• Tidak ada hasil yang ditemukan

Putusan Hakim di berbagai daerah Indonesia yang memutuskan perkara tindak pidana di bidang perikanan cenderung bervariasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Putusan Hakim di berbagai daerah Indonesia yang memutuskan perkara tindak pidana di bidang perikanan cenderung bervariasi"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tindak pidana yang umum terjadi di perairan Indonesia adalah tindak pidana perikanan, yaitu kegiatan illegal fishing, kegiatan penangkapan ikan yang tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan yang kegiatannya tidak dilaporkan kepada instansi atau lembaga perikanan yang berwenang. Kejahatan perikanan yang paling banyak terjadi di wilayah pengelolaan perikanan Indonesia adalah pencurian ikan oleh kapal penangkap ikan asing, meskipun sulit untuk memetakan dan memperkirakan kejahatan perikanan yang terjadi di Perairan Indonesia.1

Tindak pidana perikanan merupakan salah satu masalah global yang dihadapi oleh negara-negara di seluruh dunia, karena kejahatan tersebut tidak hanya menyebabkan kerusakan ekosistem laut atau perairan dan sumber daya perikanan, tetapi juga menyangkut kedaulatan suatu negara, terutama jika pelaku kejahatan perikanan ini berasal dari negara asing yang tidak berhak memasuki perairan negara lain untuk illegal fishing.2 Penegakan hukum di bidang perikanan memiliki arti strategis yang besar untuk mendukung pembangunan perikanan yang terkendali, dan sesuai dengan prinsip-prinsip pengelolaan perikanan, untuk

1Yudi Mauliady, Penerapan Pidana Kurungan Pengganti Denda Dalam Tindak Pidana Perikanan (Suatu Penelitian di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Banda Aceh), Universitas Muhammadiyah Aceh, 2019, hlm 1

2 Ibid.

(2)

mewujudkan perikanan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, adanya kepastian hukum merupakan syarat mutlak yang diperlukan.

Putusan Hakim di berbagai daerah Indonesia yang memutuskan perkara tindak pidana di bidang perikanan cenderung bervariasi. Putusan pengadilan pidana yang dilakukan oleh hakim wajib dimaksudkan guna mencapai tujuan hukum yakni kepastian, keadilan serta kemanfaatan hukum. Hakim harus mengambil keputusan pidana, baik yuridis maupun non-yuridis, berdasarkan pertimbangan faktual selama persidangan. Jika hakim menyatakan terdakwa bersalah, hakim dapat menjatuhkan pidana, termasuk pidana pokok dan pidana tambahan, sesuai dengan ketentuan Pasal 10 KUHP. Pidana pokok terdiri dari pidana mati, pidana penjara, pidana kurungan, pidana denda dan pidana tutupan.

Sedangkan pidana tambahan berupa pencabutan hak tertentu, perampasan barang tertentu serta putusan hakim.3

Berlandaskan pernyataan pada Pasal 10 KUHP, pidana denda dan pidana kurungan merupakan delik-delik utama selain pidana mati dan pidana penjara yang dapat dijatuhkan oleh hakim dalam suatu pidana. Denda adalah kejahatan berbasis properti, umumnya relatif ringan jumlahnya dan dirancang sebagai alternatif hukuman penjara dan denda. Dalam hal tindak pidana, hakim dapat memberikan pidana pengganti denda yaitu berupa pidana kurungan.4 Berdasarkan ketentuan Pasal 30 KUHP disebutkan bahwa:5

3 Nursiti dan Fakhrullah, Disparitas Penjatuhan Pidana Kurungan Pengganti Pidana Denda dalam Putusan Kasus Narkotika, Kanun Jurnal Ilmu Hukum, No. 66, Th. XVII, 2015, hlm.

303

4 Ibid, hlm. 304

5Pasal 30, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

(3)

“(1) Pidana denda paling sedikit adalah tiga rupiah tujuh puluh lima sen, (2) Jika denda tidak dibayar, lalu diganti dengan kurungan, (3) Lamanya pidana kurungan pengganti paling sedikit adalah satu hari dan paling lama enam bulan, (4) Dalam putusan hakim lamanya kurungan pengganti ditetapkan demikian: jika dendanya pidana dendanya tujuh rupiah lima puluh dua sen atau kurungan, dihitung satu hari; jika lebih dari lima puluh rupiah lima puluh sen, tiap-tiap tujuh rupiah lima puluh sen dihitung paling banyak satu hari, demikian pula sisanya yang tidak cukup tujuh rupiah lima puluh sen, (5) Jika ada pemberatan denda, disebabkan karena perbarengan atau pengulangan, atau karena ketentuan Pasal 52 dan 52a, maka kurungan pengganti paling lama dapat menjadi delapan bulan, (6) Kurungan pengganti sekali-kali tidak boleh lebih dari delapan bulan”.

Mengadili bisa didefinisikan serangkaian tindakan yang dilaksanakan oleh hakim di pengadilan guna menerima, memeriksa, serta mengadili suatu perkara menurut tata cara yang ditentukan oleh undang-undang dan sesuai dengan asas kebebasan, kejujuran, dan tidak memihak. Hakim yang mengadili kasus tersebut memiliki kekuatan untuk menghukum terdakwa. Putusan hakim tidak lepas dari tuntutan jaksa. Menurut hakim, dakwaan penuntut umum adalah bahan atau objek yang diperiksa selama persidangan dan menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil suatu putusan. Hukuman yang dijatuhkan memiliki implikasi yang luas bagi terdakwa dan masyarakat. Selanjutnya, jika keputusan yang dibuat oleh hakim dianggap tidak tepat, atau jika ada perbedaan hukuman untuk pelanggaran antara para pelanggar, bahkan jika terdakwa didakwa dan dihukum karena pelanggaran yang sama.6

Merujuk pada ketentuan Pasal 30 KUHP, seharusnya hakim memiliki standar yang sama dalam menggunakan hukuman pengganti sebagai pemidanaan, dan tidak melakukan kesalahan. Namun, mengganti hukuman penjara dengan denda untuk pelanggaran perikanan berbeda. Penerapan hukuman terhadap kapal

6Nursiti dan Fakhrullah. Op.Cit., hlm. 313

(4)

ikan asing sesuai Pasal 10 KUHP di kenal ada dua jenis sanksi pidana, yaitu pidana pokok serta pidana tambahan. Hukuman pokok yang harus dijatuhkan oleh hakim, antara lain pidana mati, penjara, kurungan, denda serta pidana tutupan.

Pada saat yang sama, hukuman tambahan tidak wajib dijatuhkan oleh hakim, yakni berupa pencabutan hak tertentu, penyitaan barang tertentu, serta penetapan putusan.7

Jenis hukuman pidana dibidang perikanan hanya mengenal pidana pokok, sedangkan pidana tambahan tidak diatur di dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang perikanan yang kemudian diperbarui dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang pengelolaan perikanan yang merupakan Undang- Undang Perikanan. Pada tindak pidana di bidang perikanan, sifat hukuman pidana pada dasarnya bersifat kumulatif, diarahkan pada delik kejahatan serta pelanggaran. Tidak ada pembenaran bagi pengadilan untuk tidak menerapkan hukuman bagi kedua pidana, serta hakim juga tidak dapat memilih hukuman mana yang akan dijatuhkan namun hakim harus menjatuhkan hukuman utama dari keduanya.8

Namun pada kenyataannya, penegakan hukum di sektor perikanan khususnya di kawasan ZEEI yang didominasi oleh nelayan asing masih menghadapi tantangan yang cukup berat. Permasalahan ini berkorelasi pada penerapan Pasal 102 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 perubahan atas

7 Yudi Dharma, 2015, Tinjauan Tentang Penegakan Hukum Tindak Pidana Penangkapan

Ikan Secara Illegal (Illegal Fishing) Di Wilayah Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, Naskah Publikasi Jurnal, hal. 19

8 Ibid.

(5)

Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 mengenai Perikanan di mana pada pasal tersebut termuat:

”Ketentuan tentang pidana penjara dalam undang-undang ini tidak berlaku bagi tindak pidana di bidang perikanan yang terjadi di wilayah perikanan RI sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 5 (1) huruf b, kecuali telah ada perjanjian antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Negara yang bersangkutan”.

Jika tersangka warga negara asing ditangkap, namun Negara Indonesia belum memiliki perjanjian dengan negara asalnya, tersangka tidak dapat di hukum penjara. Pada tanggal 31 Desember 1985, Indonesia meratifikasi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982 dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985. Dalam interpretasinya, disebutkan bahwa Konvensi PBB tentang Hukum Laut lebih lengkap dari pada Konvensi Jenewa mengenai Hukum Laut tahun 1958. Salah satunya yakni kemunculan rezim hukum baru, Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang diabadikan dalam Bagian V UNCLOS.9

Salah satu aturan terkait ZEE yang menarik bagi penulis yakni larangan

“penjara” (imprisonment) serta “hukuman badan” (corporal punishment) terhadap

orang asing yang melakukan tindak pidana penangkapan ikan selama tidak ada perjanjian mengenai hal itu antara pemerintah negara pesisir dengan negara asal pelaku tindak pidana yang diatur dalam Pasal 73 ayat (3) Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut 1982 yang kemudian disahkan menjadi

9https://kanggurumalas.com/2017/05/04/meluruskan-kembali-konsep-penjatuhan-pidana- kurungan-pengganti-denda-dalam-tindak-pidana-perikanan-di-indonesia/ terakhir diakses pada 23 Maret 2022 Pukul 15:45 WIB

(6)

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 mengenai Pengesahan UNCLOS, yang menyatakan:10

“Hukuman Negara Pantai yang dijatuhkan terhadap pelanggaran Peraturan Perundang-undangan perikanan di ZEEI tidak boleh mencakup penjara, jika tidak ada perjanjian sebaliknya antara negara-negara yang bersangkutan, atau setiap bentuk hukuman badan lainnya.”

Aturan ini kemudian diwujudkan pada peraturan perundang-undangan nasional, yakni Pasal 102 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 jo. Undang- Undang Perikanan Nomor 45 Tahun 2009 (Undang-Undang Perikanan), yang tidak menjatuhkan pidana penjara atas pelanggaran perikanan yang dilakukan di wilayah ZEEI kecuali Pemerintah Indonesia telah mencapai kesepakatan dengan Pemerintah negara asal pelaku.11 Namun masih banyak perbedaan pendapat dari beberapa hakim dalam putusan pengadilan yang beranggapan bahwasannya pidana kurungan pengganti denda tersebut dapat diterapkan dan juga ada yang beranggapan tidak dapat diterapkannya pidana kurungan pengganti denda tersebut dengan alasan pidana kurungan pengganti denda ini termasuk pada penafsiran dari kata imprisonment dan corporal punishment pada UNCLOS 1982.

Penerapan pidana lainnya terhadap pelaku tindak pidana illegal fishing ini yaitu dengan cara penenggelaman serta peledakan kapal asing yang dilaksanakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tanpa melalui persidangan ialah kewenangan negara yang berlandaskan pada Pasal 69 Ayat (4) Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Mengenai Perikanan yang menyatakan:

10 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan UNCLOS

11 Ibid.

(7)

“Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) penyidik dan/atau pengawas perikanan dapat melakukan tindakan khusus berupa pembakaran dan/atau penenggelaman kapal perikanan yang berbendera asing berdasarkan bukti permulaan yang cukup.”12

Berdasarkan pada kasus tindak pidana penangkapan ikan yang terjadi di Wilayah Perairan Indonesia tahun 2020 yang mana sudah ditetapkan pada putusan Pengadilan Negeri Tanjungpinang Nomor 22/Pid.Sus-Prk/2020/PN Tpg terdakwa bernama Nguyen Van Phung selaku Nahkoda Kapal KM. BD 30919 TS yang merupakan kapal asing penangkap ikan yang berasal dari Vietnam telah terbukti secara sah melakukan tindak pidana penangkapan ikan. Pada hari senin tanggal 20 April 2020 sekitar pukul 06.57 WIB atau selambat-lambatnya pada bulan April tahun 2020, berlokasi di Perairan WPP NRI ZEEI Laut Natuna Utara pada koordinat 03°45.730’ LU - 104° 46.629’ BT atau pada paling sedikit di suatu tempat di Perairan Yurisdiksi Nasional Indonesia melakukan kegiatan penangkapan ikan melaluipenerapan alat tangkap bouke ami atau jaring cumi yang dioperasikan melalui 1 (satu) kapal.

Pada saat saksi Idil Ardiansyah, A.Md. Pi memeriksa diketahui bahwa Kapal KM. BD 30919 TS yang di nahkodai oleh terdakwa sedang melakukan kegiatan penangkapan ikan secara illegal dan tanpa dilengkapi dokumen-dokumen yang sah dari Pemerintah Indonesia yaitu terdakwa tidak memiliki SIPI (Surat Izin Penangkapan Ikan) selain itu juga ditemukan cumi-cumi kurang lebih 20 Kg dan ikan campur kurang lebih 5 Kg.Oleh karena perbuatannya tersebut, terdakwa Nguyen Van Phung dijatuhi pidana denda sebesar Rp. 150.000.000 (seratus lima puluh juta rupiah) karena terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan

12 Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan

(8)

tindak pidana penangkapan ikan dan apabila pidana denda tersebut tidak dibayarkan maka diganti dengan denda pidana kurungan selama 3 (tiga) bulan.13

Perbuatan Terdakwa pada putusan tersebut sebagaimana termuat pada Pasal 93 ayat (2) Jo Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Nomor 45 tahun 2009 mengenai Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004, serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan. Selanjutnya amar dalam Putusan Pengadilan Negeri Tanjungpinang Nomor 22/Pid.Sus- Prk/2020/PN Tpg ini yaitu:

1. Menyatakan Terdakwa Nguyen Van Phung telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Mengoperasikan Kapal penangkapan ikan berbendera Asing melakukan penangkapan ikan di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia yang tidak memiliki Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI)” sebagaimana dalam dakwaan kedua Penuntut Umum;

2. Menjatuhkan pidana bagi Terdakwa dengan denda sejumlah Rp.

150.000.000,- (Seratus Lima Puluh Juta Rupiah) serta diganti dengan denda pidana kurungan selama 3 (tiga) bulan jika pidana denda tersebut tidak dibayarkan;

3. Memerintahkan barang bukti berupa:

- 1 (satu) Unit Kapal KM. BD 30919 TS.

- 1 (satu) Unit alat tangkap jaring cumi;

- 1 (satu) Unit GPS Navigator HGP 358 A;

- 1 (satu) Unit kompas express;

- 1 (satu) Unit Radio ICON IC-718;

- 1 (satu) Unit Radio Any Tone AT-708;

- ± 25 kg (Lebih kurang dua puluh lima kilogram) tangkapan cumi.

- ± 5 kg (Lebih kurang lima kilogram) tangkapan ikan.

- ± 1 Ton (satu ton) minyak solar Dirampas untuk dimusnahkan.

- 1 (satu) buah Bendera Vietnam Dikembalikan kepada Terdakwa.

13Putusan Pengadilan Negeri Tanjungpinang Nomor 22/Pid.Sus-PRK/2020/PN Tpg.

(9)

4. Membebani Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.

5000,- (lima ribu rupiah). 14

Berdasarkan putusan tersebut peneliti pada penelitian ini menerapkan pendekatan kasus (case approuch), dimana harus dipahami oleh peneliti yakni rasio decidendi, yaitu alasan-alasan hukum sebagai landasan keputusan hakim.15

Menurut Goodheart yang dikutip Peter Mahmud Marzuki mengemukakan rasio decidendi didapatkan melalui konsentrasi pada fakta materil. Fakta-fakta penting

ini perlu diperhatikan, karena baik hakim maupun para pihak akan mencari aturan hukum yang benar untuk diterapkan pada fakta-fakta tersebut. Ratio decidendi inilah yang memperlihatkan ilmu hukum merupakan ilmu yang preskriptif, bukan deskriptif. Adapun diktum merupakan sesuatu yang bersifat deskriptif. Oleh sebab itu, pendekatan kasus tidak berkorelasi pada diktum putusan pengadilan, melainkan pada ratio decidendim.16

Dari apa yang telah diutarakan di atas, aturan ini menjadi menarik bagi penulis sebab adanya kesulitan yang terkait dengan penerapannya pada kenyataan.

Hal ini berkorelasi pada kewenangan hakim guna menjatuhkan pidana kurungan pengganti denda, sebagaimana termuat pada Pasal 30 Ayat (2) KUHP, dalam hal orang asing melakukan tindak pidana perikanan di ZEEI yang akan diteliti penulis pada Putusan Pengadilan Perikanan Nomor 22/Pid.Sus-Prk/2020/PN Tpg.

14 Putusan Pengadilan Negeri Tanjungpinang Nomor 22/Pid.Sus-Prk/2020/PN Tpg

15Peter Mahmud Marzuki, 2017,Penelitian Hukum Edisi Revisi, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, hlm. 158

16 Ibid, hlm. 159

(10)

1.2. Rumusan Masalah

Berlandaskan pemaparan latar belakang diatas, maka penelitian ini mempunyai rumusan masalah yakni bagaimana dampak pidana kurungan pengganti pidana denda terhadap tindak pidana perikanan bagi warga negara asing di ZEEI dalam Putusan Pengadilan Perikanan No. 22/Pid.Sus-Prk/2020/PN Tpg?.

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis terkait bagaimana dampak penjatuhan pidana kurungan pengganti pidana denda terhadap tindak pidana perikanan bagi warga negara asing di ZEEI pada putusan Pengadilan Perikanan No. 22/Pid.Sus-Prk/2020/PN Tpg.

1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis yang akan dihasilkan dari temuan penelitian ini ialah guna memberikan masukan pemikiran serta diharapkan mampu menghasilkan wawasan ilmiah bagi pengembangan ilmu hukum dalam hukum pidana khususnya yang berkaitan dengan tindak pidana perikanan.

1.4.2. Manfaat Praktis

Penelitian ini pada hal praktis di harapkan dapat memberi manfaat dan wawasan ilmiah bagi mahasiswa, warga negara, pemerintah, dan penegak hukum untuk lebih memahami mengenai penegakan hukum dalam tindak pidana perikanan oleh nelayan asing.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini menghasilkan model yang dapat digunakan untuk memprediksi harga saham Apple Inc pada beberapa bursa efek, memberikan informasi tentang implementasi metode

"Penegakan Hukum Terhadap Warga Negara Asing Yang Melakukan Penangkapan Ikan Di Zeei Kalimantan Barat Ditinjau Dari Pasal 102 Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas