REKONSTRUKSI SISTEM KELEMBAGAAN PEMERIKSA KEUANGAN NEGARA UNTUK OPTIMALISASI PENANGGULANGAN KERUGIAN
NEGARA
RECONSTRUCTION OF THE NATIONAL FINANCIAL AUDIT INSTITUTIONAL SYSTEM FOR OPTIMIZING STATE LOSS MITIGATION
1Muhammad Padol 2Radian Salman
Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Airlangga
Jl. Dharmawangsa Dalam Selatan, Airlangga, Kec. Gubeng, Surabaya, Jawa Timur 60286
1[email protected] 2[email protected]
Abstract
This article aims to establish a better institutional system for the national financial audit as part of the government's efforts to create a clean state free from financial abuse and corruption. Normatively, the Supreme Audit Agency (BPK) plays a crucial role based on Article 23 paragraph (5) of the 1945 Constitution. However, its singular existence changed after the formation of the Audit Board of the Republic of Indonesia (BPKP) through Presidential Regulation Number 192 of 2014, which became part of the Government Internal Supervisory Apparatus. From these normative issues arose a controversial case involving land procurement for a Palm Oil Plantation in Southwest Aceh, resulting in a dualistic determination of state losses between BPK and BPKP. The novelty of this article, compared to existing ones, lies in its reinforced analysis through comparisons with financial supervisory institutions in Japan (Board of Audit), the United States (GAO), and Australia (ANAO). The research employs a normative legal research method to examine principles and norms in positive law. It utilizes statutory, conceptual, and comparative approaches. In the context of financial oversight in Indonesia, both external and internal supervisory institutions, such as BPK and BPKP, play a vital role in ensuring efficiency, transparency, and accountability in financial management. Despite differences in regulatory foundations, appointment systems, and
P-ISSN: 2615-3416 E-ISSN: 2615-7845
Jurnal Hukum
SAMUDRA KEADILAN
Editorial Office : Jl. Prof. Syarief Thayeb, Meurandeh, Kota Langsa – Aceh Email : [email protected]
Website : https://ejurnalunsam.id/index.php/jhsk
follow-up mechanisms among BPK, the Board of Audit, GAO, and ANAO, all of them have important roles in ensuring proper financial management. Additionally, the article proposes an alternative model for appointing members of the Republic of Indonesia Financial Audit Board (BPKRI) based on the experience of the U.S. GAO.
This mechanism includes forming a commission comprising legislative, executive, and academic representatives to recommend BPK member candidates, aiming to enhance the independence of financial supervisory institutions in Indonesia
Keywords: Reconstruction, Institutional, State Financial Audit
Abstrak
Artikel ini bertujuan untuk menciptakan suatu sistem kelembagaan pemeriksa keuangan negara yang lebih baik, sebagai upaya yang ditempuh pemerintah untuk menciptakan negara bersih dari penyalahgunaan keuangan dan korupsi. Permasalahan secara normatif BPK dengan landasan Pasal 23 ayat (5) UUD 1945 memiliki peran yang sangat penting, keberadaannya tidak lagi tunggal setelah pembentukan BPKP dengan Peraturan Presiden Nomor 192 Tahun 2014, yang menjadi bagian dari Aparatur Inspektorat Internal Pemerintah. Dari permasalahan normative tersebut melahirkan Kasus kontroversial dalam pengadaan lahan untuk Pabrik Kelapa Sawit di Aceh Barat Daya terjadi dualisme dalam penentuan kerugian negara antara BPK dan BPKP. Kebaharuan artikel ini dibandingkan artikel yang sudah ada adalah kajiannya diperkuat dengan perbandingkan terhadap lembaga pengawas keuangan di Jepang (Board of Audit), Amerika Serikat (GAO), dan Australia (ANAO). Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif untuk mengkaji kaidah-kaidah dan norma-norma dalam hukum positif. Dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan (Statuta Approach), pendekatan konseptual (Conceptual Approach) dan Pendekatan Perbandingan (comparative approach). Adapun hasil dari penelitian ini dalam konteks pengawasan keuangan negara di Indonesia lembaga pengawas eksternal dan internal, seperti BPK dan BPKP, memiliki peran vital dalam memastikan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan negara. Meskipun terdapat perbedaan dalam dasar pengaturan, sistem pengisian jabatan, dan mekanisme tindak lanjut hasil pemeriksaan antara BPK, Board of Audit , GAO dan ANAO.
Kesemuanya memiliki peran penting dalam memastikan pengelolaan keuangan negara sesuai dengan apa yang telah ditetapkan. Selain itu, artikel mengusulkan model alternatif pengisian jabatan anggota BPKRI berdasarkan pengalaman GAO Amerika Serikat. Mekanisme tersebut mencakup pembentukan komisi yang terdiri dari perwakilan legislatif, eksekutif, dan akademisi untuk merekomendasikan calon anggota BPK. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan independensi lembaga pengawas keuangan di Indonesia.
Kata kunci: Rekonstruksi, Kelembagaan, Pemeriksa Keuangan Negara
PENDAHULUAN
Indonesia secara formal adalah sebuah negara yang memiliki kedaulatan untuk mengatur pemerintahannya sendiri dengan berbagai tujuan yang ingin dicapai. Alinea keempat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) memberikan konsepsi dalam penyelenggaraan negara Indonesia dengan tujuan utama melindungi semua warga Indonesia dan meningkatkan kesejahteraan umum serta mencerdasakan kehidupan bangsa. Sehingga tidak berlebihan apabila keuangan dijadikan komponen paling penting untuk menjalankan pemerintahan dengan baik dan mencapai tujuan bernegara.
Upaya pemerintah untuk mewujudkan penyelenggaraan negara yang bersih dari penyalahgunaan keuangan negara atau bahkan dari tidakan korupsi Diperlukan keberadaan sebuah lembaga negara yang memiliki peran untuk mengawasi kinerja aparat dalam mengelola keuangan yang bersumber dari keuangan negara agar sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan. Pengelolaan
keuangan negara adalah segala aktivitas yang menyangkut tentang tanggungjawab dan kewenangan ikhwal pemanfaatan keuangan negara mulai dari perencanaan sampai dengan pelaporan hasil.1
Pasal 23 ayat (5) UUD Tahun 1945 sebelum mengalami perubahan menyatakan bahwa ikhwal pemeriksaan terhadap pertanggungjawaban terkait Keuangan Negara, ada pembentukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang pengaturan lebih lanjutnya di dalam Undang-Undang. Hasil pemeriksaan tersebut kemudian disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).
Setelah itu, timbuk cita-cita untuk meningkatkan efektivitas Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sejalandengan amanat yang tercantum dalam Ambeg Parama Arta yang merupakan suatu Deklarasi Ekonomi, hal ini juga menjadi selaras dengan Ketetapan MPRS No. 11/MPRS/1960, dan resolusi MPRS No. 1/Res/MPRS/1963. Dari deretan komitmen tersebut maka tanggal 12 Oktober 1963, Pemerintah mengesahkan suatu dasar hukum yang jelas yakni Perpu No. 7 Tahun 1963, dari Perpu tu kemudian muncul Undang-Undang Darurat No. 6 Tahun 1964 tentang Badan Pemeriksa Keuangan Gaya Baru, dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja BPK. Pada era reformasi, BPK mendapatkan dukungan konstitusi dari Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) dukungan MPR tersebut diejawantahkan dalam sidang MPR tahun 2002 yang mana memberikan landasan konstitusional kepada BPK untuk memegang peran begai satu satunya pengawas eksternal keuangan negara yang berperan secara independen dan profesional. TAP MPR Nomor VI/MPR/2002 dikeluarkan untuk menegaskan kembali peran tersebut.2
Pasca perubahan UUD 1945, pengaturan BPK terdapat dalam Bab VIII A, Pasal 23 E, Pasal 23 F, dan Pasal 23 G. Dalam Pasal 23E ayat (1) ditegaskan bahwa “Menimbang kembali pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara, lembaga audit keuangan negara yang independen dan mandiri.
kewenangan yang dimiliki BPK untuk melakukan pemeriksaan dan pengelolaan serta pertanggungjawaban keuangan negara merupakan kewenangan yang bersember langsung dari UUD 1945 selanjutnya dipertegas dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan.3
Selain BPK, lembaga ini memiliki kewenangan untuk mengevaluasi dan membuat keputusan terkait dengan kerugian keuangan negara. Menurut Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan, Pasal 20 ayat (4), disebutkan bahwa terdapat lembaga pengawas internal Pemerintah yang memiliki hak untuk menentukan kerugian keuangan negara. Badan Pemeriksa Keuangan dan Pengembangan (BPKP) juga memiliki kewenangan selain BPK, untuk mengidentifikasi dan menilai kerugian keuangan negara. Dengan demikian, eksistensi lembaga tunggal yang memiliki kewengan untuk menetapakan kerugian negara yankni BPK sudah tergerus dengan munculnya BPKP, karena tugas dan fungsi BPKP sejalan dengan tugas dan fungsi BPK.
Pembentukan BPKP merujuk kepada Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 yang realisasinya dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 192 Tahun 2014 yang mana kedua aturan hukum tersebut menjadi landasan dasar dalam memposisikan BPKP sebagai bagian dari Aparatur Inspektorat Internal Pemerintah (APIP) bisa menjalankan tugas selayaknya tugas BPK, yaitu menghitung kerugian keuangan negara, namun hanya dalam ruang lingkup intrapemerintahan.
1 BPK RI, Mengenal Lebih Dekat BPK Sebuah Paduan Populer (Jakarta: Biro Humas dan Luar Negeri BPK RI, 2017). hlm. 5.
2 BPK RI, “Sejarah BPK RI,” n.d, https://www.bpk.go.id/menu/sejarah. diakses pada tanggal 22 september 2023.
3 Rizki Ramadani, “Lembaga Negara Independen Di Indonesia Dalam Perspektif Konsep Independent Regulatory Agencies,” Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, Vol. 27, no. 1 : (2020). hlm. 172.
Terbentuknya BPKP tidak hanya mengakibatkan kehilangan kredibilitas peran BPK.
Keberadaan BPKP juga berimplikasi terhadap dualisme lembaga yang dapat menentukan besaran ganti kerugian keuangan negara yang berpotensi menimbulkan konflik kewenangan, dapat menyulut kontroversi, dan dapat menjadi permasalahan dalam penegakan hukum terutapan korupsi.
Penyebabnya, korupsi pada dasarnya tidak dapat dihindari. Upaya pemberantasan korupsi tidak hanya terbatas pada penegakan hukuman terhadap pelaku korupsi untuk menciptakan efek jera, tetapi juga melibatkan pemulihan kerugian keuangan negara sebagai tujuan dalam menangani kasus korupsi.4
Dualisme tersebut dapat terlihat pada kasus di Desa Lhok Gayo Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) yang berkaitan dengan Pengadaan Lahan untuk Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Dalam sidang pertama di Pengadilan Korupsi Banda Aceh pada 6 Juli 2015, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyajikan dakwaan yang menduga bahwa kasus pengadaan lahan untuk PKS Abdya menyebabkan kerugian negara yang diduga mencapai total tujuhratus enampuluh juta rupiah. Penyidik menentukan kerugian keuangan ini didasarkan pada hasil audit yang dilakukan oleh BPKP Aceh, dengan nomor SR-2195/PW.01/5/2013 dan tanggal 1 November 2013. Menariknya, dalam lain sisi hasil audit BPK malah bertolak belakang dengan hasil audit BPKP, yang menyatakan ketiadaan kerugian negara dalam pengadaan lahan untuk PKS Abdya. Dalam laporan hasil auditnya BPK menyatakan bahwa tindakan yang dilakukan oleh BUpati Abya tidaklah menyebabkan negara mengalami kerugian melainkan hanya terjadi ketidak sempurnaan administrasi yang mana pemerintah daerah harus mendaftarkan hak atas tanah tersebut.5
Kasus ini menyebabkan implementasi Pasal 6 huruf a dan penjelasan UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dianggap tidak mematuhi konstitusi dan prinsip kepastian hukum Hal itu terjadi dikarenakan KPK yang dalam menetapkan Bupati Kabupaten Abdya sebagai tersangka tidaklah meminta pemeriksaan kerugian negarakepada BPK terlebih dahulu, padahal BPK seharusnya bersifat bebas dan independen, serta keberadaannya dijamin secara sah oleh UUD RI 1945.
Selain itu kita juga dihadapkan fakta bahwa BPK telah mengumumkan bahwa selama rentang waktu 2005 hingga 2021, kerugian negara/daerah telah ditetapkan sekitar Rp 4,16 triliun. Mayoritas kerugian berasal dari pemerintah daerah, mencapai angka Rp 3,15 triliun atau sekitar 76 persen dari total. Selama periode tersebut, penyelesaian kerugian dengan ansuran mencapai Rp391,05 miliar atau setara dengan 9 persen. Sementara itu, pelunasan mencapai Rp1,76 triliun atau sekitar 42 persen, dan penghapusan mencapai Rp114,17 miliar atau sekitar 3 persen. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat sisa kerugian sebesar Rp1,89 triliun atau sekitar 46 persen yang belum diselesaikan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, dan BUMN.6 Dari kedua fakta hukum diatas terlihat jelas masih adanya celah di dalam sistem kelembagaan pengawas keuangan negara di indonesia Oleh sebab itu perlu adanya suatu sistem hukum yang pasti agar pemanfaatan keuangan negara dapat dilakuakan dengan efektif dan efisien. Dengan latar belakang penjelasan di atas maka penulis akan membuat sebuah artikel yang berjudul “Rekonstruksi Sistem Kelembagaan Pemeriksa Keuangan Negara Untuk Optimalisasi Penanggulangan Kerugian Negara”. Dengan rumusan masalah bagaimana sistem pemeriksaan keuangan negara di Indonesia? Dan apa kerangka model alternatif dalam penguatan sistem pemeriksaan keuangan negara di Indonesia?. Dan adapun tujuan yang hendak
4 Mohd Din Runi Yasir, Faisal A Rani, “Kewenangan Menetapkan Kerugian Keuangan Negara Dalam Perkara
Tindak Pidana Korupsi,” Syiah Kuala Law Journal, Vol. 3, no. 2 (2019). hlm. 84.
5 Tabrani Yunis, “Kasus Lahan PKS Abdya, Menguji Kewenangan BPK vs BPK,” Kompasiana, 2015, https://www.kompasiana.com/anasdjabo/55f30503397b615819b7b1ce/kasus-lahan-pks-abdya-menguji-
kewenangan-bpk-vs-bpkp. diakses pada tanggal 1 Oktober 2023.
6 BPK RI, “Ini Jumlah Kerugian Negara/Daerah Sepanjang 2005 Sampai 2021,” 2022, https://wartapemeriksa.bpk.go.id/?p=33719. Diakses pada tanggal 10 November 2023
dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis sistem pemeriksaan keuangan negara di Indonesia, serta untuk mengetahui model alternatif dalam penguatan sistem pemeriksaan keuangan negara di Indonesia sebagai bahan perbaikan kedepannya.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian merupakan suatu komponen penentu dalam penulisan penclitan karya ilmiah yang dalam hal ini adalah sebagai komponen penulisan artikel jurnal,Jenis penelitian yang digunakan oleh penulis dalam artikel ini adalah penelitian hukum (legal research), adapun tipe penelitian yang dipilih dalam artikel ini adalah penelitian normatif yang mana lebig berfokus pada kajian terhdap kaidah-kaidan dan norma-norma yang berlaku dalam hukum positif. Penelitian hukum normatif dapat diartikan dengan penelitian yang meletakkan hukum sebagai sebuah bangunan sistem hukum yang dalam hal ini mencakup norma, asas-asas, kaidah dari peraturan perundang- undangan, perjanjian, putusan pengadilan, serta doktrin (ajaran).7 Berdasarkan tipe penelitian yang digunakan maka pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan perundang-undangan (Statuta Approach), pendekatan konseptual (Conceptual Approach)dan Pendekatan Perbandingan (comparative approach).
PEMBAHASAN
1. Sistem Kelembagaan Pemeriksa Keuangan Negara Di Indonesia
APIP yang juga dikenal sebagai Alat Pengawas Internal, berperan sebagai perpanjangan dari upaya pemerintah dalam mencegah dan melawan korupsi dalam berbagai sektor pemerintah. Definisi APIP menurut Pasal 1 angka 46 Undang-Undang No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah menyebutkan bahwa APIP terdiri dariunit pengawas internal pemerintah pusat maupun pemerintah daerah serta unit pengawas internal lembaga negara independen. Aturan terkait APIP juga diuraikan dalam Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara dan Peraturan Pemerintah No. 60 tahun 2008 yang mengatur Sistem Pengendalian Intern.
SPIP merupakan suatu proses terpadu yang secara berkesinambungan dilakukan oleh para pemimpin dan seluruh staf dengan tujuan memberikan keyakinan dalam mencapai target organisasi melalui operasi yang efektif dan efisien, pelaporan keuangan yang dapat diandalkan, perlindungan aset negara, serta kepatuhan terhadap persyaratan hukum. SPIP diterapkan secara menyeluruh, baik di lingkungan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Dalam konteks pemerintah daerah, hal ini melibatkan gubernur, bupati atau walikota, serta staf daerah sebagai komponen kunci dari administrasi pemerintah daerah. Pentingnya pengawasan terhadap seluruh aparat pemerintah dalam melakukan pengelolaan keuangan negara agar memastikan keuangan negara dapat dikelola dengan efektif dan efisian sesuai dengan tujuan utama yakni kesejahteraan rakyat. Adapun tujuan pembentukan SPIP adalh untuk memberikan jaminan terkait efektifitas dan efisiensi dalam pelaksanaan fungsi pemerintahan selain itu juga untuk memastikan keamanan dari aset negara atau daerah serta untuk menjamin aktivitas administrasi negara berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku.8
Pengaturan mengenai pemeriksaan keuangan oleh BPKP juga dijelaskan dalam Pasal 49 PP No.
60/2008 . Ketentuan tersebut menyebutkan bahwa BPKP menjadi bagain yang tidak terpisahkan dari SPIP bersama dengan perangkat laian. Sebagai upaya untuk menciptakan tata kelola keuangan negara yang efektif dan efisien, BPKP diberikan tanggung jawab untuk melakukan pemeriksaan akuntebelitas
7 Piter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum Edisi Revisi, 17th ed. (Jakarta: Kencana, 2022). hlm. 58-60
8 Roy Valiant Salomo Sensia Gibsi Omposunggu, “Analisis Pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah Di Indonesia,” Jurnal Ilmiah Administrasi Publik, Vol. 5, no. 1 (2019). hlm. 80-81.
laporan keuangan negara yang berkaitan dengan berbagai kegiatan. Baik dalam satu sektor maupun lintas sektor dan kegiatan yang dianggarkan oleh menteri keuangan sebagai bendahara umum negara, serta kegiatan laian yang merupakan penugasan langsung oleh presiden.
Kesejahteraan masyarakat dapat tercapai melalui pengejawantahan keuangan negara yang termasuk dalam APBN/APBD dapat diimplementasikan secara wajar sesuai dengan apa yang sudah ditetapkan dalam rencana pembangunan nasional. Agar pembangunan nasional dapat dilakukan dengan baik dan dirasakan langsung oleh masyarakat maka pengelolaan keuangan negara/daerah haruslah dilakukan dengan akuntebel, efektif, efisien dan bebas dari korupsi, dengan dasar pemikiran untuk mencapai pembangunan nasional yang baik dan implementasi keuangan yang efektif dan efisian maka presiden memerlukan bentuk pemeriksa keuangan internal pemerintah.9 Oleh karena itu, dalam Peraturan Presiden No. 192 tahun 2014 tentang Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, wewenang BPKP dijelaskan dalam Pasal 2 dan Pasal 3. Tujuan dari wewenang tersebut adalah untuk meningkatkan efektivitas pengawasan intern dan peningkatan kualitas sistem pengendalian intern.
Dalam Pasal 2 Perpres BPKP, ditegaskan bahwa BPKP dilekatkan tanggung jawab untuk melakukan pengawasan terhadap keuangan negara dan daerah serta termasukjuga untuk mengawal pembangunan. Selanjutnya, pada Pasal 3 huruf e menjelaskan bahwa BPKP memiliki tugas untuk mengawasi perencanaan dan pelaksanaan atas rencana tersebut dalam hal ini juga mengawasi potensi akan adanya hambatan pelaksanaan program, memeriksa kesesuaian harga berdasarkan nilai harga satuan yang telah ditentukan, melakukan penyelidikan atas dugaan penyimpangan yang mengarah kepada kerugian negara dan atau daerah, BPKP juga bisa memberikan keterangan ahli apabila diperlukan, dan mencegah akan terjadinya korupsi.
Kemudian, dalam Inpres No. 9/2014, pada poin ketiga dinyatakan: secara khusus memerintahkan Kepala BPKP untuk melaksanakan pemeriksaan keuangan negara/daerah dengan tujuan agar pelaksanaan pengelolaan keuangan negara/daerah dijalankan dengan akuntabel efektif dan efisian. Dalam hal ini termasuk juga untuk melakukan upaya-upaya yang dapat berdampak pada meningkatnya pendapatan negara/daerah, namun tidak terbatas pada itu saja BPKP juga diperintahkan untuk melakukan pemeriksaan investigatif terhadap dugaan-dugaan penyalahgunaan keuangan negara/daerah sebagai lamgkah preventif agar terhindar dari kerugian negara.
Tanggung jawab untuk mengelola keuangan negara merupakan bagian integral dari tugas pemerintah, sebab hal ini menjadi kewajiban konstitusional pemerintah dalam memenuhi komitmen dan tugas negara, sebagaimana dijelaskan dalam alinea keempat pembukaan UUD RI tahun 1945.10 Secara konstitusional, BPK bertanggung jawab untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara, sebagaimana yang diatur dalam Pasal 23 E ayat (1) UUD RI 1945 yang pada intinya menyatakan bahwa untuk melakukan pemeriksaan pengelolaan dan tanggugjawab keuangan negara maka dibentuk satu badan pemeriksa keuangan yang harus bersifat independen." Independen di sini mengacu pada tindakan yang diambil oleh BPK harus bebas dalam menggabil langkah tertentu dalam hal melaksanakan tugasnya memeriksa keuangan negara, dengan catatan tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku. Selain itu, independensi BPK juga mencerminkan bahwa BPK dalam menjalankan tugas dan kewenangan untuk memeriksa keuangan negara juga harus bebas dari intervensi berbagai pihak baik itu eksekutif, legislatif, yudisial dan internal BPK itu sendiri.11
9 Beni Kurnia Illahi dan Muhammad Ikhsan Alia, “Pertanggungjawaban Pengelolaan Keuangan Negara Melalui
Kerja Sama BPK Dan KPK,” Integritas, Vol. 3, no. 2 (2017). hlm. 57.
10 W. Ryawan Tjandra, Hukum Keuangan Negara (Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia, 2014). hlm. 18.
11M. Thalib dkk, “Analisis Kewenangan Badan Pemeriksa Keuangan Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Berdasarkan Peraturan Perundang–Undangan,” Limbago Constitunional Law Journal, Vol. 2, no. 1 (2022). hlm.
37.
Pasal 6 dan Pasal 9 UU No. 15/2006 telah mengatur tugas dan kewenangan yang melakat pada BPK. Tugas-tugas secara penuh tanpa intervensi untuk melaksanakan kegiatan pemeriksaan dalam berbagai tingkatan pemerintahan dari tingkat pusat hingga daerah serta terhadap badan dan lembaga negara lain dalam kegiatannya masih bersumber dari uang negara dalam hal ini juga termasuk BUMN dan BUMD yang modalnya berasal dari uang negara agar pengelolaanya tidak menyimpang dari tujuan yang telah ditetapkan. Pemeriksaan BPK mencakup audit keuangan, audit kinerja, dan audit tujuan khusus.
BPK secara legitimasi dapat menunjukkan otonomi dan independensi selama tiga tahapan proses pemeriksaan yakni proses perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil pemeriksaan.
Kebebasan dalam tahapan tersebut memungkinkan BPK untuk memilih subjek pemeriksaan, kecuali jika subjek tersebut diatur secara khusus oleh hukum atau berdasarkan permintaan tertentu dari DPR.
Sebagai lembaga indepanden BPK dalam menjalankan tugasnya tidaklah tunduk terhadap saran dari DPR saran tersebut hanya dijadikan bahan pertimbangan namun keputusan tetap bera di tangan BPK.
Dalam menjalankan tugasnya BPK juga mendengarkan saran dari berbagi pihak baik masyarakat, lembaga publik termasuk lembaga independen yang didirikan untuk melawan korupsi, kolusi, dan nepotisme.12
Dalam proses pemeriksaan pengelolaan keuangan dan kewajiban keuangan Negara, wewenang yang terlibat mencakup tiga jenis pemeriksaan yang berbeda:
a. Audit keuangan melibatkan pemeriksaan laporan keuangan yang disusun oleh Kepala Daerah untuk menilai kewajaran yang disajikan dalam laporan. Intinya dalam audit ini BPK melihat apakah alokasi sudah wajar sesui dengan standar harga yang ada atau tidak.
b. Audit kinerja berfokus pada penilaian pengelolaan keuangan negara, termasuk pemeriksaan aspek ekonomi, efisiensi, dan efektivitas. Pada intinya dalam audit ini memastikan apakah tujuan penganggaran susah sesuai dengan yang seharusnya atau tidak. Pada tahap ini, BPK mengidentifikasi temuan yang selanjutnya disertai dengan rekomendasi penyelesaian.
c. Audit khusus terkait dengan pemeriksaan di luar cakupan poin 1 dan 2. Kategori ini mencakup audit investigasi dalam rangka membantu penegak hukum apabila diperlukan.13
Ketika melakukan kewenangannya untuk memeriksa laporan pengelolaan keuangan BPK memulai suatu dialog mengenai temuan pemeriksaan yang terkait dengan subjek yang sedang ditinjau, mengikuti standar pemeriksaan keuangan negara. Dialog ini memiliki peran penting karena mengkonfirmasi dan menjelaskan hasil pemeriksaan yang sebelumnya disampaikan oleh BPK kepada pihak yang sedang dinilai. Temuan yang diperoleh dari pemeriksaan BPK kemudian digunakan untuk perbaikan dan penyesuaian, memastikan bahwa laporan keuangan yang ditinjau mengalami revisi yang diperlukan sebelum diserahkan kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sesuai dengan kewenangan masing- masing. Detail tambahan mengenai pelaksanaan prosedur tugas BPK diatur oleh Peraturan BPK.
Apabila melihat secara yurisdiksinya maka peran yang diemban oleh BPK sebagai salah satu lembaga yang disebutkan dalam konstitusi adalah lembaga pengawas yang sifatnya represif yang artinya pengawasan BPK dilakukan setelah dilaksanakannya pengelola keuangan negara maka pengawasan tersebut juga dikatakan pengawasan a-posteriori. Pengawasan itu dimulai setelah pemerintah mengeluarkan suatu ketetapan mengenai laporan pertanggung jawabannya. Karena
12 Mieke Rayu Raba, “Peran Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Dalam Melakukan Pemeriksaan Terhadap Pengelolaan Keuangan Negara Untuk Mewujudkan Pemerintahan Yang Baik Menurut UU No. 15 Tahun 2006,”
Lex Crimen Vol 4, no. 3 (2017). hlm. 156.
13 Muhammad Djafat Saidi, Hukum Keuangan Negara (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007). hlm. 64.
pengawasannya bersifat represif maka substansi yang diawasai adalah berkenaan dengan kesesuaian antara rencana anggran dan realisasi di lapangan serta melihat apakan realisasi tersebut memang telah sesuai dengan standar harga yang ditetapkan. Selain itu, pengawasan represif juga dapat dipandang sebagai metode untuk mengamati fungsi pemerintahan.14
2. Kerangka Model Alternatif Dlam Penguatan Sistem Pengawasan Keuangan Negara Di Indonesia
Dalam ranah teoretis, disampaikan bahwa kelancaran proses administrasi negara dapat dipastikan melalui penerapan sistem pengawasan yang optimal. Philipus M. Hadjon telah menjelaskan beberapa bentuk pengawasan dan kontrol, termasuk "pengawasan preventif" sebelum kegiatan dilaksanakan, dan "pengawasan represif" setelah kegiatan tersebut. Keputusan instansi tingkat rendah dapat ditarik kembali jika melanggar undang-undang atau kepentingan umum, dengan penangguhan keputusan diambil dalam situasi yang memerlukan tindakan cepat sebelum pencabutan dilakukan.
Pengawasan represif efektif tercapai melalui pelaksanaan yang komprehensif, intensif, dengan laporan yang objektif dan analitis, serta disampaikan dengan cepat. Prajudi Atmosudirjo menginterpretasikan pengawasan sebagai proses perbandingan antara pelaksanaan dan rencana, yang dilakukan untuk memastikan konsistensi.15
Untuk memastikan pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara yang baik, transparan, akuntabel, dan bebas dari korupsi, dibutuhkan pengawasan yang handal, efektif, dan efisien. Meskipun lembaga pengawas internal dan eksternal saat ini belum sepenuhnya memuaskan, karena masih menghadapi problematika dan belum beroperasi secara efektif dan efisien, dapat dilihat dari berbagai model lembaga pengawas keuangan di negara-negara lain. Desain-desain tersebut dapat dijadikan bahan perbandingan hukum untuk perbaikan sistem hukum di Indonesia dan untuk memastikan tata kelola keuangan publik yang baik.
Jepang mengatur Board of Audit atau lembaga pemeriksa keuangannya dalam konstitusi Pasal 90 yang isinya sebagai berikut: "Pertanggungjawaban akhir pengeluaran-pengeluaran dan pemasukan- pemasukan negara harus diperiksa secara tahunan oleh Badan Pemeriksa Keuangan dan diajukan oleh Cabinet kepada Diet, bersama-sama dengan pernyataan mengenai pemeriksaan keuangan tersebut selama tahun fiskal yang segera mengikuti periode yang diliputi. Organisasi dan kompetensi Badan Pemeriksa Keuangan harus ditentukan dengan Undang-Undang”. Dewan ini telah diberi mandat untuk melakukan audit pemerintah sejak didirikan pada tahun 1880, meskipun ada beberapa perubahan status. Dalam Pasal 1 The Board of Audit Act Jepang mengatur bahwa “Dewan Audit mempunyai status independen dari Kabinet”.16
Adapun beberapa tugas fungsi dan wewenang yang dimiliki oleh Board of Audit Jepang sebagai mana yang diatur dalam Pasal 20 The Board of Audit Act Jepang adalah untuk memeriksa rekening akhir pengeluaran dan pendapatan Negara, sesuai dengan ketentuan Pasal 90 Konstitusi Jepang, dan juga memeriksa rekening-rekening yang diatur oleh undang-undang. Dewan Audit terus melakukan pemeriksaannya, mengawasi pengelolaan keuangan, memastikan kecukupannya, dan memperbaiki segala cacat. Terakhir Dewan Audit akan melaksanakan pemeriksaannya dengan tujuan keakuratan, keteraturan, ekonomis, efisiensi, efektivitas, atau tujuan lain yang diperlukan untuk audit. Dalam hal apabila ada temuan dalam pemeriksaan Dewan menindaklanjuti temuan audit yang dilaporkan dalam Laporan Audit, termasuk ketidakwajaran, hal-hal yang menjadi dasar pendapat Dewan dan/atau meminta tindakan perbaikan, dengan mengumpulkan laporan dari pihak yang diaudit mengenai apakah kerugian yang dialami Negara atau organisasi telah diperbaiki, atau mengenai tindakan apa yang telah diambil untuk mencegah hal serupa terulang kembali, atau mengenai bagaimana orang yang
14 Bachrul Amiq, “Pengawasan BPK Dalam Mewujudkan Pengelolaan Keuangan Daerah Yang Bebas Korupsi,”
Jurnal Jatiswara, Vol. 31, no. 2 (2017). hlm. 5.
15 Prajudi Atmosudirjo, , Hukum Administrasi Negara (Jakarta: Ghallia Indonesia, 1994). hlm. 84.
16 Baharuddin Aritonang, Badan Pemeriksa Keuangan Dalam Sistem Ketatanegaraan (Jakarta: Kepustakaan Propuler Gramedia, 2019). hlm. 40.
bersangkutan akan diberikan sanksi. Pengumpulan laporan terus dilakukan hingga kasus tersebut selesai.17
Di Amerika Serikat Badan Pemeriksa Keuangan disebut dengan The U.S. Government Accountability Office (GAO) yang tidak secara langsung diatur di dalam konstitusi negara tersebut namun diatur di dalam berbagai peraturan perundang-undangan dengan dasar pembentukan budget and accounting laws Amerika Serikat tahun 1923 sehingga GAO meniliki peran yang menonjol. GAO adalah lembaga pemerintah independen dan non-partisan dalam cabang legislatif yang dengan tugas dan kewenangan untuk menyelenggarakan pemeriksaan keuangan baik itu evaluasi maupun investigasi untuk kongrs. Ini adalah lembaga audit tertinggi pemerintah federal Amerika Serikat. Yang mengidentifikasi pendapatan dan pengeluaran negara intinya sebagai pengawas akuntabilitas, integritas, dan keandalan penyelenggara pemerintahan dalam memanfaatkan keuangan negara. Ia juga dikenal sebagai "pengawas Kongres". Badan ini dipimpin oleh Pengawas Keuangan Umum Amerika Serikat. Dalam sistem ketatanegaraan Amerika Serikat presiden memiliki kewenangan untuk menunjuk pimpinan tertinggi GAO akan tetapi dalam penunjukan tersebut preside juga harus mendengarkan pendapat senat dan juga atas dasar persetujuan senat. Apabila masa jabatannya habis dan terjadi kekosongan jabatan maka parlemen membentuk suatu komite yang secara khusus ditugaskan untuk memilih pengawas keuangan umum.18 Komisi tersebut terdiri dari:
a. ketua DPR Amerika Serikat
b. presiden pro tempore Senat Amerika Serikat
c. pemimpin fraksi baik mayoritas ataupun minoritas DPR dan Senat
d. ketua dan anggota peringkat Komite Senat untuk Keamanan Dalam Negeri dan Urusan Pemerintahan
e. ketua dan anggota peringkat Komite Pengawas DPR.19
Setelah komite terbentuk maka komte dapat mengusulakan sebanyak tiga nama kepada presiden, dan apabila presiden merasa perlu adanya tambahan nama maka komite bisa memberikan nama tambahan kepada presiden. Setelah itu maka presiden bisa menunjuk satu atau lebih orang untuk dikonfirmasi oleh Komite Keamanan Dalam Negeri & Urusan Pemerintahan Senat setelah nama-nama sudah terkonfirmasi baru senat akan memilih satu dari nama-nama yang diusulkan. Adapun beberapa kewenangan yang dimiliki oleh GAO adalah sebagi berikut:
a. mengaudit jalannya pemerintahan untuk menentukan apakah dana federal dibelanjakan secara efisien dan efektif;
b. menyelidiki dugaan kegiatan ilegal dan tidak patut oleh penyelenggara negara;
c. melaporkan seberapa baik program dan kebijakan pemerintah mencapai tujuannya;
d. melakukan analisis kebijakan dan menguraikan pilihan-pilihan untuk dipertimbangkan Kongres;
e. mengeluarkan keputusan dan pendapat hukum apabila diminta mengenai keuangan negara.
f. memberikan nasehat kepada kongres dan badan eksekutif dengan tujuan untuk membuat
pemerintahan lebih efisien dan efektif.20
Dari beberapa kewenangan tersebut sehingga menghasilkan hal-hal sevagai berikut:
a. laporan dan korespondensi tertulis;
17 “About Us,” Board Of Audit Japan, n.d., https://www.jbaudit.go.jp/english/. Diakses Pada Tanggal 18 November 2023.
18 “About Us,” Government Accaountability Office, 2023, https://www.gao.gov/about/what-gao-does. Diakses Pada Tanggal 19 November 2023.
19 Ibid
20 Alexander B Howard And Patrice Mcdermott, “Reforms to Improve U.S. Government Accountability Bill Will Encode a ‘Presumption of Openness’ into Law,” Science, Vol. 353, no. 6294 (2016). hlm. 35-36.
b. kesaksian dan pernyataan untuk dicatat, dimana kesaksian dan pernyataan yang pertama disampaikan secara lisan oleh satu atau lebih eksekutif senior GAO pada sidang kongres dan yang terakhir disediakan untuk dimasukkan dalam Catatan Kongres;
c. pengarahan, yang biasanya diberikan langsung kepada anggota staf kongres;
d. keputusan dan pendapat hukum yang menyelesaikan protes penawaran dan menangani masalah hukum alokasi serta pendapat mengenai ruang lingkup dan pelaksanaan wewenang pejabat federal; dan
e. GAO juga menghasilkan publikasi khusus mengenai isu-isu spesifik yang menjadi kepentingan umum bagi banyak orang Amerika, seperti laporannya mengenai masa depan fiskal Amerika Serikat, peran GAO dalam proses protes tawaran federal, dan isu-isu penting untuk pertimbangan kongres terkait dengan peningkatan citra bangsa di luar negeri.21
Setiap tahun GAO menerbitkan laporan audit atas laporan keuangan Pemerintah Amerika Serikat. Laporan Keuangan Pemerintah Amerika Serikat diterbitkan pada minggu ketiga bulan desember dan juga disertai dengan opini atas laporan keuangan tersebut. ebagai bagian dari inisiatifnya untuk mendukung keberlanjutan, GAO menerbitkan Laporan Outlook Fiskal Federal, serta data yang berkaitan dengan defisit. Defisit AS disajikan berdasarkan uang tunai dan bukan berdasarkan akrual, meskipun GAO mencatat bahwa defisit akrual "memberikan lebih banyak informasi mengenai implikasi jangka panjang dari operasi tahunan pemerintah".
Australia mengatur soal audit di Pasal 97 UUD negara itu, Australian National Audit Office (ANAO) adalah lembaga audit tertinggi di Australia, yang berfungsi sebagai auditor nasional untuk Parlemen Australia dan Pemerintah Australia. Badan ini melapor langsung ke Parlemen Australia melalui Ketua Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Senat.22 Secara administratif, ANAO berada dalam portofolio Perdana Menteri dan Kabinet. Kantor Audit Nasional Australia adalah badan spesialis sektor publik yang mendukung Auditor Jenderal Australia, yang merupakan pejabat independen Parlemen Australia. Fungsi dan wewenang utama Auditor Jenderal berdasarkan Auditor- General Act 1997, termasuk mengaudit laporan keuangan lembaga, otoritas, perusahaan dan anak perusahaan Persemakmuran sesuai dengan Financial Management and Accountability Act 1997 dan melakukan kinerja audit yang diajukan di Parlemen. Auditor Jenderal dapat melaporkan temuannya langsung ke Parlemen atau Menteri, mengenai masalah penting apa pun. ANAO dipimpin oleh seorang Auditor Jenderal diangkat oleh Gubernur Jenderal atas usul Menteri, untuk masa jabatan sepuluh tahun.23
Auditor Jenderal adalah pejabat independen Parlemen. Auditor Jenderal memberikan penilaian independen terhadap pelaporan, administrasi, dan akuntabilitas sektor publik. ANAO memeriksa kinerja lembaga negara sektor publik dengan melakukan audit di bidang operasi, sumber daya, sistem informasi, ukuran kinerja, sistem pemantauan, hukum dan kepatuhan lainnya serta proses tata kelola perusahaan. ANAO juga melakukan audit kinerja yang menguji efisiensi dan efektivitas administrasi kami. Setiap tahun ANAO juga melakukan audit laporan keuangan yang memberikan jaminan bahwa laporan keuangan kami memberikan gambaran yang benar dan wajar mengenai posisi keuangan negara.24
Dari penjelasan di atas terlihat jelas terdapat persamaan dan perbedaan antara Board of Audit Jepang, GAO Amerika, ANAO Australia, dan BPK Indonesia. Persamaannya dapat dilihat kesemuanya memiliki peran penting dalam memastikan pengelolaan keuangan negara yang efektif, efisien, transparan, dan bebas dari korupsi. Dengan mandat yang jelas, independen dari cabang kekuasaan manapun, dan kewenangan secara atributif dari peraturan perundang-undangan, lembaga- lembaga ini berkontribusi dalam membangun administrasi keuangan publik yang baik. Sedangkan
21 Ibid
22 “About Us,” Australian National Audit Office, 2022, https://www.anao.gov.au/about. Diakses Pada Tanggal 21 November 2023.
23 Talbot and Wiggan, “The Public Value of the National Audit Office,” International Journal Of Public Sector Management 23, no. 1 (2010). hlm. 58-59.
24 Ibid
perbedaan dapat dilihat dalam beberapa aspek seperti dasar pengaturannya, sistem pengisian jabatannya, dan sistem kerjanya.
Aspek Indonesia Amerika Serikat Autralia Jepang
Dasar Hukum Konstitusi Undang-Undang Undang-Undang Konstitusi Pengsian
Jabatan
Dipilih DPR dengan
pertimbangan DPD Ditetapkan
Presiden
Direkomendasikan oleh komisi khusus dan dipilih oleh presiden
Diangkat oleh gubernur jenderal diusulkan oleh menteri keuangan
Dipilih oleh parlemen
Sistem kerja Independen, hasil pemeriksaan disampaikan ke
DPR secara
tahunan dan dapat melakukan
pemeriksaan investigatif
Independen, hasil pemeriksaan
disampikan kepada parlemen dan dapat melakukan
pemeriksaan investigatif
Independen, hasil pemeriksaan disampikan kepada parlemen dan dapat melakukan
pemeriksaan investigatif
Independen dan dapat secara aktif dalam melakukan tindak lanjut hasil pemeriksaan termasuk eksekusi sanksi
Ditilik dari dasar pengaturannya BPKRI, Board of Audit, dan ANAO sama-sama diatur secara langsung di dalam konstitusi negara dan diatur lebih lanjut di dalam Undang-Undang sedangkan GAO dasar pengaturannya tidak dimuat di dalam konstitusi negara malainkan diatur langsung dengan undang-undang.
Apabila ditinjau dari sistem pengisian jabatannya terdapat perbedaan yang mencolok, menurut UU BPK dalam menjalankan tugasnya BPK terdiri dari 9 (sembilan) orang anggota yang keanggotaanya dipilih oleh DPR dengan mendengarkan pendapat DPD dan ditetapkan oleh presiden dalam sebuah surat keputusan dan yang akan menjadi ketua BPK adalah 1 (satu) dari 9 (sembilan) anggota tersebut yang dipilih dalam rapat tertutup anggota. Tidak jauh berbeda dengan Indonesia pimpinan Board of Audit dipilih dan ditetapkan oleh Diet (parlemen negara Jepang). Perbedaan yang sangat mencolok dalam hal pengisian jabatan dapat dilihat pada sistem yang dipakai oleh GAO yangmana dalam hal pengisian jabatan pengawas keuangan umum, Kongres membentuk komisi untuk merekomendasikan individu kepada presiden untuk menjadi calon pengawas keuangan umum. Komisi ini terdiri dari berbagai unsur seperti Ketua DPR, Presiden Senat, ketua fraksi-fraksi, serta unsur dari dewan pengawas. Komisi harus merekomendasikan setidaknya tiga orang kepada presiden, dan presiden dapat meminta agar komisi merekomendasikan orang tambahan. Presiden kemudian memilih seseorang untuk dilantik sebagai pengawas keuangan umum. Perbedaan dalam pengisian jabatan juga dapat dilihat pada ANAO yang dipimpin oleh seorang Auditor Jenderal diangkat oleh Gubernur Jenderal atas usul Menteri, untuk masa jabatan sepuluh tahun. Meskipun diangkat dan diusulkan oleh kekuasaan eksekutif akan tetapi Auditor Jenderal bersifat independen bebas dari interpensi eksekutif.
Dalam hal sistem kerja antara BPK, Board of Audit, GAO dan ANAO pada dasarnya memiliki fungsi yang sama yakni untuk melakukan pengawasan dan pemeriksaan keuangan negara dan menentukan besaran kerugian apabila terjadi kesalahan dalam menggunakan keuangan negara. Namun dalam hal sistem kerja seperti tindak lanjut hasil pemeriksaan keuangan negara, dalam sistem kerja Board of Audit hasil pemeriksaan ditindak lanjuti oleh Board of Audit terlebih dahulu apababila terdapat kesalahan maka Board of Audit dapat memerintahkan objek yang di periksa untuk memperbaikinya dan mengembalikan kerugian negara apabila terdapat kerugian negara di dalamnya.
Dalam sistem tindak lanjut apabila ditemukan kesalahan dalam laporan keuangan Board of Audit Jepang mengutamakan pendekatan persuasif dan meletakkan hukuman baik itu administrasi dan pidana sebagai upaya hukum terakhir apabila dampak yang ditimbulkan memang begitu besar. Hal ini
tidak terlepas dari budaya hukum aparat pemerintahan Jepang yang sangat baik sehingga sistem yang dianut oleh jepang jelas belum bisa diadupsi di indonesia untuk saat ini.
Sistem kerja GAO dan ANAO dan BPK memiliki kemiripan yang dapat dilihat dari hasil pemeriksaan tahunan keuangan negara harus disampaikan kepada parlemen dan parlemanlah yang akan menindak lanjuti hasil tersebut konsep tersebut merupakan bagian dari fungsi pengawasan dan fungsi keuangan yang dimiliki oleh parlemen. Selain itu apabila terdapat temuan penyalahgunaan keuangan negara yang menimbulkan keruagian negara maka hasil pemeriksaan tersebut akan diserahkan kepada pihak penegak hukum yang berwenang. Akan tetapi, GAO dan ANAO juga memiliki kewenangan untuk menyampaikan laporan hasil analisis terhdap capaian kinerja pemerintah dalam mewujudkan program-program kerjanya.
Selain itu apabila ditelaah lebih jauh dalam sistem kelembagaan pemeriksa keuangan di negara pembanding maka yang berhak menentukan kerugian negara hanyalah lembaga yang bersifat independen dan bersifat eksternal seperti Board of Audit, GAO dan ANAO lembaga pengawas internal tidak memiliki hak untuk menentukan kerugian negara namun hanya memiliki hak untuk memeriksa dan memberikan hasil pemeriksaan kepada pemerintah itu sendiri untuk ditindak secara internal. Sehingga apa yang terjadi di indonesia dengan adanya BPK dan BPKP yang sama-sama berhak menetukan kerugian negara dirasa sangat tidak relevan karena menimbulkan potensi penyalahgunaan oleh pihak yang berkepentingan sehigga sebaiknya BPK dijadikan lembaga tunggal yang berwenang menentukan kerugian negara dan bisa ditindak lanjuti oleh lembaga penegak hukum sebgai alat bukti.
Dari uraian di atas maka terlihat bahwa model kelembagaan pemeriksa keuangan negara yang dipakai oleh Amerika Serikat, dengan lembaga GAO-nya dapat menjadi model alternatif terbaik untuk dicontoh oleh Indonesia sebagai bahan perbaikan kedepan. Terutama dalam hal pengisian jabatan lembaga pemeriksa keuangan di Indonesia untuk perbaikan kedepannya dalam aspek pengisian jabatan anggota BPKRI, mekanisme alternatif tersebut dapat dilakukan dengan satu bulan sebelum masa jabatan anggota BPK habis atau dalam hal terjadi kekosongan jabatan, DPR membentuk sebuah komisi untuk memilih calon anggota BPK. Komisi tersebut dapat terdiri dari ketua DPR, ketua DPD, utusan frasksi-fraksi dan pengawas yang diutus oleh eksekutif bisa dari pihak akademisi dan ahli.
Setelah tercapainya kesepakatan tentang sembilan nama yang akan menjadi anggota BPK. Maka nama-nama tersebut diajukan ke presiden untuk disahkan oleh presiden dengan surat keputusan, sehingga dalam hal pengisian jabatan anggota BPK dapat terlaksana secara adil tanpa ada penggaruh kepentigan pihak manapun serta timbul check and balances antara legislatif dan eksekutif.
PENUTUP
Dari semua yang telah diuraikan di atas maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
Pemeriksaan terhadap laporan pengelolaan keuangan negara merupakan aspek krusial dalam tata pemerintahan yang baik. Dua lembaga utama yang terlibat dalam pemeriksaan ini adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebagai auditor eksternal dan Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) atau Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP) sebagai auditor internal.
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) menjadi landasan bagi pengawasan internal, melibatkan lembaga lain seperti Inspektorat Jenderal, Inspektorat Provinsi, Inspektorat Kabupaten/Kota, dan BPKP.
Dalam lembaga pemeriksa keuangan negara, Jepang dengan Board of Audit-nya dan Indonesia dengan BPK telah memperlihatkan sistem yang terintegrasi dan independen, diatur dalam konstitusi dengan kewenangan yang jelas. Sebaliknya, Amerika Serikat dan Australia, melalui GAO dan ANAO, menunjukkan model pemeriksaan dengan pendekatan independen, non-partisan, dan fokus pada akuntabilitas pemerintah meskipun kewenangannya tidak diatur langsung di dalam konstitusi Perbedaan mencolok terletak pada sistem pengisian jabatan. GAO melibatkan Kongres dan komisi
independen, sementara Board of Audit Jepang dan ANAO Australia menetapkan pemimpin lembaga melalui proses yang lebih terkait dengan eksekutif. Indonesia, melalui BPK, memiliki sistem yang berbeda dengan melibatkan DPR dalam pengisian jabatan. Sistem tindak lanjut hasil pemeriksaan juga menjadi aspek kunci. Jepang mengutamakan pendekatan persuasif dan hukuman sebagai langkah terakhir, sedangkan Amerika Serikat dan Australia menyerahkan hasil pemeriksaan kepada pihak penegak hukum. Pengalaman negara-negara ini dapat menjadi bahan perbandingan berharga bagi Indonesia dalam memperbaiki sistem pengawasannya, terutama terkait pengisian jabatan,independensi, transparansi, dan efektivitas pengawasan keuangan negara. Dari persamaan dan perbedaan tersebut model GAO Amerika Serikat daapat menjadi model alternatif terbaik untuk diterapkan di Indonesia dimasa yang akan datang terutama dalam hal pengisian jabatan anggota BPK.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
BPK RI, Mengenal Lebih Dekat BPK Sebuah Paduan Populer, Biro Humas dan Luar Negeri BPK RI, Jakarta, 2017.
Baharuddin Aritonang, Badan Pemeriksa Keuangan Dalam Sistem Ketatanegaraan, Kepustakaan Propuler Gramedia, Jakarta, 2019.
Muhammad Djafat Saidi, Hukum Keuangan Negara, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007.
Piter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum Edisi Revisi, 17th ed, Kencana, Jakarta, 2022.
Prajudi Atmosudirjo, Hukum Administrasi Negara, Ghallia Indonesia, Jakarta, 1994.
W. Ryawan Tjandra, Hukum Keuangan Negara, Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 2014.
Jurnal
Alexander B Howard And Patrice Mcdermott, “Reforms to Improve U.S. Government Accountability Bill Will Encode a ‘Presumption of Openness’ into Law,” Science, Vol. 353, no. 6294, 2016.
Beni Kurnia Illahi dan Muhammad Ikhsan Alia, “Pertanggungjawaban Pengelolaan Keuangan Negara Melalui Kerja Sama BPK Dan KPK,” Integritas, Vol. 3, no. 2 (2017).
Mieke Rayu Raba, “Peran Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Dalam Melakukan Pemeriksaan Terhadap Pengelolaan Keuangan Negara Untuk Mewujudkan Pemerintahan Yang Baik Menurut UU No. 15 Tahun 2006,” Lex Crimen, Vol. 4, no. 3, 2017.
Mohd Din Runi Yasir, Faisal A Rani, “Kewenangan Menetapkan Kerugian Keuangan Negara Dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi,” Syiah Kuala Law Journal, Vol. 3, no. 2, 2019.
Bachrul Amiq, “Pengawasan BPK Dalam Mewujudkan Pengelolaan Keuangan Daerah Yang Bebas Korupsi,” Jurnal Jatiswara, Vol. 31, no. 2, 2017.
M. Thalib dkk, “Analisis Kewenangan Badan Pemeriksa Keuangan Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Berdasarkan Peraturan Perundang–Undangan,” Limbago Constitunional Law Journal, Vol. 2, no. 1, 2022.
Rizki Ramadani, “Lembaga Negara Independen Di Indonesia Dalam Perspektif Konsep Independent Regulatory Agencies,” Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, Vol. 27, no. 1, 2020.
Roy Valiant Salomo Sensia Gibsi Omposunggu, “Analisis Pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah Di Indonesia,” Jurnal Ilmiah Administrasi PublikVol. 5, no. 1, 2019.
Talbot and Wiggan, “The Public Value of the National Audit Office,” International Journal Of Public Sector Management, Vol. 23, no. 1, 2010.
Internet
BPK RI, “Sejarah BPK RI,” n.d, https://www.bpk.go.id/menu/sejarah.
BPK RI, “Ini Jumlah Kerugian Negara/Daerah Sepanjang 2005 Sampai 2021,” 2022, https://wartapemeriksa.bpk.go.id/?p=33719.
Tabrani Yunis, “Kasus Lahan PKS Abdya, Menguji Kewenangan BPK vs BPK,” Kompasiana, 2015, https://www.kompasiana.com/anasdjabo/55f30503397b615819b7b1ce/kasus-lahan-pks-abdya- menguji-kewenangan-bpk-vs-bpkp.
“About Us,” Australian National Audit Office, 2022, https://www.anao.gov.au/about.
Talbot and Wiggan, “The Public Value of the National Audit Office,” International Journal Of Public Sector Management, Vol. 23, no. 1, 2010.
“About Us,” Board Of Audit Japan, n.d., https://www.jbaudit.go.jp/english.
“About Us,” Government Accaountability Office, 2023, https://www.gao.gov/about/what-gao-does.