Psychological
and Psychiatric Foundations of Criminal Behavior
Oleh : Harum Tri Nugraheni (E0020215)
Topik Pembahasan
Pengertian Psikologi Kriminal
Sejarah Teori Psikologi
Kriminal
Teori Psikologi Kriminal
Gangguan yang Berkaitan dengan
Kejahatan
1 2 3 4
Contoh Kasus
5
Pengertian Psikologi Kriminal Psikologi kriminal merupakan suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari psikologi (kondisi perilaku atau kejiwaan) pelaku tindak kriminal serta semua yang berhubungan baik langsung maupun tidak langsung dengan tindakan yang dilakukan serta keseluruhan akibatnya. Berdasarkan pengertian tersebut maka
dapat ditarik pemahaman bahwa ilmu psikologi kriminal merupakan suatu metode yang dipergunakan guna
mengidentifikasi penyebab terjadinya kejahatan yang diakibatkan oleh kelainan perilaku atau faktor kejiwaan si pelaku tindak
kriminal.
Sejarah Teori Psikologi Kriminal
Dua gagasan utama yang mencirikan awal teori-teori psikologi adalah kepribadian dan behaviorisme. Teori kepribadian dibangun di
atas bidang perkembangan ilmu kognitif termasuk gangguan kepribadian, proses perkembangan moral, dan pikiran. Sedangkan
behaviorisme atau yang dikenal sebagai teori perilaku, mengkaji pembelajaran sosial dengan penekanan pada pengkondisian perilaku.
Premis dasar dari teori ini menyatakan bahwa perilaku manusia
selain disebabkan faktor lingkungan juga disebabkan faktor internal.
Script Theory
Attachment Theory
Teori Psikologi Kriminal
Trait Theory Cognitive Theory
Frustration- Aggression Theory Crime as
Adaptation
The Psychoanalytic Perspective Criminal
Behavior as Maladaptation
Behavior Theory Modeling Theory
Pada tahun 1964, Hans J. Eysenck, seorang psikolog Inggris, menerbitkan sebuah buku “Kejahatan dan Kepribadian”, di mana dia menjelaskan kejahatan sebagai hasil dari karakteristik kepribadian yang mendasar atau sifat-sifat yang dia yakini sebagian besar diwariskan. Karakteristik kepribadian individu sifatnya relatif tetap dan konsisten serta tiap-tiap individu berbeda.
Menurut teori sifat, ketika seorang bertambah tua atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain, kepribadiannya sebagian besar tetap utuh didefinisikan oleh ciri-ciri yang membentuknya.
Orang yang cenderung melakukan tindakan kriminal dicirikan oleh egoisme, ketidakpedulian terhadap penderitaan dan kebutuhan orang lain, impulsif, kontrol diri yang rendah, dominansi sangat kuat, power yang lebih, dan cenderung asertif.
Trait Theory (Teori Sifat)
Cognitive Theory (Teori Kognitif) Teori kognitif adalah teori belajar yang mengkaji proses berpikir dan berusaha menjelaskan bagaimana orang (1) belajar memecahkan masalah, termasuk yang melibatkan pertanyaan tentang nilai dan moralitas, dan (2) memahami dan menafsirkan lingkungan sosial. Teori kognitif memiliki cabang, termasuk yang berfokus pada perkembangan moral dan intelektual. Berikut adalah cabang-cabang teori kognitif : a. Moral Development Theory (Teori Perkembangan Moral)
b. Cognitive Information Processing Theory (Teori
Pemrosesan Informasi kognitif)
Moral Development Theory (Teori Perkembangan Moral)
Cognitive Information Processing Theory (Teori Pemrosesan Informasi kognitif)
Teori ini melibatkan studi tentang persepsi manusia, pemrosesan informasi, dan pengambilan keputusan. Penelitian psikologis menunjukkan bahwa orang membuat keputusan dengan terlibat dalam serangkaian proses berpikir yang kompleks, atau langkah-langkah.
Menurut teori perkembangan moral bahwa individu menjadi kriminal ketika mereka tidak berhasil menyelesaikan perkembangan intelektualnya dari anak-anak hingga dewasa.
Piaget, salah satu psikolog Swiss percaya bahwa pemikiran manusia dan proses intelektual melewati sejumlah tahap perkembangan biopsikologis.
Script Theory
Pada akhir 1970-an, Roger C. Schank dan Robert P.
Abelson dari Universitas Yale mengembangkan teori skrip
untuk menjelaskan proses pemahaman selama situasi
atau peristiwa terjadi. Skrip merujuk pada pengetahuan
umum tentang hal-hal tertentu, jenis situasi yang
tersimpan dalam pikiran. Secara lebih formal, Schank dan
Abelson menggambarkan skrip sebagai sesuatu yang
telah ditentukan sebelumnya atau urutan tindakan
stereotip yang mendefinisikan suatu situasi.
Modeling Theory (Teori Pemodelan)
Teori pemodelan mengakui fakta bahwa orang belajar
bagaimana bertindak melalui pengalaman hidup mereka
dan terutama dengan mengamati orang lain. Bandura
menulis bahwa "Kebanyakan perilaku manusia dipelajari
melalui pengamatan melalui pemodelan dari mengamati
orang lain, seseorang membentuk gagasan tentang
bagaimana perilaku baru dilakukan, dan pada kesempatan
berikutnya informasi kode ini berfungsi sebagai panduan
untuk bertindak."
Crime as Adaptation
(Kejahatan sebagai Adaptasi)
Beberapa psikiater melihat kejahatan sebagai adaptasi terhadap tekanan hidup. Menurut Seymour L. Halleck, seorang psikiater dan asisten profesor hukum di University of North Carolina di Chapel Hill, beralih ke kejahatan dapat memberikan rasa pada individu yang kehilangan hak kekuasaan dan tujuan. Jadi, kejahatan menurut Halleck, menyediakan sumber daya yang nyaman untuk menyangkal, melupakan atau mengabaikan kekurangan lainnya.
Pilihan kejahatan untuk mengurangi stres individu dihadapi dengan menghasilkan perubahan lingkungan, hal ini disebut sebagai adaptasi aloplastik. Halleck menunjukkan bahwa seorang individu dapat memilih kejahatan di atas berbagai alternatif perilaku lainnya hanya ketika tidak ada alternatif masuk akal lainnya yang tersedia atau ketika perilaku kriminal memiliki keuntungan yang melekat.
The Psychoanalytic
Perspective Criminal Behavior as Maladaptation
Sigmund Freud menciptakan istilah psikoanalisis pada tahun 1896 dan mendasarkan seluruh teori perilaku manusia di atasnya. Dari sudut pandang psikoanalisis, perilaku kriminal adalah maladaptif, atau produk dari kekurangan kepribadian pelaku. Ketidakcukupan yang signifikan dapat mengakibatkan penyakit mental yang parah, yang dapat menjadi penyebab langsung kejahatan. Perspektif psikoanalitik mencakup pengertian yang beragam seperti kepribadian, neurosis, psikosis, dan konsep yang lebih spesifik seperti transferensi, sublimasi, dan represi.
Teori psikoanalisa Sigmund Freud tentang kriminalitas menghubungkan delinquent (kejahatan) dan perilaku kriminal dengan suatu conscience (hati nurani) yang baik, sehingga menimbulkan perasaan bersalah atau ia begitu lemah sehingga tidak dapat mengontrol dorongan-dorongan individu, dan bagi suatu kebutuhan yang harus dipenuhi segera.
Seseorang melakukan perilaku yang terlarang karena hati nurani, atau superego-nya begitu lemah atau tidak sempurna sehingga ego- nya (yang berperan sebagai suatu penengah antara superego dan id) tidak mampu mengontrol dorongan-dorongan dari id (bagian dari kepribadian yang mengandung keinginan dan dorongan yang kuat untuk dipuaskan dan dipenuhi). Karena superego intinya merupakan suatu citra orang tua yang begitu mendalam, terbangun ketika anak menerima sikap-sikap dan nilai-nilai moral orang tuanya, maka selanjutnya apabila ada ketiadaan citra seperti itu mungkin akan melahirkan id yang tak terkendali dan berikutnya delinquency.
Behavior Theory (Teori Perilaku)
Teori perilaku kadang disebut sebagai stimulus perilaku manusia.
Ketika perilaku individu menghasilkan penghargaan atau umpan balik yang individu anggap menyenangkan dan diinginkan, maka perilaku tersebut kemungkinan akan menjadi lebih sering. Dalam keadaan seperti itu, perilaku tersebut diperkuat, dan penghargaan itu sendiri disebut sebagai bala bantuan. Sebaliknya, ketika hukuman mengikuti perilaku, kemungkinan frekuensi perilaku tersebut akan berkurang.
Menurut teori perilaku, melalui penerapan penghargaan dan hukuman itulah perilaku dibentuk. Teori perilaku berbeda dari teori psikologi lainnya dalam hal determinan utama perilaku dibayangkan ada di lingkungan sekitar individu daripada di dalam individu.
Mungkin pendukung paling terkenal teori perilaku adalah BF Skinner (1904-1990).
Frustration-Aggression Theory
(Teori Frustasi-Agresi)
Dalam tulisan awalnya, Freud menyarankan bahwa perilaku agresif adalah respons alami terhadap frustrasi dan keterbatasan yang dikenakan pada seseorang. Teori frustrasi-agresi ini kemudian dikembangkan lebih lengkap dalam tulisan-tulisan J. Dollard, Albert Bandura, Richard H. Walters, dan lain-lain. Teori frustrasi-agresi Dollard menyatakan bahwa frustrasi dapat menyebabkan berbagai bentuk perilaku termasuk regresi, sublimasi, dan fantasi agresif langsung terhadap orang lain dan itu adalah konsekuensi yang paling mungkin terjadi. Karena setiap orang terkadang mengalami frustrasi dalam hidup.
Attachment Theory (Teori Keterikatan)
Teori keterikatan pertama kali diusulkan oleh psikiater anak di Inggris, John Bowlby (1907-1990), yang mengamati anak-anak selama masa studinya. Teori keterikatan memprediksi bahwa individu yang paling bermasalah adalah mereka yang ditinggalkan pada usia dini, yang mengalami banyak penempatan seperti di panti asuhan dan sebagainya, yang harus menghadapi ketidakhadiran awal salah satu atau kedua orang tua, dan yang menghadapi traumatis kondisi fisik, seksual, atau pelecehan lainnya pada saat usia dini. Tes teori keterikatan tampaknya mengkonfirmasi bahwa kesulitan di masa kanak- kanak (terutama sebelum usia delapan tahun) menghasilkan kriminalitas di kemudian hari.
Penelitian telah menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan di lingkungan yang tidak aman cenderung terlibat dalam perilaku kekerasan sebagai orang dewasa dan masa kanak-kanak itu.
Ketidakamanan mengarah pada kurangnya empati. Beberapa ahli teori keterikatan percaya bahwa pengembangan empati adalah satu- satunya faktor terpenting yang mengarah pada konformitas. Ketika anak-anak tidak menerima empati dari orang-orang di sekitar mereka, mereka tampaknya juga tidak dapat melihat orang lain layak mendapatkan empati dan menjadi lebih mungkin untuk melukai orang lain.
Kritik Terkait Teori Psikologi dan Psikiatri dalam Kriminologi
a. Teori Freud telah dikritik pada beberapa tingkatan. Kritik pertama dan paling mendasar dari teori ini adalah kurangnya dukungan ilmiah. Kritik menunjukkan bahwa teori Freud tidak didasarkan pada penelitian dan tidak ada dukungan substansial untuk konsep-konsepnya. Dengan demikian, teori Freud dipandang kurang sebagai penjelasan ilmiah untuk perilaku manusia.
b. Selain itu, beberapa mengklaim bahwa teori psikiatri yang dibedakan dari yang psikologis, hanya cocok untuk penjelasan tentang kognisi abnormal dan tidak berlaku baik untuk orang normal yang beralih ke kejahatan.
c. Teori perilaku telah dikritik karena mengabaikan peran yang dimainkan dalam perilaku manusia. Para martir misalnya, bertahan dalam apa yang mungkin didefinisikan oleh masyarakat luas sebagai perilaku yang tidak diinginkan, bahkan dalam menghadapi hukuman berat termasuk kehilangan nyawa mereka sendiri.
d. Teori pemodelan, bentuk yang lebih canggih dari teori kognitif telah dikritik karena kurang memiliki kekuatan penjelas yang komprehensif.
Gangguan yang Berkaitan dengan Kejahatan
Psikosis
Neurosis Psikopat
Sosiopat
Psikopat adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan perilaku antisosial dan kurangnya simpati, empati, dan rasa malu. Adapun seseorang dengan kondisi ini umumnya bersikap manipulatif untuk mendapatkan kepercayaan orang lain. Mereka belajar untuk meniru emosi, yang sebenarnya tidak mereka rasakan, dan akan tampak seperti orang yang normal. Bahkan, mereka seringkali menunjukkan kepribadian yang hangat dan memesona. Banyak orang yang tidak menyadari jika ada seseorang dengan kondisi ini di lingkungannya.
Meskipun demikian, seseorang yang psycho sebenarnya tidak peduli dengan perasaan orang lain. Karena itulah, banyak di antara mereka yang melakukan hal tak bermoral, bahkan kriminal, tanpa penyesalan dan rasa bersalah.
Psikopat
Sosiopat
Sosiopat adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi seseorang yang memiliki gangguan kepribadian antisosial (ASPD). Orang dengan ASPD tidak dapat mengerti perasaan orang lain.
Ia kerap melanggar aturan atau membuat keputusan impulsif tanpa merasa bersalah atas kerugian yang mereka timbulkan. Sering kali semua tindak-tanduk dan pemikirannya tidak bisa diprediksi. Orang yang mengidap sosiopati bisa dianggap tidak memiliki empati atau hati nurani. Orang yang mengidap gangguan kepribadian antisosial suka berbohong, melakukan kekerasan tanpa berpikir panjang, dan sering kali menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan terlarang.
Psikosis
Psikosis menurut Medline Plus adalah kelainan jiwa yang ditandai dengan hilangnya kontak dengan realitas, biasanya mencakup ide-ide yang salah tentang apa yang sebenarnya terjadi, delusi, atau melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada (halusinasi).
Secara umum, psikosis dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan faktor penyebabnya, yaitu psikosis organik, yang disebabkan oleh factor oganik dan psikosis fungsional, yang terjadi karena faktor kejiwaan.
Psikosis organik adalah penyakit jiwa yang disebabkan oleh faktor faktor fisik atau organik, yaitu pada fungsi jaringan otak, sehingga penderita mengalamai inkompeten secara sosial, tidak mampu bertanggung jawab, dan gagal dalam menyesuaikan diri terhadap realitas. Sedangkan psikosis fungsional merupakan penyakit jiwa secara fungsional yang bersifat nonorganik, yang ditandai dengan disintegrasi kepribadian dan ketidak mampuan dalam melakukan penyesuaian sosial.
Neurosis
Neurosis adalah gangguan yang terjadi hanya pada sebagian dari kepribadian, sehingga orang yang mengalaminya masih bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan biasa sehari-hari atau masih bisa belajar, dan jarang memerlukan perawatan khusus di rumah sakit.
Pokok-pokok pengertian mengenai neurosis sebagai berikut. a.
Neurosis merupakan gangguan jiwa pada taraf ringan. b. Neurosis terjadi pada sebagian aspek kepribadian. c. Neurosis dapat dikenali gejala-gejala yang menyertainya dengan ciri khas kecemasan. d.
Penderita neurosis masih mampu menyesuaikan diri dan melakukan aktivitas sehari-hari.
Contoh Kasus
Kasus Pembunuhan oleh Eks Wakapolres Lombok Tengah
Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan menyatakan mantan Wakil Kepala Kepolisian Resor Lombok Tengah Kompol Fahrizal terbukti melakukan pembunuhan adik iparnya, Jumingan.Akan tetapi, ia tidak dijatuhi hukuman penjara karena dinilai mengalami gangguan jiwa atau skizofrenia paranoid. "Menyatakan terdakwa Fahrizal SI.K telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan Kesatu Pasal 338 KUHP. Akan tetapi terdakwa tersebut tidak dapat dipidana," ucap majelis hakim yang diketuai Richard, dalam sidang, Kamis (7/2).
Fahrizal didakwa melakukan pembunuhan karena menembak mati adik iparnya, Jumingan, di rumah orangtuanya di Jalan Tirtosari Gang Keluarga, Kelurahan Bantan, Kecamatan Medan Tembung, Sumut, Rabu 4 April 2018 sekira pukul 19.30 WIB malam. Dia melontarkan enam kali tembakan hingga korban tewas. Jasad Jumingan kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Medan untuk otopsi. Kemudian Fahrizal menyerahkan diri ke Polda Sumut.
Dalam persidangan, tim penasihat hukum terdakwa dan sejumlah saksi yang dihadirkan JPU Randi Tambunan menyebutkan bahwa Fahrizal telah mengalami gangguan jiwa atau skizofrenia paranoid sejak 2014 atau sebelum peristiwa penembakan terjadi. "Terdakwa pernah menjalani pengobatan di Klinik Utama Bina Atma pada 5 Agustus 2014, dan kemudian secara berkelanjutan hingga 11 April 2016. Pada waktu itu yang merawat adalah dr Mustafa M Amin dan dr Vita Camelia. Hal ini dapat dibuktikan dari surat yang dikeluarkan pimpinan Klinik Utama Bina Atma yang ditandatangani dr. Tapi Harlina MHA tertanggal 16 April 2018," ujar Julhisman dalam pembelaannya beberapa waktu lalu.
Bahkan setelah peristiwa penembakan terjadi, kata Julhisman, pihak penyidik Polda Sumut juga melakukan pemeriksaan terhadap eks Wakasat Reskrim Polrestabes Medan ini di RS Jiwa Prof DR Muhammad Ildrem. Dokter yang memeriksa kesehatan terdakwa yakni, Dr Paskawani Siregar tertanggal 23 April 2018 menyebutkan terdakwa mengalami skizofrenia paranoid.
Menurut Julhisman, Fahrizal menembak Jumingan yang merupakan suami dari adiknya Heny Wulandari tanpa sadar atau di luar logika kesadaran. Saat itu kedatangan Fahrizal didampingi istrinya Maya Safira Harahap dari Lombok untuk melihat ibunya Sukartini yang baru sembuh. "Bahkan saat peristiwa terjadi, terdakwa mengaku mendengar bisikan gaib, sehingga ia tidak bisa menguasai diri atau kesadarannya pada saat itu," kata Julhisman.
Terima
Kasih