UJI ANTAGONIS BEBERAPA ISOLAT PSEUDOMONAD FLUORESEN
TERHADAP BAKTERI Ralstonia solanacearum PENYEBAB PENYAKIT LAYU TANAMAN NILAM SECARA IN VITRO
Oleh:
Nursati1 ,Mades Fifendy2),Linda Advinda3) 1. STKIP PGRI SUMBAR 2. Jurusan Biologi FMIPA UNP Padang Prodi Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRACT
Nilam plant (Pogestomon Cablin Benth) is one of plant result atsiri oil that is important thing of cosmetics industry. Nilam plant has advantages like: difficult steam is better than eteris oil others, impediment wash, can be dissolved into alcohol and can blend with eteris oil others. One of causing Nilam Shrivel Plant Disease is offensive of Ralstonia Solanacearum. The purpose of the research is to know antagonist exam of some isolat Pseudomonad Fluoresen toward bacteria of ralstonia solanacearum caused nilam shrivel plant disease with in vitro.
The research is done from April 2013 – October 2014, placed in Plant Physiology laboratory, FMIPA, UNP. This research use RAL with 5 steps and 5 exams. The ways are PfPj1, PfPj2, PfPj3, Cas3 and Kd7. The result is analyzed by using ANOVA in real fact 5%
and if it is different that is continued with t exam DNMRT in real fact.
The analysis result of many isolat Pseudomonad Fluoresen able stunts Ralstonia Solanacearum. Zone diameter is PfPj1 11.41, PfPj2 9.97, PfPj3 12.56, Cas3 11.25 and Kd7 10.26 isolat which have high inhibit zone PfPj3 12.56. in briefly, Pseudomonad Fluoresen able stunts Ralstonia Solanacearum development which is caused nilam shrivel plant disease with in vitro.
Key word: Antagonist Ability, Isolat Pseudomonad Fluoresen, Ralstonia Solanacearum, and Nilam Shrivel Plant Disease.
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya alam, baik hayati maupun non hayati. Sumber daya alam hayati terlihat dengan melimpahnya macam-macam jenis flora yang tersebar di berbagai wilayah di seluruh pelosok tanah air. Dari berbagai sumber daya hayati ini
selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri dan bahan perdagangan yang menghasilkan devisa serta pendorong pertumbuhan ekonomi negara. Salah satu SDA (Sumber Daya Alam) adalah rempah-rempah dan, Indonesia terkenal dengan minyak atsirinya.
Tanaman nilam (Pogostemon cablinBenth) adalah salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang merupakan bahan baku penting dalam industri kosmetika. Minyak atsirinya mempunyai keunggulan seperti: (a) sukar menguap dibanding dengan minyak atsiri lainnya, (b) sukar tercuci, (c) dapat larut dalam alkohol, dan (d) dapat dicampur dengan minyak eteris lainnya. Karena sifat-sifat inilah minyak nilam dipakai sebagai fiksatif (pengikat bau/aroma) dalam industris wewangian.
Selain tersebut di atas, minyak nilam dapat dimanfaatkan sebagai antiseptik, antijamur, anti jerawat dan kulit pecah-pecah. Bahkan dapat juga membantu mengurangi kegelisahan dan depresi, atau membantu penderita insomonia (gangguan susah tidur).
Karena itu, minyak ini sering dipakai untuk bahan terapi aroma (Daniel, 2012)
Penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum merupakan penyakit tanaman paling berbahaya yang tersebar luas didaerah tropika dan sub tropika. Bakteri ini banyak menyerang tanaman pertanian diantaranya tomat, kacang tanah, pisang, kentang, tembakau, dan intensitas serangan menggambarkan besarnya tingkat serangan penyakit pada suatu tanaman tertentu.
Intensitas serangan penyakit dihitung dengan cara mengamati gejala layu yang terjadi pada daun setelah tanaman diinokulasi, pengamatan dilakukan setiap hari agar diketahui perkembangan penyakitnya, karena serangan bakteri R. solanacearum menyebabkan kematian tanaman.
Berdasarkan hal diatas telah dilakukan METODA PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan bulan April 2013 - Oktober 2013 bertempat
dilaboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Padang.
Alat yang digunakan adalah cawan petri, tabung reaksi, autoclave, jarum ose, pipet tetes, lampu spritus, pinset, jangka sorong, spatula, air flow cabinet, Beaker Glass, Erlemeyer, kamera digital.
Bahan yang digunakan adalah isolat Pseudomonad fluoresen koleksi Advinda yaitu PfPj1, PfPj2, PfPj3, Cas3 dan Kd7 isolat Ralstonia solanacearum yang berasal dari perakaran nilam, kertas cakram steril, kertas label, plastic, wropping. Bahan yang digunakan dalam pembuatan king’B adalah Protase pepton, K2PO4, Mg2SO4, gliserin, agar oxoid. Bahan yang digunakan dalam pembuatan medium Triphenyl Tetrazolium Salt (TTC) adalah pepton,casein, Hydrolysate, glukosa, agar oxoid, dan TTC.
Analisis data
Data yang diambil panjang diameter zona hambat yang terbentuk kemudian diolah menggunakan Uji Analisis of Varians (ANOVA), bila terdapat perbedaan nyata, dilanjutkan uji lanjut DNMRT pada taraf nyata 5% (Hanafiah, 2008)
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil
Hasil penelitian menunjukkan Pseudomonad fluoresen mampu menghambat pertumbuhan bakteri Ralstoniasolanacearum. Diameter zona hambat Pseudomonad fluoresen dengan R.
solanacearum bervariasi dapat dilihat Tabel 1.
Tabel diameter zona hambat Pseudomonad fluoresen dengan Ralstoniasolanacearum
Perlakuan Rerata diameter (mm) C (PfPj3)
A (PfPj1) D (Cas3)
E (Kd7) B (PfPj2)
12,56 11,41 11,25 10,26 9.26
Ket : Angka-angka pada kolom yang sama diikuti huruf kecil yang sama berbeda nyata pada taraf 5% uji DNMRT
Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa terdapat pengaruh isolat Pseudomonad fluoresen terhadap Ralstonia solanacearum. Hasil analisis F hitung yang di dapatkan lebih kecil (1,13) dibanding dengan F tabel (2,67). Hasil uji lanjut DNMRT pada taraf 5% ternyata jenis Pseudomonad fluoresen tidak memberi pengaruh nyata terhadap pertumbuhan R.
solanacearum.
Zona hambat
Gambar 1 : Zona hambat PfPj2 terhadap Ralstonia solanacearum
B. Hasil
Dari tabel dapat dilihat bahwa semua isolat Pseudomonad fluoresen mampu menghambat pertumbuhan Ralstonia solanacearum penyebab penyakitlayu tanaman nilam secara in vitro. Dari 5 isolat Pseudomonad fluoresen yang digunakan,
PfPj3 yang memiliki zona hambat yang paling besar yaitu 12,56 mm.
Grafik diameter zona hambat Pseudomonad fluoresen terhadap pertumbuhan bakteri Ralstonia solanacearum
Analisis data diameter zona hambat Pseudomonad fluoresen terhadap pertumbuhan bakteri R. solanacearum tidak berbeda nyata pada uji analisis of Varians dengan taraf signifikan 5% dan tidak dilanjutkan dengan uji lanjut DNMRT pada taraf 5% dapat dilihat pada lampiran I dimana perlakuan PfPj1, PfPj2, PfPj3,Cas3 dan Kd7 tidak berpengaruh nyata
Berdasarkan perlakuan PfPj3 yang menggunakan isolat Pf merupakan isolat terbaik dalam menghambat pertumbuhan dari bakteri R. solanacearum. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan Pseudomonad fluoresen dalam menghambat pertumbuhan R. solanacearum, diameter zona hambat yang terbentuk merupakan zona hambat terbesar dari dari lima isolat Pseudomonad fluoresen yang diujikan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh senyawa antimikroba yang dihasilkan oleh Pseudomonad fluoresen dari rizosfer telah tinggi di banding dengan isolat Pseudomonad fluoresen lainnya.
Kemampuan Pseudomonad fluoresen menghambat pertumbuhan bakteri R.
solanacearum oleh antibiotik chlorinated
0 2 4 6 8 10 12 14
PfPj1 PfPj2 PfPj3 Cas3 Kd7 11,41
9,97
12,56 11,25
10,26
Diameter Zona Hambat
Perlakuan
Phenylpyrol yaitu : Pyrolutenorin dan pyrolnitrin pyrolnitrin efektif terhadap R.
solanacearum. Antibiotik ini dapat bertahan 30 hari dalam tanah lembab tanpa kehilangan aktivitasnya (Habazar dan Yaherwandi, 2006). Mekanisme yang terjadi antara Pseudomonad fluoresen ini bersifat antagonisme yaitu peristiwa yang terjadi yang menyebabkan tertekannya aktivitas suatu organisme jika dua atau lebih berada pada tempat yang berdekatan (Semangun, 1996).
Kemampuan Pseudomonad fluoresen dalam menghambat pertumbuhan R.
solanacearum penyebab penyakit layu tanaman nilam, dikarenakan bakteri ini dapat merangsang tanaman yang mengeluarkan Fitoaleksin, Fitoaleksin merupakan suatu senyawa antimikroba yang di hasilkan oleh tanaman yang bertujuan untuk pertahanan diri terhadap patogen. Fitoaleksin menghambat perkembangan patogen dengan cara merusak membran patogen terutama membran plasma menghambat sintesis protein dan asam nukleat respirasi patogen (Parjono, 2008).
Kemampuan pseudomonad fluoresen dalam menghambat pertumbuhan R.solanacearum yang di pengaruhi oleh kemampuannya dalam menghasilkan siderofor. Menurut Parjono (2008), siderofor yang di hasikan oleh Pseudomonad fluoresen yang mampu mengikat Fe pada lingkungan defisiensi Fe sehingga menyebabkan terhambatnya pertumbuhan patogen, karena Fe menjadi tidak tersedia patogen.
Pseudomonad fluoresen (pf) adalah kelompok Rhizobacteria yang dapat diisolasi dari daerah perakaran tanaman.Pseudomonad fluoresen merupakan salah satu kelompok mikroorganisme yang dapat mengklonisasi di daerah perakaran yang berpotensi untuk di kembangkan sebagai agen hayati dalam mengendalikan penyakit tanaman.Banyak
dari bakteri ini merupakan penghuni tanah, ada juga hidup dilingkungan air tawar dan air laut. Beberapa spesies menghasilkan pigmen fluoresen yang berwarna kuning kehijauan dan berdifusi ke dalam medium yang rendah kadar besinya (Rivai, 2002).
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Pseudomonad fluoresen mampu menghambat pertumbuhan bakteri Ralstoniasolanacearum secara InVitro 2. Zona hambat terbesar di dapat pada isolat
PfPj3, yaitu 12,56 mm
Berdasarkan hasil penelitian ini penulis menyarankan untuk melakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui isolat Pseudomonad fluoresen yang terbaik dalam
menghambat Pertumbuhan
Ralstoniasolanacearum penyebab penyakit layu tanaman nilam secara in vitro, dan bagi masyarakat untuk diaplikasikan sebagai agen hayati khususnya tanaman nilam.
DAFTAR PUSTAKA
Advinda, L. (2009) Tangkap Fisiologis Tanaman Pisang yang diintroduksi dengan Formula pseudomonad fluoresen terhadap Blood pisease Bacteria (BDB). Disertasi. Padang : Universitas Andalas.
Advinda, L, T. Habazar,. A. Syarief., Mansyurdin., dan D. P. Putra.
(2007).”Seleksi Isolat Pseudomonad fluoresen dalam menginduksi ketahanan Tanaman Bibit Pisang terhadap penyakit Darah”. Sainstek.
Vol. X. Nomor 1. September 2007.
Agusta, dan adria.2000. Minyak atsiri tanaman tropika. IPB. Bandung.
Anonium. Minyak Atsiri, Komoditas Ekspor yang potensial. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, badan litbang pertanian.
Aryanto, T., Maryundani, Y., dan azizah, N.
R. (2007).sifat – sifat Fenotifik pseudomonad fluoresen, agensia pengendalian Hayati Penyakit Lincat pada Tembakau Temanggung. Jurnal Biodervesitas. Volume. 8 No 2, 147 – 151.
Arwiyanto, T. 1997. Pengendalian Penyakit layu bakteri tembakau isolasi bakteri antagonis.Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia.
Chatri, M. 2006. Buku ajar Fitofatalogi, Padang. Universitas Negeri Padang Daniel andri, S. P. 2012. Prospek bertanam
nilam. Yokjakarta.
Doni, F. (2011). Respon pertumbuhan Tanaman padi (Oriza sativa L).
Terhadap introduksi Pseudomonad fluoresen. Hasil penelitian jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Padang : Universitas Negeri Padang
Goto, M. 1992. Fundamentals of Plant bacteriology. Tokyo : Academic Press.
Habazar, T dan Yaherwandi. 2006.
Pengendalian Hayati Hama dan Penyakit Tumbuhan. Andalas Universitas Press : Padang.
Hasannudin,(2003).Peningkatan Peranan
Mikroorganisme dalam
SistemPengendalian Penyakit Tumbuhan Secara Terpadu. Jurnal Phytophathology. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
Klement, Z, K, Rudolph, and D. C, sonds.
1990. Methods In Phytobacteriology.
Akademiai Klado : Budapest
Pracaya. 2007. Hama dan Penyakit Tanaman, edisi Revisi. Jakarata
Kardin, A dan L. Mauladi. 2004. Nilam.
Agromedia pustaka. Jakarta
Mangun, H. M. S. Nilam. Penebar swadaya.jakarta.
Mauludi, L. dan Asman, A., 2005. Profil Investasi Pengusahaan Nilam. Bogor:
Balai Penelitian Tanaman Rempah dan
Obat Badan Penelitian
danPengembangan Pertanian Departemen Pertanian.
Nildayanti.2011. Peranan Bakteri Kininolitik dan Fungsi Mikoriza Arbuskular dalam Pengendalian Busuk Pangkal Batang Kelapa Sawit.Tesis InstitutPertanian Bogor.
Nisrita, V. A. (2006). Kemampuan pseudomonad fluoresen Mengklonisasi perakaran Bibit Pisang Barangan. Hasil Penelitian. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.Padang : Universitas Negeri Padang
Nuryani.Y, Emmyzar dan A. Wahyudi, 2007.Nilam.Perbenihan dan BudidayaPendukung Varietas Unggul.
Puslitbangbun, Badan Litbang Pertanian. Jakarta. Nugroho A., 2008.
Rukman Rahmat H. 2004. Nilam. Konisius prospek agribisnis dan teknik budi daya nilam. Yokjakarta.
Semangun, H. (1990). Penyakit- penyakit Tanaman Pangan di Indonesia, Yokyakarta : UGM.
Syaiful, 2002. Peran agens Hayati Dalam rangka Melokalisir Penytakit layu yang disebabkan.
Wikardi, E, A, A. Asman dan P. Wahid.
1990. Perkembangan penelitian nilam.
Edisi bulletin. Balitro. Bogor.