-pidato, surat keputusan, dan surat-surat lain yang dikeluarkan oleh instansi pemerintah di daerah Tingkat I Provinsi Bali.

(17)

Prosiding

Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

ISBN 978 – 602 – 294 – 215 – 3 461

Sebagai bahasa negara, BI digunakan sebagai bahasa pengantar di lembaga-lembaga pendidikan mulai dari sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi di seluruh Indonesia termasuk yang ada di Bali

BI juga difungsikan sebagai alat komunikasi perhubungan untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional dan untuk kepentingan pelaksanaan pemerintahan dan masyarakat luas, serta alat perhubungan antardaerah dan antarsuku, tetapi juga sebagai alat perhubungan di dalam masyarakat yang memiliki latar belakang sosial budaya yang sama.

Sebagai bahasa negara, BI difungsikan sebagai sebagai alat satu-satunya yang memiliki peran penting untuk membina dan mengembangkan kebudayaan nasional.

3.2.2 Fungsi Bahasa Daerah

Bahasa daerah, dalam hal ini BB, di Kelurahan Sumerta tampaknya difungsikan sangat dominan sebagai sarana utama untuk berkomunikasi secara verbal antaranggota keluarga. Sama halnya dengan bahasa-bahasa daerah lainnya, BB merupakan bahasa ibu. Dalam kehidupan keluarga, BB diajarkan sejak dini kepadanak-anak pada masa awal pembelajaran bahasa.

3.2.3 Fungsi Bahasa Asing

Bahasa Inggris adalah satu-satunya bahasa asing yang diajarkan secara luas di lembaga-lembaga pendidikan. Seperti diuraikan dalam Politik Bahasa Nasional di atas, bahasa Inggris diajarkan dari sejak sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, sampai tingkat perguruan tinggi.

Pentingnya diajarkan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris bagi masyarakat di Kelurahan Sumerta, erat kaitannya dengan kedudukan dan fungsi bahasa asing seperti diatur dalam Politik Bahasa Nasional.

SIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik simpulan sebagai berikut.

(18)

Prosiding Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

462 ISBN 978 – 602 – 294 – 215 – 3

Profil pemakaian bahasa menunjukkan bahwa masyarakat di Kelurahan Sumerta telah melestarikan kebudayaan Bali, khususnya penggunaan bahasa Bali secara ajek. Pada semua ranah yang diteliti, yaitu ranah keluarga, keagamaan/adat, kantor, transaksi, BB menunjukkan dominasi yang kuat, diikuti oleh BC1 dan BC 2. Fungsi-fungsi bahasa, baik BI, bahasa daerah, maupun bahasa asing difungsikan sebagaimana mestinya, sebagaimana diatur dalam Politik Bahasa Nasional. Di Kelurahan Sumerta, BI difungsikan sebagai wahana komunikasi resmi atau formal. Bahasa daerah, dalam hal ini BB, difungsikan sebagai pengikat persaudaraan, menunjukkan kesantunan sosial, religius, melepas keformalan, dan untuk memperlancar komunikasi. Sementara itu, bahasa asing, khususnya bahasa Inggris tidak difungsikan begitu penting di dalam berkomunikasi di tengah-tengah masyarakat di Keluarahan Sumerta.

DAFTAR PUSTAKA

Althusser, Louis. 2008. Tentang Ideologi : Marxisme Strukturalis, Psikoanalisis, Cultural Studies. Yogyakarta : Jalasutra.

Ardika, I Wayan. 2007. Pusaka Budaya & Pariwisata. Denpasar: Pustaka Larasan.

Atmadja, Nengah Bawa. 2005. Bali pada Era Globalisasi: Pulau Seribu Pura tidak Seindah Penampilannya. Singaraja (naskah tidak terbit).

Bogdan, Robert dan Steven J. Taylor. 1984. Introduction to Qualitative Research Methods the Search for Meaning. New York: John Wuley & Sons.

Fay, Brian. 2002. Filsafat Ilmu Sosial Kontemporer. Yogyakarta: Penerbit Jendela.

Fishman, J.A. 1969. ‘The Sociology of Language’, dalam Giglioli, P.P. 1972:45-48.

Language and Social Context. England: Penguin Books.

Halim, A. 1980. Politik Bahasa Nasional. Jakarta: PN Balai Pustaka.

Keriana, I K. 2004. “Campur Kode dalam Pemakaian Bahasa Bali pada Rapat Adat Desa Pakraman Kedewatan, Ubud, Gianyar.” Tesis Jurusan Bahasa, IKIP Negeri Singaraja.

Koentjaraningrat. 1985. "Persepsi tentang Kebudayaan Nasional". Dalam Persepsi Masyarakat tentang Kebudayaan (Alfian, ed.). Jakarta: PT Gramedia. Halaman 99-141.

(19)

Prosiding

Seminar Nasional Sastra dan Budaya II Denpasar, 26-27 Mei 2017

ISBN 978 – 602 – 294 – 215 – 3 463

Koentjaraningrat. 1989. "Metode Penggunaan Data Pengalaman Individu", dalam Metode-Metode Penelitian Masyarakat (Koentjaraningrat, ed.). Jakarta: Penerbit PT Gramedia. Halaman 158–172.

Koentjaraningrat. 1989. "Metode Wawancara". Dalam Metode-Metode Penelitian Masyarakat (Koentjaraningrat, red.). Jakarta: Penerbit PT Gramedia. Halaman 129-157.

Miles, M.B. dan A.M. Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif Buku Sumber tentang Metode-Metode Baru (Tjetjep Rohindi, penerjemah). Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Steger, Manfred B. Globalisme Bangkitnya Ideologi Pasar. Yogyakarta: Lafadl.

Takwin, Bagus. 2003. Akar-Akar Ideologi. Yogyakarta: Jalasutra.

Thompson, John B. 2007. Analisis Ideologi, Kritik Wacana Ideologi–ideologi Dunia (Haqqul Yaqin, penerjemah). Yogyakarta: IRCiSoD.

BIOGRAFI SINGKAT

1. Ni Luh Sutjiati Beratha lahir di Denpasar 17 September 1959 dan bekerja sebagai dosen di Program Studi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya UNUD sejak bulan Maret 1984. Pernah menjabat sebagai Sekretaris Program Studi Magister Linguistik, Asisten Direktur II dan I Program Pascasarjana UNUD dan sekarang sebagai Dekan Fakultas Ilmu Budaya. Ia telah melakukan berbagai penelitian di bidang bahasa dan budaya serta mempresentasikan banyak makalah di berbagai seminar tingkat nasional dan internasional.

2. Ni Wayan Sukarini lahir di Denpasar 9 Januari 1959 dan bekerja sebagai dosen di Program Studi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya UNUD sejak bulan Maret 1984. Ia telah melakukan beberapa penelitian di bidang bahasa serta mempresentasikan sejumlah makalah di berbagai seminar tingkat nasional dan internasional.

3. I Made Rajeg lahir di Klungkung 19 Oktober 1958 dan bekerja sebagai dosen di Program Studi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya UNUD sejak tahun 1986. Ia telah melakukan beberapa penelitian di bidang bahasa dan budaya serta mempresentasikan sejumlah makalah di berbagai seminar tingkat nasional dan internasional.

(20)

Referensi

Dokumen terkait

4.1087 Ilmy Amiqoh Ilmu Administrasi Publik 4.1088 Dikhla Rif`A Ilmu Administrasi Publik 2.39 4.1089 Elfananda Istiqlalia Ilmu Administrasi Publik 4.1090 Hamida Condrowati Jayadi

3 A person who carries out an activity is taken to have complied with the cultural heritage duty of care in relation to Aboriginal cultural heritage if— a the person is acting— i