PROTEKSI ISI LAPORAN PENELITIAN: Dilarang menyalin, menyimpan, memperbanyak sebagian atau seluruh isi laporan ini dalam bentuk apapun kecuali oleh peneliti dan pengelola
administrasi penelitian
LAPORAN PENELITIAN INTERNAL UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
IDENTITAS PENELITIAN
A. JUDUL PENELITIAN
Mediasi Sebagai Pola Alternatif Penyelesaian Sengketa Hukum Bisnis (E-Commerce) Dalam rangka menegakkan Keadilan
Berdasarkan UU no 30 tahun 1999 Di Jawa Tengah
B. BIDANG, TEMA, TOPIK, DAN RUMPUN BIDANG ILMU Bidang Unggulan
Perguruan Tinggi
Tema Topik (jika ada) Rumpun Bidang Ilmu Hukum Penyelesaian
sengketa
Ilmu Hukum
C. KATEGORI, SKEMA, TARGET TKT, DAN LAMA PENELITIAN
Kategori Skema Penelitian (Penelitian Dasar/Terapan/Pengembangan)
Target Akhir TKT
Lama Penelitian
(Tahun)
Penelitian Internal dasar Satu
Semester D. IDENTITAS PENGUSUL
Nama, Peran (Ketua,
Anggota 1, Anggota 2)
Institusi (Fakultas)
Program
Studi Tugas ID Sinta H-
Index Dr.Aryani
Witasari,SHM Hum
Fakultas Hukum
Ilmu
Hukum(S1)
Bertanggung jawab secara keseluruhan Dr.Hj.Siti
Rodhiyah,SH MH
Fakultas Hukum
Ilmu
Hukum(S1)
Membantu pengolahan data
Dr.Arpangi,S HMH
Fakultas Hukum
Ilmu
Hukum(S1)
Membantu mengolah data E. MITRA KERJASAMA PENELITIAN (JIKA ADA)
Pelaksanaan penelitian dapat melibatkan mitra kerjasama, yaitu mitra kerjasama dalam melaksanakan penelitian, mitra sebagai calon pengguna hasil penelitian, atau mitra investor
Mitra Nama Mitra
F. LUARAN DAN TARGET CAPAIAN (Luaran Wajib)
Tahun
Luaran Jenis Luaran
Status target capaian (accepted, published, terdaftar atau granted,
atau status lainnya)
Keterangan (url dan nama jurnal, penerbit, url paten, keterangan sejenis lainnya)
2021 Jurnal terakreditasi accepted Luaran Tambahan
Tahun
Luaran Jenis Luaran
Status target capaian (accepted, published, terdaftar atau granted,
atau status lainnya)
Keterangan (url dan nama jurnal, penerbit, url paten, keterangan sejenis lainnya)
2021 Buku referensi Draft penyusunan G. ANGGARAN
Rencana anggaran biaya penelitian mengacu pada PMK yang berlaku dengan besaran minimum dan maksimum sebagaimana diatur pada buku Panduan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNISSULA.
Total RAB: Rp. 8.000.000,-
LAPORAN PENELITIAN
Pengisian poin A sampai dengan poin G mengikuti template berikut dan tidak dibatasi jumlah kata atau halaman namun disarankan seringkas mungkin. Dilarang menghapus/memodifikasi template ataupun menghapus penjelasan di setiap poin.
A. HASIL PELAKSANAAN PENELITIAN
Tuliskan secara ringkas hasil pelaksanaan penelitian yang telah dicapai sesuai tahun pelaksanaan penelitian. Penyajian meliputi data, hasil analisis, dan capaian luaran (wajib dan atau tambahan). Seluruh hasil atau capaian yang dilaporkan harus berkaitan dengan tahapan pelaksanaan penelitian sebagaimana direncanakan pada proposal. Penyajian data dapat berupa gambar, tabel, grafik, dan sejenisnya, serta analisis didukung dengan sumber pustaka primer yang relevan dan terkini.
1. Upaya pengguna bisnis e-commerce untuk menyelesaikan sengketa bisnis di Jawa Tengah
Pada awal-awal tahun 1990-an e-commerce belum menunjukkan eksistensinya, namun belakangan ini dan di dukung pula dengan adanya pandemic covid di tahun 2019 transaksi e-commerce mengalani perkembangan dan peningkatan yang signifikan. Konsumen banyak mencari produk dan jasa yang dapat dipenuhi melalui e-commerce1.Cukup dengan kesepakatan tentang barang dan harga, maka telah terjadi perjanjian e-commerce ini, tidak diperlukan suatu formalitas tertentu dan tidak terikat pada bentuk perjanjian. Itikad baik menjadi modal utama didalam menjalankan bisnis e-commerce ini, karena lemahnya alat bukti dimana perjanjian yang terjadi tidak dilaksanakan secara tertulis manual.
Indonesia sebagai Negara yang selalu mengikuti perkembangan dunia termasuk di bidang perekonomian menyajikan banyak kesempatan bagi bisnis e-commerce dibandingkan negara Asia lainnya. Saat ini proyeksi memperlihatkan e-commerce di Indonesia akan mencapai nilai US$ 130 miliar pada tahun 2020. Dilansir dari Progresstech.co.id2,
Industri e-commerce saat ini memang digemari oleh masyarakat kita, tidak hanya bagi mereka dari kalangan elit menengah ke atas tetapi juga banyak pula dari kalangan menengah ke bawah, utamanya para kawula muda, tetapi tidak jarang pula para orang tua yang hidup pada masa transisi3
Ada beberapa macam kegiatan E-commerce yang dapat dilakukan oleh para pebisnis, Secara umum setidaknya ada tujuh jenis dasar e-commerce atau bentuk bisnis e-commerce dengan karakteristik berbeda:
Business-to-Business (B2B)
Business-to-Consumer (B2C)
Consumer-to-Consumer (C2C)
Consumer-to-Business (C2B)
Business-to-Administration (B2A)
1 Termasuk kebutuhan sandang, pangan bahkan papan.
2 Penjualan ritel online di Amerika meningkat 15% sejak tahun 2013, dan diharapkan bisa mencapai USD 370 milyar pada akhir 2017. Bahkan beberapa e-commerce di Amerika sukses di pasar retail Indonesia dengan strategi pemasaran mereka.
3 di sebut masa transisi yaitu mereka yang hidup dijsman konvensional dan digital
Consumer-to-Administration (C2A)
Online-to-Offline (O2O)
E-commerce yang umum di Indonesia adalah4 : 1. E-commerce B2B (Business to Business) 2. E-commerce B2C (Business to Consumer) 3. E-commerce C2C (Consumer to Consumer) Ad.1. E-commerce B2B (Business to Business)
E-commerce B2B merupakan jenis E-commerce yang memfasilitasi perusahaan e-commerce itu sendiri untuk berhubungan dengan perusahaan lainnya atau mempertemukan antar perusahaan pelaku bisnis.
Model B2B fokus pada penyediaan produk dari satu bisnis ke bisnis lainnya. Meskipun banyak bisnis ecommerce di area ini adalah penyedia jasa/layanan, Anda juga akan menemukan perusahaan software, perusahaan supplier dan pemasok perabot kantor, perusahaan hosting, dan berbagai model bisnis e-commerce lainnya dari sektor ini.5 i Di Indonesia, model bisnis ecommerce B2B belum tergarap maksimal oleh para pelaku bisnis.
Salah satu startup tanah air yang sukses membidik peluang pasar ini adalah MBiz, anak usaha Grup Lippo.
Seperti MBiz yang didirikan pada Juli 2015, perusahaan ini ber- fokus pada e- procurement khusus B2B dan B2C. Perusahaan ini menyediakan solusi pengadaan barang dan jasa yang terintegrasi berbasis web bagi kalangan perusahaan dan institusi pemerintahan mulai dari produk teknologi, peralatan kantor, perlengkapan industri, hingga barang-barang ritel kata 6
Contohnya adalah indotrading, indonetwork, BZ Bizzy, Ralali.com, Kawan Lama, Elektronic city.
Ad.2 E-commerce B2C (Business to Consumer)
E-commerce B2C merupkan jenis E-commerce yang memfasilitasi perusahaan e- commerce itu sendiri untuk berhubungan langsung dengan konsumennya, yang termasuk B2C adalah:
a. Mainstream Platform
Adalah perusahaan e-commerce yang menjual langsung kepada konsumennya berbagai macam kategori produk atau jasa.
Contohnya adalah Lazada, Blibli, Elevenia, Mall, shopdeca, dinomarket dan sebagainya.
4 https://trendingbisnis.com/index.php/e-commerce-sharing/25-mengenal-e-commerce-dan-jenisnya-di- indonesia
5 https://www.softwareseni.co.id/5-model-bisnis-ecommerce-b2b-b2c-c2c-c2b-b2g/diakses pada 18 Maret 2020
6 Ryn Hermawan, COO dan Co Founder MBiz.co.id.
b. Etalier
Adalah perusahaan e-commerce yang menjual langsung kepada konsumennya produk atau jasa, dimana sebelumnya perusahaan tersebut telah hadir secara fisik di dunia offline sebagai perusahaan retail.
Contohnya adalah Indomart, Transmart Carefour, Electronic City dan sebagainya.
c. Daily Deals
Adalah perusahaan e-commerce yang menjual langsung kepada konsumennya produk atau jasa dalam bentuk tawaran kupon atau voucher.
Contohnya adalah Groupon, Lakupon, Evoucher dan sebagainya.
d. Verticals
Adalah perusahaan e-commerce yang menjual langsung kepada konsumennya produk atau jasa yang memiliki kategori khusus.
Contohnya adalah Zalora untuk kategori fashion, Bhinneka untuk kategori elektronik, Traveloka untuk kategori kebutuhan travelling.
Ad.3. E-commerce C2C (Consumer to Consumer)
E-commerce C2C merupkan jenis E-commerce yang memfasilitasi antara konumen dari perusahaan e-commerce tersebut, yaitu konsemen sebagai penjual dan konsumen sebagai pembeli.
E-commerce C2C ini juga memiliki berbagaimacam bentuk, yaitu : a. Marketplace
Adalah perusahaan e-commerce yang memfasilitasi antara konsumen penjual dengan konsumen pembeli, dimana perusahaan e-commerce tersebut terlibat dalam mengamankan transaksi, mulai dari pemesanan, pengiriman hingga pembayaran.
Contohnya adalah Bukalapak, Tokopedia, Shopee dan sebagainya.
b. Classified
Adalah perusahaan e-commerce yang hanya memfasilitasi pertemuan antara konsumen penjual dengan konsumen pembeli, dimana perusahaan e-commerce tersebut tidak terlibat dalam kegiatan transaksi.
Contohnya adalah Rumah123, Carmudi, Kaskus dan sebagainya.
Ada satu lagi yang biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia yaitu Payments, Logistics, Marketing dan Pendukug E- commerce lainnya. Payments adalah bentuk jasa keuangan atau pembayaran melalui online, contohnya adalah Go-Pay, Paytren, KlikBCA dan sebagainya.
Logistics merupakan bentuk jasa pengiriman barang melalui online dan offline (untuk kategori offline bukan termasuk e-commerce tetapi berkaitan erat dengan mata rantai e- commerce).
Contohnya adalah Go-Send, JNE dan sebagainya.
Marketing Merupakan unsur lain yang berkaitan dengan e-commerce dalam hal pemasaran online.
Contohnya adalah untuk media placement (trendingbisnis, detik, okezone), afiliasi marketing (Taobao, googleadsense, acommerce) dan sebagainya.
Pendukung E-commerce lainnya, yaitu hal-hal yang dapat dilakukan untuk mendukung kegiatan E-Commerce, seperti E-Commerce enable, market research, consulting dan lain – lain.
Sementara memvalidasi platform apa yang paling populer di kalangan responden umum. Disini penulis mensurvey 100 responden yang tersebar di kota Semarang, Kendal dan Demak, hanya dapat meresap 75 jawaban responden.Responden terdiri dari usia produktif ( 15-25 tahun sekitar 58%) dan ada pula yang di atas usia 50 tahun( sekitar 18,7%). Temuan survei menunjukkan 85,3% dari total responden menyatakan bahwa mereka mengenal E- Commerce dari Sosial Media dan hanya 12% mereka mengenal dari teman, sisanya diperoleh dan anak dan pembelajaran.E-commerce sebagai salah satu sarana untuk melakukan hubungan hokum dengan orang lain, di masa Covid seperti ini semakin di gandrungi oleh mereka yang sering menggunakan media social, entah itu WA maupun media social lainnya seperti instagram maupun Face book.
Tidak mencapai 50 % masih ada kelompok orang yang tidak atau belum mengenal platform e-commerce, tetapi untuk kebutuhan pribadi, bukan untuk kebutuhan bisnis7
Dari beberapa jenis bisnis e-commerce tersebut memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan, bagi para pebisnis yang berencana membangun e-commerce.Salah satu kelebihan dari e-commerce adalah terjangkaunya pasar global tanpa tanpa harus menyiratkan investasi keuangan yang besar8.Disamping kelebihan tersebut ada beberapa kelebihan e- commerce secara umum antara lain:
1. Produk dan layanan bervariasi
Batas dari tipe perdagangan ini tidak didefinisikan secara geografis sehingga memungkinkan Anda untuk membuat pilihan secara luas, memperoleh informasi yang dibutuhkan dan membandingkan penawaran dari semua pemasok atau pihak penyedia barang/jasa terlepas dari lokasi mereka.
2. Mempersingkat rantai distribusi
Dimungkinkan jalannya interaksi dengan konsumen akhir, e-commerce dapat memperpendek rantai distribusi produk atau bahkan justru menghilangkannya. Dengan cara ini, saluran langsung antara produsen atau penyedia layanan dan pengguna akhir memungkinkan mereka untuk menawarkan produk atau jasa yang sesuai dengan target pasar.
3. Pembayaran lebih mudah
Kemudahan pada sistem pembayaran, dengan berkembangnya sistem pembayaran yang ada saat ini sangat memudahkan transaksi e-commerce.
Itulah beberapa kelebihan dari bisnis e-commerce, adapun beberapa kelemahan yang dapat memicu terjadinya perselisihan adalah jika apa yang dtawarkan kepada konsumen
7 Terjemah, A Study of B2B Commerce Servise Indonesia, 2018, hal 1
8 https://emerhub.com/id/bisnis/apa-saja-kelebihan-kekurangan-e-commerce/diunduh pada 2 Juli 2020
pihak produsen tidak dapat memenuhi sesuai janjinya, atau dapat pula terjadi jika terjadi keterlambatan pengiriman, bahkan kemungkinan barang tidak dikirim kepada pemesan.
Kemungkinan terjadi penipuan dimana seseorang kehilangan dari segi finansial karena kecurangan pihak lain. Atau terjadinya pencurian data dan informasi rahasia dan berharga yang dapat mengakibatkan kerugian besar kepada korban. Potensi kerugian lain adalah terjadinya kehilangan kesempatan bisnis atau kerugian pelanggan yang diakibatkan oleh gangguan sistem, misalnya human error dan gangguan listrik tiba-tiba, dapat pula terjadinya akses yang dilakukan orang lain tanpa autorisasi, misalnya hacker yang membobol sistem perbankan.Kampanye negatif via internet yang dilakukan kompetitor yang dapat berakibat buruk bagi sebuah bisnis.
Kegiatan bisnis E- Commerce9 yang sedang marak di awal abad 21 ini adalah merupakan bisnis yang menjanjikan. Sebagai sebuah bisnis trend ini dan dengan didukung oleh era pandemic covid ini apalagi bisnis ini dapat dengan mudah dilakukan oleh masyarakat Indonesia khususnya bagi kawula muda dan oleh usia produktif tentulah tidak semua dapat berjalan dengan lancer atau mulus.
Perjalanan bisnis tidak mulus ini dapat terjadi jika salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya atau salah satu pihak memenuhi kewajibannya tetapi obyek yang dimaksud tidak sesuai dengan perjanjian, sehingga ada pihak yang merasa dirugikan.
Berdasarkan penelusuran penulis yang mengadakan penelitian di tiga kota rata-rata jika terjadi sesuatu yang merugikan pihak konsumen di dalam kegiatan E-commerce , maka mereka akan pasif dan membiarkan saja dengan tidak berbuat sesuatu tehadap penjual, dan sebagian lagi mereka memberi chat atau komentar terkait barang yang mereka terima.
Musyawarah mufakat sebagai pilihan terbanyak jika ada sesuatu yang menyebabkan ruginya konsumen, ada sekitar 88 % menjawab dengan kekeluargaan(musyawarah). Hal ini menunjukkan jika masyarakat Jawa Tengah khususnya masyarakat yang tinggal di Srmarang, Kendal dan Demak adalah masyarakat yang sudah tertanam jiwa Pancasila, utamanya sila ke 4 dan 5, meskipun tidak mendapat penggantian barang sesuai yang mereka inginkan yang artinya tidak ada keadilan bagi mereka, tetapi mereka condong menginginkan hidup damai dan tidak ingin berkelanjutan memiliki masalah dengan orang lain, karena berbagai alasan mengapa jalur musyarawah mereka kedepankan antara lain seperti barang yang menjadi obyek permasalahan tidak sebanding jika harus melakukan sesuatu upaya tertentu apalagi kalau sampai ke ranah hokum, media social sebagai sarana yang efektik untuk dapat menyampaikan uneg-uneg lebih diminati mereka.
Secara normative jika seseorang akan mengadakan hubungan bisnis dengan orang lain berdasarkan KUHPerdata Pasal 1313 dapat di buat suatu perjanjian , perjanjian yang dibuat dapat tertulis dan dapat dilakukan secara lisan, yang penting perjanjian itu harus memenuhi unrus-unsur pasal 1320 KUHPerdata tentang Syarat sahnya perjanjian yaitu:
1. Cakap 2. Sepakat
3. Suatu Hal tetentu 4. Sebab yang halal
9 E-commerce yang sering dilakukan adalah pembelanjaan barang-barang rumah tangga, kebutuhan terbesar kedua adalah belanja harian dan selebihnya untuk belanja fashion, sepatu, asesoris dan lain lain.
Ke empat syarat tersebut harus terpenuhi, jika no 1 dan 2 tidak dapat terpenuhi maka perjanjian dapat di batalkan, tetapi jika syarat no 3 dan 4 tidak terpenuhi maka perjanjian batal demi hokum.
Bagaimana dengan bisnis secara daring ini? Seyogyanya sebelum melakukan kegiatan bisnis secara daring tersebut, tentulah di adakan kerjasama antara para pelaku bisnis, meskipun bisnis yang dialankan secara daring kontrak kesepakatan bisnis juga harus di buat, hal tersebut dilakukan sebagai salah satu bentuk bukti telah terjadinya kesepakatan.
Menurut Edmon Makarim kontrak on line artinya sama dengan kontrak elektronik yaitu ikatan atau hubungan hukum yang dilakukan secara elektronik yang menggabungkan jaringan dari sistem informasi berbasis komputer dengan sistem. Di Indonesia, sudah banyak pengusaha yang menggunakan kontrak online dalam bisnisnya.
Dari berbagai jenis kontrak dari yang sudah disebutkan diatas, pada penelitian ini akan di fokuskan pada bisnis dengan jenis B2C dan C2C karena kegiatan bisnis on line dengan jenis B2B di Indonesia belum tergarap dengan baik.
Pembuatan kontrak harus melalui persetujuan antara kedua belah pihak. Di mana, kedua belah pihak yang membuat perjanjian di harapkan menyetujui mengenai hal-hal pokok yang tertera di dalam kontrak perjanjian tersebut. Kesepakatan yang dimaksud di sini adalah kesepakatan yang menjadi kehendak antara kedua belah pihak yang bebas dari kekhilafan (dwaling, mistake), paksaan (dwang, dures), dan penipuan (bedrog, fraud). Jika hal tersebut terjadi, menurut pasal 1321 KUH Perdata, perjanjian menjadi tidak sah10.
Berbagai kontrak yang di buat oleh para pihak atau pelaku bisnis untuk menjalin kerjasama bisnis dengan pihak lain haruslah di hormati dengan wujud dijalankanya kontrak bisnis tersebut. Tetapi karena tidak semua pelaku bisnis itu adalah orang yang bertanggung jawab atau bisa jadi ada pelaku usaha yang karena di perjalanan bisnisnya menemui kendala atau kesulitan untuk dapat memenuhi apa yang sudah menjadi kesepakatanya, maka hal-hal demikian ini dapat memicu munculnya perselisihan atau persengketaan dengan kawan bisnisnya.
Undang-undang no 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Perselisihan atau persengketaan dpenyelesaian sengketa adalah sebuah Undang-undang yang di buat oleh Pemerintah yang di sahkan dan di undangkan serta mulai berlaku pada tahun 1999, tujuan di bentuknya Undang – Undang No.30 tahun 1999 ini adalah sebagai payung hokum bagi mereka yang memiliki persengketaan dengan pelaku bisnis yang lain.
Adapun upaya yang dapat ditempuh oleh pelaku usaha di dalam menghadapi perselisdihan dengan pihak lain bisa di lakukan dengan jalur litigasi maupun dengan jalur non litigasi. Hal inipun dilihat dari isi kontrak perjanjiannya. Persengketaan tersebut tidak harus diselesaikan dengan litigasi ke Pengadilan tetapi dapat di lakukan dengan menyelesaikannya di luar Pengadian11
Di dalam dunia bisnis penyelesaian sengketa melalui pengadilan tidak atau kurang disukai oleh banyak pihak dan kalaupun akhirnya penyelesaian dilakukan melalui lembaga peradilan, hal ini semata-mata hanya sebagai jalan terakhir (ultimatum remedium) setelah upaya lain tidak membuahkan hasil.12 Melihat kondisi yang ada, maka perlu ditemukan suatu
10 https://libera.id/blogs/kontrak-online-apakah-sah-menurut-hukum-di-indonesia/ diunduh pada jumat 20 Maret 2020
11 Pergeseran ini sebagai wujud salah satu pergeseran system hokum yang di anut oleh Negara kita yang tidk lagi secara absolut menganut system hokum civil law.
12 Dwi Aprilia, pada blog Kangbudi weblog, Penyelesaian sengketa dalam transaksi e-commerce, , Juli,2018
sistem yang tepat, efektif dan efesien.Sistem tersebut harus mempunyai kemampuan penyelesaian sengketa dengan sederhana, cepat dan biaya yang ringan. Guna menjawab hal ini, maka dunia bisnis modern berpaling pada Alternative Dispute Resulution (ADR) sebagai penyelesaian sengketa alternatif karena kebutuhan akan penyelesaian sengketa dengan cepat dan biaya yang murah sebagaimana yang telah di atur di dalam Undang-undang No.30 tahun 1999 tersebut.Undang-undang ini terdiri dari XI BAB dan 82 pasal,di umumkan pada Lembara Negara RI tahun 1999 no.138.
Penyelesaian sengketa bisnis yang mungkin terjadi dapat di selesaikan dengan negosiasi, mediasi maupun melalui lembaga arbitrase. Pada penelitian kali ini focus penyelesaian sengketa bisnis di lakukan dengan jalur mediasi. Mediasi merupakan penyelesaian sengketa dengan melibatkan pihak ketiga.13
Mediasi biasanya mereka tempuh setelah proses negosiasi atau musyawarah mufakat yang mereka lakukan sendiri tidak menemui titik temu. Penyelesaian sengketa secara damai (mediasi) ini apabila dilihat dari sifatnya, maka penyelesaian ini merupakan hal yang ideal mengingat keadilan muncul dari para pihak.
2. Mediasi sebagai pola alternative penyelesaian Sengketa Bisnis(E-Commerce) Berdasar Undang-undang No 30 Tahun 1999 digunakan sebagai alternatife penyelesaian sengketa di Jawa Tengah
Penyelesaian sengketa menggunakan poola mediasi sering di pergunakan oleh para pelaku usaha setelah upaya negosiasi atau musyawarah mufakat tidak menemui jalan keluar atau tidak tercapai kata sepakat.
Mediasi berasal dari bahasa Inggris yaitu “mediation” atau penengahan, yaitu penyelesaian sengketa yang melibatkan pihak ketiga sebagai penengah atau penyelesaian sengketa secara menengahi14
Menurut Christopher W.Moore dalam buku Bambang Sutioso mengemukakan bahwa mediasi adalah intervensi dalam sebuah sengketa oleh pihak ketiga yang bisa diterima pihak yang bersengketa, bukan merupakan bagian dari kedua belah pihak dan bersifat netral.Pihak ketiga ini tidak mempunyai wewenang untuk mengambil keputusan. Dia bertugas untuk membantu pihak-pihak yang bertikai agar secara sukarela mau mencapai kata sepakat yang diterima oleh masing-masing pihak dalam sebuah persengketaan15.
Berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2003 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan pada Pasal 1 Butir 6 bahwa Mediasi adalah penyelesaian sengketa melalui proses perundingan para pihak dengan dibantu oleh mediator, lalu pada Pasal 1 butir 5 menyatakan bahwa mediator adalah pihak yang bersifat netral dan tidak memihak, yang berfungsi membantu para pihak dalam mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa.Mediasi menjadi salah satu bentuk penyelesaian yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa dalam sengketa e-commerce. Melalui mediasi pihak ketiga yang netral akan duduk bersama-sama dengan para pihak yang bersengketa dan secara aktif akan membantu para pihak dalam upaya menemukan kesepakatan yang adil dan memuaskan bagi keduanya.
13 Prosedur Mediasi ada dua, mediasi untuk perkara di Pengadilan dan Mediasi di luar Pengadilan.
14 Bambang Sutioso, Hukum Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa, Gama Media, Yogyakarta, 2008, hlm 56
15 ibid
Pada proses mediasi, seorang mediator hanya berperan sebagai fasilitator saja.
Mediator tidak mempunyai kewenangan untuk membuat suatu keputusan yang mengikat para pihak. Seorang mediator akan membantu para pihak yang bersengketa untuk mengidentifikasi persoalan-persoalan yang menjadi pokok sengketa, memfasilitasi komunikasi di antara kedua belah pihak.16
Dari berbagai pendapat tentang mediasi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa mediasi merupakan suatu proses yang dipilih oleh para pihak untuk menyelesaikan sengketa dengan meminta bantuan pihak ketiga yang bertindak selaku mediator.
Undang-undang No 30 tahun 1999 tentang Arbitase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa tidak mengatur secara spesifik prosedur jalannya mediasi, tetapi undang-undang tersebut mengatur secara khusus untuk prosedur mediasi melalui lembaga Arbitrase.
Sehingga pelaksanaan untuk mediasi yang dapat dilakukan oleh para pihak sesuai kesepakatan mereka dapat dilaksanakan dengan mediasi yang di gelar dengan meminta bantuan pihak ketiga sebagai mediator maupun dengan proses yang sedikit formal melalui lembaga arbitrase.
Adapun proses penyelesaian sengketa e-commerce dengan mediasi sebagaimana tertuang dalam Pasal 6 Undang-undang No.30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa adalah sebagai berikut:
1. Penyelesaian sengketa melalui ADR di selesaiakan oleh para pihak dalam waktu 14 hari dan hasilnya dituangkan dalam suatu kesepakatan tertulis.
2. Jika hal tersebut diatas tidak dapat diselesaikan, maka atas kesepakatan para pihak dapat meminta bantuan seseorang atau lebih penasehat ahli maupun melalui seorang mediator.
3. Dalam jangka waktu 14 hari jika yang tersebut no 2 (dengan bantuan mediator) tidak berhasil mencapai kesepakatan, maka para pihak dapat menghubungi sebuah lembaga arbitrase atau lembaga alternative penyelesaian sengketa untuk menunjuk seorang mediator.
4. Setelah penunjukan mediator oleh lembaga arbitrase dalam jangka waktu 7 hari usaha mediasi harus sudah dapat dimulai, dan dalam jangka waktu 30 hari harus tercapai kesepakatan dalam bentuk tertulis yang ditandatangani semua pihak terkait.
5. Jika tidak tercapai kesepakatan, maka para pihak berdasarkan kesepakatan dapat mengajukan ke lembaga arbitrase atau arbitrase ad hoc.
Penyelesaian sengketa dengan lembaga arbitrase sebagaimana yang ditulis oleh Andi Julia17 dapat di lakukan secara daring atau online, dari pendaftaran perkara, pemilihan arbiter, penyerahan dokumen, permusyawarahan hingga pembuatan putusan dan pemberitahuan kepada para pihak, apalagi untuk menyelesaikan bisnis e-commerce, sehingga wacana penyelesaian secara on line juga harus dikedepankan.
Adapun prosedur penyelenggaraan arbitrase secara online adalah sebagai berikut:
16 Huala Adolf, Hukum Ekonomi Internasional, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003). hlm. 259.
17 Cakrawala Julia Andi, Penerapan Konsep Hukum Arbitrase On Line di Indonesia, Rangkang Education, Yogyakarta, 2015, hal 228
1. Peraturan yang diperlukan mengenai permohonan untuk berarbitrase dan pelaksanaannya (hal ini dapat meliputi peraturan yang diterapkan oleh badan arbitrase mengenai informasi yang disediakan oleh salah satu pihak menyangkut adanya sengketa, pada sengketa konsumen hal ini berarti penyediaan formulir complain secara online, dan pada sengketa business to business tersedianya formulir online berisi permintaan untuk melakukan arbitrase termasuk peraturan penyediaan perjanjian arbitrase).
2. Menyediakan cara untuk memilih arbitrator, menerima tempat kedudukan atau menolaknya.
3. Menyediakan tata cara berarbitrase seperti penyediaan peraturan procedural seperti tata cara mengajukan perkara secara online, menyampaikan tanggapan, mengajukan bukti-bukti dan argumentasi dan kemungkinan-kemungkinan adanya penundaan.
4. Penyediaan tata cara penggunaan pesan-pesan secara elektronik, seperti penyelenggaraan prosedur yang hanya menggunakan dokumen elektronik, pengguna video conferencing dan audio conferencing termasuk dalam hal ini adalah penyadiaan alat-alat bukti berupa keterangan saksi dan saksi ahli.
5. Penyediaan pembuatan putusan secara online dan persyaratan yang diperlukan agar suatu putusan dapat diterima dan dijalankan.
6. Penyediaan prosedur yang mungkin untuk mengadakan perlawanan atau banding terhadap putusan.
7. Penyediaan sarana untuk penyimpanan data terutama dalam perlawanan menyangkut hak dari salah satu pihak untuk melakukan perlawanan karena adanya dugaan bahwa hak-hak dari salah satu pihak telah dilanggar.
8. Penyediaan prosedur yang dapat memungkinkan proses berjalan secara rahasia dengan menyediaan teknologi enkripsi dan tanda tangan elektonik.
Pengakuan hokum Indonesia atas putusan yang dikeluarkan oleh penyelesaian Sengketa secara online ini belum diakui secara tegas karena belum diatur di dalam Undang-undang no 30 tahun 1999, sehingga undang-undang tersebut perlu dilakukan amandemen.
Antara Mediasi yang dilakukan atau di gelar sendiri oleh para pihak dengan mediasi secara formal melalui lembaga arbitrase masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.
Ada empat kelemahan arbitrase18. Pertama, arbitrase hanya untuk para pihak yang bonafide.
Artinya, arbitrase hanya cocok untuk pengusaha atau para pihak yang jujur dan dapat dipercaya. Jika salah satu pihak selalu mencari celah untuk memperkarakan kembali putusan arbitrase, proses melalui arbitrase justru lebih banyak memakan waktu, biaya, dan tenaga.
Kedua, ketergantungan mutlak pada arbiter. Putusan arbitrase sangat tergantung pada kemampuan teknis arbiter untuk memberikan putusan yang memuaskan kedua belah pihak.
Asumsi umum arbiter adalah orang yang ahli. Tetapi keahlian saja bukan jaminan bahwa mereka akan memberikan putusan yang memuaskan dua pihak sekaligus.
18 Gatot Soemartono, Arbitrase dan Mediasi di Indonesia , 2006, pada https://www.hukumonline.com/berita/baca/hol20225/untung-rugi-menggunakan-jalur-alternatif/ diunduh 23 Maret 2020.
Ketiga, tidak ada legal presedence putusan terdahulu. Dalam memutus suatu perkara, arbiter tidak terikat pada putusan arbitrase sebelumnya. Artinya, putusan-putusan arbitrase atas suatu sengketa terbuang tanpa manfaat meskipun di dalamnya terkandung argumentasi berbobot dari para arbiter. Akibatnya, sangat mungkin terjadi putusan arbitrase yang saling berlawanan.
Keempat, masalah hambatan pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase asing. Dalam praktik, acapkali timbul masalah sehubungan dengan pengakuan dan pelaksanaan arbitrase asing di Indonesia; atau sebaliknya putusan arbitrase Indonesia di luar negeri. Eksekusi putusan arbitrase sangat menentukan kepercayaan para pihak terhadapat lembaga itu sendiri.
Kalau sulit dieksekusi, tentu mereka akan lebih memilih pengadilan yang punya aparat eksekusi.
Penyelesaian sengketa dengan mediasi dilakukan lebih simple disbanding penyelesaian sengketa melalui lembaga Arbitrase yang sifatnya agak formal.
Perbandingan penyelesaian sengketa dengan mediasi dan dengan arbitrase dapat terlihat pada table di bawah ini:
SEGI PROSES MEDIASI ARBITRASE
Yang Mengatur Proses Mediator Arbitrator
Prosedur Informal Agar Formal(sesuai
dengan UU no 30 tahun 1999)
Jangka Waktu Cepat (3-6 minggu), bisa juga lebih lama, pada prinsipnya tidak ada aturan untuk batas waktu
Maksimal 180 hari(dapat diperpanjang 30 hr)
Biaya Lebih ringan Ada beaya pendaftaran
dan biaya
penyelenggaraan(karena lebih formal sifatnya) Aturan Pembuktian Tidak perlu Terkadang diperlukan
(sedikit informal)
Publikasi Tertutup/pribadi Rahasia (kecuali para pihak menghendaki untuk di publish)
Hubungan para pihak Kooperatif untuk menyelesaikan sengketa
Bermusuhan Focus penyelesaian Menuju ke depan Masalah masa lalu Cara Negosiasi Kompromi(belum diatur
dalam UU)
Sesuai prinsip
hokum(sesuai UU no 30 tahun 1999)
Komunikasi Memperbaiki yang sudah lalu
Menghadapi jalan buntu Sanksi proses Tidak ada sanksi jika
mediator tidak dapat
Ada sanksi bagi Arbiter Pasal 20 UU no 30/1999
mengambil keputusan
Suasana proses Bebas emosi Emosional
Pemenuhan Dilakukan dengan
sukarela dan senang hati
Selalu ditolak Putusan Sama-sama menang dan
atau Masih ada upaya hokum lain
Final dan
mengikat(binding)
Berdasarkan data di Pusat Mediasi Nasional, tidak semua Mediator yang bersertifikat itu bersedia untuk menjadi Mediator sengketa bisnis (Commercial)19 dan sebagian besar mediator berdomosili di Jakarta padahal jangkauan untuk bisnis E-commerce ini adalah seluruh Indonesia.
Khusus penerapan pola mediasi di kota Semarang, Kendal dan Demak berdasarkan pengamatan penulis belum begitu signifikan di tempuh, meskipun demikian di kota Semarang sering di adakan pelatihan-pelatihan untuk dapat menjadi seorang mediator salah satunya adalah pelatihan mediasi yang diselenggarakan oleh pihak swasta maupun oleh pihak perguruan tinggi.
Seperti yang sudah peneliti singgung di atas, bahwa mediasi ini ada dua hal yaitu mediasi di ranah litigasi dan mediasi untuk perkara-perkara bisnis di luar pengadilan.
Terbitnya Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan, maka semua perkara wajib diupayakan perdamaian melalui mediasi, hal ini dapat dilihat pula pada UU Kesehatan, UU Pengadilan Hubungan Industrial, Peraturan Bank Indonesia, Peraturan Pertanahan Nasional, dan lain-lain.
Dari Perma tersebut, betapa sangat pentingnya peran MEDIATOR dan betapa sangat pentingnya proses Mediasi, karena dengan MEDIASI banyak hal yang didapat, seperti : hemat dana yang keluar, hemat waktu, hemat tenaga dan pikiran, permasalahan menjadi lebih sederhana, dan hubungan baik tetap terjalin.
Di samping itu para praktisi, dunia Bisnis saat ini banyak menghendaki system penyelesaian sengketa yang tidak formal, dan paradigma seperti ini sulit diatur dalam system litigasi, karena sistem litigasi lebih mengutamakan penyelesaian yang berlandaskan penegakan dan kepastian. Untuk perkara e-commerce yang diselesaikan via litigasi Pertengahan Tahun 2019 Mahkamah Agung telah mengeluarkan Peraturan Mahkamah Agung no.1 Tahun 2019 tentang Administrasi Perkara dan Persidangan di Pengadilan Secara Elektronik, sebagai payung hukum untuk pelaksanaan persidangan secara daring. Peraturan tersebut dilatarbelakangi bahwa untuk pelaksanaan peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan perlu adanya pembaruan administrasi dan persidangan disamping juga tuntutan zaman yang mengharuskan persidangan di pengadilan yang lebih efektif dan efisien. PerMA ini untuk menyempurnan PerMA no 3 Tahun 2018.
Peraturan Mahkamah Agung 2019 ini mulai efektif berlaku pada 2 Januari 2020, Alhamdulillah Alloh memberi cobaan untuk kita bangsa Indonesia di awal tahun 2020 Negara kita terkena wabah covid 19, sehingga bangsa kita tidak begitu kerepotan untuk penyelenggaraan persidangan dengan menggunakan sistem daring/online ini. Payung hukum
19 https://pmn.or.id/pmn/mediators/
yang sudah dibuat oleh Pemerintah melalui lembaga Mahkamah Agung ini diperkuat pelaksanaanya dengan Surat Edaran Mahkamah Agung no.1 tahun2020.
Menurut SEMA 1/2020 Poin 1 huruf a, hakim dan aparatur peradilan dapat menjalankan tugas kedinasan dengan bekerja di rumah/tempat tinggalnya (work from home/WFH) dan WFH tersebut termasuk pelaksanaan administrasi persidangan yang memanfaatkan aplikasi e-Court, pelaksanaan persidangan dengan menggunakan aplikasi e-Litigation, koordinasi, pertemuan, dan tugas kedinasan lainnya(Poin 1 huruf b SEMA 1/2020).
Penyelesaian sengketa bisnis e-commerce dengan jalur litigasi maupun non litigasi adalah sebuah pilihan, karena ini merupakan bisnis yang tentu saja di awali dengan sebuah perjanjian berupa kontrak, maka perlu diingat klausul untuk menyelesaikan permasalahan yang kemungkinan akan terjadi dikemudian hari jangan lupa untuk di cantumkan, ini merupakan hal yang penting guna mengantisipasi sesuatu yang buruk dikemudian hari.
………
………
………
………
………
………
B. STATUS LUARAN
Tuliskan jenis, identitas dan status ketercapaian setiap luaran wajib dan luaran tambahan (jika ada) yang dijanjikan. Jenis luaran dapat berupa publikasi, perolehan kekayaan intelektual, hasil pengujian atau luaran lainnya yang telah dijanjikan pada proposal. Uraian status luaran harus didukung dengan bukti kemajuan ketercapaian luaran sesuai dengan luaran yang dijanjikan. Lengkapi keterangan jenis luaran yang dijanjikan serta mengunggah bukti dokumen ketercapaian luaran wajib dan luaran tambahan melalui Sippmas.
…Hasil penelitian di buat naskah untuk di masukkan pada jurnal terakreditasi dan sudah diterima statusnya. Disamping itu juga dibuat dalam bentuk buku referensi dan sudah berupa draf
penyusunan.………
………
………
………
………
………
…………
C. PERAN MITRA
Tuliskan realisasi kerja sama dan kontribusi Mitra baik in-kind maupun in-cash (untuk Penelitian Terapan dan Penelitian Pengembangan). Bukti pendukung realisasi kerja sama dan realisasi kontribusi mitra dilaporkan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Bukti dokumen realisasi kerja sama dengan Mitra dilampirkan bersama laporan ini.
………
………
………
………
………
………
D. KENDALA PELAKSANAAN PENELITIAN
Tuliskan kesulitan atau hambatan yang dihadapi selama melakukan penelitian dan mencapai luaran yang dijanjikan, termasuk penjelasan jika pelaksanaan penelitian dan luaran penelitian tidak sesuai dengan yang direncanakan atau yang dijanjikan.
Selama melaksanakan penelitian tim peneliti kesulitan mencari data pelaku e-commerce, data di cari secara elektronik di sebar kepada masyarakat di daerah Semarang, Kendal dan Demak, tetapi kebanyakan mereka tidak menggunakan media penyelesaian dengan mediasi seperti yang tim peneliti harapkan, kebanyakan membiarkan saja suatu masalah yang terjadi selama mereka dirugikan oleh pihak lain, karena menganggap nilai nominalnya tidak begitu besar dan daripada mereka melakukan suatu upaya hukum tertentu dianggapnya sebagai sesuatu yang
ribet.………
………
………
………
………
………
E. KESIMPULAN DAN SARAN
Tuliskan dan uraikan kesimpulan dari pelaksanaan dan hasil penelitian yang sudah dilaksanakan dalam bentuk poin (1., 2., dst). Tuliskan dan uraikan saran untuk kemungkinan dilanjutkannya penelitian berikutnya, baik oleh peneliti yang bersangkutan maupun oleh peneliti lainnya dalam bentuk poin (1., 2., dst).
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan:
1. Upaya pengguna e-commerce untuk menyelesaikan sengketa bisnis(E-Commerce) di Jawa Tengah
Di dalam dunia bisnis penyelesaian sengketa melalui pengadilan tidak atau kurang disukai oleh banyak pihak dan kalaupun akhirnya penyelesaian dilakukan melalui lembaga peradilan, hal ini semata-mata hanya sebagai jalan terakhir (ultimatum remedium) setelah upaya lain tidak membuahkan hasil. Upaya yang dapat ditempuh oleh pengguna e-commerce di dalam menghadapi perselisdihan dengan pihak lain bisa di lakukan dengan jalur litigasi maupun dengan jalur non litigasi. Hal inipun dilihat dari isi kontrak perjanjiannya. Persengketaan tersebut tidak harus diselesaikan dengan litigasi ke Pengadilan tetapi dapat di lakukan dengan menyelesaikannya di luar Pengadian yaitu dengan negosiasi, mediasi maupun dengan arbitrase sebagaimana yang tertuang di dalam Undang-undang No.30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Penyelesaian Sengketa. Tetapi selama ini para pelaku usaha lebih senang menggunakan media sosial untuk menyelesaikan masalah dibanding
menggunakan perangkat yang ada, lebih efektif dan tidak membuang waktu dan beaya.
2. Mediasi di gunakan sebagai pola alternative penyelesaian Sengketa Bisnis (E- Commerce) di Jawa Tengah.
Ada dua jenis mediasi untuk menyelesaiakan sengketa bisnis yaitu mediasi yang di wajibkan oleh Mahkamah agung sebagaimana tertuang di dalam Perma Indonesia Nomor 1 Tahun 2016 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan, maka semua perkara wajib diupayakan perdamaian melalui mediasi. Mediasi ini harus di upayakan terlebih dahulu sebelum perkara yang terjadi di selesaikan di depan persidangan, dan mediasi yang diluar kewajiban sebelum proses persidangan. Mediasi ini di lakukan oleh mediator sebagai pihak ketiga ditujukan untuk menyelesaiakan perselisihan di antara para pengguna e-commerce.Proses mediasi ini secara umum di atur di dalam Undang- undang No.30 Tahun 1999 tetang Arbitrase dan Penyelesaian Sengketa pada Pasal 6.
Meskipun hasil keputusan seorang mediator tidak memiliki kekuatan hokum, tetapi jika semua pihak memiliki itikad baik untuk melaksanakan hasil putusan itu, maka penyelesaian dengan mediasi akan memiliki nilai yang lebih efektif disbanding harus melalui jalur litigasi.
SARAN-SARAN
1. Bagi pengguna e-commerce upayakan untuk selalu beritikad baik didalam mengadakan hubungan hokum bisnis dengan pihak lain agar tidak terjadi perseisihan.Jika terlanjur terjadi perselisihan, maka upaya di luar pengadilan dengan musyawarah mufakat itu lebih tepat, tapi jika belum juga tercapai kesepakatan, maka dapat meminta bantuan pihak ketiga untuk menyelesaikannya.
2. Jika menggunakan pola penyelesaian dengan mediasi, maka upayakan untuk menghormati hasil putusannya dengan menjalankan apa yang menjadi kewajiban para pihak.
………
………
………
………
………
………
………
F. DAFTAR PUSTAKA
Penyusunan Daftar Pustaka berdasarkan sistem nomor sesuai dengan urutan pengutipan.
Hanya pustaka yang disitasi pada laporan kemajuan yang dicantumkan dalam Daftar Pustaka.
Al Qur’an
A. Buku-Buku
Buku Pedoman Akademik Program Studi (S1) Ilmu Hukum.
Amriani, Nurnaningsih. 2012. Mediasi Alternatif Penyelesaian Sengketa Perdata di Pengadilan. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Cakrawala Julia Andi, Penerapan Konsep Hukum Arbitrase On Line di Indonesia, Rangkang Education, Yogyakarta, 2015
Chomzah, Ali Achmad. 2003. Seri Hukum Pertanahan III Penyelesaian Sengketa Hak Atas Tanah dan Seri Hukum Pertanahan IV Pengadaan Tanah Instansi
Pemerintah. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, 2010, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Hukum Empiris, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
Salim HS dan Erloes Septiana Nurbani, 2013, Penerapan Teori Hukum pada Penelitian Tesis dan Disertasi, Jakarta, RajaGrafindo Persada.
Rahmadi, Takdir. 2011. Mediasi Penyelesaian Sengketa Melalui Pendekatan Mufakat.
Jakarta: Rajawali Pers B. Undang-Undang Pancasila
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Undang-Undang No. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman.
Undang-undang No. 4 tahun 2004 tentang Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman
Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor. 02 tahun 2003 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan.
Peraturan Mahkamah Agung 2019 tentang Administrasi Perkara dan Persidangan di Pengadilan Secara Elektronik
Surat Edaran Mahkamah Agung no.1 tahun2020.
Undang-Undang No. 30 Tahun 1999 Tentang Arbritase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Perma No. 1 Tahun 2016 tentang prosedur mediasi di pengadilan
Pasal 1 Peraturan BMAI (Badan Mediasi Asuransi Indonesia); Mahkamah Agung No. 1 Tahun 2008 tentang Mediasi
Undang-undang no.19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-undang no 11 tahun 2008 tentang Informasi serta transaksi Elektronik
Peraturan Pemerintah no.71 tahun 20019 tentang penyelenggaraan system dan transaksi elektronik
C. Jurnal/artikel
H. Sofyan Zefri, S.H.I, M.S.I, Karateristik Mediasi Dalam Sengketa Di Perbankan Syariah , Jurnal MA Republik Indonesia Pengadilan Agama Mojokerto, 2007
Ibnu Mulyono,Alternatif Penyelesaian Sengketa Berdasarkan al qur’an, artikel pada Jurnal MA RI, Pengadilan agama Mojokerto, 26 September 2018
Nindyo Pramono, Lembaga Mediasi Perbankan Independen dan Mediasi Perbankan Oleh BI (Temporary), Makalah pada Diskusi Terbatas Pelaksanaan Mediasi Perbankan Oleh Bank Indonesia & Pembentukan Lembaga Mediasi Independen, Kerjasama Bank Indonesia dan Magister Hukum UGM, Denpasar, 11 April 2007
D. Internet
Kamus Besar Bahasa Indonesia daring
https://seputarilmu.com/2019/09/mediasi.html Wikipedia.
G. LAMPIRAN
Lampirkan dokumen-dokumen dan foto pendukung kegiatan dan laporan.