• Tidak ada hasil yang ditemukan

prosiding - seminar nasional temu ilmiah iplbi 2015

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "prosiding - seminar nasional temu ilmiah iplbi 2015"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PROSIDING

SEMINAR NASIONAL TEMU ILMIAH IPLBI 2015

Jurusan Arsitektur

Universitas Sam Ratulangi Manado

(3)

PROSIDING

SEMINAR NASIONAL TEMU ILMIAH IPLBI 2015

ISBN

987-XXX-XXXX-XX-X

Editor

Cynthia Wuisang Veronica Kumurur

Desain Sampul dan Tata-Letak Sekretariat IPLBI

Penerbit

Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Jl. Kampus Barat

Manado

Telp : +62-431-852959 Fax : +62-431-823705

Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia | IPLBI Jl. Alfa 91 Bandung

Email : [email protected]

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.

Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan cara apapun

tanpa ijin tertulis dari penerbit.

(4)

DAFTAR ISI

SEMINAR NASIONAL | TEMU ILMIAH IPLBI 2015

Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

‘KRIMINALISASI’ RUANG BINAAN KAWASAN PESISIR |PEMBICARA KUNCI Pemanfaatan Ruang Kawasan Pesisir sebuah “Keniscayaan”? 01-08

Mukti Ali

Produksi Ruang Kalakeran di Permukiman Pesisir Pasca Reklamasi Pantai Manado 09-15 Judy O. Waani

Strategi Pengembangan Kawasan Pesisir melalui De-Kriminalisasi Ruang Publik 16-25 Tarcisius Yoyok W. Subroto

PENGEMBANGAN KEBIJAKAN DAN SISTEM INFRASTRUKTUR WILAYAH

Citra Lokal Pasar Rakyat pada Pasar Simpang Aur Bukittinggi A 001-006 Gina Asharina, Agus S. Ekomadyo

Kajian Angkutan Umum yang Baik terkait Korespondensi Lokasi Tempat Tinggal dan

Profesi Komuter A 007-012

Salwa B. Gustina

Kebutuhan ‘Area Transisi’ bagi Pejalan Kaki di Kawasan Pusat Kota Bandung A 013-018 Witanti N. Utami

Model Pengembangan Tata Ruang Transit Oriented Development (TOD) Kawasan

Pelabuhan Kayu Bangkoa Makassar A 019-026

Andi B. Arief, Ananto Yudono, Arifuddin Akil, and M. Isran Ramli

Pengembangan RTH Kota Berbasis Infrastruktur Hijau dan Tata Ruang A 027-032 Ingerid L. Moniaga, Esli D. Takumansang

Penilaian Jalur Pedestrian oleh Masyarakat Urban dan Kriteria Jalur Pedestrian yang

Ideal Menurut Masyarakat A 033-040

Irfan Diansya

Peranan Green Transportation untuk Mewujudkan Green Urban Area pada Kawasan

Pusat Kota Simpanglima Semarang A 041-046

IM. Tri Hesti Mulyani, B. Pat Ristara Gandhi

Prinsip-prinsip Transit Oriented Development (TOD) Pantai, berbasis Potensi A 047-054

(5)

Pelabuhan Rakyat Kayu Bangkoa, Makassar

Andi B. Arief, M. Isran Ramli, Arifuddin Akil, Ananto Yudono

Revitalisasi Pelabuhan Lama di Tepi Sungai Siak Pekanbaru: Studi Preseden A 055-058 Melania L. Pandiangan

Sistem Pengolahan Sampah pada Permukiman Industri, Studi Kasus: RW 02 dan RW

12 Kelurahan Cigondewah Kaler, Kecamatan Cigondewah, Kota Bandung A 059-064 Dadang Hartabela, Nurhijrah Bakri, Dewi R. Syahriyah, Saraswati Tedja, Saiful Anwar

Studi Data Base Jalandan Jembatan Berbasis SIG di Kabupaten Kepulauan Siau

Tagulandang Biaro A 065-068

Lintong M. Elisabeth, Theo K. Sendow

PERENCANAAN DAN PERANCANGAN WILAYAH, KOTA DAN LANSEKAP

Adaptasi Perilaku Meruang Masyarakat Nelayan Pasca Reklamasi Wilayah Pesisir

Teluk Palu B 001-008

Burhahuddin, Bambang Setioko, Atiek Suprapti

Alternatif Pemilihan Kawasan Pusat Olahraga di Kota Bandung B 009-014 Riana V. Gunawan

Arahan Pemanfaatan Ruang Kawasan Budidaya Perikanan di Kecamatan Pajukukang

Kabupaten Bantaeng B 015-020

Fadhil Surur

Identifikasi Kualitas Penggunaan Ruang Terbuka Publik pada Perumahan di Kota

Bandung B 021-026

Saraswati T. Wardhani, Devi Hanurani, Nurhijrah, Ridwan

Kajian Ruang Kawasan Pesisir Pantai dalam Membentuk Wajah Kota B 027-032 Pingkan P. Egam, Michael M. Rengkung

Kajian Tata Bangunan dan Lingkungan pada Koridor Jalan Perintis Kemerdekaan

Kota Makassar B 033-038

M. Yahya

Keberlanjutan Ruang Binaan Nusantara di Wilayah Pesisir B 039-044 Agung M. Nugroho

Konsep Pengembangan Ruang Terbuka Publik Pantai Bahari, Kabupaten Polewali

Mandar, Provinsi Sulawesi Barat B 045-050

Melia W. Pratiwi, Marly V. Patandianan, Bambang Heryanto

Kota Bandung bagi Penduduknya B 051-054

Nurul S. Karya

Kriteria Fasilitas Olahraga Ideal bagi Masyarakat Perkotaan B 055-062 Medhiansyah P. Prawira

(6)

Kriteria Kota Ideal berdasarkan Persepsi Masyarakat B 063-070 Raisa N. Imanda

Layak Huni dan Layak Wisata Pantai B 071-074

Pratiwi Mushar, Shirly Wunas

Model Teritori Ruang Publik Perkotaan B 075-088

Supriyono, Etty E. Listiati

Pengaruh Atribut Aksesibilitas dan Keakraban Fisik Ruang kepada Ikatan Tempat B 089-094 Bambang Karsono

Perencanaan Greenbelt pada Lansekap Bantaran Sungai Wilayah Perkotaan B 095-100 Cynthia E.V Wuisang, Dwight M. Rondonuwu

Persepsi Masyarakat terhadap Permukiman Bantaran Sungai B 101-106 Binar T. Cesarin, Chorina Ginting

Persepsi Penilaian dan Keinginan Pengunjung terhadap Pasar Dadakan Sunday

Morning (Sunmor) di Kawasan Kampus Universitas Gadjah Mada, D.I Yogyakarta B 107-112 Puja Kurniawan

Perubahan Tata Ruang Pesisir Pasca Reklamasi di Pulau Serangan B 113-118 I Wayan Parwata, I Gede Surya Darmawan, Ni Wayan Nurwarsih

Preferensi Masyarakat Dalam Menikmati Streetscape Perkotaan yang Ideal B 119-124 Anisa P. Anugrah

Proses Perubahan Ruang Akibat Konflik B 125-130

Syahriana Syam, Syahrianti S

Reklamasi Kawasan Pesisir Pantai: antara Pelestarian Lingkungandan Ekonomi

Kawasan B 131-138

Udjianto Pawitro

Ruang Terbuka Hijau Sebagai Katalis Urban dalam Revitalisasi Kawasan Kota Lama

Trunojoyo Malang B 139-144

Medha Baskara

Tingkat Kenyamanan Taman Kota sebagai Ruang Interaksi-Masyarakat Perkotaan B 145-150 Hari H. Siregar, Hanson E. Kusuma

PERUMAHAN DAN PEMUKIMAN

Adaptasi Teritorialitas pada Permukiman Horisontal ke dalam Permukiman

Vertikal C 001-004

Sofian D. Ananto

Analisis Faktor-faktor Penyebab Membeli Apartemen C 005-010

Andrie I. Kartamihardja

(7)

Arsitektur Rumah Berpanggung Terapung yang “Sustainable” di Lahan Berair C 011-016 Syarif Beddu

Belajar dari Kearifan Lokal Masyarakat Perdesaan di Jawa dalam Membangun

Permukiman pada Kawasan Lereng Gunung C 017-022

VG Sri Rejeki, Yovita Indrajati, Krisprantono

Hasil Observasi Karakter Gang di Kawasan Kampung – Kota Bantaran Sungai di

Babakan Ciamis, Bandung C 023-030

Binar T. Cesarin

Identifikasi Kualitas Penggunaan Ruang Terbuka Publik pada Perumahan di Kota

Bandung C 031-036

Saraswati T. Wardhani, Devi Hanurani, Nurhijrah, Ridwan

Kajian Perilaku Pengguna Jalan di Perumahan Skala Menengah ke Bawah pada

Lahan Berkontur C 037-042

Faizah Mastutie, Didik Pridjadi, Surdjadi Supardjo

Konsep Penataan Permukiman Produktif Berbasis Industri Rumput Laut (Desa

Lamalaka, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten) C 043-048

Desi I. Purnamasari, Shirly Wunas, Mimi Arifin

Korespondensi antara Kualitas Hunian Sewa dan Tingkat Kepuasan Mahasiswa C 049-056 Bunga Sakina, Hanson E. Kusuma

Kualitas Ruang Terbuka pada Permukiman Industri di Kelurahan Cigondewah Kaler,

Bandung, Jawa Barat C 057-062

Dewi Rachmaniatus Syahriyah, Nurhijrah, Saraswati Tedja, Dadang Hartabela, Saiful Anwar

Lingkungan Rumah Ideal C 063-068

Aria Adrian

Penambahan Fungsi Ruang Kolong dan Pengaruhnya pada Penggunaan Material C 069-076 Idawarni Asmal

Penataan Permukiman Komunitas Hindu Tolotang sebagai Kawasan Wisata Budaya C 077-082 Dinda Pujiastuti, Wiwik W. Osman, Mimi Arifin

Respon Masyarakat Terhadap Konsep Perumahan Berbasis Agama : Perumahan

Islami C 083-090

Nurul Aini

Rusun Rancacili: Rumah Produksi Kolektif C 091-096

Imaniar S. Asharhani

Teritorialitas Masyarakat Perumahan Menengah ke Bawah C 097-102 Tamiya M. Saada Kasman, Dewi R. Syahriyah, Sofian D. Ananto, M. Adib Widhianto

Tipologi Perumahan Gated Community di Kota Medan C 103-108

Angela C. Tampubolon, Dwira N. Aulia

(8)

SAINS DAN TEKNOLOGI-KONSTRUKSI BANGUNAN

Analisis Perbandingan Nilai Kuat Tekan Beton antara Destructive Test dan Non-

Destructive Test dalam Perawatan Basah dan Kering D 001-006

Nasruddin, Victor Sampebulu, M. Yahya Siradjuddin, Sapto B. Sampurno

Faktor Eksternal Risiko Jatuh Lansia: Studi Empiris D 007-012 Stefani Natalia Sabatini, Hanson E. Kusuma, Lily Tambunan

Kesehatan Pada Toilet Umum Berdasarkan Sentuhan Tangan D 013-016 Muhammad Adib Widhianto

Pengaruh Pencahayaaan pada Bangunan di Malam Hari terhadap Pembentukan

Persepsi Pengguna Jalan di Kawasan Retail Kota Semarang D 017-024 Bayu Widiantoro, Robert R. Widjaja, Adi Nugroho

Penggunaan Material Dominan Kaca terhadap Bangunan D 025-032

Akhlish D. Aziiz

Persepsi Pengguna terhadap Kualitas Pencahayaan di Meja Kerja D 033-038 Rizky A. Achsani

Temperatur dan Kelembaban Relatif Udara Outdoor D 039-044

Nasrullah, Ramli Rahim, Baharuddin, Rosady Mulyadi, Nurul Jamala, Asniawaty Kusno

Optimalisasi Energi Surya pada Arsitektur di Daerah Tropis Lembab D 045-050 Indriani Laloma, Ronald F. Manganguwi, Megani R. N. Pantow, Pingkan Egam

SEJARAH-TEORI DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

Arsitektur Tanpa Arsitek & Arsitek Tanpa Arsitektur : Sebuah Probabilitas Futuristik E 001-008 Octavianus H.A. Rogi

Catatan-catatan pada Masjid Panjunan Cirebon E 009-020

Bambang S. Budi

Daya Tarik dan Karakteristik Taman Idaman pada Rumah E 021-028 Syndi O. Dewi Surya

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebetahan di Kafe: Perbedaan Preferensi Gender

dan Motivasi E 029-034

Nisa Farasa, Hanson E. Kusuma

Filosofi Arsitektur Masjid Sultan Ternate sebagai Prototipe Masjid Nusantara E 035-040 Sherly Asriany, Ridwan

Kafe Ideal E 041-046

Devi J. Tania

Kajian Aspek Atribut Pasar sebagai Upaya Peningkatan Daya Tarik Pasar Tradisional E 047-052

(9)

Made A. Wahyudi Linggasani

Kajian Tekstual Nilai-nilai Keislaman untuk Arsitektur Rumah Tinggal E 053-058 Mursyid Mustafa, Ria Wikantari, Afifah Harisah, Abdul Muftiradja

Karakter Festival pada Rancangan Pasar di Kawasan Bandung Technopolis E 059-066 Annas T. Maulana, Agus S. Ekomadyo

Keberlanjutan Arsitektur Tradisional Makassar sebagai Hunian Ramah Lingkungan di

Perkotaan E 067-074

Imiyanti

Kecenderungan Wujud Arsitektur Tradisional Duri terhadap Arsitektur Tradisional

Bugis dan Toraja di Kabupaten Enrekang E 075-080

Zulkarnain AS

Kerangka Penelitian Place Attachment pada Tempat-tempat Bernilai Budaya E 081-086 Nurhijrah

Kinerja Ruang Publik Kampus Ditinjau dari Faktor Attraction E 087-092 Vika Haristianti, Feni Kurniati, Dewi R. Syahri

Korespondensi antara Kriteria Tempat Kerja Alternatif Impian terhadap Profesi

Pekerja E 093-098

Fauzan A. Agirachman, Hanson E. Kusuma

Kriteria Masjid Ideal E 099-102

Imam Adlin Sinaga

Kriteria Ruang yang Mendukung Motivasi Membaca E 103-110

Angela C. Tampubolon, Hanson E. Kusuma

Makna Ruang Rumah Berlabuh Masyarakat Serui Ansus di Kota Sorong E 111-116 Devy S. Sahambangun, Fella Warouw, Judi O. Waani

Metode Grounded Theory untuk Mengeksplorasi Kriteria Perancangan Hunian Lansia

Etnis Tionghoa di Kota Bandung E 117-128

Andri Dharma, Agus S. Ekomadyo

Model Tipe Bangunan Rumah Tradisional Ponorogo E 129-136

Gatot A. Susilo

Mushola di dalam Rumah E 137-142

Jeumpa Kemalasari

Pengaruh Gaya Arsitektur Kolonial Belanda pada Bangunan Bersejarah di Kawasan

Manado Kota Lama E 143-148

Veronica A. Kumuru

Penilaian Kinerja Ruang Terbuka Sunken Court ITB E 149-156

Devi H. Sugianti, Stefani Sabatini, Prinka Victoria

(10)

Representasi sebagai Bentuk Komunikasi dalam Arsitektur E 157-160 Feni Kurniati

Ruang Favorit dalam Rumah E 161-170

Wienty Triyuly, Hanson E. Kusuma

Ruang Hobi Ideal E 171-176

Dimas Nurhariyadi

Ruang Keluarga yang Ideal E 177-180

Mohhamad Kusyanto, Hanson E. Kusuma

Studi Persepsi Masyarakat tentang Museum Ideal E 181-186

Angela U. Paramitasari

Tipologi Arsitektur Tradisional Minahasa berdasarkan Etnik Tolour dan Tonsea E 187-192 Vicky H. Makarau

Jelajah Simbol Arsitektur Gereja Menuju Keberlanjutan di Manado, Sulawesi Utara E 193-200 Aristotulus E. Tungka

Morfologi Arsitektur Rumah Tradisional Minahasa E 201-208

Pierre Holy Gosal

Pengaruh Perilaku Masyarakat pada Pembentukan Karakter Pasar Tradisional E 209-214 Ratna Amanati, Neni Meilani Damanik, Noni Septiani

(11)

TEMU ILMIAH IPLBI 2015

Pengaruh Atribut Aksesibilitas dan Keakraban Fisik Ruang kepada Ikatan Tempat

Bambang Karsono

KKD Desain Terpadu, Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Malikussaleh.

Abstrak

Hubungan elemen fungsi dan emosi antara manusia dan tempat menciptakan makna yang dikenali sebagai ikatan tempat (place attachment). Ikatan tempat di ruang terbuka publik biasanya diasosiasikan dengan hubungan manusia dengan lingkungan fisik dan persepsi tentang tempat.

Menyikapi isu ini, penelitian dilakukan untuk menguji aksesibilitas dan keakraban (familiarity) fisik sebagai atribut yang mempengaruhi ikatan tempat di promenad tepi sungai Sarawak (P-TSS) - Malaysia, ruang terbuka publik yang populer di masyarakat lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan metoda campuran (mixed method), survey dilakukan pada lokasi terpilih di P-TSS dengan total responden sebanyak 165 orang dan 18 orang pedagang/pemilik kios diwawancarai.

Diamati bahwa atribut fisik memiliki implikasi yang penting kepada ikatan tempat. Temuan mengindikasikan bahwa responden memiliki ikatan yang kuat dengan lingkungan lokal dan mendorong kepada terciptanya identitas tempat.

Kata-kunci : aksesibilitas, ikatan tempat, , keakraban fisik.

Hubungan kuat yang mengikat antara emosi dan fungsi atau hubungan antara manusia dengan tempat tertentu dapat mengembangkan makna tempat, proses ini dikenal sebagai ikatan tempat (place attachment) (Altman & Low, 1992).

Penelitian ini berpendapat bahwa perubahan fisik yang tidak sesuai dapat mengubah arti dari tempat dan kemudian ikatan kepada tempat secara bertahap menurun. Dengan mengguna- kan konsep berbasis tempat dan prinsip-prinsip unsur fisik dan kegiatan, ikatan antara pengguna dan lingkungan mereka dapat menentukan identitas kota dan makna tempat.

Berdasar kepada kerangka tersebut, studi ini fokus pada dimensi ikatan tempat untuk mengidentifikasi aspek-aspek psikologis dan hubungannya dengan komponen fisik. Penelitian ini dilakukan di promenad tepi sungai Sarawak (P-TSS), ruang terbuka publik yang terletak di jalan utama kota Kuching, sebuah kota di negara bagian Sarawak, Malaysia. Dengan mengidentifikasi pengaruh atribut fisik berupa aksesibilitas dan keakraban fisik ruang sebagai

atribut yang mempengaruhi ikatan tempat dan akan membantu untuk memberi kontribusi kepada pemahaman citra tempat yang kemudian membentuk citra kota.

Pengantar

Dalam konteks rancang kota, karakter kota dihubungkan dengan karakteristik dari suatu tempat yang memiliki ciri-ciri khusus, perbedaan, unik, terkenal, dominan, mudah dikenali, memiliki memori dan mudah di kenal pasti oleh manusia (Lynch, 1960). Dalam penyelidikan persepsi, identitas diartikan sebagai pengenalan kepada suatu objek yang memiliki perbedaan dari benda lain, objek tersebut dikenal sebagai unit yang terpisah (Lynch, 1981). Hubungannya dengan ikatan tempat ialah bagaimana indvidu manusia atau masyarakat menggunakan ruang, kemudian memberikannya makna sebagai tempat untuk membedakan tempat tersebut dari tempat yang lain (Relph, 1976).

(12)

Pengaruh Atribut Aksesibilitas dan Keakraban Fisik Ruang kepada Ikatan Tempat Dalam memahami karakter sesuatu tempat,

beberapa penulis mengungkap pentingnya atribut dan karakteristik tempat dalam membentuk sense of place dan ikatan tempat (Stedman, 2003; Williams et.al, 1995; Gieryn, 2000). Pendekatan atribut adalah penelusuran bagaimana suatu keadaan tempat disusun oleh atribut dan karakteristik berbeda sehingga para pengguna merasakan makna tempat tersebut (Gieryn, 2000). Penting untuk memahami karakter tempat melalui kualitas yang dominan dan mencatat bagaimana dan mengapa kualitas itu terjadi. Pendekatan ini menjelaskan bahwa manusia secara emosi hanya melibatkan diri pada beberapa atribut atau ciri-ciri suatu tempat saja, tidak secara menyeluruh.

Dua atribut utama dari elemen fisik yang memberi kontribusi kepada ciri tempat ialah aksesibilitas dan keakraban fisik. Pertama, aksesibilitas dikaitkan dengan kemampuan untuk mencapai dan menemui orang lain, aktivitas, sumber daya, pelayanan, atau tempat yang melingkupi kuantitas dan keragaman unsur-unsur (Lynch, 1981). Konektivitas penting dalam mendukung vitalitas jalan-jalan dan pergerakan pejalan kaki. Konektivitas sangat erat kaitannya dengan permeabilitas tempat yaitu kemampuan untuk lebih mudah bergerak dan memperoleh sesuatu. Kualitas ini akan mendukung ikatan pengguna kepada tempat.

Keakraban fisik merujuk pada fasilitas yang dapat diidentifikasi, diatur dan dilakukan oleh masyarakat di suatu lingkungan. Dengan kata lain keakraban fisik adalah sejauh mana suatu kawasan dapat teratur dan membentuk sense of place. Keakraban fisik mencirikan mudahnya manusia dapat memahami tata letak suatu tempat (Bentley, 1992) yang merujuk pada kejelasan townscape baik dari bentuk fisik maupun fungsi (ragam dan jenis aktivitas). Ini mempengaruhi bagaimana manusia dapat memahami peluang apa yang disediakan oleh tempat tersebut. Tingginya tingkat keakraban fisik akan memudahkan orang untuk membentuk imej yang tepat dan jelas tentang tempat, sementara visibilitas dan kehadiran sesuatu (appereance) membantu pengguna

untuk menyesuaikan diri pada ruang kota (Dolbani, 2000). Karakteristik dan tampilan fisik mempunyai peranan penting dalam mem- pengaruhi makna tempat. Lingkungan fisik akan 'memberikan imej' sehingga topophilia (cinta pada tempat) memiliki keterikatan objek yang nyata (Tuan, 1974).

Studi ini mengamati atribut fisik berupa aksesibilitas dan keakraban fisik ruang yang berhubungan dengan dimensi ikatan tempat.

Tujuan studi ini adalah meneliti tingkat aksesibilitas dan keakraban fisik ruang sebagai atribut kepada ikatan tempat untuk membangun ikatan manusia dengan lingkungan lokal mereka.

Metode Penelitian

Penelitian ini menerapkan teknik metode campuran (mixed method) karena disiplin rancang kota dianggap sebagai aspek multi- dimensi (Dolbani, 2000; Yeung, 1996; Lynch, 1960). Akibatnya, strategi mixed method (kuantitatif dan kualitatif) sesuai digunakan untuk menjelaskan fenomena tempat. Berbagai sumber fakta dan data yang dikumpulkan dari survei lapangan dan wawancara.

Metode ini digunakan berasas kepada asumsi bahwa bias yang terjadi akan seimbang ketika sumber data dan metode ditriangulasi (Creswell, 2008). Metode triangulasi ini cocok untuk menyelidiki setiap layer fenomena, menemukan titik pertemuan dari data untuk meningkatkan cakupan dan jangkauan penelitian (Creswell, 2008). Strategi ini cocok untuk menyelidiki masalah, karena beberapa penyebab dan faktor potensial dari hubungan antara orang dan tempat yang beragam dan saling terkait.

Dengan demikian variabel tak bebas, seperti unsur-unsur fisik, kegiatan dan imej yang digunakan untuk menemukan atribut yang kuat dan karakteristik yang mempengaruhi ikatan pengguna kepada tempat.

Metode Pengumpulan Data

Kuesioner dilakukan kepada 165 responden yang mencakup pengguna bergerak (82) dan pengguna statis (83). Pengguna statis adalah pengguna utama seperti pemilik toko, penjaga

(13)

Bambang Karsono toko, dan pedagang kaki lima sementara

pengguna bergerak adalah pengunjung, siswa dan warga setempat yang datang untuk mengunjungi tempat. Pada saat yang sama wawancara mendalam juga dilakukan di kepada 18 responden.

Observasi dan penilaian karakter kota digunakan sebagai metode pelengkap untuk menghasilkan representasi yang lebih lengkap tentang bagaimana secara ekstensif karakteristik fisik kawasan. Dalam proses ini, peneliti bertindak sebagai pengamat luar (outsider) dengan mendokumentasikan pola aktivitas berdasarkan fotografi dan dokumen tertulis (catatan pribadi dan checklist). Indikator untuk setiap atribut yang dikembangkan untuk evaluasi adalah hasil pemeriksaan silang kepada literatur. Format penilaian pada evaluasi ini dirancang berdasarkan skala 5 poin berasal dari pengukuran kewajaran kualitas.

Metode Analisis Data

Metode triangulasi digunakan dalam analisis data, meliputi within-method triangulation dan between-method triangulation (Creswell, 2008).

metode pertama adalah untuk menganalisis variabel dalam suatu jenis data tertentu sementara cara yang kedua menyatukan validasi penemuan antara variabel dan jenis data yang berbeda.

Data kuantitatif memerlukan agregasi (penyatuan) dan penyusunan dalam rangka untuk membuat makna menjadi jelas; data kualitatif atau tafsiran mempunyai arti yang perlu dipahami (Groat & Wang, 2002). Dalam kasus ini kata kunci (keywords) menjadi indikator dari tema yang dibangun. Analisis deskriptif akan dihasilkan dari SPSS versi 12 dan disediakan dalam bentuk tabel menggunakan Microsoft Word dan Excel. Format matriks digunakan untuk mengamati susunan data yang ditabulasi. Analisis data kuantitatif mengguna- kan cara central tendency (nilai rata-rata) yang merupakan nilai wakil dari suatu taburan data.

Prosedur ini akan memperhatikan semua kumpulan data, tidak boleh terpengaruh oleh

nilai-nilai ekstrem dan harus stabil (Groat &

Wang, 2002). Hasil penelitian disajikan dalam grafik dan tabel.

Manakala data kualitatif akan diberi kode (bertema) dan dipisahkan menurut kelompok (Creswell, 2008; Groat & Wang, 2002) sesuai dengan aspek-aspek yang berkaitan dengan kajian (misalnya unsur fisik, aktivitas dan makna). Teknik crosstabulation akan digunakan untuk mengidentifikasi hubungan antar variabel.

Data dari pengamatan secara langsung dianalisis berpedoman kepada foto dan keterangan visual utama (seperti kata pepatah –

‘sesuatu gambar menceritakan sesuatu cerita’).

Data dari penilaian karakterisik kota meliputi matriks dan nilai yang diberikan untuk meng- ukur arah pencapaian tempat dalam bentuk persentase dan nilai rata-rata output. Melalui proses triangulasi, setiap data akan mendukung jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini.

Analisis dan Diskusi

Aksesibilitas

Hasil survei memberikan gambaran bahwa lingkungan fisik memiliki karakteristik yang mempengaruhi ikatan responden kepada tempat.

Seperti yang terlihat pada tabel 1 (skala 3,33) menunjukkan reaksi positif terhadap tempat dan aksesibilitas. Komentar dari wawancara me- nunjukkan bahwa lokasi promenad adalah dekat dengan jalur aksesibilitas dari berbagai moda pergerakan, dekat dengan pusat transportasi publik dan juga terhubung dengan distrik lain di dalam kota. Letaknya yang strategis sangat kuat diungkapkan oleh pengguna statis, yaitu para pedagang kaki lima dan mereka dominan mengatakan bahwa lokasinya strategis, sesuai dengan kegiatan ekonomi di kawasan ini.

"Banyak orang dan wisatawan datang ke sini, jadi saya memilih untuk meletakkan warung di sini karena lokasi baik" (Responden 1: kios-pemilik)

"Mudah untuk sampai ke sini dan lokasinya baik, selalu ada orang yang lewat, jalur publik. Orang asing (orang barat) selalu ada;. Jika mungkin saya

(14)

Pengaruh Atribut Aksesibilitas dan Keakraban Fisik Ruang kepada Ikatan Tempat tidak ingin pindah ke tempat lain."

(Responden 2: hawker)

"Lokasi yang baik karena ada sungai; banyak orang berlalu-lalang dan duduk di taman dari sore hingga tengah malam." (Responden 3: hawker)

Hasil penilaian karakter perkotaan dijelaskan pada tabel 1 dengan rata-rata 70 % menunjukkan bahwa P-TSS sukses memberikan akses. Jalur pejalan kaki telah dirancang dengan baik, oleh karena itu mudah untuk dijangkau dari segala arah dan blok perkotaan pendek meningkatkan permeabilitas dan menciptakan sumbu yang jelas. Namun, angkutan umum tidak teridentifikasi sehingga sebagian besar pengguna mengandalkan kendaraan pribadi.

Tabel 1. Penilaian Karakter Kota : Akesibilitas

Tabel 2. Hubungan Antara Aksesibilitas dan Ikatan Fungsi

Signifikansi aksesibilitas dapat dijelaskan dari tabulasi silang pada tabel 2. Hal ini menunjukkan bahwa responden yang selalu bersentuhan dengan atribut aksesibilitas, me- rasakan bahwa ruang terbuka adalah tempat penting untuk memenuhi keinginan mereka. Ini menjelaskan bahwa keterikatan fungsi pada promenad tepi sungai adalah tempat terbaik.

Setidaknya 90% dari responden mengidentifikasi P-TSS memiliki posisi strategis dan setuju bahwa ruang terbuka adalah tempat terbaik.

Aksesibilitas dan koneksi yang baik ke sesuatu tempat mempengaruhi pengguna untuk menentukan lamanya keterlibatan mereka di ruang terbuka.

Pengamatan menunjukkan bahwa konektivitas jalan di P-TSS mampu bertahan dan menciptakan tingkat permeabilitas yang baik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa per- meabilitas penting dalam mendukung gerakan di ruang terbuka. Tata letak elemen fisik kawasan ini terintegrasi berdasarkan jalur paralel yang lebih kecil menuju P-TSS. Hal ini juga menciptakan konektivitas pejalan kaki yang baik dengan jarak pendek dan mendorong gerakan terus menerus di ruang terbuka.

Keakraban Fisik

Hasil seperti yang ditunjukkan pada tabel 3, dengan skor 2,75 menggambarkan bahwa responden akrab dengan P-TSS. Meskipun responden sangat mengenali tata letak dan penanda ruang terbuka, namun hasil survei tidak menunjukkan pentingnya karakteristik fisik dalam upaya untuk mempersiapkan unsur-unsur fisik tertentu untuk mendukung legibiltas.

Responden merasa bahwa tempat ini memiliki ruang terbuka hijau yang menarik karena pemandangan dan lansekap, keberadaan landmark yang populer dan tata letak yang sangat jelas.

Tabel 3. Karakteristik Dihubungkan dengan Keakraban Fisik Berdasar Nilai Rata-Rata

Wawancara dengan responden menunjukkan beberapa elemen dapat dihubungkan kepada keakraban fisik. Beberapa diantaranya adalah bangunan sebagai tempat penanda, struktur bersejarah, pedagang kaki lima, nod transportasi, jalur pejalan kaki, restoran dan fasilitas publik. Unsur-unsur ini menyoroti daya tarik ruang terbuka kepada pengunjung yang

(15)

Bambang Karsono akan mendorong mereka untuk melakukan

kunjungan berulang.

Pengamatan pada P-TSS menunjukkan identitas yang kuat pada streetscape, imej dan keterpaduan view. Ini dipengaruhi oleh jalur pejalan kaki di P-TSS yang telah sukses dalam menyediakan promenad dengan karakter te- rtentu terutama karakter street furniture. Juga kehadiran beberapa tempat memberikan kegiat- an seperti fasilitas kuliner berkanopi serta perkampungan yang berada di seberang sungai depan.

Tabel 4. Penilaian Karakter Kota: Keakraban Fisik

Penilaian karakter kota tentang keakraban dijelaskan pada tabel 4. Penilaian dilakukan dengan survei persepsi, P-TSS mudah di- mengerti karena keragaman bangunan, kualitas jalan, penanda yang jelas dan ruang fungsional.

Elemen fisik seperti jalan setapak berkontribusi untuk meningkatkan keakraban dan makna untuk mempromosikan rasa keakraban kepada tempat.

P-TSS dikategorikan sebagai ruang terbuka bersejarah didefinisikan oleh bangunan, ruko dan struktur perkotaan yang memiliki nilai sejarah. Berdasarkan pengamatan, fasad antara yang lama dan baru menciptakan kesinambungan urban fabrics. Mulai dari rumah toko tradisional, hotel, kantor hingga bangunan kontemporer.

Penilaian tentang streetscape ditunjukkan pada tabel 5. Responden menghubungkan penanda dan tempat-tempat populer sebagai nod dengan atraksi menarik (bangunan tua, kios / kedai makanan, dan nod transportasi) dan kegiatan usaha seperti pasar malam dan pedagang

asongan. Penanda tempat (didentifikasi sebagai landmark oleh responden) adalah bangunan yang terkenal dan memiliki nilai warisan. Seperti diklaim oleh responden bahwa:

“Landmark kawasan ini adalah rumah suar dan bangunan ‘steamship’...”

Tabel 5. Penilaian Karakter Kota: Keakraban Fisik

Pengamatan menunjukkan bahwa persimpangan ruang terbuka dengan jalan menjadi nod yang paling mudah diidentifikasi karena tingginya level pergerakan dan pejalan kaki menyeberang, terutama pada jam sibuk. Ruang terbuka kecil di sudut persimpangan menciptakan tempat untuk titik pertemuan dan ruang tunggu. Aliran kontinu di persimpangan akan meningkatkan livability dikawasan.

Kesimpulan

Atribut yang diidentifikasi oleh responden di P- TSS dipengaruhi tidak hanya oleh kualitas elemen fisik dan intensitas kegiatan, tetapi juga dipengaruhi oleh ikatan dan makna dengan ikatan dan pengalaman kepada tempat.

Responden mengakui kedua atribut adalah penting, hal ini dapat menjadi alasan untuk menyimpulkan bahwa P-TSS memiliki ikatan tempat dan menunjukkan ikatan fungsi dan emosi yang kuat.

Hasil dari penilaian karakter kota menunjukkan bahwa P-TSS dianggap sukses. P-TSS juga menerima persepsi positif dari responden.

Karakteristik fisik memiliki pengaruh yang signifikan pada tingkat ikatan. Sebagian besar pengguna, yang mengidentifikasi P-TSS sebagai

(16)

Pengaruh Atribut Aksesibilitas dan Keakraban Fisik Ruang kepada Ikatan Tempat strategis dan sangat mudah, sepakat bahwa

promenad adalah tempat terbaik untuk memenuhi kebutuhan mereka. Aksesibilitas dan keakraban fisik memberi peran penting dalam meningkatkan kemampuan promenad sebagai tempat untuk bekerja dan bersantai.

Karakteristik promenad diidentifikasi sebagai lokasi yang strategis karena memiliki akses yang baik, aksesibilitas yang baik, dekat dengan node transportasi (bus, taksi, dan perahu), hubungan baik, permeabilitas, imej, arah yang jelas, nod yang dikenali dan penanda tempat. Perhatian diungkapann oleh pengguna P-TSS akan kurangnya ruang bagi orang untuk duduk dan bersantai yang akan memberikan rasa nyaman dan terlindung dari cuaca.

Temuan ini mendukung gagasan bahwa lingkungan fisik memberikan kontribusi signifikan terhadap makna tempat (Ramsay, 2000; Stedman, 2003). Penampilan fisik memainkan peran penting dalam mempengaruhi rasa tempat. Lingkungan fisik 'memberikan imej' karena itu topophilia (cinta kepada tempat) memiliki obyek nyata yang mempengaruhi ikatan (Tuan, 1977).

Daftar Pustaka

Altman, I., & Low, S. (Eds.). (1992). Place attachment.

New York: Plenum Press.

Bentley, I. (1992). Responsive environments: A manual for designers. Oxford: Butterworth Architecture.

Creswell, J.W. (2008). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches.

California: Sage Publications, Inc.

Dolbani, M. (2000). Responsive public open spaces in the city centre of Kuala Lumpur. Unpublished PHD Thesis, Oxford Brookes University.

Gieryn, T. F. (2000). A space for place in sociology.

Journal of Annu. Rev. Social, 26, 463-496.

Groat, L. & Wang, D. (2002). Architectural Research Methods. New York: John Wiley & Sons. Inc.

Lynch, K. (1960 ). The image of the city.

Massachusetts: MIT Press.

Lynch, K. (1981). Good city form. Massachusetts: MIT Press.

Ramsay, B. (2000). Urban design for communities of the future. Paper presented at the Seminar on Sarawak Cities of the Future, Sarawak Development Institute.

Relph, E. (1976). Place and placelessness. London:

Pion Publication.

Stedman, C. R. (2003). Is it really just a social construction? : The contribution of the physical environment to sense of place. Journal of Society and Natural Resources, 16, 671-685.

Tuan, Y. F. (1977). Space and place: The perspective of experience. London: Edward Arnold.

Williams, D. R., Anderson, B. S., McDonald, C. D., &

Patterson, M. E. (1995). Measuring place attachment: More preliminary results. Paper presented at the Leisure Research Symposium, NRPA Congress, San Antonio.

Yeung, H. W., & Victor, R. (1996). Urban imagery and the main street of nation: The legibility of Orchard Road in the eyes of Singaporeans. Journal of Urban Studies, 33(3).

Referensi

Dokumen terkait

This study aims to map determinants and analyze behavioral theory's role in the tax compliance of MSMEs in Indonesia to provide future research agendas. This study uses