MENGENAL TOKOH PSIKOLOGI ISLAM: BIOGRAFI, KARYA, DAN PEMIKIRAN ABU ZAID AL-BALKHI, AR-RAZI, DAN IBNU SINA
TUGAS INDIVIDU
Dosen Pegampu: Iin Yulianti, MA
Disusun Oleh:
Silvia Dinda Fianita (2231060296)
Semester 6
Prodi: Psikologi Islam
FAKULTAS USULUDDIN DAN STUDI AGAMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG
1446H/202$
1. Abu Zaid Al-Balkhi
Abu Zayd Ahmad ibn Sahl al-Balkhi lahir pada tahun 850 M di daerah Shamistiyan, yang terletak di dekat Balkh, wilayah yang sekarang termasuk dalam negara Afghanistan.
Ia dikenal sebagai seorang polymath atau ilmuwan serba bisa dari dunia Islam klasik. Al- Balkhi tumbuh pada masa keemasan peradaban Islam dan menuntut ilmu di Baghdad, yang saat itu menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia Islam.
Ia merupakan murid dari filsuf besar Muslim, Al-Kindi, dan menjadi salah satu pemikir paling berpengaruh dalam bidang ilmu kedokteran, geografi, filsafat, psikologi, dan juga spiritualitas. Abu Zayd al-Balkhi hidup pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah dan termasuk salah satu ilmuwan di lingkungan intelektual "Baitul Hikmah" (House of Wisdom) di Baghdad. Ia wafat pada tahun 934 M.
Salah satu karya terpenting Abu Zayd al-Balkhi adalah "Masalih al-Abdan wa al- Anfus" (Perawatan Tubuh dan Jiwa), yang menunjukkan pendekatan sangat maju dalam menghubungkan kesehatan fisik dengan kesehatan mental. Buku ini merupakan salah satu karya awal yang mengangkat pentingnya psikologi dalam praktik kedokteran.
Selain karya itu, al-Balkhi juga menulis lebih dari 60 buku dalam berbagai bidang, di antaranya:
• Kitab al-Ashkal al-Basithah (tentang geometri dan matematika)
• Kitab Suwar al-Aqalim (tentang geografi)
• Kitab Tibb al-Ruhani (tentang pengobatan spiritual dan kejiwaan)
• Kitab al-Masail wal-Ajwibah (tentang teologi dan filsafat)
Sayangnya, sebagian besar karya-karya tersebut tidak sampai ke masa modern, namun catatan tentangnya masih ada di dalam karya para penulis setelahnya.
Ada beberapa pemikiran Abu Zayd Al-Balkhi:
1) Psikologi dan Kesehatan Mental
Abu Zayd al-Balkhi dianggap sebagai pelopor dalam bidang psikologi Islam.
Dalam bukunya Masalih al-Abdan wa al-Anfus, ia menjelaskan bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Menurutnya, penyakit jiwa bisa disebabkan oleh gangguan pikiran, perasaan, atau karena faktor luar yang mempengaruhi keseimbangan emosi seseorang.
Ia membagi gangguan mental ke dalam beberapa jenis:
• Depresi (Huzn): Ia membedakan antara depresi biasa (karena kehilangan atau kesedihan) dan depresi klinis (yang berasal dari dalam tubuh).
• Kecemasan (Waswasah): Berhubungan dengan rasa takut dan pikiran yang berlebihan.
• Kemarahan dan ledakan emosi: Diperlukan pengendalian diri agar tidak mempengaruhi kesehatan tubuh.
• Obsesi: Pikiran-pikiran yang tidak rasional dan terus-menerus hadir.
Metodenya sangat mirip dengan Cognitive Behavior Therapy (CBT) modern. Ia menyarankan pendekatan pemikiran positif dan pengelolaan emosi sebagai bagian dari proses penyembuhan.
2) Pendekatan Holistik
Abu Zayd al-Balkhi memandang manusia sebagai satu kesatuan jasmani dan ruhani.
Ia percaya bahwa jika tubuh sakit, maka jiwa bisa ikut terganggu, dan sebaliknya, jika jiwa terluka, maka tubuh bisa terkena dampaknya. Oleh sebab itu, ia menekankan pentingnya menjaga keduanya agar tetap sehat.
3) Kritik terhadap Dunia Medis Saat Itu
Ia mengkritik para tabib (dokter) yang hanya berfokus pada fisik pasien dan mengabaikan kondisi psikologis atau emosional mereka. Menurutnya, dokter yang baik adalah yang memahami keduanya dan mampu memberikan perawatan yang menyeluruh.
2. Ar-Razi
Abu Bakar Muhammad bin Zakariya ar-Razi, dikenal sebagai Rhazes di dunia Barat, lahir pada tahun 865 M di Rayy, Persia (sekarang Iran), dan wafat pada tahun 925 M. Pada masa mudanya, ar-Razi memiliki berbagai pengalaman, termasuk sebagai tukang intan, penukar uang, dan pemain kecapi. Namun, ia kemudian meninggalkan aktivitas tersebut untuk mendalami ilmu kimia dan kedokteran. Ia belajar di Baghdad dan kemudian memimpin rumah sakit di Rayy serta di Baghdad.
Ar-Razi adalah penulis produktif dengan lebih dari 200 manuskrip yang mencakup berbagai bidang ilmu. Beberapa karyanya yang terkenal meliputi:
• "Al-Hawi fi al-Tibb" (Kitab Al-Hawi): Ensiklopedia medis yang mengumpulkan pengetahuan kedokteran dari berbagai sumber, termasuk pengamatan klinisnya sendiri.
• "Kitab al-Mansuri" (Liber ad Almansorem): Karya medis yang terdiri dari sepuluh buku, membahas berbagai aspek kedokteran dan digunakan sebagai referensi di universitas-universitas Eropa.
• "Kitab al-Jadari wa al-Hasbah" (De Variolis et Morbillis): Studi pertama yang membedakan antara cacar dan campak sebagai dua penyakit yang berbeda.
Dalam filsafat, ar-Razi dikenal dengan konsep "Lima Kekal" (al-Qudama al-Khamsa), yang mencakup:
1. Tuhan: Pencipta dan sumber segala sesuatu.
2. Jiwa Universal: Esensi kehidupan dan kesadaran.
3. Materi Primer: Substansi dasar pembentuk alam semesta.
4. Waktu Absolut: Dimensi temporal yang kekal.
5. Ruang Absolut: Dimensi spasial yang kekal.
Konsep ini menunjukkan pendekatan rasionalis ar-Razi dalam memahami metafisika, meskipun pandangannya ini mendapat kritik dari ulama dan filsuf sezamannya.
3. Ibnu Sina
Nama lengkap Ibnu Sina mencerminkan silsilah dan gelar kehormatannya.
• Abu ‘Ali adalah kunyah (julukan) yang berarti "ayah dari Ali", meskipun ini tidak selalu merujuk pada anak kandung, tapi juga sebagai bentuk kehormatan.
• Al-Husayn ibn ‘Abdillah menunjukkan bahwa nama aslinya adalah Husayn, dan ia adalah putra dari ‘Abdillah.
• Ibn Sina adalah nama yang paling dikenal luas, digunakan di dunia Islam maupun Eropa Latin (yang menyebutnya Avicenna), yang berasal dari nama kakeknya.
Ibnu Sina lahir pada tahun 980 Masehi di desa kecil Afsyanah, yang berada tidak jauh dari Bukhara, kota besar di wilayah Transoxiana (Asia Tengah), yang saat itu merupakan bagian dari dunia Islam di bawah kekuasaan Dinasti Samanid.
Bukhara adalah salah satu pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam terpenting kala itu, sehingga lingkungan tempat Ibnu Sina tumbuh sangat kondusif bagi perkembangan intelektual. Ayahnya bekerja sebagai pejabat di pemerintahan dan mendukung penuh pendidikan anaknya.
Ibnu Sina wafat pada usia 57 tahun di kota Hamadan, Persia (kini bagian dari Iran), setelah menderita sakit dalam perjalanannya. Ia dimakamkan di sana, dan makamnya kini menjadi salah satu situs bersejarah. Selama hidupnya, ia sering berpindah-pindah kota karena situasi politik yang tidak stabil, termasuk ke Rayy, Jurjan, Isfahan, dan Hamadan.
Di tengah kesibukan sebagai dokter kerajaan, ia tetap produktif menulis karya-karya ilmiah dalam berbagai bidang.
➢ Karya-Karya Terkenal
1) Al-Qanun fi al-Tibb (Canon of Medicine)
• Buku kedokteran yang menjadi rujukan di dunia Islam dan Eropa hingga abad ke-17.
• Mencakup anatomi, penyakit, obat-obatan, dan prinsip-prinsip medis modern seperti observasi klinis dan diagnosis.
• Digunakan sebagai buku teks kedokteran di berbagai universitas, termasuk di Eropa.
2) Kitab al-Shifa (Buku Penyembuhan)
• Ensiklopedia filsafat dan ilmu pengetahuan terbesar yang ditulisnya.
• Dibagi dalam empat bagian: logika, ilmu alam (fisika), matematika, dan metafisika.
3) Al-Najat (Kitab Keselamatan)
• Ringkasan dari Kitab al-Shifa, membahas etika, logika, dan metafisika.
4. Danishnama-i ‘Ala’i
• Buku dalam bahasa Persia yang menjelaskan logika, metafisika, dan ilmu alam untuk kalangan awam.
➢ Pemikiran Ibnu Sina
1) Filsafat dan Metafisika
Ibnu Sina menggabungkan pemikiran Aristoteles dan Neoplatonisme ke dalam Islam.
Konsep utama:
• Wajib al-Wujud (Yang Niscaya Ada): Hanya Tuhan yang keberadaannya mutlak dan tidak membutuhkan sebab.
• Mumkin al-Wujud (Yang Mungkin Ada): Makhluk yang keberadaannya bisa ada atau tidak, tergantung pada sebab lain.
2) Teori Jiwa
Ibnu Sina membagi jiwa menjadi tiga:
• Vegetatif (tumbuhan): pertumbuhan dan reproduksi
• Hewani: gerak dan emosi
• Rasional: berpikir dan memahami—hanya dimiliki manusia Menurutnya, jiwa manusia bersifat kekal dan akan tetap hidup setelah kematian jasad.
3) Kedokteran
• Menekankan pentingnya observasi dan diagnosis ilmiah.
• Membedakan antara penyakit menular dan tidak menular.
• Menyebutkan pentingnya kebersihan dan isolasi pasien (konsep awal karantina).
• Meneliti penyakit seperti radang paru-paru, diabetes, dan cacar.
REFERENSI
Kamarulbahri, T., Noor, H. M., Mat, K. C., & Yusoff, S. (2024). Integrating Islamic principles to clinical mental health care: Insights from al-Balkhi’s approach to psychiatric disorder. Jurnal Sains Kesihatan Malaysia, 22(2), 39-54.
Nurfadilah, N., & Santalia, I. (2025). Abu Bakar Al-Razi: Riwayat Hidup dan Konsep Lima Kekal Dalam Filsafatnya. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, 2(6).
Hambali, H. (2010). PEMIKIRAN METAFISIKA, MORAL DAN KENABIAN DALAM PANDANGAN AL-RAZI. SUBSTANTIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin, 12(2), 365- 380.
Parlaungan, P., Daulay, H. P., & Dahlan, Z. (2021). Pemikiran Ibnu Sina Dalam Bidang Filsafat. Jurnal Bilqolam Pendidikan Islam, 2(1), 79-93.