• Tidak ada hasil yang ditemukan

Realitas Problema dan Strategi Keberhasilan Kepemimpinan Ustman bin Affan

N/A
N/A
Farid Abdul

Academic year: 2024

Membagikan "Realitas Problema dan Strategi Keberhasilan Kepemimpinan Ustman bin Affan"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Realitas Problema dan Strategi Keberhasilan Kepemimpinan Ustman bin Affan

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah “ Sejarah Peradaban Islam I ” Dosen pengampu:

Dr. M. ALI ANWAR, M.Pd.I

Disusun oleh:

1. Adis Rahma Auliya ( 28 ) 2. Ahmad Zaed Anshori ( 17 ) 3. Binti Latifatul Magfiroh ( 34 )

4. M. Musta’in Mubarok ( 08 )

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIAH DAN ILMU KEGURUAN(FTIK) INSTITUT AGAMA ISLAM PANGERAN DIPONEGORO NGANJUK

(IAI PD) NGANJUK

November 2021

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan pada Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahNya, sehingga penulisan mengenai makalah yang berjudul “Realitas Problema dan Strategi Keberhasilan Kepemimpinan Ustman bin Affan ” ini dapat terselesaikan. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi agung Muhammad SAW yang mana beliau telah menuntun kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang yakni addinul islam.

Kami mengucapkan terima kasih kepada dewan guru yang telah membimbing akan keberhasilan makalah ini, dan kami menyadari masih terdapat kekurangan dalam makalah ini, sehingga saran dan kritik dari semua pihak turut kami harapkan.

Besar harapan kami, agar makalah ini dapat memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Peradaban Islam dan dapat bermanfa’at untuk semua, mohon maaf atas segala khilaf.

Nganjuk , 08 November 2021

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 2 DAFTAR ISI ... 3 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 4 B. Rumusan Masalah ... 4 C. Tujuan Penulisan ... 4

BAB II PEMBAHASAN

A. Problema yang terjadi pada masa khalifah Ustman bin Affan ... 5 B. Strategi keberhasilan kepemimpinan khalifah Ustman bin Affan ... 6

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ... 10

B.

Saran ... 10

DAFTAR PUSTAKA ... 11

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mempelajari dan memahami sejarah menjadi hal yang sangat penting di era dewasa ini, karena ada banyak pelajaran-pelaharan sejarah yang bisa diterapkan atau hanya untuk bahan pertimbangan untuk mengatur sebuah negara atau penerapan kepemimpinan. Oleh karenanya disini kami ulas sedikit mengenai sejarah kepemimpinan Khlaifah Ustman bin Affan dalam konteks konfik-konflik yang terjadi dan bagaimana strategi keberhasian kepemimpinan khalifah Ustman bin Affan guna mengambil pelajaran dari masa tersebut dan menambah wawasan.

B. Rumusan Masalah

1. Apa saja Problema yang terjadi pada masa kepemimpinan Khalifah Ustman bin Affan?

2. Bagaimana Strategi keberhasilan kepemimpinan Khalifah Ustman bin Affan?

C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui dan memahami Problema yang terjadi pada masa kepemimpinan Khalifah Ustman bin Affan.

2. Mengetahui dan memahami Strategi keberhasilan kepemimpinan Khalifah Ustman bin Affan.

(5)

BAB II PEMBAHASAN

A. Problema yang terjadi pada masa khalifah Ustman bin Affan

1. Konflik Antara Penduduk Kufah dengan Penduduk Syam Tahun ke 32 Hijriyah

Ketika Abdurrahman bin Rabi’ah gugur sebagai syahid, Said bin Al-Ash menginstruksikan kepada Salman bin Rabi’ah memegang bendera komando. Utsman bin Affan mengirimkan bantuan kepada mereka dari penduduk Syam di bawah pimpinan Hubaib bin Maslamah. Hubaib dan Salman pun berkonflik untuk mendapat kehormatan sebagai komandan tertinggi pasukan.

Penduduk Syam mengatakan, “ Kami bertekad untuk mengalahkan Salman.” Dalam menanggapi keadaan ini, maka orang-orang pun mengatakan, “Kalau begitu, demi Allah kami akan menyerang Hubaib dan memenjarakannya. Jika kalian enggan untuk berdamai, maka tentunya akan memakan banyak korban jiwa baik dari pasukan kalian maupun pasukan kami.” Hingga salah seorang prajurit dari pihak Kufah bernama Aus bin Maghra’

mengatakan, “Apabila kalian menyerang Salman, maka kami akan menyerang Hubaib pemimpin kalian, apabila kalian kembali pada Ibnu Affan, maka kami pun akan pergi, apabila kalian berbuat adil, maka benteng ini adalah benteng pemimpin kami dan ini adalah komandan brigade-brigade yang akan datang, kita semua adalah pejuang benteng ini dan kita adalah penjaganya agar kita siap melindungi semua benteng dan menjaganya.” Akhirnya, pasukan umat Islam pun berhasil mengendalikan dan menghindari fitnah yang sangat mungkin terjadi dengan pertolongan Allah, disamping eksistensi para pemimpin yang berkompeten seperti Hudzaifah bin Al-Yaman, yang bertugas memimpin pasukan perang dari penduduk Kufah. Ia menyerang benteng tersebut sebanyak tiga kali.

2. Tersebarnya Fitnah

Kufah adalah sumber pemberontakan utama dalam kekhalifahan para petinggi kota.

Banyak penduduk yang mengeluhkan pejabat-pejabat dan para petinggi kota. Mereka marah kepada Sa’ad bin Abi Waqqas, dan mereka menuduh Walid bin Uqbah meminum khamar.

Kemudian Utsman mengangkat Sa’id bin Al-Ash. Ketika sudah berada di Kufah, ia berkata kepada penduduk dalam sebuah khutbah, bahwa ia enggan memegang pimpinan itu, dan menyatakan bahwa bencana telah memperlihatkan sosoknya. Sa’id mulai mempelajari

(6)

keadaan Kufah serta keinginan penduduk, untuk mengetahui sumber penyakit itu. Sesudah keadaan yang sebenarnya diketahui ia menulis surat kepada Utsman melaporkan apa yang dilihatnya di kota itu dengan mengatakan: Keadaan penduduk Kufah sudah kacau-balau, dan sudah pula mempengaruhi orangorang terpandang dan terkemuka, dan kebanyakan penduduk kota itu terdiri dari pendatang baru, disusul oleh orang orang Arab pedalaman, sehingga tidak lagi mereka melihat orang terpandang atau pejuang.

Utsman meminta Sa’id bin Al-Ash mendahulukan para sahabat daripada penduduk Kufah yang lain. Dalam suratnya ia mengatakan: “Orang-orang lama yang sudah lebih dulu, yang sudah berjasa dan sudah membebaskan negeri itu. Hendaklah orangorang yang datang kesana dan yang lain mengikuti mereka, kecuali orang yang sudah meninggalkan kebenaran.

Jagalah kedudukan masing-masing dan berikanlah hak mereka semua dengan cara yang adil.

Dengan cara mengenal orang, keadilan bisa terpenuhi.

3. Kemarahan Penduduk Kufah Kepada Para Pejabat

Begitu juga khotbah kepada penduduk Madinah, dengan memberitahukan keadaan di Kufah serta mengingatkan mereka akan timbulnya bencana. Ia menawarkan kepada mereka untuk memindahkan rampasan perang mereka kemana saja mereka tinggal di negeri Arab.

Penduduk Madinah menyambut baik tawaran itu dengan mengatakan: “Bagaimana kami memindahkan tanah yang sudah kami peroleh? “Mereka yang di Hijaz, di Yaman dan di tempat-tempat lain dengan cara menjualnya kalau mau.” Mereka tampak gembira, Allah telah membukakan jalan buat mereka, di luar dugaan mereka.

4. Khalifah Utsman Bin Affan Menukar Rampasan Perang

Sekelompok muslimin yang mempunyai kekayaan besar di Hijaz. Dengan harta itu mereka membeli tanah di Irak yang terkenal subur. Banyak orang kaya raya yang menimbulkan kemarahan orang-orang Arab yang dulu tinggal di beberapa kota Irak. Mereka makin benci kepada Utsman dan pejabat-pejabatnya karena mereka tidak mendapat bagian rampasan perang. Mereka menuntut kepada Khalifah agar jangan memberikan rampasan perang itu selain kepada mereka yang memperolehnya sendiri dalam perang. Begitu juga banyak penduduk kota-kota lain dalam kawasan Islam yang memperlihatkan ketidak senangan mereka terhadap kebijakan Utsman.

(7)

B. Strategi keberhasilan kepemimpinan khalifah Ustman bin Affan

Usman ibn ‘Affan –ibn Abdillah ibn Umayah ibn ‘Syms ibn Abdi Manaf ibn Qushayi.

Ibunya adalah ‘Urwah, putri Ummu Hakim al- Baidha, putrid Abdul Muttalib, nenek Nabi SAW. Dzu al-Nurain (julukan ini diberikan kepadanya karena Usman menikah dengan dua putri Rasulullah SAW, yaitu Roqayyah dan Ummi Kalsum) lahir pada 576 M di Taif.

Ayahnya ‘Affan adalah seorang saudagar kaya raya dari suku Quraisy-Umayah. Nasab Usman melalui garis ibunya bertemu dengan nasab Nabi Muhammad SAW pada Abdi Mannaf Ibn Qushayi. Kalau Usman bersambung melalui Umayah ibn Abdi Syams ibn Abdi Manaf, sedang Rasulullah melalui Abd alMutalib ibn Hasyim ibn Abdi Manaf.

Telah disebutkan bahwa menjelang wafatnya Umar, ia membuat tim formatur untuk memilih calon khalifah. Akhirnya Usman ibn ‘Affan (644-656 M) terpilih menjadi khalifah ke III dari Khulafa al-Rasyidin, pengganti umar. Dalam sebuah riwayat menyebutkan bahwa Abd al-Rahman ibn ‘Auf sebagai ketua tim pelaksanaan pemilihan khalifah, pasca wafatnya Umar ibn Khattab, berkata kepada Usman ibn ‘Affan di suatu tempat sebagai berikut: “Jika saya tidak membai’atmu (Usman), maka siapa yang kau usulkan ? Ia berkata, “Ali”.

Kemudian ia (Abd al-Rahman bin Auf) berkata kepada Ali, jika saya tidak membai’atmu, maka siapa yang kau usulkan untuk di bai’at? Ia berkata :, “Usman”. Kemudian Abd Rahman Bin Auf bermusyawarah dengan tokoh-tokoh lainnya, ternyata mayoritasnya lebih memilih Usman, sebagai khalifah.

Memperhatikan percakapan dari dua sahabat tersebut, maka tampaklah bahwa sesungguhnya Usman dan Ali tidak ambisius menjadi khalifah, justeru keduanya saling mempersilahkan untuk menentukan khalifah secara musyawarah.

a. Perluasan Islam dimasa Usman

1) Menumpas pendurhakaan dan pemberontakan

Daerah-daerah yang mendurhaka itu terutama ialah Khurasan dan Iskandariah.

Pemberontakan di Khurasan dicetuskan oleh pendukung-pendukung pemerintahan yang lama. Adapun kota Iskandariah telah diserang kembali oleh bangsa Romawi. Dikirimnya kesana tentara yang besar, dibawah pimpinan seorang panglima Armenia bernama Manuel (Syalabi, 1997: 270).

(8)

Pemberontakan-pemberontakan ini dapat ditumpas oleh Usman. Usman mengirimkan ke Khurasan dan ke Iskandariah tentara yang besar jumlahnya dengan perlengkapan yang cukup.

Bala tentara ini dapat menghancurkan kaum pemberontak, serta dapat mengembalikan keamanan dan ketentraman dalam daerah tersebut (Syalabi, 1997: 270).

2) Perluasan Islam

Perluasan Islam boleh dikatakan meliputi semua daerah yang telah dicapai balatentara Islam dimasa Umar. Perluasan ini dimasa Usman telah bertambah dengan perluasan ke laut.

Kaum muslimin telah mempunyai angkatan laut.

Pembangunan angkatan laut bermula dari adanya rencana Khalifah Ustman untuk mengirim pasukan ke Afrika, Mesir, Cyprus dan Konstatinopel Cyprus. Untuk sampai ke daerah tersebut harus melalui lautan. Oleh karena itu atas dasar usul Gubernur di daerah, Ustman pun menyetujui pembentukan armada laut yang dilengkapi dengan personil dan sarana yang memadai.

Pada saat itu, Mu’awiyah, Gubernur di Syiria harus menghadapi serangan-serangan Angkatan Laut Romawi di daerah-daerah pesisir provinsinya. Untuk itu, ia mengajukan permohonan kepada Khalifah Utsman untuk membangun angkatan laut dan dikabulkan oleh Khalifah. Sejak itu Muawiyah berhasil menyerbu Romawi.

Mengenai pembangunan armada itu sendiri, Muawiyah tidaklah membutuhkan tenaga asing sepenuhnya, karena bangsa Kopti, begitupun juga penduduk pantai Levant yang berdarah Punikia itu, ramai-ramai menyediakan dirinya untuk membuat dan memperkuat armada tersebut. Itulah pembangunan armada yang pertama dalam sejarah Dunia Islam.

Selain itu, Keberangkatan pasukan ke Cyprus yang melalui lautan, juga mendesak ummat Islam agar membangun armada angkatan laut. Pada saat itu, pasukan di pimpin oleh Abdullah bin Qusay Al-Harisy yang ditunjuk sebagai Amirul Bahr atau panglima Angkatan Laut.

Istilah ini kemudian diganti menjadi Admiral atau Laksamana. Ketika sampai di Amuria dan Cyprus pasukan Islam mendapat perlawanan yang sengit, tetapi semuanya dapat diatasi hingga sampai di kota Konstatinopel dapat dikuasai pula.

Di samping itu, serangan yang dilakukan oleh bangsa Romawi ke Mesir melalui laut juga memaksa ummat Islam agar segara mendirikan angkatan laut. Bahkan pada tahun 646 M, bangsa Romawi telah menduduki Alexandria dengan penyerangan dari laut. Penyerangan itu mengakibatkan jatuhya Mesir ke tangan kekuasan bangsa Romawi. Atas perintah Khalifah

(9)

Ustman, Amr bin Ash dapat mengalahkan bala tentara bangsa Romawi dengan armada laut yang besar pada tahun 651 M di Mesir.

Berawal dari sinilah Khalifah Ustman bin Affan perlu diingat sebagai Khalifah pertama kali yang mempunyai angkatan laut yang cukup tangguh dan dapat membahayakan kekuatan lawan.

3) Pendewanan Mushaf Usmani

Penyebaran Islam bertambah luas dan para Qori‘ pun tersebar di berbagai daerah, sehinga perbedaan bacaan pun terjadi yang diakibatkan berbedanya qiro‘at dari qori‘ yang sampai pada mereka. Sebagian orang Muslim merasa puas karena perbedaan tersebut disandarkan pada Rasullullah SAW. Tetapi keadaan demikian bukan berarti tidak menimbulkan keraguan kepada generasi berikutnya yang tidak secara langsung bertemu Rasullullah.

Ketika terjadi perang di Armenia dan Azarbaijan dengan penduduk Irak, diantara orang yang ikut menyerbu kedua tempat tersebut adalah Hudzaifah bin Aliaman. Ia melihat banyak perbedaan dalam cara membaca Al-Qur‘an. Sebagian bacaan itu tercampur dengan kesalahan tetapi masing-masing berbekal dan mempertahankan bacaannya. Bahkan mereka saling mengkafirkan. Melihat hal tersebut beliau melaporkannya kepada Khalifah Ustman. Para sahabat amat khawatir kalau perbedaan tersebut akan membawa perpecahan dan penyimpangan pada kaum muslimin. Mereka sepakat menyalini lembaran pertama yang telah di lakukan oleh Khalifah Abu Bakar yang disimpan oleh istri Rasulullah, Siti Hafsah dan menyatukan umat Islam dengan satu bacaan yang tetap pada satu huruf.

Selanjutnya Ustman mengirim surat pada Hafsah yang isinya kirimkanlah pada kami lembaran-lembaran yang bertuliskan Al-Qur‘an, kami akan menyalinnya dalam bentuk mushaf dan setelah selesai akan kami kembalikan kepada anda. Kemudian Hafsah mengirimkannya kepada Ustman. Ustman memerintahkan para sahabat yang antara lain: Zaid Ibn Tsabit, Abdullah Ibn Zubair, Sa‘ad Ibn Al- ‘Ash dan Abdurahman Ibnu Harist Ibn Hisyam, untuk menyalin mushaf yang telah dipinjam. Khalifah Ustman berpesan kepada kaum Quraisy bila anda berbeda pendapat tentang hal Al-Qur‘an maka tulislah dengan ucapan lisan Quraisy karena Al-Qur‘an diturunkan di kaum Quraisy. Setelah mereka menyalin ke dalam beberapa mushaf Khalifah Ustman mengembalikan lembaran mushaf asli kepada Hafsah. Selanjutnya ia menyebarkan mushaf yang yang telah di salinnya ke seluruh daerah dan memerintahkan agar semua bentuk lembaran mushaf yang lain dibakar.

(10)

Al-Mushaf ditulis lima buah, empat buah dikirimkan ke daerah-daerah Islam supaya disalin kembali dan supaya dipedomani, satu buah disimpan di Madinah untuk Khalifah Ustman sendiri dan mushaf ini disebut mushaf Al-Imam dan dikenal dengan mushaf Ustmani.

Jadi langkah pengumpulan mushaf ini merupakan salah satu langkah strategis yang dilakukan Khalifah Ustman bin Affan yakni dengan meneruskan jejak Khalifah pendahulunya untuk menyusun dan mengkodifikasikan ayat-ayat al-Qur an dalam sebuah mushaf. Karena selama pemerintahan Ustman, banyak sekali bacaan dan versi alQur’an di berbagai wilayah kekuasaan Islam yang disesuaikan dengan bahasa daerah masing- masing.

Dengan dibantu oleh Zaid bin Tsabit dan sahabat-sahabat yang lain, Khalifah berusaha menghimpun kembali ayat-ayat al-Qur’an yang outentik berdasarkan salinan Kitab Suci yang terdapat pada Siti Hafsah, salah seorang isteri Nabi yang telah dicek kembali oleh para ahli dan huffadz dari berbagai kabilah yang sebelumnya telah dikumpulkan.

Keinginan Khalifah Ustman agar kitab al-Qur’an tidak mempunyai banyak versi bacaan dan bentuknya tercapai setelah kitab yang berdasarkan pada dialek masingmasing.

kabilah semua dibakar, dan yang tersisa hanyalah mushaf yang telah disesuaikan dengan naskah al-Qur’an aslinya. Hal tersebut sesuai dengan keinginan Nabi Muhammad SAW yang menghendaki adanya penyusunan al-Qur’an secara standar.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa motif pengumpulan mushaf oleh Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Ustman berbeda. Pengumpulam mushaf yang dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar dikarenakan adanya kekhawatiran akan hilangnya Al-Qur‘an karena banyak huffadz yang meninggal karena peperangan, sedangkan motif Khalifah Ustman karena banyaknya perbedaan bacaan yang dikhawatirkan timbul perbedaan.1

(11)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

 Problema yang terjadi pada masa khalifah Ustman bin Affan

1. Konflik Antara Penduduk Kufah dengan Penduduk Syam Tahun ke 32 Hijriyah 2. Tersebarnya Fitnah

3. Kemarahan Penduduk Kufah Kepada Para Pejabat 4. Khalifah Utsman Bin Affan Menukar Rampasan Perang

 Strategi keberhasian kepemimpinan Khlaifah Ustman bin Affan 1. Menumpas pendurhakaan dan pemberontakan

2. Perluasan daerah islam 3. Pendewanan Mushaf Usmani B. Saran

Dikarenakan amat pentingnya mempelajari dan memahami sejarah, diharapkan makalah ini mampu menjadi referensi untuk menggali ilmu tentang sejarah Khalifah Ustman bin Affan, sangat disarankan untuk menambah referensi dengan membaca buku-buku sejarah yang lain.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Tom, 1994. Tujuh Teori Sosial: Sketsa, Penilaian, Perbandingan, Yogyakarta : Kanisius.

Syauqi,Abrari, dkk. 2016. Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta: ASWAJA PRESSINDO.

Referensi

Dokumen terkait